Anda di halaman 1dari 2

Sabtu, 05 Mei 2007 SEMARANG

Kepemilikan Tanah GRIS Dipersoalkan

SEMARANG - Kepemilikan lahan eks Gedung Rakyat Indonesia Semarang (GRIS) di Jl Pemuda
No 358, sedang dipersoalkan oleh ahli waris Leonard Egiued Smith, warga Belanda.

Dia menilai lahan seluas 14.965 m2 itu, masih miliknya yang sah dan hal itu dibuktikan dalam
surat jual beli pada Tahun 1950. Tanah itu dibelinya dari KGBH Soetejo Harjo putra RM Koesen.

Ahli waris LE Smith, Ny Punah Dewi Nurhayati (56) warga Jl Ikan Kembangwaru No 27,
Karangrejo, Banyuwangi, Jatim meminta agar lahan GRIS dikembalikan padanya. Karena setahun
terakhir dia ke Semarang, tanah milik orang tuanya itu sudah beralih tangan dan telah dipagari.

Bersama kuasa hukumnya Budiono SH, Punah mengaku selama ini tidak pernah menjual tanah itu.
Bahkan tanahnya yang lain, seperti di Jl Dr Wahidin No 21-31 dan Jl Sisingamangaraja No 1-3
juga telah berganti kepemilikan.

''Klien saya meminta siapa yang bertanggung jawab masalah ini. Sebagai ahli waris, dia tidak
pernah menjualnya, tapi mengapa sudah berganti pemilik. Kalau ada yang mengaku memilikinya,
kami siap beradu argumen bukti kepemilikan,'' imbuh Budiono, Kamis (3/4).

Punah menjelaskan, alasan dirinya baru mempersoalkan masalah itu, karena setahu dia lahan itu
belum terotak-atik orang lain, termasuk peralihan ke Yayasan GRIS.

''Saya mengira pendirian gedung kesenian Ngesti Pandawa dan gedung bioskop itu hanya nunut
saja. Jadi kalau sewaktu-waktu saya minta, tentu harus dikembalikan. Tidak tahunya ternyata sudah
disertifikatkan,'' kata Punah.

Sementara Anggota Yayasan GRIS Prof Dr J Kartini Soedjendro SH mempersilakan bila ahli waris
LE Smith menggugat kepemilikan lahan GRIS.

''Silahkan saja. Tapi mengapa baru sekarang dipersoalkan. Tidak dulu. Andaikata benar itu
miliknya, tentu pada era 1950-an saat yayasan membeli tanah GRIS, dia harus menolaknya,'' kata
Kartini.

Dia mengakui banyak pihak yang mengaku sebagai pemilik GRIS, mulai dari pihak Keraton
Surakarta sampai warga biasa.

''Terakhir, yayasan digugat Sumarno yang mengaku pemilik GRIS. Tetapi saat di PN Semarang,
dia tidak bisa membuktikan sehingga kalah,'' kata dia. (H37,H13,apr-74)
Senin, 07 Mei 2007 SEMARANG
Ny Punah Harus Tunjukkan Bukti Konversi

 Soal Klaim Eks Tanah GRIS

SEMARANG- Klaim kepemilikan lahan eks Gedung Rakyat Indonesia Semarang (GRIS) di Jalan
Pemuda No 358 oleh ahli waris Leonard Egiued Smith, harus dikuatkan dengan bukti konversi.

Sebab, Pasal 16 UU Pokok Agraria (UUPA) Tahun 1960 mengatur, seluruh tanah milik warga
negara asing di Indonesia harus dikonversi agar hak kepemilikannya bisa diturunkan.

Jika Ny Punah Dewi Nurhayati (56) yang mengaku sebagai ahli waris Smith tidak memiliki bukti
itu, maka hak atas tanah eks GRIS dengan sendirinya gugur demi hukum. Demikian pendapat Guru
Besar Fakultas Hukum Unika Soegijapranata, Prof Dr Agnes Widanti SH CN terkait klaim atas
tanah eks GRIS yang dikemukakan Ny Punah.

Seperti diberitakan, Ny Punah, warga Jl Ikan Kembangwaru No 27, Karangrejo, Banyuwangi,


Jatim mengklaim tanah eks GRIS sebagai hak ayah kandungnya, Smith, yang berkebangsaan
Belanda. Sebagai bukti, dia menunjukkan surat jual beli berangka tahun 1950. Dalam surat itu
disebutkan, tanah seluas 14.965 m2 dibeli Smith dari KGBH Soetejo Harjo, putra RM Koesen. Ny
Punah kaget ketika beberapa waktu lalu berkunjung ke Semarang mendapati tanah itu sudah
dipagari dan beralih tangan ke pihak lain. Padahal, sebagai ahli waris, dia merasa tidak pernah
menjualnya. Bermodal surat bukti jual beli itu, dia ingin mendapatkan kembali tanah eks GRIS.

Agnes lebih lanjut menjelaskan, jika pascapemberlakuan UUPA 1960, tanah milik warga negara
asing, baik berstatus eigendom (hak milik) atau erpach (hak guna usaha) tidak dikonversi, maka
dengan sendirinya menjadi tanah negara. ''Kalau Ny Punah tidak memiliki bukti konversi, berarti
tanah eks GRIS saat itu menjadi milik negara. Dengan demikian, Ny Punah tidak lagi memiliki hak
waris atas tanah tersebut.''

Ahli waris, seharusnya merawat tanah miliknya. Jika tidak, dia bukan seorang pemilik yang baik,
dan berisiko kehilangan hak atas tanah. Sementara itu, berdasarkan keterangan anggota Yayasan
GRIS, Prof Dr J Kartini Sujendro, yayasan itu membeli tanah di Jl Pemuda No 358 dari Pemerintah
Kotapraja. Kartini juga mempersilakan ahli waris Smith mengajukan gugatan hukum. (H6-56)