Anda di halaman 1dari 6

TUGAS INDIVIDU

1. Buat plan resilience (ketahanan) pada setiap bencana

Ada beberapa upaya pencegahan yang bisa dilakukan manusia untuk mencegah terjadinya
banjir atau meminimalisasi terjadinya banjir. Beberapa upaya yang dapat dilakukan manusia
untuk mencegah terjadinya banjir antara lain sebagai berikut:

I. Membuang sampah pada tempatnya

Cara yang paling mudah dan sederhana yang bisa kita lakukan sebagai upaya pencegahan
banjir adalah membuang sampah pada tempatnya. Meskipun cara ini tergolong berperan
sedikit namun apabila dilakukan oleh banyak orang dan dilakukan secara konsisten maka akan
mendatangkan perubahan yang begitu besar. Bayangkan saja jika orang di satu kota
membuang sampah (baca: pemanfaatan sampah dan limbah) dengan tertib selama satu bulan
maka kota tersebut akan menjadi sangat bersih dan terbebas dari tumpukan sampah. Perlu
kita ketahui bahwasannya sampah yang dibuang sembarangan merupakan salah satu pemicu
terjadinya banjir. Hal ini karena sampah yang berserakan di jalan suatu saat akan terbawa air
hujan dan akhirnya bermuara di saluran air atau di sungai. Ketika sudah berada di saluran air
atau sungai maka sampah itu pun akan menutupi lubang air dan pada akhirnya menimbulkan
banjir. Selain membuang sampah dengan tepat, pengolahan sampah yang tepat juga
diperlukan. Perlu adanya pemilahan antara sampah organik dan non organik. Sampah organik
bisa dimanfaatkan dengan merubahnya menjadi pupuk kompos, sementara sampah non
organik bisa didaur ulang.

II. Membuat saluran air yang baik

Adanya saluran air yang baik juga sangat menunjang upaya pencegahan banjir. Untuk
mencegah terjadinya banjir diperlukan adanya sistem irigasi hingga pembuangan akhir yang
jelas. Saluran air yang kita miliki jangan sampai berakhir pada sebuah sungai mati atau sungai
(baca: manfaat sungai) yang tidak mengalir, karena pada akhirnya dapat meluber. Saluran air
yang baik akan bermuara ke sungai besar yang pada akhirnya akan bermuaran di laut. Saluran
air yang baik lainnya bisa berupa terowongan saluran air bawah tanah yang akan menjamin
semua air hujan yang turun akan dibawa ke laut. Sayangnya, belum cukup banyak negara
yang menerapkan sistem ini karena selain membutuhkan biaya yang mahal juga
membutuhkan rancangan infrastuktur yang matang. Negara yang telah lama menerapkan
sistem ini salah satunya adalah Jepang.

III. Rajin membersihkan saluran air

Untuk mencegah banjir, apaya yang bisa kita lakukan adalah rajin membersihkan saluran air.
Saluran air merupakan hal yang sangat penting untuk mencegah terjadinya banjir. Saluran air
yang baik akan mampu mengalirkan air hingga bermuara ke laut (baca: macam-macam laut)
sehingga ketika hujan lebat turun air yang ada dipermukaan tidak akan meluap kemana- mana
melainkan akan mengalirkan air ke laut. Namun hal ini tidak akan terjadi apabila saluran air
kotor. Saluran air yang kotor tidak akan mengalirkan air ke laut secara lancar, namun hal ini
justru akan membendung air dan menjadikannya meluap ke daratan. Misalnya ada sampah
yang menutup saluran air, maka air tidak akan mapu melewati saluran air yang tertutup sampah
tersebut. Dan permasalahan saluran air yang kotor ini merupakan salah satu hal yang
kebanyakan menjadi sumber penyebab banjir yang terjadi di kota- kota besar di Indonesia.

IV. Menanam pohon di sekitar rumah


Banjir dapat dicegah salah satunya denga cara menanam pepohonan di lingkungan sekitar.
Kita bisa mulai dengan di sekitar rumah kita. Meski hanya satu dua pohon yang dapat kita
tanam, namun jika banyak orang yang melakukan ini maka pohon- pohon baru akan banyak
sekali tumbuh. Pepohonan mempunyai peranan yang sangat besar untuk mencegah timbulnya
banjir. Akar- akar pohon dapat menyerap dan menyimpan air serta mengunci di dalamnya.
Dengan demikian ketika hujan lebat turun, air- air di permukaan akan terserap ke dalam tanah
dan menyimpannya sehingga tidak akan terjadi banjir. Selain tidak akan menimbulkan banjir,
akar- akar pohon ini akan memberikan cadangan airnya ketika musim kemarau
(baca: pembagian musim di Indonesia) tiba sehingga masyarakat masih bisa mendapatkan air.
Untuk jenis pohon yang paling baik menyerap air adalah pohon yang mempunyai batang besar.
Jenis pohon seperti ini tidak hanya menyerap air dalam jumlah banyak namun juga mampu
menyimpannya secara kuat.

V. Mendirikan bangunan atau konstruksi pencegah banjir

Upaya pencegahan banjir selanjutnya adalah membangun bangunan atau konstruksi


pencegah banjir. Selain dapat mencegah terjadinya banjir, bangunan seperti ini juga dapat
difungsikan untuk hal- hal lainnya. Terutama hal untuk hal- hal yang membantu pekerjaan
manusia. Salah satu bangunan ini dalam bentuk bendungan (baca: bendungan terbesar di
dunia). Bendungan mempunyai bentuk seperti kolam raksasa. Bendungan mampu
menampung air dalam jumlah yang sangat besar. Keberadaan bendungan tidak hanya mampu
mencegah terjadinya banjir, namun juga dapat digunakan untuk pengairan/ irigasi, tempat
memancing, budidaya binatang ataupun tumbuhan air, serta pembangkit listrik. Bendungan
dengan tembok besar memang dirancang untuk mencegah air meluap ke daerah- daerah yang
ada di sekitarnya.

VI. Pendalaman sungai

Pendalaman sungai merupakan salah satu upaya untuk mencegah banjir. Sungai
(baca: ekosistem sungai) merupakan saluran air terbesar yang ada di daratan dan
menghubungkan air menuju ke laut. Sungai mempunyai kedudukan yang sangat vital. Tidak
hanya permasalahan sampah, namun kebanyakan kasus banjir yang ada di Indonesia terjadi
karena ceteknya sungai. Sebelumnya sungai- sungai mampu mengalirkan sejumlah air yang
banyak dalam sesuatu massa, namun karena ceteknya sungai maka debit air yang mampu
dialirkan berkurang sangat banyak. Ceteknya sungai dapat terjadi karena pengendapan dan
juga pembuangan bahan- bahan buangan. Dengan ceteknya sungai ini, maka langkah yang
paling tepat adalah melakukan pendalaman sungai. Pendalaman sungai dilakukan dengan
mengeruk lumpur dan juga kotoran yang terdapat di dasar sungai. Apabila proses pendalaman
ini dilakukan maka sungai tidak hanya mampu mengalirkan banyak debit air, namun juga
menampung dan mengalirkan air hujan dalam jumlah banyak.

VII. Membuat lubang biopori

Membuat lubang biopori juga merupakan salah satu upaya untuk mencegah terjadinya banjir.
Lubang serapan biopori merupakan teknologi yang tepat guna dan juga ramah lingkungan
untuk dapat mengatasi banjir. Lubang biopori dapat mengatasi banjir dengan cara
meningkatkan daya resapan air, mengibah sampah organik menjadi kompos, dan juga
mengurangi emisi gas rumah kaca. Selain itu lubang biopori juga bekerja dengan cara
memanfaatkan peran aktivitas fauna tanah dan juga akar tanaman, mengatasi masalah yang
ditimbulkan oleh genangan air seperti penyakit demam berdarah dan juga malaria. Untuk
membuat lubang biopori kita bisa melakukannya secara mudah. Kita cukup membuat lubang di
tanah dengan menggunakan bor tanah. Lubang yang kita buat mempunyai diameter 10 cm dan
panjangnya kira- kira 100 cm. apabila kita membuat banyak lubang biopori, maka resiko kita
terkena banjir akan semakin kecil.

VIII. Melestarikan hutan


Hutan merupakan paru- paru dunia. Dikatakan sebagai paru- paru dunia karena hutan terdiri
atas banyak pohon. Kita tehu bahwa pepohonan dapat menghasilkan oksigen ketika
melakukan fotosintesis di siang hari. Dengan demikian, kita akan selalu segar pada siang hari
ketika berada di bawah pohon. Hal ini bisa terbayangkan apabila hutan mempunyai banyak
pohon yang tumbuh subur, maka berapa oksigen yang bisa dihasilkan setiap harinya? Selain
berfungsi untuk menghasilkan oksigen, pepohonan pada hutan juga sangat berfungsi untuk
menyerap air dan juga menguncinya di dalam akar. Hutan yang lebat dan mempunyai pohon
banyak serta subur akan sangat membantu untuk mencegah terjadinya banjir. Hutan dapat
berfungsi sebagai bunga karang atau sponge dengan menyerap air hujan dan mengalir dengan
perlahan- lahan ke anak sungai. Hutan juga bertindak sebagai filter dalam menentukan
kebersihan da kejernihan air. Hutan mampu menyerap air hingga 20%. Kemudian air hujan ini
dibebaskan kembali ke atmosfir dan kondensasi. Cara ini cukup ampuh untuk mengurangi
jumlah air hujan yang turun ke bumi.

IX. Membuat sumur resapan

Sumur resapan merupakan salah satu upaya untuk mencegah terjadinya banjir. Yang
dinamakan sumur resapan adalah sarana untuk penampungan air hujan dan meresapkannya
ke dalam tanah. Sumur resapan akan sangat membantu menyerap air hujan ke dalam tanah
dan kembali lagi ke siklus air yang semestinya sehingga tidak mengalami penggenangan di
permukaan yang nantinya akan menyebabkan terjadinya banjir. Pembuatan sumur resapan ini
bisa dengan menggali tanah hingga tanag berpasir atau maksimal dua meter di bawah
permukaan air tanah. Sumur resapan merupakan halah satu metode yang ampuh untuk
mencegah terjadinya banjir.

X. Menggunakan paving stone untuk jalan

Upaya selanjutnya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya banjir adalah
pemasangan paving sebagai bahan pembuat jalan. Maksudnya kita tidak menggunakan aspal,
namun paving. Mengapa paving? Karena paving terdiri atas kotak- kotak dan antara satu
paving dan paving lainnya terdapat celah yang dapat dilewati air untuk dapat meresap ke dalam
tanah. Ketika air meresap ke dalam tanah melalui celah- celah paving maka terjadinya banjir
dapat dicegah. Di negara Amerika Serikat, telah diuncurkan jalan yang menggunakan
photocatalytic cement yakni cara oaving terbaru. Jalan ini mengandung partikel nano yang
terbuat dari titanium dioksida. Dengan partikel ini maka jalan tersebut mampu memakan asap
dan juga menghapus gas nitrogen oksida dari udara. Selain itu lebih dari 60 persen sisa
konstruksi dapat didaur ulang.

XI. Pengadaan green open space

Pengadaan green open space atau kawasan terbuka hijau juga kita lakukan sebagai upaya
pencegahan terhadap banjir. Hal ini mirip dengan pelestarian hutan dalam fungsinya
(baca: manfaat hutan), dimana pepohonan yang akan berperan utama. Namun peran dari
green open space dengan hutan sendiri sangat berbeda. Green open space lebih berada di
sekitar masyarakat dalam menjalani aktivitasnya sehari- hari. Dengan adanya kawasan terbuka
hijau maka banyak masyarakat akan lebih senang menghabiskan waktu mreka di bawah pohon
tanpa harus menjelajah hutan.
2. Resources management (manusia, material, uang, teknologi dan informasi)

 Pra bencana
 Saat bencana

 Pasca bencana