Anda di halaman 1dari 36

SKENARIO 3

“Medical Check Up”

Seorang laki-laki berusia 48 tahun datang ke dokter untuk medical check


up. Dari anamnesis selama ini yang bersangkutan hampir tidak mempunyai keluhan
selain merasa lemas dan selalu mengantuk. Pasien merupakan pegawai kantoran
yang sangat sibuk. Tidak ada riwayat merokok dan jarang berolahraga. Ayah pasien
meninggal di usia 50 tahun karena serangan jantung. Pemeriksaan fisik BB 90 kg,
TB 165 cm, lingkar perut 109 cm, tekanan darah 130/85 mmHg, lain dalam batas
normal. Pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil GDP 137 mg/dl, kolesterol
total 280 mg/dl, LDL 180 mg/dl, Trigliserida 230 mg/dl, HDL 35mg/dl. Dokter
memberikan edukasi tentang pola hidup sehat serta memberikan terapi pada pasien.

STEP 1

1. Kolesterol : lemak yang berguna bagi tubuh, namun jika terlali tinggi
akan menumpuk di perut dan darah.
2. LDL : low density lipoprotein yang mudah teroksidasi.
3. Trigliserida : lemak yang dibawa aliran darah dan disimpan di hepar.
4. HDL : high density lipoprotein membawa LDL, trigliserida, dan lemak
bebas.

STEP 2

1. Apa etiologi dan faktor risiko pada kasus tersebut?


2. Bagaimana patomekanisme keluhan pada pasien?
3. Bagaimana interpretasi hasil laboratorium?
4. Bagaimana penegakan diagnosa dari kasus tersebut?
5. Bagaimana dokter menjelaskan pola hidup sehat pada pasien dan terapinya?

STEP 3

1. Berikut etiologi dan faktor risiko :


a. Etiologi : pola hidup tidak sehat dan jarang aktivitas.

1
b. Faktor risiko:
i. Dapat dimodifikasi: Lingkar perut, asupan gizi, dan psikologi.
ii. Tidak dapat dimodifikasi: Usia dan jenis kelamin.
2. Berikut patomekanisme keluhan pada pasien :

Obesitas dan jarang aktivitas

Kerusakan sel beta

Resistensi insulin

Peningkatan lemak Hiperglikemia

Lipolisis Lemas

Abnormal
lipid sintesis

Peningkatan LDL
Penurunan HDL

Dislipidemiia

3. Berikut interpretasi hasil laboratorium :


a. GDP < 100.
b. LDL < 100.
c. Trigliserida < 100.
d. HDL > 40.
4. Berikut penegakan diagnosa dari kasus tersebut :
a. Anamnesis : Lemas, mengantuk, dan riwayat keluarga (ayah serangan
jantung).
b. Pemerisaan Fisik
i. Lingkar perut: 165 cm.

2
ii. Tekanan darah: 130/85 mmHg.
iii. Tinggi Badan: 165 cm.
iv. Berat badan: 90 kg.
c. Pemeriksaan penunjang:
i. GDP: 137mg/dl.
ii. Kolesterol: 280.
iii. LDL: 180mg/dl.
iv. Trigliserida: 230mg/dl.
v. HDL: 35mg/dl.
d. Diagnosa banding: Dislipidemia, sindrom metabolik, DM tipe 2.
e. Kriteria: WHO, NCEP, IDF.
5. Berikut dokter menjelaskan pola hidup sehat pada pasien dan terapinya :
Pola hidup sehat : sering olahraga minimal 5x per minggu selama 30
menit, kurangi konsumsi lemak maksimal 10% dari kebutuhan kalori total,
utamakan makan sayuran dan buah, tidak merokok, hitung berat badan
ideal, perhitungan kalori, usia dan berat badan.

STEP 4

1. Berikut interpretasi hasil laboratorium :


Nilai normal
a. GDP (mg/dl) : normal <180; prediabetik 180-125; diabetik >1 26.
b. Kolesterol (mg/dl) : normal <200; batas atas 200-239; tinggi >240.
c. LDL (mg/dl) : normal <130; batas atas 130-159; tinggi >160.
d. HDL (mg/dl) : normal >40; kurang <40.
e. Trigliserida : normal <150; agak tinggi 100-199; tinggi 200-499;
sangat tinggi >50.
2. Berikut penegakan diagnosa dari kasus tersebut
a. Kriteria
i. Kriteria diagnosis WHO :
1) Obesitas abdominal sentral.
2) Hipertrigliserida.
3) Hipertensi >140/90mmHg atau riwayat terapi antihipertensi.

3
4) Gula darah tinggi (GDP terganggu / resistensi insulin).
5) Mikroalbuminuria.
ii. Kriteria diagnosis NCEP :
1) Obesitas abdominal: LP pria >102cm; LP wanita >80cm.
2) Hiperlipidemia >130mg/dl.
3) Hipertensi >140/80mmHg / riwayat terapi antihipertensi.
4) Gula darah tinggi >110mg/dl.
iii. Kriteria diagnosis IDF :
1) Obesitas abdominal: LP pria >90cm; LP wanita >80cm.
2) Hipertrigliserida >150mg/dl.
3) Hipertensi sistolik >130; diastolik >85.
4) Gula darah tinggi >100mg/dl.
b. Pemeriksaan penunjang
i. USG: diagnosa adanya fatty liver, clam glikemik untuk insulin
resistensi akurat.
BB(kg)
ii. Indeks masa tubuh = TB(m)2

iii. Nilai IMT: BB kurang <18,4; BB ideal 18,5-24,9; BB lebih 25-29,9;


Gemuk 30-39,9; sangat gemuk >40.
c. Dx: sindrom metabolik.
3. Berikut dokter menjelaskan pola hidup sehat pada pasien dan terapinya :
a. Edukasi: melaksanakan hidup sehat, olahraga seminggu sekali,
konsumsi tinggi serat, vitamin dan mineral, dan menjaga asupan gula.
b. Farmakologi :
i. Statin: menguragi pembentukan kolesterol di liver. Efek samping
miopati. Dosis 15-50mg. Sensitivitas penurunan LDL 25-40%.
ii. Asam fibrat: penurunan trigliserida plasma, peningkatan HDL.
iii. Asam neukonitik: menghambat enzim hormon sensitif lipase di
jaringan adiposa. Dosis 50-10 3x pemberian.
iv. Ezerimibe: penurunan LDL 16-18%. Dosis maksimal 10mg.
v. Metformin: untuk gula darah tinggi.
4. Berikut etiologi dan faktor risiko :
a. Etiologi: resistensi insulin akubat kegagalan sel beta.

4
b. B. Faktor risiko: obesitas, gaya hidup, genetik, usia, jenis kelamin,
aktivitas fisik.
5. Berikut patomekanisme keluhan pada pasien :

Adanya sentral obesitas

Sindrom metabolik Adanya kolesterol

Peningkatan kolesterol dan gula darah Peningkatan viskositas

Kurang oksigen pada otak Kompensasi Jantung

Mengantuk Tekanan darah tinggi

Resisten insulin

Kerusakan sel beta

Jaringan Lemak

Metabolisme disimpan di hepar

Lipolisis

LDL meningkat dan HDL menurun

5
MIND MAP

ETIOLOGI

FAKTOR RISIKO

SINDROME PATOMEKANISME WHO


METABOLIK
PENEGAKAN
KRITERIA NCEP
DIAGNOSIS

FARMAKOLOGI IDF
TATALAKSANA
NON-
FARMAKOLOGI

STEP 5

1. Sindrom Metabolisme
A. Definisi.
B. Etiologi.
C. Faktor resiko.
D. Patomekanisme.
E. Penegakan Diagnosis.
F. Tatalaksana.

STEP 6

Belajar Mandiri

6
STEP 7

1. SINDROM METABOLIK

A. DEFINISI
Sindrom Metabolik merupakan kelainan metabolik kompleks yang
diakibatkan oleh peningkatan obesitas. Sindrom metabolik merupakan suatu
kumpulan faktor resiko metabolik yang berikatan langsung terhadap
artherosklerotik.1
B. ETIOLOGI

Etiologi Sindrom metabolik belum dapat diketahui secara pasti.


Suatu hipotesis menyatakan bahwa penyebab primer dari sindrom
metabolik adalah resistensi insulin.1

Menurut pendapat Tanebaum penyebab sindrom metabolik adalah :

a. Gangguan fungsi sel β dan hipersekresi insulin untuk


mengkompensasi resistensi insulin. Hal ini memicu terjadinya
komplikasi makrovaskuler (komplikasi jantung).
b. Kerusakan berat sel β menyebabkan penurunan progresif sekresi
insulin, sehingga menimbulkan hiperglikemia. Hal ini
menimbulkan komplikasi mikrovaskuler (nephropathy
diabetica).1
C. FAKTOR RESIKO
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terhadap terjadinya
sindrom metabolik. Faktor-faktor tersebut dibagi menjadi dua yaitu faktor
yang dapat dimodifikasi dan faktor yang tidak dapat dimodifikasi. Untuk
faktor yang tidak dapat dimodifikasi yaitu umur, jenis kelamin, genetik,
sedangkan ukuran lingkar pinggang, asupan gizi, sosial ekonomi dan
psikologis merupakan faktor yang dapat dimodifikasi.1
a. Tidak dapat dimodifikasi
1) Umur
Seiring dengan peningkatan umur, prevalensi sindrom
metabolik semakin meningkat. Usia lanjut dianjurkan untuk

7
mengkonsumsi karbohidrat kurang dari 60% dari total energi
sebab peningkatan konsumsi karbohidrat akan meningkatkan
resistensi insulin terutama dalam populasi usia lanjut.1
2) Genetik
Besarnya pengaruh genetik bervariasi dari 5% – 70.
Kemungkinan seorang anak obesitas 40% bila salah seorang
dari orangtuanya obesitas dan sebesar 80% jika kedua orang
tuanya obesitas serta 7% jika kedua orangtuanya tidak
obesitas.1
3) Jenis Kelamin
Pengaruh jenis kelamin terhadap prevalensi sindrom
metabolik hampir sama antara pria dan wanita. Namun
prevalensi untuk pria lebih tinggi dibandingkan dengan
wanita. Hal tersebut disebabkan pria mempunyai lingkar
pinggang yang lebih besar dibandingkan wanita yang
merupakan salah satu tanda adanya obesitas sentral.1
b. Dapat dimodifikasi
1) Lingkar Pinggang
Seseorang yang mempunyai lingkar pingang yang besar
mempunyai total lemak tubuh yang tinggi serta pengukuran
lingkar pinggang diakui sebagai pengukuran yang baik untuk
mengetahui lemak perut. Pengaruh lingkar pinggang terhadap
sindrom metabolik berkaitan dengan keadaan obesitas sentral
yang meningkatkan risiko sindrom metabolik. Sehingga
Pengukuran lingkar pinggang dapat digunakan untuk
mengidentifikasi sindrom metabolik. Pada pria ukuran lingkar
pinggang ≥90 cm dan wanita ≥80 cm berisiko terhadap
sindrom metabolik.1
2) Asupan Gizi
Konsumsi tinggi karbohidrat >60 % dari total kalori yang
dikonsumsi meningkatkan risiko sindrom metabolik.

8
Konsumsi tinggi karbohidrat meningkatkan kadar trigliserida
yang merupakan salah satu kriteria sindrom metabolik.1
3) Sosial Ekonomi
Peningkatan pendapatan masyarakat pada kelompok sosial
ekonomi tertentu, terutama di perkotaan menyebabkan
adanya perubahan pola makan dan pola aktivitas yang
mendukung terjadinya peningkatan jumlah populasi obesitas
yang merupakan faktor risiko sindrom metabolik.1
4) Sosial Ekonomi
Peningkatan pendapatan masyarakat pada kelompok sosial
ekonomi tertentu, terutama di perkotaan menyebabkan
adanya perubahan pola makan dan pola aktivitas yang
mendukung terjadinya peningkatan jumlah populasi obesitas
yang merupakan faktor risiko sindrom metabolik.1
D. PATOFSIOLOGI
a. Patofisiologi dislipidemia
Faktor resiko terjadinya dislipidemia termasuk diantaranya adalah
diet, stress, tidak aktif secara fisik dan merokok. Dislipidemia dapat
bersifat primer atau genetik dan bersifat sekunder yang merupakan
pengaruh dari suatu kondisi tertentu atau pengaruh dari penggunaan
suatu obat yang dapat meningkatkan kadar lipid plasma .Gangguan
abnormalitas lipid apabila tidak terkontrol dapat menyebabkan
mortalitas pada pasien, dimana mortalitas tertinggi muncul dari penyakit
kardiovaskular dan serebrovaskular.2
Hipotesis “response-to-injury” menyatakan bahwa faktor resiko
seperti LDL teroksidasi, cedera mekanik pada endotelium, homosistein
yang berlebih, serangan imunologik dan induksi infeksi dapat
menyebabkan perubahan endotelial dan fungsi intimal, menyebabkan
disfungsi endotelial dan serangkaian interaksi seluler yang berujung
pada atherosklerosis.2

9
Gambar 1.1 Plak aterosklerosis.2

Lesi atherosklerosis diperkirakan muncul dari transport dan retensi


dari LDL-C plasma melalui lapisan sel endotelial menuju matriks
ekstraselular pada ruang subendothelial. Sekali berada pada dinding
arteri, LDL akan termodifikasi secara kimia melalui oksidasi dan glikasi
nonenzimatik. LDL teroksidasi akan menyebabkan penarikan monosit ke
dinding arteri, dimana monosit akan berubah menjadi makrofag.2

Makrofag memiliki potensi untuk mempercepat oksidasi LDL dan


akumulasi ApoB dan merubah uptake LDL yang dimediasi reseptor pada
dinding arteri dari yang mula-mula reseptor LDL biasa menjadi
“reseptor scavenger” yang tidak bergantung pada kadar kolesterol
dalam sel. LDL teroksidasi akan meningkatkan level inhibitor
plasminogen (promosi koagulasi), menginduksi ekspresi endotelin
(substansi vasokontriksi), menghambat ekspresi nitrit okside (vasodilator
dan inhibitor platelet) dan bersifat toksik bagi makrofag bila sangat

10
teroksidasi. LDL teroksidasi akan memprovokasi respon inflamasi yang
dimediasi oleh berbagai kemoatraktan dan sitokin, yang mana kemudian
dapat menyebabkan akumulasi masif dari kolesterol. Sel yang sarat
kolesterol disebut sel busa (foam cells) yang merupakan komponen yang
menyebabkan endapan lemak pada dinding arteri. Abnormalitas yang
muncul pada sistem vaskular akibat adanya atherosklerosis antara lain
adalah penyakit jantung iskemik.2

Gangguan metabolisme lipoprotein

Diantara gangguan metabolisme lemak selain lipiodosis terutama


teradapat penyakit terutama abnormal konsentrasi liporpotein didalam
serum dan transpor lemak didalam darah. Lemak ditranspor ditranspor
didalam darah dalam bentuk kompleks olekul globular (mikroemulsi),
yakni lipoprotein (LPs). Permukaan lipoprotein terutama terdiri
dari lemak amifilik (fosfolipid dan kolesterol non-emulsifikasi),
sementara intinya mengandung lemak non polar (hidropilik), yakni
trigliserida dan ester kolesterol (Chol-E), yang merupakan bentuk
transpor dan penyimpanan kolesterol. LPs juga mengandung
apolipoprotein tertentu. LPs terdapat dalam berbagai ukuran, densitas,
komposisi lemak, dan tempat asal. Apolipoprotein berfungsi sebagai
elemen penyusun lp (misal, apoB dan apoE) untuk transpor LP
dimembran sel target LP, dan sebagai aktivator enzim ( misal, apo AI,
Apo CII).2

Kilomikron mentranspor lemak dari usus (melalui saluran limfe


usus) ke perifer (otot lurik, jaringan lemak), sementara ApoCIInya
mengaktifkan lipoprotein lipase endotel (LPL). Jadi asam lemak bebas
(FFA) dipecahkan, kemudian diambil oleh sel otot dan jaringan
lemak.Dihati sisa kilomikron berikatan dengan reseptor (protein yang
terikat reseptor LDL) melalui ApoE kemudian diendositosis, dan dengan
cara ini mengahantarkan TG serta kolesterol dan ester kolesterolnya.
Penghantaran ini serta sintesis TG dan kolesterol yang baru kemudian
dikeluarkan oleh hati dalam bentuk densitao LP sangat rendah (very low

11
density LP/VLDL) ke perifer, yakni VLDL mengaktifkan LPL dengan
ApoCII-nya, serta menimbulkan pelepasan lemak.ApoCII menghilang
pada proses ini dan ApoE menjadi terpajan, proses ini meninggalkan sisa
VLDL atau densitas intermediate (Intermediate density LP/IDL), dan
setengahnya akan kembali kehati (sebagian besar berikatan dengan ApoE
ke reseptor IDL).2

IDL dipenuhi dengan lemak dari hati, dan akan meninggalkan hati
sebagai VLDL. Separuh IDL lainnya akan ditansformasikan (dengan
kehilangan ApoE dan terpajannya ApoB). Pada saat kontak dengan
lipase hepatik menjadi LP densitas rendah (LDL). Dua pertiga dari LDL
akan menghantarkan kolesterol dan Chol-E kedalam hati, sebagiannya
dihantarkan ke jaringan ekstrahepatik. Kedua proses ini membutuhkan
peningkatan ApoB ke reseptor LDL. Dengan berikatan ke resptor,
diperantarai oleh klatrin di daerah lekukan kecil dalam pembentukan sel,
LDL mengalami enositosis dengan reseotor LDL kembali bersirkulasi ke
membran sel. Setelah penyatuan endosom dengan lisosom,
apolipoprotein akan dicerna dan Chol-E dipecah sehingga kolesterol
bebas mencapai sitosol. Akibat peningkatan konsentrasi kolesterol inta
sel ini :

1) Enzim kunci untuk sintesis kolesterol dihambat (3-HMG-


KoA reduktase).
2) Kolesterol kembali diesterifikasi kebentuk penyimanannya.
3) Sintesis reseptor LDL dihambat.2

LP densitas tinggi (HDL) menukar apoliporotein tertentu dengan


kilomikron dan VLDL, serta mengambil kelebihan kolesterol dan sel
ekstrahepatik dan darah. Melalui ApoA1-nya, HDL mengaktifkan enzim
plasma lesitin kolesterol asetiltransferase (LCAT) yang sebagian
mengesterifikasi kolesterol dan menghantarkan kolesterol dan Chol-E ke
hati, dan kelenjar yang menghasilkan hormon steroid (ovarium, testis,
adrenal ) yang memiliki reseptor HDL.2

12
Peningkatan lemak didalam darah dapat memengaruhi kolesterol
trigliserida dalam darah atau keduanya (hiperkolesterolemis,
hipertrigliseridemia, hiperlipidemia kombinasi). Saat ini
hiperlipoproteinemia mencakup semua. Pada sebagian pasien
hiperkolesterolemia (lebih dari 200 – 220 mg/dl serum) terdapat
peningkatan prevalensi familial terhadap keadaan ini, namun
penyebabnya masih belum diketahui (hiperkolesterolemia poliogenik).
Namun, kelebihan berat badan dan pola makan memainkan peran
penting. Kolesterol LDL dapat diturunkan dengan pemilihan makanan
yang menganduk lemak nabati ( lemak tidak jenuh). Sebaliknya, lemak
hewani (jenuh) meningkatkan sintesis kolesterol dihati dan menurunkan
densitas reseptor LDL sehingga konsentrasi LDL yang kolesterol di
dalam serum meningkat (Kolesterol LDL >135 mg/dL). Akibatnya,
terjadi peningkatan pengikatan LDL terhadap reseptor scavenger yang
memperantai pengumpulan kolesterol di makrofag, kulot, dan dinding
pembuluh darah. Jadi hiperkolesterolemia merupakan faktor resiko untuk
aterosklerosis dan penyakit jantung koroner.2

13
Obesitas Olahraga Merokok Genetik Makanan Junk
Food

Kelebihan BB Kurang Nikotin Mutasi pada


Olahraga Mengandung
reseptor
lemak jenuh
LDL

Ketidakseimb Lipolisis Menghamat


angan antara berkurang pemecahan Penumpukan
LDL
asupan dan /tidak ada lemak pada
menumpuk
pengeluaran pem.darah
pada
energi pem.darah

HDL turun
LDL
meningkat

Penimbunan LDL
di pem.darah

ATEROSKLEROSIS

14
ATEROSKLEROSIS

Terjadi pada Menghambat


pem.darah Terjadi pada Terjadi pada aliran darah
tepi pem.darah pem.darah
di otak koroner
jantung

Gangguan Tidak ada


Otak kurang
pem.darah O2 & nutrisi
suplai O2
tepi Iskemik yg tersuplai
dan nutrisi

Chronic Iskemik
Memicu Tubuh
Ischemia
penyakit kompensasi
jantung
koroner
Stroke
Metabolisme
anaerob

PJK

Asam Laktat

Penumpukan asam
Penumpukan
laktat dijaringan
asam laktat di
jaringan dan kulit
bagian subkutan

Pegal dan kaku

Nyeri

Gambar 1.2 Patofisiologi Dislipidemia.2

15
b. Patofisiologi Obesitas Sentral
Obesitas terjadi karena adanya kelebihan energi yang disimpan
dalam bentuk jaringan lemak. Jaringan lemak sendiri adalah tempat
penyimpanan energi paling besar pada manusia. Jaringan lemak
berfungsi untuk menyimpan energi dalam bentuk trigliserida melalui
proses lipogenesis saat tubuh kelebihan energi, dan memobilisasi energi
melalui proses lipolisis saat tubuh kekurangan energi. Pada obesitas
sentral, lemak berakumulasi sebagai lemak viseral/intra-abdominal atau
lemak subkutan abdomen. Obesitas tipe android berisiko mengalami
sindrom metabolik dan penyakit kardiovaskular, khususnya jika
terdapat lemak viseral yang berlebihan.2
Obesitas terjadi akibat ketidakseimbangan pada proses lipolisis dan
lipogenesis. Lipogenesis merupakan proses deposisi lemak yang
meliputi proses sintesis asam lemak dan sintesis trigliserida yang terjadi
di hati dan jaringan adiposa. Energi yang berasal dari lemak jika
melebihi kebutuhan tubuh akan disimpan dalam jaringan lemak, begitu
pula energi yang berasal dari karbohidrat dan protein. Pada penderita
obesitas, jumlah simpanan lemak tubuhnya berlebihan. Hal ini ditandai
dengan peningkatan ukuran (hipertrofi) ataupun peningkatan jumlah
(hiperseluler) sel adiposit.2
Adiposit sebelumnya dikenal hanya sebagai tempat penyimpanan
trigliserida. Namun penelitian menunjukkan bahwa adiposit mampu
melakukan fungsi endokrin berupa sekresi hormon. Adiposit dapat
memproduksi beberapa peptida dan metabolit yang berpengaruh pada
pengontrolan berat badan. Beberapa produk yang dapat dihasilkan
adiposit adalah TNF-ɑ, IL-6, Adipocyte lipid-binding protein, leptin,
dan lain-lain.2
Salah satu produk dari adiposit adalah leptin. Leptin merupakan
hormon yang berpengaruh pada proses lipogenesis. Leptin dapat
membatasi penyimpanan lemak dengan cara mengirim sinyal pada otak
untuk mengurangi asupan. Pada sebagian besar penderita obesitas,

16
terjadi resistensi terhadap leptin sehingga tingginya kadar leptin tidak
menurunkan nafsu makan.2
Jenis makanan yang dikonsumsi juga berpengaruh besar dalam
terjadinya obesitas. Triasilgliserol yang terdapat dalam tubuh dihasilkan
melalui 2 cara, yaitu konsumsi langsung dari makanan berlemak dan
konsumsi karbohidrat. Sintesis triasilgliserol dari glukosa akan
membutuhkan energi lebih banyak daripada jika triasilgliserol langsung
dikonsumsi dari makanan berlemak. Oleh karena itu, orang yang
mengonsumsi makanan berlemak secara berlebih akan lebih beresiko
mengalami obesitas dibandingkan orang yang mengonsumsi glukosa
berlebih.2
Selain gangguan dalam pengaturan intake makanan, obesitas dapat
juga disebabkan oleh kegagalan pemanfaatan lipolisis atau tingginya
sensitivitas insulin. Insulin merupakan salah satu faktor hormon yang
penting dalam mempengaruhi lipogenesis. Insulin menstimulasi
lipogenesis dengan cara meningkatkan pengambilan glukosa di jaringan
adiposa melalui transporter glukosa menuju membran plasma.
Tingginya sensitivitas insulin akan meningkatkan lipogenesis sehingga
jumlah cadangan lemak tubuh akan semakin banyak.2
Menurut Guyton & Hall bahwa obesitas dapat dipengaruhi oleh:
1) Faktor psikogenik
Biasanya seseorang diketahui mengalami kenaikan berat
badan yang besar selama atau setelah keadaan yang menekan.
Dalam hal ini, makanan dijadikan alat pelepas ketegangan.3
2) Kelainan neurogenik
Lesi pada nukleus ventromedialis hipotalamus menyebabkan
manusia makan secara berlebihan dan menjadi gemuk sehingga
menyebabkan kelebihan produksi insulin, yang selanjutnya
meningkatkan penyimpanan lemak. Pada penderita tumor
hipofisis yang menekan hipotalamus menjadi gemuk
secara bertahap, sehingga dapat dengan pasti obesitas tersebut
dihasilkan karena kerusakan hipotalamus.3

17
3) Faktor genetik
Kelainan genetik pada sifat kimiawi penyimpanan lemak
diketahui menyebabkan obesitas pada beberapa turunan tikus
dan mencit.3
4) Kelebihan nutrisi pada masa kanak-kanak.3
5) Kegemukan Akibat Kortisol
Walaupun kortisol dapat menyebabkan timbulnya mobilisasi
asam lemak secukupnya dari jaringan lemak, banyak penderita
yang kelebihan sekresi kortisol seringkali menderita kegemukan
yang khas, dengan penumpukan lemak yang berlebihan di
daerah dada dan di daerah kepalanya, sehingga badannya seperti
sapi dan wajahnya bulat yang disebut 'moon face'.3
c. Hipertensi pada sindrom metabolik.
Definisi sindrom metabolik pada dewasa telah disepakati, namun
kontroversi mengenai etiologi yang mendasari sindrom metabolik
sampai saat ini masih tetap ada. Hipotesis terbaik menyatakan bahwa
obesitas dan resistensi insulin merupakan kunci terjadinya sindrom
metabolik.Obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara asupan
energi dengan luaran energi, yaitu asupan energi yang tinggi atau luaran
energi yang rendah. Asupan energi tinggi disebabkan konsumsi
makanan yang berlebihan, sedangkan luaran energi rendah disebabkan
metabolisme tubuh yang rendah, aktivitas fisik, dan efek termogenesis
makanan. Kelebihan energi disimpan dalam bentuk jaringan lemak.4
Hubungan antara obesitas dan hipertensi telah lama diketahui dan
telah banyak dilaporkan oleh banyak peneliti, namun mekanisme
terjadinya hipertensi akibat obesitas hingga saat ini belum
jelas.Sebagian besar peneliti menitikberatkan patofisiologi tersebut pada
tiga hal utama yaitu gangguan sistem autonom, resistensi insulin, serta
abnormalitas struktur dan fungsi pembuluh darah. Ketiga hal tersebut
dapat saling mempengaruhi satu dengan lainnya.4
Akhir-akhir ini diketahui bahwa peningkatan kejadian obesitas dan
sindrom metabolik terjadi akibat asupan total fruktosa meningkat.

18
Fruktosa seperti gula lainnya menyebabkan peningkatan kadar asam
urat dengan cepat. Fruktosa adalah gula biasa yang terdapat pada madu
dan buah-buahan. Fruktosa sering ditambahkan pada minuman ringan,
kue, permen, dan yogurt. Pemberian fruktosa oral atau intravena dalam
waktu 30-60 menit dapat meningkatkan asam urat serum pada manusia
dan hal ini dapat berkesinambungan. Glukosa dan gula sederhana
lainnya tidak mempunyai efek seperti ini. Di hati, fruktosa akan diubah
menjadi fruktosa-11 fosfat dan adenosin triphosphate (ATP) oleh enzim
fruktokinase, dan selanjutnya diubah menjadi adenosin diphosphate
(ADP). Turunan ADP dimetabolisme menjadi bermacam-macam
subtrat purin. Pelepasan fosfat yang cepat bersamaan dengan reaksi
adenosin monophosphate (AMP) deaminase. Kombinasi keduanya akan
meningkatkan substrat melalui fruktosa oral, dan enzim (deaminase
AMP) merupakan regulasi produksi asam urat (Gambar 1). Asam urat
yang tinggi dapat mengakibatkan disfungsi endotel dan menurunkan
bioavailabilitas nitric oxide (NO) endotel. Gangguan nitric oxide
memediasi terjadinya resistensi insulin dan hipertensi.4
Peran obesitas dan resistensi insulin pada sindrom metabolik telah
banyak dilaporkan. Obesitas sering berhubungan dengan
hiperinsulinemia, khususnya tipe android. Laki-laki obesitas cenderung
mempunyai deposit lemak di daerah atas tubuh khususnya pada
tengkuk, leher, bahu, dan perut yang disebut obesitas tipe android. Pada
perempuan obesitas dijumpai deposit lemak dengan area yang sama
dengan lakilaki meskipun mereka juga mempunyai batas area segmen
bawah seperti pada bokong dan pinggul yang disebut obesitas tipe
ginekoid. Pada obesitas tipe android (obesitas sentral), lemak
berakumulasi sebagai lemak viseral/intra-abdominal atau lemak
subkutan abdomen. Obesitas tipe android berisiko mengalami sindrom
metabolik dan penyakit kardiovaskular, khususnya jika terdapat lemak
viseral yang berlebihan. Kadar adiponektin yang rendah, adanya
resistensi leptin, serta berbagai sitokin yang terlepas dari sel adiposa dan
sel inflamasi yang menginfiltrasi jaringan lemak (misalnya makrofag)

19
menurunkan ambilan asam lemak bebas oleh mitokondria pada
beberapa jaringan, menurunkan oksidasi asam lemak bebas, dan
menyebabkan akumulasi asam lemak bebas intrasel. Kelebihan asam
lemak bebas intraselular dan metabolik (fatty acyl CoA,
diacyglgycerol,dan ceramide) dapat memicu terjadi resistensi insulin
(bahkan hiperisulinemia dan hiperglikemia).4
Pada obesitas terjadi resistensi insulin dan gangguan fungsi endotel
pembuluh darah yang menyebabkan vasokonstriksi dan reabsorpsi
natrium di ginjal yang mengakibatkan hipertensi.Telah dibuktikan oleh
penelitian yang menyatakan retensi garam berhubungan dengan
hiperinsulinemia pada obesitas yang menyebabkan hipertensi.
Demikian juga insulin dapat meningkatkan produksi norepinephrine
plasma yang bermakna yang dapat meningkatkan tekanan darah.
Perbaikan tekanan darah dan respons intoleransi glukosa dengan
peningkatan aktivitas fisik pada obesitas juga berhubungan dengan
penurunan kadar insulin plasma. Resistensi insulin dapat meningkatkan
tekanan darah melalui penurunan nitric oxide yang menimbulkan
vasodilatasi, peningkatan sensitivitas garam, atau peningkatan volume
plasma.4
Penelitian lain menunjukkan kecepatan natriuresis dan pengeluaran
antinatriuresis sesudah fast have dan memperlihatkan hubungan antara
kadar insulin serum dan eskresi garam. Retensi natrium menyebabkan
hiperinsulinemia yang indenpenden dari hipoglikemia, laju filtrasi
glumerulus (LFG), aliran darah ginjal, atau kadar aldosterol plasma.
Hubungan antara resisten insulin dan tekanan darah pada anak obesitas
telah diteliti oleh Umboh.Sebagian besar anak obesitas menderita pre-
hipertensi dan terdapat korelasi linier yang lemah antara kadar insulin
dan tekanan darah, serta resistensi insulin mempengaruhi peningkatan
tekanan darah sistolik pada anak obese. Pada penelitian ini anak yang
obesitas diambil dari anak yang BMI lebih dari persentil ke-95, dan
definisi sindrom metabolik tidak disebutkan walaupun beberapa kriteria
sindrom metabolik terdapat pada penelitian ini. Konsumsi makanan

20
tinggi kalori akan mengakibatkan sindrom metabolik dengan
meningkatnya massa lemak di daerah abdomen pada individu yang
rentan. Masa lemak abdomen merupakan sumber asam lemak bebas
dalam sirkulasi. Penelitian dengan menggunakan model clamp
euglycemic hyperinsulinemia menunjukkan efek marker antinatriuretic
pada insulin. Peningkatan masa sel lemak menyebabkan peningkatan
produksi angiotensinogen di jaringan lemak, yang berperan penting
dalam peningkatan tekanan darah. Sel lemak juga membuat enzim
konvertase angiotensin dan katepsin, yang memiliki efek lokal pada
katabolisme dan konversi angiotensin. Asam lemak dapat meningkatkan
stres oksidatif pada sel endotel dan proses ini diamplifikasi oleh
angiotensin. Telah dibuktikan bahwa renin angiotensin system (RAS)
pada jaringan lemak terlibat dalam patofisiologi obesitas dan penyakit
yang berhubungan dengan obesitas, termasuk hipertensi dan resitensi
insulin. Kadar RAS lokal di dalam jaringan lemak berperan dalam
meningkatkan aktivitas RAS sistemik, sehingga menyebabkan kenaikan
tekanan darah. Jumlah jaringan lemak pada individu dengan obesitas
menyebabkan peningkatan RAS dalam jaringan lemak. Selain itu,
angiotensin II (komponen utama RAS) dan angiotensinogen (prekursor
angiotensin II) berperan dalam pertumbuhan, diferensiasi dan
metabolisme jaringan lemak, yang dalam jangka panjang dapat
mendorong penyimpanan trigliserida dalam hati, otot rangka, serta
pankreas, sehingga menyebabkan resistensi insulin. Pada obesitas,
selain pertambahan masa lemak, masa non-lemak juga meningkat, dan
terjadi hipertrofi organ seperti jantung dan ginjal. Pada ginjal terjadi
glomerulomegali, vasodilatasi arteriol aferen, dan vasokonstriksi
arteriol eferen yang menyebabkan hipertensi intraglomerular.
Hipertensi intraglomerular merupakan awal terjadinya
mikroalbuminuria dan proteinuria yang selanjutnya melalui berbagai
mekanisme selular akan menyebabkan glomerulosklerosis dan fibrosis
tubulointertisial pada obesitas. Peningkatan asupan lemak akan
mengubah reabsorpsi natrium di ginjal. Pada penelitian diketahui

21
bahwa retriksi garam atau gabungan retriksi garam dan pengurangan
kalori dapat menormalkan tekanan darah pada perempuan obesitas.
Pengurangan kalori yang tidak disertai pengurangan natrium tidak
menimbulkan efek hipotensi. Pendapat tersebut dibantah oleh penelitian
lain yang melaporkan bahwa tekanan darah turun pada pasien
overweight dengan hipertensi yang kehilangan berat badan rata-rata
10,5 kg. Pada observasi, subjek penelitian dan kelompok kontrol
mengalami penurunan berat badan disertai penurunan tekanan darah,
meskipun kedua kelompok mendapat asupan garam yang tinggi.
Sayangnya penelitian tidak melakukan pemeriksaan secara objektif
terhadap asupan dan ekskresi garam. Obesitas berhubungan dengan
aktivitas renin-angiotensin, hiperinsulinemia dan peningkatan aktivitas
sistem saraf simpatetik, dan semua ini berkontribusi pada reabsorpsi
natrium dan berhubungan dengan retensi cairan sehingga menyebabkan
hipertensi obesitas renal. Manifestasi awal hipertensi pada obesitas
diawali oleh hipertensi sistolik tanpa disertai hipertensi diastolik
(isolated systolic hypertension). Pada penelitian pengukuran tekanan
darah pada remaja dengan obesitas, ditemukan 94% subjek hipertensi
sistolik. Dalam penelitian lain pada kelompok remaja di Amerika
Serikat didapatkan bahwa hipertensi sistolik tanpa hipertensi diastolik
merupakan faktor risiko terjadinya morbiditas dan mortalitas
kardiovaskular pada masa dewasa kelak. Obesitas selalu dihubungkan
dengan terjadinya hipertensi tetapi masih belum begitu jelas kenapa
hipertensi tidak terjadi pada semua pasien obesitas. Reade dkk
melakukan penelitian pada a nak obesitas dengan hipertensi dan yang
tidak disertai hipertensi. Dalam penelitiannya, anak obesitas disertai
hipertensi cenderung mengalami obstructive sleep apnea syndrome
(OSAS) dibandingkan anak obesitas dengan normotensi.Penemuan ini
sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa OSAS merupakan
salah satu faktor penyebab obesitas yang tidak selalu mengalami
hipertensi.4

22
Gambar 1.3 Patogenesis Sindrom Metabolik.4

E. PENEGAKAN DIAGNOSIS
Dalam menegakkan diagnosis pada sindrom metabolik
menggunakan kriteria. Kriteria yang dianjurkan oleh NCEP-ATP III lebih
banyak digunakan, karena lebih memudahkan seorang klinis untuk
mengidentifikasi seseorang dengan sindrom metabolik. Sindrom metabolik
ditegakkan apabila seseorang memiliki sedikitnya 3 (tiga) kriteria. Beberapa
kriteria sindrom metabolik :

Tabel 1.1 Kriteria Sindrom Metabolik.2

Kriteria WHO EGIR ATP III AACE IDF (2005)


Klinis (1998) (2001) (2003)
Resistensi TGT, Insulin Tidak ada, TGT atau Tidak ada
Insulin GDPT, plasma > tetapi GDPT
DMT2, persentil mempunyai ditambah
atau ke-75 3 dari 5 salah satu
sensitivitas Ditambah kriteria dari kriteria
dua dari berikut berikut

23
insulin kriteria berdasarkan
menurun berikut penilaian
Ditambah klinis
2 dari
kriteria
berikut
Berat Pria: rasio LP ≥94 cm LP ≥ 102 IMT ≥25 LP yang
badan pinggang pada pria cm pada kg/m2 meningkat
panggul atau ≥80 pria atau (spesifik
>0,90 cm pada ≥88 cm tergantung
Wanita: wanita pada populasi)
rasio wanita ditambah
pinggang dua dari
panggul kriteria
>0,85 berikut
Lipid TG ≥1590 TG ≥150 TG ≥150 TG TG ≥ 150
mg/dL mg/dL mg/dL ≥150mg/dL mg/dL atau
dan/atau dan/atau dan HDL-C dalam
HDL-C < HDL-C 39 HDL-C <40 mg/dL pengobatan
35 mg/dL mg/dL <40 mg/dL pada pria TG
pada pria pada pria pada pria atau <50 HDL-C
aau < 39 atau wanita atau <50 mg/dL pada <40 mg/dL
mg/dL mg/dL wanita pada pria
pada pada atau <50
wanita wanita mg/dL
pada
wanita atau
dalam
pengobatan
HDL-C
Tekanan ≥140/90 ≥140/90 ≥130/85 ≥130/85 ≥130
Darah mmHg mmHg mmHg mmHg mmHg

24
atau dalam sistolik
pengobatan atau ≥85
hipertensi mmHg
diastolic
atau dalam
pengobatan
hipertensi
Glukosa TGT, TGT atau ≥110 TGT atau ≥100
GDPT atau GDPT mmHg/dL GDPT mg/dL
DMT2 (tetapi (termasuk (tetapi (termasuk
bukan penderita bukan diabetes)
diabetes) diabeter) diabetes)
Lainnya Mikroalbu- Kriteria
minuria resistensi
insulin
lainnya

F. TATALAKSANA
a. Non farmakologi
1) Obesitas Abdomen / Obesitas Sentral.
Mengurangi berat badan sebanyak 7 – 10 %. Selama satu
tahun pertama (6-12 bulan). Sesudah itu, teruskan penurunan berat
badan sebisa mungkin dengan tujuan akhir mencapai berat badan
yang diinginkan (< IMT 25 kg/ m2).2
2) Inaktivitas fisik
Aktivitas fisik intensitas sedang setidaknya 30 menit secara
kontinu maupun intermiten ( dan lebih baik ≥ 60 menit) 5 hari /
minggu), tetapi lebih baik lagi bila dilakukan setiap hari.2
3) Diet aterogenik
Mengurangi asupan lemak jenuh < 7% kalori total, kurangi
lemat trans, kolesterol dalam diet < 200 mg/Dl, lemak total 25 %

25
hingga 35 %, kalori total. Sebagian besar diet lemak sebaiknya
berupa lemak tidak jenuh, gula sederhana harus dibatasi.2
b. Farmakologi
1) Dislipidemia
i. Statin
Mekanisme Kerja Statin bekerja dengan mengurangi
pembentukan kolesterol di liver dengan menghambat secara
kompetitif kerja dari enzim HMG-CoA reduktase. Pengurangan
konsentrasi kolesterol intraseluler meningkatkan ekspresi
reseptor LDL pada permukaan hepatosit yang berakibat
meningkatnya pengeluaran LDL-C dari darah dan penurunan
konsentrasi dari LDL-C dan lipoprotein apo-B lainnya termasuk
trigliserida.2
a) Statin sebagai pencegahan primer :
1. Terapi statin direkomendasikan sebagai bagian dari
pengelolaan dan strategi pencegahan primer penyakit
kardiovaskular pada dewasa yang memiliki 20% atau
10 tahun risiko lebih besar terkena penyakit
kardiovaskular (skor risiko Framingham). Tingkat
risiko dapat dihitung dengan menggunakan risk
calculator. Pada kelompok tertentu dimana risk
calculator tidak mampu menghitung resiko secara tepat
(pasien geriatri, etnis tertentu) maka dilakukan
penilaian secara klinis.2
2. Keputusan untuk memulai terapi statin harus didahului
dengan pemberian informasi yang jelas kepada pasien
tentang risiko dan manfaat dari statin, dengan
mempertimbangkan faktor-faktor tambahan seperti
komorbiditas, harapan hidup dan aspek ekonomi.2
3. Target untuk kolesterol total dan kolesterol LDL tidak
dianjurkan jika indikasi pemberian statin adalah untuk
pencegahan primer.2

26
4. Setelah dimulai pemberian statin untuk pencegahan
primer, pengulangan ulangi pengukuran lipid tidak
perlu. Clinical judgement dan keinginan pasien harus
memandu review terapi obat dan apakah untuk
meninjau profil lipid.2
5. Jika pemberian statin untuk tujuan pencegahan primer
telah diberikan, maka belum ada rekomendasi kapan
untuk melakukan penilaian laboratorium ulangan
untuk kadar lipid. Penilaian klinis dan juga
mendengarkan pilihan yang dibuat oleh pasien dapat
dijadikan pertimbangan untuk menentukan
penggunaan statin selanjutnya dan kapan melakukan
evaluasi ulang dari profil lipid.2
b) Statin sebagai pencegahan sekunder
1. Terapi statin direkomendasikan pada pasien dewasa
yang disertai dengan bukti klinis kelainan
kardiovaskular.2
2. Pilihan untuk memulai pemberian terapi dibuat setelah
melakukan pemberian informasi oleh dokter mengenai
risiko dan keuntungan pemberian statin serat faktor
komorbiditas terkait dan juga harapan hidup.2
3. Ketika keputusan telah dibuat untuk meresepkan statin,
disarankan untuk memperhitungkan aspek ekonomi
terkait dosis harian yang diperlukan dan harga obat
tersebut.2
4. Individu dengan sindrom koroner akut harus ditangani
dengan menggunakan statin intensitas tinggi (high
intensity statin). Setiap keputusan yang ditawarkan
pada pasien untuk menggunakan statin dengan
intensitas yang lebih tinggi harus mempertimbangkan
masukan/keinginan dari pasien, faktor komorbiditas,

27
kemungkinan terjadinya polifarmasi, manfaat dan juga
risiko pengobatan.2

Tabel 1.2 Klasifikasi Statin menurut ACC/AHA 2013 berdasarkan kemampuan


menurunkan K-LDL.2

ii. Asam Fibrat


Terdapat empat jenis yaitu gemfibrozil, bezafibrat,
ciprofibrat, dan fenofibrat. Obat ini menurunkan trigliserid
plasma, selain menurunkan sintesis trigliserid di hati. Obat ini
bekerja mengaktifkan enzim lipoprotein lipase yang kerjanya
memecahkan trigliserid. Selain menurunkan kadar trigliserid,
obat ini juga meningkatkan kadar kolesterol- HDL yang diduga
melalui peningkatan apoprotein A-I, dan A-II.Pada saat ini yang
banyak dipasarkan di Indonesia adalah gemfibrozil dan
fenofibrat.2
iii. Asam Nikotinik
Obat ini diduga bekerja menghambat enzim hormone
sensitive lipase di jaringan adiposa, dengan demikian akan
mengurangi jumlah asam lemak bebas. Diketahui bahwa asam
lemak bebas ada dalam darah sebagian akan ditangkap oleh hati

28
dan akan menjadi sumber pembentukkan VLD. Dengan
menurunnya sintesis VLDL di hati, akan mengakibatkan
penurunan kadar trigliserid, dan juga kolesterol-LDL di plasma.
Pemberian asam nikotinik temyata juga meningkatkan kadar
kolesterol- HDL. Efek samping yang paling sering terjadi
adalah flushing yaitu perasaan panas pada muka bahkan di
badan.2
iv. Ezetimibe
Obat golongan ezetimibe ini bekerja dengan menghambat
absorbsi kolesterol oleh usus halus. Kemampuannya moderate
didalam menurunkan kolesterol LDL (15-25%). Pertimbangan
penggunaan ezetimibe adalah untuk menurunkan kadar LDL,
terutama pada pasien yang tidak tahan terhadap pemberian
statin. Pertimbangan lainnya adalah penggunaannya sebagai
kombinasi dengan statin untuk mencapai penurunan kadar LDL
yang lebih rendah.2

Tabel 1.3 Obat- obatan Hiperlipidemia.2

29
2) Diabetes Melitus Tipe 2
i. Peningkatan sensitivitas terhadap insulin
a) Biguanid
Saat ini golongan biguanid yang banyak dipakai adalah
metformin. Metformin terdapat dalam konsentrasi yang
tinggi didalam usus dan hati, tidak dimetabolisme tetapi
secara cepat dikeluarkan melalui ginjal. Oleh karena itu
metformin biasanya diberikan dua sampai tiga kali sehari
kecuali dalam bentuk extended release. Efek samping yang
dapat terjadi adalah asidosis laktat, dan untuk
menghindarinya sebaiknya tidak diberikan pada pasien
dengan gangguan fungsi ginjal (kreatinin >1,3mg/dl pada
perempuan dan >1,5mg/dl pada laki-laki) atau pada
gangguan fungsi hati dan gagal jantung serta harus
diberikan dengan hati-hati pada orang usia lanjut.5
Mekanisme kerja metformin menurunkan glukosa darah
melalui pengaruhnya terhadap kerja insulin pada tingkat
seluler, distal reseptor insulin dan menurunkan produksi
glukosa hati. Metformin meningkatkan pemakaian glukosa
oleh usus sehigga menurunkan glukosa darah dan
menghambat absorpsi glukosa di usus sesudah asupan
makan. Setelah diberikan secara oral, metformin akan
mencapai kadar tertingi dalam darah setelah 2 jam dan
diekskresi lewat urin dalam keadaan utuh dengan waktu
paruh 2,5 jam. Metformin dapat menurunkan glukosa darah
tetapi tidak akan menyebabkan hipoglikemia sehingga tidak
dianggap sebagai obat hipoglikemik, tetapi obat
antihiperglikemik. 5
b) Tiazolidindion
Tiazolidindion merupakan agonis dari Peroxisome
Proliferator Activated Receptor Gamma (PPAR-gamma),
suatu reseptor inti yang terdapat antara lain di sel otot,

30
lemak, dan hati. Golongan ini mempunyai efek
menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan
jumlah protein pengangkut glukosa, sehingga
meningkatkan ambilan glukosa di jaringan perifer.
Tiazolidindion meningkatkan retensi cairan tubuh sehingga
dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung
(NYHA FC III-IV) karena dapat memperberat
edema/retensi cairan. Hati-hati pada gangguan faal hati, dan
bila diberikan perlu pemantauan faal hati secara berkala.
Obat yang masuk dalam golongan ini adalah Pioglitazone.5
ii. Penghambat glukosa di saluran pencernaan
a) Penghambat Alfa Glukosidase
Obat ini bekerja dengan memperlambat absorbsi glukosa
dalam usus halus, sehingga mempunyai efek menurunkan
kadar glukosa darah sesudah makan. Penghambat
glukosidase alfa tidak digunakan pada keadaan: GFR
≤30ml/min/1,73 m2, gangguan faal hati yang berat, irritable
bowel syndrome. Efek samping yang mungkin terjadi
berupa bloating (penumpukan gas dalam usus) sehingga
sering menimbulkan flatus. Guna mengurangi efek samping
pada awalnya diberikan dengan dosis kecil. Contoh obat
golongan ini adalah Acarbose.
iii. Pemacu Sekresi Insulin (Insulin Secretagogue)
a) Sulfonilurea
Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan
sekresi insulin oleh sel beta pankreas. Efek samping utama
adalah hipoglikemia dan peningkatan berat badan. Hati-hati
menggunakan sulfonilurea pada pasien dengan risiko tinggi
hipoglikemia (orang tua, gangguan faal hati, dan ginjal).5
b) Glinid
Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan
sulfonilurea, dengan penekanan pada peningkatan sekresi

31
insulin fase pertama. Golongan ini terdiri dari 2 macam obat
yaitu Repaglinid (derivat asam benzoat) dan Nateglinid
(derivat fenilalanin). Obat ini diabsorbsi dengan cepat
setelah pemberian secara oral dan diekskresi secara cepat
melalui hati. Obat ini dapat mengatasi hiperglikemia post
prandial. Efek samping yang mungkin terjadi adalah
hipoglikemia.5

32
Tabel 1.4 Obat – obatan DM Tipe 2.2

33
3) Hipertensi
i. Penyekat reseptor beta Adrenergik (β-Blocker)
Berbagai mekanisme penurunan tekanan darah akibat
pemberian β-blocker dapat dikaitkan dengan hambatan reseptor
β1, antara lain :
a) Penurunan frekuensi denyut jantung dan kontraktilitas
miokard sehingga menurunkan curah jantung.
b) Hambatan sekresi renin di sel jukstaglomeruler ginjal
dengan akibat penurunan Angiotensin II.
c) Efek sentral yang mempengaruhi aktivitas saraf simpatis,
perubahan pada sensitivitas baroresptor, perubahan
neuron adrenergik perifer dan peningkatan biosentesis
prostasiklin.6
ii. Penghambat Angiotensin Converting Enzyme (ACE-Inhibitor)
Kaptopril merupakan ACE-inhibitor yang pertama banyak
digunakan di klinik untuk pengobatan hipertensi dan gagal
jantung. Mekanisme kerja : secara langsung menghambat
pembentukan Angiotensin II dan pada saat yang bersamaan
meningkatkan jumlah bradikinin. Hasilnya berupa
vasokonstriksi yang berkurang, berkurangnya natrium dan
retensi air, dan meningkatkan vasodilatasi (melalui bradikinin).6
iii. Penghambat Reseptor Angiotensin
Mekanisme kerja : inhibitor kompetitif dari resptor
Angiotensin II (tipe 1). Pengaruhnya lebih spesifik pada
Angiotensin II dan mengurangi atau sama sekali tidak ada
produksi ataupun metabolisme bradikinin.6
iv. Antagonis Kalsium
Mekanisme kerja : antagonis kalsium menghambat influks
kalsium pada sel otot polos pembuluh darah dan miokard. Di
pembuluh darah, antagonis kalsium terutama menimbulkan
relaksasi arteriol, sedangkan vena kurang dipengaruhi.
Penurunan resistensi perifer ini sering diikuti efek takikardia

34
dan vasokonstriksi, terutama bila menggunakan golongan obat
dihidropirin (Nifedipine). Sedangkan Diltiazem dan Veparamil
tidak menimbulkan takikardia karena efek kronotropik negatif
langsung pada jantung.6

Tabel 1.5 Obat – obatan hipertensi.6

35
DAFTAR PUSTAKA

1. Rini, Sandra. Sindrom Metabolik. Vol 4. No 4. Lampung: Fakultas


Kedokteran Universitas Lampung; 2015.
2. Setiati S,dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi VI. Jakarta:
Interna Publishing; 2016.
3. Hall dan Guyton. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Singapore: Elsevier;
2008.
4. Pediatri, Sari. Hipertensi Pada Sindrom Metabolik. Vol 11. No. 4. Jakartal;
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2009.
5. Konsensus. Pengelolaan Dan Pencegahan Diabetes Meliyus Tipe 2 Di
Indonesia. PERKENI; 2015
6. Pehimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia. Pedoman
Tatalaksana Hipertensi Pada Penyakit Kardiovaskular. Edisi I. PERKENI;
2015.

36