Anda di halaman 1dari 15

PERKIRAAN DAN ANTISIPASI TERHADAP MASYARAKAT MASA DEPAN

Mata Kuliah
Pengantar Pendidikan

DOSEN PEMBIMBING:
KENYS FADHILAH Z., S.Si., M.Pd.

DISUSUN OLEH KELOMPOK 4 (KELAS B 2019):

1. Ayu Azahroh (2191000210054)

2. Desi Diana Putri (2191000210042)

3. Halimatus Sa’diah (2191000210015)

4. Laily Rahmawati (2191000210028)

PRODI PENDIDIKAN S1 MATEMATIKA


FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU EKSAKTA DAN KEOLAHRAGAAN
IKIP BUDI UTOMO
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan selalu bertumpu pada suatu wawasan kesejahteraan, yakni
pengalaman-pengalaman masa lampau, kenyataan dan kebutuhan mendesak masa
kini, dan aspirasi serta harapan masa depan. Melalui pendidikan setiap masyarakat
akan melestarikan nilai-nilai luhur sosial kebudayaannya yang telah terukir dengan
indahnya dalam sejarah bangsa tersebut. Serentak dengan itu, melalui pendidikan juga
diharapkan dapat ditumbuhkan kemampuan untuk menghadapi tuntutan objektif masa
kini, baik tuntutan dari dalam maupun tuntuan karena pengaruh dari luar masyarakat
yang bersangkutan. Pada akhirnya, melalui pendidikan akan ditetapkan langkah-
langkah yang dipilih masa kini sebagai upaya mewujudkan aspirasi dan harapan di
masa depan.
Dalam UU RI No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1
telah ditetapkan antara lain bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan
peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan bagi peranannya di
masa yang akan datang.” Penekanan pada bagian terakhir tersebutlah yang
menyebabkan perkembangan pendidikan itu penting dalam perubaha masyarakat di
masa depan. Peserta didik yang sedang belajar di lembaga-lembaga pendidikan,
termasuk mahasiswa yang sedang membaca paparan ini, akan menempati
kedudukannya serta memainkan peranannya kelak pada masa yang akan datang. Oleh
karena itu, keterkaitan program pendidikan dengan masyarakat masa depan perlu
mendapat perhatian (Tirtarahardja & La Sulo, 2010).

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana perkiraan masyarakat masa depan?
2. Bagaimana upaya pendidikan dalam mengantisipasi masa depan?
BAB II

PEMBAHASAN

A. Perkiraan Masyarakat Masa Depan


Pendidikan di Indonesia dilaksanakan berdasarkan latar kemasyarakatan dan
kebudayaan Indonesia, landasan sosio-kultural merupakan salah satu dasar utama
dalam menentukan arah program pendidikan. Selain itu, pendidikan juga berfungsi
sebagai pilar utama pelestarian dan pengembangan kebudayaan setiap masyarakat.
Karena adanya saling pengaruh antara pendidikan dan latar sosio-kultural,
maka perlu dikemukakan terlebih dahulu pengertian kebudayaan. Kebudayaan
dimaksudkan dalam arti luas yakni keseluruhan gagasan dan karya manusia, yang
harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya
itu. Kebudayaan itu dapat :
1) Berwujud ideal yakni ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan
sebagainya.
2) Berwujud kelakuan yakni kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3) Berwujud fisik yakni benda-benda hasil karya manusia.

Pengertian kebudayaan yang begitu luas tersebut seringkali dipecah lagi dalam
unsur-unsurnya, dan dipandang sebagai unsur-unsur universal dari kebudayaan yakni :
a. Sistem religi dan upacara keagamaan
b. Sistem dan organisasi kemasyarakatan
c. Sistem pengetahuan
d. Bahasa
e. Kesenian
f. Sistem mata pencarian
g. Sistem teknologi dan peralatan

Perkembangan masyarakat beserta kebudayaannya sekarang ini makin


mengalami percepatan. Percepatan perubahan itu terutama karena percepatan ilmu
pengetahuan dan teknologi, utamanya teknologi informasi. Perubahan yang cepat
tersebut mempunyai karakteristik umum yang dapat dijadikan petunjuk sebagai ciri
masyarakat di masa depan. Beberapa diantaranya yang dibahas selanjutnya adalah:
1) Kecenderungan globalisasi yang makin kuat.
2) Perkembangan iptek yang makin cepat.
3) Perkembangan arus informasi yang semakin padat dan cepat.
4) Kebutuhan/tuntutan peningkatan layanan profesional dalam berbagai segi
kehidupan manusia.

Seperti yang dikemukakan Ansyar & Nurtain (1992), “Zaman kita, yang disebut
Zaman Pasca Industri, memerlukan suatu pendidikan yang berbeda dengan
pendidikan pada zaman sebelumnya.” Kajian masyarakat masa depan itu semakin
penting jika diingat bahwa pendidikan merupakan penyiapan peserta didik bagi
peranannya di masa yang akan datang. Dengan demikian, pendidikan seharusnya
mengantisipasi keadaan masyarakat masa depan supaya menjadi lebih baik lagi.

1. Kecenderungan Globalisasi

Istilah globalisasi (asal kata: global yang berarti secara umumnya, utuhnya,
kebulatannya) bermakna bumi sebagai satu keutuhan seakan-akan tanpa batas
administrasi negara, dunia menjadi amat transparan. Dengan kata lain menjadikan
dunia sebagai satu keutuhan dan satu kesatuan.

Menurut Ansyar & Nurtain (1992), terdapat empat bidang kekuatan


gelombang globalisasi yang paling kuat dan menonjol daya dobraknya. Beberapa
kecenderungan globalisasi dari keempat bidang tersebut adalah:

a. Bidang IPTEK
Bidang iptek mengalami perkembangan yang semakin dipercepat, utamanya
dengan penggunaan berbagai teknologi canggih seperti komputer dan satelit.
b. Bidang Ekonomi
Bidang ini mengarah ke ekonomi regional atau ekonomi global tanpa mengenal
batas-batas negara
c. Bidang Lingkungan Hidup
Bidang ini telah menjadi bahan pembicaraan dalam berbagai pertemuan
internasional, yang mencapai puncaknya pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT)
Bumi. Kerusakan lingkungan hidup di suatu tempat akan memberi dampak
negatif ke berbagai negara sekitarnya, bahkan mengancam keselamatan planet
bumi.
d. Bidang Pendidikan
Bidang ini berkaitan dengan identitas bangsa, termasuk budaya nasional dan
budaya-budaya nusantara. Disamping terpaan tentang gagasan dalam pendidikan,
globalisasi terjadi pula secara langsung menerpa setiap individu manusia melalui
buku, radio, televisi dan media lainnya.

2. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)


Perkembangan iptek pada akhir abad ke-21 ini sangat mengesankan, utamanya
dalam bidang-bidang transportasi, telekomunikasi dan informatika, genetika, biologi
molekul serta bioteknologi dan sebagainya.
Globalisasi perkembangan iptek tersebut dapat berdampak positif maupun
negatif, tergantug pada kesiapan bangsa beserta kondisi sosial-budayanya untuk
menerima limpahan informasi/teknologi itu.
Segi positifnya antara lain memudahkan mengikuti perkembangan iptek yang
terjadi di dunia, menguasai dan menerapkannya untuk memenuhi kebutuhan
pembangunan. Sedangkan segi negatif akan timbul masalah-masalah baru apabila
kondisi sosial-budaya belum mampu menerimanya. Perkembangan iptek terkait
dengan beberapa landasan, yaitu:
a. Landasan Ontologis
Objek dari landasan ini merupakan pengalaman atau pengetahuan yang didapat
melalui indra karena telah ditemukan alat atau bagian yang dapat membantu indra
tersebut.
b. Landasan Epistemologis
Cara yang dipakai untuk memperoleh pengetahuan adalah ilmu pengetahuan yang
telah mengalami perkembangan seiring dengan waktu.
c. Landasan Aksiologis
Landasan ini menekankan pada tujuan iptek itu sendiri yang tertuju pada
kesejahteraan masyarakat.
Terdapat serangkaian kegiatan pengembangan dan pemanfaatan iptek, yakni:
1) Penelitian dasar (basic research)
2) Penelitian terapan (applied research)
3) Pengembangan teknologi (technological development)
4) Penerapan teknologi

Biasanya langkah-langkah tersebut diikuti oleh langkah evaluasi, apakah hasil


iptek tersebut dapat diterima di masyarakat, umpamanya dari segi etis-politis-religius-
dan sebagainya. Adanya perkembangan iptek yang makin cepat dan global, maka
terdapat kecenderungan yang kuat agar penilaian tersebut dimulai sedini mungkin
dimulai dengan pengarahan awal, dilanjutkan dengan pemantauan selama rangkaian
kegiatan itu berlangsung, dan akhirnya penilaian akhir seperti tersebut di atas.
Perkembangan iptek yang cepat tersebut adalah peluang dan tantangan. Terbuka
peluang bagi kita untuk mengikuti perkembangan iptek tersebut sejak dini. Sebaliknya
apabila masyarakat belum siap menerimanya, maka akan berubah menjadi tantangan.

3. Perkembangan Arus Komunikasi yang Semakin Padat dan Cepat


Salah satu perkembangan iptek yang luar biasa adalah berkaitan dengan
informasi dan komunikasi. Pemakaian satelit komunikasi dan komputer telah
membuka peluang surat elektronik, surat kabar elektronik, siaran televisi secara
langsung dari satelit ke rumah-rumah.
Pada umumnya bentuk komunikasi langsung dikenal sebagai komunikasi antar
pribadi, baik komunikasi antar dua orang maupun komunikasi dalam kelompok kecil
dengan ciri pokok adanya dialog diantara pihak-pihak yang berkomunikasi.
Sedangkan komunikasi yang bercirikan monolog adalah komunikasi publik, yang
dibedakan atas komunikasi pembicara-pendengar, contohnya pada suatu rapat umum
dan komunikasi massa, seperti surat kabar, radio, televisi dan sebagainya yang
menyangkut penerima yang sangat luas. Proses komunikasi meliputi beberapa unsur
dasar, yaitu:
a. Sumber pesan, seperti harapan, gagasan, perasaan atau perilaku yang diinginkan
oleh penerima pesan.
b. Penyandian, yaki pengubahan atau penerjemahan isi pesan kedalam bentuk yang
serasi dengan alat pengiriman pesan.
c. Transmisi (pengiriman) pesan
d. Saluran
e. Pembuka sandian, yakni penerjemahan kembali apa yang diterima kedalam isi
pesan oleh penerima.
f. Reaksi internal penerima sesuai pemahaman pesan yang diterimanya.
g. Gangguan atau hambatan yang terjadi pada semua unsur dasar lainnya.

Perkembangan komunikasi dengan arus informasi yang makin padat dan akan
dipercepat di masa depan, mencakup keseluruhan unsur-unsur dalam proses
komunikasi tersebut. Contohnya, sejak diluncurkannya Sistem Komunikasi Satelit
Domestik (SKSD) Palapa pada tahun 1976, dan ditopang oleh penggunaan antena
parabola, penggunaan komputer, dan lain-lain maka arus informasi yang padat dan
cepat telah menerpa seluruh pelosok tanah air. Telah sering diadakan siaran langsung
dari seluruh penjuru dunia tentang berbagai peristiwa penting yang terjadi ataupun
wawancara jarak jauh melalui televisi. Hal itu mau tak mau memaksa kita
mempunyai konsep baru tentang berita, yakni apa yang telah terjadi tetapi apa yang
sedang terjadi.
Meskipun teknologi komunikasi telah mengalami perkembangan yang cepat,
namun belum merata pada semua negara. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya
untuk merebut teknologi tersebut. Terdapat beberapa faktor yang harus diperhatikan
dalam upaya-upaya tersebut, yaitu:

1) Pengembangan teknologi satelit yang mutakhir


2) Penggunaan teknologi yang mampu menyalurkan signal yang beragam
seperti suara, video dan data.
3) Penggunaan VDT (video display terminal) dalam media cetak, surat kabar
elektronik dan sistem cepat jarak jauh.
4) Penggunaan DBS (direct broadcast satellite) dalam media elektronik.

Kesemuanya itu akan mempercepat terwujudnya suatu masyarakat informasi


sebagai masyarakat masa depan.

4. Peningkatan Layanan Profesional


Salah satu ciri masyarakat masa depan adalah meningkatnya kebutuhan layanan
profesional dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Dengan perkembangan iptek
yang semakin cepat maka anggota masyarakat masa depan akan memiliki wawasan,
pengetahuan dan daya kritis yang semakin tinggi. Oleh karen itu, masyarakat masa
depan tersebut makin menuntut suatu kualitas hidup yang lebih baik, termasuk
berbagai layanan yang dibutuhkannya. Layanan yang diberikan oleh pemangku
profesi akan semakin penting untuk kebutuhan masyarakat tersebut.
Profesi adalah suatu lapangan pekerjaan dengan persyaratan tertentu, suatu vokasi
khusus yang mempunyai ciri-ciri: expertise (keahlian), responsbility (tanggung
jawab), corporateness (kesejawatan).
Usman (2006) mengemukakan beberapa ciri profesi, yaitu :
a. Lebih mengutamakan pelayanan kemanusiaan yang ideal dan layanan itu
memperoleh pelayanan masyarakat.
b. Terdapat sekumpulan bidang ilmu yang menjadi landasan dari sejumlah teknik
dan prosedur yang unik.
c. Terdapat suatu mekanisme saringan berdasarkan kualifikasi tertentu, hanya yang
kompeten yang diperbolehkan melaksanakan layanan profesi itu.
d. Terdapat kode etik suatu profesi mengatur keanggotaan, tingkah laku, sikap, dan
cara kerja dari anggotanya.
e. Terdapat organisasi profesi yang melindungi kepentingan dan kesejahteraan
anggotanya.
f. Pemangku profesi memangdang profesinya sebagai karier hidup dan menjadi
seorang anggota yang relatif permanent dan untuk mengembangkan kemampuan
profesionalnya sendiri.
Diperlukan suatu perjuangan panjang yang menerus dan bertahap melalui semi
professional penuh. Usman (2006) mengemukakan lima lingkaran konsentris dari titik
tengah berturut – turut :

1. Profesi tertua yakni hukum, kesehatan, teologi, dan dosen.


2. Profesi baru yakni arsitektur, insinyur, (engineering) dan optometri.
3. Pekerjaan yang segera diakui sebagai profesi (emergent professions).
4. Semi profesional.
5. Pekerjaan biasa yang tidak berusaha memperoleh status profesional.

Profesionalisasi merupakan proses pemantapan profesi sehingga memperoleh


status yang melembaga sebagai profesional. Usman (2006) mengemukakan enam
tahap dalam proses profesionalisasi yakni:

a) Penetapan dan pemantapan layanan unik yang diberikan oleh suatu profesi
sehingga memperoleh pengakuan masyarakat dan pemerintah.
b) Penyepakatan antara kelompok profesi dan lembaga pendidikan prajabatan
tentang standar kompetensi minimal yang harus dimiliki oleh setiap calon
profesi tersebut.
c) Akreditasi, yakni pengakuan resmi tentang kelayakan suatu program
pendidikan prajabatan yang ditugasi menghasilkan calon tenaga profesi yang
bersangkutan.
d) Mekanisme sertifikasi dan pemberian izin praktik.
e) Secara perseorangan ataupun kelompok, pemangku profesi bertanggung jawab
penuh terhadap segala aspek pelaksanaan tugasnya yakni kebebasan
mengambil keputusan secara professional.
f) Kelompok profesional memiliki kode etik yang berfungsi ganda, yakni :
1) Perlindungan terhadap masyarakat agar memperoleh layanan yang
bermutu.
2) Perlindungan dan pedoman peningkatan kualitas anggota.

Masyarakat masa depan dengan kecenderungan globalisasi, utamanya dalam


perkembangan IPTEK dan arus informasi yang makin dipercepat, akan menjadi
masyarakat yang menuntut kualitas tenaga profesional yang optimal.

Sehubungan dengan kecenderungan permasalahan manusia yang bersifat holistic


dan memerlukan penanganan multidisiplin, maka tuntutan layanan profesional
semakin tinggi pula.
B. Upaya Pendidikan dalam Mengantisipasi Masa Depan
Arus informasi yang cepat, perkembangan Iptek, dan globalisasi yang sangat luas
merupakan tantangan besar bagi yang mampu menghadapi tantangan tersebut.
Pendidikan berkewajiban mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi
tantangan di masa yang akan datang sehingga melahirkan manusia yang berwawasan
luas di bidang teknologi, kemampuan pikir, dan secara keseluruhan disebut
berwawasan luas pada bidang kebudayaan.
Pengembangan pendidikan pada masyarakat yang sedang berubah terdiri dari 2
pendekatan, yaitu :
a) Pendekatan sistematis
Pengembangan pendidikan dilakukan secara teratur melalui perencanaan yang
bertahap.
b) Pendekatan sistematik
Pendekatan ini dilakukan dengan proses berpikir yang mengaitkan secara
fungsional semua aspek dalam pembaruan belajar.
Keberhasilan antisipasi terhadap masa depan pada akhirnya ditentukan oleh
kualitas manusia yang dihasilkan oleh pendidikan. Oleh karena itu, kajian selanjutnya
adalah:
1. Tuntutan bagi Manusia Masa Depan
Tantangan – tantangan yang akan dihadapi oleh masyarakat akan datang akan
menjadi sangat berat sehingga diperlukan wawasan yang luas dan daya adaptasi yang
tinggi hingga manusia Indonesia dapat menyesuaikan diri di masa yang akan datang.
Dalam UU RI No. 2/1989 telah ditetapkan rumusan tujuan pendidikan di
Indonesia yang juga dianggap sebagai profil manusia Indonesia di masa depan.
Contohnya adalah ditetapkannya wajib belajar 9 tahun yang diharapkan dapat menjadi
bekal manusia Indonesia di masa depan yang meliputi pengembangan pribadi manusia
dan penguasaan Iptek.
Tuntutan manusia Indonesia di masa yang akan datang setelah diarahkan pada
pembekalan yang diperlukan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan di masa yang
akan datang adalah :
a. Ketanggapan terhadap berbagai masalah politik, social budaya, dan
lingkungan.
b. Kreativitas dalam memecahkan masalah.
c. Efisiensi dan etos kerja yang tinggi.
2. Upaya Mengantisipasi Masa Depan
Berdasarkan perkiraan tentang masyarakat masa depan serta profil manusia
yang di harapkan berhasil di dalam masyarakat itu maka perlu dikaji berbagai upaya
masa kini yang memungkinkan mewujudkan manusia masa depan tersebut.
Dalam penjelasan UU RI NO.2 Tahun 1989 dikemukakan sebagai berikut : “
Dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional sebagai pengamalan pancasila di
bidang pendidikan, maka pendidikan nasional mengusahakan : pertama, pembentukan
manusia pancasila sebagai manusia pembangunan yang tinggi kualitasnya dan mampu
mandiri, dan kedua, pemberian dukungan bagi dan mampu mandiri, dan kedua,
pemberian dukungan bagi perkembangan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia
yang terwujud dalam pertahanan nasional yang tangguh kajian tentang upaya
mengantisipasi masa depan melami pendidikan akan di arahkan pada :
a. Aspek yang paling berperan dalam individu untuk memberi arah antisipasi
tersebut yakni nilai dan sikap.
b. Pengembangan budaya dan sarana kehidupan.
c. Tentang pendidikan itu sendiri.

Ketiga hal tersebut merupakan titik strategi dalam mengantisipasi masa depan
tersebut.

1) Perubahan Nilai dan Sikap

Nilai dan sikap memegang peranan penting dalam menentukan wawasan dan
perilaku manusia. Sebagai kemampuan internal, sikap akan sangat berperan
menentukan apabila terbuka, kerungkunan berbagai alternative untuk bertindak.
Dalam sikap dapat di bedakan 3 aspek, yaitu :

1) Aspek kognitif seperti pemahaman tentang objek sikap.


2) Aspek Afektif yang sangat di oengaruhi oleh nilai dan dapat sangat subjektif.
3) Aspek konatif yang mendorong untuk bertindak sesuai dengan sikap terhadap
objek tersebut.

Ketiga aspek tersebut pada dasarnya terpadu dalam membentuk sikap


seseorang. Pembentukan/pengubahan nilai dan sikap dalam diri seseorang dapat
dilakukan dengan berbagai cara seperti pembiasaan, internalisasi nilai melalui
ganjaran-hukuman, keteladanan (modeling), teknik klarifikasi nilai, dan sebagainya.
Taksonomi tujuan pendidikan dalam aspek afektif tersebut dikemukakan
antara lain oleh Ihsan (2001) yang menekankan proses internalisasi yang rendah
sampai yang tertinggi sebagai berikut :

1) Penerimaan ( receiving, attending )


2) Penanggapan ( responding )
3) Penilaian, peyakinan ( valuing )
4) Pengorganisasian, konseptualisasi ( organization )
5) Pewatakan, pemeranan (characterization)

Perubahan nilai dan sikap dalam rangka mengantisipasi masa depan haruslah
diupayakan sedemikian rupa sehingga dapat di wujudkan keseimbangan dan
keserasian antara aspek pelestarian dan aspek pembaruan. Nilai-nilai luhur yang
mendasari kepribadian dan kebudayaan Indonesia seyogianya akan tetap di lestarikan,
agar terhindar dari krisis identitas.

2) Pengembangan Kebudayaan

Salah satu upaya penting dalam mengantisipasi masa depan adalah upaya yang
berkaitan dengan pengembangan kebudayaan dalam arti luas, yaitu termasuk hal-hal
yang berkaitan dengan sarana kehidupan manusia. Kebudayaan mencakup unsur-
unsur mulai dari sistem religi, kemasyarakatan, pengetahuan, bahasa, kesenian, mata
pencaharian, sampai dengan sistem teknologi dan peralatan.

Unsur-unsur tersebut paling mudah menerima pengaruh bukan hanya budaya


setempat tetapi juga budaya dunia. Maka dari itu dalam menghadapi berbagai
pengaruh tersebut setiap individu diharapkan dapat menyelaraskan dengan baik agar
dapat menyesuaikan diri dengan dunia yang selalu berubah tersebut dengan berhasil.

Dalam hal sejarah tercatat bagaimana puncak kebudayaan pada suatu wilayah
tertentu akan mempengaruhi kebudayaan lain di dunia lain. Berkaitan dengan hal itu
UNESCO telah menetapkan konsep Dasawarsa Kebudayaan Sedunia yang
menekankan bahwa pengembangan kebudayaan dunia masa kini harus meliputi empat
dimensi, yakni :

1) Afirmasi (penegasan dimensi budaya dalam proses pembangunan).


2) Mereafirmasi dan mengembangkan identitas budaya.
3) Partisipasi.
4) Memajukan kerja sama budaya antar bangsa.
Pelestarian nilai-nilai luhur Pancasila sebagai inti ketahanan budaya bangsa
tersebut menjadi acuan pokok dalam memilih segala pengaruh yang datang agar tidak
terjadi kritis identitas bangsa Indonesia. Peranan pendidikan merupakan faktor
penentu dalam membangun dan memperkuat ketahanan budaya tersebut.

3) Pengembangan Sarana Pendidikan

Pengembangan sarana pendidikan sebagai salah satu prasyarat utama untuk


menjemput masa depan dengan segala kesempatan dan tantangannya. Dasar
perkembangan masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia di masa yang akan datang
juga di atur dalam UU pasal 27 tahun 1992. Meskipun Menteri Dikbud yang
bertanggung jawab atas bidang pendidikan nasional akan tetapi penyelenggaraannya
tersebar di berbagai lembaga pendidikan baik jalur sekolah atau di luar sekolah, serta
dikelola berbagai pihak (Dekdikbud, pemerintah non-departemen, dan masyarakat).
Kebijakan penting yang berkaitan dengan pendidikan dasar yaitu dari 6 tahun menjadi
9 tahun serta kualifikasi awal guru SD dari SPG dan sederajat menjadi pendidikan
tinggi (D2 dan Sarjana).

Wajib belajar 9 tahun merupakan kebijakan awal yang akan bermuara pada
peningkatan SDM menurut Ihsan (2001), yaitu manusia Indonesia yang mampu “think
globally but act locally” ke arah peningkatan mutu pendidikan menengah dan
pendidikan tinggi, dan terbentuknya masyarakat terdidik yang mampu terus belajar
mandiri.

Secara tradisional, permasalahan pendidikan di Indonesia adalah masalah-


masalah kuantitas, kualitas, pemerataan, dan relevansi. Khusus untuk menyongsong
era globalisasi yang makin tidak terbendung, terdapat beberapa hal yanbg secara
khusus memerlukan perhatian dalam bidang pendidikan. Ihsan (2001) mengemukakan
5 strategi dalam era globalisasi, yakni :

1) pendidikan untuk pengembangan IPTEK


2) pendidikan untuk pengembangan keterampilan manajemen
3) pendidikan untuk pengelolaan kependudukan, lingkungan, dan kesehatan
4) pendidikan untuk pengembangan sistem nilai, termasuk filsafat, agama, dan
ideologi
5) pendidikan untuk mempertinggi mutu tenaga kependidikan dan kepelatihan
Khusus untuk pendidikan tinggi, terdapat kecenderungan berkembangnya pola
pemecahan masalah secara multidisiplin. Oleh karena itu, diperlukan suatu program
pendidikan yang kuat dalam dasar keahlian yang akan memperluas wawasan
keilmuan dan membuka peluang kerja sama dengan bidang keahlian lainnya.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Pendidikan akan menyiapkan peserta didik termasuk masyarakat di masa depan.
Oleh karena itu, keputusan dan tindakan dalam bidang pendidikan seharusnya
berorientasi ke masyarakat masa depan tersebut. Ciri masyarakat masa depan antara
lain adalah:
1) Globalisasi, utamanya dalam iptek, ekonomi, lingkungan hidup, pendidikan, dan
sebagainya.
2) Perkembangan iptek yang makin cepat.
3) Arus komunikasi yang semakin padat dan cepat yang mengubah masyarakat
menjadi masyarakat informasi.
4) Peningkatan layanan profesional dalam berbagai segi kehidupan manusia.
Berdasakan perkiraan masyarakat di masa depan tersebut, pendidikan
telah/sedang mengambil langkah-langkah mengantisipasinya, baik pada lapis sistem
maupun institusional dan individual. Secara khusus dapat dikemukakan beberapa
upaya anstisipasi masa depan itu antara lain: Perubahan nilai dan sikap,
pengembangan kebudayaan, dan pengembangan sarana pendidikan.

B. Saran
Pemahaman tentang keadaan masyarakat masa depan tersebut akan sangat
penting sebagai latar depan segala kebijakan dan upaya pendidikan masa kini dan
masa yang akan datang. Kajian masyarakat masa depan itu semakin penting jika
diingat bahwa pendidikan selalu merupakan penyiapan peserta didik bagi peranannya
di masa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA

Ansyar, M. dan Nurtain. 1992. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Jakarta:


Departemen Pedidikan dan Kebudayaan.
Ihsan, F. 2001. Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Tirtarahardja, U. dan La Sulo. 2010. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Usman, M.U. 2006. Menjadi Guru Profesinal. Bandung: Rosma Rosda Karya.