Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sistem saraf pusat bukan hanya bertanggung jawab terhadap pengaturan sistem-sistem
tubuh,kapasitas adaptif, tetapi juga berkenaan dengan aspek kesadaran diri .Untuk dapat
menerapkan proses keperawatan pada pasien dengan gangguan neurologi membutuhkan
pengetahuan tentang struktur dan fungsi dari sistem persyarafan. Sistem persyarafan bekerja
sebagai sistem elektrik dan konduksi yang berkerja mengatur dan mengendalikan semua
kegiatan tubuh. Sebagai mahasiswa keperawatan penting untuk mempelajari asuhan
keperawatan pada pasien dengan keterbatasan fungsi persarafan untuk membantu
membangkitkan respon adaptifnya, intervensi keperawatan dilakukan untuk melindungi dan
membantu pasien yang dalam keadaan keterbatasan.

B. Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini untuk :
1. Pemenuhan tugas mata kuliah KMB tentang sistem persarafan
2. Mengetahui mengenai patofisiologi dan gangguan sistem persarafan
3. Pembelajaran asuhan keperawatan yang akan diberikan pada pasien dengan
gangguan persarafan.

C. Manfaat
1. Mampu menggunakan proses keperawatan dalam menangani pasien dengan
gangguan persarafan.
2. Mendalami pemahaman mengenai konsep dasar dan gangguan sistem persarafan
3. Mendalami pemahaman mengenai asuhan keperawatan yang akan diberikan pada
pasien dengan gangguan persarafan.
4. Mampu mengkolaborasikan pelayanan keperawatan pada pasien dengan gangguan
persarafan.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Trauma Kepala dan Spinal


1. Pengertian
Cidera kepala yaitu adanya deformasi berupa penyimpangan bentuk atau
penyimpangan garis pada tulang tengkorak, percepatan (accelerasi) dan perlambatan
(decelerasi) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh perubahan
peningkatan pada percepatan faktor dan penurunan kecepatan, serta rotasi yaitu
pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat perputaran pada
tindakan pencegahan (Doenges, 1989).
Trauma kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang
tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak
langsung pada kepala. (Suriadi & Rita Yuliani, 2001)
Cedera kepala atau cedera otak merupakan suatu gangguan traumatik dari fungsi
otak yang di sertai atau tanpa di sertai perdarahan interstisial dalam substansi otak
tanpa di ikuti terputusnya kontinuitas otak. (Arif Muttaqin, 2008)

Gambar 1.1 : trauma tulang kepala

Trauma medula spinalis adalah cedera pada tulang belakang baik langsung
maupun tidak langsung, yang menyebabkan lesi di medula spinalis sehingga
menimbulkan gangguan neurologis, dapat menyebabkan kecacatan menetap atau
kematian (PERDOSSI, 2006).

Cedera medula spinalis (CMS) atau spinal cord injury (SCI ) ditandai dengan
adanya tetralegia atau paraplegia, parsial atau komplit, dan tingkatan atau level
tergantung area terjadinya lesi atau CMS. Tetraplegia atau quadriplegia adalah
kehilangan fungsi sensorik dan motorik di segmen servikal medulla spinalis.

2
Sedangkan paraplegia adalah gangguan fungsi sensorik dan motorik di segmen
thorakal, lumbal dan sakrum ( Kirshblum & Benevento, 2009).

2. Klasifikasi
Klasifikasi trauma kepala berdasarkan Nilai Skala Glasgow (SKG):
1) Minor
a. SKG 13 – 15
b. Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia tetapi kurang dari 30 menit.
c. Tidak ada kontusio tengkorak, tidak ada fraktur cerebral, hematoma.
2) Sedang
a. SKG 9 – 12
b. Kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebih dari 30 menit tetapi kurang dari
24 jam.
c. Dapat mengalami fraktur tengkorak.
3) Berat
a. SKG 3 – 8
b. Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam.
c. Juga meliputi kontusio serebral, laserasi, atau hematoma intrakranial.

3. Etiologi
Menurut Tarwoto (2007), penyebab dari Cedera Kepala adalah :
a. Kecelakaan lalu lintas.
b. Terjatuh
c. Pukulan atau trauma tumpul pada kepala.
d. Olah raga
e. Benturan langsung pada kepala.
f. Kecelakaan industri.
Cedera tulang belakang terjadi sebagai akibat :
1. Jatuh dari ketinggian, misal pohon kelapa, kecelakaan ditempat kerja.
2. Kecelakaan lalu lintas
3. Kecelakaan olah raga Cedera terjadi akibat hiperfleksi, hiperekstensi,
kompresi atau rotasi tulang belakang. Didaerah torakal tidak banyak terjadi
karena terlindung oleh struktur torak.

3
4. Pemeriksan penunjang
a. Laboratorium: darah lengkap (hemoglobin, leukosit, CT, BT)
b. Rotgen Foto
c. CT Scan
d. MRI
e. Sinar X spinal : untuk menentukan lokasi dan jenis cedera tulang belakang
(fraktur atau dislokasi)
f. CT scan : untuk menentukan tempat luka/jejas
g. MRI : untuk mengidentifikasi kerusakan syaraf spinal
h. Foto rongent thorak : mengetahui keadaan paru
i. AGD : menunjukkan keefektifan pertukaran gas dan upaya ventilasi

5. Penatalaksanaan
Secara umum penatalaksanaan therapeutic pasien dengan trauma kepala
adalah sebagai berikut:
1. Observasi 24 jam
2. Jika pasien masih muntah sementara dipuasakan terlebih dahulu.
3. Berikan terapi intravena bila ada indikasi.
4. Anak diistirahatkan atau tirah baring.
5. Profilaksis diberikan bila ada indikasi.
6. Pemberian obat-obat untuk vaskulasisasi.
7. Pemberian obat-obat analgetik.
8. Pembedahan bila ada indikasi.
Terapi dilakukan untuk mempertahankan fungsi neurologis yang masih ada,
memaksimalkan pemulihan neurologis, tindakan atas cedera lain yang menyertai,
mencegah, serta mengobati komplikasi dan kerusakan neural lebih lanjut. Terapi
steroid, nomidipin, atau dopamin untuk perbaiki aliran darah koral spiral. Dosis
tertinggi metil prednisolon/bolus adalah 30 mg/kgBB diikuti 5,4 mg/kgBB/jam untuk
23 jam berikutnya.

4
B. Konsep peradangan dan infeksi : Meningitis
1. Pengertian
Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak
dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ
jamur(Smeltzer, 2001). Meningitis adalah radang dari selaput otak (arachnoid dan
piamater). Bakteri dan virus merupakan penyebab utama dari meningitis.

Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah
satu dari mikroorganisme pneumokok, Meningokok, Stafilokok, Streptokok, Hemophilus
influenza dan bahan aseptis (virus) (Long, 1996).
Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column
yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat (Suriadi & Rita, 2001).

Meningitis / Radang selaput otak adalah Infeksi pada cairan serebrospinal (CSS)
disertai radang pada pia dan araknoid; ruang subaraknoid, jaringan superficial otak dan
medulla spinalis, kuman-kuman dapat masuk ke setiap bagian ruang subaraknoid dan dengan
cepat sekali menyebar ke bagian yang lain, sehingga leptomening medulla spinalis terkena.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa meningitis selalu merupakan suatu proses
serebrospinal. (Harsono : 1996)

2. Etiologi

1. Bakteri; Mycobacterium tuberculosa, Diplococcus pneumoniae (pneumokok),


Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus
aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae,
Peudomonas aeruginosa
2. Penyebab lainnya lues, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia
3. Faktor predisposisi : jenis kelamin lakilaki lebih sering dibandingkan dengan
wanita
4. Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir
kehamilan
5. Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin.
6. Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injury yang berhubungan dengan
sistem persarafan

5
3. Klasifikasi

Meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan
otak, yaitu :

1. Meningitis serosa
Adalah radang selaput otak araknoid dan piameter yang disertai cairan otak yang
jernih. Penyebab terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa. Penyebab
lainnya lues, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia.

2. Meningitis purulenta
Adalah radang bernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi otak dan medula
spinalis. Penyebabnya antara lain : Diplococcus pneumoniae (pneumokok),
Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus
aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae,
Peudomonas aeruginosa.

4. Pemeriksaan diagnostik

1. Analisis CSS dari fungsi lumbal :


a) Meningitis bakterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel
darah putih dan protein meningkat glukosa meningkat, kultur positip terhadap
beberapa jenis bakteri.
b) Meningitis virus : tekanan bervariasi, cairan CSS biasanya jernih, sel darah
putih meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya
negatif, kultur virus biasanya dengan prosedur khusus.
2. Glukosa serum : meningkat ( meningitis )
3. LDH serum : meningkat ( meningitis bakteri )

4. Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil


( infeksi bakteri )
5. Elektrolit darah : Abnormal .
6. ESR/LED : meningkat pada meningitis
7. Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine : dapat mengindikasikan daerah pusat
infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi

6
8. MRI/ skan CT : dapat membantu dalam melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak
ventrikel; hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor
9. Ronsen dada/kepala/ sinus ; mungkin ada indikasi sumber infeksi intra kranial.

5. Penatalaksanaan medis

Penatalaksanaan medis lebih bersifat mengatasi etiologi dan perawat perlu


menyesuaikan dengan standar pengobatan sesuai tempat bekerja yang berguna sebagai bahan
kolaborasi dengan tim medis. Secara ringkas penatalaksanaan pengobatan meningitis meliputi
pemberian antibiotic yang mampu melewati barier darah otak ke ruang subarachnoid dalam
konsentrasi yang cukup untuk menghentikan perkembangbiakan bakteri. Baisanya
menggunakan sefaloposforin generasi keempat atau sesuai dengan hasil uji resistensi
antibiotic agar pemberian antimikroba lebih efektif digunakan.

Obat anti-infeksi (meningitis tuberkulosa):

1. Isoniazid 10-20 mg/kgBB/24 jam, oral, 2x sehari maksimal 500 mg selama 1


setengah tahun.
2. Rifampisin 10-15 mg/kgBB/24 jam, oral, 1 x sehari selama 1 tahun.
3. Streptomisin sulfat 20-40 mg/kgBB/24 jam, IM, 1-2 x sehari selama 3 bulan.

Obat anti-infeksi (meningitis bakterial):

1. Sefalosporin generasi ketiga


2. Amfisilin 150-200 mg/kgBB/24 jam IV, 4-6 x sehari
3. Klorafenikol 50 mg/kgBB/24 jam IV 4 x sehari.

Pengobatan simtomatis:

1. Antikonvulsi, Diazepam IV; 0,2-0,5 mgkgBB/dosis, atau rectal: 0,4-0,6


mg/kgBB, atau fenitoin 5 mg/kgBB/24 jam, 3 x sehari atau Fenobarbital 5-7
mg/kgBB/24 jam, 3 x sehari.
2. Antipiretik: parasetamol/asam salisilat 10 mg/kgBB/dosis.
3. Antiedema serebri: Diuretikosmotik (seperti manitol) dapat digunakan untuk
mengobati edema serebri.
4. Pemenuhan oksigenasi dengan O2.

7
C. Konsep Gangguan Vaskularisasi Stroke
1. Pengertian
Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak yang
diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak (Smeltzer C. Suzanne,
2002).

Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah gangguan neurologik mendadak


yang terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui system suplai
arteri otak (Sylvia A Price, 2006)
Stroke non hemoragik adalah sindroma klinis yang awalnya timbul mendadak,
progresi cepat berupa deficit neurologis fokal atau global yang berlangsung 24 jam
atau lebih atau langsung menimbul kematian yang disebabkan oleh gangguan
peredaran darah otak non straumatik (Arif Mansjoer, 2000)
Stroke non hemoragik merupakan proses terjadinya iskemia akibat emboli dan
trombosis serebral biasanya terjadi setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau di
pagi hari dan tidak terjadi perdarahan. Namun terjadi iskemia yang menimbulkan
hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema sekunder. (Arif Muttaqin, 2008).

2. Klasifikasi
Secara non hemoragik, stroke dapat dibagi berdasarkan manifestasi klinik dan proses
patologik (kausal):

1. Berdasarkan manifestasi klinis


a. Serangan Iskemik Sepintas/Transient Ischemic Attack (TIA)
Gejala neurologik yang timbul akibat gangguan peredaran darah di otak akan
menghilang dalam waktu 24 jam.
b. Defisit Neurologik Iskemik Sepintas/Reversible Ischemic Neurological
Deficit (RIND)
Gejala neurologik yang timbul akan menghilang dalam waktu lebih lama dari 24 jam,
tapi tidak lebih dari seminggu.
c. Stroke Progresif (Progressive Stroke/Stroke In Evaluation)
Gejala neurologik makin lama makin berat.

8
d. Stroke komplet (Completed Stroke/Permanent Stroke)
Kelainan neurologik sudah menetap, dan tidak berkembang lagi.
2. Berdasarkan kausal
a. Stroke Trombotik
Stroke trombotik terjadi karena adanya penggumpalan pada pembuluh darah di otak.
Trombotik dapat terjadi pada pembuluh darah yang besar dan pembuluh darah yang
kecil. Pada pembuluh darah besar trombotik terjadi akibat aterosklerosis yang diikuti
oleh terbentuknya gumpalan darah yang cepat. Selain itu, trombotik juga diakibatkan
oleh tingginya kadar kolesterol jahat atau Low Density Lipoprotein(LDL). Sedangkan
pada pembuluh darah kecil, trombotik terjadi karena aliran darah ke pembuluh darah
arteri kecil terhalang. Ini terkait dengan hipertensi dan merupakan indikator penyakit
aterosklerosis.

b. Stroke Emboli/Non Trombotik


Stroke emboli terjadi karena adanya gumpalan dari jantung atau lapisan lemak yang
lepas. Sehingga, terjadi penyumbatan pembuluh darah yang mengakibatkan darah
tidak bisa mengaliri oksigen dan nutrisi ke otak.

3. Etiologi

Penyebab-penyebabnya antara lain:

1. Trombosis ( bekuan cairan di dalam pembuluh darah otak ).

9
Trombus yang lepas dan menyangkut di pembuluh darah yang lebih distal disebut
embolus.
2. Embolisme cerebral ( bekuan darah atau material lain )
Emboli merupakan 5-15 % dari penyebab stroke. Dari penelitian epidemiologi didapatkan
bahwa sekitar 50 % dari semua serangan iskmik otak, apakah yang permanen atau yang
transien, diakibatkan oleh komplikasi trombotik atau embolik dari ateroma, yang
merupakan kelainan dari arteri ukuran besar atau sedang, dan sekitar 25 % disebabkan
oleh penyakit pembuluh darah kecil di intyrakranial dan 20 % oleh emboli jantung.
Emboli dapat terbentuk dari gumpalan darah, kolesterol, lemak, fibrin trombosit, udara
,tumor, metastase, bakteri, benda asing

3. Iskemia ( Penurunan aliran darah ke area otak) (Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131)

4. Pemeriksaan penunjang
a) CT Scan
Memperlihatkan adanya edema , hematoma, iskemia dan adanya infark

b) Angiografi serebral
membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan atau
obstruksi arteri
c) Pungsi Lumbal

- menunjukan adanya tekanan normal


- tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukan adanya
perdarahan
d) MRI : Menunjukan daerah yang mengalami infark, hemoragik.
e) EEG: Memperlihatkan daerah lesi yang spesifik
f) Ultrasonografi Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena
g) Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal
(DoengesE, Marilynn,2000 hal 292)

5. Penatalaksanaan
a. Diuretika : untuk menurunkan edema serebral .
b. Anti koagulan: Mencegah memberatnya trombosis dan embolisasi.

10
D. Konsep Gangguan konduksi Epilepsi
1. Pengertian
Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang datang
dalam serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan oleh lepasan muatan listrik
abnormal sel-sel saraf otak yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi, dengan ciri khas
serangan yang timbul secara tiba-tiba dan menghilang secara tiba-tiba pula.

Epilepsi adalah penyakit serebral kronik dengan karekteristik kejang berulang akibat lepasnya
muatan listrik otak yang berlebihan dan bersivat reversibel (Tarwoto, 2007)

Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang datang dalam
serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas muatan listrik abnormal sel-sel
saraf otak, yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi (Arif, 2000)

Epilepsi adalah sindroma otak kronis dengan berbagai macam etiologi dengan ciri-ciri
timbulnya serangan paroksismal dan berkala akibat lepas muatan listrik neron-neron otak
secara berlebihan dengan berbagai manifestasi klinik dan laboratorik (anonim, 2008)

2. Etiologi

Penyebab pada kejang epilepsi sebagian besar belum diketahui (Idiopatik) Sering terjadi
pada:

1. Trauma lahir, Asphyxia neonatorum

2. Cedera Kepala, Infeksi sistem syaraf

3. Keracunan CO, intoksikasi obat/alkohol

4. Demam, ganguan metabolik (hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia)

5. Tumor Otak

6. Kelainan pembuluh darah

7. Riwayat keturunan epilepsy

8. Riwayat gangguan metabolism dan nutrisi/gizi

9. Riwayat gangguan sirkulasi serebral

11
3. Klasifikasi

secara umum epilepsi dibagi menjadi 2 golongan, yaitu:

1. Epilepsi Primer atau epilepsi idiopatik yang sampai pada saat ini belum ditemukan
penyebabnya dan sebagian besar terjadi pada anak-anak. Pada kasus ini tidak ditemukan
kelainan pada jaringan otak.

2. Epilepsi Sekunder, penyebabnya diketahui, antara lain:

 Faktor herediter, yang mengalami kelainan, seperti neurofibromatosis,


hipoparatiroidisme, hipoglikemia.
 Faktor genetik, pada kejang demam.
 Kelainan kongenital otak, atropi, agenesis korpus kolosum.
 Gangguan metabolik, seperti hipoglikemi, hipokalsemia, hiponatremia, hipernatremia.
 Infeksi, radang yang disebabkan virus atau bakteri pada otak dan selaputnya, seperti
toxoplasmosis, meningitis.
 Trauma, contusio cerebri, hematoma subarachnoid, hematoma subdural.
 Neoplasma otak dan selaputnya.
 Kelainan pembuluh darah, malformasi dan penyakit kolagen.
 Keracunan (timbal, kamper/kapur arus, fenotiazine).
 Lain-lain, seperti: penyakit darah, gangguan keseimbangan hormon, degenerasi
serebral.

4. Penatalaksanaan
a) Dilakukan secara manual, juga diarahkan untuk mencegah terjadinya kejang,
penatalaksanaan berbeda dari satu klen dengan klien lainnya.
b) Farmakoterapi
c) Anti kovulsion untuk mengontrol kejang
d) Pembedahan
Untuk pasien epilepsi akibat tumor otak, abses, kista atau adanya anomali
vaskuler

12
Jenis obat yang sering digunakan

 Phenobarbital (luminal) : Paling sering dipergunakan, murah harganya, toksisitas


rendah.
 Primidone (mysolin) : Di hepar primidone di ubah menjadi phenobarbital dan
phenyletylmalonamid.
 Difenilhidantoin (DPH, dilantin, phenytoin) : Dari kelompok senyawa hidantoin yang
paling banyak dipakai ialah DPH. Berhasiat terhadap epilepsi grand mal, fokal dan
lobus temporalis.
 Carbamazine (tegretol).Mempunyai khasiat psikotropik yangmungkin disebabkan
pengontrolan bangkitan epilepsi itusendiri atau mungkin juga carbamazine memang
mempunyaiefek psikotropik.Sifat ini menguntungkan penderita epilepsi lobus
temporalis yang sering disertai gangguan tingkahlaku.
Efek samping yang mungkin terlihat ialah nistagmus, vertigo, disartri, ataxia, depresi
sumsum tulang dan gangguanfungsi hati.
 Diazepam. Biasanya dipergunakan pada kejang yang sedang berlangsung (status
konvulsi.).Pemberian i.m. hasilnya kurang memuaskan karena penyerapannya
lambat. Sebaiknya diberikan i.v. atau intra rektal.
 Nitrazepam (Inogadon).Terutama dipakai untuk spasme infantil dan bangkitan
mioklonus.
 Ethosuximide (zarontine).Merupakan obat pilihan pertama untuk epilepsi petit mal
 Na-valproat (dopakene) Obat pilihan kedua pada petit mal. Pada epilepsi grand mal
pun dapat dipakai. Obat ini dapat meninggikan kadar GABA di dalam otak. Efek
samping mual, muntah, anorexia
 Acetazolamide (diamox). Kadang-kadang dipakai sebagai obat tambahan dalam
pengobatan epilepsi. Zat ini menghambat enzim carbonic-anhidrase sehingga pH otak
menurun, influks Na berkurang akibatnya membran sel dalam keadaan
hiperpolarisasi.
 ACTH Seringkali memberikan perbaikan yang dramatis pada spasme infantil.

5. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan darah rutin, darah tepi dan lainnya sesuai indikasi misalnya kadar gula
darah, elektrolit. Pemeriksaan cairan serebrospinalis (bila perlu) untuk mengetahui

13
tekanan, warna, kejernihan, perdarahan, jumlah sel, hitung jenis sel, kadar protein, gula
NaCl dan pemeriksaan lain atas indikasi.
b. Pemeriksaan EEG
Pemeriksaan EEG sangat berguna untuk diagnosis epilepsi. Ada kelainan berupa
epilepsiform discharge atau epileptiform activity), misalnya spike sharp wave, spike and
wave dan sebagainya. Rekaman EEG dapat menentukan fokus serta jenis epilepsi apakah
fokal, multifokal, kortikal atau subkortikal dan sebagainya. Harus dilakukan secara
berkala (kira-kira 8-12 % pasien epilepsi mempunyai rekaman EEG yang normal).
Pemeriksaan radiologis
c. Foto tengkorak
untuk mengetahui kelainan tulang tengkorak, destruksi tulang, kalsifikasi intrakranium
yang abnormal, tanda peninggian TIK seperti pelebaran sutura, erosi sela tursika dan
sebagainya.
d. Pneumoensefalografi dan ventrikulografi

untuk melihat gambaran ventrikel, sisterna, rongga sub arachnoid serta gambaran otak.
Arteriografi untuk mengetahui pembuluh darah di otak : anomali pembuluh darah otak,
penyumbatan, neoplasma / hematome/ abses.

E. Konsep Gangguan proses Degeneratif ; Parkinson


1. Pengertian
Parkinson adalah suatu penyakit kronis yang diakibatkan oleh kelainan neurologis
progresif yang menyerang pusat otak yang bertanggung jawab terhadap kontrol dan
regulasi gerakan. Terjadi penipisan dopamin dalam substansi nigra dan korpus stratum
karena proses degenerasi. Kondisi ini megakibatkan gejala khas bradikinestesia
(melambatnya gerakan), tremor, dan rigiditas (kekakuan otot).

2. Epidemiologi
Penyakit parkinson lebih sering pada usia 60 tahun(Hickey, 1997). Perubahan
psikologis pada SSP mencakup hilangnya neuron berpigmen dan adanya badan Lewy
pada substansia nigra tanpa menyebab yang diketahui. Seiring dengan penyakit
memburuk, seluruh pergerakan semakin lamban, termasuk mengunyah, menelan dan

14
bicara dan pasien menjadi emobil. Diam atau emobilitas penuh akan terlihat paling
sering saat pasien mulai bergerak.

3. Etiologi

Penyebab yang pasti dari penyakit Parkinson (parkinsonism) tidak diketahui. Dalam
banyak kasus, penyebabnya adalah idiopathie. Bagaimanapun, gejala atau parkinsonism
sekunder berhubungan dengan berbagai gangguan pada sistem saraf seperti bahan beracun,
tumor otak di dalam basal ganglia, trauma cerebral, infeksi/peradangan, pengapuran
pembuluh darah cerebral, dan induksi obat.

Dua hipotesis yang disebut juga sebagai mekanisme degenerasi neural pada penyakit
parkinson ialah : hipotesis radikal bebas dan hipotesis neurotoksin.

1. Hipotesis radikal bebas


Diduga bahwa oksidasi enzimatik dari dopamin dapat merusak neuron
nigrostriatal, karena proses ini menghasilkan hidrogen peroksid dan radikal-oksi
lainnya, walaupun ada mekanisme pelindung untuk mencegah kerusakan dari stres
oksidatif, namun pada usia lanjut mungkin mekanisme ini gagal.

2. Hipotesis neurotoksin
Diduga bahwa satu atau lebih macam zat neurotoksin berperan dalam proses
neurodegenerasi pada parkinson,n sebagai contoh dikemukakan kemampuan zat
MPTP (1-methyl-4phenyl-1,2,3,6-tetrahydropyridine) atau toksin sejenis MPTP
yang secara selektif toksik terhadap substansi nigra dan lokus seruleus dan
mencetus sindrom yang serupa dengan parkinson pada manusia.

4. Pemeriksaan Diagnostik dan Hasil


Tidak ada test khusus untuk mendiagnosa penyakit Parkinson, Hasil diagnosa
didasarkan pada riwayat dan pemeriksaan fisik.
 Rontgen dada : tampak scoliosis
 Rontgen tengkorak : normal
 Computed tomography (CT) scan : normal ( dengan riwayat demensia kronik
mungkin tampak atrophy cerebral)
 Elektroccephalography : normal tau menunjukkan minimum dan/atau
disorganisasi (ditandai dengan dementia dan bardikinensia, mungkin
menunjukkan moderat sampai menunjukkan tanda dan difusi disorganisasi)

15
 Cineradiographic study of swallowing (menelan) : gambaran abnormal, relaksasi
yang tertahan dari otot cricopharingeal

5. Penatalaksanaan
Tujuan utama perawatan medis adalah mengatasi gejala yang timbul dengan obat-
obatan. Beberapa penatalaksanaan yang sedang dilakukan adalah dengan
neurotransplantantion dari jaringan medula ginjal, tetapi langkah ini masih dalam tahap
persiapan untuk pengembangannya.
1. Management Umum
Therapi fisik : untuk memelihara hubungan mobilitas dan gaya berjalan yang
normal.
Ocupational therapi (therapi kerja) : Untuk menolong pasien berpartisipasi dalam
kegiatan sehari hari (ADL).
Therapi suara : Untuk fasilitas komunikasi
Psychotherapi : Untuk fasilitas pasien menyesuaikan diri secara alamiah dengan
penyakit yang kronis.
2. Therapi obat-obatan
Peraturan tentang therapi pharmachologic kompleks dan memerlukan
pengetahuan tentang itu dan pengalaman dari seorang dokter berkwalitas. Beberapa
jenis obat dapat mengurangi gejala penyakit parkinson; anticholenergics, obat anti
alergi, obat dopaminergic, dan dopamine agonists. Sebab efek samping dari
beberapa obat dapat membahayakan, Pemberian obat harus diatur dengan teliti.
Anticholinergics : (menghalangi efek acetylcholine di dalam CNS; berpengaruh
atas terjadinya tremor dan kekakuan otot tetapi sering efeknya sedikit di dalam
mengendalikan bradykinensia dan masalah keseimbangan); Trihexyphenidyl HCL
(artane); cycrimine (pagitine);procyklidine (kemadrin); hiperiden (Akineton);
Benztopine Mesyiate ( Cogentin).
Antihistamin : (mungkin digunakan untuk tambahan dengan anticholinergik;
mungkin digunakan kombinasi dengan obat yang lebih kuat); Diphenhidramine (
Benadryl); Orphenadrine ( Disipal).
Antiviral : (Amantadine-accidentally ditemukan mempunyai efek
antiparkinsonism, tindakan atau mekanisme tepat adalah kontroversi pokok, efek
cenderung untuk berkurang dalam beberapa bulan, mungkin digunakan kombinasi
dengan obat lain; Amantadine HCL (symmetrel)
16
F. Konsep Dasar Tumor/Keganasan
1. Pengertian
Neoplasma adalah kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh
terus menerus secara tidak terbatas, tidak terkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan
tidak berguna bagi tubuh. Sutisna himawan (1996, hal: 77).

Kanker adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan gangguan


pertumbuhan selular dan merupakan kelompok penyakit dan bukan hanya penyakit
tunggal. Doengoes (2000, hal 997).

Cancer Mastoid adalah: kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel yang
tumbuh terus menerus secara tidak terbatas, tidak terkoordinasi dengan jaringan
sekitarnya dan tidak berguna bagi tubuh terjadi pada tulang mastoid.

2. Etiologi :
Menurut jenisnya kanker/korsinogen dapat berupa:

 bahan kimia
 virus
 konsinogen fisik
 hormon
3. Jenis-Jenis Neoplasma :

a. Jinak/non kanker
Adalah suatu perbedaan lokal semata. Peoliferisi sel-sel yang merupakan
neoplasma sangat kohesif,sehingga waktu massa sel neoplasma itu tumbuh, terjadi
perluasan massa secara sentifugal dengan batas yang sangat nyata. Karena sel-sel
yang berpeoliferisi tidak saling meninggalkan maka pinggir neoplasma kurang lebih
cenderung bergerak ke luar dengan lancar sambil mendesak jarimngan yang
berdekatan. Dengan demikian neoplasma jinak mempunyai kapsul jaringan
penyambung yang memisahkan neoplasma dengan sekelilingnya.

b. Ganas/kanker
Umumnya tumbuh lebih cepat dan hampir selalu tumbuh secara progesif tanpa
belas kasihan, jika tidak di buang sel neoplasma ganas tidak sekohesif sel jinak.
Akibatnya pola penyebaran neoplasma ganas sering kali tidak teratur. Neoplasma
ganas cenderung tidak berkapsul, dan biasanya mereka mudah dipisahkan dari

17
sekitarnya. Bersifat invasif ke sekitar bukan mendesak ke samping. Sifat lain adalah
kemampuan berpeoliferisi sel kanker untuk melepaskan diri dari tumor induk dan
memasuki sirlkulasi untuk menyebar ke tempat lain. Jadi sifat bahaya neoplasma
ganas adalah kemampuan menginvasi jaringan normal dan kemampuan membentuk
metastasis.

4. Pemeriksaan Diagnostik

Tes seleksi tergantung riwayat, manifestasi klinis dan indeks kecurigaan untuk
kanker tertentu. Skan (misal MRI, CT, gallium) dan ultrasound : Dilakukan untuk tujuan
diagnostik, identifikasi metastatik dan evaluasi respons pada pengobatan. Biopsi (aspirasi,
eksisi, jarum, melubangi) : Dilakukan untuk diagnosis banding dan menggambarkan
pengobatan dan dapat dilakukan melalui sumsum tulang, kulit, organ dan sebagainya.
Contohnya : sumsum tulang dilakukan pada penyakit mieloproliferatif untuk diagnosis:
pada tumor solid untuk pentahapan. Penanda tumor (zat yang dihasilakan dan disekresi
oleh sel tumor dan ditemukan dalam serum misal CEA, antigen spesifik prostat, alfa-
fetoprotein, HCG, asam fosfat prostat, kalsitonin, antigen ankofetal pankreas, CA 15-3,
CA 19-9, CA 125 dan sebagainya) : dapat membantu dalam mendiagnosis kanker tetapi
lebih bermanfaat sebagai prognostik dan/atau monitor terapeutik. Reseptor esktrogen dan
progesteron adalah esai yang dilakukan pada jaringan payudara untuk memberikan
informasi tentang apakah atau bukan manipulasi hormonal akan terapeutik pada kontrol
penyakit metastatik.

Tes kimia skrining : misal elektrolit (natrium, kalium, kalsium) : tes ginjal (BUN/Cr0: tes
hepar (bilirum, AST/SGOT alkalin fosfat, LDH): tes tulang (alkalin fosfat, kalsium).
JDL dengan diferensial dan trobosit : dapat menunjukan anemia, perubahan pada SDM
dan SDP: trombosit berkurang atau meningkat.

Sinar X dada : menyelidiki penyakit paru metastatik atau primer.

8. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada kanker meliputi; pembedahan, kemotherapi dan radiasi serta
medikasi

18
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN
A. Asuhan Keperawatan Trauma Kepala
1. Pengkajian
a. Identitas
1) Identitas klien : meliputi nama, tanggal lahir, alamat, pendidikan,
pekerjaan, umur, suku/bangsa.
2) Riwayat kesehatan: waktu kejadian, penyebab trauma, posisi saat kejadian,
status kesadaran saat kejadian, pertolongan yang diberikan segera setelah
kejadian.
3) Riwayat Penyakit Sebelumnya : Apakah pasien pernah menderita, Stroke,
Infeksi Otak, DM, Diare/muntah, Tumor Otak, Trauma kepala.

b. Pemeriksaan fisik
1) Sistem respirasi : suara nafas, pola nafas (kusmaull, cheyene stokes, biot,
hiperventilasi, ataksik)
2) Kardiovaskuler : pengaruh perdarahan organ atau pengaruh PTIK
3) Sistem saraf :
Kesadaran  GCS.
Fungsi saraf kranial  trauma yang mengenai/meluas ke batang otak akan
melibatkan penurunan fungsi saraf kranial.
Fungsi sensori-motor  adakah kelumpuhan, rasa baal, nyeri, gangguan
diskriminasi suhu, anestesi, hipestesia, hiperalgesia, riwayat kejang.
4) Sistem pencernaan
Bagaimana sensori adanya makanan di mulut, refleks menelan,
kemampuan mengunyah, adanya refleks batuk, mudah tersedak. Jika
pasien sadar  tanyakan pola makan?
Waspadai fungsi ADH, aldosteron : retensi natrium dan cairan.
5) Kemampuan bergerak : kerusakan area motorik  hemiparesis/plegia,
gangguan gerak volunter, ROM, kekuatan otot.
6) Pemeriksaan 6B :
a. Breathing
Kompresi pada batang otak akan mengakibatkan gangguan irama
jantung, sehingga terjadi perubahan pada pola napas, kedalaman,

19
frekuensi maupun iramanya, bisa berupa Cheyne Stokes atau Ataxia
breathing. Napas berbunyi, stridor, ronkhi, wheezing ( kemungkinana
karena aspirasi), cenderung terjadi peningkatan produksi sputum pada
jalan napas.
b. Blood
Efek peningkatan tekanan intrakranial terhadap tekanan darah
bervariasi. Tekanan pada pusat vasomotor akan meningkatkan
transmisi rangsangan parasimpatik ke jantung yang akan
mengakibatkan denyut nadi menjadi lambat, merupakan tanda
peningkatan tekanan intrakranial. Perubahan frekuensi jantung
(bradikardia, takikardia yang diselingi dengan bradikardia, disritmia).
c. Brain
Gangguan kesadaran merupakan salah satu bentuk manifestasi adanya
gangguan otak akibat cidera kepala. Kehilangan kesadaran sementara,
amnesia seputar kejadian, vertigo, sinkope, tinitus, kehilangan
pendengaran, baal pada ekstrimitas. Bila perdarahan hebat/luas dan
mengenai batang otak akan terjadi gangguan pada nervus cranialis,
maka dapat terjadi : Perubahan status mental, Perubahan dalam
penglihatan, seperti ketajamannya, diplopia, kehilangan sebagian
lapang pandang, foto fobia.

d. Blader
Pada cidera kepala sering terjadi gangguan berupa retensi,
inkontinensia uri, ketidakmampuan menahan miksi.
e. Bowel
Terjadi penurunan fungsi pencernaan: bising usus lemah, mual, muntah
(mungkin proyektil), kembung dan mengalami perubahan selera.
Gangguan menelan (disfagia) dan terganggunya proses eliminasi alvi.
f. Bone
Pasien cidera kepala sering datang dalam keadaan parese, paraplegi.
Pada kondisi yang lama dapat terjadi kontraktur karena imobilisasi dan
dapat pula terjadi spastisitas atau ketidakseimbangan antara otot-otot
antagonis yang terjadi karena rusak atau putusnya hubungan antara

20
pusat saraf di otak dengan refleks pada spinal selain itu dapat pula
terjadi penurunan tonus otot.

2. Diagnosa

Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah:


1. Nyeri berhubungan dengan trauma kepala.
2. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral dan
peningkatan tekanan intrakranial.
3. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan menurunnya
kesadaran.
4. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan mual dan muntah.
Resiko tidak efektifnya bersihan jalan nafas dan tidak efektifnya pola nafas berhubungan
dengan gagal nafas, adanya sekresi, gangguan fungsi pergerakan, dan meningkatnya tekanan
intrakranial

B. Asuhan Keperawatan Meningitis


1. Pengkajian
1. Biodata klien, meliputi Nama, Umur, Jenis kelamin, alamat, pendidikan, pekerjaan, nomor
regitrasi, status pekawinan, agama, tanggal MR

2. Riwayat kesehatan yang lalu


 Apakah pernah menderita penyait ISPA dan TBC ?
 Apakah pernah jatuh atau trauma kepala ?
 Pernahkah operasi daerah kepala ?
3. Data bio-psiko-sosial
 Aktivitas
Gejala : Perasaan tidak enak (malaise).
Tanda : ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter.
 Sirkulasi
Gejala : Adanya riwayat kardiopatologi : endokarditis dan PJK. Tanda : tekanan darah
meningkat, nadi menurun, dan tekanan nadi berat, taikardi, disritmia.

 Eliminasi

Tanda : Inkontinensi dan atau retensi.

21
 Makan

Gejala : Kehilangan nafsu makan, sulit menelan.


Tanda : anoreksia, muntah, turgor kulit jelek dan membran mukosa kering.
 Higiene
Tanda : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri.
 Neurosensori
Gejala : Sakit kepala, parestesia, terasa kaku pada persarafan yang terkena,kehilangan
sensasi, hiperalgesia, kejang, diplopia, fotofobia, ketulian dan halusinasi penciuman.
Tanda : letargi sampai kebingungan berat hingga koma, delusi dan halusinasi,
kehilangan memori, afasia,anisokor, nistagmus,ptosis, kejang umum/lokal,
hemiparese, tanda brudzinki positif dan atau kernig positif, rigiditas nukal, babinski
positif,reflek abdominal menurun dan reflek kremastetik hilang pada laki-laki.
 Nyeri/keamanan
Gejala : sakit kepala (berdenyut hebat, frontal).
Tanda : gelisah, menangis.
 Pernafasan
Gejala : riwayat infeksi sinus atau paru.
Tanda : peningkatan kerja pernafasan.

2. Diagnosa keperawatan
1. Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi berhubungan dengan diseminata
hematogen dari pathogen
2. Risiko tinggi terhadap perubahan serebral dan perfusi jaringan berhubungan dengan
edema serebral, hipovolemia.
3. Risiko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/fokal, kelemahan
umum, vertigo.
4. Nyeri (akut) berhubungan dengan proses inflamasi, toksin dalam sirkulasi.
5. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskular,
penurunan kekuatan
6. Anxietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman kematian.

22
C. Asuhan Keperawatan Stroke
I. Pengkajian
1. Identitas klien
Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin, pendidikan,
alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register,
diagnose medis.

2. Keluhan utama
Biasanya didapatkan kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, dan tidak
dapat berkomunikasi.

3. Riwayat penyakit sekarang


Serangan stroke seringkali berlangsung sangat mendadak, pada saat klien sedang
melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri kepala, mual, muntah bahkan kejang
sampai tidak sadar, disamping gejala kelumpuhan separoh badan atau gangguan
fungsi otak yang lain.

4. Riwayat penyakit dahulu


Adanya riwayat hipertensi, diabetes militus, penyakit jantung, anemia, riwayat trauma
kepala, kontrasepsi oral yang lama, penggunaan obat-obat anti koagulan, aspirin,
vasodilator, obat-obat adiktif, kegemukan.

5. Riwayat penyakit keluarga


Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi ataupun diabetes militus.

Pengkajian Fokus:

1. Aktivitas dan istirahat

Data Subyektif:

- kesulitan dalam beraktivitas ; kelemahan, kehilangan sensasi atau paralysis.


- mudah lelah, kesulitan istirahat ( nyeri atau kejang otot )
Data obyektif:

- Perubahan tingkat kesadaran


- Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic), paraliysis ( hemiplegia ) ,
kelemahan umum.

23
- gangguan penglihatan
2. Sirkulasi

Data Subyektif:

- Riwayat penyakit jantung ( penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung ,


endokarditis bacterial ), polisitemia.
Data obyektif:

- Hipertensi arterial
- Disritmia, perubahan EKG
- Pulsasi : kemungkinan bervariasi
- Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal
3. Integritas ego

Data Subyektif:

- Perasaan tidak berdaya, hilang harapan


Data obyektif:

- Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesediahan , kegembiraan
- kesulitan berekspresi diri
4. Eliminasi

Data Subyektif:

- Inkontinensia, anuria
- distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh ), tidak adanya suara usus( ileus
paralitik )
5. Makan/ minum

Data Subyektif:

- Nafsu makan hilang


- Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK
- Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia
- Riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah
Data obyektif:

24
- Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek palatum dan faring )
- Obesitas ( factor resiko )
6. Sensori neural

Data Subyektif:

- Pusing / syncope ( sebelum CVA / sementara selama TIA )


- nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub arachnoid.
- Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti lumpuh/mati
- Penglihatan berkurang
- Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan pada muka
ipsilateral ( sisi yang sama )
- Gangguan rasa pengecapan dan penciuman
Data obyektif:

- Status mental ; koma biasanya menandai stadium perdarahan , gangguan tingkah


laku (seperti: letergi, apatis, menyerang) dan gangguan fungsi kognitif
- Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral pada semua jenis stroke,
genggaman tangan tidak imbang, berkurangnya reflek tendon dalam (
kontralateral )
- Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral )
- Afasia ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan ekspresif/
kesulitan berkata kata, reseptif / kesulitan berkata kata komprehensif, global /
kombinasi dari keduanya.
- Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, pendengaran, stimuli taktil
- Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik
- Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada sisi ipsi lateral
7. Nyeri / kenyamanan

Data Subyektif:

- Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya


Data obyektif:

- Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan otot / fasial

25
8. Respirasi

Data Subyektif:

- Perokok ( factor resiko )


9.Keamanan

Data obyektif:

- Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan


- Perubahan persepsi terhadap tubuh, kesulitan untuk melihat objek, hilang
kewasadaan terhadap bagian tubuh yang sakit
- Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, dan wajah yang pernah dikenali
- Gangguan berespon terhadap panas, dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh
- Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan, berkurang
kesadaran diri
10. Interaksi social

Data obyektif:

- Problem berbicara, ketidakmampuan berkomunikasi


(Doenges E, Marilynn,2000 hal 292)

II. Diagnosa keperawatan

1. Gangguan perfusi jaringan otak yang berhubungan dengan perdarahan intracerebral.


2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese/hemiplagia
3. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan sirkulasi darah otak
4. Gangguan eliminasi alvi(konstipasi) berhubungan dengan imobilisasi, intake cairan
yang tidak adekuat
5. Resiko gangguan nutrisi berhubungan dengan kelemahan otot mengunyah dan
menelan
6. Resiko ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan penurunan
refleks batuk dan menelan.
7. Gangguan eliminasi urine (inkontinensia urine) yang berhubungan dengan penurunan
sensasi, disfungsi kognitif, ketidakmampuan untuk berkomunikasi
8. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi fisik.
9. Kurang perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik.

26
D. Asuhan Keperawatan Epilepsi
I. Pengkajian
 Anamnese
Identitas klien meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada bayi dan neonatus),
jenios kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam
masuk RS, nomor register, asuransi kesehatan, dan diagnosis medis.
 Keluhan Utama: kejang, demam.
 Riwayat kesehatan
 Riwayat keluarga dengan kejang
 Riwayat kejang demam
 Riwayat kejang
 Riwayat penggunaan obat
 Pemeriksaan fisik
B1 (BREATHING)
Inspeksi apakah klien batuk,produksi sputum, sesak napas, penggunaan otot bantu
napas, dan penngkatan frekuensi pernapasan yang sering didapatkan pada klien epilepsy
disertai dengan gangguan system pernapasan.
B2 (BLOOD)
Pengkajian pada system kardiovaskuler terutama dilakukan pada klien epilepsy tahap
lanjut apabila klien sudah mengalami syok
B3 (BRAIN)
Tingkat kesadaran
Tingkat kesedaran klien dan respons terhadap lingkungan adalah indicator paling
sensitive untuk menilai disfungsi system persarafan. Beberapa system dogunakan untuk
membuat peringkat perubahan dalam kewaspadaan dan kesadaran.
Pemeriksaan fungsi serebral
Status mental: observasi penampilan dan tingkah laku klien, nloai gaya bicara dan
observasi ekspresi wajah, aktivitas motorik pada klien eplepsi tahap lanjut biasanya
mengalami perubahan status mental seperti adanya gangguan prilaku, alam perasaan dan
persepsi
 Pemeriksaan saraf cranial
Saraf I. Biasanya pada klien eplepsi tidak ada kelainan dan fungsi penciuman
Saraf II. Tes ketajaman penglihatan dalam kondisi normal

27
Saraf III, IV, dan VI. Dengan alas an yang tidak diketahui, klien epilepsy mengeluh
mengalam fotofobia,( sensitive yang berlebihan terhadap cahaya )
Saraf V. Biasanya tidak didapatkan paralysis otot wajah dan reflex kornea biasanya
tidak ada kelainan
Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah simetris.
Saraf VIII. Tidak ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli persepsi
Saraf IX dan X. Kemampuan menelan baik
Saraf XI. Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius.
Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi. Indra
pengecapan normal.
 System motorik
Kekutan otot menurun, control keseimbangan dan koordinasi pada eplepsi tahap lanjut
mengalami perubahan
 Pemeriksaan refleks
Pemeriksaan reflex dalam, pengetukan pada tendon, ligamentum, dan periosteum,
derajat reflex pada respons normal
 System sensorik
Basanya didapatkan perasaan raba normal, perasaan suhu normal, tidak ada perasaan
abnormal dipermukaan tubuh, perasaan propriosetif normal, dan perasaan diskriminatif
normal. Pada rangsang cahaya merupakan tanda khas dari epilepsy. Pascakejang sering
dkeluhkan adanya nyeri kepala yang bersifat akut.
B4 (BLADDER)
Pemeriksaan pada system kemih didapatkan berkurangnya volume output urin, hal ini
berhubungan dengan penurunan perfusi dan penurunan curah jantung ke ginjal
B5 (BOWEL)
Mual sampai muntah dihubungkan dengan peningkatan produksi asam lambung.
Pemenuhan nutrisi pada klien pada epilepsy menurun karena anoreksia dan adanya
kejang
B6 (BONE)
Pada fase akut setelah kejang biasanya ddapatkan adanya penurunan kekuatan otot dan
kelemahan fisik secara umum sehingga mengganggu aktivitas perawatan diri

28
 Pemeriksaan Diagnostik
CT Scan
Untuk mendeteksi lesi pada otak, fokal abnormal, serebrovaskuler abnormal, gangguan
degeneratif serebral
Elektroensefalogram(EEG)
Untuk mengklasifikasi tipe kejang, waktu serangan
Magnetik resonance imaging (MRI)
Kimia darah:
hipoglikemia, meningkatnya BUN, kadar alkohol darah.

II. Diagnosa keperawatan


 Resiko injury b/d aktivitas kejang berulang
 Nyeri akut yang berhubungan dengan nyeri kepala skunder respons pasca kejang
 Deficit perawatan diri yang berhubungan dengan konfusi, malas bangun sekunder
respon pasca kejang
 ketakutan b/d terjadinya kejang berulang
 Koping individu tidak efektif yang berhubungan dengan depresi akibat epilepsy

E. Asuhan Keperawatan Parkinson


1. Pengkajian keperawatan
a) Anamnesa:
- Umur
- Jenis kelamin
- Pekerjaan
b) Keluhan Utama: kelemahan, lupa ingatan, tidak mampu mengingat peristiwa
dengan lengkap, depresi, Gangguan menelan, kehilangan BB , kegagalan otot
cricopharingeal untuk relaksasi.
c) Riwayat Penyakit Sekarang: kelemahan, lupa ingatan, tidak mampu mengingat
peristiwa dengan lengkap, depresi, Gangguan menelan, kehilangan BB , kegagalan
otot cricopharingeal untuk relaksasi.
d) Riwayat Penyakit Dahulu: Tremor, kaku otot, perubahan postur, perubahan
autonom, perubahan sekunder lain, gangguan psikologis.

29
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa Keperawatan Data Subjektif Data Objektif
Kerusakan mobilisasi fisik Melaporkan Tremor, berkurangnya
b.d tremor otot dan ketidakmampuan untuk pergerakan, bradikinensia,
kekakuan otot, gangguan melakukan aktifitas harian gangguan gaya berjalan ,
gaya berjalan dan atau berpartisipasi dalam rigiditas.
bradikinensia ADL, otot menjadi spasme
dan kaku.
Kurang perawatn diri Melaporkan Tremor, berkurangnya
(makan, minum, ketidakmampuan untuk pergerakan, bradikinensia,
berpakaian, higiene) b.d melakukan aktifitas harian gangguan gaya berjalan ,
tremor dan gangguan atau berpartisipasi dalam rigiditas.
motoric ADL, otot menjadi spasme
dan kaku.
Perubahan nutrisi kurang Melaporkan kesukaran Tersedak, rigiditas pada
dari kebutuhan tubuh b.d dalam menelan dan otot wajah, kehilangan BB,
tremor dan rigiditas otot mengunyah, nausea dehidrasi, tidak ada selera
pengunyah, dysphagia dan makan, vomiting
efek samping obat.
Potensial injuri b.d Melaporkan sering terjatuh, Gangguan dalam gaya
gangguan gaya berjalan, kesukaran dalam menjaga berjalan, tremor, rigiditas
rigiditas dan tremor otot, keseimbangan. otot, kesulitan dalam
kelemahan kognitif dan membuat keputusan,
hopotensi orthostatic bingung, hipotensi
orthostatic.
Tidak efektifnya koping Melaporkan sulit coping Tidak ada selera makan,
individu b.d depresi, dengan penyakit cepat marah, insomnia,
disfungsi akibat tidak berminat terhadap
perkembangan penyakit. aktivitas sosial.

30
F. Asuhan Keperawatan Tumor/Keganasan
1. pengkajian
Menurut Lismidar, H, dkk (1990) bahwa pengkajian adalah suatu pendekatan
sistematis untku mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat di ketahui
kebutuuhan perawatan pasien.

Menurut Doengoes E. Marylin, (2000), pengkajian pada kanker meliputi:

a. Aktivitas/istirahat
Gejala : Kelemahan dan/atau keletihan, perubahan pada pola istirahat dan jam
kebiasaan tidur pada malam hari: adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur
misal, nyeri, ansietas, berkeringat malam, keterbatasan partisipasi dalam hobi,
latihan, pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan, tingkat
stres tinggi.

b. Sirkulasi
Gejala : Palpitasi, nyeri dada pada pengerahan kerja.

Kebiasaan : Perubahan pada TD.

c. Integrita ego
Gejala : Faktor stres (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stres
(misal, merokok, minium alkohol, menunda mencari pengobatan, keyakinan
relegius/spiritual), menyangkal diagnosis, perasaan tidak bedaya, putus asa, tidak
mampu, tidak bermakna, rasa bersalah, kehilangan kontrol, depresi.

Tanda : Menyangkal, menarik diri, marah.

d. Eliminasi
Gejala : Perubahan pada pola defekasi misal, darah pada feses, nyeri pada defekasi,
perubahan eliminasi urinaris misal, nyeri atau rasa terbakar pada saat berkemih,
hematuria, sering berkemih.

Tanda : Perubahan pada bising usus, distensi abdomen.

31
e. Makanan/Cairan
Gejala : Kebiasaan diet buruk (misal, rendah serat, tinggi lemak, aditif, bahan
pengawetan), Anoreksia, mual/muntah, Intoleransi makanan. Tanda : Perubahan pada
kelembaban/turgor kulit: edema.

f. Neurosensori
Gejala : Pusing: sinkope.

g. Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Tidak ada nyeri, atau derajat bervariasi misal ketidaknyamanan ringan
sampai nyeri berat (dihubungkan dengan proses penyakit).

h. Pernafasan
Gejala : Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang yang merokok),
pemajanan asbes.

i. Keamanan
Gejala : Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari
lama/berlebihan.

Tanda : Demam, ruam kulit, ulserasi.

j. Seksualitas
Gejala : Masalah seksual misal dampak pada hubungan, perubahan pada tingkat
kepuasan, Nuligravida lebih besar dari usia 30 tahun, Mulgravida, pasangan seks
multipel, aktivitas seksual dini, Herpes genital.

k. Interaksi sosial
Gejala : Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung, riwayat perkawinan
(berkenaan dengan kepuasan di rumah, dukungan atau bantuan), masalah tentang
fungsi/tanggung jawab peran.

l. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Riwayat kanker pada keluarga misal ibu atau bibi dengan kanker payudara,
sisi primer: penyakit primer, tangga ditemukan/didiagnosis, penyakit metastatik: sisi
tambahan yang terlibat: bila tidak ada, riwayatt alamiah dari primer kan memberikan
informasi penting untuk mencari metastatik, riwayat pengobatan: pengobatan
sebelumnya untuk tempat kanker dan pengobatan yang diberikan.

32
Pertimbangan rencana pemulangan : DRG menunjukan rerata lama dirawat :
tergantung pada sistem khusus yang terkena dan kebutuhan. Rujuk pada sumber-
sumber yang tepat. Memerlukan bantuan dalam keuangan, obat-obatan/pengobatan,
yang diberikan.

2. Diagnosa Keperawatan
Menurut Gordon (1978) dan Lismidar, H (1990) diagnosa keperawatan adalah suatu
masalah kesehatan yang aktual dan potensial yang mana perawat dengan keahliannya
yang diperoleh dari pendidikan dan pengalamannya mampu dan diberi ijin untuk
menanganinya.

Menurut Doengoes, E. Marylin (2000), diagnosa keperawatan pada Ca. Mastoid


adalah sebagai berikut:

a. Ketakutan/Ansietas (Uraikan Tingkatan)


Dapat dihubungkan dengan : Krisis situasi (kanker), ancaman/perubahan pada
status kesehatan/sosioekonomik, fungsi peran, pola interaksi, ancaman kematian,
perpisahan dari keluarga (hospitalisasi, pengobatan), transmisi/penularan perasaan
interpersonal.

Kemungkinan dibuktikan oleh : Peningkatan ketegangan, gemetar, ketakutan, gelisah,


mengekspresikan masalah mengenai perubahan dalam kejadian hidup, stimulasi
simpatis, keluhan somatik.

b. Nyeri, [Akut]
Dapat dihubungkan dengan : Proses penyakit (kompresi/destruksi jantung saraf,
infiltrasi saraf atau suplai vaskularnya, obstruksi jaras saraf, inflamasi.

Kemungkinan dibuktikan oleh : Keluhan nyeri, memfokuskan pada diri


sendiri/pnyempitan fokus, distraksi/perilaku berhati-hati, respons autonomik, gelisah

c. Nutrisi, Perubahan: Kurang dari Kebutuhan Tubuh


Dapat dihubungkan dengan : Status hipermetabolik berkenaan dengan kanker,
konsekuensi kemoterapi, radiasi, pembedahan, misal anoreksia, iritasi lambung,
penyimpangan rasa mual, distres emosional, keletihan, kontrol nyeri buruk.
Kemungkinan dibuktikan oleh : Keluhan masukan makanan tidak adekuat, perubahan

33
sensasi pengecap, kehilangan minat pada makanan, ketidakmampuan untuk mencerna
yang dirasakan/aktual, Berat badan 20% atau lebih dibawah berat badan ideal untuk
tinggi dan bentuk tubuh, penurunan lemak subkutan/massa otot, sariawan, rongga
mulut terinflamasi, diare dan/atau konstiasi, kram abdomen.

d. Kekurangan Volume Cairan, Risiko tinggi terhadap


Faktor risiko meliputi : Kehilangan berlebihan melalui rute normal dan/atau
abnormal (misal selang indwelling, luka), status hipermetabolik, kerusakan masukan
cairan.

Kemungkinan dibuktikan oleh : Tidak dapat diterapkan: adanya tanda-tanda dan


gejala-gejala membuat diagnosa aktual.

e. Keletihan
Dapat dihubungkan dengan : Penurunan produksi energi metabolik,
peningkatan kebutuhan energi (status hipermetabolik), kebutuhan
psikologis/emosional berlebihan, perubahan kimia tubuh: efek samping obat-obatan,
kemoterapi.

Kemungkinan dibuktikan oleh : Kekurangan energi yang tidak terpenuhi


berulang/berlebihan, ketidak mampuan untuk mempertahankan rutinitas biasanya,
penurunan kinerja, kerusakan kemampuan untuk berkonsentrasi, letargi/gelisah, tidak
berminat terhadap sekitarnya.

f. Infeksi, Risiko tinggi terhadap

Faktor risiko meliputi : Ketidakadekuatan pertahanan sekunder dan


imunosupresi misal, supresi sumsum tulang (efek samping pembatasan dosis baik
kemoterapi dan radiasi), malnutrisi proses penyakit kronis, prosedur invasif.
Kemungkinan dibuktikan oleh : Tidak dapat diterapkan: adanya tanda-tanda dan
gejala-gejala membuat diagnosa aktua

g. Integritas Kulit/Jaringan, Kerusakan, Risiko Tinggi Terhadap


Faktor risiko meliputi : Efek radiasi dan kemoterapi, penurunan imunologis,
perubahan status nutrisi, anemia.

Kemungkian dibuktikan oleh : Tidak dapat diterapkan: adanya tanda-tanda dan gejala-
gejala membuat diagnosa aktual.

34
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dalam pengelolaan Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Persyarafan terbagi menjadi 6 pembahasan yaitu Trauma kepala dan spinal;
peradangan dan infeksi meningitis; gangguan vaskularisasi stroke; gangguan
konduksi epilepsi; proses degenertif parkinson; tumor/keganasan.

B. Saran
Semoga dengan selesainya makalah ini diharapkan agar para pembaca khususnya
mahasiswa dan mahasiswi Stikes Karsa Husada Garut dapat lebih mengetahui dan
memahami tentang Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem Persyarafan
serta dapat mengaplikasikannya dalam dunia keperawatan.

35