Anda di halaman 1dari 47

ALAT PELINDUNG DIRI (APD)

Makalah
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kesehatan dan Keselamatan
Kerja

Oleh:

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR


FAKULTAS TEKNIK

JURUSAN PENDIDIKSN
TEKNIKOTOMOTIF
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK OTOMOTIF

2019
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang telah
memberikan rahmat, taufiq serta hidayahNya kepada kami sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Alat Pelindung Diri” ini
dengan baik dan tepat waktu.
Dalam penyelesaian makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai
pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan kami mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Bapak Dwi Prihanto selaku dosen pembimbing mata kuliah
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan, yang telah sabar
membimbing kami sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini
dengan baik.
2. Kedua orang tua kami yang telah mendidik dan member doa restu
kepada kami, dan
3. Teman-teman kami khususnya PTI Offering A ‘11
Kami menyusun makalah ini dengan sebaik mungkin. Namun, jika
terdapat kekurangan dalam penyusunan makalah ini, kami sangat
mengharap kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah
ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya dan
pembaca pada umumnya serta merupakan wujud kepedulian kita terhadap
keselamatan dan kesehatan kerja di lingkungan kita.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Malang, Oktober 20011

Penyusun

ii
Daftar isi:

Cover…........................................................................................................ i
Kata Pengantar ........................................................................................... ii
Daftar Isi ................................................................................................. iii

Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang…………………….…………………………..
B. Rumusan Masalah……………………………………………..
C. Tujuan ………………………………….………………….......
Bab II Pembahasan
A. Pengertian Alat Pelindung Diri………………………….….....
B. Kelebihan dan Kekurangan APD.. ……………………………
C. Macam – Macam Alat Pelindung Diri…………..………….....
D. Ketersediaan dan Keamanan APD…………………………….
E. Cara Merawat APD yang Baik dan Benar…………………….
F. Perlunya pemahaman akan jaminan sosial sebagai hak kesejahteraan
pekerja……………………………………………………………
BAB III PENUTUP
A.Kesimpulan……………………………………………………..
B.Saran…………………………………………………………….

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di dalam kegiatan sehari-hari dalam melakukan aktivitas, kita sering
tidak menduga akan mendapat resiko kecelakaan pada diri kita sendiri.
Banyak sekali masyarakat yang belum menyadari akan hal ini. Baik
diloingkungan kerja, di jalan raya , maupun di tempat – tempat umum dan
lingkungan rumah.
Di era golbalisasi menuntut pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan
Kerja (K3) di setiap tempat kerja termasuk di sektor kesehatan. Untuk itu
kita perlu mengem-bangkan dan meningkatkan K3 disektor kesehatan
dalam rangka menekan serendah mungkin risiko kecelakaan dan penyakit
yang timbul akibat hubungan kerja, serta meningkatkan produktivitas dan
efesiensi.
Dalam pelaksanaan pekerjaan sehari-hari karyawan/pekerja di sektor
kesehatan tidak terkecuali di Rumah Sakit maupun perkantoran, akan
terpajan dengan resiko bahaya di tempat kerjanya. Resiko ini bervariasi
mulai dari yang paling ringan sampai yang paling berat tergantung jenis
pekerjaannya.
Dari hasil penelitian di sarana kesehatan Rumah Sakit, sekitar 1.505
tenaga kerja wanita di Rumah Sakit Paris mengalami gangguan
muskuloskeletal (16%) di mana 47% dari gangguan tersebut berupa nyeri di
daerah tulang punggung dan pinggang. Dan dilaporkan juga pada 5.057
perawat wanita di 18 Rumah Sakit didapatkan 566 perawat wanita adanya
hubungan kausal antara pemajanan gas anestesi dengan gejala
neoropsikologi antara lain berupa mual, kelelahan, kesemutan, keram pada
lengan dan tangan.
Di perkantoran, sebuah studi mengenai bangunan kantor modern di
Singapura dilaporkan bahwa 312 responden ditemukan 33% mengalami
gejala Sick Building Syndrome (SBS). Keluhan mereka umumnya cepat

1
lelah 45%, hidung mampat 40%, sakit kepala 46%, kulit kemerahan 16%,
tenggorokan kering 43%, iritasi mata 37%, lemah 31%.
Dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan,
pasal 23 mengenai kesehatan kerja disebutkan bahwa upaya kesehatan kerja
wajib diseleng-garakan pada setiap tempat kerja, khususnya tempat kerja
yang mempunyai resiko bahaya kesehatan yang besar bagi pekerja agar
dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat
sekelilingnya, untuk memperoleh produktivitas kerja yang optimal, sejalan
dengan program perlindungan tenaga kerja.
APD tidak mencegah insiden bahaya, hanya mengurangi akibat dari
kecelakaan itu sendiri. Karena itu, alat pelindung harus digunakan dalam
kegiatan yang beresiko terjadi kecelakaan berdasarkan factor yang
mempengaruhinya.

B. Rumusan Masalah
1. Apa itu APD?
2. Siapa yang harus memberikan APD?
3. Apa kekurangan dan kelebihan APD?
4. Bagaimana cara merawat APD yang baik dan benar?
5. Apakah ada jaminan apabila terjadi kecelakaan kerja

C. Tujuan
- Agar kita tahu bagaimana cara bekerja yang baik dan benar
- Supaya kita bisa lebih berhati-hati dalam bekerja
- Mengetahui bagaimana merawat APD supaya tetap steril, tahan
lama.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Alat Pelindung Diri


Alat Pelindung Diri (APD) merupakan kelengkapan yang wajib
digunakan saat bekerja sesuai bahaya dan risiko kerja untuk menjaga
keselamatan pekerja itu sendiri dan orang di sekelilingnya. Kewajiban itu
sudah disepakati oleh pemerintah melalui Departemen Tenaga Kerja
Republik Indonesia.
Semua jenis APD harus digunakan sebagaimana mestinya, gunakan
pedoman yang benar-benar sesuai dengan standar keselamatan kerja (K3L
'Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lingkungan').

Hukum yang mendasari adalah :


1. Undang-undang No.1 tahun 1970.
a. Pasal 3 ayat (1) butir f: Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-
syarat untuk memberikan APD
b. Pasal 9 ayat (1) butir c: Pengurus diwajibkan menunjukkan dan
menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang APD.
c. Pasal 12 butir b: Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan
atau hak tenaga kerja untuk memakai APD.
Pasal 14 butir c: Pengurus diwajibkan menyediakan APD secara cuma-
Cuma

2. Permenakertrans No.Per.01/MEN/1981
Pasal 4 ayat (3) menyebutkan kewajiban pengurus menyediakan alat
pelindung diri dan wajib bagi tenaga kerja untuk menggunakannya untuk
pencegahan penyakit akibat kerja.
3. Permenakertrans No.Per.03/MEN/1982
Pasal 2 butir I menyebutkan memberikan nasehat mengenai perencanaan

3
dan pembuatan tempat kerja, pemilihan alat pelindung diri yang diperlukan
dan gizi serta penyelenggaraan makanan ditempat kerja
4. Permenakertrans No.Per.03/Men/1986
Pasal 2 ayat (2) menyebutkan tenaga kerja yang mengelola Pestisida harus
memakai alat-alat pelindung diri yg berupa pakaian kerja, sepatu lars tinggi,
sarung tangan, kacamata pelindung atau pelindung muka dan pelindung
pernafasan.

Intisari Permenaker No.08 thn 2010 ttg APD

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI


REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.08/MEN/VII/2010
TENTANG ALAT PELINDUNG DIRI
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Alat Pelindung Diri selanjutnya disingkat APD adalah suatu alat yang
mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang yang fungsinya
mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari potensi bahaya di tempat
kerja.
7. Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah tenaga teknis berkeahlian
khusus dari luar Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang ditunjuk
oleh Menteri.

Pasal 2
(1) Pengusaha wajib menyediakan APD bagi pekerja/buruh di tempat kerja.
(2) APD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus sesuai dengan Standar
Nasional Indonesia (SNI) atau standar yang berlaku.
(3) APD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib diberikan oleh
pengusaha secara cuma-cuma.

4
Pasal 3
(1) APD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 meliputi:
a. pelindung kepala;
b. pelindung mata dan muka;
c. pelindung telinga;
d. pelindung pernapasan beserta perlengkapannya;
e. pelindung tangan; dan/atau
f. pelindung kaki.

(2) Selain APD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), termasuk APD:
a. pakaian pelindung;
b. alat pelindung jatuh perorangan; dan/atau
c. pelampung.

(2) Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan atau Ahli Keselamatan dan


Kesehatan Kerja dapat mewajibkan penggunaan APD di tempat kerja selain
sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 5
Pengusaha atau Pengurus wajib mengumumkan secara tertulis dan
memasang rambu¬rambu mengenai kewajiban penggunaan APD di tempat
kerja.

Pasal 6
(1) Pekerja/buruh dan orang lain yang memasuki tempat kerja wajib
memakai atau menggunakan APD sesuai dengan potensi bahaya dan risiko.
(2) Pekerja/buruh berhak menyatakan keberatan untuk melakukan
pekerjaan apabila APD yang disediakan tidak memenuhi ketentuan dan
persyaratan.

Pasal 7
(1) Pengusaha atau Pengurus wajib melaksanakan manajemen APD di

5
tempat kerja.
(2) Manajemen APD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi:
a. identifikasi kebutuhan dan syarat APD;
b. pemilihan APD yang sesuai dengan jenis bahaya dan
kebutuhan/kenyamanan pekerja/buruh;
c. pelatihan;
d. penggunaan, perawatan, dan penyimpanan;
e. penatalaksanaan pembuangan atau pemusnahan;
f. pembinaan;
g. inspeksi; dan
h. evaluasi dan pelaporan.

Pasal 8
(1) APD yang rusak, retak atau tidak dapat berfungsi dengan baik harus
dibuang dan/atau dimusnahkan.
(2) APD yang habis masa pakainya/kadaluarsa serta mengandung bahan
berbahaya, harus dimusnahkan sesuai dengan peraturan perundangan-
undangan.
(3) Pemusnahan APD yang mengandung bahan berbahaya harus dilengkapi
dengan berita acara pemusnahan.

B. Kelebihan dan Kekurangan APD


Kekurangan :
1. Kemampuan perlindungan yang tak sempurna karena memakai APD
yang kurang tepat dan perawatannya yang tidak baik
2. Fungsi dari ADP ini hanya untuk mengura gi akibat dari kondisi yang
berpotensi menimbulkan bahaya bukan untuk menyelamatkan nyawa.
3. Tidak menjamin pemakainya bebas kecelakaan karena hanya melindungi
bukan mencegah
4. Cara pemakaian APD yang salah karena kurangnya pengetahuan tentang
penggunaan APD yang baik dan benar,

6
5. APD tak memenuhi persyaratan standar karena perawatannya tidak baik
dan kualitasnya buruk.
6. APD yang sangat sensitive terhadap perubahan tertentu.
7. APD yang mempunyai masa kerja tertentu seperti kanister, filter
(digunakan untuk menahan frekuensi tertentu pada tahanan yang berubah-
ubah dan lain-lain) dan penyerap (cartridge).
8. APD dapat menularkan penyakit bila dipakai berganti-ganti.

Kelebihan :
1. Mengurangi resiko akibat kecelakan kerja yang terjadi baik sengaja
maupun tidak sengaja
2. Melindungi seluruh/sebagian tubuhnya pada kecelakaan
3. Sebagai usaha terakhir apabila sistem pengendalian teknik dan
administrasi tidak berfungsi dengan baik.
4. Memberikan perlindungan bagi tenaga kerja di tempat kerja agar
terlindungi dari bahaya kerja.

7
C.MACAM-MACAM ALAT PELINDUNG DIRI
1. Safety Helmet
Safety Helmet merupakan alat pelindung kepala yang melindungi
kepala dari benda-benda yang bisa mengenai kepala secara langsung.

2. Tali Keselamatan (safety belt)


Berfungsi sebagai alat pengaman ketika menggunakan alat
transportasi ataupun peralatan lain yang serupa (mobil,pesawat, alat berat,
dan lain-lain). Sehingga saat kita terjatuh, ada tali pengaman yang
menyangga tubuh kita.

3. Sepatu Karet (sepatu boot)


Berfungsi sebagai alat pengaman saat bekerja di tempat yang becek ataupun
berlumpur. Kebanyakan di lapisi dengan metal untuk melindungi kaki dari
benda tajam atau berat, benda panas, cairan kimia, dsb.

8
4. Sepatu pelindung (safety shoes)
Seperti sepatu biasa, tapi dari bahan kulit dilapisi metal dengan sol
dari karet tebal dan kuat. Berfungsi untuk mencegah kecelakaan fatal yang
menimpa kaki karena tertimpa benda tajam atau berat, benda panas, cairan
kimia, dsb.

5. Sarung Tangan
Berfungsi sebagai alat pelindung tangan pada saat bekerja di tempat
atau situasi yang dapat mengakibatkan cedera tangan. Bahan dan bentuk
sarung tangan di sesuaikan dengan fungsi masing-masing pekerjaan.

9
6. Tali Pengaman (Safety Harness)
Berfungsi sebagai pengaman saat bekerja di ketinggian. Diwajibkan
menggunakan alat ini di ketinggian lebih dari 1,8 meter. Berguna untuk
melindungi tubuh dari kemungkinan terjatuh, biasanya digunakan pada
pekerjaan konstruksi dan memanjat serta tempat tertutup atau boiler.
Harus dapat menahan beban sebesar 80 Kg.
Jenis :
Penggantung unifilar
Penggantung berbentuk U
Gabungan penggantung unifilar dan bentuk U
Penunjang dada (chest harness)
Penunjang dada dan punggung (chest waist harness)
Penunjang seluruh tubuh (full body harness)

7. Penutup Telinga (Ear Plug / Ear Muff)


Berfungsi sebagai pelindung telinga pada saat bekerja di tempat
yang bising. Sumbat Telinga
Sumbat telinga yang baik adalah menahan frekuensi tertentu saja,sedangkan
frekuensi untuk bicara biasanya (komunikasi) tak terganggu.
Kelemahan: tidak tepat ukurannya dengan lobang telinga pemakai,kadang-
kadang lobang telinga kanan tak sama dengan yang kiri.

10
Bahan sumbat telinga :
Karet, plastik keras, plastik yang lunak, lilin, kapas.
Yang disenangi adalah jenis karet dan plastic lunak,karena bisa
menyusaikan bentuk dengan lobang telinga.
Daya atenuasi (daya lindung) : 25-30 dB
Ada kebocoran dapat mengurangi atenuasi + 15 dB
Dari lilin :
- bisa lilin murni
- dilapisi kertas
- kapas
Kelemahan:
Kurang nyaman
Lekas kotor.
Dari kapas: daya atenuasi paling kecil antara 2 – 12 dB.

Tutup Telinga Ada beberapa jenis:


Atenuasinya: pada frekuensi 2800–4000 Hz sampai 42 dB (35–45 dB)
Untuk frekuensi biasa 25-30 dB.
Untuk keadaan khusus dapat dikombinasikan antara tutup telinga dan
sumbat telinga sehingga dapat atenuasi yang lebih tinggi; tapi tak lebih dari
50 dB,karena hantaran suara melalui tulang masih ada.

11
8. Kaca Mata Pengaman (Safety Glasses)
Berfungsi sebagai pelindung mata ketika bekerja (misalnya
mengelas) agar tidak terkena benda-benda.

SYARAT OPTIS TERTENTU


Lensa tidak boleh mempunyai efek distorsi/ efek prisma lebih dari
1/16 prisma dioptri; artinya perbedaan refraksi,harus lebih kecil dari 1/16
dioptri.
Alat pelindung mata terhadap radiasi :
Prinsipnya kacamata yang hanya tahan terhadap panjang gelombang
tertentu;
Standar Amerika, ada 16 jenis kaca dengan sifat-sifat tertentu

9. Masker (Respirator)
Berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja di
tempat dengan kualitas udara buruk (misal berdebu, beracun, dsb).

12
10. Pelindung wajah (Face Shield)
Berfungsi sebagai pelindung wajah dari percikan benda asing saat
bekerja (misal pekerjaan menggerinda).

11. Jas Hujan (Rain Coat)


Berfungsi melindungi dari percikan air saat bekerja (misal bekerja
pada waktu hujan atau sedang mencuci alat).

D. Ketersediaan APD
Dalam UU No. 1 tahun 1970 pasal 14 butir c menyatakan bahwa
”pengurus (pengusaha) diwajibkan untuk menyediakan secara cuma-cuma
semua alat perlindungan diri yang diwajibkan pada pekerja yang berada
dibawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang lain yang
memasuki tempat kerja tersebut, disertai dengan petunjuk-petunjuk yang
diperlukan menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli-ahli keselamatan
kerja.”

13
APD harus tersedia sesuai dengan risiko bahaya yang ada di tempat kerja.
Contohnya di pengelasan risiko bahaya yang ada seperti infrared dan
radiasi, maka APD yang harus digunakan adalah face shield dan goggles
untuk perlindungan mata dan wajah (Wentz, 1998).

Goggles face shield

Kenyamanan APD
APD adalah alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi
seseorang dalam pekerjaan yang fungsinya mengisolasi pekerja dari bahaya
di tempat kerja.
Karena itu adalah penting APD bisa digunakan oleh pekerja secara nyaman
dan tidak menimbulkan bahaya baru (Imamkhasani, 1991).
Banyak alasan pekerja enggan menggunakan APD salah satunya adalah
karena faktor kenyamanan. Contohnya safety shoes yang terlalu kebesaran
atau kekecilan, tidak akan melindungi pekerja secara efektif namun tidak
menutup kemungkinan untuk muncul kejadian baru karena memakai safety
shoes yang tidak sesuai ukuran.
Untuk memberikan perlindungan yang baik maka pakaian harus pas dan
sesuai. APD biasanya didisain berdasarkan rata-rata ukuran orang Amerika
Utara atau Eropa, dan akan menjadi masalah jika digunakan oleh pekerja
yang ukurannya berada diatas atau dibawah ukuran tersebut (Rosskam,
1996).

14
E. Cara Merawat APD yang Baik dan Benar
1. meletakkan APD pada tempatnya setelah selesai digunakan,
2. melakukan pembersihan secara berkala,
3. memeriksa APD sebelum dipakai untuk mengetahui adanya kerusakan
atau tidak layak pakai,
4. memastikan APD yang digunakan aman untuk keselamatan jika tidak
sesuai maka perlu diganti dengan yang baru.
5. dijaga keadaannya dengan pemeriksaan rutin yang menyangkut cara
penyimpanan, kebersihan serta kondisinya
6. Apabila dalam pemeriksaan tersebut ditemukan alat helm kerja yang
kualitasnya tidak sesuai persyaratan maka alat tersebut ditarik serta tidak
dibenarkan untuk dipergunakan
Secara spesifik sebagai berikut:

a. Helm Safety/ Helm Kerja (Hard hat)

Helm kerja dijaga keadaannya dengan pemeriksaan rutin yang


menyangkut cara penyimpanan, kebersihan serta kondisinya oleh
manajemen lini.
Apabila dalam pemeriksaan tersebut ditemukan alat helm kerja yang
kualitasnya tidak sesuai persyaratan maka alat tersebut ditarik serta tidak
dibenarkan untuk dipergunakan (retak-retak, bolong atau tanpa system
suspensinya)

15
TOPI PENGAMAN
Untuk penggunaan yang bersifat umum dan pengaman dari tegangan
listrik yang terbatas.
Tahan terhadap tegangan listrik tinggi.
-Tanpa perlindungan terhadap tenaga listrik,biasanya terbuat dari logam
-Yang digunakan untuk pemadam kebakaran.

PENGUJIAN MEKANIK
 Dengan menjatuhkan benda seberat 3 kg dari ketinggian 1m, topi tidak
boleh pecah atau benda tak boleh menyentuh kepala.
 Jarak antara lapisan luar dan lapisan dalam dibagian puncak ; 4-5 cm.
 Tidak menyerap air dengan direndam dalam air selama 24 jam. Air
yang diserap kurang 5% beratnya
 Tahan terhadap api

PENGUJIAN DAYA TAHAN TERHADAP API


 Topi dibakar selama 10 detik dengan pembakar Bunsen atau propan,
dengan nyala api bergaris tengah 1 cm. Api harus padam setelah 5
detik.

Pengujian listrik:
 Tahan terhadap listrik tegangan tinggi diuji dengan mengalirkan arus
bolak-balik 20.000 volt dengan frekuensi 60 Hz, selama 3
menit,kebocoran arus harus lebih kecil dari 9 mA.
 Tahan terhadap listrik tegangan rendah, diuji dengan mengalirkan arus
bolak-balik 2200 volt dengan frekuensi 60 Hz selama 1 menit
kebocoran arus harus kurang dari 9mA

16
Manfaat Topi/Tudung:
Untuk melindungi kepala dari zat-zat kimia berbahaya dari Iklim
yang berubah-ubah, dari bahaya api dan lain sebagainya.

Setiap manajemen lini harus memiliki catatan jumlah karyawan yang


memiliki helm kerja dan telah mengikuti training.

b. Kacamata Safety (Safety Glasses)

Kacamata safety dijaga keadaannya dengan pemeriksaan rutin yang


menyangkut cara penyimpanan, kebersihan serta kondisinya oleh
manajemen lini.
Apabila dalam pemeriksaan tersebut ditemukan kacamata safety
yang kualitasnya tidak sesuai persyaratan maka alat tersebut ditarik serta
tidak dibenarkan untuk dipergunakan.
Penyimpanan masker harus terjamin sehingga terhindar dari debu,
kondisi yang ekstrim (terlalu panas atau terlalu dingin), kelembaban atau
kemungkinan tercemar bahan-bahan kimia berbahaya.
Setiap manajemen lini harus memiliki catatan jumlah karyawan yang
memiliki kacamata safety dan telah mengikuti training.

17
c. Sepatu Safety (Safety Shoes)

Alat pelindung kaki berfungsi untuk melindungi kaki dari tertimpa


atau berbenturan dengan benda-benda berat, tertusuk benda tajam, terkena
cairan panas atau dingin, uap panas, terpajan suhu yang ekstrim, terkena
bahan kimia berbahaya dan jasad renik, tergelincir.
Jenis Pelindung kaki berupa sepatu keselamatan pada pekerjaan
peleburan, pengecoran logam, industri, kontruksi bangunan, pekerjaan yang
berpotensi bahaya peledakan, bahaya listrik, tempat kerja yang basah atau
licin, bahan kimia dan jasad renik, dan/atau bahaya binatang dan lain-
lain.Sepatu safety dijaga keadaannya dengan pemeriksaan rutin yang
menyangkut cara penyimpanan, kebersihan serta kondisinya oleh
manajemen lini.
Apabila dalam pemeriksaan tersebut ditemukan sepatu safety yang
kualitasnya tidak sesuai persyaratan maka alat tersebut ditarik serta tidak
dibenarkan untuk dipergunakan.
Setiap manajemen lini harus memiliki catatan jumlah karyawan yang
memiliki sepatu safety dan telah mengikuti training.

18
d. Masker/ Perlindungan Pernafasan (Mask/ Respiratory Protection)

Pelindung pernafasan dijaga keadaannya dengan pemeriksaan rutin


yang menyangkut cara penyimpanan, kebersihan serta kondisinya.
Apabila dalam pemeriksaan tersebut ditemukan alat pelindung
pernafasan yang kualitasnya tidak sesuai persyaratan maka alat tersebut
ditarik serta tidak dibenarkan untuk dipergunakan. Kondisi dan kebersihan
alat pelindung pernafasan menjadi tanggung jawab karyawan yang
bersangkutan, Kontrol terhadap kebersihan alat tersebut akan selalu
dilakukan oleh managemen lini. Memberikan perlindungan terhadap sumber-
sumber bahaya seperti:
kekurangan oksigen
pencemaran oleh partikel (debu, kabut, asap dan uap logam)
pencemaran oleh gas atau uap

e. Sarung tangan

o Sarung tangan dijaga keadaannya dengan pemeriksaan rutin yang


menyangkut cara penyimpanan, kebersihan serta kondisinya oleh
manajemen lini.

19
o Apabila dalam pemeriksaan tersebut ditemukan sarung tangan
yang kualitasnya tidak sesuai persyaratan maka alat tersebut ditarik serta
tidak dibenarkan untuk dipergunakan.
o Penyimpanan sarung tangan harus terjamin sehingga terhindar dari
debu, kondisi yang ekstrim (terlalu panas atau terlalu dingin), kelembaban
atau kemungkinan tercemar bahan-bahan kimia berbahaya.

Ada beberapa metoda yang dapat dilakukan dalam mengendalikan


bahaya di tempat kerja untuk menurunkan tingkat kecelakaan akibat
kerja,yaitu:

1. Engineering control,yaitu dengan menambahkan berbagai peralatan


dan mesin yang dapat mengurangi bahaya dari sumbernya. Contohnya
adalah penggunaan exhaust dan system ventilasi untuk meminimalisir
bahaya debu atau gas. Akan tetapi pengendalian dengan system
engineering control membutuhkan dana yang besar.
2. Administrative control,yaitu dengan membuat berbagai prosedur kerja
termasuk kebijakan manajemen dalam implementasi K3. Tujuannya
adalah agar pekerja bekerja sesuai dengan instruksi yang sudah
ditetapkan sehinggan kecelakaan atau kesalahan kerja dapat dihindari.
Termasuk didalam adminstarsi control yaitu dengan menyediakan alat
pelindung diri (APD) atau personnel pertective equipment (PPE) bagi
setiap pekerja yang terpajan dengan bahaya di tempat kerja.
3. Metoda lain yang dapat digunakan untuk pengendalian bahaya
adalah Inherently Safer Alternative Method,dimana metoda ini
memiliki empat strategi pengendalian bahaya,yaitu:
1. Minimize; yaitu dengan cara meminimalkan tingkat bahaya dari
sumbernya dengan cara mengurangi jumlah pemakaian atau volume
penyimpanan dan proses.
2. Substitue; yaitu dengan cara mengganti bahan yang berbahaya dengan
yang kurang berbahaya. Contohnya hádala menggunakan metodawater

20
base sebagai pengganti solven base. Water base lebih aman dan ramah
lingkungan dibandingkan solven base.
3. Moderate; Mengurangi bahaya dengan cara menurunkan konsentrasi
bahan kimia yang digunakan. Contohnya adalah menggunakan bahan
kimia dengan konsentrasi yang lebih rendah sehingga tingkat bahaya
pajanannya menjadi lebih rendah.
4. Simplify; Mengurangi bahaya dengan cara membuat prosesnya menjadi
lebih sederhana sehingga lebih mudah di control.

 PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD atau PPE)


PADA PARA PEKERJA

Ada beberapa metoda yang dapat dilakukan dalam mengendalikan


bahaya di tempat kerja untuk menurunkan tingkat kecelakaan akibat
kerja,yaitu:

1. Engineering control,yaitu dengan menambahkan berbagai peralatan dan


mesin yang dapat mengurangi bahaya dari sumbernya. Contohnya
adalah penggunaan exhaust dan system ventilasi untuk meminimalisir
bahaya debu atau gas. Akan tetapi pengendalian dengan system
engineering control membutuhkan dana yang besar.
2. Administrative control,yaitu dengan membuat berbagai prosedur kerja
termasuk kebijakan manajemen dalam implementasi K3. Tujuannya
adalah agar pekerja bekerja sesuai dengan instruksi yang sudah
ditetapkan sehinggan kecelakaan atau kesalahan kerja dapat dihindari.
Termasuk didalam adminstarsi control yaitu dengan menyediakan alat
pelindung diri (APD) atau personnel pertective equipment (PPE) bagi
setiap pekerja yang terpajan dengan bahaya di tempat kerja.
3. Metoda lain yang dapat digunakan untuk pengendalian bahaya
adalah Inherently Safer Alternative Method,dimana metoda ini
memiliki empat strategi pengendalian bahaya,yaitu:

21
1. Minimize; yaitu dengan cara meminimalkan tingkat bahaya dari
sumbernya dengan cara mengurangi jumlah pemakaian atau volume
penyimpanan dan proses.
2. Substitue; yaitu dengan cara mengganti bahan yang berbahaya dengan
yang kurang berbahaya. Contohnya hádala menggunakan metodawater
base sebagai pengganti solven base. Water base lebih aman dan ramah
lingkungan dibandingkan solven base.
3. Moderate; Mengurangi bahaya dengan cara menurunkan konsentrasi
bahan kimia yang digunakan. Contohnya adalah menggunakan bahan
kimia dengan konsentrasi yang lebih rendah sehingga tingkat bahaya
pajanannya menjadi lebih rendah.
4. Simplify; Mengurangi bahaya dengan cara membuat prosesnya menjadi
lebih sederhana sehingga lebih mudah di control.

Semua metoda pengendalian tersebut dapat dilakukan secara


bersamaan,karena tidak ada satu metodapun yang betul-betul bisa
menurunkan bahaya dan resiko sampai pada posisi nol,artinya para pekerja
masih besar kemungkinanya terpajan terhadap bahaya ditempat kerja.
Untuk itu sebagai pertahanan dan perlindungan terakhir bagi pekerja adalah
dengan menggunakan APD.

Berdasarkan Undang-Undang RI No. 1 tahun 1970 bahwa pengurus


atau pimpinan tempat kerja berkewajiban menyediakan alat pelindung diri
(APD/PPE) untuk para pekerja dan para pekerja berkewajiban memakai
APD/PPE dengan tepat dan benar. Tujuan dari penerapan Undang- Undang
ini adalah untuk melindungi kesehatan pekerja tersebut dari risiko bahaya di
tempat kerja. Jenis APD/PPE yang diperlukan dalam berbagai aktifitas
kerja di industri sangat tergantung pada aktifitas yang dilakukan dan jenis
bahaya yang terpapar.

22
Kesadaran para pekerja akan penggunaan alat pelindung diri
(APD) dalam bekerja ternyata masih sangat rendah. Berdasarkan temuan
dari survei yang penulis lakukan sejak tahun 2004 sampai saat ini banyak
sekali ditemukan kesalahan dan kekurangan dalam menggunakan APD di
berbagai perusahaan baik lokal maupun yang berskala international (lihat
grafik). Ada dua faktor utama yang melatar belakangi masalah ini yaitu
rendahnya tanggung jawab management terhadap keselamatan dan
kesehatan pekerja dan rendahnya tingkat kesadaran para pekerja dalam
menggunakan APD.

Manajemen sebagai wakil dari pemegang saham atau pemilik


perusahaan sepenuhnya bertanggung jawab atas keselamatan dan kesehatan
pekerja di tempat kerja dengan menyediakan tempat kerja yang aman dan
alat pelindung diri yang memadai. Namun pada kenyataannya manajemen
perusahaan masih menempatkan keselamatan dan kesehatan pekerja
diurutan bawah dari skala prioritas dari suatu program perusahaan terutama
kalau sudah berhubungan dengan anggaran keuangan. Sebagai dampak dari
hal tersebut para pekerja hanya diberikan APD seadanya tanpa
mempertimbangkan tingkat bahaya di tempat kerja yang dihadapi setiap
hari,tidak mendapatkan pelatihan yang mencukupi mengenai keselamatan
dan kesehatan kerja di tempat kerja dan bahkan ada perusahaan yang secara
sengaja membodohi para pekerja dengan mengatakan pekerjaan yang
mereka lakukan tidak berdampak terhadap kesehatan pekerja atau tidak
berbahaya. Adabeberapa alasan klasik yang selalu dikemukakan oleh pihak
manajemen tehadap para pekerja dalam penyediaan APD yaitu:

1. Anggarannya terlalu besar,keuangan perusahaan tidak mampu


mendanainya.
2. APD yang tersedia sudah mencukupi karena banyak perusahaan lain
juga menggunakan APD yang sama,Meskipun sebenarnya APD
tersebut tidak memenuhi standar yang dipersyaratkan.

23
3. Tingkat paparan masih dibawah nilai ambang batas (NAB).
4. Tidak di rekomendasikan oleh induk perusahaan.
5. Kondisi seperti ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan tidak ada
masalah.

Dengan alasan-alasan tersebut akhirnya para pekerja dipaksa


menerima APD seadanya atau bahkan tanpa APD dalam bekerja (lihat
grafik).

Dalam berbagai survey yang dilakukan juga di temukan banyak


perusahaan yang sudah menyediakan APD yang sangat baik buat para
pekerja,bahkan ada beberapa perusahaan yang menyediakan APD secara
berlebihan atau over spec bagi para pekerja. Namun masalah yang dihadapi
oleh pihak manajemen adalah rendahnya tingkat kesadaran para pekerja
dalam menggunakan APD secara benar selama bekerja. Banyak pekerja
yang main kucing-kucingan dengan supervisor atau manager dalam
menggunakan APD. Dalam beberapa diskusi dengan para pekerja dan
berdasarkan observasi penulis ditemukan beberapa alasan akan rendahnya
kesadaran para pekerja akan penggunaan APD,yaitu:

24
1. Ketidak nyamanan dalam penggunaan APD selama bekerja. Ini
merupakan alasan yang paling banyak dikemukakan oleh para pekerja.
Ketidak nyamanan disini diantaranya adalah panas,berat,berkeringat
atau lembab,sakit,pusing,sesak dan sebagainya.
2. Merasa bahwa pekerjaan tersebut tidak berbahaya atau berdampak pada
kesehatannya. Terutama bagi para pekerja yang sudah bertahun-tahun
melakukan pekerjaan tersebut.
3. Kesalah pahaman terhadap fungsi APD akibat kurangnya pengetahuan
akan fungsi dan kegunaan APD.
4. APD menggangu kelacaran dan kecepatan pekerjaan.
5. Susah menggunakan dan merawat APD.

Hal lain yang juga ditemukan dalam survey ini adalah penggunaan
APD yang tidak tepat atau sesuai dengan paparan bahaya yang dihadapi.
Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan atau informasi tentang APD dan
jenis atau kondisi bahaya yang dihadapi. Banyak perusahaan yang menjual
APD tidak memberikan informasi atau training yang memadai tentang
penggunaan,fungsi,jenis,aplikasi,perawatan APD dan dampak kesehatan
pengunaan APD.

25
Apabila APD digunakan secara benar dan sesuai dengan spesifikasi
yang di tetapkan,maka tingkat kecelakaan dan sakit akibat kerja akan dapat
dikurangi. Penurunan tingkat kecelakaan dan sakit akibat kerja akan
meningkatkan produktivitas kerja sehingga perusahaan akan menjadi lebih
sehat. Untuk mencapai hal ini maka kondisi-kondisi berikut harus
terpenuhi:

1. Adanya komitmen dari manajemen untuk melindungi pekerja,salah


satunya dengan menyediakan APD yang sesuai dengan standar.
2. Adanya kebijakan/prosedur/WI yang mengatur penggunaan APD bagi
pekerja.
3. Adanya training secara regular tentang tata cara pengenalan
resiko,pengendalian resiko dan penggunaan APD.
4. Adanya program komunikasi untuk meningkatkan awareness pekerjang
dalam menggunakan APD seperti regular meeting,poster,stiker
dan singnage.
5. Pekerja mengetahui dengan baik bahaya-bahaya yang ada di tempat
kerja.
6. Pekerja mengetahui dengan baik dampak kesehatan dari pajanan bahaya-
bahaya tersebut.
7. Pekerja mengetahui dengan baik cara-cara pengendalian bahaya
tersebut.
8. Pekerja mendapatkan APD yang sesuai dengan pajanan bahaya yang
dihadapi.
9. Pekerja secara konsisten dan benar menggunakan APD pada saat
melakukan pekerjaan.
10. Pekerja memakai APD secara tepat dan benar selama bekerja.

26
F. Perlunya pemahaman akan jaminan sosial sebagai hak
kesejahteraan pekerja

Berbagai pertanyaan mengenai jaminan sosial sering diajukan oleh


pekerja di Indonesia, karena kurangnya sosialisasi dari badan-badan
penyelenggara jaminan sosial di Indonesia. Bahkan banyak dari pekerja
yang tidak terekspos mengenai sistem jaminan sosial yang diselenggarakan
di Indonesia. Untuk bisa mengetahui lebih jauh mengenai hak kesejahteraan
sosial anda ssebagai pekerja, ada baiknya anda mempelajari lebIh dahulu
dasar mengenai jaminan sosial.

* Apakah jaminan sosial itu?


Menurut Undang-undang no. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan
Sosial Nasional, jaminan sosial adalah salah satu bentuk perlindungan
sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan
dasar hidup dan pekerjaan yang layak. Jaminan sosial dalam hal ini
berhubungan dengan kompensasi dan program kesejahteraan yang
diselenggarakan pemerintah untuk rakyatnya.
* Bagaimana penyelenggaraan jaminan sosial di Indonesia?
Di Indonesia, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) telah
menentukan 4 macam jaminan sosial yang terdiri dari JAMSOSTEK
(Jaminan Sosial Tenaga Kerja), TASPEN (Dana Tabungan dan Asuransi
Pegawai Negeri), ASABRI (Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia), dan ASKES (Asuransi Kesehatan Indonesia).
* Apa itu JAMSOSTEK?
JAMSOSTEK adalah salah satu badan penyelenggara jaminan sosial
yang mengembangkan program jaminan sosial berdasarkan funded social
security, jaminan sosial yang didanai oleh peserta dan masih terbatas pada
masyarakat pekerja di sektor formal. Pekerja sektor formal disini

27
maksudnya adalah para karyawan perusahaan-perusahaan swasta dan tidak
termasuk pekerja sektor informal seperti pekerja rumah tangga, buruh
industri kecil, dll. Dengan kata lain, Jamsostek merupakan asuransi sosial
bagi pekerja (yang mempunyai hubungan industrial) beserta keluarganya.
Apa saja sih yang ditanggung oleh JAMSOSTEK? Skema Jamsostek
meliputi program-program yang terkait dengan risiko, seperti jaminan
kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan pemeliharaan kesehatan, dan
jaminan hari tua.
• Cakupan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) meliputi: biaya
pengangkutan, biaya pemeriksaan, pengobatan, perawatan, biaya
rehabilitasi, serta santunan uang bagi pekerja yang tidak mampu bekerja,
dan cacat.
• Apabila pekerja meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja, mereka
atau keluarganya berhak atas Jaminan Kematian (JK) berupa biaya
pemakaman dan santunan berupa uang.
• Apabila pekerja telah mencapai usia 55 tahun atau mengalami cacat
total/seumur hidup, mereka berhak untuk memperolah Jaminan Hari Tua
(JHT) yang dibayar sekaligus atau secara berkala.
• Sedangkan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) bagi tenaga kerja
termasuk keluarganya, meliputi: biaya rawat jalan, rawat inap, pemeriksaan
kehamilan dan pertolongan persalinan, diagnostik, serta pelayanan gawat
darurat.
 Kecelakaan Kerja
Kecelakaan Kerja adalah peristiwa kecelakaan yang terjadi dalam
bekerja, termasuk penyakit yang timbul dalam bekerja dan kecelakaan
yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat
kerja dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui.
 Kematian
Kematian adalah peristiwa meninggal dunia yang bukan disebabkan
oleh kecelakaan kerja, seperti sakit, korban kriminilitas dan lain-lain.

28
 Hari Tua
Hari Tua adalah kondisi dimana seorang karyawan telah mencapai usia
55 tahun atau mengalami cacat total tetap setelah ditetapkan oleh dokter
atau memenuhi persyaratan tertentu.

 Pemeliharaan Kesehatan
Hak karyawan dalam bentuk pelayanan yang diberikan jika
karyawan tersebut mengalami gangguan kesehatan. Hak pelayanan
kesehatan ini berlaku bukan hanya untuk karyawan, tapi juga untuk
tanggungannya, yaitu seorang istri dan maksimal 3 anak kandung.

Iuran Premi JAMSOSTEK


 Jaminan Kecelakaan Kerja
 Kelompok I : 0.24% dari upah sebulan
 Kelompok II : 0.54% dari upah sebulan;
 Kelompok III : 0.89% dari upah sebulan;
 Kelompok IV : 1.27% dari upah sebulan;
 Kelompok V : 1.74 % dari upah sebulan;
 Jaminan Hari Tua , sebesar 5.70% dari upah sebulan;
 Jaminan Kematian, sebesar 0.30% dari upah sebulan
 Jaminan Pemeliharaan Kesehatan, sebesar 6% dari upah sebulan bagi
tenaga kerja yang sudah berkeluarga, dan 3% dari upah bagi tenaga
kerja yang belum menikah.

Catatan iuran premi JAMSOSTEK


 Iuran jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian dan jaminan
pemeliharaan kesehatan ditanggung sepenuhnya oleh pengusaha
 Iuran jaminan hari tua sebesar 3.70% ditanggung oleh pengusaha dan
sebesar 2% ditanggung oleh tenaga kerja.

29
 Dasar perhitungan iuran jaminan pemeliharaan kesehatan dari upah
sebulan setinggi-tingginya Rp.1.000.000,-(satu juta rupiah)
Jenis Kelompok Usaha
 Kelompok I
 Perusahaan Dagang, Bank, Konveksi, Perusahaan Jasa, dll
 Kelompok II
 Pabrik gula, Pabrik Rokok, Perkebunan Rakyat, Jasa Hiburan, dll
 Kelompok III
 Industri Makanan, Pabrik Minuman dan Alkohol, Percetakan,
Perusahaan Farmasi, Hotel, dll
 Kelompok IV
 Pabrik Kendaraan bermotor, Perusahaan Angkutan Darat, dll
 Kelompok V
 Perusahaan Angkutan Laut/Udara, Perusahaan Penggalian,
Pertambangan, Pabrik Bahan Peledak, dll

Besar Jaminan Kecelakaan Kerja (PP Nomor 64 tahun 2005)


Biaya Transport
 Darat Rp. 150.000,- Laut Rp. 300.000,- Udara Rp. 400.000,-
Sementara tidak mampu bekerja
 4 bulan pertama 100% upah, 4 bulan kedua 75 % upah, Selanjutnya 50
% upah
Biaya Pengobatan/Perawatan
 Maksimal Rp 8.000.000,-
Santunan Cacat
 Total-tetap:
 Sekaligus 70 % x 70 bulan upah
 Berkala (2 tahun) Rp. 200.000,- per bulan
 Sebagian-tetap: % tabel x 70 bulan upah
 Kurang fungsi: % kurang fungsi x % tabel x 70 bulan upah.

30
Santunan Kematian
 Sekaligus 60 % x 70 bulan upah
 Berkala (2 tahun) Rp. 200.000,- per bulan
 Biaya pemakaman Rp. 1.500.000,-
Biaya Rehabilitasi
 Patokan harga RS DR. Suharso, Surakarta ,ditambah 40 %
 Prothese anggota badan
 Alat bantu (kursi roda)

Ilustrasi:
Seorang karyawan Bank swasta yang telah menikah dengan
dikaruniai 2 anak didaftarkan oleh perusahaannya sebagai peserta
Jamsostek untuk benefit : JKM, JKK, JHT dan JPK. Upah terakhir ybs
adalah IDR 3.000.000,- per bulan.
 Tentukan besar iuran premi per bulan yang harus dibayarkan ke PT.
Jamsostek!
 Tentukan Iuran premi yang menjadi tanggung jawab dan dibebankan
kepada karyawan tsb!
Jawab:
J K M : 0.30% x Rp 3.000.000,- = Rp 9.000,-
J H T : 5.70% x Rp.3.000.000,- = Rp 171.000,-
J K K : 0.24% x Rp.3.000.000,- = Rp 7.200,-
J P K : 6.00% x Rp.1.000.000,- = Rp 60.000,- +
Iuran Premi Jamsostek: Rp 247.200,-
Beban Karyawan:
2,00% x Rp. 3.000.000,- Rp 60.000,- -
Beban Pengusaha: Rp 187.200,-

31
Tabel Prosentase Cacat Tetap Sebagian

32
Tata Cara Pengajuan JKK
 Apabila terjadi kecelakaan kerja pengusaha wajib mengisi form
jamsostek 3 (laporan kecelakaan tahap I) dan mengirimkan kepada PT.
Jamsostek tidak lebih dari 2x24 Jam terhitung sejak terjadinya
kecelakaan.
 Setelah tenaga kerja dinyatakan sembuh oleh dokter yang merawat /
meninggal dunia, pengusaha wajib mengisi form 3a (laporan
kecelakaan tahap II) dan dikirim kepada PT. Jamsostek tidak lebih dari
2X 24 jam sejak tenaga kerja dinyatakan sembuh/meninggal.
Selanjutnya PT. Jamsostek akan menghitung dan membayar santunan
dan ganti rugi kecelakaan kerja yang menjadi hak tenaga
kerja/ahliwaris.
 Form Jamsostek 3a berfungsi sebagai pengajuan permintaan
pembayaran jaminan disertai bukti-bukti:
 Fotokopi kartu peserta.
 Surat keterangan dokter yang merawat dalam bentuk form Jamsostek 3b
atau 3c.
 Kwitansi biaya pengobatan dan perawatan serta kwitansi pengangkutan.

 Pengusaha/Keluarga dari tenaga kerja yang meninggal dunia mengisi


dan mengirim form 4 kepada PT. Jamsostek disertai bukti-bukti :
 Kartu peserta
 Surat keterangan kematian dari Rumah sakit/Kepolisian/Kelurahan
 Identitas ahli waris (photo copy KTP/SIM dan Kartu Keluarga)
 PT. Jamsostek akan membayar jaminan kepada yang berhak.

Besar Jaminan Kematian:


 Dengan PP No. 14 Tahun 1993, ditetapkan :
 Santunan kematian sebesar Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah);
 Biaya pemakaman sebesar Rp 200.000,- (dua ratus ribu rupiah);

33
 Dengan PP No. 83 Tahun 2000, ditetapkan :
 Santunan kematian sebesar Rp 3.000.000,- (tiga juta rupiah)
 Biaya pemakaman sebesar Rp 600.000,- (enam ratus ribu rupiah)
 Dengan PP Nomor 64 Tahun 2005, ditetapkan :
 Santunan Kematian sebesar Rp. 6.000.000,- (enam juta rupiah)
 Biaya Pemakaman Rp. 1.500.000,- (satu juta lima ratus ribu rupiah);
 Santunan Berkala sebesar Rp. 200.000,- / bulan (selama 24 bulan)

Hak Setelah Hubungan Kerja Berakhir


 Tenaga kerja yang berdasarkan keterangan dokter yang ditunjuk
dinyatakan menderita penyakit yang timbul karena hubungan kerja,
berhak memperoleh jaminan kecelakaan kerja meskipun hubungan
kerja telah berakhir.
 Hak atas hubungan jaminan kecelakaan kerja sebagaimana dimaksud
diatas diberikan apabila penyakit tersebut timbul dalam jangka waktu
paling lama 3 (tiga) tahun terhitung sejak hubungan kerja berakhir.
 Sesuai PSAK no.24-Revisi 2004 dinyatakan bahwa tiap perusahaan
selain wajib memenuhi pembayaran Imbalan kerja jangka pendek,
seperti upah,gaji, iuran jaminan sosial, cuti tahunan, cuti sakit, bagi laba
dan bonus serta imbalan non moneter, tiap perusahaan juga diwajibkan
memenuhi penyiapan pembayaran Imbalan pasca kerja. Regulasi ini
menyiratkan perlunya tiap perusahaan mengantisipasi kewajiban masa
depannya secara bijaksana baik melalui jasa asuransi atau lembaga
keuangan lainnya.

34
KEPUTUSAN MENAKERTRANS RI NOMOR : KEP-
67/MEN/IV/2004 TENTANG PELAKSANAAN PROGRAM
JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA
ASING

 Pasal 2
Pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja asing di Indonesia wajib
mengikutsertakan tenaga kerja asing yang bersangkutan dalam Program
Jaminan Sosial Tenaga Kerja.

Sanksi Bagi Pengusaha Yang Melanggar


 hukuman kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan atau denda setinggi-
tingginya Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
 Setelah diberikan peringatan tetapi tidak melaksanakan kewajibannya
dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan ijin usaha.

Tujuan dan Manfaat JKDK


Tujuan
 Perlindungan atas pekerja termasuk bagi keluarga dan Perusahaan.
 Memberi ketenangan dan percaya diri sehingga tercipta disiplin kerja.
 Meningkatkan kesejahteraan pekerja sehingga tercipta produktivitas
dan meningkatkan keuntungan Perusahaan.
Manfaat
 Jaminan bagi pekerja dan Perusahaan.
 Mendorong motivasi untuk lebih tekun bekerja.
 Menciptakan Sense of Belonging dan kerjasama antara pekerja dan
Perusahaan.
 Dengan pengalihan resiko kepada Asuransi, Perusahaan tidak dibebani
biaya-biaya unpredictable.

35
 Kesejahteraan pekerja akan menambah motivasi, disiplin dan rasa
memiliki sehingga meningkatkan produktivitas.
 Ikut secara riil dalam memberikan kontribusi kepada Pembangunan
Daerah.

* Apa itu ASKES?


ASKES adalah penyelenggara jaminan pemeliharaan atau asuransi
kesehatan bagi Pegawai Negri Sipil, Penerima Pensiun PNS dan
TNI/POLRI, Veteran, Perintis Kemerdekaan beserta keluarganya dan
Badan Usaha lainnya. Berbeda dengan pelayanan JAMSOSTEK yang
mencakup semua elemen, pelayanan yang disediakan oleh ASKES hanya
mencakup mengenai kesehatan seperti : konsultasi medis dan penyuluhan
kesehatan, pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter umum dan atau
paramedis, pemeriksaan dan pengobatan gigi, dan lainnya.

Cara Merawat APD yang Baik dan Benar :


1. meletakkan APD pada tempatnya setelah selesai digunakan,
Letakkanlah APD pada tempatnya setelah digunakan agar tetap terjaga
kelayakannya dan supaya tetap awet, tahan lama untuk digunakan.
2. melakukan pembersihan secara berkala,
Bersihkan dan rawatlah APD agar tetap terjaga kesterilannya karena
pemakaian APD secara bergantian dapat menyalurkan penyakit atau
virus-virus dari pekerja lain.
3. memeriksa APD sebelum dipakai untuk mengetahui adanya kerusakan
atau tidak layak pakai,
periksalah kelayakan APD sebelum digunakan agar kita tahu apakah
alat itu masih layak kita gunakan untuk bekerja atau tidak.
4. memastikan APD yang digunakan aman untuk keselamatan jika tidak
sesuai maka perlu diganti dengan yang baru.

36
Pastikan peralatan APD yang akan kita gunakan aman untuk
keselamatan kita dan para pekerja lain agar tidak terkaji sesuatu yang
tidak diinginkan. Kalau memang saat kita memeriksa, APD tersebut
tidak layak untuk digunakan, maka segera gantilah dengan yang baru
dan yang berkualitas baik.
5. dijaga keadaannya dengan pemeriksaan rutin yang menyangkut cara
penyimpanan, kebersihan serta kondisinya.
Jagalah APD dengan cara-cara yang sudah ditentukan. Mulai dari
kebersihan, kondisi serta kelayakan pakai.
6. Apabila dalam pemeriksaan tersebut ditemukan alat helm kerja yang
kualitasnya tidak sesuai persyaratan maka alat tersebut ditarik serta
tidak dibenarkan untuk dipergunakan
Saat kita melaksanakan pemeriksaan kelayakan APD, periksalah
dengan seksama. Apabila ada APD yang tidak sesuai dengan standart,
maka kembalikan dan jangan dipakai.

37
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Alat Pelindung Diri adalah seperangkat alat yang digunakan oleh
tenaga kerja untuk melindungi seluruh/sebagian tubuhnya terhadap
kemungkinan adanya potensi bahaya/kecelakaan kerja.
1) APD( alat perlindungan diri) merupakan alat yang digunakan untuk
mengurangi resiko akibat kecelakaan, bukan menghilangkan kecelakaan itu
sendiri.
2) APD dibutuhkan oleh semua lapisan masyarakat.
3) APD harus sesuai dengan jenis kegiatan dan tempat pekerjaan.
4) APD harus selalu dirawat agar dapat digunakan sesuai dengan ketentuan.

MACAM-MACAM ALAT PELINDUNG DIRI


1. Safety Helmet

Safety Helmet merupakan alat pelindung kepala yang melindungi


kepala dari benda-benda yang bisa mengenai kepala secara langsung.

2. Tali Keselamatan (safety belt)

38
Berfungsi sebagai alat pengaman ketika menggunakan alat
transportasi ataupun peralatan lain yang serupa (mobil,pesawat, alat berat,
dan lain-lain). Sehingga saat kita terjatuh, ada tali pengaman yang
menyangga tubuh kita.

3. Sepatu Karet (sepatu boot)

Berfungsi sebagai alat pengaman saat bekerja di tempat yang becek


ataupun berlumpur. Kebanyakan di lapisi dengan metal untuk melindungi
kaki dari benda tajam atau berat, benda panas, cairan kimia, dsb.

4. Sepatu pelindung (safety shoes)

Seperti sepatu biasa, tapi dari bahan kulit dilapisi metal dengan sol
dari karet tebal dan kuat. Berfungsi untuk mencegah kecelakaan fatal yang
menimpa kaki karena tertimpa benda tajam atau berat, benda panas, cairan
kimia, dsb.

39
5. Sarung Tangan

Berfungsi sebagai alat pelindung tangan pada saat bekerja di tempat


atau situasi yang dapat mengakibatkan cedera tangan. Bahan dan bentuk
sarung tangan di sesuaikan dengan fungsi masing-masing pekerjaan.

6. Tali Pengaman (Safety Harness)

Berfungsi sebagai pengaman saat bekerja di ketinggian. Diwajibkan


menggunakan alat ini di ketinggian lebih dari 1,8 meter.

7. Penutup Telinga (Ear Plug / Ear Muff)

Berfungsi sebagai pelindung telinga pada saat bekerja di tempat yang


bising.

40
8. Kaca Mata Pengaman (Safety Glasses)

Berfungsi sebagai pelindung mata ketika bekerja (misalnya mengelas).

9. Masker (Respirator)

Berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja di


tempat dengan kualitas udara buruk (misal berdebu, beracun, dsb).

10. Pelindung wajah (Face Shield)

41
Berfungsi sebagai pelindung wajah dari percikan benda asing saat
bekerja (misal pekerjaan menggerinda)

11. Jas Hujan (Rain Coat)

Berfungsi melindungi dari percikan air saat bekerja (misal bekerja


pada waktu hujan atau sedang mencuci alat).

Pemahaman akan jaminan sosial sebagai hak kesejahteraan pekerja


Berbagai pertanyaan mengenai jaminan sosial sering diajukan oleh
pekerja di Indonesia, karena kurangnya sosialisasi dari badan-badan
penyelenggara jaminan sosial di Indonesia. Bahkan banyak dari pekerja
yang tidak terekspos mengenai sistem jaminan sosial yang diselenggarakan
di Indonesia. Untuk bisa mengetahui lebih jauh mengenai hak kesejahteraan
sosial anda ssebagai pekerja, ada baiknya anda mempelajari lebIh dahulu
dasar mengenai jaminan sosial.

42
* Apakah jaminan sosial itu?
Menurut Undang-undang no. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan
Sosial Nasional, jaminan sosial adalah salah satu bentuk perlindungan
sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan
dasar hidup dan pekerjaan yang layak. Jaminan sosial dalam hal ini
berhubungan dengan kompensasi dan program kesejahteraan yang
diselenggarakan pemerintah untuk rakyatnya.
* Bagaimana penyelenggaraan jaminan sosial di Indonesia?
Di Indonesia, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) telah
menentukan 4 macam jaminan sosial yang terdiri dari JAMSOSTEK
(Jaminan Sosial Tenaga Kerja) dan ASKES (Asuransi Kesehatan
Indonesia).

B. SARAN
1. Setiap pekerja sebaiknya menggunakan APD.
2. Penyuluhan tentang APD kepada semua masyarakat agar dapat
mengurangi angka kecelakaan.
3. Penggunaan APD sebaiknya sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja.
4. Pemantauan terhadap APD harus rutin dilakukan, agar dalam
penggunaan lebih optimal.

43
Daftar Pustaka
http://hiperkes.wordpress.com/2008/04/04/alat-pelindung-diri/
http://www.depnakertrans.go.id/news.html,707,naker
http://lindariski.blogspot.com/2010/04/makalah-apd.html
http://m.gajimu.com/main/pekerjaan-yanglayak/pekerjaan-yang-
layak/jaminan-sosial
http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/2110400-pengertian-filter/
http://wishnuap.blogspot.com/2011/07/intisari-permenaker-no08-thn-2010-
ttg.html
http://hiperkes.wordpress.com/2008/04/04/alat-pelindung-diri/

44