Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pekerjaan persiapan


2.1.1 Pekerjaan Pembersihan Lokasi
Pekerjaan ini adalah hal penting dari pekerjaan pendahuluan agar dalam
proses pembangunan tidak terganggu dan tidak terjadi efek yang tidak diinginkan.
Lokasi harus berish dari sampah, rumput liar, pohon, akar pohon, yang bisa
menggangu kesetabilan tanah dari unsur yang bisa membusuk, sehingga tidak
terjadi penurunan permukaan tanah akibat beban bangunan.Lahan yang harus
dibersihkan sesuai dengan ukuran tanah dari perencanaan pembangunan rumah.
2.1.2 Pembangunan Bedeng dan Gudang
Kenapa harus membangun bedeng, karena tujuannya adalah untuk tempat
tinggal sementara bagi tukang dan pekerja selama pelaksanaan pembangunan.
Sedangkan gudang adalah tempat penyimpanan material bangunan agar terlindung
dari hujan dan panas ataupun menghindari agar tidak hilang. Pembangunan bedeng
dan gudang ini bisa saja tidak ada jika sudah ada tempat sementara bagi tukang dan
pekerja, juga untuk penyimpanan material agar terlindungi.Dan jika bangunan
bedeng dan gudang ini akan dibuat, maka material yang dibutuhkan di antaranya
balok kayu, triplek, papan, dan atap seng atau asbes
2.1.3 Persiapan Listrik dan Air Kerja
Persiapan listrik dan air tentunya untuk keperluan pembangunan rumah sejak
dari awal pekerjaan sampai akhir tidak terhambat. Akan lebih baik sumber listrik
dari sumber yang terdekat dengan tempat pembangunan. Dan jika di lokasi sulit
untuk mendapatkan sumber air Anda harus melakukan pengeboran titik air yang
kemudian disedot menggunakan jet pump. Atau juga membuat sumur tergantung
perencanaan yang sudah ada dalam gambar kera, sehingga penempatan pembuatan
sumur atau titik pengeboran sesuai dengan gambar kerja.

2
3

2.1.4 Pemasangan Bowplank


Pemasangan bouw plank adalah pekerjaan yang dilakukan sebelum
penggalian fondasi, dengan cara menarik garis lurus sepanjang lahan yang akan
dibangun dengan benang, yang dipasang di papan yang menempel di pancang kayu
balok 4/6 cm. Pemasangan bouw plank harus sesuai dengan ukuran dan tata letak
ruang yang ada di gambar denah dan di tandai dengan cat atau tinta terang pada
papan bouw plank agar kelihatan dan tidak salah menempatkan benang. Satuan
dalam perhitungan bouw plank adalah m'.

2.2 Pekerjaan pondasi


2.2.1 Pondasi Cakar Ayam
Selain pondasi batu kali sebagai pondasi menerus yang menopang bangunan
atas, terdapat pula pondasi beton setempat yang dapat menggantikan pondasi batu
kali pada rumah sederhana. Pondasi beton setempat ini umumnya lebih dikenal
dengan sebutan pondasi cakar ayam. Pondasi cakar ayam ini harus kuat, kokoh dan
stabil, karena menopang seluruh beban bangunan atas. Menurut kedalaman
pondasinya terdapat pondasi dangkal dan pondasi dalam. Pembuatan pondasi cakar
ayam ini harus memperhatikan:
- Daya dukung tanah
- tipe bangunan dan
- peruntukkanya.
Pondasi dangkal umumnya dibuat pada kedalaman 50 - 70cm, dengan ukuran
pondasi 50x50-25cm / 60x60-25cm untuk bangunan sederhana 1 lantai serta untuk
pondasi teras maupun pondasi tangga.Sedangkan pondasi dalam umumnya dibuat
pada kedalaman 80 - 100cm, dengan ukuran pondasi 80x80-25cm untuk bangunan
sederhana 2 lantai dan untuk menopang struktur bangunan utama.Pondasi cakar
ayam merupakan pondasi beton bertulang, dengan campuran beton 1 PC : 2 pasir : 3
kerikil dan besi tulangan ø12.

2.2.2 Tahapan-Tahapan Pengerjaan pondasi


Berikut adalah tahapan membuat pondasi beton setempat atau pondasi cakar
ayam:
4

a. Gali tanah pondasi cakar ayam, dengan kedalaman dan letak sesuai
perencanaan.
b. Fabrikasi besi tulangan pondasi cakar ayam, dengan ukuran sesuai perencanaan.
c. Pasang besi stik ( besi umpak ), dengan ukuran sesuai perencanaan.
d. Buat lantai kerja pondasi cakar ayam, dengan ketebalan 5cm pada lubang galian
tanah pondasi cakar ayam.
e. Letakkan besi tulangan pondasi cakar ayam diatas lantai kerja.
f. Lakukan pengecoran beton pondasi cakar ayam, dengan campuran cor beton
sesuai perencanaan.
g. Setelah pondasi cakar ayam kering dan mengeras, lakukan pemasangan
bekisting besi stik / umpak dan cor beton besi stik tersebut pada ketinggian rata
muka tanah.
h. Setelah beton stik / umpak kering dan mengeras, lepas bekisting nya dan tanah
galian dapat diurug kembali.
i. Pondasi cakar ayam telah si Buat lantai kerja pondasi cakar ayam, dengan
ketebalan 5cm pada lubang galian tanah pondasi cakar ayam.
j. ap untuk dilanjutkan ke pemasangan besi tulangan sloof

2.3 Pekerjaan Beton Bertulang


Pekerjaan ini terdiri dari pemasangan sloof dan kolom-kolom
1. Pedoman pelaksanaan
a. Adukan beton
Pengangkutan adukan beton dari tempat pengaduan ketempat pengeco harus
dilakukan dengan cara yang disetujui oleh Direksi, yaitu:
Tidak berakibat pemisahan dan kehilangan bahan-bahan.
Tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan yang menyolok antara beton yang
sudah dicor dan yang akan dicor, dan nilai slump
b. Pengecoran
5

Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan atas persetujuan tertulis


Direksi. Selama pengecoran berlangsung pekerja dilarang berdiri dan berjalan-
jalan diatas penuangan. Untuk dapat sampai ketempat-tempat yang sulit dicapai
harus digunakan papan-papan berkaki yang tidak membebani tulangan. Kaki-
kaki tersebut harus sudah dapat dicabut pada saat beton dicor. Apabila
pengecoran beton harus dihentikan, maka tempat penghentiannya harus disetujui
oleh Direksi. Untuk melanjutkan bagian pekerjaan yang diputus tersebut, bagian
permukaan yang mengeras harus dibersihkan dan dibuat kasar kemudian diberi
additive yang memperlambat proses pengerasan. Kecuali pada pengecoran
kolom, adukan tidak boleh dicurahkandari ketinggian yang lebih tinggi dari 1,5
m, artinya pengecorannya harus sebagian dari panjang yang direncanakan.
c. Mendirikan Dinding
Pasang mistar pengukur lapisan bata secara tegak lurus, ukur dengan unting-
unting.Pasang benang penarik horizontal dan ukurlah dengan alat (water pas atau
slang air).Tentukan ketebalan lapisan arah vertikal pada mistar ukur sesuai
ketebalan bata ditambah tebal spesi (6-10 mm).Pastikan bahwa ermukaan
bata/batako dalam kondisi bersih dan bebas dari debu agar adukan dapat merekat
sempurna.Mulailah pemasangan pada lapis pertama yag didahului pemasangan
adukan/spesi sebagian dasar.Lanjutkan lapis berikutnya dan kontrol ketegakan
pasangan dengan alat untin-unting.Bila terdapat sisa adukan yang menempel
tidak sempurna (melebihi ketebalan bata) maka bersihkan segera sebelum
mengeras.Rawat pasangan bata yang sudah selesai dengan melindungi dari sinar
matahari secara langsung, misalnya dengan menggunakan plastik atau
penyiraman air.

2.4 Pekerjaan dinding dan plesteran


2.4.1 Pekerjaan dinding bata merah
Metode pelaksanaan pekerjaan pasangan dinding bata dapat diuraikan sebagai
berikut
6

a. Pertama dilakukan persiapan dengan cara membersihkan area yang akan


dipasang dinding bata merah, menghitung volume pekerjaan dan kebutuhan
material yang dibutuhkan.
b. Muat marking jalur-jalur dinding dua sisi setelah dinding dan dibuat tanda
posisi kolom praktis, ring balok, dan lubang kusen.
c. Bata merah direndam dulu (sampai gelembung udaranya hilang) sebelum
dipakai untuk mengurangi penyerapan air.
d. Memasang bata merah pada jalur marking serta jalur benang acuan yang telah
dipasang pada profil kayu pada ujung jalur dinding lapis demi lapis sampai
setinggi 1 m dengan menggunakan adukan 1 pc : 5ps untuk pasangan dinding
biasa dan 1pc : 3ps untuk pasangan dinding trasram (komposisi adukan bisa
berbeda tergantung dari persyaratan yang ditetapkan).
e. Pada pelaksanaannya, adukan semen pasir tersebut diaplikasikan secara merata
ke permukaan bata merah.
f. Kemudian bata merah disusun di atas adukan mortar tersebut sambil terus
diperiksa kerataan pasangannya. Kemudian bata merah dipukul perlahan
sampai mencapai elevasi yang diinginkan.
g. Setelah tinggi pasangan bata merah mencapai 1 m kemudian dilanjutkan
dengan cor beton kolom praktis.
h. Periksa kelurusan serta vertikal pasangan bata merah, apabila sudah benar dan
sesuai dengan yang diinginkan maka lanjutkan pemasangan sampai dengan
tinggi maksimum 1 m, kemudian periksa lagi kelurusan dan vertikalnya, setelah
itu dilanjutkan cor kolom praktis dan dilanjutkan pemasangan bata merah
sampai elevasi yang ditentukan dan cor kolom praktis sampai elevasi sesuai
gambar

2.4.2 Pekerjaan plesteran


a. Pekerjaan plesteran dimulai dengan jalan membuat kepalaan plesteran pada sisi
vertikal.Kepalaan dibuat dengan cara memasang paku pada sisi atas dinding,
7

memasang lot pada paku tersebut, kemudian memasang paku di bawahnya


dengan jarak 1 atau 2 m sesuai panjang jidar/sipatan. Lakukan pemlesteran pada
vertikal, lebar 10 cm, ratakan dengan jidar. Kepalaan dibuat setiap jarak 1 m
sepanjang dinding yang akan diplester. Diamkan kepalaan plesteran paling
tidak 1 hari supaya kering.
b. Buatlah adukan plesteran dari campuran pasir, semen, dan air dengan
perbandingan sesuai spesifikasi bangunan yang ingin dibuat.Jangan lupa
perhatikan pula contoh adukan yang disarankan pada kemasan sak semen.
Penggunaan komposisi bahan bangunan yang tepat akan menghasilkan adukan
plester yang memiliki kualitas tinggi.
c. Sebelum melakukan pekerjaan plesteran, pasangan bata merah disiram atau
dibasahi dengan air.Air yang digunakan untuk membasahi dinding dan
mencampur adukan plesteran tidak boleh mengandung zat kimia seperti asam
dan garam.
d. Selanjutnya adukan plesteran dapat dikamprotkan secara merata.Proses
pengamprotan dari bawah ke atas di antara ke dua kepalaan plesteran ,setelah
itu ratakan dengan menggunakan kasut dan jidar aluminium hingga rata dan
halus. Untuk jidar yang digunakan harus lebih panjang dari jarak kepalaan
plesteran, rata dan lurus. Biarkan plesteran mengeras 3-4 hari.
e. Lakukan curing atau perawatan plesteran dengan cara dibasahi minimal 1 kali
per hari selama 3 hari.Setelah plesteran kering/keras dan rata sesuai dengan
yang diinginkan kemudian dilanjutkan dengan pekerjaan acian.Hasil plesteran
yang baik akan menentukan kualitas tampilan bangunan, baiktampak depan,
samping, maupun interior.

2.5 Kusen Pintu dan Jendela


Untuk meletakkan daun pintu atau daun jendela pada dinding, dipasang rangka
yang disebut Kusen, kusen untuk tempat tinggal terbuat dari kayu atau logam. Kusen
kayu memberikan penampilan yang hangat dan indah dari tampilan tekstur serat-serat
8

kayu yang dimilikinya, mempunyai nilai penyekat panas yang baik dan pada
umumnya tahan terhadap pengaruh cuaca. Rangka jenis ini dapat berupa produk
pabrik yang telah diselesaikan dengan pelapisan cat, pewarnaan atau masih berupa
kayu asli tanpa pelapisan. Kusen dari bahan logam berbeda dari kayu,Kusen logam
dapat terbuat dari alumunium, baja atau baja tak berkarat (stainless-steel), warna
alami logam dapat ditutup dengan lapisan cat dan dirawat engan baik untuk
mencegah korosi.Ukuran penampang batang kayu untuk rangka pintu dan jendela
adalah sebagai berikut :
 Pada pintu biasa dengan satu daun: 5/10 5/12 5/14 5/15 cm ,6/10 6/12 6/14
6/15 cm 7/12 cm
 Pada pintu rangkap dengan dua daun:8/10 8/12 8/14 8/15 cm
2.5.1 Bagian-Bagian Kusen
Kusen terdiri atas :
a. Tiang
b. Ambang (dorpel) pada kusen jendela terdapat ambang atas dan ambang bawah
sedangkan pada pintu tidak ada ambang bawah.
c. Sponneng, yaitu tempat perletakan/melekatnya daun pintu atau daun jendela.
d. Telinga, yaitu bagian ambang (dorpel) yang masuk/ditanam kedalam tembok
yang berfungsi untuk menahan gerakan kusen kemuka atau kebelakang.
e. Alur kapur, bagian dari tiang yang dialur/dicoak dengan fungsi untuk menahan
gerakan kusen kemuka atau kebelakang selain itu juga agar apabila terjadi
penyusutan, tidak timbul celah.
f. Angkur, dipasang pada tiang berfungsi untuk memperkuat melekatnya pada
tembok juga menahan gerakan ke samping.dan ke muka/ke belakang.Duk
(neut), dipasang pada tiang di bagian bawah, khusus untuk kusen pintu,
berfungsi untuk menahan gerakan tiang ke segala arah dan melindung tiang
kayu terhadap resapan air dari latai ke atas.

2.5.2 Pemasangan Kusen Pintu


9

a. Siapkan alat dan bahan secukupnya di tempat yang aman dan mudah dijangka
b. Rentangkan benang berjarak separuh dari tebal kusen terhadap as bouwplank
untuk menentukan kedudukan kusen.
c. Pasang angker pada kusen secukupnya.
d. Dirikan kusen dan tentukan tinggi kedudukan kusen pintu yaitu 2 meter dari
tinggi bouwplank.
e. Setel kedudukan kusen pintu sehingga berdiri tegak dengan menggunakan
unting-unting.
f. Pasang skur sehingga kedudukannya stabil dan kokoh.
g. Pasang patok untuk diikat bersama dengan skur sehingga kedudukan menjadi
kokoh.
h. Cek kembali kedudukan kusen pintu, apakah sudah sesuai pada tempatnya,
ketinggian dan ketegakan dari kusen.
i. Bersihkan tempat sekelilingnya.

2.5.3 Memasang daun pintu


a. Ukur lebar dan tinggi kusen pintu.
b. Ukur lebar dan tinggi daun pintu.
c. Ketam dan potong daun pintu (bila terlalu lebar dan terlalu tinggi).
d. Masukkan/pasang daun pintu pada kusennya, stel sampai masuk dengan
toleransi kelonggaran 3 – 5 mm, baik ke arah lebar maupun kearah tinggi.
e. Lepaskan daun pintu, pasang/tanam engsel daun pintu pada tiang daun pintu
(sisi tebal) dengan jarak dari sisi bagian bawah 30 cm, dan dari sisi bagian atas
25 cm (untuk pintu dengan 2 engsel), dan pada bagian tengah (untuk pintu
dengan 3 engsel)
f. Masukkan/pasang lagi daun pintu pada kusennya, stel sampai baik
kedudukannya, kemudian beri tanda pada tiang kusen pintu tempat engsel yang
sesuai dengan engsel pada daun pintu.
10

g. Lepaskan sebelah bagian engsel pada daun pintu dengan cara melepas pennya,
kemudian pasang/tanam pada tiang kusen
h. Pasang kembali daun pintu pada kusennya dengan memasangkan engselnya,
kemudian masukkan pennya sampai pas, sehingga terpasanglah daun pintu pada
kusen pintunya.
i. Coba daun pintu dengan cara membuka dan menutup.
j. Bila masih dianggap kurang pas, lepaskan daun pintu dengan cara melepaskan
pen.
k. Stel lagi sampai daun pintu dapat membuka dan menutup dengan baik, rata dan
lurus dengan kusen.

2.5.4 Memasang Daun Jendela


a. Ukur lebar dan tinggi kusen jendela.
b. Ukur lebar dan tinggi daun jendela.
c. Ketam dan potong daun jendela (bila terlalu lebar dan terlalu tinggi).
d. Masukkan/pasang daun jendela pada kusennya, stel sampai masuk dengan
toleransi kelonggaran 3 – 5 mm, baik ke arah lebar maupun kearah tinggi.
e. Lepaskan daun jendela, pasang/tanam engsel daun jendela pada tiang daun
jendela (sisi tebal) dengan jarak dari sisi bagian bawah 15-20 cm dari bagian
tepi (untuk putaran horizontal) atau engsel ditanam pada bagian ambang atas
daun jendela dengan jarak 15-20 cm dari bagian tepi (untuk putaran vertikal).
f. Masukkan/pasang lagi daun jendela pada kusennya, stel sampai baik
kedudukannya, kemudian beri tanda pada tiang/ambang atas jendela tempat
engsel yang sesuai dengan engsel pada daun jendela.
g. Lepaskan sebelah bagian engsel pada daun jendela dengan cara melepas
pennya, kemudian pasang/tanam pada tiang/ambang atas kusen
h. Pasang kembali daun jendela pada kusennya dengan memasangkan engselnya,
kemudian masukkan pennya sampai pas, sehingga terpasanglah daun jendela
pada kusen jendelanya.
11

i. Coba daun jendela dengan cara membuka dan menutup.


j. Bila masih dianggap kurang pas, lepaskan daun jendela dengan cara
melepaskan pen.
k. Stel lagi sampai daun jendela dapat membuka dan menutup dengan baik, rata
dan lurus dengan kusen.
2.5.5 Cara memasang kaca pada daun pintu/jendela adalah sebagai berikut;
a. Letakkan daun pintu/jendela dengan posisi alur terletak pada bagian atas.
Usahakan letakkan pada meja yang luasnya minimal sama dengan luas daun
pintu. Atau letakkan pada lantai yang datar.
b. Haluskan seluruh sisi kaca agar tidak tajam.
c. Pasangkan lembaran kaca dengan hati-hati, gunakan selembar karton atau kain
untuk memegang kaca.
d. Pasang paku pada list kayu sebelum dipasang pada keempat sisi daun
pintu/jendela.
e. Setelah lis terpasang, perlahan masukkan paku dengan martil.
f. Sebaiknya letakkan selembar kain di atas permukaan kaca yang sedang
dipasang lis kayu. Ini untuk menghindari goresan pada permukaan kaca karena
gerakan martil.

2.6 Pemasangan atap


Untuk memasang sebuah Genteng Beton pastinya dibutuhkan kehati-hatian serta
ketelitian yang tinggi. Berikut tips memasang genteng :
1. Kontrol ulang apakah rangka atap telah terpasang sesuai dengan spesifikasi
yangditentukan, misalnya jarak antar-usuk, jarak antar reng, ukuran kayu untuk
kuda-kuda, gording, usuk dan reng, sambungan antar kayu, dan aplikasi obat anti
rayap.
2. Pasang dahulu lisplank dan talang sebelum genteng dinaikkan.
12

3. Bila menggunakan insulasi (aluminium foil), pasanglah di atas usuk, lalu


pasangan reng.
4. Pasang satu jalur genteng terlebih dahulu dari bawah ke atas. Pemasangan harus
lurus dan rapi agar polanya menjadi rapi dan tidak berbelok-belok.
2.6.1 Faktor penunjang kekuatan struktur atap
Untuk merancang atap yang kuat dan berkualitas, struktur atapnya jua harus
kuat dan awet tanpa melupakan faktor iklim. Adapun faktor-faktor yang menunjang
kekuatan strukur atap adalah
1. Jenis material yang digunakan
2. Bentuk atap, dan
3. Proses pengerjaan
4. Jenis material
Bahan material yang akan digunakan untuk strukur atap yang kuat harus
memiliki sifat kuat, ringan, dan presisi. Atap dikatakan kuat bila mampu
menahanbesarnya beban yang berkerja pada struktur atap tersebut. Ada tiga jenis
beban yang bekerja pada atap, yaitu
1. Beban beratbsendiri yang meliputi beban bahan sruktur atap dan beban penutup
atap,
2. Beban angin, dan
3. Beban bergerak yang meliputi beban pekerja saat pemasangan dan
pemeliharaan atap.
4. Bentuk atap
Faktor yang sangat menentukan dalam pemilihan bentuk atap rumah tinggal
adalah hujan, panas, dan angin. Bentuk atap harus mampu menahan derasnya air
hujan, menahan sengatan sinarmatahari, dan menahan kuatnya dorongan angin.
Atap dikatakan baik bila mampu menahan terpaan angin yang sama dari segala arah.
Namun, ada faktor lain yang sangat berpengaruh pada kuat tidaknya tekanan angin.
13

Yaitu ketinggian bangunan dan kemiringan atap. Semakin tinggi sebuah bangunan
maka akan semakin kuat tekanan anginnya pada bangunan tersebut. Begitu juga
dengan kemiringan atap, semakin besar kemiringannya maka akan semakin kuat
tekanan anginnya. Kemiringan ideal suatu atap adalah 30 derajat.
2.6.2 Proses pengerjaan
Pengerjaan atap harus melalui pertimbangan dan persyaratan yang ditentukan
sesuai dengan karakteristik bahan yang akan digunakan. Karakteristik tersebut
antara lain bentangan dan cara pembuatan sambungan.

2.7 Pemasangan Flapond Gypsum dan Rangka Hollow


1. Tentukan elevasi plavond dan buat garis sipatan pada dinding & as sumbu
ruangan.
2. Pasang rangka tepi (steel hollow) dan wall angle profil L/ moulding profil W
sebagai list tepi tepat pada sipatan
3. Tentukan jarak penempatan kait penggantung
4. Pasang benang untuk pedoman penentuan titik paku penggantung untuk
menjamin kelurusan
5. Pasang paku kait dan rod/penggantung
6. Pasang rangka utama
7. Pasang rangka pembagi
8. Pasang dan kencangkan klip / rod.
9. Pasang panel gypsum
10. Cek kerapihan dan kerataan bidang plafond
11. Tutup sambungan antara panel gypsum dengan paper tape dan compound lalu
diampelas dan difinishing dengan cat

2.8 Pemasangan Keramik


14

Keramik lantai merupakan material penutup lantai yang banyak digunakan


untuk proyek pembangunan rumah tinggal. Setidaknya ada dua hal yang harus
diperhatikan dalam pekerjaan keramik lantai untuk hasil yang baik yaitu kualitas
material keramik tile yang digunakan dan cara pemasangannya. Bagaimana cara
memasang lantai keramik yang baik?
Simak langkah-langkahnya di bawah ini :
1. Pertama dilakukan pemeriksaan denah lantai dan pola pemasangan keramik.
Sebaiknya dibuat shop drawing untuk mendapatkan gambar pola pemasangan
keramik lantai yang paling efisien untuk menghindari waste material terbuang
yang terlalu banyak akibat ukuran yang tanggung.
2. Dengan shop drawing kita akan dapat mengetahui secara jelas titik awal
pelaksanaan pekerjaan keramik lantai agar nat keramik bertemu dengan nat
keramik ruangan yang lain dan nat keramik pada dinding jika ada.
3. Selanjutnya periksa material keramik yang didatangkan ke lapangan, apakah
tidak pecah, sudah sesuai ukuran, warna, motif / corak dan tipenya dengan yang
diinginkan. Untuk mengetahui jumlah kebutuhan material keramik yang perlu
dipesan silahkan simak artikel kami sebelumnya tentang Cara Menghitung
Material Keramik Tile Lantai
4. Sebaiknya di atas lantai beton dihamparkan lapisan pasir untuk mencegah
popping up lantai keramik, baru kemudian dilakukan screed perata lantai jika
menggunakan adukan mortar instan / perekat keramik (tile adhesive) atau
langsung adukan spesi jika menggunakan adukan semen pasir.
5. Pastikan lokasi yang akan dipasang keramik dalam keadaan bersih, screed sudah
kering jika ada, sudah diwaterproofing jika diperlukan, dan tidak ada instalasi
pipa air maupun pipa konduit untuk listrik yang belum terpasang (jika ada).
6. Jika keramik dipasang menggunakan perekat adukan spesi semen pasir, maka
keramik harus direndam terlebih dahulu, tetapi jika menggunakan perekat
keramik (tile adhesive) maka keramik tidak perlu direndam terlebih dahulu.
15

7. Cek adukan pasangan keramik yang digunakan,apakah campuran air sesuai


dengan yang dipersyaratkan, apakah adukan sudah tercampur rata dan homogen,
dan tidak ada adukan yang menggumpal.
8. Buat kepalaan keramik 2 arah dengan bantuan tarikan benang &spacer / pembuat
jarak nat, cek dengan menggunakan theodolit.

2.9 Metode Instalasi Plumbing


Plumbing adalah sebuah teknologi pemipaan beserta peralatannya untuk
menyediakan air bersih, baik dalam sisi kualitas maupun kuantitas (kontiniuitas) yang
memenuhi kriteria tertentu dan juga meliputi sistem pembuangan air bekas atau kotor
dari suatu tempat tertentu untuk mencapai sebuah kondisi yang higienis dan nyaman.
Metodeinstalasi plumbing adalah suatu hal yang wajib seorang kontraktor ketahui,
karena plumbing merupakan salah satu unsur terpenting dalam sebuah bangunan.
Pemasangan plumbing perlu dilakukan secara sistematis dan cermat agar kebutuhan
penghuni bangunan atas air dapat terpenuhi dengan baik secara kontinu. Beberapa
tahap penting yang dilakukan dalam instalasi plumbing adalah :

2.9.1 Instalasi Air bersih


a. Dalam instalasi air bersih hal pertama yang perlu diketahui lebih dahulu adalah
denah plumbing dan diagram isometri untuk menentukan jalur-jalur instalasi
pipa-pipa yang akan dipasang.
b. Pemasangan pipa dilakukan setelah pasangan bata selesai namun sebelum
plesteran dan acian. Hal ini dilakukan untuk menghindari bobokan yang
menyebabkan keretakan pada dinding.
c. Khusus pemasangan di luar bangunan ( contohnya : pipa saluran air
hujan), sebaiknya dikerjakan setelah pekerjaan plesteran diselesaikan.
d. Pipa yang melalui pelat dak, balok atau kolom beton harus dipasang secara
sparing atau pemipaan dilakukan terlebih dahulu sebelum dilaksanakan
pengecoran.
16

e. Pipa yang telah diposisikan secara tepat harus segera ditutup dengan plug / dop
yang kuat untuk menghindari kotoran / adukan masuk yang dapat menyebabkan
penyumbatan.
f. Hindari belokan pipa / knik pipa dari daerah pembakaran
g. Posisi pipa yang hendak diletakan di kamar mandi harus disesuaikan dengan
saniter.
h. Penempatan rencana instalasi air bersih dilakukan pada perempatan nat keramik
/ as keramik (agar simetris dengan luas keramik)
i. Setelah instalasi selesai terpasang segera lakukan uji tekanan pipa : Untuk pipa
Gip max. 10 bar ; Untuk pipa PVC max. 6 bar

2.9.2 Instalasi air Kotor


a. Hal yang perlu diketahui dalam instalasi air kotor adalah denah instalasi dan
diagram isometris pipa air kotor serta jalur pembuangannya.
b. Dalam bagian perencanaan instalasi air kotor, hindari terlalu banyak
percabangan yang dapat merepotkan pada sesi pengerjaan.
c. Pemasangan sambungan antar pipa harus betul-betul rapat.
d. Untuk air bekas mandi / cuci harus dibuat sebuah manhole untuk
mengontrol pembersihan (bak kontrol) pada tempat-tempat tertentu.
e. Lubang saluran pembuang harus diberikan sebuah saringan.
f. Sparing harus dibuat melebihi rencana peil lantai beton & tebal beton (yang
diatas plat = 25 cm, sedang yang dibawah plat = 15 cm).
g. Posisi sparing harus disesuaikan dengan type saniter (jika saniter telah
ditentukan). Jika saniter belum ditentukan , dapat dipakai sistem Block Out.
h. Sparing clean out harus dipasang secara bersamaan dengan sparing closet (jika
ada), di mana letak sparing clean out sebaiknya berada di samping atau dekat
sparing closet, fungsinya adalah sebagai pembersihan apabila pada closet terjadi
penyumbatan.
17

i. Fan out hanya dipasang bila dalam instalasi saluran kotor terdapat
banyak percabangan dengan saluran pembuangan melalui shaft. Hal ini
dilakukan untuk mengurangi tekanan udara pada pipa pada saat closet diberi
banyak air.
j. Floor drain sebaiknya diletakkan jauh dari pintu dan dekat dengan bak.

2.9.3 Saluran Air Hujan


a. Pipa air hujan sebaiknya diletakkan persis dibawah lobang talang yang
telah dilengkapi torong talang.
b. Pipa saluran air hujan dapat dipasang secara menempel pada dinding luar
dengan menggunakan klem atau dapat ditanam di dinding bila berukuran < 2
inch.
c. Bila saluran pembuangan air hujan berupa saluran tertutup, harus dibuat sebuah
bak kontrol pada pertemuan pipa air hujan dan dilengkapi dengan saluran
pembuang.
d. Bila terdapat sambungan pada pipa, arah shock harus menghadap ke atas,
dan penyambungannya harus benar-benar kuat agar mencegah kebocoran yang
rentan terjadi.

2.9.4 Saluran Pipa WC menuju septictank


a. Pipa saluran dari closet menuju septictank harus dicermati kemiringannya,
kemiringan pipa merupakan hal yang dapat memperlancar ataupun
menghambat penyaluran kotoran ketika dilalui dengan air, syarat minimal
kemiringan pipa ini adalah 2 %.
b. Pipa pada bagian ini sebaiknya menggunakan pipa kualitas baik (minimal
type D).
c. Hindari percabangan pipa yang ditanam di tanah (untuk bangunan 1 lantai),
karena bila terjadi penyumbatan akan sulit untuk memperbaikinya. Untuk
bangunan bertingkat (ada shaft) harus dilengkapidengan clean out dan fan out.
18

2.10 Instalasi Listrik


2.10.1 Pengertian dan fungsi :
suatu sistem instalasi/jaringan yang meliputi penerangan, instalasi daya, box
pembagi tegangan. Material penghantar listrik adalah kabel (NYM, NYY, NYF,
NYA) serta pipa baik PVC atau besi untuk pelindung hantaran yang tertanam.
Kabel penghantar yang biasa dipergunakan adalah merek KABELINDO,
SUPREME, TRANKA, dll. Merek dapat dikenali pada pembungkus (isolasi)
sepanjang kabel beserta jenis dan jumlah kawat atau diameter kawat
tembaganya.Peralatan dan bahan listrik :
1. Panel dan kotak pembagi
2. Saklar dan zekering-zekering
3. Alat-alat ukur (voltmeter & Ampre meter)
4. MCB
5. Stop kontak / stop kontak daya
6. Lampu penerangan
7. Grounding atau pentanahan

2.10.2 Metode Pelaksanaan


1. Semua hantaran (kabel) yang ditarik dalam pipa / cabelduct harus diusahakan
tidak tampak dari luar (tertana
2. Pemasangan pipa harus dilaksanakan sebelum pengecoran. Pemasangan
sparing-sparing listrik yang melintas di plat, balok, kolom beton
harus dipasang terlebih dahulu sebelum pengecoran, kabel diusahakan dimasuk-
kan bersamaan dengan pemasangan sparing.
3. Pipa yang dipasang pada dinding dilaksanakan sebelum pekerjaan plesteran
dan acian dikerjakan.
4. Penempatan sambungan/percabangan harus ditempatkan di daerah yang mudah
dicapai untuk perbaikan (perawatan).
19

5. Sambungan harus menggunakan klem / isolasi kabel supaya terlindung dengan


baik sehingga tidak tersentuh atau menggunakan lasdop dan ditempatkan pada
Te Dos.
6. Lekukan/belokan pipa harus beradius > 3 kali diameter pipa dan harus rata
(untuk memudahkan penarikan kabel).
7. Jaringan arde harus dipasang tersendiri / terpisah dengan arde penangkal petir.
– tidak boleh ada sambungan
– dihubungkan dengan elektroda pentanahan
– ditanam sampai minimal mencapai air tanah
Pada hantaran di atas langit-langit, harus diklem pada bagian bawah plat / balok
atau pada balok kayu rangka langit-langit
8. Untuk hantaran/tarikan kabel yang menyusur dinding bata/beton pada shaft
harus
diklem atau dengan papan dan kabeltrey bila jaringan terlalu rumit (banyak).
9. Stop kontak dan saklar. Pemasangan stop kontak setinggi > 40 cm dari lantai,
saklar dipasang setinggi. 150 cm dari lantai (bila tidak ditentukan
spesifikasinya).
Pemasangan stop kontak dan saklar harus rata dengan dinding.
10. Box / kotak Panel bodynya harus diarde, untuk menghindari adanya arus

2.11Pengecetan
2.11.1 Pembersihan Dinding Beton
Sebelum Pekerjaan Pengecatan dilakukan bagian yang akan dicat terlebih
dahulu dibersihkan dan sebagai dasar awal diberikan vlamir/semen kingkong agar
permukaan dinding terlihat halus dan tidak kasar.
2.11.2 Cara Pengecetan
Pengecatan dilakukan selapis demi selapis, setiap kali lapisan pada cat akhir
dihindarkan terjadinya sentuhan-sentuhan selama ½ sampai 1 ½ jam. Pada lapisan
20

pertama diberi plasteran kemudia acian barulah diberi plamir dan baru memakai cat
warna yang dinginkan.

2.12 Pekerjaan Finishing


Tahap finishing bisa dimulai setelah seluruh pekerjaan sipil (struktural) selesai
agar hasilnya lebih maksimal, tidak bongkar pasang, dan tidak rusak ataupun kotor.
Pekerjaan finishing membutuhkan pekerjaan yang lebih detail dan ingatlah bahwa
setiap pekerjaan harus mengacu pada gambar kerja agar hasil pembangunan
mendekati kesempurnaan. Apabila ada perbedaan antara keadaan di lapangan dengan
gambar kerja, kontraktor sebaiknya segera berkonsultasi dengan arsitek maupun
pemilik bangunan.
2.12.1 Pemasangan penutup lantai
dilakukan setelah semua pekerjaan berat pada ruangan selesai agar tidak ada
bahan atau pun peralatan yang jatuh ke lantai dan merusak material lantai.
Pemasangan penutup lantai termasuk keramik dinding harus benar-benar rata dan
rapi. Sudut kemiringan diperhitungkan dengan waterpass maupun penimbangan.
Lebar nat juga harus mengikuti gambar kerja agar hasil pengerjaan bisa maksimal
dan terhindar dari nat yang terlalu besar atau pun pemotongan keramik yang tidak
perlu.

2.12.2 Pekerjaan pengecatan interior dan eksterior


menjadi bagian akhir dari tahap finishing, termasuk pekerjaan pelitur jika
ada. Untuk pengecatan eksterior harus memperhatikan prakiraan cuaca agar hasil
pengecatan bisa kering dengan maksimal.
2.12.3 Pembersihan
Setelah semua tahap pembangunan selesai, keseluruhan area pembangunan
termasuk lingkungan sekitarnya harus dibersihkan dari debu, kotoran, sampah,
21

mau pun puing-puing sisa pembangunan. Konfirmasi kerjasama antara pihak


kontraktor dengan pihak kebersihan lingkungan harus jelas.