Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA


MODUL 5 PENENTUAN TIPE ALIRAN DALAM PIPA

PERIODE 1 (2018/2019)

Kelompok 9
Nama Mahasiswa / NIM : Ihsan Rahmat Ramadhan / 104117060

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS PERENCANAAN INFRASTRUKTUR
UNIVERSITAS PERTAMINA
2018
PENENTUAN TIPE ALIRAN DALAM PIPA
Ihsan Rahmat Ramadhan9*, Muhammad Rezano Abyasa9, Muhammad Taufiqul Mulki 9,
Jeffry Arnold Panggabean9, Irma Yani Siregar9
9
Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Perencanaan Infrastruktur, Universitas Pertamina
*
Corresponding Author : ihsanrahmatr@gmail.com

ABSTRAK
Pada percobaan praktikum kali ini bertujuan untuk menentukan tipe aliran yang terjadi
pada pipa dan juga menganalisa secara visual perbedaan tipe aliran. Fluida merupakan sebuah zat
yang memiliki partikel yang sangat kecil sehingga susah dilihat melalui mata dan memiliki
kecenderungan untuk mengalir. Fluida tersebut memiliki jenis aliran yang berbeda-beda. Beda
jenis aliran dapat ditentukan dengan cara diamati atau menggunakan bilangan reynold. Ada tiga
tipe jenis aliran yaitu, laminar, transisi, dan trubulen. Berdasarkan hasil praktikum diketahui
bahwa jenis aliran fluida dipengaruhi oleh besar debit. Jika debitnya kecil maka aliran yang
terbentuk laminar, sedangkan jika debitnya besar maka aliran yang terbentuk turbulen. Dan aliran
transisi terbentuk jika debit tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Dari hasil pengukuran
diperoleh bahwa bentuk aliran yang didapatkan dari adalah turbulen dan nilai bilangan Reynold
yang didapat adalah masing masing 4.94 x 103 dan 5.9 x 103.
Kata Kunci : fluida, jenis aliran, bilangan Reynold, laminar, turbulen, transisi

ABSTRACT
In the experiment this time aims to determine the type of flow that occurs
in the pipe and also visually analyze differences in flow types. Fluid is a substance
that has very small particles that are difficult to see through the eyes and have a
tendency to flow. The fluid has a different type of flow. Different types of flow
can be determined by observing or using reynold numbers. There are three types
of flow types, namely, laminar, transition, and trubulent. Based on the results of
the practicum, it is known that the type of fluid flow is affected by the amount of
discharge. If the discharge is small, the laminar flow is formed, whereas if the
discharge is large, the flow formed is turbulent. And the transition flow is formed
if the discharge is not too small and not too large. From the measurement results
obtained that the flow form obtained from is turbulent and the Reynold number
values obtained are respectively 4.94 x 103 and 5.9 x 103.
Keywords : fluid, flow type, Reynold number, laminar, turbulent, transition
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Untuk mengalirkan fluida dari tempat yang satu ke tempat yang
lain diperlukan suatu peralatan. Selain peralatan utama yang digunakan,
ada bagian-bagian yang tidak kalah penting dimana dalam bagian ini,
sering terjadi peristiwa-peristiwa yang dapat mengurangi efisiensi kerja
yang diinginkan. Bagian dari peralatan ini dapat berupa pipa- pipa yang
dihubungkan. Fluida adalah zat yang tidak dapat menahan perubahan
bentuk secara permanen. Aliran fluida dapat memiliki kecepatan yang
berbeda, tergantung dari kekuatan aliran yang mendominasi di dalamnya.
Fluida juga dipengaruhi oleh viskositas dari fluida itu sendiri. Tipe
kecepatan aliran ada 3 yaitu laminar, transisi, dan turbulen.
Praktikum ini dilakukan untuk mengetahui peristiwa yang terjadi
dalam pipa apabila fluida dilewatkan ke dalamnya. Gesekan yang terjadi
dapat mempengaruhi aliran fluida dalam pipa, aliran ini dapat terjadi
secara laminar, transisi atau turbulen yang nilainya dapat didekati dengan
bilangan Reynolds.

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimana hubungan antara aliran air dalam pipa dengan nilai
Bilangan Reynold?
2. Bagaimana cara menentukan tipe aliran pada suatu fluida jika diberi
perlakuan?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari praktikun kali ini yaitu :
1. Menentukan perbedaaan tipe aliran laminar, transisi, dan turbulen
dalam pipa.
2. Menganalisis nilai hubungan debit, bilangan reynold dengan jenis
aliran dalam pipa.
3. Dapat mengerti dan mengetahui aliran laminer, transisi dan turbulen

1.4. Teori Dasar


Hukum Newton tentang kekentalan zat cair
Kekentalan zat cair menyebabkan terbentuknya gaya-gaya geser
antara dua elemen zat cair. Keberadaan kekentalan ini menyebabakan
terjadinya kehilangan tenaga selama pengaliran atau diperlukannya
energy untuk menjamin adanya pengaliran. Hukum newton tentang
kekentalan menyatakan bahwa tegangan geser antara dua partikel zat cair
yang berdampingan adalah sebanding dengan perbedaan kecepatan dari
kedua partikel (gradien kecepatan).
Aliran viskositas dapat dibedakan menjadi 2 tipe yaitu aliran laminer
dan aliran turbulen. Dari percobaan Osborne Reynolds dapat disimpulkan
bahwa aliran laminer pada kecepatan kecil, pencampuran tidak terjadi dan
partikel-partikel zat cair bergerak dalam lapian-lapisan yang sejajar, dan
menggelincir terhadap lapisan di sampingnya. Aliran fluida dapat
memiliki kecepatan yang berbeda, tergantung dari kekuatan aliran yang
mendominasi di dalamnya. Dari perbedaan kecepatan tersebut, aliran
dapat diklasifikasikan menjadi tiga tipe aliran yaitu laminar, transisi,
turbulen. Pada aliran laminar, pewarna dimasukkan kedalam pipa pada
suatu titik, maka cairan pewarna tersebut akan membentuk suatu garis
yang jelas, sedangkan pada aliran turbulen, jika pewarna dimasukkan
kedalam pipa suatu titik maka cairan pewarna akan tersebar dan terlihat
tidak teratur. Berikut untuk membedakan tipe aliran yang menggunakan
nilai bilangan Reynolds

Gambar 1.1 Tipe Aliran


Bilangan Reynolds dapat dihitung melalui persamaan sebagai berikut:

𝑣𝐷 𝜌
Re =
𝜇

Dimana,
v = Kecepatan (rata-rata) fluida yang mengalir (m/s)
D = Diameter dalam pipa (m)
𝜌 = Massa jenis fluida (kg/m3)
𝜇 = Viskositas dinamik fluida (kg/m.s)
𝑅𝑒 = Bilangan Reynolds

Untuk menghitung kecepatan rata-rata dapat menggunakan persamaan


berikut:
𝑄
v=
𝐴
sebagai acuan untuk membedakan suatu aliran itu, digunakan bilangan
yang tidak berdimensi yang dinamakan Bilangan Reynolds sebagaimana
di tampilkan pada tabel 1.1

Tabel 1.1 Nilai Bilangan Reynolds


Jenis Aliran Nilai
Laminer Re < 2.000
Transisi 2.000 < Re < 4.000
Turbulen Re > 4.000

2. METODE PENELITIAN
2.1. Alat dan bahan
Alat yang digunakan pada saat praktikum yaitu, Osborne Reynold
Apparatus, Hydraulic Bench, stopwatch, termometer, gelas ukur 1000
mL. Bahan yang digunakan pada saat praktikum yaitu fluida dan suntikan
pewarna.

2.2. Cara kerja


1. Alat dan bahan disiapkan
2. Pompa dipancing pada hydraulic bench hingga aliran konstan
3. Setelah aliran konstan, hydraulic bench dimatikan dan selang pancing diganti
dengan selang apparatus
4. Hydraulic bench dinyalakan dan bukaan katup disesuaikan untuk
menghasilkan aliran lambat melalui pipa
5. Dialirkan air hingga memenuhi wadah apparatus lalu hydraulic bench
dimatikan
6. Kran pewarna dibuka hingga pewarna keluar
7. Profil kesepatan diamati dengan kran output dibuka sesuai perlakuan
8. Laju air volume, waktu, dan suhu aliran keluaran diukur
9. Kran output ditutup
10. Prosedur 3-8 diulang untuk perlakuan selanjutnya
11. Hasil pengamatan dicatat pada masing-masing perlakuan yang berbeda

12. HASIL DAN PEMBAHASAN


a. Hasil
Tabel 3.1 Data Hasil Perhitungan
Viskositas
Kinematik
Volume Waktu Suhu Diamter Debit Bilangan Tipe
Perlakuan Fluida
(m3) (s) (oc) pipa (m) (m3/s) Reynold Aliran
(106xm2/s

3 130 18,58 24 0,01 7x10-9 0,911 978,046 Laminer


7 130 6,04 24 0,01 2,15x10-8 0,911 2996,707 Transisi
9 130 3,97 24 0,01 3,27x10-8 0,911 4566,410 Turbulen
5 150 9,50 26 0,01 1,57x10-8 0,837 2184,412 Transisi
11 150 3,76 26 0,01 3,9x 10-8 0,837 5554,335 Turbulen
13 150 3,71 26 0,01 4,04x10-8 0,837 5642,151 Turbulen
4 400 34,96 26 0,01 1,14x10-8 0,837 1591,657 Laminer
8 400 15,30 26 0,01 2,61x10-8 0,837 3644,346 Transisi
10 400 11,25 26 0,01 3,56x10-8 0,837 4972,557 Turbulen

Gambar 3.1 Laminer Gambar 3.2 Transisi Gambar 3.3


Trubulen
 Perhitungan
Debit dengan mengambil sampel perlakuan 3

volume
Q=
𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢

 Perlakuan 3
1,3 𝑥 10−7
𝑄= = 7 × 10−9 𝑚3 /𝑠
18,58
Bilangan Reynold dengan mengambil sampel perlakuan
 Perlakuan 3
8,91 𝑥 10−5 × 0,01 𝑥 1000
Re = = 978,046
0,991 × 10−6
b. Pembahasan
Berdasarkan hasil perhitungan dari data yang didapat pada
percobaan, didapatkan 3 tipe aliran pada percobaan ini, yaitu aliran
laminer, aliran transisi dan aliran turbulen. Pada perlakuan pertama, nilai
bilangan reynold yang diperoleh 976. Nilai bilangan reynold pada
perlakuan ketiga lebih kecil dari 2000 sehingga dapat dikategorikan
sebagai aliran laminer. Pada perlakuan ketujuh, nilai bilangan reynold
yang dihasilkan adalah 2996,707. Nilai bilangan reynold pada perlakuan
ketujuh di dalam interval 2000 < Re < 4000 sehingga pada perlakuan
kedua ini dapat diketahui bahwa tipe alirannya yaitu transisi. Pada
perlakuan kesembilan juga diketahui bahwa nilai bilangan Reynold yang
dihasilkan 4566, sehingga tipe aliran pada percobaan tersebut termasuk
turbulen. Untuk mengetahui tipe aliran yang terjadi juga dapat dilakukan
dengan cara melakukan pengamatan pada Osborne Reynold Apparatus
seperti berikut
13. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat didapatkan antara lain:
a. Apabila kecepatan alirannya cepat maka angka reynoldnya menjadi besar
sehingga alirannya turbulent
b. Apabila kecepatan alirannya lambat maka angka reynoldnya menjadi kecil
sehingga alirannya adalah laminar
c. Suatu jenis aliran dipengaruhi oleh debit air
d. Apabila debit kecil maka termasuk laminar, jika debit sedang maka critical,
sedangkan saat debit tinggi hal itu menunjukkan turbulent
e. Bilangan reynold merupakan perbandingan gaya-gaya yang disebabkan oleh
gaya inersia, gravitasi, dan kekentalan (viskositas). Bilangan reynold
digunakan untuk menentukan jenisa aliran yang terjadi pada fluida
f. Kecepatan aliran dan diameter pipa dapat menentukan jenis aliran karena
kecepatan aliran dan diameter aliran termasuk dalam rumus untuk mencari
bilangan Reynolds. Apabila bilangan reynoldnya kurang atau sama dengan
2300 maka termasuk jenis aliran laminer, apabila bilangan reynoldnya sama
dengan 2300 maka termasuk jenis aliran critical, dan apabila lebih dari 2300
bilangan reynoldnya termasuk jenis aliran turbulent.
DAFTAR PUSTAKA

 Yudisaputro, H. (2014, September 28). Jenis-Jenis Aliran Fluida.


Retrieved from BerbagiEnergi.com: berbagienergi.com/2014/09/28/jenis-
jenis-aliran-fluida/
 Sarjito, Subroto., dkk. (2016). Studi Distribusi Tekanan Aliran Melalui
Pengecilan Saluran Secara Mendadak Dengan Belokan Pada Penampang
Segi Empat. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta
 Hidayat, Wirman, dkk. 2018. Modul Praktikum Mekanika Fluida I
2018/2019. Jakarta. Universitas Pertamina.
 Gustifo, Ir. Kaidir., dkk (2016). Studi Peformansi Aliran Fluida Pada
Instalasi Pipa Denga Material Dan Dimensi Bervariasi. Padang:
Universitas Bung Hatta
 M. White, Frank dan Hariandja, Manahan. 1988. Mekanika Fluida. Jakarta
:Erlangga.
LAMPIRAN