Anda di halaman 1dari 17

Judul : Aves

Tujuan : Untuk mendeskripsikan dan mengklasifikasikannya


Hari/Tanggal : Senin/21 Oktober 2019
Lokasi : Laboratorium Zoologi, Jurusan Biologi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
Halu Oleo, Kendari
A. Prosedur Kerja

Prosedur kerja pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Identifikasi secara Kualitatif

a. Menyiapkan alat dan bahan.

b. Membius objek pengamatan menggunakan kloroform.

c. Meletakkan objek pengamatan di atas papan bedah.

d. Mengamati warna tubuh objek pengamatan.

e. Mengamati tekstur permukaan kulit.

f. Mencatat dan mendokumentasikan hasil pengamatan.

2. Identifikasi secara Kuantitatif

a. Mengukur panjang total tubuh.

b. Mengukur panjang kepala.

c. Mengukur panjang badan.

d. Mengukur panjang kaki.

e. Mengukur panjang betis.

f. Mengukur panjang paha.

g. Menghitung jumlah tungkai belakang.

h. Menghitung jumlah tungkai depan.

i. Mengukur panjang mata.

j. Mengukur panjang mulut.


B. Hasil Pengamatan

1. Itik (Gekko gecko)

a. Gambar morfologi
Gambar pengamatan Keterangan :

2 1 1. Kepala (Caput)
2. Mata (Organum visus)
3
5 3. Paruh (Cera)
4. Leher (Collum)
4 5. Badan (Truncus)
6. Kaki (Extremitas)
7. Ekor (Caudal)
8 8. Sayap (Cornu)
7
3

9
6

10

11

Gambar tangan

Gambar literatur
b. Tabel Morfometri
Berdasarkan pengamatan kuantitatif dan kualitatif dapat dilihat pada tabel
morfometri berikut:
Karakter
No. Spesies Morfometri Ket. Warna Bentuk Bentuk ekor
tubuh kepala
1. Tokek Panjang total 21 Coklat Runcing Meruncing
(Gekko sp.) cm berbintik
putih
Panjang ekor 8 cm
Panjang kaki 5 cm
belakang
Panjang kaki 4 cm
depan

Panjang 1 cm
mata
Panjang 1,5
mulut cm
Lebar kepala 4 cm

Lebar mata 2,7


cm
Lebar badan 2,6
cm

c. Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Reptilia
Ordo : Squamata
Famili : Gekkonidae
Genus : Gekko
Spesies : Gekko gecko (Eprilurahman, 2012)

d. Deskripsi
Anggota Familia Gekkonidae merupakan kelompok hewan melata yang

lebih dikenal sebagai cicak dan tokek. Kadal pada umumnya, anggota familia

gekkonidae memiliki dua pasang tungkai, tympanum, dan tulang dada. Hewan

ini dapat dijumpai di berbagai habitat yang berbeda dari daerah hutan hingga ke

perumahan. Karakteristik morfologi famili gekkonidae terutama dari motif dan

warna merupakan salah satu aspek untuk mengidentifikasi dan membedakan

suatu jenis dengan jenis yang lain. Kondisi fisik juga diduga dipengaruhi oleh

kondisi habitat alam (Eprilurahman, 2012)

Tokek biasa (Gekko gecko) perbedaan motif warna dapat membedakan

antara tokek satu dengan tokek yang lainnya. Tokek biasa memiliki ciri fisik

berupa benjolan-benjolan kecil yang rendah dalam deret yang tidak beraturan

di tubuhnya. Kepalanya yang besar menopang otot rahang yang kuat.

Tubuhnya berwarna kebiruan atau kehijauan, dengan totol-totol putih dan

merah. Terkadang warna totol merah bisa terlihat menjadi berawarna jingga

yang menyatu menjadi deretan berwarna gelap dan terang pada ekor. Bagian

bawah tokek biasa berwarna putih. Spesies ini dapat memiliki panjang tubuh

hingga 250 mm dengan panjang tubuh maksimal 350 mm (Nungrahani, 2011).

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan pada tokek (Gekko

gecko) secara morfologi yaitu secara kualitatif dan kuantitatif dengan cara

mengukur. Identifikasi secara kuantitatif dapat terlihat pada tabel morfometri

dengan panjang total 21 cm, panjang kaki depan 4 cm, panjang kaki belakang 5

cm, panjang mulut 1,5 cm, panjang mata 1 cm, panjang ekor 8 cm, lebar mata

2,7 cm, lebar kepala 4 cm dan lebar badan 2,6 cm. Identifikasi kualitatif dilihat
secara morfologi atau karakteristik yang dimiliki yaitu bentuk kepala runcing,

bentuk ekor meruncing dan warna tubuhnya coklat berbintik putih


2. Kadal (Mabuoya multifasciata) Keterangan :

a. Gambar morfologi 1. Kepala (Caput)


2. Mata (Organum visus)
Gambar pengamatan 3. Mulut (Cavum oris)
4. Kaki bagian depan
1
(Extremitas posterior)
3 5. Badan (Truncus)
2 6. Perut (Abdomen)
4 7. Paha (Femur)
5 8. Betis (Tibia)
6
9. Kaki bagian belakang
7 (Extremitas anterior)
8
9 10. Jari kaki (Digiti)
10 11. Ekor (Caudal)
11

Gambar tangan

Gambar literature
b. Tabel Morfometri

Berdasarkan pengamatan kuantitatif dan kualitatif dapat dilihat pada tabel


morfometri sebagai berikut :

Karakter
No
Spesies Morfometri Ket. Warna Bentuk Bentuk
.
tubuh kepala ekor
1. Kadal Panjang 20 Coklat Runcing Meruncing
(Mabouya total cm kekuning
multifasciata) Panjang 5,6 an
ekor cm

Panjang 4
kaki cm
belakang

Panjang 2,5
Kaki depan cm

Panjang 1,5
mata cm
Panjang 2
mulut cm
Lebar 2
kepala cm
Lebar mata 1
cm
Lebar badan 4
cm

c. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Reptilia
Ordo : Squamata
Famili : Scinidae
Genus : Mabouya
Spesies : Mabouya multifasciata (Apriyanto, 2015).
d. Deskripsi

Kadal (Mabouya multifasciata) merupakan kelompok reptil yang

termasuk dalam sub ordo sauria. Karakteristik umum dari sub ordo sauria

adalah tubuh bersisik, licin, lidah panjang, ekor panjang, dan berkaki empat.

Kadal (Mabouya multifasciata) hidup pada berbagai jenis habitat. Beberapa

hidup di pepohonan, di atas tanah bahkan di dalam tanah. Kadal (Mabouya

multifasciata) menyukai tempat yang lembab dan memiliki banyak serasah,

pepohonan dan semak-semak. Keberadaan kadal (Mabouya multifasciata) di

suatu tempat merupakan indikator terhadap melimpahnya serangga yang ada,

karena makanan utama bagi kadal adalah berbagai macam serangga. Setiap

famili dari sub ordo sauria menempati habitat yang berbeda. Famili scincidae

hidup di serasah, lubang-lubang dan pohon, famili agamidae hidup di

pepohonan, famili gekkonidae di pepohonan, bangunan-bangunan, sedangkan

famili lacertidae pada semak-semak (Apriyanto, 2015).

Kadal (Mabouya multifasciata) memiliki kulit yang berawarna, kulit

pada kadal (Mabouya multifasciata) ini pada umumnya tertutup oleh lapisan

epidermal yang menanduk, kadang-kadang dibagian bawah disokong oleh

lapisan-lapisan lamina derminalis yang menulang. Lubang pelepasan selaluh

berubah celah yang teranversal. Kadal (Mabouya multifasciata) mempunyai

dua anggota badan yang bersifat pentadactil. Sistem pencernaan kadal terdirih

dari tenggorokan yang panjang dan lambung yang sederhana. Jantung kadal

memanjang dan berwarnah merah tua di depannya terlihat batang tracea

(Yusuf, 2008)
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan pada kadal

(Mabouya multifasciata) secara morfologi yaitu secara kualitatif dan kuantitatif

dengan cara mengukur. Identifikasi secara kuantitatif dapat terlihat morfometri

dengan panjang total 20 cm, panjang kaki depan 2,5 cm, panjang kaki belakang

4 cm, panjang mulut 2 cm, panjang ekor 5,6 cm, lebar mata 1 cm, lebar kepala

2 cm dan lebar badan 4 cm. Karakteristik yang dimiliki yaitu bentuk kepala

runcing, bentuk ekor meruncing dan warna tubuhnya coklat kekuningan.


3. Ular pohon coklat (Boiga irregularis)

a. Gambar morfologi
Keterangan :
Gambar pengamatan
1.Kepala (Caput)
5 2. Perut (Abdomen)
2
33
3. Badan (Truncus)
4. Mulut (Cavum oris)
4
5. Ekor (Caudal)
1

Gambar tangan

Gambar literatur
b. Tabel Morfometri

Berdasarkan pengamatan kuantitatif dan kualitatif dapat dilihat pada


tabel morfometri sebagai berikut:

Karakter
No. Spesies Morfometri Ket. Warna Bentuk Bentuk
tubuh kepala ekor
1. Ular pohon Panjang 50 Coklat Runcing Merunc
coklat (Boiga total cm kehitaman ing
irregularis) Panjang 10
ekor cm
Panjang 0
kaki cm
Depan

Panjang 0
kaki cm
belakang
Panjang 0,1
mulut cm
Panjang 0
mata cm

Lebar 1
kepala cm

Lebar mata 0,1


cm
Lebar badan 1
cm

c. Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Reptilia
Ordo : Squamata
Familia : Colubridae
Genus : Boiga
Spesies : Boiga irregularis (Hamidy, 2007).
D. Deskripsi

Ular merupakan jenis predator dalam rantai makanan bagi beberapa satwa,

seperti burung, ikan, tikus, serta jenis lainnya. Ular juga merupakan mangsa

bagi beberapa satwa lain. Ular juga sebagai penyeimbang ekosistem yang mana

berfungsi mengendalikan populasi satwa lain terutama yang berperan sebagai

hama, seperti tikus dan burung. Habitat yang ditinggali setiap jenis ular

berbeda berdasarkan jenis makanan bagi ular tersebut sehingga mempengaruhi

morfologi tubuhnya (Nurhayati, 2017)

Ular Pohon coklat (Boiga irregularis) dikenal dengan nama ular pohon

coklat merupakan jenis introduce yang terkenal telah membuat kepunahan

beberapa jenis burung di pulau Guam. Panjang tubuh ular pohon cokelat

mencapai 2 sampai 3 meter dari ujun kepala hingga ujung ekor. Ular pohon

cokelat menghuni hampir semua tipe habitat mulai dari hutan hujan, hutan

terbuka, hutan belukar, padang rumput pohon serta pinggiran perkebunan dan

taman (Setiady dan Hamidy, 2006).

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan pada ular pohon

cokelat (Boiga irregularis) secara morfologi yaitu secara kualitatif dan

kuantitatif dengan cara mengukur. Identifikasi secara kuantitatif dapat terlihat

morfometri dengan panjang total 50 cm, panjang mulut 0,1 cm, panjang ekor

10 cm, lebar mata 0,1 cm, lebar kepala 1 cm dan lebar badan 1 cm.

Karakteristik yang dimiliki yaitu bentuk kepala runcing, bentuk ekor

meruncing dan warna tubuhnya coklat kehitaman


3. Kura kura Ambon (Cuora amboinensis)

a. Gambar morfologi
Keterangan :
Gambar pengamatan
1. Badan (Truncus)
2. Perut (Abdomen)
3 3. Kaki bagian depan
(Ekstremitas
1
posterior)
4. Kaki bagian belakang
4 (Eksteremitas
anterior)
5. Jari kaki (Digiti)
5 6. Ekor (Caudal)
2

Gambar tangan

Gambar literatur
b. Tabel Morfometri

Berdasarkan pengamatan kuantitatif dan kualitatif dapat dilihat pada


tabel morfometri sebagai berikut:

Karakter
No. Spesies Morfometri Ket. Warna Bentuk Bentuk
tubuh kepala ekor
1. Kura kura Panjang 9,5 Coklat Runcing Merunc
Ambon total cm kehitaman ing
(Cuora Panjang 1
amboinensis ekor cm
) Panjang 1,4
kaki cm
depan

Panjang 1
kaki cm
belakang
Panjang 0,2
mulut cm
Panjang 0
mata cm

Lebar 1
kepala cm

Lebar mata 1
cm
Lebar badan 3
cm

c. Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Reptilia
Ordo : Testudinata
Familia : Geomydidae
Genus : Coura
Species : Cuora amboinensis (Afryani, 2001).
D. Deskripsi

Cuora amboinensis merupakan kura-kura air tawar yang termasuk

kedalam ordo Testudines, family Emydidae, dan subfamily Batagurinae.

Cuora amboinensis memiliki engsel yang terletak di antara bagian plastron

abdominal dan pektoral yang memungkinkan plastron dan karapasnya dapat

menutup dengan sempurna. Karapas berwarna hitam atau hitam kecoklatan,

sedangkan plastronnya berwarna kuning atau coklat muda dengan bercak

hitam pada tiap sudut plastronnya. Hewan ini memiliki tiga garis kuning yang

terletak antara bagian leher sampai hidung pada kedua sisi kepalanya. Cuora

amboinensis merupakan salah satu spesies kura-kura endemik Indonesia

Timur yang sudah banyak diperdagangkan hingga keluar negeri, sehingga

mengakibatkan populasi Cuora amboinensis dari tahun ke tahun menurun

drastis (Afryani, 2001).

Kura-kura mempunyai karapas berwarna coklat hitam dengan dome yang

tinggi. Memiliki kaki yang besar dengan ukuran 2,3 cm dan kekar untuk

menopang tubuhnya yang sangat berat. Kura-kura mempunyai leher yang

yang sangat panjang digunakan untuk meraih cabang dan ranting pohon

sampai ketinggian 1 meter lebih dari tanah. Kura-kura mempunyai ukuran

yang mirip dengan kuraikura Galapagos. Kur-kura dapatt mencapai ukuran

kerapas hingga 1,5 meter dengan berat hingga 300 kg, ukuran jantang jauh

lebih besar dari pada betina.

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan pada kura-kura

dengan mengidentifikasi secara kualitatif dan kuantitatif. Identifikasi secara


kuantitatif pada kura-kura (Cuora amboinensi), terlihat morfometri dengan

panjang total 9,5 cm, panjang kepala 1 cm, panjang kaki depan 1,4 cm,

panjang kaki belakang 1 cm, panjang mulut 0.2 cm, panjang ekor 1 cm, lebar

mata 1 cm, lebar badan 3 cm, lebar kepala 1 cm. Identifikasi kualitatif dilihat

secara morfologi atau karakteristik yang dimiliki yaitu bentuk kepala runcing,

bentuk ekor meruncing dan warna tubuh coklat kehitaman.


DAFTAR PUSTAKA

Afryani, F., Amin, M dan Rahayu, S.E., 2001, Analisis Filogenetik Kura-Kura
(Cuora Amboinensis) di Daerah Sulawesi Berdasarkan DNA
Mitokondria (Cytochrome C Oxidase Sub Unit 1), Skripsi, Universitas
Negeri Malang.

Apriyanto, P., Yanti, A.H dan Setyawati, T.R., 2015, Keragaman Jenis Kadal Sub
Ordo Sauria pada Tiga Tipe Hutan di Kecamatan Sungai Ambawang,
Protobiont, 4 (1): 108-114

Eprilurahman, R., 2012, Cicak dan Tokek di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jurnal
Fauna Indonesia, 2(11): 23-24

Nugrahani, A., 2011, Karakteristik Morfologis dan Teknik Pemeliharaan Tokek


dan Cicak di Penangkaran Pt Mega Citrindo, skripsi, Institut Pertanian
Bogor.

Nurhayati, A., 2018, Keanekaragaman dan Distribusi Ular di Taman Hutan Raya
Bunder, Gunungkidul, Yogyakarta, Jurnal Prodi Biologi, 1(7): 44-45

Setiady, M.I., dan Hamidy, A., 2006, Jenis - Jenis Herpetofauna di Pulau
Halmahera, Skripsi, Universitas Indonesia dan Museum Zoologicum
Bogoriense, Puslit Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Soerianegara I, Indrawan A. 2002. Ekologi Hutan Indonesia. Bogor. Lab. Ekologi


Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Yusuf, R. L., 2008, Studi Keanekaragaman Jenis Reptil Pada Beberapa Tipe
Habitat Di Eks-Hph Pt Rki Kabupaten Bungo Propinsi Jambi, Skripsi,
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Dan Ekowisata Fakultas
Kehutanan Institut Pertanian Bogor.