Anda di halaman 1dari 20

Makalah manajemen pendidikan

Tentang

“Manajemen Hubungan Lembaga Pendidikan


Dengan Masyarakat”
Dosen Pengampu :

EKO SUSANTO, S.E.,M.M

DISUSUN:

SEKOLAH TINGGI EKONOMI DAN BISNIS (STEBIS)


DARUSSALAM
Tahun Akademik 2019
JL. Lintas Timur Desa Tugu Mulyo Kecamatan Lempuing
Kabupaten Ogan Komering Ilir Provinsi Sum-Sel
30657
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum. Wr. Wb.

Alhamdulillah puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas segala limpahan
Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang
berjudul “Manajemen Hubungan Lembaga Pendidikan dengan Masyarakat”.
Shalawat dan salam semoga dilimpahkan atas junjungan kita Nabi besar
Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan sekalian umatnya yang bertaqwa.
Ucapan terima kasih pula kami tujukan kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam proses penyusunan makalah ini, baik bantuan materil
maupun nonmateril.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan guna
penyempurnaan penyusunan makalah selanjutnya. Akhirnya penulis berharap
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, amin.
.

Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.

Lempuing, Oktober 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................... i


KATA PENGANTAR ............................................................................................. ii
DAFTAR ISI............................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Hubungan Lembaga Pendidikan Dengan Masyarakat ..... 3
B. Konsep Dasar Hubungan Lembaga Pendidikan
Dengan Masyarakat ......................................................................... 4
C. Jenis-Jenis Kegiatan Hubungan Lembaga Pendidikan
Dengan Masyarakat ......................................................................... 7
D. Bentuk-Bentuk Kerjasama Lembaga Pendidikan
Dengan Masyarakat ......................................................................... 12
E. Peningkatan Dan Pendayagunaan Partisipasi Masyarakat ............... 14

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ..................................................................................... 16
B. Saran ................................................................................................ 16

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 17

iii
BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Lembaga Pendidikan berada ditengah-tengah masyarakat dan dapat


dikatakan sebagai pisau bermata dua. Mata yang pertama adalah menjaga
kelestarian nilai-nilai positif yang ada dalam masyarakat, agar pewarisan
nilai-nilai masyarakat berlangsung dengan baik. Mata kedua adalah sebagai
lembaga yang dapat mendorong perubahan nilai dan tradisi sesuai dengan
kemajuan dan tuntutan kehidupan serta pembangunan. Kedua fungsi ini
seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya dilakukan dalam
waktu yang bersamaan. Oleh karena itu fungsi yang controversial ini,
diperlukan saling pemahaman antara sekolah dan masyrakat.
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pendidikan dan masyarakat adalah
faktor pendidikan yang saling mempengaruhi karena keduanya memiliki
timbale balik yang tidak dapat dipisahkan. Seorang anak didik setelah
mendapat pendidikan dari keluarganya akan segera berlanjut untuk mencari
ilmu di sekolah. Dalam lingkungan yang baru tersebut peserta didik diberi
berbagai macam ilmu pengetahuan yang berguna bagi dirinya sendiri
ataupun orang lain.
Setelah itu ia akan beranjak ke lingkungan berikutnya yaitu
masyarakat, di sinilah ia akan mengaplikasikan segala ilmu yang telah
didapatnya ketika melakukan pendidikan di sekolah.Terkadang seorang
anak didik tidak dapat di terima di dalam masyarakat karena pendidikan
yang diterima di sekolah tidak sesuai dengan yang dibutuhkan di
masyarakat, sehingga peserta didik tersebut hanya bisa menjadi penonton
tanpa terlibat secara langsung di dalam masyarakat.
Pada dasarnya lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang ada
dan terjadi di sekeliling proses pendidikan itu berlangsung yang terdiri dari
manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda mati. Keempat
kelompok benda-benda lingkungan pendidikan itu ikut berperan dalam
rangka usaha setiap siswa atau mahasiswa mengembangkan dirinya. Tetapi

1
manajemen pendidikan menaruh perhatiannya terutama kepada lingkungan
yang berwujud manusia yaitu masyarakat.
Manusia merupakan bagian dari lingkungan masyarakat, seperti
manusia, pendidikan pun dapat dikatakan sebagai bagian dari masyarakat
karena pendidikan dapat memajukan cara pandang dan cara berperilaku
masyarakat. Lembaga pendidikan tempat pendidikan didapat pun sama
pentingnya.Maka dari itu diperlukan kerjasama antara lembaga pendidikan
dengan masyarakat demi terciptanya masyarakat yang lebih maju.
Di sini perlu kita lihat sejauh mana pengaruh sekolah sebagai ladang
pendidikan (formal) dalam mencetak generasi yang siap terjun ke tengah-
tengah masyarakat, karena tidak jarang antara lembaga pendidikan dan
masyarakat tidak saling berinteraksi. Sebagian masyarkat menganggap
bahwa pendidikan itu mahal dan hanya menghabis-habiskan uang. Tetapi
pada kenyataannya tidak dapat dipungkiri bahwa seluruh bagian dari
masyarakat membutuhkan pendidikan. Maka dari itu perlu dibinanya
komunikasi antara masyarakat dan lembaga pendidikan tersebut dengan
mengetahui jenis, bentuk dan hubungan lembaga pendidikan dengan
masyarakat, dan cara peningkatkan dan pemberdayaan partisipasi
masyarakat terhadap pendidikan dan lembaga pendidikan itu sendiri, dan
semua itu perlu kita bahas dalam makalah ini.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa Yang Dimaksud Dengan Hubungan Lembaga Pendidikan
Dengan Masyarakat?
2. Apa Konsep dasar hubungan Lembaga Pendidikan dengan
Masyarakat?
3. Sebutkan Jenis-Jenis Kegiatan Hubungan Lembaga Pendidikan
Dengan Masyarakat?
4. Bagaimana Bentuk-Bentuk Kerjasama Lembaga Pendidikan Dengan
Masyarakat?
5. Peningkatan dan Pendayagunaan Partisipasi Masyarakat?

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. DEFINISI HUBUNGAN LEMBAGA PENDIDIKAN DENGAN


MASYARAKAT

Secara sederhana “hubungan” atau “communication” dapat diartikan


sebagai “process by wich a person transmits a message to another” yang
berarti proses penyampaian berita dari seseorang kepada orang lain.1
Hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan jalinan interaksi yang
diupayakan oleh sekolah agar dapat diterima di tengah-tengah masyarakat
untuk mendapatkan aspirasi, simpati dari masyarakat. Dan mengupayakan
terjadinya kerjasama yang baik antar sekolah dengan masyarakat untuk
kebaikan bersama, atau secara khusus bagi sekolah penjalinan hubungan
tersebut adalah untuk mensuksekan program-program sekolah yang
bersangkutan sehingga sekolah tersebut bisa tetap eksis.
Hubungan sekolah dengan masyarakat (Husemas) adalah suatu proses
komunikasi antara sekolah dengan masyarakat untuk meningkatkan
pengertian masyarakat tentang kebutuhan serta kegiatan pendidikan serta
mendorong minat dan kerjasama untuk masyarakat dalam peningkatan dan
pengembangan sekolah. Kindred, balgin dan Gallagher(1976)
mendefinisikan husemas ini sebagai usaha kooperatif untuk menjaga dan
mengembangkan saluran informasi dua arah yang efisien serta saling
pengertian antara sekolah, personel sekolah dengan masyarakat.
Definisi tersebut diatas mengandung beberapa elemen penting,
sebagai berikut:
1. Adanya kepentingan yang sama antara sekolah dengan
masyrakat. Masyarakat memerlukan sekolah untuk menjamin
bahwa anak-anak sebagai generasi penerus akan dapat hidup
lebih baik, demikian pula sekolah.

1
Drs. H.M. Daryanto, Administrasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005), h. 69

3
2. Untuk memenuhi harapan masyarakat itu, masyarakat perlu
berperan serta dalam pengembangan sekolah. Yang dimaksud
peran serta sekolah adalah kepedulian masyarakat tentang hal-
hal yang terjadi disekolah, serta tindakan membangun dalam
perbaikan sekolah.
3. Untuk meningkatkan peran serta itu diperlukan kerja sama yang
baik, melalui komunikasi dua arah yang efisien.

B. KONSEP DASAR HUBUNGAN LEMBAGA PENDIDIKAN DENGAN


MASYARAKAT
Organisasi pendidikan adalah merupakan suatu sistem yang terbuka.
Sebagai sistem terbuka, berarti lembaga pendidikan selalu mengadakan
kontak hubungan dengan lingkungannya yang disebut sebagai suprasistem.
Kontak hubungan ini dibutuhkan untuk menjaga agar sistem atau lembaga
itu tidak mudah punah atau mati.
Hanya sistem terbuka yang memiliki negentropy, yaitu suatu usaha
yang terus-menerus untuk menghalangi kemungkinan terjadinya entropy
atau kepunahan. Ini berarti hidup atau matinya sistem itu sebagian terbesar
ditentukan oleh usaha lembaga itu sendiri. Konsep ini bisa dicocokkan
dengan praktek-praktek pendidikan yang telah terjadi. Sekolah yang tidak
memiliki nama baik di mata masyarakat dan akhirnya mati, adalah sekolah
yang tidak mampu membuat hubungan baik dengan masyarakat
pendukungnya. Dengan berbagai sebab masyarakat enggan menyekolahkan
putra-putrinya ke sekolah itu, hal tersebut yang membuat sekolah itu tidak
mempunyai siswa, dan sebaliknya.
Sejalan dengan konsep diatas, pemerintah menyerukan bahwa
pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, orang tua,
dan masyarakat. Dengan demikian tampaklah bahwa lembaga pendidikan
itu bukanlah badan yang berdiri sendiri dalam membina pertumbuhan dan
perkembangan putra-putri bangsa, melainkan ia merupakan suatu bagian
yang tidak terpisahkan dari masyarakat yang luas.

4
Ada hubungan saling memberi dan saling menerima antara lembaga
pendidikan dengan masyarakat sekitarnya. Lembaga pendidikan merealisasi
apa yang dicita-citakan oleh masyarakat tentang pengembangan putra-putri
mereka. Disamping layanan terhadap masyarakat berupa pendidikan dan
pengajaran, lembaga pendidikan juga menyediakan diri sebagai agen
pembaru atau penerang bagi masyarakat.
Lembaga pendidikan sesungguhnya melaksanakan fungsi rangkap
terhadap masyarakat yaitu memberi layanan dan sebagai agen pembaru,
Dikatakan fungsi layanan karena ia melayani kebutuhan-kebutuhan
masyarakat, dan fungsi pemimpin sebab ia memimpin masyarakat disertai
dengan penemuan-penemuannya untuk memajukan kehidupan masyarakat.
Selanjutnya dengan mengadakan kontak hubungan dengan masyarakat
memudahkan organisasi pendidikan tersebut mampu menyesuaikan diri
dengan situasi dan kondisi lingkungannya. Lembaga pendidikan lebih
mudah menempatkan dirinya di masyarakat dalam arti dapat diterima
sebagai bagian dari milik warga masyarakat. Lembaga pendidikan dapat
mengikuti arus dinamika masyarakat lingkungannya.
Pendekatan situasional memang diperlukan oleh lembaga pendidikan
sebagai sistem terbuka. Pendekatan ini mengharuskan lembaga-lembaga itu
menaruh perhatian kepada masyarakat dan mengamati aspirasi mereka,
kebutuhan mereka, kemampuan, dan kondisi mereka. Manajer pendidikan
bersama warga masyarakat mencoba berusaha mencari jalan keluar dan
mewujudkannya dalam lembaga pendidikan untuk keputusan bersama.
Hubungan kerjasama lembaga pendidikan dengan masyarakat,
mengikuti perubahan-perubahan lingkungan dengan pendekatan situasional,
memungkinkan lembaga itu tetap berdiri. Sebab ia berada dalam hidup
bersama masyarakat dan sekaligus penerang/inovator bagi masyarakat.
Inilah yang perlu diusahakan oleh manajer pendidikan.2
Secara terperinci manfaat hubungan lembaga pendidikan dengan
masyarakat adalah sebagai berikut:
1. Bagi lembaga pendidikan yakni :

2
Sagala, S, Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta: Nimas Multima, 2008), h. 27

5
a. Memudahkan memperbaiki pendidikan
b. Memperbesar usaha meningkatkan profesi pengajar
c. Konsep masyarakat tentang guru/dosen menjadi benar
d. Mendapatkan koreksi dari kelompok masyarakat
e. Mendapat dukungan moral dari masyarakat
f. Memudahkan meminta bantuan dari masyarakat
g. Memudahkan pemakaian media pendidikan masyarakat
h. Memudahkan pemanfaatan narasumber

2. Bagi masyarakat yakni :


a. Tahu hal-hal persekolahan dan inovasinya
b. Kebutuhan-kebutuhan masyarakat tentang pendidikan
lebih mudah diwujudkan
c. Menyalurkan kebutuhan berpatisipasi dalam pendidikan
d. Melakukan usul-usul terhadap lembaga pendidikan
Seperti yang sudah diuaraikan diatas, sekolah memanfaatkan
hubungan dengan masyarakat ialah untuk melangsungkan atau
mempertahankan hidupnya dan sebagian untuk melayani masyarakat.
Manfaat diatas dapat diperoleh jika manajer pendidikan mampu
mengadakan komunikasi dan kerjasama yang baik dengan masyarakat.
Komunikasi dan kerjasama yang baik ini sekaligus membuat pandangan
masyarakat yang keliru tentang guru/dosen menjadi benar. Bahwa
guru/dosen tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik mereka tidak
mementingkan gaji tetapi mereka adalah mengabdi demi kepentingan yang
dididik maupun yang diajar.
Sama halnya dengan pertahanan hidup, layanan tehadap masyarakat
juga akan semakin meningkat bila hubungan lembaga pendidik dengan
masyarakat semakin baik. Masyarakat akan puas karena banyak warga yang
diperhatikan, lembaga terbuka bagi para warga masyarakat yang ingin

6
berpatisipasi dalam pendidikan, termasuk mengajukan usul tentang hal-hal
yang mereka inginkan terjadi atau dilaksanakan di lembaga.3

C. JENIS-JENIS KEGIATAN HUBUNGAN LEMBAGA PENDIDIKAN


DENGAN MASYARAKAT
Menurut Don Begin (1984), public relations dibedakan menjadi
external public relations ( humas ke luar ) dan internal public relations (
humas ke dalam ). Oleh karena itu, di sekolah dikenal adanya kegiatan
publisitas ke luar dan publisitas ke dalam.
1. Kegiatan Eksternal
Kegiatan ini selalu berhubungan atau ditujukan kepada publik
atau masyarakat di luar warga sekolah. Ada dua kemungkinan yang
bisa dilakukan yakni secara langsung ( tatap muka ) dan tidak
langsung. Kegiatan tatap muka misalnya rapat bersama dengan
pengurus BP3 setempat, berkonsultasi dengan tokoh-tokoh
masyarakat, melayani kunjungan tamu dan sebagainya. Kegiatan
eksternal tidak langsung adalah kegiatan yang berhubungan dengan
masyarakat melalui perantaraan media tertentu, seperti:4
a. Penyebaran informasi melalui televisi
Berhasil tidaknya menggunakan televisi sebagai alat media
publisitas sekolah, tergantung pada program yang telah
disiapkan sebelumnya di dalam program itu disusun hal-hal atau
pokok-pokok yang akan disajikan kepada penontonnya. Maka
dari itu, informasi melalui televisi memerlukan persiapan yang
lebih cermat daripada informasi melalui radio. Informasi melalui
televisi dapat dilaksanakan dengan cara ceramah biasa,
wawancara, ceramah dengan alat-alat peraga, diskusi,

3
http://tutorialkhen.blogspot.com/2016/01/makalah-makalah-hubungan-sekolah-dengan.html?m=1
Diakses Pada Tanggal 27 Oktober 2019 Pukul 15.55 WIB
4
http://syiffa93yuhu.blogspot.com/2013/09/manajemen-hubungan-lembaga-pendidikan.html?m=1
Diakses Pada Tanggal 28 Oktober 2019 Pukul 21.00 WIB

7
sandiwara, acara cerdas tangkas, kegiatan kesenian dan
sebagainya.
b. Penyebaran informasi melalui radio
Radio merupakan media massa yang penting yang mampu
menjangkau publik yang luas. Karena itu, sekolah dapat
mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari radio ini untuk
kepentingan publisitas. Beberapa hal yang penting seperti kapan
pendaftaran siswa baru, kegiatan pendidikan dan data sekolah
dapat diinformasikan ke luar melalui radi
c. Penyebaran informasi melalui media cetak
Yang dimaksud media cetak adalah surat kabar, majalah, buletin
dan sebagainya. Kadang-kadang semuanya ini disebut pers
dalam arti sempit. Dalam hubungannya dengan kegiatan humas,
pers dapat dikatakan sebagai penyalur informasi yang
menguntungkan.
e. Pameran sekolah
Pameran sekolah dimaksud untuk menunjukkan hasil pekerjaan
para siswa serta masyarakat pada umumnya.

2. Kegiatan Internal
Kegiatan ini merupakan publisitas ke dalam, sasarannya tidak lain
adalah warga sekolah yang bersangkutan yakni para guru, tenaga tata
usaha dan seluruh siswa.
Pada prinsipnya, kegiatan internal bertujuan untuk:
a. Memberi penjelasan tentang kebijaksanaan penyelenggaraan
sekolah,situasi dan perkembangannya.
b. Menampung sarana-sarana dan pendapat-pendapat dari warga
sekolah dalam hubungannya dengan pembinaan dan
pengembangan sekolah.
c. Dapat memelihara hubungan yang harmonis dan terciptanya
kerja sama antar warga sekolah sendiri.

8
Kegiatan internal dapat dibedakan atas kegiatan langsung dan tidak
langsung. Kegiatan langsung ini dapat berupa, antara lain:
a. Rapat dewan guru
b. Upacara sekolah
c. Karyawisata/rekreasi bersama
d. Penjelasan lisan pada berbagai kesempatan yang ada, misalnya
pada pertemuan arisan, syawalan dan sebagainya

Sedangkan mengenai kegiatan yang tidak langsung dapat berupa:


a. Penyampaian informasi melalui surat edaran
b. Penggunaan papan pengumuman di sekolah
c. Penyelenggaraan majalah dinding
d. Menerbitkan buletin sekolah untuk dibagikan kepada warga
sekolah
e. Pemasangan iklan/pemberitahuan khusus melalui media massa
pada kesempatan-kesempatan tertentu

Pada era di mana terjadi salah kaprah mengenai hubungan antara


lembaa pendidikan dan masyarakat ini, hendaknya kaum akademisi mulai
menjelaskan kembali bagaimana hubungan lembaga pendidikan dan
masyarakat yang sebenarnya harus terjadi. Pada masa ini, sekolah dianggap
hanya sebagai “penjara akademik” atau sarana untuk menyampaikan hal-hal
yang bersifat akademis kepada peserta didik. Dengan demikian kebanyakan
orang menganggap cukup dengan adanya komite sekolah dan bagian humas,
maka hubungan antara sekolah dan masyarakat sudah berjalan sebagaimana
mestinya.
Padahal, arti hubungan antara sekolah dan masyarakat sendiri jauh
lebih luas daripada itu dan mencakup beberapa bidang. Bidang-bidang
tersebut adalah bidang-bidang yang ada hubungannya dengan pendidikan
anak-anak dan pendidikan masyarakat pada umumnya.
Jenis hubungan sekolah dan masyarakat itu sendiri dapat digolongkan
menjadi 3 jenis, yaitu:

9
a. Hubungan edukatif, ialah hubungan kerja sama dalam hal
mendidik murid, antara guru di sekolah dan orang tua di dalam
keluarga. Adanya hubungan ini dimaksudkan agar tidak terjadi
perbedaan prinsip atau bahkan pertentangan yang dapat
mengakibatkan keragu-raguan pendirian dan sikap pada diri
anak.
Cara kerja sama tersebut dapat direalisasikan dengan
mengadakan pertemuan yang direncanakan secara periodik
antara guru-guru di sekolah dengan para orang tua murid. Di
samping itu, dapat pula dilakukan dengan mengadakan
kunjungan ke rumah peserta didik di luar waktu sekolah untuk
mengenal lingkungan di mana peserta didik berkembang. Jika
hal tersebut tidak dimungkinkan, dapat pula dilakukanpertemuan
antara guru dengan orang tua peserta didik per kelas untuk
mengadakan dialog terbuka mengenai masalah-masalah
pendidikan yang sering terjadi dalam keluarga, dan bagaimana
cara mengatasinya.
b. Hubungan kultural, yaitu usaha kerja sama antara sekolah dan
masyarakat yang memungkinkan adanya saling membina dan
mengembangkan kebudayaan masyarakat tempat sekolah itu
berada. Untuk itu diperlukan hubungan kerja sama antara
kehidupan di sekolah dan kehidupan dalam masyarakat.
Kegiatan kurikulum sekolah disesuaikan dengan kebutuhan dan
tuntutan perkembangan masyarakat. Demikian pula tentang
pemilihan bahan pengajaran dan metode-metode pengajarannya.
Oleh karena itu, tidak mustahil bahwa untuk menjelmakan para
peserta didik untuk menbantu dalam kegiatan-kegiatan yang
diselenggarakan oleh masyarakat di luar lingkunngan sekolah.
Kegiatan-kegiatan kerja sama semacam itu berarti mendidik
para peserta didik untuk berpartisipasi dan turut bertanggung
jawab tehadap masyarakat dan lingkungannya.

10
c. Hubungan institusional, yaitu hubungan kerja sama antara
sekolah dengan lembaga-lembaga atau instansi resmi lain, baik
swasta maupun pemerintah, seperti hubungan kerja sama antara
sekolah satu dengan sekolah-sekolah lainnya, kepala pemerintah
setempat, ataupun perusahaan-perusahaan Negara, yang
berkaitan dengan perbaikan dan perkembangan pendidikan pada
umumnya.
Sebagai kesimpulan data dikemukakan bahwa dengan
dilaksanakannya ketiga hubungan tersebut, diharapkan sekolah
tidak lagi selalu ketinggalan dengan perubahan dan tuntutan
masyarakat yang senantiasa berkembang. Sehingga meskipun
digerus oleh arus globalisasi, sekolah tidak lagi hanya menjadi
penyalur informasi akademik. Maka dari itu, untuk kembali
mendapatkan fungsinya yang sebenarnya, sekolah harus
merupakan salah satu pusat belajar dari banyak pusat belajar
yang kini dikategorikan sebagai pendidikan nonformal.
Adanya hubungan sekolah dan masyarakat ini dimaksudkan pula
agar proses belajara yang berlaku di sekolah mengalami
perubahan, dari proses belajar dengan cara “menyuapi” dengan
bahan pelajaran yang telah dicerna oleh guru, menjadi proses
belajar yang inovatif, yaitu belajar secara antisipatoris dan
partisipatoris. Proses belajar yang inovatif ini tidak hanya
“belajar memecahkan masalah”, tetapi justru yang terpenting
adalah mengidentifikasi, mengerti, dan bila perlu merumuskan
kembali masalah itu. Peserta didik dididik untuk berpartisipasi
dalam arti luas di dalam kehidupan masyarakat, dan dapat
mengantisipasi kehidupan masyarakat yang akan datang tempat
mereka akan hidup dan terlibat di dalamnya setelah mereka
dewasa.5

5
Mulyono.2008.Manajemen Administrasi & Organisasi Pendidikan.Yogyakarta:Ar-Ruzz Media.

11
D. BENTUK-BENTUK KERJASAMA LEMBAGA PENDIDIKAN
DENGAN MASYARAKAT
a. Hubungan sekolah dengan orang tua siswa dan warga masyarakat.
Bentuk hubungan ini bisa individual, bisa pula organisatoris:
1. Secara individual:
a. Orang tua datang ke sekolah untuk berkonsultasi maupun
untuk pemecahan masalah anaknya.
b. Secara sukarela orang tua datang ke sekoah
menyampaikan saransaran bahkan sumbangan untuk
kemajuan sekolah.
Sebagai contoh: seseorang pensiunan Pustakawan secara
sukarela datang ke sekolah untuk “pembenahan”
perpustakaan sekolah.
2. Secara Organisasi melalui BP3
Organisasi ini akan lebih efektif bila sekolah mampu
menggerakkan dan memanfaatkan potensi yang ada di kalangan
orang tua umpamanya:
a) Para dokter untuk duduk pada seksi UKS bahkan untuk
mendirikan poliklinik sekolah
b) Para insinyur untuk memberikan saran-saran dalam
pembanguna sekolah
c) Para Profesional pejabat dan pengusaha lainnya yang juga
akan dengan sukarela membantu sekolah demi
kepentingan anak-anaknya.
d) Para pemuka agama untuk peningkatan Imtaq ( iman dan
taqwa )

b. Hubungan Sekolah dengan Alumni


Dari para alumni, sekolah memperoleh masukan tentang kekurangan
sekolah yang perlu dibenahi, upayaupaya yang perlu dilakukan untuk
perbaikan. Juga melalui alumni dapat dihimpun dana bagi peningkatan
kesejahteraan guru dan karyawan maupun perbaikan pembangunan

12
sekolah . Bahkan mengundang para alumni itu sendiri untuk
menyampaikan pengalaman keberhasilannya untuk motivasi atau
menularkan pengetahuannya untuk penyegaran dan tambahan
wawasan bukan hanya untuk para siswa tetapi juga para guru dan
warga sekolah lainnya.

c. Hubungan dengan Dunia Usaha/ Dunia Kerja


Biasanya ini merupakan bidang garapan guru bimbingan dan
konseling. Pelaksanaannya:
1. Mengundang tokoh yang berhasil untuk datang ke sekolah
Keberhasilan tokoh tersebut akan memotivasi semua pihak
untuk berbuat yang serupa.
2. Mengirim para anak didik ke dunia usaha/dunia kerja. Tentu
saja ini menguntungkan kedua belah pihak. Dunia kerja
memperoleh tenaga yang murah sedangkan para siswa
mendapatkan pengalaman kerja yang berharga.

d. Hubungan dengan Instansi lain


1) Hubungan dengan Sekolah lain:
Hubungan kerjasama ini dapat juga dibina melalui MGMP,
MKS, MGP, K3S, K3M.
2) Hubungan dengan Lembaga/Badan-Badan Pemerintahan Swasta
Sebagai contoh: kerjasama dengan bank dalam rangka
penggalangan dana “gemar menabung” pelajar. Begitu juga
kerjasama dengan pertamanan dalam rangka penghijauan.6

6
H. Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2008), h.10

13
E. PENINGKATAN DAN PENDAYAGUNAAN PARTISIPASI
MASYARAKAT

Masyarakat memandang sekolah (lembaga pendidikan) sebagai cara


yang menyakinkan dalam membina perkembangan para siswa atau
mahasiswa, karena itu masyarakat berpatisipasi dan setia kepadanya.
Namun hal ini tidak otomatis terjadi terutama dinegara-negara berkembang
termasuk Indonesia. Hal ini disebabkan karena banyak warga yang belum
paham akan makna lembaga pendidikan, lebih-lebih bila kondisi ekonomi
mereka rendah, merek hampir tidak hirau akan lembaga pendidikan. Pusat
perhatian mereka adalah kebutuhan hidup sehari-hari.
Untuk mengikut sertakan warga masyarakat ini dalam membangun
pendidikan disekolah maupun perguruan tinggi, sudah sepatutnya para
manajer pendidikan melalui tokoh-tokoh masyarakat aktif menggugah
perhatian mereka. Para manajer dapat mengundang para tokoh ini untuk
membahas bentuk-bentuk kerjasama dalam meningkatkan pendidikan.
Keputusan diambil secara musyawarah untuk memperoleh alternatif yang
terbaik.
Yang paling menarik bagi masyarakat adalah bila lembaga pendidikan
itu sanggup mencetak lulusan yang siap pakai. Artinya bila lulusan itu baik
mereka sebagai tenaga menengah maupun sebagai tenaga ahli tidak
membutuhkan latihan lagi sebelum bekerja, melainkan secara langsung
dapat melaksanakan pekerjaan dalam bidangnya secara relatif baik. Untuk
mewujudkan lulusan seperti ini memang merupakan tantangan berat bagi
para manajer pendidikan.
Bila manajer berhasil, biasanya imbalannya dari warga masyarakat
cukup besar. Mereka secara antusias akan mendukung lembaga pendidikan
bersangkutan baik secara moral maupun material. Makin banyak orang tua
yang merasakan kepuasan itu, makin banyak dan makin besar pula
partisipasi masyarakat terhadap lembaga pendidikan itu.
Inilah beberapa contoh partisipasi masyarakat dalam pendidikan :
1. Dalam bentuk partisipasi antara lain :
b. Dewan Pendidikan

14
c. Komite Sekolah
d. Persatuan orang tua siswa
e. Perkumpulan olahraga
f. Perkumpulan Kesenian
g. Organisai-organisasi yang lain
2. Dalam bidang partisipasi antara lain :
a. Kurikulum terutama yang lokal
b. Alat-alat belajar
c. Dana
d. Material untuk bangunan gedung
e. Auditing Keuangan
f. Kontrol terhadap kegiatan-kegiatan sekolah dan
sejenisnya.
3. Dalam cara partisipasinya antara lain :
a. Ikut dalam pertemuan
b. Datang ke sekolah
c. Lewat surat
d. Lewat telepon
e. Ikut malam kesenian dan sejenisnya

Inilah beberapa contoh partisipasi masyarakat dari hal bentuk, bidang


dan cara berpatisipasi dalam pendidikan.7

7
Arikunto, Suharsimi dan Lia Yuliana.2012.Manajemen Pendidikan.Yogyakarta:Aditya Media.

15
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari Pembahasan diatas, maka penulis dapat menentukan simpulan


bahwa Hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan jalinan interaksi
yang diupayakan oleh sekolah agar dapat diterima di tengah-tengah
masyarakat untuk mendapatkan aspirasi, simpati dari masyarakat. Dan
mengupayakan terjadinya kerjasama yang baik antar sekolah dengan
masyarakat untuk kebaikan bersama, atau secara khusus bagi sekolah
penjalinan hubungan tersebut adalah untuk mensuksekan program-program
sekolah yang bersangkutan sehingga sekolah tersebut bisa tetap eksis.
.

B. SARAN

Setelah membaca hasil karya ilmiah ini, penulis menyarankan bahwa


agar dapat mencari referensi yang lain. Karena kami menyadari masih
banyak kekurangan dalam menyajikan teknik pengajaran pendidikan islam
ini.

16
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi dan Lia Yuliana.2012.Manajemen


Pendidikan.Yogyakarta:Aditya Media.
Ihsan, Fuad. 2008. “Dasar-dasar Kependidikan” Jakarta: PT. Rineka Cipta
M. Daryanto, 2005. “Administrasi Pendidikan”. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Mulyono.2008.Manajemen Administrasi & Organisasi
Pendidikan.Yogyakarta:Ar-Ruzz Media.
Sagala, S, 2008. “Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat”. Jakarta: Nimas
Multima
http://tutorialkhen.blogspot.com/2016/01/makalah-makalah-hubungan-sekolah-
dengan.html?m=1 Diakses Pada Tanggal 27 Oktober 2019 Pukul 15.55
WIB
http://syiffa93yuhu.blogspot.com/2013/09/manajemen-hubungan-lembaga-
pendidikan.html?m=1 Diakses Pada Tanggal 28 Oktober 2019 Pukul
21.00 WIB

17