Anda di halaman 1dari 20

DATA PRIBADI

NAMA : KHADIJAH HANUN BARAQBAH


NIM : 1813015202

PRODI : S1 2018

JURUSAN : Farmasi

SEMESTER : III

KELAS : B2

LABORATORIUM FARMAKOLOGI

PRAKTIKUM BIOMEDIS II

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS MULAWARMAN SAMARINDA


2019
PRAKTIKUM KE-1

SISTEM KARDIOVASKULAR DAN BMI

TUJUAN PERCOBAAN
1. Mahasiswa mampu mengukur kenormalan tekanan darah, denyut nadi,
bunyi jantung, irama jantung dalam berbagai kondisi

2. Mahasiswa mampu mengukur BMI dan mengaitkan BMI dengan resiko


penyakit kardiovaskular

3. Mahasiswa mampu mengidentifikasi berbagai kondisi patologis sistem


kardiovaskular dari jenis kerusakan organ dan histopatologi jaringannya

DASAR TEORI
Dasar teori mengenai sistem kardiovaskular telah disampaikan di perkuliahan
teori Biomedis I, dan mekanisme patofisiologinya akan diperdalam di MK Biomedis
II. Maka, praktikum ini akan lebih berfokus pada ketrampilan cek kesehatan dan
analisis hasil yang berkaitan dengan sirkulasi darah, ditambah dengan BMI.
Kondisi ketidaknormalan pada tingkat organ, jaringan, dan sel pada penyakit yang
berkaitan dengan sistem ini akan disimulasikan dengan alat peraga gambar.

ALAT DAN BAHAN :


1. Sfigmomanometer/Tensimeter air raksa dan tensimeter digital
2. Stethoskop
3. Timbangan badan
4. Pengukur tinggi badan
5. Timer
CARA KERJA
A. Cara Pengukuran Tekanan Darah Arteri secara tidak langsung
A.1 Cara Palpasi (Perabaan) :
1. Memberi penjelasan bahwa akan dilakukan pengukuran tekanan darah.
2. Mempersilahkan sukarelawan untuk beristirahat selama 10 menit.
3. Mempersilahkan sukarelawan duduk kembali.
4. Memasang manset di salah satu lengan 2-3 cm di atas fosa cubiti.
Manset dipasang dalam keadaan tidak longgar / terlalu ketat.
5. Menetapkan posisi air raksa pada posisi 0 mmHg.
6. Meraba arteri radialis.
7. Memompa air raksa sampai denyut arteri radialis tidak teraba lagi.
8. Meningkatkan air raksa 10-30 mmHg di atas posisi pada saat arteri
radialis tidak teraba.
9. Menurunkan air raksa perlahan sampai denyut arteri radialis mulai
teraba lagi.
10. Menentukan tekanan sistol orang percobaan.
11. Menurunkan air raksa sampai 0 mmHg.
12. Mengulangi langkah 6 sampai 11 dengan sebanyak 2 kali.
13. Menetapkan tekanan sistol rata-rata dari 3 kali pengukuran dengan benar.

1. Memberi petunjuk bahwa akan dilakukan pengukuran tekanan darah.


2. Mempersilahkan sukarelawan beristirahat selama 10 menit.
3. Mempersilahkan sukarelawan duduk kembali.
4. Memasang manset di salah satu lengan 2-3 cm di atas fosa cubiti.
Usahakan manset terpasang dalam keadaan tidak longgar/ terlalu ketat.
5. Menetapkan posisi air raksa pada posisi 0.
6. Meraba arteri brakialis dan arteri radialis.
7. Memompa air raksa sambil meraba arteri radialis/brakialis.
8. Memasang stetoskop di atas arteri brakialis.
9. Meningkatkan air raksa perlahan sambil mendengarkan bunyi.
10. Menetapkan tekanan sistol dan diastol berdasarkan kelima fase korotkof.
11. Menurunkan air raksa sampai 0.
12. Mengulangi langkah 7 sampai 11 dengan benar sebanyak 2 kali.
13. Menetapkan tekanan sistol dan diastol rata-rata dari 3 kali
pengukuran benar.

B. Pengukuran Tekanan Darah Arteri brakialis pada Sikap Berbaring,


Duduk dan Berdiri
B.1 Berbaring terlentang
1. Sukarelawan berbaring terlentang dengan tenang selama 10 menit.
2. Selama menunggu, memasang manset sfigmomanometer pada lengan
kanan atas sukarelawan
3. Mencari dengan palpasi denyut arteri brakhialis pada fossa cubiti dan
denyut arteri radialis pada pergelangan tangan sukarelawan.
4. Setelah sukarelawan berbaring 10 menit, menetapkan kelima fase
korotkof dalam pengukuran tekanan darah sukarelawan tersebut
5. Mengulangi pengukuran sebanyak 3 kali.

1. Tanpa melepas manset, sukarelawan disuruh duduk.


2. Menunggu 3 menit.
3. Kemudian mengukur lagi tekanan darah pada saat sukarelawan duduk.
4. Mengulangi pengukuran sebanyak 3 kali.

1. Tanpa melepaskan manset sukarelawan diminta berdiri.


2. Setelah ditunggu 3 menit ukur kembali tekanan darah dengan cara
yang sama.
3. Mengulangi pengukuran sebanyak 3 kali.
4. Membandingkan hasil pengukuran tekanan darah sukarelawan pada
ketiga sikap yang berbeda di atas.
C. Pengukuran Tekanan Darah Sesudah Kerja Otot
1. Mengukur tekanan darah arteri brankhialis sukarelawan dengan
penilaian menurut metode baru pada sikap duduk (sukarelawan tak
perlu yang sama seperti pada B)
2. Tanpa melepaskan manset suruhlah sukarelawan berlari ditempat
dengan frekuensi ±120 loncatan/ menit selama 2 menit. Segera setelah
selesai sukarelawan disuruh duduk dan ukurlah tekanan darahnya.
3. Mengulangi pengukuran tekanan darah ini tiap menit sampai tekanan
darahnya kembali seperti semula.
4. Mencatat hasil pengukuran tersebut

B. PEMERIKSAAN BUNYI JANTUNG

1. INSPEKSI

Bentuk dada :

Normal = simetris

Menonjol = pembesaran jantung, efusi pleura, tumor

Pemeriksaan Denyut jantung

Dengarkan jumlah kekuatan denyut jantung pada apeks atau pada ICS 5
midklavikula kiri menggunakan stetoskop. Denyutan meningkat jika curah
jantung besar atau terjadi hipertrofi jantung. Jumlah denyutan normal = 60-
100x per menit. Catat jumlah denyut jantung sukarelawan.
2. AUSKULTASI

Bunyi jantung I (S1) terdengar saat terjadi penutupan katub mitral dan trikuspidalis

Bunyi jantung II (S2) terdengar saat terjadi penutupan katub aorta dan pulmonal

Jarak S1 – S2 : 1 detik atau kurang, S1 lebih keras dari S2

Tempat mendengarkan bunyi jantung :

Katub mitral : Linea midklavikula kiri ICS 5

Trikuspidalis : Linea sterna kiri ICS 4

Aorta : Linea sterna kanan ICS 2

Pulmonalis : Linea sterna kiri ICS 2

C. DENYUT NADI

Dengan menggunakan 2 jari yaitu telunjuk dan jari tengah, atau 3 jari,
telunjuk, jari tengah dan jari manis jika kita kesulitan menggunakan 2 jari.
Temukan titik nadi (daerah yang denyutannya paling keras), yaitu nadi
karotis di cekungan bagian pinggir leher kira-kira 2 cm di kiri/kanan garis
tengah leher ( kira-kira 2 cm disamping jakun pada laki-laki ), nadi radialis
di pergelangan tangan di sisi ibu jari. Setelah menemukan denyut nadi, tekan
perlahan kemudian hitunglah jumlah denyutannya selama 15 detik, setelah
itu kalikan 4, ini merupakan denyut nadi dalam 1 menit ,Sedangkan untuk
mengetahui kekuatan denyut nadi maksimal yaitu dengan rumus:

Nadi Max = 80% x (220 – umur )


D. Body Mass Index (BMI)

BMI merupakan acuan keseimbangan proporsi antara berat badan


dengan tinggi badan manusia.

Rumusnya adalah (BERAT BADAN(KG))/(TINGGI BADAN dalam


2
satuan meter)

Pengkategoriannya sebagai berikut:

Kategori BMI
Underweight <18,5
Normal weight 18,5-24,9
Overweight 25-29,9
Obesity ≥30

KONDISI KETIDAKNORMALAN ORGAN, JARINGAN DAN SEL


YANG BERKAITAN DENGAN KARDIOVASKULAR

Anda akan mendapatkan gambar-gambar yang menunjukkan posisi


bagian yang tidak normal pada beberapa jenis kondisi penyakit atau gangguan
kardiovaskular. Cermati baik-baik gambar tersebut kemudian salin di kertas
kosong. Gambar-gambar yang disediakan laboratorium sebagian besar diambil
dari buku elektronik Robbin’s Basic of Pathophysiology.
E. HASIL YANG DIPEROLEH

A. Pengukuran tekanan darah

Nama Pengukuran TD tak TD pada 3 posisi TD setelah kerja


Sukarelawan langsung otot

Palpasi Auskultasi Berbaring Duduk Berdiri


P1 80 104/73 99/65 109/76 98/71 126/75
P2 90 95/63 114/77 103/70 119/75 131/78
P3 87 105/70 108/64 105/74 120/76 -
P4 90 92/59 97/58 102/68 106/65 108/67
P5 90 112/68 95/71 114/77 123/75 146-80
P6 80 - 112/57 122/70 122/71 129/77

B. Pemeriksaan bunyi jantung

Nama Inspeksi Denyut Bunyi jantung I Bunyi jantung II


sukarelawan jantung terdengar tidak terdengar tidak
(x/menit)

P1 92/menit ✓ ✓

P2 96/menit ✓ ✓

P3 96/menit ✓ ✓

P4 96/menit ✓ ✓

P5 88/menit ✓ ✓
C. Pemeriksaan denyut nadi

Nama Usia Denyut nadi/menit Nadi max Keterangan


sukarelawan

P1 20 124/menit 160/menit Karotis


84/menit 160/menit Radialis
P2 19 96/menit 160,8/menit Karotis
88/menit 160,8/menit Radialis
P3 19 84/menit 160,8/menit Karotis
88/menit 160,8/menit Radialis
P4 17 100/menit 162,4/menit Karotis
108/menit 162,4/menit Radialis
P5 19 100/menit 160,8/menit Karotis
100/menit 160,8/menit Radialis
P6 18 96/menit 161,6/menit Karotis
96/menit 161,6/menit Radialis
D. Pemeriksaan BMI
Nama Berat badan Tinggi badan BMI Kategori
(kg) (m)

P1 52 1,501 23,1 Normal


P2 80 1,674 28,5 Overweight
P3 45 1,53 19,23 Normal
P4 115 1,725 38,59 Obesitas
P5 37 1,475 17,01 Underweight
P6 57 1,653 20,88 Normal
P7 58 1,633 21,8 Normal
P8 45 1,445 20,26 Normal
P9 39 1,46 18,2 Underweight
P10 63 1,53 26,9 Overweight
P11 54 1,58 21,63 Normal
P12 63 1,55 26,05 Overweight

F. GAMBAR ORGAN, JARINGAN, DAN SEL YANG RUSAK BERKAITAN


DENGAN PATOFISIOLOGI GANGGUAN KARDIOVASKULAR
G. PEMBAHASAN
Sistem peredaran darah pada Manusia (Sistem Kardiovaskuler) atau
system sirkulasi adalah system Organ yang memungkinkan darah beredar ke
seluruh tubuh. Darah beredar keseluruh tubuh dengan membawa nutrisi yang
seperti elektrolit dan asam amino, oksigen karbon dioksida, menstabilkan suhu,
pH dan mempertahankan Homeostatis.
(kirnantoro, 2014).
Sistem kardiovaskuler juga merupakan suatu sistem transport tertutup
yang terdiri dari:
1) Jantung, yang berfungsi sebagai pemompa yang melakukan tekanan terhadap darah
agar dapat mengalir ke jaringan; 2) Pembuluh darah, berfungsi sebagai saluran yang
digunakan agar darah dapat didistribusikan ke seluruh tubuh; 3) Darah, berfungsi
sebagai media transportasi segala material yang akan didistribusi ke seluruh tubuh.
Ada dua jenis sistem peredaran darah yaitu sistem peredaran darah terbuka dan sistem
peredaran darah tertutup. Sistem peredaran darah, yang merupakan bagian dari
kinerja jantung dan jaringan pembuluh darah (sistem kardiovaskuler) dibentuk. Sistem
ini menjamin kelangsungan hidup organisme, didukung oleh metabolisme setiap sel
dalam tubuh dan mempertahankan sifat kimia dan fisiologi cairan tubuh .

(Irianto,2017).
Darah diedarkan keseluruh tubuh oleh jantung. Darah juga dipompa ke semua
bagian tubuh oleh kontraksi jantung. Jantung berkontraksi untuk memompakan darah
sepanjang hidup tanpa berhenti untuk kelangsungan hidup seseorang. Berhentinya
jantung adalah salah satu tanda kematian seseorang. Seluruh zat makanan diedarkan
oleh suatu sistem transport keseluruh bagian tubuh. Body mass index (BMI) adalah
suatu angka yang menyatakan perbandingan antara berat badan dan tinggi badan
manusia dewasa. Angka ini yang umum digunakan untuk menyatakan seseorang
mempunyai tubuh yang kurus,ideal, atau terlalu gemuk (Ansel,2006).

Pada percobaan sistem kardiovaskuler dan BMI dilakukan pengukuran


tekanan darah, pemeriksaan bunyi jantung, denyut nadi dan BMI. Adapun
tujuan dari percobaan ini yaitu mampu mengukur kenormalan tekanan darah,
denyut nadi, bunyi jantung, dan irama jantung dalam berbagai kondisi, mampu
mengukur BMI dan mengaitkan BMI dengan resiko penyakit kardiovaskuler,
mampu mengidentifikasi berbagai kondisi patologi sistem kardiovaskuler dari
jenis kerusakan organ dan histopatologi jaringannya.

Tahap pertama dilakukan pengukuran tekanan darah secara tidak langsung


dengan cara palpasi dan auskultasi dengan 3 sikap yaitu berbaring, duduk, berdiri dan
pengukuran tekanan darah sesudah kerja otot menggunakan sfigmomanometer.
Pemeriksaan tekanan darah di saran kan untuk memeriksa relawan di ulangi sebanyak
2-3 kali agar mendapatkan data yang akurat dibandingkan dengan pengecekan satu
kali ( Irianto, 2017).

Pada cara palpasi dengan meraba arteri radialis dan memompa tensimeter
hingga arteri tidak teraba lagi. Kemudian tingkatkan tensi meter 10-30 mmHg
lalu tentukan tekanan sistol relawan tersebut di peroleh data yang menunjukkan
keadaan tekanan sistol yang rendah 80-90 mmHg, dimana tekanan sistol normal
120 mmHg (Irianto,2017).
Hasil data yang diperoleh bisa saja terjadi kesalahan pada saat praktikum baik
dari kesalah praktikan maupun alat yang digunakan. Cara auskultasi untuk mengukur
tekanan sistol dan diastol, pertama menempatkan posisi tensimeter pada posisi 0 mmHg
kemudian meraba arteri brakialis dan radialis lalu memompa tensimeter sambil
meraba arteri brakialis dan radialis dan memasang stetoskop diatas arteri brakialis
kemudian meningkatkan tensimeter perlahan sambil mendengarkan bunyi
lalu menetukan tekanan sistol dan diastole relawan tersebut. Hasil yang diperoleh 6
relawan menunjukkan tekanan darah rendah dibawah normal. Di mana keadaan
normal tekanan darah yaitu 120/80 mmHg. Tekanan darah setiap orang berbeda-beda,
orang dengan tekanan darah rendah kurang baik, hal tersebut kurang tepat sebab data
statistik menunjukkan bahwa orang dengan tekanan darah rendah mempunyai usia
yang sama dianggap normal ( Irianto, 2017 ). Pengukuran
tekanan darah dengan 3 posisi berbaring, duduk, berdiri dan tekanan darah
sesduah kerja otot. Pengukuran tekanan darah pada saat berdiri lebih tinggi
tekanan darahnya karena adanya gaya gravitasi yang menaikkan tekanan
hidrostatik vena yang ada dikaki sehingga pengisian antrium kanan jantung
berkurang dengan dengan sendirinya curah jantung juga berkurang. Sedangkan
pada saat berbaring tekanan darah lebih rendah dibandingkan berdiri karena
tidak adanya gaya gravitasi dan tubuh dan tubuh tidak melakukan aktivitas.
Pengukutan tekanan darah pada saat kerja otot menunjukkan hasil kenaikan
tekanan sistol dan diastole yang sangat besar dimana peningkatan tekanan
darah ini merupakan respon dari sistem kardiovaskular terhadap adanya
kontrksi otot. Kerja ini untuk mengangkut oksigen yang dibutuhkan oleh otot
untuk melakukan kontraksi selama melakukan aktivitas ( Irianto, 2017 ).
Pemeriksaan bunyi jantung di lakukan dengan cara mendengarkan
kekuatan denyut jantung pada ICS 5 midklavikula kiri menggunakan stetoskop.
kemudian terdapat bunyi dari detak jantung yang menghasilkan 2 suara berbeda
yang dapat didengarkan pada stetoskop yang sering dinyatakan dengan lub-dub.
Suara lub disebabkan oleh penutupan katup tricuspid dan mitral
(atrioventrikular) yang memungkinkan aliran darah dari serambi jantung (atria)
ke bilik jantung (ventricle) dan mencegah aliran balik.

Umumnya hal ini disebut suara jantung pertama (S1), yang terjadi hampir

bersamaan dengan timbulnya QRS dari elektrokardiogram dan terjadi sebelum

periode jantung berkontraksi (systole). Suara dub disebut suara jantung ke-dua (S2)
dan disebabkan oleh penutupan katup semilunar (aortic dan pulmonary) yang
membebaskan darah ke sistem sirkulasi paru-paru dan sistemik. Katup ini tertutup
pada akhir systole dan sebelum katup atrioventikular membuka kembali. Suara S2
ini terjadi hampir bersamaan dengan akhir gelombang T, suara jantung ke-tiga (S3)
sesuai dengan berhentinya pengisian atrioventikular, sedangkan suara jantung ke-
empat (S4) memiliki korelasi dengan kontraksi atria. Suara S4 ini memiliki
amplitudo dan komponen frekuensi rendah (Antonisfia,2008).

Nadi adalah denyut nadi yang teraba pada dinding pembuluh arteri
berdasarkan tekanan sistol dan diastole dari jantung. Pemeriksaan denyut nadi dengan
cara meletakkan 2 jari telunjuk dan jari tengah. Tentukan titik nadi (daerah yang
denyutnya paling keras), yaitu nadi karotis di cekungan bagian pinggir leher, nadi
radialis di pergelangan tangan di sisi ibu jari. Setelah menemukan denyut nadi, tekan
perlahan kemudian hitunglah denyut nadi selama satu menit. Jumlah denyut nadi yang
normal berdasarkan usia seseorang. Di mana pada pengecekan dari 6 relawan
menunjukkan hasil normal , hasil normal ditunjukkan pada denyut nadi yang tidak
melebihi hasil denyut nadi maksimal. Denyut nadi normal dewasa 60-100x per menit.
Namun denyut nadi bisa lebih cepat jika seseorang dalam keadaan ketakutan, habis
ber olahraga, atau sakit panas (Irianto,2017).

Pengukuran BMI menggunakan acuan berat badan dengan tinggi badan


manusia yang dihitung dengan rumus : (BERAT BADAN(KG))/(TINGGI BADAN

dalam satuan meter)2. Pengukuran BMI yang dilakukan dengan 12 relawan


menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Di mana 3 relawan menunjukkan hasil
overweight termasuk dalam kategori kelebihan berat badan tingkat ringan, 1 relawan
obesitas termasuk dalam kategori kelebihan berat badan tingkat berat, 1 relawan
underweight termasuk dalam kategori kekurangan berat badan tingkat ringan dan 7
relawan lainnya menunjukkan hasil normal. Walaupun BMI sangat berguna untuk
menghitung overweight dan obesitas dalam suatu populasi untuk laki-laki dan
perempuan, namun pengukurannya termasuk masih kasar karena tidak
merespons pada derajat kegemukan yang setara pada individu yang berbeda.

Kaitan mempelajari sistem kardiovaskuler dengan kefarmasian yaitu


mempelajari sistem peredaran darah. Fungsi dari mempelajari ilmu ini dalam farmasi
ialah kita dapat tahu perjalanan darah dari jantung hingga keseluruh tubuh. karena
yang membawa obat ke reseptor adalah darah. Berarti jika kita mempelajari
perjalanan darah kita juga dapat mempelajari perjalanan obat didalam tubuh apakah
sudah tercerna dengan baik atau belum, agar tidak menjadi toxic.
H. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Sistem peredaran darah pada Manusia (Sistem Kardiovaskuler) atau system
sirkulasi adalah system Organ yang memungkinkan darah beredar ke
seluruh tubuh. Darah beredar keseluruh tubuh dengan membawa nutrisi
yang seperti elektrolit dan asam amino, oksigen karbon dioksida,
menstabilkan suhu, pH dan mempertahankan Homeostatis
2. Pengukuran tekanan darah, denyut nadi, bunyi jantung, irama jantung
dalam berbagai kondisi. Data yang di peroleh pada pengukuran tekanan
darah menunjukkan keadaan normal 120/80 mmHg. Pengukuran denyut
nadi menunjukkan hasil normal dimana hasil tidak menunjukkan nilai nadi
maksimum. Pengukuran bunyi jantung menunjukkan hasil normal dimana
denyut jantung normal 60-100x per menit.
3. Mengukur BMI dengan cara : (BERAT BADAN(KG))/(TINGGI BADAN dalam
2
satuan meter) . Hasil data yang diperoleh memiliki hasil yang berbeda-beda,
satu relawan menunjukkan hasil obesitas dimana dengan BMI sebesar
38,59. Kelebihan BMI dapat mempengaruhi tekanan darah , pengukuran
denyut nadi dan irama jantung.
4. Pengidentifikasian dapat dilakukan saat kita mengetahui bahwa ada
kerusakan/ ketidaknormalan pada organ dalam sistem kardiovaskular.
Contohnya saat nilai tekanan darah terlalu tinggi.
I. PERTANYAAN
1. Gangguan apa saja yang dapat muncul akibat ketidaknormalan pada bunyi
jantung dan tekanan darah? jelaskan
Jawab :
a. ketidaknormalan bunyi jantung, Aritmia adalah variasi – variasi di
luar irama normal jantung berupa kelainan pada kecepatan, keteraturan,
tempat asal impuls, atau urutan aktivasi, dengan atau tanpa adanya penyakit
jantung struktural yang mendasari. Prevalensi penyakit jantung di Indonesia
pada populasi usia 15 tahun ke atas adalah 9,2%, dimana 5,9 % diantaranya
mengalami gejala aritmia.Hormon tiroid memiliki hubungan secara langsung
dan tidak langsung terhadap miokardium dan mempengaruhi sistem saraf
otonom pada jantung yang menyebabkan terjadinya gangguan irama jantung
(widjaja,2017).
b. penyakit jantung coroner (PJK) yang sebagai salah satu faktor
pencetus penyakit yaitu DM yang naiknya kadar gula dalam darah akibat
kondisi insulin yang tidak mampu memecah glukogen dalam darah sehingga
memicu kerja jantung dan menurunkan fungsi ginjal
(Rahayu,2015).

2. Penyakit apa saja yang dapat muncul dari kerusakan pada pembuluh darah?
Sel dan jaringan spesifik apa yang mengalami kerusakan?
Jawab :
penyakit yang muncul akibat dari kerusakan pada pembuluh darah
diantaranya aneurisma aorta penggelembungan di dinding aorta yang bisa pecah dan
menyebabkan pendarahan bahkan kematian, aterosklerosis adalah penyempitan atau
pengerasan pembuluh darah karena adanya penumpukan lemak dan zat sisa lainnya di
dinding pembuluh arteri, varies adalah pembuluh vena yang membengkak dan tampak
menonjol di permukaan kulit karena katup vena tidak menutup dengan benar yang
berakibatkan peningkatan tekanan membuat pembuluh vena membesar, serta
penyakit stroke yaitu kematian jaringan otak karena berkurangnya aliran darah
dan oksigen ke otak akibat sumbatan, penyempitan atau pecahnya pembuluh darah.
Stroke terbagi menjadi dua yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik. Stroke
iskemik adalah tersumbatnya pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah ke
otak sebagian atau seluruhya terhenti sedangkan stroke hemoragik adalah stroke
akibat pecahnya pembuluh darah otak (Wihastuti,2016).

3. Apa kaitan BMI dengan penyakit


metabolik? Jawab :
Kaitan BMI (body Mass index) Besar nilai BMI seseorang dapat menjadi risiko
mereka untuk terkena penyakit Metabolik, terutama pada orang- orang dalam kategori
obesitas. Pada orang- orang dengan obesitas ini, kerja jantungnya lebih besar apabila
dibandingkan dengan orang-orang non-obes dan dapat menyebabkan hipertrofi dari
organ ini seiring dengan penambahan berat badan. Dan dari penyakit jantung inilah
memicu munculnya penyakit stroke, diabetes mellitus hingga jantung
koroner (Rahayu,2015).
DAFTAR PUSTAKA

Antofisia,Yul dan Romi Wiryadinata.2008. ekstraksi ciri pada isyarat suara


jantung menggunakan power spectral density berbasis metode welch.
Jurnal media informatika poliklinik negeri malang vol 6 :(1)

Ansel, Howard C dkk. 2006. Pharmaceutical Calculations: The Pharmacist’s

Handbook. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

irianto, Koes. 2017. Anatomi dan Fisiologi. Bandung : Alfa Beta

Kirnantoro.2014. Anaomi Fisiologi. Yogyakarta : Pustaka Baru press

Rahayu, Mulya Sri.2015. Hubungan indeks massa tubuh dengan penyakit

jantung koroner.jurnal kedokteran universitas malikussaleh

Robbins. 2007. Buku Ajar Patologi. Jakarta: EGC

Widjaja, Daniella Karen,dkk.2017.Gambaran Gangguan irama jantung

yang disebabkan hipertiroid.jurnal kedokteran diponegoro vol 6:(2)

Wihastuti, titin andri dkk. 2016. Patofisiologi dasar keperawatan penyakit

jantung koroner : inflamasi vascular. Malang : UB Press