Anda di halaman 1dari 47

TRANSPORTASI

PEMBANGUNAN KOTA TINJAUAN REGIONAL DAN LOKAL


(IR. BUDI D. SINULINGGA, MSI.)

Presentasi Oleh:
1Amsor Chairuddin
2Hardiyanto Purnomo
3Muhammad Irfan
4Putri Agustina Hidayat
5Subandi

Jurusan Manajemen Rekayasa Infrastruktur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Gunadarma
Jl. Margonda Raya No. 100, Depok 16424, Jawa Barat
TRANSPORTASI

Transportasi merupakan salah satu sektor kegiatan yang sangat penting di kota, karena berkaitan dengan kebutuhan
setiap orang yang ada di kota bagi setiap lapisan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kenyamanan dan kelancaran transportasi sebagai berikut:


 TEKNIK PERLALULINTASAN
 JARINGAN JALAN
 JARINGAN KERETA API
 PERPARKIRAN
 SARANA TRANSPORTASI UMUM
 TERMINAL
1. Karakteristik volume lalu lintas
2. Kapasitas jalan
A. 3. Asal dan tujuan (origin and destination)
TEKNIK 4. Pembangkit lalu lintas (traffic generator)
PERLALULINTASAN 5. Satuan mobil penumpang (SMP)
1. KARAKTERISTIK VOLUME LALU LINTAS

Lalu Lintas Harian (LHR) Jam Pengukuran

Pagi Jam 6.00 – 9.00


Sore Jam 17.00 – 19.00
1. KARAKTERISTIK VOLUME LALU LINTAS

Ilustrasi LHR Harian Ilustrasi LHR Bulanan


900 1000
800 900
Volume LHR (Kend/ Jam)

Volume LHR (Kend/ Jam)


700
800
600
500 700
400 600
300
500
200
100 400

0 300
6-7 7-8 8-9 9 - 10 10 - 11 11 - 12 12 - 13 13 - 14 14 - 15 15 - 16 16 - 17 17 - 18 -3 4 11 18 25
Jam Tanggal
1. KARAKTERISTIK VOLUME LALU LINTAS

Ilustrasi LHR Tahunan


1200

1000

Volume LHR (Kend/ Jam)


800

600

400

200

0
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
2. KAPASITAS JALAN
Tabel Kapasitas Jalan

Kecepatan 2 Lajur, Kedua lajur 4 Lajur


Km/ Jam SMP per jam tiap lajur SMP per jam
80 - 90 600 50
70 - 80 900 1.000
60 - 70 1.500 1.500
Kapasitas yang
2.000 2.000
mungkin

Tabel Kapasitas Jalan dan Lebar Jalan

Lebar Lajur (m) 3,5 3,2 3 2,75


Kapasitas(%) 100 88 81 76
2. KAPASITAS JALAN

 Faktor yang mempengaruhi


kapasitas persimpangan jalan:
1. Adanya kendaraan truk dalam
arus lalu lintas.
2. Jumlah kendaraan yang
berbelok ke kiri dan ke kanan.
3. Diperbolehkan berhenti.
4. Diperbolehkan parkir.
3. ASAL DAN TUJUAN
LALU LINTAS (ORIGIN
AND DESTINATION)

 Program dalam bidang


transportasi:
1. Pembukaan ruas jalan baru.
2. Pelebaran jalan.
3. Peningkatan kualitas jalan.
4. Penyediaan angkutan public.
4. PEMBANGKIT LALU LINTAS (TRAFFIC GENERATOR)
 Industri
 Bisnis/Perdagangan
 Perumahan/Pemukiman
5. SATUAN MOBIL PENUMPANG

Jenis Kendaraan Jalan Luar Kota Jalan Dalam Kota


Mobil Pribadi, Taksi 1,0 1,0
Truk Besar 3,0 2,0
Bus Besar 3,0 3,0
1. Bagian-Bagian Jalan
2. Jalan Bebas Hambatan
3. Jalan Arteri
B. 4. Sistem Jaringan Jalan Kolektor
JARINGAN JALAN 5. Sistem Jaringan Jalan Lokal
6. Pembinaan Jalan
7. Pembangunan Jaringan Jalan
B. JARINGAN JALAN
1. BAGIAN BAGIAN JALAN

PP No. 26 Tahun 1985


1. Daerah Manfaat Jalan
2. Daerah Milik Jalan
3. Daerah Pengawasan Jalan
2. JALAN BEBAS
HAMBATAN

 Jalan bebas hambatan (express


way) berfungsi untuk menampung
pergerakan lalu lintas yang sangat
besar dari suatu wilayah ke
wilayah lain dan melewati kota
untuk mengurangi kemacetan lalu
lintas (Woods, 1960 hal. 4-31).
 Ciri utama dari jalan bebas
hambatan adalah tidak dapat
dipotong langsung oleh jalan lain
3. JALAN ARTERI

 Jalan yang melayani angkutan utama dengan ciri-ciri perjalanan agak jauh, kecepatan rata-rata agak tinggi dan jumlah
jalan masuk dibatasi secara efesien (UU No. 13/1980 Pasal 4)
 Berfungsi menguhubungkan pusat-pusat pembangkit lalu lintas di kota.
 Terbagi kedalam fungsi primer dan fungsi sekunder (PP No. 26 Tahun 1985)
3. JALAN ARTERI

Arteri Primer Arteri Sekunder


(a) Kecepatan rencana minimal 60 Km/jam lebar badan (a) Kecepatan rencana minimal 30 Km/jam lebar badan
jalan >= 8m jalan >= 8m
(b) Kapasitas > volume lalu lintas rata-rata (b) Kapasitas > atau = volume lalu lintas rata-rata
(c) Pada jalan arteri primer lalu lintas jarak jauh tidak (c) Pada jalan arteri sekunder lalu lintas cepat tidak boleh
boleh terganggu oleh lalu lintas ulang alik, lalu lintas lokal, terganggu oleh lalu lintas lambat
dan kegiatan lokal
(d) Persimpangan dengan pengaturan tertentu harus (d) Persimpangan dengan pengaturan tertentu harus
memenuhi point (a) dan (b). memenuhi point (a) dan (b)
(e) Tidak terputus walaupun memasuki kota
PENAMPANG JALAN ARTERI
4. SISTEM JARINGAN JALAN KOLEKTOR

 Jalan yang melayani angkutan pengumpulan/pembagian dengan ciri-ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata
sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi. (UU No. 13 Tahun 1980)
 Menghubungkan kota orde ke dua dengan kota orde kedua
4. SISTEM JARINGAN JALAN KOLEKTOR

Kolektor Primer Kolektor Sekunder


(a) Kecepatan rencana minimal 40 Km/jam lebar badan (a) Kecepatan rencana minimal 20 Km/jam lebar badan
jalan >= 7m jalan >= 7m
(b) Kapasitas > volume lalu lintas rata-rata
(c) Persimpangan dengan pengaturan tertentu harus
memenuhi point (a) dan (b)
(d) Tidak terputus walaupun memasuki kota
PENAMPANG JALAN KOLEKTOR
5. SISTEM JARINGAN JALAN LOKAL

 Lokal primer adalah jalan-jalan yang menghubungkan pusat kota dari orde 1, orde 2, dengan pensil-pensil pada
kawasan yang berfungsi regional.
 Kecepatan rencana paling rendah 20 km/jam
 Lebar badan jalan minimal 6m

 Lokal sekunder adalah jalan-jalan yang menghubungkan pusat kota dengan perumahan
 Kecepatan rencana paling rendah 10 km/jam
 Lebar badan jalan minimal 5m
6. PEMBINAAN JALAN

Tanggung jawab pembinaan jalan dikaitkan dengan system pemerintahan Republik Indonesia yang juga menyangkut
keberadaan pemerintah daerah tingkai I dan daerah tingkat II diuraikan dalam PP No. 26 Tahun 1995 tentang jalan
sebagai berikut:
 Jalan Nasional, merupakan tanggung jawab pemerintah pusat
Meliputi: jalan arteri primer, jalan kolektor primer yang menghubungkan antara ibukota provinsi, jalan strategis
nasional.
 Jalan Provinsi, merupakan tanggung jawab pemerintah daerah tingkat 1
Meliputi: jalan kolektor primer yang menghubungkan antara ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kotamadya,
jalan kolektor primer yang menghubungkan antara ibukota kabupaten/kotamadya
 Jalan Kabupaten/Kotamadya, merupakan tanggung jawab pemerintah daerah tingkat II
Meliputi: jalan kolektor primer, jalan lokal primer, jalan sekunder yang berfungsi sebagai arteri, kolektor dan lokal
PEMBANGUNAN JARINGAN JALAN

 RPJMD dan RPJPD


 Evaluasi pelaksanaan rencana tata ruang kota
 Perhitungan lalu lintas (traffic count)
 Survai asal tujua untuk mengetahui garis keinginan (desire line) lalu lintas untuk menyusun program pelebaran dan
pembukaan jaringan jalan baru
C.
JARINGAN JALAN
KERETA API
PERKEMBANGAN KERETA API

Kereta Api Uap Kereta Api Batu Bara Kereta Api Diesel Listrik Kereta Api Cepat Cina

Kereta Magnet Kereta Hyperloop


Kereta Api Butuh Jalan harus ditutup saat Mengganggu Lalu
Bebas Hambatan
Rel kereta lewat Lintas

Elevated Rail dan


Kereta Bawah Tanah

Stasiun Kereta Api harus berdekatan dengan Terminal, agar


perpindahan moda angkutan dapat dilaksanakan dengan mudah
Lalu lintas lancar, Namun
biaya konstruksi mahal
D.
PERPARKIRAN
Pengaruh Parkir terhadap Kapasitas Jalan

Berdasarkan penelitian di Inggris diketahui


bahwa parkir dibadan jalan berpengaruh
Masalah parkir ini sangat berhubungan dengan pola
terhadap daya tampung ruas jalan yang
pergerakan arus lalu lintas kota dan apabila
bersangkutan. Hanya dengan 3 kendaraan
pengoperasian parkir tidak efektif akanmengakibatkan
diparkir sepanjang 1 km ruas jalan, maka secara
kemacetan lalu lintas. Oleh karena itu, fasilitas parkir harus
teori lebar ruas jalan tersebut berkurang 0.9 m.
cukup memadai sehingga semua pengoperasian arus lalu
Bila 120 kendaraan yang parkir, maka praktis
lintas dapat berjalan dengan lancar(Direktorat Jendral
lebar jalan berkurang 36 m dan daya tampung
Perhubungan Darat 1996).
jalan yang hilang adalah 675 smp/jam.
KEBUTUHAN PARKIR
BERDASARKAN FUNGSI/KEGIATAN
Prinsip Studi Perparkiran:
 1. Ketersediaan fasilitas Parkir
 2. Sifat-sifat dari Penggunaan Parkir
 3. Kebutuhan Parkir

Sifat perparkiran berbeda tiap kota. Berikut


merupakan contoh distribusinya pada tiap jam:
PARKIR DI JALAN
(ON-STREET PARKING)
PARKIR DI LUAR PARKIR (OFF-STREET PARKING)

Areal Parkir
Gedung Parkir
Gedung Parkir Mekanik
5.
SARANA
TRANSPORTASI
UMUM
Pengumpulan \ pengangkutan \ distribusi

Subandi
a. Perjalanan
Ulang Alik
➢ Perjalanan rutinitas
➢ Waktu dan lintasan yang
tetap
➢ Contoh: Karyawan, Pelajar,
Pedagang tetap
➢ Favorit Kereta
b. Perjalanan
Insindentil
➢ Perjalanan tertentu /
darurat
➢ Ketepatan waktu sampai
sangant diharapkan
➢ Contoh: Belanja Kebutuhan
RT, Berobat ke Dokter
➢ Menggunakan Mobil pribadi
pada umum nya
c. Perjalanan
Santai
➢ Perjalanan tertentu yang
santai dan mencari suasana
baru
➢ Waktu tiba tidak utama
➢ Contoh: Arisan, Pergi ke
Coffee Shop
d. Perjalanan
Liburan
➢ Perjalanan Keluarga atau
teman, dalam atau luar kota
➢ Kepadatan lalulintas akan
terjadi di jalan utama lintas
kota
➢ Contoh: Mudik.
e. Perjalanan
Wisata
➢ Perjalanan Keluarga atau
teman, dalam atau luar kota
➢ Kepadatan lalulintas akan
terjadi di jalan menuju
tempat wisata
➢ Contoh: Wisatawan
Moda Angkutan
Umum
a. Moda Darat
b. Moda Laut
c. Moda Udara
1. Fungsi Terminal

F. 2. Lokasi Terminal

TERMINAL 3. Terminal Angkutan Kota


4. Terminal Terpadu
FUNGSI TERMINAL
2. Menyediakan saranan untuk simpul lalu lintas, artinya
1. Menyediakan tempat dan kemudahan suatu tempat untuk berganti lintasan lalu lintas
walaupun masih dalam moda yang sama.
perpindahan moda angkutan

3. menyediakan tempat
untuk menyiapkan
kendaraan
LOKASI TERMINAL
Kawasan
Pusat Kota Pusat Pekerjaan
Pemukiman
• Penumpang di kumpulkan lalu di • Apabila ingin berganti dari suatu • Terminal distribusi ke masing
pindahkan ke jalur pengangkutan rute ke rute yang lain. Atau masing tujuan
untuk ketempat tujuan distribusi penumpang yang akan • Terminal pengumpul pada saat
ke pusat kota. penumpang akan pulang kembali
ke rumahnya.

Batas Kota menuju


Penggabungan
Luar kota
• Terminal terpadu yaitu • Terminal moda angkutan udara laut
perpindahan dari angkutan antar dan kereta api biasanya
kota ke dalam kota atau sebaliknya digabungkan dengan terminal
angkutan darat
TERMINAL ANGKUTAN KOTA

Terminal pengumpul dan


distribusi dapat berbentuk halte
atau terminal kecil terutama pada
kawasan pemikiman yang fungsinya
hanya memindahkan penumpang dari
kegiatann pengumpulan ke
pengangkutan (jarak jauh)
Terminal angkutan yang agak besar
yaitu terminal di pusat kota karena
umumnya seluruh lintasan ke seluruh
lintasan akan singgah pada terminal ini
TERMINAL TERPADU
Terminal terpadu
merupakan pergantian
angkutan dalam kota
menjadi angkutan luar kota
atau sebaliknya.

Fungsi Terminal terpadu


1. Tempat menyimpan kendaraan luar kota karena umunya kendaraan tidak bisa masuk ke
dalam kota
2. Tempat kantor perusahaan angkutan memasarkan layanan angkutannya dan menjual
tiket
3. Tempat penginapan kru angkutan luar kota, oleh karena itu di dekat terminal dibangun
rumah penginapan
DAFTAR PUSTAKA

 Sinulingga, Budi D.Ir.Msi, 1999, “Pembangunan Kota Tinjauan Regional dan Lokal”. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
 Adisasmita Rahardjo, 2008, “Pengembangan Wilayah: Konsep dan Teori”. Yogyakarta: Graha Ilmu.
 Akses Internet Wikibooks.Org
https://id.wikibooks.org/wiki/Moda_Transportasi/Ragam_moda_transportasi
 Akses Internet Google Foto