Anda di halaman 1dari 18

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

CRITICAL BOOK REPORT

“HAKIKAT PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN”

DISUSUN

OLEH :

MIA NURMALA (4171121019)

KELAS: FISIKA DIK B 2017

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2018

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan
rahmatnya saya masih dapat diberi izin dan kesempatan di dalam mengerjakan dan
menyelesaikan tugas saya dalam Mata Kuliah “ Pendidikan Kewarganegaraan ”

Adapun tugas ini diberikan kepada saya, untuk melengkapi tugas yang ada. Dan tugas
ini diselesaikan untuk menambah kelengkapan nilai mahasiswa. Saya mengerjakan tugas ini
dengan didahului kata pengantar saya, dimana dengan tujuan dan harapan kiranya Bapak/Ibu
dapat memaklumi hasil kerja saya. Dengan melihat tata bahasa dan cara pengerjaan yang saya
berikan dan yang saya kumpulkan kepada Bapak/Ibu.

Semoga makalah yang saya buat ini dapat bermanfaat bagi kita untuk mencapai hidup
yang lebih baik lagi. Dan tak lupa saya juga menerima kritik dan saran terhadap hasil kerja
yang sudah saya buat ini. Akhir kata saya ucapkan, Terima Kasih.

Medan, 16 Oktober 2018

Penulis

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Identitas Buku

a. Buku Pertama (Buku Utama) :

Judul : Pendidikan Kewarganegaraan Untuk

Perguruan Tinggi

Penulis :Apiek Gandamana, S.Pd., M.Pd. dkk.

ISBN :-

Penerbit : Universitas Negeri Medan Press

Tahun Terbit : 2017

Cetakan Ke :-

Tebal Buku : v + 261 halaman

b. Buku Kedua (Buku Pembanding) :

Judul : Pendidikan Kewarganegaraan

Penulis : Paristiyanti Nurwardani, dkk

ISBN : 978-602-6470-02-7

Penerbit : Direktorat Jenderal Pembelajaran dan

KemahasiswaanKementerian Riset,

Teknologi, dan Pendidikan Tinggi

Tahun Terbit : 2016

Cetakan Ke : I (Pertama)

Tebal Buku : xii + 326 halaman

3
BAB II

PENGANTAR

Critical book report merupakan salah satu instrument yang dapat mendukung
keberhasilan dalam proses pembelajaran di bangku perkuliahan. Indikator keberhasilan
critical book report untuk mendukung keberhasilan dalam pembelajaran dapat dilihat dari
terciptanya kemampuan mahasiswa untuk mengevaluasi penjelasan, interpretasi serta analisis
mengenai kelebihan maupun kelemahan dari buku, sehingga berdampak besar bagi
pengembangan cara berfikir dari mahasiswa yang pada akhirnya menambah pemahaman dan
pengetahuan mahasiswa itu sendiri terhadap kajian mata kuliah yang telah diambil. Dengan
kata lain, melalui critical book report ini mahasiswa diajak untuk menguji pemikiran dari
pengarang maupun penulis berdasarkan sudut pandang yang akan dibangun oleh setiap
mahasiswa berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki. Penulisan Critical
book report ini memiliki tujuan utama, yaitu sebagai salah satu pemenuhan tugas khusus
dalam mata kuliah kewarganegaraan.

Dalam mata kuliah kewarganegaraan, terdapat materi mengenai hakikat pendidikan


kewarganegaraan. Materi ini secara umum membahas mengenai pengertian pendidikan
kewarganegaraan, landasan ilmiah dan landasan hukum dari pendidikan kewarganegaraan
serta membahas tentang tujuan pendidikan kewarganegaraan.

Secara etimologis, pendidikan kewarganegaraan berasal dari kata “pendidikan” dan


kata “kewarganegaraan”. Pendidikan berarti usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya, sedangkan kewarganegaraan adalah segala hal ihwal yang berhubungan
dengan warga negara. Secara yuridis, pendidikan kewarganegaraan dimaksudkan untuk
membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah
air.

Setiap negara perlu menyelenggarakan pendidikan kewarganegaraan karenasetiap


generasi adalah orang baru yang harus mendapat pengetahuan,sikap/nilai dan keterampilan
agar mampu mengembangkan warganegara yang memiliki watak atau karakter yang baik dan
cerdas (smartand good citizen) untuk hidup dalam kehidupan bermasyarakat,berbangsa dan
bernegara sesuai dengan demokrasi konstitusional.

4
BAB III

PEMBAHASAN CRITICAL BOOK REPORT

3.1. Intisari Buku

 BUKU PERTAMA

Bab 1 : “Hakikat Pendidikan Kewarganegaraan”

1. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan

Pendidikan kewarganegaraan dibentuk oleh dua kata, yaitu kata “pendidikan” dan kata
“kewarganegaraan”. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Ayat (1) definisi Pendidikan adalah usaha sadar
dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan secara spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Secara konseptual, istilah kewarganegaraan tidak bisa dilepaskan dengan istilah warga
negara. Pendidikan kewarganegaraan merupakan terjemahan dari istilah asing civic education.
Civic merupakan bentuk disiplin ilmu, sedangkan civic education merupakan program
pendidikan yang materi pokoknya adalah politik, demokrasi dan pemerintahan yang ditujukan
kepada peserta didik atau warga negara untuk dipelajarinya.

Civic education merupakan mata pelajaran dasar yang dirancang untuk


mempersiapkan warga negara muda untuk dapat melakukan peran aktif dalam masyarakat
kelak setelah mereka dewasa. Didalam civic education terdapat sub-sub penting yaitu civic
knowledge, civic skills dan civic dispositions. Civic knowledge adalah materi substansi atau
pengetahuan yang berkaitan dengan kandungan atau nilai apa yang seharusnya diketahui oleh
warga negara. Civic skills adalah keterampilan yang dikembangkan dari pengetahuan
kewarganegaraan agar pengetahuan yang diperoleh menjadi sesuatu yang bermakna karena
dapat dimanfaatkan dalam menghadapi masalah-masalah dalam bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara. Civic dispositions atau civic value (nilai kewarganegaraan) merupakan
karakter kewarganegaraan yang dikembangkan dari pengetahuan dan keterampilan
kewarganegaraan.

5
Sehingga, masyarakat dapat dikatakan sebagai warga negara yang baik dan benar
apabila masyarakat tersebut menguasai civic knowledge, civic skills, dan civic disposition
atau civiv value yang dirangkum kedalam civic education.

Jadi, pendidikan kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang membentuk


peserta didik menjadi warga negara yang berkarakter, cerdas, terampil dan bertanggung jawab
sehingga dapat berperan aktif dalam masyarakat, bangsa, dan negara sesuai dengan ketentuan
Pancasila dan UUD 1945.

2. Landasan Ilmiah dan Landasan Hukum Pendidikan Kewarganegaraan

a. Landasan Ilmiah

Pendidikan kewarganegaraan merupakan pembekalan nilai-nilai yang mendasari sikap


dan perilaku warga negaranya. Setiap negara memiliki pendidikan kewarganegaraan, hanya
saja sebutannya berbeda-beda. Istilah pendidikan kewarganegaraan yang ditelurusi oleh Udin
S. Winataputra adalah sebagai berikut:

 Pendidikan Kewarganegaraan (Indonesia)

 Civic Education (USA)

 Citizenship Education (UK)

 Ta’limatul Muwwatanah, Tarbiyatul Watoniyah (Timur Tengah)

 Education Civias (Mexico)

 Sachunterricht (Jerman)

 Pendidikan Sivik (Malaysia), dan lain-lain.

Pendidikan kewarganegaraan merupakan ilmu yang memenuhi syarat-syarat ilmiah,


yaitu mempunyai objek, metode, sistem dan bersifat universal. Objek pembahasan setiap ilmu
harus jelas, baik objek material maupun objek formalnya. Objek material adalah bidang
sasaran yang dibahas dan dikaji oleh suatu bidang atau cabang ilmu. Sedangkan objek formal
adalah sudut pandang tertentu yang dipilih untuk membahas objek material tersebut. objek
material pendidikan kewarganegaraan adalah segala hal yang berkaitan dengan warga negara
baik yang empirik maupun yang nonempirik. Sebagai objek formalnya mencakup dua segi,
yaitu segi hubungan antara wagra negara dan negara dan segi pembelajaan negara.
6
b. Landasan Hukum / Yuridis

1) UUD NKRI 1945

 Pembukaan UUD NKRI 1945, khususnya pada alinea kedua dan keempat yang
memuat cita-cita, tujuan dan aspirasi bangsa Indonesia tentang kemerdekaannya.

 Pasal 30 ayat (1) menyatakan bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut
serta dalam usaha pembelaan negara”

2) UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)

 Pasal 37 ayat (1) menyatakan bahwa “Kurikulum pendidikan dasar dan menengah
wajib memuat pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, dan bahasa”.

 Pasal 37 ayat (2) menyatakan bahwa “Kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat
pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, dan bahasa”.

3) UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi

 Pasal 35 ayat (3) menyatakan bahwa “Kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat
mata kuliah pendidikan agama, Pancasila, kewarganegaraan, dan bahasa”.

3. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan

Menurut Keputusan Ditjen Dikti Depdiknas RI pasal 3 No 267/DIKTI/2000 tentang


Penyempurnaan Garis Besar Proses Pembelajaran Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian
(MPK) pada perguruan tinggi di Indonesia bahwa pendidikan kewarganegaraan dirancang
untuk memberikan pengertian kepada mahasiswa tentang pengetahuan dan kemampuan dasar
berkenaan dengan hubungan antara warga negara dengan negara serta pendidikan
pendahuluan bela negara sebagai bekal agar menjadi warga negara yang dapat diandalkan
oleh bangsa dan negara. Sedangkan, pasal 4 menyebutkan bahwa pendidikan
kewarganegaraan diperguruan tinggi bertujuan untuk :

 Dapat memahami dan mampu melaksanakan hak dan kewajiban secara santun, jujur
dan demokratis serta ikhlas sebagai warga negara terdidik dalam kehidupannya selaku
warga negara Republik Indonesia yang bertanggung jawab.

7
 Menguasai pengetahuan dan pemahaman tentang beragam masalah dasar kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang hendak diatasi dengan penerapan
pemikiran yang berlandaskan pancasila, wawasan nusantara dan ketahanan nasional
secara kritis dan bertanggung jawab.

 Memupuk sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai perjuangan serta
patriotisme yang cinta tanah air, rela berkorban bagi nusa dan bangsa.

Searah dengan perubahan pendidikan ke masa depan dan dinamika internal bangsa
Indonesia, program pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi harus
mampu mencapai tujuan :

a) Mengembangkan sikap dan perilaku kewarganegaraan yang mengapresiasi nilai-nilai


moral-etika dan religius.

b) Menjadi warga negara yang cerdas, berkarakter, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

c) Menumbuhkembangkan jiwa dan semangat nasionalisme, dan rasa cinta pada tanah air.

d) Mengembangkan sikap demokratik berkeadaban dan bertanggung jawab, serta


mengembangkan kemampuan kompetitif bangsa di era globalisasi.

e) Menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan.

8
 BUKU KEDUA

Bab I : “Bagaimana Hakikat Pendidikan Kewarganegaraan dalam Mengembangkan


Kemampuan Utuh Sarjana atau Profesional?”

1. Menelusuri Konsep dan Urgensi Pendidikan Kewarganegaraan dalam Pencerdasan


Kehidupan Bangsa

Menurut UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajardan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensidirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian
diri,kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya,masyarakat, bangsa dan negara.

Secara konseptual, istilah kewarganegaraan tidak bisa dilepaskan denganistilah warga


negara. Selanjutnya ia juga berkaitan dengan istilahpendidikan kewarganegaraan. Dalam
literatur Inggris ketiganya dinyatakandengan istilah citizen, citizenship dan citizenship
education.Selanjutnya secara yuridis, istilah kewarganegaraan dan
pendidikankewarganegaraan di Indonesia adalah segala hal yang berhubungan dengan warga
negara (UU RI No. 12 Tahun 2006 Pasal 1 Ayat (2)). Menurut UU RI No. 20 Tahun 2003,
Pendidikan kewarganegaraan dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia
yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air.

Menurut M. Nu’man Somantri, Pendidikan kewarganegaraan adalah program


pendidikan yang berintikandemokrasi politik yang diperluas dengan sumber-sumber
pengetahuan lainnya,pengaruh-pengaruh positif dari pendidikan sekolah, masyarakat, dan
orang tua,yang kesemuanya itu diproses guna melatih para siswa untuk berpikir kritis,analitis,
bersikap dan bertindak demokratis dalam mempersiapkan hidupdemokratis yang berdasarkan
Pancasila dan UUD 1945.

Tujuan pendidikan kewarganegaraan pada umumnya adalah untuk membentuk warga


negara yang baik (good citizen). Jadi, setiap lapisan masyarakat wajib mempelajari
kewarganegaraan dengan sungguh-sungguh. Hal ini juga disebutkan didalam UU RI No. 20
Tahun 2003 Tentang Sisdiknas Pasal 37 Ayat (1) huruf b yang menyatakan bahwa kurikulum
pendidikan dasar dan menengah waiib memuat pendidikan kewarganegaraan. Demikian pula
pada ayat (2) huruf b dinyatakan bahwakurikulum pendidikan tinggi wajib memuat
pendidikan kewarganegaraan.Bahkan dalam UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan
9
Tinggi lebiheksplisit dan tegas dengan menyatakan nama mata kuliahkewarganegaraan
sebagai mata kuliah wajib.

Dikatakan bahwa mata kuliahkewarganegaraan adalah pendidikan yang mencakup


Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara
KesatuanRepublik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika untuk membentukmahasiswa menjadi
warga negara yang memiliki rasa kebangsaan dancinta tanah air.

Ada sejumlah istilah yang digunakan disejumlah negara yang menunjukan bahwa
setiap negara menyelenggarakan pendidikan kewarganegaraan meskipun dengan istilah yang
beragam. Istilah pendidikan kewarganegaraan itu telah ditelusuri oleh Udin S. Winataputra
dan diperkaya oleh Sapriya sebagai berikut:

 Pendidikan Kewarganegaraan (Indonesia)

 Civics, Civic Education (USA)

 Citizenship Education (UK)

 Ta’limatul Muwwatanah, Tarbiyatul Watoniyah (Timteng)

 Educacion Civicas (Mexico)

 Sachunterricht (Jerman)

 Civics, Social Studies (Australia)

 Social Studies (USA, New Zealand)

 Life Orientation (Afrika Selatan)

 People and Society (Hongaria)

 Civics and Moral Education (Singapore)

 Obscesvovedinie (Rusia)

 Pendidikan Sivik (Malaysia)

 Fuqarolik Jamiyati (Uzbekistan)

 Grajdanskiy Obrazavanie (Russian-Uzbekistan)


10
2. Menggali Sumber Historis, Sosiologis, dan Politik tentang Pendidikan
Kewarganegaraan di Indonesia

Secara historis,pendidikan kewarganegaraan dalam arti substansi telah dimulai


jauhsebelum Indonesia diproklamasikan sebagai negara merdeka. Dalamsejarah kebangsaan
Indonesia, berdirinya organisasi Boedi Oetomo tahun1908 disepakati sebagai Hari
Kebangkitan Nasional karena pada saat itulahdalam diri bangsa Indonesia mulai tumbuh
kesadaran sebagai bangsawalaupun belum menamakan Indonesia. Setelah berdiri Boedi
Oetomo,berdiri pula organisasi-organisasi pergerakan kebangsaan lain sepertiSyarikat Islam,
Muhammadiyah, Indische Party, PSII, PKI, NU, dan organisasilainnya yang tujuan akhirnya
ingin melepaskan diri dari penjajahan Belanda.

Pada tahun 1928, para pemuda yang berasal dari wilayah Nusantaraberikrar
menyatakan diri sebagai bangsa Indonesia, bertanah air, danberbahasa persatuan bahasa
Indonesia.Pada tahun 1930-an, organisasi kebangsaan baik yang berjuang secaraterang-
terangan maupun diam-diam, baik di dalam negeri maupun di luarnegeri tumbuh bagaikan
jamur di musim hujan. Secara umum, organisasiorganisasitersebut bergerak dan bertujuan
membangun rasa kebangsaandan mencita-citakan Indonesia merdeka. Indonesia sebagai
negaramerdeka yang dicita-citakan adalah negara yang mandiri yang lepas daripenjajahan dan
ketergantungan terhadap kekuatan asing. Inilah cita-citayang dapat dikaji dari karya para
Pendiri Negara-Bangsa (Soekarno danHatta).

Akhirnya Indonesia merdeka setelah melalui perjuangan panjang,pengorbanan jiwa


dan raga, pada tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno danHatta, atas nama bangsa Indonesia
menyatakan kemerdekaan Indonesia.Setelah Indonesia menyatakan kemerdekaan, melepaskan
diri daripenjajahan, bangsa Indonesia masih harus berjuang mempertahankankemerdekaan
karena ternyata penjajah belum mengakui kemerdekaan danbelum ikhlas melepaskan
Indonesia sebagai wilayah jajahannya. Olehkarena itu, periode pasca kemerdekaan Indonesia,
tahun1945 sampai saatini, bangsa Indonesia telah berusaha mengisi perjuangan
mempertahankankemerdekaan melalui berbagai cara, baik perjuangan fisik
maupundiplomatis. Perjuangan mencapai kemerdekaan dari penjajah telah selesai,namun
tantangan untuk menjaga dan mempertahankan kemerdekaanyang hakiki belumlah selesai.

Proses perjuangan untuk menjagaeksistensi negara-bangsa, mencapai tujuan nasional


sesuai cita-cita parapendiri negara-bangsa (the founding fathers), belumlah selesai
bahkanmasih panjang. Oleh karena itu, diperlukan adanya proses pendidikan danpembelajaran
11
bagi warga negara yang dapat memelihara semangatperjuangan kemerdekaan, rasa
kebangsaan, dan cinta tanah air.PKn pada saat permulaan atau awal kemerdekaan lebih
banyak dilakukanpada tataran sosial kultural dan dilakukan oleh para pemimpin
negarabangsa.Dalam pidato-pidatonya, para pemimpin mengajak seluruh rakyatuntuk
mencintai tanah air dan bangsa Indonesia. Seluruh pemimpin bangsamembakar semangat
rakyat untuk mengusir penjajah yang hendak kembalimenguasai dan menduduki Indonesia
yang telah dinyatakan merdeka.Pidato-pidato dan ceramah-ceramah yang dilakukan oleh para
pejuang,serta kyai-kyai di pondok pesantren yang mengajak umat berjuangmempertahankan
tanah air merupakan PKn dalam dimensi sosial kultural.Inilah sumber PKn dari aspek
sosiologis. PKn dalam dimensi sosiologissangat diperlukan oleh masyarakat dan akhirnya
negara-bangsa untukmenjaga, memelihara, dan mempertahankan eksistensi negara-bangsa.

Upaya pendidikan kewarganegaraan pasca kemerdekaan tahun 1945belum


dilaksanakan di sekolah-sekolah hingga terbitnya buku Civicspertama di Indonesia yang
berjudul Manusia dan Masjarakat Baru Indonesia(Civics) yang disusun bersama oleh Mr.
Soepardo, Mr. M. Hoetaoeroek,Soeroyo Warsid, Soemardjo, Chalid Rasjidi, Soekarno, dan
Mr. J.C.T.Simorangkir.

Pada cetakan kedua, Menteri Pendidikan, Pengadjaran danKebudajaan, Prijono (1960),


dalam sambutannya menyatakan bahwasetelah keluarnya dekrit Presiden kembali kepada
UUD 1945 sudahsewajarnya dilakukan pembaharuan pendidikan nasional. Tim Penulis
diberitugas membuat buku pedoman mengenai kewajiban-kewajiban dan hak-hakwarga
negara Indonesia dan sebab-sebab sejarah serta tujuan RevolusiKemerdekaan Republik
Indonesia. Menurut Prijono, buku Manusia danMasjarakat Baru Indonesia identik dengan
istilah “Staatsburgerkunde”(Jerman), “Civics” (Inggris), atau “Kewarganegaraan”
(Indonesia).

Secara politis, pendidikan kewarganegaraan mulai dikenal dalampendidikan sekolah


dapat digali dari dokumen kurikulum sejak tahun 1957sebagaimana dapat diidentifikasi dari
pernyataan Somantri (1972) bahwapada masa Orde Lama mulai dikenal istilah: (1)
Kewarganegaraan (1957);(2) Civics (1962); dan (3) Pendidikan Kewargaan Negara (1968).
Pada masaawal Orde Lama sekitar tahun 1957, isi mata pelajaran PKn membahascara
pemerolehan dan kehilangan kewarganegaraan, sedangkan dalamCivics (1961) lebih banyak
membahas tentang sejarah KebangkitanNasional, UUD, pidato-pidato politik kenegaraan
yang terutama diarahkanuntuk "nation and character building” bangsa Indonesia.

12
Pada awal pemerintahan Orde Baru, Kurikulumsekolah yang berlaku dinamakan
Kurikulum 1968. Dalam kurikulumtersebut di dalamnya tercantum mata pelajaran Pendidikan
KewargaanNegara. Dalam mata pelajaran tersebut materi maupun metode yangbersifat
indoktrinatif dihilangkan dan diubah dengan materi dan metodepembelajaran baru yang
dikelompokkan menjadi Kelompok PembinaanJiwa Pancasila.

Dalam Kurikulum 1968untuk jenjang SMA, mata pelajaran Pendidikan Kewargaan


Negaratermasuk dalam kelompok pembina Jiwa Pancasila bersama PendidikanAgama, bahasa
Indonesia dan Pendidikan Olah Raga. Mata pelajaranKewargaan Negara di SMA berintikan:
(1) Pancasila dan UUD 1945; (2)Ketetapan-ketetapan MPRS 1966 dan selanjutnya; dan (3)
Pengetahuanumum tentang PBB.

Dalam Kurikulum 1968, mata pelajaran PKn merupakan mata pelajaranwajib untuk
SMA. Pendekatan pembelajaran yang digunakan adalahpendekatan korelasi, artinya mata
pelajaran PKn dikorelasikan denganmata pelajaran lain, seperti Sejarah Indonesia, Ilmu Bumi
Indonesia, HakAsasi Manusia, dan Ekonomi, sehingga mata pelajaran PendidikanKewargaan
Negara menjadi lebih hidup, menantang, dan bermakna.Kurikulum Sekolah tahun l968
akhirnya mengalami perubahan menjadiKurikulum Sekolah Tahun 1975. Nama mata
pelajaran pun berubahmenjadi Pendidikan Moral Pancasila dengan kajian materi secara
khususyakni menyangkut Pancasila dan UUD 1945 yang dipisahkan dari matapelajaran
sejarah, ilmu bumi, dan ekonomi.

Hal-hal yang menyangkutPancasila dan UUD 1945 berdiri sendiri dengan nama
Pendidikan MoralPancasila (PMP), sedangkan gabungan mata pelajaran Sejarah, Ilmu
Bumidan Ekonomi menjadi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (lPS).Pada masa
pemerintahan Orde Baru, mata pelajaran PMP ditujukan untukmembentuk manusia
Pancasilais. Tujuan ini bukan hanya tanggung jawabmata pelajaran PMP semata. Sesuai
dengan Ketetapan MPR, Pemerintahtelah menyatakan bahwa P4 bertujuan membentuk
Manusia IndonesiaPancasilais. Pada saat itu, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan(Depdikbud) telah mengeluarkan Penjelasan Ringkas tentang PendidikanMoral
Pancasila

Pasca Orde Baru sampai saat ini, nama mata pelajaran pendidikankewarganegaraan
kembali mengalami perubahan. Perubahan tersebutdapat diidentifikasi dari dokumen mata
pelajaran PKn (2006) menjadi matapelajaran PPKn (2013).

13
3. Membangun Argumen tentang Dinamika dan Tantangan Pendidikan
Kewarganegaraan

OntologiPKn adalah sikap dan perilaku warga negara dalam kehidupanbermasyarakat,


berbangsa, dan bernegara. Status warga negara dapatmeliputi penduduk yang berkedudukan
sebagai pejabat negara sampaidengan rakyat biasa. Tentu peran dan fungsi warga negara
berbeda-beda,sehingga sikap dan perilaku mereka sangat dinamis. Oleh karena itu, matakuliah
PKn harus selalu menyesuaikan/sejalan dengan dinamika dantantangan sikap serta perilaku
warga negara dalam kehidupanbermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pendidikan Kewarganegaraan yang berlakudi suatu negara perlu memperhatikan


kondisi masyarakat. Walaupuntuntutan dan kebutuhan masyarakat telah diakomodasi melalui
peraturanperundangan, namun perkembangan masyarakat akan bergerak danberubah lebih
cepat.

Era globalisasi yang ditandai oleh perkembanganyang begitu cepat dalam bidang
teknologi informasi mengakibatkanperubahan dalam semua tatanan kehidupan termasuk
perilaku warganegara, utamanya peserta didik. Kecenderungan perilaku warga negara adadua,
yakni perilaku positif dan negatif. PKn perlu mendorong warga negaraagar mampu
memanfaatkan pengaruh positif perkembangan iptek untukmembangun negara-bangsa.
Sebaliknya PKn perlu melakukan intervensiterhadap perilaku negatif warga negara yang
cenderung negatif. Olehkarena itu, kurikulum PKn termasuk materi, metode, dan
sistemevaluasinya harus selalu disesuaikan dengan perkembangan IPTEK.

3.2. Analisis Isi Buku

 Buku Pertama :

1. Kelebihan Buku :

Berdasarkan hasil pengamatan, buku ini memuat materi mengenai hakikat pendidikan
kewarganegaraan dengan sangat jelas. Dimulai dari pendahuluan materi pendidikan
kewarganegaraan, pengertian pendidikan kewarganegaraan, landasan ilmiah dan landasan
hukum pendidikan kewarganegaraan serta tujuan pendidikan kewarganegaraan. Penulis juga
memberikan soal latihan pada bagian akhir dari setiap bab dari buku tersebut. Sehingga buku
ini sangat cocok untuk dijadikan sebagai bahan ajar perkuliahan. Jika ditinjau dari segi
pemakaian bahasa, penulis menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan ejaannya sesuai

14
dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Hal ini dapat memudahkan mahasiswa untuk
memahami materi yang dipaparkan didalam buku. Jika ditinjau dari segi tata letak, tata letak
penyusunan materi dalam buku ini telah sistematis dan teratur dan juga dilengkapi dengan
gambar-gambar yang mendukung pembahasan materi. Didalam buku ini juga memuat kata
pengantar, daftar isi, daftar gambar, kontrak perkuliahan dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 yang telah mengalami amandemen. Tampilan luar (cover)
buku ini juga sangat menarik dengan memadukan bendera merah putih dengan gambar
burung garuda serta peta Indonesia yang melambangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI).

2. Kelemahan Buku :

Berdasarkan hasil pengamatan, kelemahan buku ini hanya terletak pada segi tampilan,
karena dibuku ini tidak memuat peta konsep pada setiap babnya. Sehingga mahasiswa harus
melihat daftar isi terlebih dahulu untuk mengetahui subbab dari bab yang dipelajari. Dan jika
pada gambar yang disediakan diberikan variasi warna, kemungkinan daya tarik untuk
membaca buku ini juga akan bertambah lagi. Identitas buku ini juga tidak lengkap karena
ISBN pada buku ini tidak tersedia.

 Buku Kedua :

1. Kelebihan Buku :

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, buku ini memuat materi yang cukup
lengkap, dimulai dari penelusuran konsep dan urgensi pendidikan kewarganegaraan dalam
pencerdasan kehidupan bangsa, menggali sumber historis, sosiologis dan politik tentang
pendidikan kewarganegaraan di Indonesia, dan argumen tentang dinamika dan serta tantangan
pendidikan kewarganegaraan. Penulis juga memberikan kesimpulan dan tugas diakhir materi
setiap bab pada buku ini. Jika ditinjau dari segi bahasa, buku ini memuat bahasa yang cukup
mudah dipahami dan penulisan setiap kalimat pada buku ini juga sesuai dengan EYD (Ejaan
Yang Disempurnakan). Jika ditinjau dari segi tata letak, penyusunan materi buku ini telah
sistematis dan teratur. Buku ini juga memuat kata pengantar, daftar isi serta daftar pustaka.
Tampilan luar (cover) buku ini juga menarik dengan menampilkan gambar-gambar yang
bervariasi seperti gambar bendera merah putih sampai gambar penari dari bali. Buku ini juga
memuat gambar dengan warna yang menarik sehingga menambah daya tarik mahasiswa
untuk membaca buku ini serta identitas pada buku ini juga telah lengkap.

15
2. Kelemahan Buku :

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, buku ini memiliki beberapa kelemahan


seperti pada tata bahasanya. Tata bahasa pada buku ini memuat banyak kalimat yang
mengandung banyak pertanyaan sehingga materi yang dipaparkan tidak cukup lengkap. Buku
ini juga tidak memuat peta konsep, sehingga mahasiswa harus membuka bagian daftar isi
terlebih dahulu untuk mengetahui subbab dari materi yang ingin dipahami. Pemakaian
paragraf pada buku ini juga tidak tepat, karena setiap paragraf pada buku ini tidak menjorok
kedalam sehingga terlihat rata jika dilihat dari atas sampai ke bawah.

16
BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Buku pendidikan kewarganegaraan yang ditulis oleh Apiek Gandamana, S.Pd., M.Pd.,
dkk dan buku pendidikan kewarganegaraan yang ditulis oleh Paristiyanti Nurwardani, dkk
merupakan buku yang bagus yang dapat dijadikan sebagai buku pegangan bagi mahasiswa
serta dijadikan sebagai bahan referensi dalam pembuatan makalah pendidikan
kewarganegaraan. Hanya saja masing-masing buku tersebut memiliki kelebihan dan
kekurangannya tersendiri. Misalnya saja pada buku pertama, identitas buku ini tidak lengkap
jika dibandingkan dengan identitas buku kedua karena ISBN pada buku pertama tidak tersedia
sedangkan pada buku kedua terdapat ISBN. Pada buku pertama, pemaparan materinya telah
lengkap jika dibandingkan dengan buku kedua.Karena pada buku pertama, materinya dikupas
secara jelas. Sedangkan pada buku kedua, hanya terdapat banyak kalimat pertanyaan daripada
kalimat penjelasan materinya. Meskipun begitu, kedua buku ini merupakan buku yang bagus
dan menarik untuk dijadikan sebagai buku pegangan bagi mahasiswa.

4.2. Saran

Adapun saran yang dapat disampaikan adalah sebagai mahasiswa yang ingin
mempelajari mata kuliah pendidikan kewarganegaraan hendaklah mempelajarinya dengan
sungguh-sungguh, dan juga harus dapat memanfaatkan buku yang dimiliki oleh setiap
mahasiswa dengan sebaik mungkin sehingga materi yang ada dapat dipahami dan dapat
diterapkan ke kehidupan kita sehari-hari agar terciptanya kedamaian dan ketentraman dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

17
DAFTAR PUSTAKA

Gandamana, Apiek, dkk. (2017). Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi.

Medan : Universitas Negeri Medan Press.

Nurwardani, Paristiyanti, dkk. (2016). Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan

Tinggi. Jakarta : KEMENRISTEKDIKTI.

18

Anda mungkin juga menyukai