Anda di halaman 1dari 3

PELITA HADITS NO 43

Oleh: Rizkia Azhari

Matan Hadits:

ْ ‫علَى اَ ْل ُم‬
‫س ِل ِم‬ َ ‫س ِل ِم‬ْ ‫ق ا َ ْل ُم‬
ُّ ‫ّللَاِ صلى هللا عليه وسلم ( َح‬ ‫سو ُل َ ه‬ ُ ‫ع َْن أ َ ِبي ُه َر ْي َرةَ رضي هللا عنه قَا َل َر‬
‫س فَ َح ِم َد َ ه‬
َ‫ّللَا‬ َ ‫ع‬
َ ‫ط‬ َ ‫ َوإِذَا‬,ُ‫ص َحكَ فَا ْنصَحْ ه‬ ْ ِ‫ َوإِذَا ا‬,ُ‫ َوإِذَا َدعَاكَ فَأ َ ِج ْبه‬,‫ع َل ْي ِه‬
َ ‫ست َ ْن‬ َ َ‫ إِذَا َل ِقيتَهُ ف‬: ٌّ‫ست‬
َ ‫س ِل ْم‬ ِ
ْ ‫ َوإِذَا َماتَ فَاتْبَ ْعهُ ) َر َواهُ ُم‬,ُ‫ض فَعُ ْده‬
‫س ِلم‬ َ ‫س ِمتْهُ َوإِذَا َم ِر‬ َ َ‫ف‬
Terjemah Hadits:

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Hak
seorang muslim terhadap sesama muslim ada enam, yaitu bila engkau berjumpa dengannya ucapkanlah
salam; bila ia mengundangmu penuhilah; bila dia meminta nasehat kepadamu nasehatilah; bila dia
bersin dan mengucapkan alhamdulillah bacalah yarhamukallah (artinya = semoga Allah memberikan
rahmat kepadamu); bila dia sakit jenguklah; dan bila dia meninggal dunia hantarkanlah (jenazahnya)".
[HR. Muslim]

Intisari Hadits:

1. Secara zahir hadits ini menyatakan hukum hak-hak itu wajib dilaksanakan, tetapi Ibn Hajar
berpendapat bahwa wajib di sini bermaksud wajib kifayah.
Menurut Al-Shan’ani bahwa hak adalah suatu perkara yang tidak boleh sama sekali diabaikan.
Kadang kala wajib dilakukan dan kadang kala pula sunnah muakkad dilaksanakan. Melaksanakan
hak di sini ada kemungkinan memiliki dua makna sekaligus seperti mana dikatakan oleh Ibn al-Arabi
bahawa hak itu sama dengan kewajiban.
2. Disyariatkan mengucapkan salam ketika bertemu dengan seorang muslim. Ibn Abdul Badr
menegaskan bahwa ulama bersepakat memulakan salam hukumnya sunnah dan menjawabnya
wajib. Menurut Ibnu Hajar tidak ada ulama yang berbeda pendapat mengenai masalah ini. Adapun
anjuran yang diajarkan Rasulullah bagi yang mesti memulakan salam yakni:
a) Orang yang berkendaraan memberikan salam kepada orang yang berjalan.
b) Orang yang berjalan kepada orang yang duduk.
c) Rombongan yang sedikit kepada rombongan yang banyak.
3. Zahir hadits ini menunjukkan wajibnya memenuhi setiap undangan, terutama undangan walimah
dan semisalnya, sebagaimana yang disebutkan oleh para Ulama. Pendapat paling kuat bahwa
memenuhi undangan walimah hukumnya wajib. Adapun selain undangan walimah hukumnya
sunnah. Alasannya, karena adanya ancaman keras bagi yang tidak memenuhi undangan walimah
sementara undangan lainnya tidak ada yang memberi ancaman.
4. Pada dasarnya memberikan nasihat hukumnya tidak wajib kecuali jika diminta dan apabila tidak
diminta maka hukumnya sunnah. Karena hal ini termasuk memberitahu orang lain kebaikan.
5. Disyariatkan menjawab orang bersin jika dia mengucap Alhamdulillah. Inilah Pendapat mazhab
Zahiri dan sebahagian mazhab Maliki. Ulama yang lain pula berpendapat hukum menjawab orang
bersin adalah fardhu kifayah. Pendapat ini dinilai kuat oleh Ibn al-‘Arabi dan merupakan pendapat
mazhab Hanafi dan kebanyakan mazhab Hanbali.
6. Disyariatkan melawat orang sakit. Al-Bukhari menyatakan perintah ini adalah wajib, namun beliau
tidak menjelaskan apakah ia wajib kifayah atau wajib ‘ain. Jumhur ulama pula mengatakan hukum
melawat orang sakit sunnah. Ibn Hajar mengatakan lawatlah orang sakit sama ada dia dikenali
ataupun tidak, sama ada ahli keluarga atapun tidak dan tanpa mengira jenis penyakitnya.
7. Disyariatkan melayat jenazah sama ada dikenal atau tidak. Ulama sepakat hukum melayat jenazah
adalah fardhu kifayah.

Wallahu A'lam bi al-Shawwab

PELITA HADITS NO 44

Oleh: Raja Syahrul Muaripul Adha

Matan Hadits

‫ظ ُروا ِإلَى َم ْن‬ ُ ‫ّللَا صلى هللا عليه وسلم ( ا ْن‬ ِ ‫ ُُ َ ه‬e‫سول‬ ُ ‫ قَا َل َر‬:‫َوع َْن أ َ ِبي ُه َر ْي َرةَ رضي هللا عنه قَا َل‬
‫ع َل ْي ُك ْم ) ُمت ه َفق‬ ‫ فَ ُه َو أ َجْ د َُر أ َ ْن ََل ت َ ْزد َُروا نِ ْع َمةَ َ ه‬,‫ظ ُروا إِلَى َم ْن ُه َو فَ ْوقَ ُك ْم‬
َ ِ‫ّللَا‬ ْ َ ‫ُه َو أ‬
ُ ‫ َو ََل ت َ ْن‬,‫س َف َل ِم ْن ُك ْم‬
‫علَ ْي ِه‬
َ
Terjemah Hadits:

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah _Shallallaahu 'alaihi wa Sallam_ bersabda:
"Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu karena hal itu
lebih patut agar engkau sekalian tiak menganggap rendah nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu."
Muttafaq Alaihi.

Penjelasan Kalimat:

Maksud dari kalimat * _Ajdar_ * disana adalah lebih berhak dan lebih berakhlak agar kamu tidak
meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.

Intisari Hadits:

Zhahir hadits ini menganjurkan kepada kita selaku seorang muslim untuk senantiasa mensyukuri Nikmat
Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Zhahir hadits ini juga menganjurkan kepada kita selaku seorang muslim untuk senantiasa bersifat
*Qana’ah* dan *Ridha* terhadap segala Karunia yang telah Allah Subhaanahu wa Ta’ala berikan. Maka
ُ ‫ِم ْن‬
ini sesuai dengan sabdanya: ‫ك ْم‬ ‫ظ ُروا ِإلَى َم ْن ُه َو أ َ ْس َف َل‬
ُ ‫ ا ْن‬, dan maskud melihat orang yang berada di
bawah kita yaitu dalam urusan duniawi, karena sesungguhnya setiap hamba, bagaimanapun fakirnya
tetap saja ada orang-orang yang berada di bawah mereka dan demikian pula seterusnya. Dengan
demikian akan menjadikan diri seorang muslim merenungi dengan benar hakekat dari Karunia Allah,
maka ia akan mengetahui betapa besarnya Karunia Allah Ta’ala yang telah diberikan kepadanya.

3. ✍ Adapun terhadap urusan ukhrawi (keagamaan), beliau memerintahkan untuk memperhatikan


orang yang berada di atas kita, yaitu kita melihat kepada orang yang memiliki kualitas agama yang lebih
tinggi. Sehingga kita merasa bahwa diri kita adalah seorang yang masih diliputi oleh banyak kekurangan,
serta hendaklah kita merasa iri terhadap orang-orang yang lebih dari diri kita. Allah Subhaanahu wa
Ta’ala berfirman :

ْ ‫ض أ ُ ِعد‬
َ‫َّت ِل ْل ُمتَّقِين‬ ُ ‫س َم َاواتُ َو ْاْل َ ْر‬
َّ ‫ض َها ال‬ َ ‫عوا إِلَ ٰى َم ْغ ِف َرةٍ ِمن َّربِ ُك ْم َو َجنَّ ٍة‬
ُ ‫ع ْر‬ ُ ‫ار‬
ِ ‫س‬َ ‫َو‬
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit
dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”

(QS. Aali Imraan: 133)

َ‫سا ِبقُون‬ ِ ‫ارعُونَ فِي ْال َخي َْرا‬


َ ‫ت َو ُه ْم لَ َها‬ ِ ‫س‬َ ُ‫أُو ٰلَئِ َك ي‬
“Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera
memperolehnya.”

(QS. AlMu’minun:61)

4. ✍ Zhahir hadits ini juga membagi cara memandang seorang muslim kepada dua:

Yang Pertama, menimbulkan rasa syukur terhadap nikmat dan karunia Allah _Ta’ala_, sedangkan Yang
Kedua, ini menimbulkan rasa malu terhadap Allah sehingga membukakan kembali pintu taubat dan
penyesalan atas maksiat yang telah ia lakukan. Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah
_Radhiyallahu ‘Anhu_ bahwasanya Rasulullah _Shallallaahu 'alaihi wa Sallam_ bersabda: “Apabila salah
seorang diantara kalian melihat seseorang yang memiliki harta dan anak lebih banyak pada dirinya,
maka lihatlah orang yang ada di bawanya."

🕋 Wallaahu A'lam bi al-Shawwab