Anda di halaman 1dari 19

i

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tumbuhan Sapindus rarak


Sapindus rarak atau memiliki nama lokal lerak (Indonesia),
rerek (Sunda), klerek, werak (Jawa) atau lamuran (Palembang)
(Sulisetijono dkk., 2016). Lerak belum dibudidayakan dan
tumbuh liar di hutan. Pemanfaatan pericarp buah lerak termasuk
deterjen tradisional, biopestisida, dan untuk tujuan kesehatan.
Lerak termasuk dalam famili Sapindaceae, spesies lain dari
genus yang mirip dengan Sapindus rarak adalah S. mukorossi, S.
emarginatus, dan S. saponaria. Tumbuhan lerak yang berbentuk
pohon tumbuh dengan baik di hampir semua jenis tanah dan
kondisi iklim, dari dataran rendah hingga pegunungan dengan
ketinggian 450-1500 m di atas permukaan laut. Tinggi rata-rata
pohon lerak adalah 10 m, meskipun dapat mencapai 42 meter
dengan diameter 1 m. Lerak umumnya tumbuh liar di hutan dan
ditumbuhi naungan (Sulisetijono dkk., 2016)

Gambar 1. Tanaman Sapindus rarak (Puslitbang, 2015).

1
Regnum : Plantae
Ordo : Sapindales
Famili : Sapindaceae
Genus : Sapindus
Spesies : Sapindus rarak

(wikipedia org, 2019)

2.2 Deskripsi Dormansi


2.2.1. Faktor yang Mempengaruhi Dormansi
Peristiwa dormansi biasanya terjadi sebagai akibat
dari embrio, kulit benih, dan faktor lingkungan. Faktor
yang dapat mempengaruhi dormansi adalah kulit biji
yang tebal, ketidakseimbangan senyawa perangsang, zat-
zat penghambat untuk memacu aktivitas perkecambahan
biji, pertumbuhan embrio yang belum berkembang
(kurang matang), dan gabungan dari beberapa tipe
dormansi (Zanzibar, 2017). Penyebab dormansi yang
sangat meluas adalah pada beberapa jenis tanaman benih
yang memiliki organ tambahan berupa struktur penutup
benih berkulit keras. Kulit benih yang keras ini biasanya
menyebabkan dormansi melalui satu sari tiga cara, seperti
kulit yang keras dapat menyebabkan impermeable
terhadap air, gas atau mungkin secara mekanik menekan
perkembangan embrio (Uyatmi et al., 2016).
Impermeabilitas air dan gas karena struktur kulit yang
keras banyak terjadi pada jenis-jenis dari keluarga
Leguminosae dan Caesalpineaceae. Kulit benih ini tahan
terhadap gesekan dan kadang terlindungi oleh lapisan
seperti lilin. Kulit benih yang keras ini sebenarnya secara
alamiah berfungsi untuk mencegah kerusakan benih dari
serangan jamur atau serangga predator (Leadem, 1997
3

dalam Yuniarti et al., 2015). Selain itu, disebabkan


karena suhu yang tidak memadai, cahaya matahari yang
minim atau berlebihan, keadaan lingkungan yang tidak
sesuai (Agurahe et al., 2019). Pengaruh lingkungan yang
mempengaruhi dormansi adalah:
1. Suhu: suhu yang tinggi umumnya dapat
meningkatkan intensitas dormansi biji, misal pada
biji lettuce yang menjadi dorman pada suhu 30-35
derajat celcius. Suhu yang lebih rendah
meningkatkan kemampuan biji untuk berkecambah.
Beberapa jenis biji ada yang memerlukan suhu
rendah untuk mematahkan dormansi (dengan
menempatkan biji pada suhu yang mendekati titik
beku) selama beberapa saat. Suhu yang sedikit lebih
tinggi dapat mempercepat metabolisme dan
pembentukan kesempurnaan embrio pada biji
sedangkan suhu yang rendah dapat menurunkan
kadar zat penghambat pada biji dorman.
2. Sinar matahari: sinar merupakan salah satu syarat
perkecambahan pada beberapa spesies tumbuhan.
Pengaruh sinar dapat bersifat kuantitatif maupun
kualitatif pada biji yang dorman dan dapat distimulasi
untuk perkecambahan dengan sinar merah (red light,
600-690 nm) dan dihambat untuk perkecambahan
pada sinar (far red, 720-790 nm).
3. Kelembaban keberadaan air: dormansi suatu biji
memerlukan pengeluaran air atau gas dari embrio
atau mencegah air atau gas memasuki embrio. Kulit
benih yang keras (hardseed coat) yang mengandung
materil osmose tinggi mampu menghalangi
masuknya air atau kelembaban ke embrio sehigga biji
mengalami dormansi. tetapi apabila penyebab
dormansi adalah zat penghambat di dalam kulit biji
dapat dilepaskan (tercuci) oleh mekanisme serapan
air (imbibisi) dan dapat mematahkan dormansi
(Schmidt, 2000 dalam Agurahe et al., 2019).

2.3 Tipe-tipe Dormansi


Dormansi dapat dibedakan menjadi lima jenis yaitu
Dormansi Fisiologis, Dormansi Morfologi, Dormansi
Morfofisiologis, Dormansi Fisik, dan Dormansi
Gabungan (Soppe et al., 2016):
1. Physiological dormancy (Dormansi Fisiologis):
adalah tipe dormansi yang paling banyak ditemui
pada biji gymnospermae dan angiospermae. Tipe
dormansi ini paling melimpah dari tipe dormansi
yang lain pada berbagai jenis biji di skala
pertanian. Dormansi fisiologis juga tipe dormansi
yang paling utama pada kebanyakan spesies biji
di laboratorium seperti A. thaliana, Helianthus
annus, dan Lycopersicon esculentum.
2. Morphological dormancy (Dormansi Morfologi):
adalah tipe dormansi dengan biji yang embrionya
kurang berkembang dalam hal ukuran, tetapi
dapat dibedakan misal menjadi kotiledon dan
radikal hipokotil. Embrio ini secara fisiologis
tidak aktif, tetapi secara sederhana membutuhkan
waktu untuk tumbuh dan berkecambah. Contoh:
tanaman seledri (Apium graveolens).
3. Morphophysiological dormancy (Dormansi
Morfofisiologis): adalah dormansi dengan embrio
yang kurang berkembang, tetapi tetapi mereka
5

memiliki komponen fisiologis yang untuk


membantu mereka dormansi, oleh karena itu
benih ini membutuhkan perawatan dalam
dormansi seperti stratifikasi hangat atau dingin
yang dapat digantikan dengan aplikasi GA.
Contoh: Trollius
4. Dormansi Fisik: adalah dormansi yang
disebabkan oleh kulit biji yang keras dan
impermeable atau menutup buah yang dapat
menghalangi imbibisi dan pertukaran gas.
Kejadian ini sering disebut sebagai benih keras
meskipun istilah ini sering digunakan untuk
legume yang kedap air. Contoh: Melilotus
5. Dormansi Gabungan (Dormansi Fisiologis dan
Dormansi Fisik): adalah dormansi yang terjadi
karena kulit biji yang keras dan impermeable
dikombinasikan dengan embrio pada dormansi
fisiologis. Dormansi ini harus dipatahkan baik
melalui metode beruntun bekerja pada tipe
dormansi yang berbeda atau melalui metode
dengn pengaruh ganda. Contoh: Geranium dan
Trifolium (Tansley et al., 2006).

2.4 Teknik Pematahan Dormansi


Dormansi dapat dipatahkan dengan perlakuan
pendahuluan untuk mengaktifkan kembali benih yang
dorman. Ada berbagai cara perlakuan pendahuluan yang
dapat diklasifikasikan yaitu pengurangan ketebalan kulit
atau skarifikasi, perendaman dalam air, perlakuan dengan
zat kimia, penyimpanan benih dalam kondisi lembab
dengan suhu dingin dan hangat atau disebut stratifikasi
dan berbagai perlakuan lain (Kartiko, 1986 dalam
Yuniarti et al., 2015). Dormansi biji dapat dipatahkan
dengan cara (Agurahe et al., 2019):
1. Perlakuan mekanis seperti skarifikasi dan tekanan
Skarifikasi adalah suatu perlakuan yang ditujukan
untuk mengurangi ketebalan, memecahkan atau
menghilangkan kulit benih yang keras. Contoh
skarifikasi yaitu pengikiran, pengamplasan dan
peretakan. Skarifikasi dilakukan apabila dormansi
disebabkan karena tidak adanya penyerapan air dan
gas oleh benih (biasanya karena kulit benih yang
keras). Perlakuan skarifikasi dapat merusak benih,
sehingga pekerjaan ini harus dilakukan dengan hati-
hati. Dormansi dapat dipatahkan dengan melakukan
perlakuan skarifikasi mekanik seperti peretakkan,
pengamplasan, melubangi bagian tertentu pada benih,
pengikiran dan sebagainya. Perlakuan tersebut
diberikan agar kulit benih menjadi lebih mudah untuk
menyerap air yang dibutuhkan untuk berkecambah
(Muharni, 2002 dalam Yuniarti et al., 2015).
Perlakuan secara mekanis dapat diberikan pada benih
yang bersifat ortodok untuk menghilangkan dormansi
akibat kulit benih, sehingga mempermudah peresapan
air ke dalam benih. Dengan demikian akan
mempercepat perkecambahan benih (Sutopo, 1993
dalam Yuniarti et al., 2015)
2. Perlakuan dengan perendaman air
Perlakuan pemanasan yaitu dengan merendam
benih ke dalam air panas pada suhu dan waktu yang
7

berbeda, tujuannya adalah memberikan kesempatan


kulit benih menjadi lunak sehingga kulit benih lebih
mudah melakukan proses imbibisi, begitu juga
terhadap waktu atau lama perendaman tujuannya
adalah memberi kesempatan biji menyerap air dalam
kondisi yang cukup untuk merangsang
perkecambahan biji yang lebih lama kontak langsung
dengan benih. Perendaman benih dengan waktu yang
berbeda adalah untuk mengetahui waktu perendaman
yang efektif dalam mengatasi dormansi. Perendaman
benih dengan lama waktu yang berbeda-beda mampu
melunakkan dan membuka pori-pori kulit benih yang
keras (Nurshanti, 2013 dalam Uyatmi et al., 2016).
Perlakuan perendaman benih memungkinkan proses
perkecambahan berlangsung lebih cepat sehingga
kecambah lebih panjang dibandingkan dengan tanpa
perendaman (Hanegave et al., 2011 dalam Uyatmi et
al., 2016). Penggunaan air mendidih merupakan
metode yang paling mudah (Soerodjotonojo, 1983
dalam Uyatmi et al., 2016).
3. Perlakuan dengan cahaya
Cahaya sangat mempengaruhi perkecambahan
biji dan embrio bertanggung jawab untuk persepsi
dan terjemahan dari rangsangan bercahaya. Banyak
spesies yang dibudidayakan acuh tak acuh terhadap
perkecambahan. Namun, rangsangan cahaya cukup
bervariasi dalam biji dari berbagai spesies liar. Ada
spesies yang bijinya dipengaruhi secara positif atau
negatif selain benih yang tidak terpengaruh oleh
cahaya (Prudente dan Paiva, 2018).
4. Perlakuan kimia (perlakuan dormansi dengan bahan
kimia dapat digunakan kalium hidroksida, asam
hidroklorit, kalium nitrat, thiourea, dan giberelin).
- Giberalin merupakan hormon yang mempercepat
perkecambahan biji, kuncup tunas, pemanjangan
batang, pertumbuhan daun, merangsang
pembungaan, perkembangan buah,
mempengaruhi pertumbuhan, dan diferensiasi
akar. Giberalin merupakan hormon tumbuh pada
tanaman yang bersifat sintesis dan berperan
mempercepat perkecambahan. Pengaruh fisiologi
giberalin pada perkecambahan biji yaitu
mendorong pemanjangan sel sehingga radikula
dapat menembus kulit biji, dimana giberalin
mendorong aktifitas enzim-enzim hidrolitik
dalam proses perkecambahan (Uyatmi et al.,
2016).

Sedangkan perlakuan dengan menggunakan


bahan kimia sering digunakan untuk memecahkan
dormansi pada benih. Tujuannya adalah menjadikan
kulit benih menjadi lebih mudah untuk dimasuki air
pada proses imbibisi. Perlakuan kimia (biasanya
asam sulfat) yang digunakan dapat membebaskan
koloid hidrofil sehingga tekanan imbibisi meningkat
dan akan meningkatkan metabolisme benih.
Perlakuan kimia seperti H2SO4 pada prinsipnya
adalah membuang lapisan lilin pada kulit benih yang
keras dan tebal sehingga benih
kehilangan lapisan yang permeabel terhadap gas dan
9

air sehingga metabolisme dapat berjalan dengan baik


(Muharni 2002 dalam Yuniarti et al., 2015).

Pada prinsipnya terdapat dua metode pematahan


dormansi berdasarkan sifat dormansinya, yaitu sifat
dormansi eksogenus dan dormansi endogenus. Dormansi
eksogenus terjadi karena kurang tersedianya komponen
penting dalam perkecambahan, biasanya dilakukan dengan
skarifikasi mekanik seperti pengamplasan, pengikiran,
pemotongan, peretakkan, penusukan bagian tertentu pada
benih agar memudahkan difusi air, perendaman dengan air
dan skarifikasi kimiawi untuk melunakkan kulit benih.
Dormansi endogenus yang disebabkan oleh sifat-sifat
tertentu pada benih, dilakukan dengan pemberian
penggunaan hormon seperti GA3, KNO3, dan beberapa jenis
hormon lainnya sebagai perangsang perkecambahan
(Muharni 2002 dalam Yuniarti et al., 2015).

2.5 Mekanisme Perkecambahan Biji


2.5.1 Faktor yang Mempengaruhi Perkecambahan
Proses pengecambahan dilakukan di dalam
rumah kaca dengan suhu, kelembaban, dan intensitas
cahaya yang cukup (Melasari dkk., 2018). Cahaya dapat
meningkatkan perkecambahan yang lebih tinggi pada
banyak spesies tanaman. Suhu memecah dormansi
dengan mengubah fisiologi benih dan telah diamati
mempengaruhi laju dan persentase perkecambahan,
meskipun efek ini sangat bervariasi menurut spesies.
Sebagai contoh, rezim suhu bolak optimal ditemukan
untuk memecahkan dormansi, dan karenanya secara
signifikan meningkatkan perkecambahan dalam biji.
Faktor lingkungan seperti curah hujan dan jenis tanah
juga dapat memainkan peran penting dalam memicu
proses perkecambahan. Ketersediaan kelembaban yang
rendah dapat memperpanjang dormansi karena tingkat
kelembaban tanah mungkin tidak cukup untuk imbibisi
dan munculnya bibit secara kompetitif. Api juga dapat
memainkan peran penting dalam memecahkan dormansi
benih dan memicu peristiwa perkecambahan. Api dapat
menghilangkan persaingan mapan, memungkinkan
penetrasi cahaya yang lebih besar ke permukaan tanah,
yang dapat memicu perkecambahan dalam biji yang
peka terhadap cahaya (Humphries et al., 2018).
2.6 Daya Perkecambahan Biji
Daya tumbuh atau daya berkecambah benih ialah
pengujian akan sejumlah benih, berapa persentase dari
jumlah benih tersebut yang mampu berkecambah pada
jangka waktu yang telah ditentukan (Annisa dkk., 2016).
DAFTAR PUSTAKA
Annisa., Mardhiansyah, M., Arlita, T. 2016. RESPON DAYA
KECAMBAH BIJI SAGA (Adenanthera pavonina L.)
AKIBAT LAMA WAKTU PERENDAMAN DENGAN
AIR. Jom Faperta. Vol 3(1): 1-4

https://media.neliti.com/media/publications/186161-ID-none.pdf
Agurahe, L., Rampe, H. L., Mantiri, F. R. 2019. Pematahan
Dormansi Benih Pala Menggunakan Hormon
Giberelin. Pharmacon. Vol. 8 (1): 30-41.

https://www.google.com/search?q=Pematahan+Dormansi+
Benih+Pala+Menggunakan+Hormon+Giberelin&oq=Pemat
ahan+Dormansi+Benih+Pala+Menggunakan+Hormon+Gibe
relin&aqs=chrome..69i57.326j0j7&sourceid=chrome&ie=U
TF-8
Humphries, T., Bhagirath, S., Chauhan, Florentine, S. K. 2018.
Environmental factors effecting the germination and
seedling emergence of two populations of an aggressive
agricultural weed; Nassella trichotoma. PLOS ONE.
13(7): 1-5

https://doi.org/10.1371/journal.pone.0199491

Melasari, N., Suharsari, T. K., dan Qadir, A. 2018. Penentuan


Metode Pematahan Dormansi Benih Kecipir
(Psophocarpus tetragonolobus L.) Aksesi Cilacap. Bul.
Agrohorti. Vol 6(1): 59-61

DOI: 10.29244/agrob.6.1.59-67

59
Soppe, W. J., Bentsik, L. 2016. Dormancy in Plants.
Netherlands: John Wiley and Sons Ltd.
https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/97804700159
02.a0002045.pub2
Tansley., Savage, W. E. F., Metzger, G. L. 2006. Seed
Dormancy and The Control of Germination.
Journal Compilation.Vol. 171: 501-523.
https://www.researchgate.net/publication/6919247_Seed_dor
mancy_and_control_of_germination
Uyatmi, Y., inoriah, E., Marwanto. 2016. Pematahan
Dormansi Benih Kebiul dengan Berbagai Metode.
Jurnal Akta Agrosia. Vol. 19 (2): 147-157.
https://ejournal.unib.ac.id/index.php/Agrosia/article/view/3714
Yuniarti, N., Djaman, D. F. 2015. Teknik Pematahan
Dormansi untuk Mempercepat Perkecambahan
Benih Kourbaril. Pros Sem Nas May Biodiv Indon.
Vol. 1 (6): 1433- 1437.
https://www.researchgate.net/publication/300559176_Teknik_
pematahan_dormansi_untuk_mempercepat_perkecambahan_b
enih_kourbaril_Hymenaea_courbaril
Zanzibar, M. 2017. Tipe Dormansi dan Perlakuan
Pendahuluan untuk Pematahan Dormansi Benih
Balsa. Jurnal Perbenihan Tanaman Hutan. Vol. 5
(1): 51-60.
https://www.google.com/search?q=Tipe+Dormansi+dan+Perla
kuan+Pendahuluan+untuk+Pematahan+Dormansi+Benih+Bal
sa&oq=Tipe+Dormansi+dan+Perlakuan+Pendahuluan+untuk+
Pematahan+Dormansi+Benih+Balsa&aqs=chrome..69i57.676j
61

0j4&sourceid=chrome&ie=UTF-8 http://ejournal.forda-
mof.org/ejournal-
litbang/index.php/BPTPTH/article/download/3047/3455
Sulisetijono, Arumingtyas, E. S., Mastuti, R., Indriyani, S. 2016.
PHYSICAL AND CHEMICAL TREATMENTS TO
BREAK SEED DORMANCY ON LERAK (Sapindus
rarak DC.). International Journal of Agriculture and
Environmental Research. Vol 2(4): 936-938

https://www.researchgate.net/publication/306328868_PHYSICA
L_AND_CHEMICAL_TREATMENTS_TO_BREAK_SEED_D
ORMANCY_ON_LERAK_Sapindus_rarak

Prudente,D.O. and Paiva, R. 2018. Seed Dormancy and


Germination : Physiological Considerations. Journal
of Cell and Developmental Biology. Vol 2 (1)

http://www.imedpub.com/articles/seed-dormancy-and-
germination-physiological-considerations.pdf
Wikipedia. 2019. https://id.wikipedia.org/wiki/Lerak
63
67