Anda di halaman 1dari 9

BARU

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU MATERIAL KEDOKTERAN GIGI II

Topik : Sineresis dan Imbisi Bahan Cetak Alginat


Kelompok : A7
Tgl Praktikum : 16 September 2019
Pembimbing : Helal Soekartono, drg., M.Kes

Penyusun:

1. Irene Anastasia W (021811133033)


2. Rifayinqa Ruyani P (021811133034)
3. Yeka Ramadhani (021811133035)
4. Wulan Ruhun N (021811133036)

DEPARTEMEN MATERIAL KEDOKTERAN GIGI

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2019

1
BARU

1. Tujuan
Mahasiswa mampu mengetahui sifat sineresis dan imbibisi material
cetak,alginat mampu melakukan uji sineresis dan imbibisi material cetak
alginat dengan benar.

2. Alat dan Bahan


2.1 Bahan
a) Bubuk alginat
b) Air

Gambar 1. Bahan yang digunakan dalam praktikum


a. Bubuk alginat
b. Air

2.2 Alat
a) Mangkuk karet
b) Spatula
c) Gelas ukur
d) Stopwatch
e) Timbangan analitik digital
f) Cetakan bentuk silinder dari Teflon diameter dalam 12mm,
tinggi 20 mm
g) Lempeng kaca

2
BARU

Gambar 2. Alat yang digunakan dalam praktikum

3. Cara Kerja
a. Menyiapkan cetakan tabung Teflon silinder diletkkan diatas lempeng
kaca
b. Menyiapkan air suhu kamar diukur sebanyak 20ml
c. Mengukur bubuk alginate ditimbang sebanyak 8,4 gram
d. Air dengan suhu kamar yang telah diukur, dituangkan ke dalam
mangkuk karet, lalu ditambahkan bubuk alginate yang telah ditimbang
e. Menyampurkan air dan bubuk alginat diaduk dengan spatula gerakan
menyerupai angka 8, membentuk putaran 180 intermitten.
f. Pengadukan dilakukan sambal menekan adonan kedinding mangkuk
karet sampai halus dan homogen selama 45 detik (sesuai dengan aturan
pabrik)
g. Adonan alginat yang telah halus dan homogen dimasukkan ke dalam
cetakan alginate yang sudah disiapkan
h. Adonn alginate dipadatkan dan diratakan menggunsksn spatula dan
lempeng kaca kecil dan tunggu sampai setting sekitar 3 menit
i. Sampel alginat yang telah setting dilepas dari cetakan sampel kemudian
ditimbang dan dicatat beratnya. Sampel alginate dibiarkan di ruang
terbuka selama 1 jam, kemudian ditimbang lagi dan dicatat beratnya
(sifat sineresis). Berat sampel alginat awal dan setelah dibiarkan
diruang terbuka dihitung selisih beratnya
j. Tahap pekerjaan diulang. Sampel alginate yang telah setting dilepas
dari cetakan kemudian ditimbang dan dicatat beratnya. Sampel alginate
dimasukkan ke dalam aiar selama 1 jam. Sampel dikeluarkan dari
dalam air kemudian ditimbang lagi dan dicatat beratnya (sifat imbibisi).

3
BARU

Berat sampel alginate awal dan setelah dimaksukkan ke dalam air


dihitung selisih beratnya

4. HASIL PRAKTIKUM

Tabel. Hasil praktikum


W/P Setelah 1
SIFAT Perlakuan Sebelum
Ratio jam
Dibiarkan di udara
Sineresis 20ml : 10.06 9.67
terbuka
8,4gr
Imbisi Direndam dalam air 10.03 10.24

Gambar. Imbisi (kiri) dan sineresis (kanan)

5. PEMBAHASAN
Alginat adalah bahan cetak hidrokoloid irreversible. Bahan cetak alginat
adalah suatu bahan cetak golongan hidrokoloid bersifat elastis yang irreversible.
Hidrokoloid irreversible berarti bahwa setelah alginat dicampur dengan suatu zat
dan terjadi reaksi kimia, maka alginat tidak dapat kembali ke bentuk semula
(Situngkir, 2008).
Alginat merupakan bahan yang bersifat hidrokoloid, biopolymer yang larut
air dari ekstrak alga cokelat. Irreversible hydrocolloid merupakan bahan cetak
yang digunakan secara luas di bidang kedokteran gigi. Irreversible hydrocolloid
digunakan dalam pembuatan piranti ortodontik dan prostodontik. Bahan cetak

4
BARU

Irreversible hydrocolloid ini merupakan bahan cetak yang berbentuk bubuk dan
pada saat pengunaannya akan dicampur dengan air dengan perbandingan yang
bervariasi.Irreversible hydrocolloid (alginate) dalam bentuk bubuk yang terdiri
atas : sodium atau potassium alginate (12-15%) dan kalsium sulfat dihidrat (8-
12%) sebagai reaktan, sodium fosfat (2%) untuk memperkuat sifat bahan pengisi,
diatom untuk mengatur kekakuan gel, potassium sulfat atau alkali zinc fluoride
(10%) untuk menghasilkan permukaan yang halus pada hasil cetakan serta bahan
pewarna dan penambah aroma (Nurlitasai et al, 2016, hal 148).
Komponen aktif utama dari bahan cetak hidrokoloid ireversibel adalah
natrium, kalium, atau alginat trietanolamin. Saat air bertemu dengan bubuk
alginat, ion kalsium dari kalsium sulfat dihidrat akan bereaksi dengan ion fosfat
dari sodium fosfat dan pirofosfat membentuk kalsium fosfat tak larut. Kalsium
fosfat yang berperan sebagai inhibitor lebih mudah terbentuk karena memiliki
solubilitas lebih rendah daripada kalsium alginat yang menambah waktu kerja
untuk pencampuran alginat hingga menjadi gel. Setelah ion fosfat telah habis, ion
kalsium akan bereaksi dengan alginat larut menyebabkan kalsium alginat gel tak
larut yang tak larut (Sakaguchi, 2012: 282).

Table. Komposisi Material Alginat ( Sakaguchi dan Powers, 2012)

5
BARU

Perubahan dimensi gel dapat terjadi karena adanya proses sineresis,


penguapan, dan imbibisi. Penguapan dan pengerutan yang berkaitan dengan
sineresis terjadi bila hasil cetakan terkena udara pada temperatur ruangan.
Sebaliknya, pengembangan akibat imbibisi akan terjadi bila cetakan
direndam dalam air. Jadi sebaiknya hasil cetakan tidak boleh terlalu lama
dibiarkan di udara. Perubahan panas juga menyebabkan perubahan dimensi.
Untuk alginat, hasil cetakan akan mengkerut karena perbedaan panas antara
temperatur rongga mulut (37ᵒC) dan temperatur ruangan (23ᵒC). Bahkan
perubahan temperatur yang kecil pun dapat menyebabkan hasil cetakan
mengalami ekspansi dan distorsi (Anusavice, 2012 : 174-175).
Dalam penggunaannya alginat dapat mengalami perubahan dimensi.
Perubahan dimensi tersebut dapat terjadi dalam 2 keadaan yang disebut
sineresis dan imbibisi.

5.1 Sineresis
Sineresis adalah suatu keadaan dimana bahan cetak alginate (saat
berbentuk gel) akan kehilangan air karena proses penguapan dari permukaan atau
keluarnya air dari bahan cetak alginat. Reaksi kimia sineresis dalam sistem
hidrogel umumnya dikaitkan dengan pembentukan rantai baru setelah reaksi
kondensasi, seperti persamaan berikut:

Ca-OH + HO-Ca Ca-O-Ca + H2O

Pembentukan rantai dapat mengalami pengerutan dimulai dengan


terjadinya reaksi kondensasi antara dua kelompok Ca-OH (reaksi kondensasi
adalah reaksi penggabungan antara dua senyawa yang memiliki gugus fungsi
dengan menghasilkan molekul yang lebih besar, dalam hal ini biasanya
dibebaskan air). Molekul lebih besar yang terbentuk dari hasil reaksi kondensasi
adalah Ca-O-Ca. Selain itu hasil reaksi kondensasi tersebut menyebabkan
dibebaskannya H2O. Proses dikeluarkannnya air tersebut mengakibatkan gel
shrinkage.
Sineresis ini dapat diketahui dengan cara mengukur massa alginat sebelum
dan sesudah alginat dibiarkan di udara terbuka selama 1 jam. Dari hasil praktikum
menunjukan bahwa cetakan alginat setelah dibiarkan pada ruang terbuka

6
BARU

mengalami shrinkage karena penguapan sehingga massa cetakan alginat


mengalami penurunan. Terjadinya sineresis pada alginat yang dibiarkan pada
udara terbuka adalah akibat dari tekanan yang terjadi yang berada diantara rantai
polisakarida. Hal ini mengakibatkan keluarnya air pada permukaan alginat.
Alginat dengan komponen kalsium lebih tinggi memiliki tingkat sineresis lebih
tinggi dikarenakan sineresis sangat terkait dengan jumlah kalsium yang ada dalam
gel. Ion kalsium meningkatkan stabilitas dimensi alginat yang mengandung rasio
pengisi yang lebih tinggi terhadap polimer alginik dan berat rantai polimer yang
lebih rendah.

5.2 Imbisi
Imbibisi adalah suatu keadaan dimana air disekitar alginat diserap melalui
rantai polisakarida. Imbibisi pada bahan cetak hydrocolloid irreversible terjadi
karena adanya kandungan kalsium alginate. Kandungan kalsium alginate ini
menyebabkan pembengkakan apabila alginate direndam dalam air. Imbibisi dapat
diketahui dengan cara mengukur massa alginat sebelum dan sesudah alginat diberi
perlakuan direndam didalam air. Dari hasil praktikum menunjukan bahwa massa
alginat semakin bertambah setelah direndam didalam air, Dari hasil praktikum
menunjukan bahwa cetakan alginat setelah direndam didalam air mengalami
ekspansi (mengembang), karena alginat menyerap air. Tekanan osmotik antara gel
alginat dan larutan perendaman menyebabkan alginate mengalami ekspansi
(mengembang) (Mc. Cabe, 2008).
Perubahan atau ketidakstabilan dimensi bahan cetakan alginat dipengaruhi
oleh beberapa faktor yaitu proses desinfeksi, waktu, perubahan suhu , maupun
kesalahan-kesalahan saat melakukan manipulasi bahan cetak (Anusavice, 2012).
Imbibisi dapat dipengaruhi oleh konsentrasi kalsium pada alginat dan lingkungan,
yaitu semakin tinggi konsentrasi kalsium akan mengurangi pembengkakan alginat
oleh air. Tingginya konsentrasi kalsium menghambat imbibisi karena ion kalsium
bereaksi dengan lebih banyak alginat sehingga air dari luar tidak akan mudah larut
karena alginat sudah bereaksi dengan ion kalsium.

7
BARU

6. SIMPULAN
Agar mendapatkan model kerja ataupun model studi yang baik untuk
digunakan pada proses perawatan maka cetakan yang dihasilkan saat mencetak
dengan alginate harus semaksimal mungkin tepat agar fit. Tidak boleh mengalami
shrinkage akibat sineresis yang membuat hasil restorasi menjadi lebih besar dari
seharusnya, serta tidak boleh mengalami swelling akibat imbisi yang membuat
hasil restorasi lebih kecil dari seharusnya.

8
BARU

DAFTAR PUSTAKA

Annusavice, KJ., Shen, C., Rawl, HR., 2012. Phillips' Science of Dental
Material 12th ed. USA: Saunders Elsevier. pp.174-175
Mc Cabe JF and Walls AWG, 2008. Applied Dental Material. 9th edition.
Blackwell Science Publ.
Nurlitasari, D. F. 2016. The Challenges of Dentistry Together Towards
Tomorrow. Denpasar: Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Mahasaraswati
Denpasar.
Sakaguchi, Ronald L. And John M. Powers. 2011. Craig’s Restorative
Dental Materials. Pp: 283. 13th Ed. Philadelphia : Mosby Elsevier.
Situngkir, Janner. 2008. Pembuatan dan Karakterisasi Fisikokimia Bahan
Cetak Gigi Palsu Kalsium Alginat. Tesis. Sumatera Utara: Fakultas Kedokteran
Gigi, Universitas Sumatera Utara.