Anda di halaman 1dari 4

Nama : Nurul Wahida Y.

Abbas

Npm : 09401711022

1. Plan resilience (ketabahan) pada bencana Tanah longsor

Dalam suatu situs berita, disebutkan bahwa setelah terjadi hujan lebat, terjadi longsor berupa sebuah
batu raksasa dengan berat 20 ton dari puncak Bukit Menoreh di Dusun Katerban, Desa Donorejo,
Kecamatan Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah yang hampir menimpa rumah warga yang berada di
bawahnya. Peristiwa ini tentu saja membuat ratusan warga resah akhirnya mengungsi untuk
menghindari longsor jika hujan datang kembali. Dan hingga saat ini, batu tersebut masih menggantung di
Bukit Menoreh. (Hartoyo, 2015)

Peristiwa di atas merupakan salah satu studi kasus tentang bencana tanah longsor yang sering terjadi.
Menurut data statistik dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), telah terjadi lebih dari
2000 kasus longsor di Indonesia dalam 10 tahun terakhir. Dan dari data ini, dinyatakan bahwa sekitar
40,9 juta orang Indonesia tinggal di area rawan longsor. Berdasarkan data tersebut, dengan adanya
peningkatan peristiwa tanah longsor setiap tahunnya, diperlukan penentuan tingkat kerawanan suatu
wilayah terhadap tanah longsor untuk melakukan upaya pencegahan dan perlindungan, termasuk pula
kekuatan bangunan di atasnya.

Tanah longsor merupakan suatu peristiwa geologi yang disebabkan oleh pergerakan massa batuan atau
tanah yang dapat didefinisikan sebagai perpindahan material pembentuk lereng, yang berupa batuan asli
maupun bahan timbunan yang bergerak dengan mengikuti gaya gravitasi bumi. Longsor dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya alam dan manusia. Salah satu faktor penyebab
terjadinya longsor yang sangat berpengaruh yaitu bidang gelincir (slip surface), yaitu bidang kedap air
dan licin yang biasanya berupa lapisan lempung. Hal ini disebabkan oleh bidang gelincir merupakan
bidang yang menjadi landasan bergeraknya massa tanah. Oleh karena lapisan permukaan daratan
Indonesia didominasi oleh lapisan sedimen quarter yang belum terkonsolidasi dengan baik, maka hal ini
dapat menjadi pemicu terjadinya tanah longsor. Penentuan area rawan longsor dapat dilakukan dengan
mengidentifikasi beberapa parameter yang dapat memicu longsor seperti lereng, sifat fisis tanah, jenis
bangunan lahan serta curah hujan.

Berdasarkan hal tersebut, diperlukan analisis bidang gelincir dan struktur tanah sebagai langkah awal
mitigasi bencana longsor. Dan dari sinilah peran Geofisika sangat dibutuhkan. Salah satu metode
geofisika yang sering digunakan untuk mengidentifikasi bidang gelincir adalah metode geolistrik tahanan
jenis. Metode ini memiliki beberapa keunggulan, yaitu memiliki akurasi pengukuran yang baik, tidak
merusak lingkungan, biaya yang relatif murah, serta mampu mendeteksi perlapisan tanah hingga diatas
100 m. Oleh karena itu metode ini dapat dimanfaatkan untuk survey daerah rawan longsor, khususnya
untuk menentukan ketebalan lapisan yang berpotensi longsor serta litologi perlapisan batuan bawah
permukaan.

Metode geolistrik diaplikasikan untuk menentukan bidang gelincir. Hasil pengukuran yang berupa
tahanan jenis semu selanjutnya dikonversi untuk menentukan nilai true resistivity dari suatu lapisan.
Data hasil pengukuran ini kemudian digunakan dalam proses identifikasi dan penyelidikan tanah.

Identifikasi dan penyelidikan tanah diperlukan untuk mengetahui kondisi geologi tanah, karateristik
tanah, kekuatan lapisan tanah, kepadatan dan daya dukung serta mengetahui sifat korosivitas tanah. Hal
ini dilakukan untuk mengetahui jenis pondasi yang akan digunakan pada konstruksi bangunan. Selain itu,
dari hasil penyelidikan tanah dapat ditentukan perlakuan terhadap tanah agar daya dukung tanah dapat
mendukung konstruksi yang akan dibangun. Kemudian, dari hasil penyelidikan tanah ini akan dipilih
alternatif atau jenis, kedalaman serta dimensi pondasi yang paling ekonomis dan aman.

Dalam perkembangan keilmuan hingga saat ini, pada saat merancang konstruksi bangunan, ilmu
geoteknik tidak hanya dilakukan oleh para insinyur sipil saja. Banyak ahli sipil yang memerlukan
parameter-parameter petrofisika dalam melakukan studi kelayakan bangunan, seperti parameter
porositas, permeabilitas, serta densitas lapisan bawah permukaan. Data-data tersebut diperoleh dari
survei geofisika yang dilakukan oleh seorang geofisikawan. Metode survei geofisika yang digunakan pun
disesuaikan dengan tujuan kontruksi. Salah satu contoh, ketika ingin membuat bendungan maka akan
dilakukan survei geolistrik. Survei ini dilakukan untuk mengetahui kedalaman maksimal keterdapatan air
tanah dan menentukan besar kekuatan dasar bendungan sehingga dapat dipetakan untuk memilih jenis
batuan dasar yang kuat untuk pondasi.

Peran ilmu geofisika sangat penting. Hal ini disebabkan oleh adanya beberapa metode geofisika yang
dapat digunakan untuk menentukan faktor-faktor kestabilan struktur tanah yang diperlukan oleh
geoteknik. Selain metode geolistrik seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, juga terdapat metode lain
seperti metode gravitasi yang digunakan untuk mengidentifikasi densitas batuan pada tanah.

Jika suatu tanah terdeteksi berdensitas tinggi, dapat diinterpretasikan bahwa rapat massa dan tingkat
kestabilan batuan juga semakin tinggi. Metode ini juga dapat digunakan dalam menentukan bentuk
tubuh batuan yang membentuk daratan tanah di lapisan bagian bawah permukaan. Dari interpretasi ini,
dapat ditentukan daerah-daerah yang memiliki kemungkinan terjadinya longsoran bawah tanah
(subsidence).
Kemudian metode seismik, refleksi maupun refraksi, keduanya dapat digunakan untuk menentukan
daerah tanah dengan porositas dan permeabilitas yang baik maupun buruk. Jika batuan dari suatu
daratan tanah menunjukkan porositas buruk, maka daya serap tanah terhadap air juga buruk, sehingga
dapat diinterpretasikan bahwa daerah tersebut sudah tak layak lagi untuk digunakan sebagai tempat
tinggal yang aman.

Ilmu geofisika perlu untuk mempelajari ilmu geoteknik karena metode geofisika banyak berhubungan
dengan konstruksi. Oleh karena itu, dilakukan kegiatan geofisika untuk menentukan pondasi bendungan
dan menentukan besar kekuatan batuan dasar dan lainnya.

Referensi:

Azmi, U. (2015). Materi Geoteknik Serta Peran Geofisika Dalam Geoteknik. Banda Aceh : Program Studi
Teknik Geofisika, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala

Inggesi, B.J.O., dkk. (2014). Aplikasi Metode Geolistrik Tahanan Jenis untuk Menentukan Bidang Gelincir
Daerah Distrik Abepura, Jayapura-Papua. Jayapura : Universitas Cendrawasih

Muslihudin, dkk. (n.d). Studi Bidang Gelincir Sebagai Langkah Awal Mitigasi Bencana Longsor Di
Kampung Ledok Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang Menggunakan Metode Geolistrik
Konfigurasi Dipol-Dipol. Malang : Jurusan Fisika, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya

Hartoyo. (2015). Longsor, Batu Raksasa 20 Ton Hampir Timpa Rumah Warga. Retrieved from
http://news.okezone.com/read/2015/12/14/512/1266860/longsor-batu-raksasa-20-ton-hampir-timpa-
rumah-warga at December 22th 2015
2. Resources management (manusia, material, uang, teknologi, dan informasi)

Pra bencana

Saat bencana