Anda di halaman 1dari 6

KEJAKSAAN NEGERI JAKARTA UTARA

Jl. Enggano No.1, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

“UNTUK KEADILAN”

REPLIK ATAU JAWABAN


PENUNTUT UMUM
TERHADAP NOTA PEMBELAAN (PLEDOI) PENASEHAT HUKUM
TERHADAP SURAT DAKWAAN PENUNTUT UMUM
ATAS NAMA TERDAKWA
IPIN

Majelis hakim yang terhormat,


Penasehat hukum terdakwa yang kami hormati,
Sidang Pengadilan yang kami muliakan,

Setelah mendengarkan pembacaan pledoi yang disampaikan oleh Penasehat Hukum


terdakwa pada hari Senin, 23 April 2018 yang mulia Majelis Hakim Pengadilan Negeri
Jakarta Timur yang memeriksa dan memutus perkara ini telah memberikan kesempatan
kepada kami Jaksa Penuntut Umum untuk menyampaikan tanggapan atas pembelaan
Penasehat Hukum dari terdakwa IPIN. Tugas kami Jaksa Penuntut Umum salah satunya
adalah dalam menegakkan hukum sesuai dengan ketentuan Perundang-Undangan
Terdakwa melalui Penasehat Hukumnya telah menunjukkan adanya semangat dalam
penanggapan hukum meski kita berbeda pendapat namun kami yakin bahwa semangat
penegakkan hukum kita sama yaitu penegakkan keadilan didalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia.

1
Majelis hakim yang terhormat,
Penasehat hukum terdakwa yang kami hormati,
Sidang Pengadilan yang kami muliakan,

Bahwa sebelum kami menyampaikan tanggapan terhadap Pembelaan (Pledoi) dari


penasehat hukum terdakwa, kami Jaksa Penuntut Umum akan menanggapi hal-hal yang
dianggap penting sehingga tidak membuang waktu dan tenaga dan juga sesuai dengan
asas peradilan, singkat dan biaya murah.
Bahwa dalam persidangan ini saksi-saksi telah memberikan keterangan dibawah
sumpah, sedangkan terdakwa tidak disumpah, oleh karenanya keterangan saksi-saksi
lebih meyakinkan kami bagi kebenarannya daripada keterangan terdakwa yang tidak
disumpah.
Bahwa dalam Surat Tuntutan kami Jaksa Penuntut Umum telah jelas bahwa
terdakwa telah melakukan tindak pidana pencurian berencana dan melakukan
penganiayaan yang mengakibatkan kematian sesuai dengan Pasal 363 ayat (1) ke- 3 jo.
Pasal 55 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Pasal 351 butir ke- 3 jo.
Pasal 55 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Pasal 363 ayat (1) ke- 3 KUHP yang berbunyi:


Pencurian di waktu malam dalam sebuah rumah atau perkarangan tertutup yang ada
rumahnya, yang dilakukan oleh orang yang ada di ditu tidak dikethaui atau tidak
dikehendaki oleh yang berhak.
Pasal 55 ayat (1) ke- 1 yang berbunyi:
Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta
melakukan perbuatan.

Pasal 351 butir ke-3 KUHP yang berbunyi:


Jika penganiayaan mengakibatkan mati, diancam dengan pidana paling lama tujuh
tahun.

Bahwa sesuai keterangan saksi-saksi tersumpah di depan persidangan, menyatakan


bahwa terdakwa telah membujuk, mengajak, dan memaksa saksi GEDE untuk
merencanakan pencurian di kediaman Sultan Rachmadansjah dengan membagi tugas.
Terdakwa bertugas untuk mencuri sedangkan saksi Gede bertugas untuk menyiapkan
tas hitam dan mengelabui Fiqih Hindami Dewanto dengan cara memberi makan
dan mengajak ngobrol Fiqih Hindami Dewanto di dapur bersamaan dengan
terdakwa yang mencuri. Terdakwa juga menganiaya Fiqih Hindami Dewanto yang

2
pertama dengan menggunakan tangannya sendiri dan yang kedua menggunakan
tongkat baseball.

Bahwa penasehat hukum terdakwa dalam pledoinya menyatakan bahwa terdakwa


tidak ada dengan sengaja melakukan perencanaan pencurian dan penganiayaan karena
Terdakwa berada dalam pengaruh saksi Gede, menganggapi hal ini perlu kami terangkan
kepada penasehat hukum terdakwa mengenai:
1. Bentuk kesengajaan / opzet dari terdakwa.
Menurut Andi Hamzah dalam bukunya “ASAS-ASAS HUKUM PIDANA,
EDISI REVISI 2008, Penerbit RINEKA CIPTA” pada halaman 116
menjelaskan pengertian bentuk-bentuk kesengajaan. Untuk menghemat waktu
maka kami akan langsung membuktikan bentuk kesengajaan mana yang
terdakwa lakukan. Bahwa dalam hal ini terdakwa telah sengaja melakukan
perancanaan pencurian dan penganiayaan yang mengakibatkan kematian.
Yang dimaksud adalah “sengaja dengan maksud dan tujuan, perbuatan yang
dikehendaki dan dimaksud oleh pembuat pada DELIK FORMIL yaitu suatu
perbuatan pidana yang sudah selesai dilakukan dan perbuatan itu mencocoki
rumusan dalam pasal undang-undang yang bersangkutan. Delik formil
mensyaratkan suatu perbuatan yang dilarang atau diharuskan selesai
dilakukan tanpa menyebutkan akibatnya atau dengan kata lain yang dilarang
undang-undang adalah perbuatannya sedangkan pada DELIK MATERIIL
yaitu suatu akibat yang dilarang yang timbulkan dari suatu perbuatan tertentu,
dan perbuatan yang dilakukan bukan menjadi soal. Atau dengan perkataan
lain yang dilarang dalam delik materiil adalah akibatnya. Berorientasi kepada
akibat itu dikehendaki dan dimaksud oleh si pembuat hal ini dapat dilihat
sesuai fakta-fakta persidangan terdakwa sebagai seorang yang telah dewasa
dan dianggap tau per Undang-Undangan di Republik Indonesia seharusnya
masih bisa berfikir untuk menghentikan niatnya untuk melakukan niatnya
perencanaan pencurian dan penganiayaan yang mengakibatkan kematian
walaupun terdakwa mendapatkan pengaruh buruk dari saksi Gede atau
seharusnya terdakwa bisa menyadari perbuatan karena terdakwa mengetahui
bahwa perencanaan pencurian dan penganiayaan yang mengakibatkan
kematian itu melanggar hukum sehingga sangat jelas bentuk kesengajaan
yang dilakukan oleh terdakwa.
2. Mengenai Terdakwa tidak memerintahkan saksi Gede mempersiapkan
rencana milik terdakwa.

3
Bahwa dalam hal ini kami sangat tidak sepedapat dengan penasehat hukum
dan bertanya-tanya “apakah penasehat hukum menyimak jalannya
persidangan?”, karna pada persidangan jelas-jelas saksi Gede, saksi Danna
Siahaan, dan saksi Irwin Hutabarat yang kami hadirkan mengatakan bahwa
terdakwa mengumpulkan ketiga saksi tersebut di dapur dan terdakwa
membujuk ketiga saksi untuk melakukan pencurian di kediaman Sultan
Rachmadansjah. Pada tanggal 25 Desember 2017 terdakwa dan saksi Gede
melakukan pencurian tersebut dan terdakwa memerintahkan saksi Gede untuk
mengalihkan perhatian Fiqih Hindami Dewanto sementara terdakwa mencuri
barang-barang yang ada di kediaman Sultan Rachmadansjah. Setelah
terdakwa tertangkap basah sedang mencuri oleh Fiqih Hindami Dewanto,
terdakwa melakukan penganiayaan kepada Fiqih Hindami Dewanto yang
mengakibatkan Fiqih Hindami Dewanto meregang nyawa.

Mengenai daya paksa, Sebelum menjelaskan mengenai daya paksa yang


diuraikan oleh penasehat hukum, perlu kami jelaskan terlebih dahulu apa yang
dimaksud dengan daya paksa.
Daya paksa adalah setiap kekuatan, setiap tekanan, setiap siksaan, yang tidak
dapat ditahan.
Daya paksa dibagi menjadi 2 yaitu:
- Daya paksa absolut atau vis absoluta, adalah daya paksa yang dapat
disebabkan oleh kekuatan manusia atau alam, dalam hal ini paksaan
tersebut sama sekali tidak dapat ditahan.
- Daya paksa yang relatif atau vis compulsiva, adalah paksaan yang datang
sebenarnya masih dapat ditahan, tetapi orang yang dipaksa itu tak dapat
diharapkan bahwa ia akan dapat mengadakan perlawanan. Menurut
Moelyatno, daya paksa compulsiva, adalah daya paksa yang disebabkan
oleh kekuatan fisik dan masih dapat ditahan oleh orang yang dipaksa.
Orang yang dipaksa dapat berfikir dan menentukan kehendaknya, jadi tak
ada paksaan absolut. Memang ada paksaan tetapi masih ada kesempatan
bagi orang yang dipaksa untuk mempertimbangkan apakah ia melanggar
kewajibannya. Daya paksa relative, menurut Moeljatno, merupakan daya
paksa dalam arti sempit (overmacht in enge, zin) berupa paksaan pesikis
yaitu daya paksa yang sumber paksaannya datang dari luar atau orang lain
dan daya paksa dalam kondisi darurat (noodtoestand) yaitu daya paksa
yang bukan disebabkan orang lain, melainkan timbul dari keadaan-

4
keadaan tertentu, daya paksa relative ini digunakan dalam KUHP (Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana) Indonesia.
- Jika dikaitkan dengan kasus ini maka kalaupun adanya paksaan dari saksi
Gede terhadap terdakwa IPIN sebenarnya paksaan itu masih dapat ditolak
atau terdakwa masih dapat mengadakan perlawanan karena terdakwa
sudah dewasa dapat berpikir dan menentukan kehendaknya sendiri, tidak
ada paksaan yang absolut. Terdakwa masih ada kesempatan untuk
mempertimbangkan apakah itu akan melanggar undang-undang yang
berlaku.
Profesor Van Hamel berpendapat bahwa overmacht (daya paksa) adalah
bukan merupakan suatu rechtvaardigingsgrond atau suatu dasar
pembenaran bagi apa yang telah dilakukan oleh seseorang dan bukan pula
merupakan keadaan yang meniadakan toerekeningsvatbaarheid atau bukan
pula merupakan keadaan yang meniadakan hal dapat dipertanggung
jawabkannya seseorang atas perbuatannya.
Bahwa dalam hal ini tidak ada daya paksa yang ditimbulkan seperti yang
dikatakan oleh penasehat hukum adanya daya paksa dari saksi GEDE
terhadap terdakwa IPIN.

Bahwa Surat Dakwaan dan Surat Tuntutan kami Jaksa Penuntut Umum
telah memenuhi unsur terhadap pasal yang kami dakwakan kepada
terdakwa dengan di dukung oleh alat bukti yang cukup sesuai Pasal 184
KUHAP yaitu:
Alat bukti yang sah ialah:
a. Keterangan Saksi
b. Keterangan Ahli
c. Surat
d. Petunjuk
e. Keterangan terdakwa
Serta kami tidak hanya mendengarkan keterangan terdakwa saja tetapi
juga mendengarkan saksi-saksi lainnya yang memberikan keterangan
dibawah sumpah didepan Persidangan yang Mulia, sehingga kami
memohon kepada yang mulia Majelis Hakim yang memeriksa perkara
ini agar menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan
melakukan tindak pidana seperti yang kami tuangkan dalam tuntutan
pidana (stravfeit voghing) di dalam surat tuntutan kami.

5
Terhadap hal-hal lain yang dikemukakan terdakwa, maupun oleh
Penasehat Hukum terdakwa, dan tidak kami tanggapi dalam replik ini.
kiranya telah cukup jelas seperti apa yang kami kemukakan dalam
Surat Tuntutan kami, dan oleh karena itu, kami selaku Penuntut Umum
berpendapat bahwa apa yang dikemukakan oleh terdakwa maupun
Penasehat Hukum terdakwa tidak menggoyahkan, Surat Tuntutan kami
bahkan lebih memperkuat keyakinan akan kesalahan terdakwa. Oleh
karena itu kami TETAP pada Surat Tuntutan kami.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberikan perlindungan dan


kekuatan lahir batin kepada kita semuanya serta memberikan kearifan,
keteguhan iman dan petunjuk-Nya kepada yang terhormat Majelas
Hakim dalam mengadili dan menjatuhkan Putusan dalam perkara ini.
Amin.

Jakarta, 28 April 2018


JAKSA PENUNTUT UMUM

Muhammad Miftachul Arif, SH.MH

JAKSA MUDA NIP. 14.005.333