Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Pengertian Pupuk


Pupuk didefenisikan sebagai material yang ditambahkan ke tanah atau tajuk
tanaman dengan tujuan untuk melengkapi ketersediaan unsur hara. Bahan pupuk
yang paling awal digunakan adalah kotoran hewan, sisa pelapukan tanaman, dan
arang kayu (Novizan, 2005).
Pupuk ialah bahan yang diberikan ke dalam tanah baik yang organik
maupun yang anorganik dengan maksud untuk mengganti kehilangan unsur hara dari
dalam tanah dan bertujuan untuk meningkatkan produksi tanaman dalam keadaan
faktor keliling atau lingkungan yang baik (Sutejo, 1999).
Pupuk bagi tanaman sama seperti makanan pada manusia. Oleh tanaman,
pupuk digunakan untuk hidup, tumbuh, dan berkembang. Jika dalam makanan
manusia dikenal ada istilah gizi maka dalam pupuk yang beredar saat ini terdiri dari
bermacam-macam jenis, bentuk, warna, dan merek. Namun, berdasarkan cara
aplikasinya hanya ada dua jenis pupuk akar dan pupuk daun. Manfaat pupuk adalah
menyediakan unsur hara yang kurang atau bahkan tidak tersedia di tanah untuk
mendukung pertumbuhan tanaman. Namun, secara lebih terinci manfaat pupuk ini
dapat dibagi dalam dua macam, yaitu yang berkaitan dengan perbaikan sifat fisik
dan kimia tanah (Marsono, 2005).
Pupuk merupakan kunci dari kesuburan tanah karena berisi satu atau lebih
unsur untuk menggantikan unsur yang habis terisap tanaman. Pupuk mengenal
istilah makro dan mikro. Meskipun belakangan ini jumlah pupuk cenderung makin
beragam dengan aneka merek, kita tidak akan terkecoh dan tetap berpedoman
kepada kandungan antara unsur makro dan mikro yang digunakan (Lingga, 2001).
Pupuk adalah semua bahan yang ditambahkan pada tanah dengan maksud
untuk memperbaiki sifat fisis, kimia dan biologis. Sebagai tempat tumbuhnya
tanaman, tanah harus subur, yaitu memiliki sifat fisis, kimia, dan biologi yang baik.

1
Sifat fisis menyangkut kegemburan, porositas, dan daya serap. Sifat kimia
mennyangkut pH serta ketersedian unsur- unsur hara. Sedangkan sifat biologis
menyangkut kehidupan mikroorganisme dalam tanah. Seperti makhluk hidup yang
lain, tumbuhan memerlukan nutrisi baik zat organik maupun zat anorganik. Nutrisi
organik diperoleh melalui proses fotosintesis, sedangkan nutrisi anorganik semuanya
diperoleh melalui akar dari dalam tanah dalam bentuk zat-zat terlarut berupa kation
dan anion yang mampu masuk ke dalam pembuluh xilem akar.
Tumbuhan memiliki zat-zat penyusun yang sangat penting bagi
kelangsungan hidupnya. Zat tersebut terdiri atas:
1. Unsur-unsur esensial
Yaitu unsur-unsur yang mutlak diperlukan oleh segala macam tumbuhan (16
unsur). Unsur-unsur ini disebut unsur hara makro dan mikro. Unsur-unsur makro
(diperlukan dalam jumlah banyak) yaitu C, H, O, N, P, K, Ca, Mg dan S. Sedangkan
unsur-unsur mikro (zat hara tambahan) yaitu Fe, Mn, Cu, Mo, Co, Zn.
2. Unsur-unsur non esensial
Yaitu unsur tambahan yang hanya diperlukan oleh jenis tumbuhan tertentu,
baik dalam jumlah besar maupun kecil. Antara lain adalah Na, Cl, Al, Si. Pemakaian
pupuk bertujuan untuk menambahkan unsur-unsur yang diperlukan bagi tumbuhan
untuk dapat tumbuh subur. Untuk mengetahui unsur tersebut, berikut ini akan
dijelaskan sumber dan fungsi unsur hara tersebut. Karbon (C), Hidrogen (H) dan
Oksigen (O) diserap tumbuhan dari udara dan air dalam bentuk CO2 dan H2O.
Ketiga unsur ini merupakan unsur dasar penyusun senyawa organik dalam
tumbuhan, seperti karbohidrat, protein dan lemak. Kekurangan unsur tersebut
mengakibatkan tumbuhan layu, mengering dan mati. Nitrogen (N) diserap oleh akar
dalam bentuk ion nitrat NO3- atau ion ammonium NH4+ yang berasal dari penguraian
sisa-sisa organisme serta senyawa nitrogen hasil fiksasi nitrogen oleh bakteri dan
petir.
Nitrogen berfungsi untuk bahan síntesis asam amino, protein, asam nukleat,
klorofil, merangsang pertumbuhan vegatatif, membuat bagian tanaman menjadi lebih

2
hijau karena mengandung butir hijau yang penting dalam proses fotosíntesis dan
mempercepat pertumbuhan tanaman. Kekurangan unsur Nitrogen menyebabkan
warna daun menjadi hijau muda dan akhirnya kuning (menyebabkan klorosis),
pertumbuhan lambat dan tanaman menjadi kerdil dan buah masak sebelum waktunya.
Sebaliknya, kelebihan Nitrogen dapat menghambat pembungaan dan pembuahan.
Phosphor (P) diserap oleh akar dalam bentuk ion HPO42- atau ion H2PO4- yang
berasal dari sisa-sisa organisme. Sebenarnya, di alam terdapat banyak batuan fosfat
berupa senyawa Ca3(PO4)2, tetapi sukar larut dalam air sehingga tidak dapat diserap
oleh tumbuhan.
Phosphor berfungsi memacu pertumbuhan akar pada benih dan tumbuhan
muda, mempercepat pembungaan dan pemasakan buah atau biji, serta berguna pada
pembentuan asam nukleat (inti sel), fosfolopid (lemak), dan protein dan koenzim.
Kekurangan Phosphor menyebabkan pertumbuhan terhambat, daun mudah rontok,
pembentukan buah dan biji jelek, dan terjadi nekrosis atau kematian sel.
Kalium (K) diserap oleh tumbuhan dalam bentuk ion K+ yang berasal dari
berbagai mineral seperti ortoklas (KSiO8) dan lesit (KSiO6). Kalium berfungsi
sebagai katalisator dalam pembentukan karbohidrat (fotosintesis) dan protein,
memperkokoh tubuh tumbuhan dan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap
serangan hama. Kekurangan Kalium menyebabkan pertumbuhan tanaman lambat dan
kerdil, serta daun menjadi kuning dan timbul noda-noda berupa bercak merah cokelat
dan akhirnya terjadi nekrosis (kematian) dari daun.
Kalsium (Ca) diserap oleh akar dalam bentuk ion Ca2+ yang berasal dari
mineral seperti Kalsit (CaCO3). Kalsium berfungsi untuk mengeraskan batang serta
merangsang pemben-tukan biji-bijian. Kekurangan kalsium menyebabkan proses
pembelahan sel terhambat, daun keriput dan tanaman lemah.
Magnesium (Mg) diserap oleh akar dalam bentuk ion Mg2+ yang berasal
dari berbagai mineral seperti Dolomit (MgCO3.CaCO3). Magnesium berfungsi untuk
pembentukan klorofil, kekurangan magnesium menyebabkan klorosis, daun
menguning dan timbul bercak merah walaupun sirip dan tulang daun tetap hijau.

3
Belerang diserap oleh akar tanaman sebagai ion sulfat (SO42+) yang berasal
dari Gips (CaSO4) dan Barit (BaSO4). Belarang berfungsi sebagai penyusun protein
dan membantu pembentukan klorofil sehingga warna daun menjadi lebih hijau.
Kekurangan belerang menyebabkan daun menjadi kuning, pertumbuhan terhambat
dan tanaman menjadi kerdil.
Ferum (Fe) diserap oleh akar dalam bentuk ion Fe3+ atau ion Fe2+. Besi
berfungsi sebagai unsur penting pada pembentukan klorofil, kekurangan zat besi
menyebabkan klorosis hingga tanaman mengalami kematian. Mangan (Mn) diserap
oleh akar sebagai ion Mn2+. Mangan dapat membantu proses pembentukan klorofil
dan enzim pada pernapasan.

1.2. Klasifikasi Pupuk


Pupuk dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu sebagai berikut.
1.2.1 Pupuk Organik
Pupuk organik adalah pupuk yang terbuat dari sisa-sisa mahluk hidup yang
diolah melalui proses pembusukan (dekomposisi) oleh bakteri pengurai. Contohnya
adalah pupuk kompos dan pupuk kandang. Pupuk kompos berasal dari sisa-sisa
tanaman, dan pupuk kandang berasal dari kotoran ternak. Pupuk organik mempunyai
komposisi kandungan unsur hara yang lengkap, tetapi jumlah tiap jenis unsur hara
tersebut rendah.
Kelebihan dari pupuk organik, sehingga sangat disukai para petani, yaitu:
1. Memperbaiki struktur tanah, terjadi karena organisme tanah pada saat
penguraian bahan organik dalam pupuk bersifat sebagai perekat dan dapat
mengikat butir-butir tanah menjadi butiran yang lebih besar.
2. Menaikkan daya serap tanah terhadap air, bahan organik memiliki daya
serap yang besar terhadap air tanah.
3. Menaikkan kondisi kehidupan di dalam tanah, disebabkan oleh organisme
dalam tanah yang memanfaatkan bahan organik sebagai makanan.
4. Sebagai sumber zat makanan bagi tanaman, pupuk organik mengandung zat
makanan yang lengkap meskipun kadarnya tidak setinggi pupuk anorganik.

4
Pupuk organik dibagi berdasarkan asal bahan terbentuknya sebagai berikut:
1. Pupuk kandang
Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kandang ternak, baik berupa
kotoran padat (feses) yang tercampur sisa makanan maupun air kencing (urine).
Kadar hara kotoran ternak berbeda-beda karena masing- masing ternak mempunyai
sifat khas tersendiri.
2. Kompos
Kompos merupakan hasil dari pelapukan bahan-bahan berupa dedaunan,
jerami, alang-alang, rumput, kotoran hewan, sampah kota, dan sebagainya. Proses
pelapukan bahan-bahan tersebut dapat dipercepat melalui bantuan manusia.
3. Pupuk hijau
Disebut pupuk hijau karena yang dimanfaatkan sebagi pupuk adalah hijauan,
yaitu bagian-bagian seperti daun, tangkai, dan batang tanaman tertentu yang masih
muda. Tujuannya, untuk menambah bahan organik dan unsur-unsur lainnya ke dalam
tanah, terutama nitrogen (Sutejo, 2002).
4. Pupuk Bokashi
Bokashi adalah pupuk kompos yang dibuat dengan proses peragian bahan
organik dengan teknologi EM4 (Effective Microorganisme 4) atau disebut dengan
hasil fermentasi. Keunggulan penggunaan teknologi EM4 adalah pupuk organik dapat
dihasilkan dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan cara konvensial.
1.2.2 Pupuk Anorganik
Pupuk anorganik atau pupuk buatan adalah jenis pupuk yang dibuat oleh
pabrik dengan cara mencampurkan berbagai bahan kimia sehingga memiliki
persentase, misalnya, pupuk urea berkadar nitrogen 45-46%, (setiap 100 kg urea
terdapat 45-46 kg hara nitrogen). Jenis-jenis pupuk anorganik menurut unsur hara
yang dikandungnya dapat dibagi menjadi dua yaitu, pupuk tunggal dan pupuk
majemuk.
1. Pupuk tunggal
Disebut pupuk tunggal karena hara yang dikandungnya hanya satu. Kedalam

5
kelompok pupuk tunggal ini ada tiga macam pupuk yang dikenal dan banyak beredar
di pasaran, yaitu pupuk yang berisi hara utama nitrogen (N), hara utama fosfor (p),
dan hara utama kalium (K). Selain itu, ada pula pupuk yang berisi hara utama
magnesium (Mg).
2. Pupuk Majemuk
Pupuk majemuk merupakan pupuk campuran yang sengaja dibuat oleh
pabrik dengan cara mencampurkan dua atau lebih unsur hara. Misalnya, pupuk
Nitrogen dicampurkan dengan phospat menjadi pupuk NP, dan di campur lagi dengan
kalium menjadi pupuk NPK. Kandungan hara dari pupuk ini lebih lengkap
dibandingkan dengan pupuk tunggal.

1.2.3 Pupuk Nitrogen


Beberapa jenis pupuk nitrogen adalah sebagai beikut.
1. Ammonium nitrat
Kandungan nitratnya membuat pupuk ini cocok untuk daerah dingin dan
daerah panas. Amonium nitrat bersifat hidroskopis sehingga tidak dapat di simpan
terlalu lama.
2. Ammonium sulfat (NH4)2SO4
Pupuk ini dikenal dengan nama pupuk ZA. Mengandung 21% nitrogen dan
26% sulfur (S), berbentuk kristal dan bersifat kurang higroskopis.
3. Kalsium nitrat
Pupuk ini berbentuk butiran, berwarna putih, sangat cepat larut dalam air,
dan sebagai sumber kalsium yang baik karena mengandung 19% Ca. Sifat lainnya
adalah bereaksi basa dan hidroskopis.
4. Urea (CO(NH2)2)
Pupuk urea mengandung 45-46% nitrogen (N). Karena kandungan N yang
tinggi menyebabkan pupuk ini menjadi sangat higroskopis. Urea dibuat dari gas
amoniak dan gas asam arang. Sifat lainnya adalah mudah tercuci oleh air, mudah
terbakar oleh sinar matahari dan bereaksi secara endoterm.

6
Keuntungan menggunakan pupuk urea adalah mudah diserap tanaman.
Selain itu, kandungan N yang tinggi pada urea sangat dibutuhkan pada pertumbuhan
awal tanaman. Kekurangannya bila diberikan ke dalam tanah yang miskin hara akan
berubah ke wujud atau bahan awalnya, yakni amonia dan karbondioksida yang
mudah menguap. % N urea secara teori adalah 46,666 % dapat dihitung dengan cara
mengalikan 2 x Ar N/Mr Urea x 100%.
Pupuk Urea bukan hanya untuk per-tanian, tapi bisa untuk tambak, industri,
makanan dan masih banyak lainnya. Makanya sangat dibutuhkan, kalau warnanya
sama maka akan ada kecurangan. Pupuk berwarna disebut pupuk bersubsidi untuk
menghindari kecurangan, pencurian, dan penimbunan. Pupuk Urea yang tidak
berwarna disebut pupuk nonsubsidi. Kemurnian pupuk Urea dapat diketahui dengan
cara % N secara praktek / % N secara teori x 100%.
Sifat-sifat pupuk urea adalah sebagai berikut:
1. Berat jenis 1, 33 × 103 kg/m3
2. Kelarutan di dalam air 108 g/ 100 ml (200C)
3. Titik lebur 132, 7 0C (406 K)
4. Keasaman (Pka) 0, 18
5. Kebasaan (Pkb) 13, 82
6. Kelembaban 81% (20 0C)

Tabel. Jenis Pupuk Nitrogen dan Prosentase kadarnya

No. Nama Pupuk Rumus Kimia Kadar Nitrogen

1. Urea CO(NH)2 45-46%

2. ZA (NH4)2SO4 20,5-21%

3. Amonium Nitrat NH4NO3 35%

4. ASN (Aminium Sulfat Nitrat) (NH4)3SO4NO3 23-26%

5. Sendawa chili NaNO3 15%

7
6. Amonium klorida NH4Cl 20%

1.3 Dampak Penggunaan Pupuk Urea yang Berlebihan


Penggunaan urea dalam jumlah yang berlebihan justru akan menyebabkan
tanaman mudah layu dan membangun konsentrasi garam beracun dalam tanah,
sehingga terjadi ketidakseimbangan kimia tanah dan dapat mengubah pH alami tanah.
Di lain sisi, penggunaan pupuk urea secara berlebihan juga akan menimbulkan
berbagai masalah lain seperti:
1. Mengakibatkan pemborosan biaya usaha tani.
2. Menjadikan ketergantungan petani terhadap pupuk urea.
3. Jika pemupukan urea terlalu banyak akan menjadikan tanaman sukulen
sehingga tanaman akan menjadi mudah terserang hama maupun penyakit.
4. Merusak kesuburan tanah. Jika urea diberikan ke tanah akan mengakibatkan
tanah menjadi masam, dan tanah yang masam akan mengakibatkan
penyerapan unsur hara tertentu menjadi terhambat.
5. Mengancam kelangsungan hidup mikroorganisme yang berada dalam tanah.
Pupuk urea memang memberikan nutrisi ke tanaman dengan lebih cepat,
akan tetapi menurut penelitian yang sudah dilakukan, 30-40 persen urea yang
diaplikasikan petani seringkali terbuang percuma karena penguapan akibat terik
matahari dan/atau akibat hanyut karena hujan. Karena itu, sebaiknya urea
diaplikasikan pada sore hari dan hindari juga aplikasi urea saat cuaca mendung
ataupun hujan.
Selain itu, petani juga dihimbau untuk mengimbangi pemakaian pupuk urea
dengan pupuk lain seperti pupuk organik serta pupuk majemuk (NPK). Dengan
keseimbangan pemakaian pupuk tentu orientasinya bukan hanya saat proses
pertumbuhan namun juga untuk produksi yang bagus karena seluruh kebutuhan
tanaman terpenuhi.

8
Cara lain yang bisa digunakan untuk menghindari keracunan urea pada
tanaman adalah dengan mengaplikasikan pupuk kandang pada 10 hari sebelum
aplikasi urea. Pupuk kandang ini dapat menetralisir sifat negatif dari urea.

1.4 Sifat Amonia


Amonia memiliki beberapa karakteristik, yakni Amonia adalah suatu gas
yang tidak berwarna namun berbau sangat menyengat. Pada amonia mudah larut
dalam air, dengan keadaan standar, 1 liter air mampu melarutkan 1180 liter amonia.
Amonia mudah mencair, amonia cair membeku pada suhu (-)78 derajat celsius dan
mendidih pada suhu 33 derajat celsius. Amonia bersifat korosif pada tembaga dan
timah, dan mudah terbakar. Pada umunya Amonia biasanya digunakan untuk bahan
alat kecantikan seperti campuran pada cat rambut, meluruskan rambut.
1.4.1 Fungsi Gas Amonia dalam Kehidupan Sehari-hari
Gas amonia mempunyai fungsi dan peranan yang penting dalam kehidupan.
Apalagi dengan semakin berkembangnya dunia industri. Gas ini dibuat secara besar-
besaran. Beberapa fungsi gas tersebut, yaitu:
1. Sebagai bahan campuran dalam industri pupuk sehingga terbentuk pupuk
urea (CO (NH2)2) dan ZA ((NH)2SO4)
2. Gas amoniia digunakan sebagai bahan dasar dalam industri pembuatan
baterai membentuk Amonium Klorida (NH4Cl) dan asam sitrat (HNO3)
melalui Proses Ostwald.
3. Gas amonia digunakan sebagai zat pendingin pada kulkas atau freezer
atau refrigerator.
4. Gas amonia membuat atau membentuk Hidrazin N2H4 sebagai bahan bakar
roket dan bahan peledak.
Beberapa industri plastik juga menggunakan gas amonia sebagai bahan
dasar. Plastik yang kini digunakan untuk berbagai keperluan tersebut terbuat dari
polyethirene dan phenolic. Memanfaatkan ciri gas amonia yang mudah larut dalam
air, maka dibuat larutan yang mengandung 5% sampai 10% amonia yang bersifat
membersihkan. Larutan ini digunakan sebagai deterjen, pembersih rumah, pembersih

9
furniture, dan pembersih kaca. Industri pengolahan logam juga menggunakan gas
amonia. Amoniia di sini mengesktrak dan memisahkan tembaga, nikel, dan
molybdenum dari biji. Di Industri perminyakan, selain digunakan sebagai campuran
bahan bakar roket, amonia dicampur untuk menghindari korosif ketika mesin
bersentuhan dengan bahan bakar.
1.4.2 Manfaat Amonia
Walaupun punya bau busuk menyengat yang notabenya tidak disukai oleh
manusia, ternyata amonia punya banyak manfaat yakni sebagai berikut.
1. Amonia sangat mudah terlarut dalam air menjadi sebuah larutan sehingga ia
banyak digunakan sebagai bahan pembersih baik itu pembersih alat masak
maupun alat-alat rumah tangga.
2. Amonia yakni bahan utama dalam pembuatan rayon dan urea.
3. Zat ini juga digunakan dalam pembuaan pupuk seperti pupuk urea, amonium
nitrat, amonium sulfat, dan sebagainya.
Di bidang industri furnitur, amonia digunakan sebagai bahan permbersih
furnitur dan juga pembersih permukaan kaca. Biasanya dapat dipakai sebagai bahan
baku pembuatan asam nitrat melalui proses Ostwald. Dalam proses Solvay
memerlukan amonia untuk menghasilkan natrium karbonat.
1.4.3 Dampak atau Bahaya Amonia
Sama dengan zat kimia lain, seperti bahaya HCI bagi lingkungan, gas
amonia yang berlebihan terdapat di alam akan berbahaya. Batas seharusnya gas ini di
udara adalah sekitar -,2% sampai 0,3%. Gas amonia yang melebihi ambang batas
tersebut, akan berdampak sangat berbahaya dalam pencemaran udara.
1. Gas CO (Karbon monoksida)
Karbon monoksida adalah gas pencemar udara yang sangat berbahaya bagi
tubuh. Ia dapat berikatan dengan hemoglobin dalam tubuh, sehingga pengikatan
oksigen oleh darah menjadi terganggu. Bahkan kalau manusia menghirip gas CO
dalam kadar tinggi, resikonya adalah kematian. Jika dalam kadar sedikit, menghirup
CO dapat menyebabkan sakit kepala, pusing, mata berkunang-kunang, lemas dan

10
mual-mual.
2. Gas CO2 (Karbon dioksida)
Tumbuhan makin sedikit, dan gas CO2 makin banyak. CO2 tersebut akan
naik ke atmosfer dan menghalangi pemancaran panas dari bumi sehingga panas
dipantulkan kembali ke bumi. Akibatnya, bumi menjadi sangat panas, dan inilah yang
disebut efek rumah kaca (global warming). Gas karbondioksida ini berasal dari asap
pabrik, pembakaran sampah, kebakaran hutan, dan asap kendaraan bermotor. Selain
itu, efek rumah kaca juga dipicu oleh hasil pembakaran fosil (batu bara dan minyak
bumi) yang berupa hasil buangan bentuk CO2 dan sulfur belerang.

1.5 Pengaruh Penggunaan Pupuk Kimia dan Pupuk Organik terhadap


Biota Tanah
Dalam peningkatan produksi pertanian, banyak petani yang menggunakan
pupuk anorganik sebagai solusinya. Namun, penggunaan pupuk anorganik dalam
jangka waktu panjang memiliki dampak buruk bagi tanaman dan kondisi tanah.
Penggunaan pupuk anorganik secara terus-menerus dapat merusak kehidupan orga-
nisme tanah, menurunkan kesuburan dan kesehatan tanah, merusak keseimbangan
ekosisten tanah, dan dapat menimbulkan peledakan serangan hama (Pristiadi, 2010).
Erianto (2009) menyatakan pupuk kimia adalah zat substansi kandungan
hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Akan tetapi, seharusnya unsur hara yang
dibutuhkan tersebut tersedia secara alami di dalam tanah melalui siklus hara tanah.
Siklus hara tersebut seperti tanaman yang telah mati dimakan hewan herbivora,
kotoran atau sisa tumbuhan tersebut diuraikan oleh organisme tanah seperti bakteri,
jamur, mesofauna, cacing, dan lainnya. Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan
akan memutuskan siklus hara tanah tersebut dan dapat mematikan organisme tanah.
Efek lain dari pengunaan pupuk kimia juga dapat mengurangi dan menekan pupolasi
organisme tanah yang sangat bermanfaat bagi tanah dan tanaman.
Dalam mengatasi dampak negatif dari penggunaan pupuk kimia, perlu
dilakukan pengaplikasian pupuk organik. Pupuk organik merupakan salah satu bahan
yang penting dalam upaya memperbaiki kesuburan tanah. Penggunaannya masih

11
sering dikombinasikan dengan pupuk anorganik atau pupuk kimia. Penggunaan
pupuk organik secara terus-menerus dalam rentan waktu yang lama akan menjadikan
kualitas tanah lebih baik. Dalam pupuk organik terkandung bahan organik yang
dibutuhkan oleh tanaman.
Bahan organik adalah bahan mineral yang berasal dari organisme yang telah
mati. Bahan organik dapat berasal dari sisa hewan, tumbuhan, maupun jasad mikro
baik yang telah terdekomposisi maupun yang belum terdekomposisi. Materi organik
yang tidak terdekomposisi berubah menjadi humus yang berwarna coklat kehitaman.
Bahan organik sangat menentukan keberadaan organisme tanah karena
sebagian besar organisme tanah mengkonsumsi bahan organik. Komposisi dan jenis
bahan organik yang terletak dipermukaan tanah sangat menentukan jenis mesofauna
tanah yang hidup di dalamnya (Prayitno, 2004).

12
BAB II
URAIAN PROSES

2.1 Industri Pupuk Urea


Pupuk urea yang dikenal dengan rumus kimianya NH2CONH2 pertama kali
dibuat secara sintetis oleh Frederich Wohler pada tahun 1928 dengan mereaksikan
garam Cyanat dengan Ammonium Hydroxide. Penemuan Wohler ini merupakan
pembuktian pertama kali bahwa zat organik dapat diperoleh dari zat an-organik.
Saat ini pupuk urea merupakan kebutuhan pokok bagi para petani di
Indonesia, karena dalam senyawa pupuk urea terdapat unsur Nitrogen (N2) sekitar
46% yang merupakan makanan bagi tanaman seperti padi, palawija dan sejenisnya.
Pupuk urea yang diproduksi dipabrik merupakan hasil reaksi antara Karbon
Dioksida ( CO2) dengan Amoniak (NH3) sedangkan kedua senyawa ini berasal dari
bahan baku gas alam, air dan udara. Untuk pembuatan Amoniak, salah satu proses
yang banyak digunakan di Indonesia adalah proses Kellog (KBR) sedangkan
Amoniak yang dihasilkan tersebut direaksikan dengan CO2 menggunakan proses
Toyo (Total Recycle atau ACES).

2.2 Proses Pembuatan Amoniak


Untuk proses pembuatan Amoniak umumnya terdiri dari tiga tahapan yaitu :
Feed Treating, Purifikasi dan Produksi.
2.2.1 Feed Treating
Gas alam sebagai bahan baku sebelum diproses, terlebih dahulu dibersihkan
(beberapa tahap) dari kotoran – kotoran padat, maupun senyawa kimia (Sulfur dan
Gugus Mercaptan), kadar air, CO2.
Setelah melalui beberapa tahap pemisahan, selanjutnya akan diproses di Unit
Reforming (Primary Reformer dan Secondary Reformer) dengan menambahkan
steam dan udara dengan persamaan reaksi :
CH4 + H2O <===> CO + 3H2 (Endotermis)
CO + H2O <===> CO2 + H2 (Eksotermis)

13
Setelah keluar dari Secondary Reformer gas CO yang masih ada
dikonversikan menjadi CO2 di unit CO Shift Converter dengan reaksi :
CO + H2 O <===> CO2 + H2 (Eksotermis)
2.2.2 Purifikasi
1. Pemisahan CO2
Gas CO2 yang terbentuk selanjutnya akan dipisahkan dengan penyerapan
menggunakan larutan dengan unsur utama K2CO3 atau dengan larutan DEA di unit
CO2 Absorber. Gas CO2 yang sudah diserap oleh larutan penyerap lalu dipisahkan
dengan pemanasan menggunakan steam di unit CO2 Stripper. Gas CO2 ini
selanjutnya dikirim kepabrik urea untuk dijadikan bahan baku sedangkan larutan
penyerap akan digunakan kembali.
2. Methanasi
Sisa gas CO dan CO2 yang keluar dari Absorber selanjutnya dikonversi
menjadi Methane (CH4) di unit Methanator karena kedua senyawa ini dapat merusak
katalis di unit Ammonia Converter. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
CO + 3H2 <====> CH4 + H20 (Eksotermis)
CO2 + 4H2 <===> CH4 + 2H2O (Eksotermis)
Tujuan proses methanasi ini untuk mengkonversikan unsur CO & CO2
menjadi unsur Methan, karena unsur CO dan CO2 dapat merusak katalis di unit
Ammonia Converter.
2.2.3 Produksi
1. Kompresi Gas Sintesa.
Gas yang keluar dari proses Methanasi yang dapat disebut sebagai gas
sintesa hanya mempunyai tekanan lebih kurang 25 – 27 kg/cm2, sedangkan untuk
reaksi pembentukan Amoniak akan dilakukan pada tekanan sekitar 150 kg/cm2
sehingga perlu dinaikkan tekanannya dengan menggunakan Kompresor.

2. Synthesa Amoniak.
Gas sintesa yang keluar dari methanator mempunyai unsur : H2 dan N2,
selanjutnya direaksikan di unit Ammonia Converter sebagai berikut :

14
N2 + H2 <===> 2NH3 (Eksotermis)
Amoniak yang dihasilkan selanjutnya didinginkan dan dipisahkan dari gas
yang tidak terkonversi kemudian dikirim kepabrik amoniak atau bisa juga disimpan
dalam Tangki.

2.3 Proses Pembuatan Urea

Untuk Proses pembuatan urea terbagi atas empat seksi yaitu: Sintesa,
Dekomposisi atau Purifikasi, Recovery dan Kristalisasi.
2.3.1 Sintesa Unit
Pada seksi ini urea diproduksi dari hasil reaksi antara CO2 (gas) dengan NH3
(cair) dalam reaktor urea dengan tekanan antara 175 – 250 kg/cm2. CO2 dan NH3
direaksikan dalam reaktor ini akan menghasilkan ammonium karbamat (reaksi
eksoterm) dan kemudian diikuti oleh dehidrasi dari Ammonium Karbamat
membentuk urea. Purifikasi untuk dipisahkan Ammonium Karbamat dan kelebihan
amonianya setelah dilakukan Stripping oleh CO2.
2NH3 + CO2 < ===> NH2COONH4 + Q
NH2COONH4 <===> NH2CONH2 + H2O – Q
(Ammonium Karbamat) (Urea)

15
2.3.2 Purifikasi Unit (Dekomposisi)
Seksi ini bertujuan untuk memisahkan urea dari hasil reaksi di Reaktor Urea
yaitu Urea, Air, Biuret, Ammonium Karbamat dan ekses amoniak. Semua ekses
amoniak dan Ammonium Karbamat dipisahkan sebagai gas dari larutan Urea dalam
High Pressure Decomposer (HPD), Low Pressure Decomposer (LPD) dan Gas
Separator. Prinsip proses dari Seksi Dekomposisi ini adalah memanaskan dan
menurun kan tekanan, sehingga Ammonium Karbamat terurai menjadi gas NH3 dan
CO2 menurut reaksi sebagai berikut :
NH2COONH4 <===> 2NH3 + CO2
(Ammonium Karbamat) (Amoniak)
2.3.3 Kristaliser Unit
Larutan Urea dari unit Purifikasi dikristalkan di bagian ini secara vakum,
kemudian kristal urea dipisahkan di pemutar sentrifugal. Panas yang diperlukan untuk
menguapkan air diambil dari panas sensibel larutan urea, maupun panas kristalisasi
urea dan panas yang diambil dari sirkulasi urea slurry ke HP Absorber dari Recovery.
2.3.4 Prilling Unit
Kristal urea keluaran pemutar sentrifugal dikeringkan sampai menjadi 99,8
% berat dengan udara panas, kemudian dikirimkan ke bagian atas prilling tower untuk
dilelehkan dan didistribusikan merata ke distributor, dan dari distributor dijatuhkan
kebawah sambil didinginkan oleh udara dari bawah dan menghasilkan produk urea
butiran (prill). Produk urea dikirim ke Bulk Storage dengan Belt Conveyor.
2.3.5 Recovery Unit
Gas Ammonia dan Gas CO2 yang dipisahkan dibagian Purifikasi diambil
kembali dengan 2 langkah absorbsi dengan menggunakan Mother Liquor sebagai
absorben, kemudian direcycle kembali ke bagian Sintesa.

2.3.6 Proses Kondensat


Treatment Unit Uap air yang menguap dan terpisahkan dibagian kristalliser
didinginkan dan dikondensasikan. Sejumlah kecil urea, NH3 dan CO2 ikut kondensat

16
kemudian diolah dan dipisahkan di Stripper dan Hydroliser. Gas CO2 dan gas NH3
dikirim kembali ke bagian purifikasi untuk direcover. Sedangkan air kondensatnya
dikirim ke utilitas. Digram proses pembuatan urea terdapat pada Gambar 1.

2.4 Prinsip Pembuatan Urea


Sintesa urea dapat berlangsung dengan bantuan tekanan tinggi. Sintesa ini
dilaksanakan untuk pertama kalinya oleh BASF pada tahun 1941 dengan bahan baku
karbon dioksida (CO2) dan amoniak (NH3). Sintesa urea berlangsung dalam dua
bagian. Selama bagian reaksi pertama berlangsung, dari amoniak dan karbon dioksida
akan terbentuk amonium karbamat. Reaksi ini bersifat eksoterm.
2NH3(g) + CO2(g) ==> NH2COONH4 (s) ∆H = -159,7 kJ
Pada bagian kedua, dari amonium karbamat terbentuk urea dan air. Reaksi
ini bersifat endoterm.
NH2COONH4 (s) ==> NH2CONH2(aq) + H2O(l) ∆H = 41,43 kJ
Sintesa dapat ditulis menurut persamaan reaksi sebagai berikut:
2NH3(g) + CO2(g) ==> NH2CONH2(aq) + H2O(l) ∆H = -118,27 kJ
Kedua bagian reaksi berlangsung dalam fase cair pada interval temperatur
mulai 170190°C dan pada tekanan 130 sampai 200 bar. Reaksi keseluruhan adalah
eksoterm. Panas reaksi diambil dalam sistem dengan jalan pembuatan uap air. Bagian
reaksi kedua merupakan langkah yang menentukan kecepatan reaksi dikarenakan
reaksi ini berlangsung lebih lambat dari pada reaksi bagian pertama.

17
BAB III
TUGAS KHUSUS
3.1 Separator
Separator adalah suatu alat berbentuk tabung dan memiliki tekanan yang
berfungsi untuk memisahkan dua jenis zat (air dan minyak) atau tiga jenis zat (air,
minyak dan gas) yang memiliki densitas yang berbeda.
3.2 Gambar Separator

Gambar 3.2 Separator


3.3 Prinsip Kerja Separator
3.3.1 Introduksi
1. Fluida reservoir dapat terdiri dari campuran gas, minyak dan air.
2. Fluida tersebut harus dipisahkan dan diukur sebelum menuju flow line atau
bejana penampung (Storage tank)
3. Konsumen hanya membeli minyak (setelah air dan gas dipisahkan) atau gas
(setelah minyak dan air dipisahkan)
3.3.2 Pemprosesan
Pada saat fluida dari sumur masuk ke separator, dimana tekanan sudah
menurun dibanding saat dari reservoir, fluida dengan perbedaan density, mulai
terpisah secara alamiah.Semakin berat suatu benda, semakin besar kemungkinan
benda tersebut bergerak ke dasar, hal ini diakibatkan pengaruh gravitasi.

18
Gas lebih ringan dari minyak, minyak lebih ringan dari air; oleh karena itu :
1. Air akan berada di tempat yang paling bawah
2. Minyak berada diantara air dan gas
3. Gas berada ditempat yang paling atas.
Sifat-sifat inilah yang dimanfaatkan dalam proses pemisahan fluida.
Disamping itu akibat perubahan temperatur akan mempengaruhi spesific gravity dan
tekanan dari fluida tersebut.

3.4 Bagian-Bagian Separator


1. Primary separation section
Bagian utama separator yang digunakan untuk mengumpulkan sebagian besar
fluida yang masuk ke separator.
2. Secondary separation section/ Gravity settling section
Bagian dari separator yang digunakan untuk memisahkan butiran cairan yang
sangat kecil (mist). Prinsip utama dari proses pemisahan pada bagian ini berdasarkan
sistem gravity.
3. Mist extraction section
Bagian utama separator yang digunakan untuk memisahkan butiran cairan
yang sangat kecil untuk membentuk butiran cairan yang besar.
4. Liquid accumulation section
Bagian utama separator yang digunakan sebagai tempat penampungan semua
cairan yang sudah terbebas/terpisahkan dari gas.

19
BAB IV
KESIMPULAN
4.1 Salah satu aspek penting sebagai pendukung perkembangan teknologi
pertanian di atas adalah penggunaan pupuk sebagai penyubur tanaman.
4.2 Pupuk adalah semua bahan yang ditambahkan pada tanah dengan maksud
untuk memperbaiki sifat fisis, kimia dan biologis.
4.3 Teknologi pembuatan pupuk sangat erat kaitannya dengan bahan baku yang
digunakan, penggunaan bahan baku sangat menentukan jenis pupuk yang
dihasilkan.
4.4 Sedangkan metode atau cara yang digunakan selama proses pengolahan
mempengaruhi aspek ekonomi dan efisiensi. Segala kegiatan produksi pupuk
akan berpengaruh terhadap lingkungan sehingga perlu dilakukan analisis
dampak lingkungan.

20
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2006. The urea cycle.

Anonim. 2005. Pupuk kaltim. “www.Pupuk Kaltim.com/index.php?co=f2011”

Priantoro, Laksmi. 1989. Manusia dan Lingkungan Hidup. Bandung: FPMIPA IKIP
Bandung.

Goenawan. 1999. Kimia 2B. Jakarta: Gramedia Widiasrana Indonesia.

Sulanjana, Agung dkk. 2005. Makalah Industri Pupuk dan Amonia. Bandung; Jurusan
Pendidikan Kimia FPMIPA UPI.

21