Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertambahan penduduk membuat dampak positif maupun negatif. Dampak positif dari
pertambahan penduduk ialah semakin banyak manusia berusia produktif untuk
meningkatkan pembangunan. Dampak negatif dari pertambahan penduduk yaitu
menurunnya kualitas lingkungan akibat kegiatan-kegiatan yang dilakukan manusia. Salah
satu penyebab menurunnya kualitas lingkungan adalah limbah. Permasalan yang kerap
terjadi yaitu pembuangan air limbah yang kurang terkontrol ke lingkungan, terutama air
limbah domestik. Air limbah domestik seringkali dibuang langsung ke lingkungan atau
badan air tanpa dilakukannya pengolahan (Sugiharto, 2008).

Limbah merupakan buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri
maupun domestik (rumah tangga), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu
tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis (Endang, 2009).
Pencemaran air sungai 60% - 70% berasal dari limbah domestik (Ismuyanto, 2010).
Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 112 Tahun 2003, parameter untuk
air limbah domestik terdiri dari BOD, TSS, pH, minyak dan lemak. Keberadaan BOD, dan
TSS pada air limbah domestik disebabkan oleh kandungan zat organik dalam air. Apabila
keseluruhan parameter tersebut dibuang langsung ke badan penerima, maka akan
mengakibatkan pencemaran air.

Dampak pencemaran air pada umumnya dapat dibagi ke dalam empat kategori, sebagai
berikut ; Dampak terhadap kehidupan biota air, terjadinya pencemaran air dapat berakibat
buruk terhadap kehidupan biota akuatik, seperti kekurangan oksigen, terputusnya rantai
makanan dan menyebabkan kematian pada biota; Dampak terhadap kualitas air tanah,
dampak yang terjadi pada air tanah akibat pencemaran air yaitu air tanah menjadi berbau
dan kotor; Dampak terhadap kesehatan, dampak yang ditimbulkan bagi kesehatan manusia
akibat adanya pencemaran air yaitu timbulnya berbagai macam penyakit sehingga tingkat
keproduktifan menurun; Dampak terhadap estetika lingkungan, dampak pemcemaran air
terhadap estetika lingkungan yaitu awrna air menjadi kotor dan pekat, lemak dan
minyak yang terapung di air juga merusak estetika.

Berdasarkan dampak-dampak yang akan timbul akibat limbah cair domestik maka perlu
dilakukannya perencanaan desain pengolahan air limbah agar dampak-dampak yang
ditimbulkan tersebut dapat diatasi, sehingga kerusakan pada lingkungan tidak meluas dan
bertambah buruk. Unit-unit pada IPAL dapat menyisihkan zat-zat yang tidak diinginkan
seperti BOD, COD, dan lainnya pada air limbah sehingga dapat memenuhi standar baku
mutu yang elah ditetapkan. Setelah memenuhi standar baku mutu, air limbah dari efluen
dapat dibuang ke badan air atau digunakan kembali.

1.2 Maksud dan Tujuan


1.2.1 Maksud
Adapun maksud dari perencanaan desain pengolahan air limbah ini adalah
untuk mengatasi permasalahan pencemaran air yang disebabkan oleh air limbah
domestik dengan melakukan perencanaan desain pengolahan air limbah.
1.2.2 Tujuan
Adapun tujuan dari perencanaan desain pengolahan air limbah ini adalah:
1. Menghitung debit air limbah yang dihasilkan dari daerah pelayanan yang
direncanakan.
2. Mengetahui sumber dominan air limbah domestik yang dihasilkan.
3. Menganalisa kualitas dan karakteristik pada air limbah.
4. Menghitung efisiensi penyisihan dari masing-masing parameter.
5. Mengevaluasi badan air penerima.
6. Menentukan alternatif pengolahan yang sesuai dan efektif untuk mengatasi
permasalahan limbah cair domestik.
7. Merancang detail engineering desain.
1.3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup yang digunakan pada perencanaan desain pengolahan air limbah
domestik diantaranya :
1. Mengetahui debit air limbah yang dihasilkan dari daerah pelayanan yang direncanakan.
2. Mengetahui kualitas dan karakteristik air limbah.
3. Mengetahui efisiensi penyisihan dari masing-masing parameter.
4. Mengetahui kualitas badan air penerima.
5. Mengetahui alternatif pengolahan yang akan digunakan.
6. Membuat tahapan perencanaan detai setelah menentukan pengolahan yang akan
digunakan.
1.4 Tahapan Perencanaan
Adapun tahapan dalam perencanaan desain pengolahan air limbah domestik adalah sebagai
berikut :

Tahapan Perencanaan

Identifikasi
Analisis Kualitas Air Penentuan Alternatif
permasalahan air Studi Literatur Pengumpulan data Perhitungan data
Limbah Pengolahan
limbah domestik

Sumber pencemar air limbah Preliminary (Bar


Identifikasi sumber domestik Perhitungan debit air Karakteristik air
Debit air limbah screen, Comminutor,
limbah domestik limbah limbah
dll)

Dasar-dasar teori
mengenai air limbah Perbandingan
Identifikasi Perhitungan efisiensi Primary (Bak
domestik Debit maksimum dengan baku mutu
karateristik limbah pengolahan air equalisasi, Grit
badan air penerima (Permen LHK No. 68
domestik limbah chamber, dll)
Tahun 2016)

Karakteristik air
limbah domestik Penentuan jenis
Identifikasi dampak Debit minimum air Perhitungan Secondary (Activated
pengolahan
limbah domestik limbah konsentrasi campuran sludge, Aerasi, dll)
(Fisik/Kimia/Biologi)

Dampak pencemaran air


limbah domestik
Debit rata-rata air Tertiary
limbah (Sedimentasi 2, dll)

Kriteria desain unit


pengolahan air limbah Konsentrasi tiap parameter Pengolahan Lumpur
yang terkandung dalam air (Thickner, Drying
limbah bed, dll)

Kajian pustaka
Konsentrasi
campuran

Efisiensi pengolahan air


limbah

Perhitungan tiap unit


pengolahan yang
direncakan
BAB 2
ANALISA KUALITAS AIR LIMBAH
2.1 Perhitungan Debit Air Limbah
Untuk membuat sebuah unit pengolahan air limbah maka perlu diketahui debit dari air
limbah untuk mengetahui kuantitas air limbah yang selanjutnya akan diolah. Sebelum
didapatkannya data debit perlu diketahui pula jumlah penduduk di daerah tersebut, dengan
melakukan pendekatan untuk memperkirakan jumlah penduduk yang ada. Pendekatan tersebut
dapat dilakukan dengan tiga cara atau tiga metode, yaitu:
1. Metode Geometri
Metode geometri ini merupakan metode yang dilakukan berdasarkan rasio rata-
rata pertumbuhan penduduk per tahun.

Yn = Pt (1 + r)n
1
𝑃𝑡
r =( 𝑃𝑜)(𝑟) − 1

Dimana :
Yn = Jumlah penduduk pada n tahun mendatang
Po = Jumlah penduduk pada awal tahun data
Pt = Jumlah penduduk pada akhir tahun data
n = Selang waktu (tahun dari tahun n – tahun terakhir)
r = Ratio kenaikan penduduk rata–rata pertahun
t = Interval waktu tahun data (n – 1)
Sumber: Soleh A. Z (2005).
2. Metode Aritmatika
Yn= Pt + Ka (Tt – To)
(𝑃𝑡 −𝑃𝑜 )
Ka =
(𝑇𝑡 − 𝑇𝑜)

Dimana :
Yn = Jumlah penduduk pada tahun n (jiwa)
Po = Jumlah Penduduk di awal tahun data (jiwa)
Pt = Jumlah penduduk pada akhir tahun data (jiwa)
Ka = Konstanta Aritmatika
Tt = Tahun akhir data populasi penduduk
Sumber: Soleh A. Z (2005).
3. Metode Least Square
Yn = a + b.Xi
𝑛 × Σ𝑋𝑖𝑌𝑖−(Σ𝑋𝑖 × Σ𝑌𝑖)
b= 𝑛 × Σ𝑋𝑖 2 −(Σ𝑋𝑖)2

Σ𝑌𝑖 × Σ𝑋𝑖 2 −(Σ𝑋𝑖 × ΣXi.𝑌𝑖)


a= 𝑛 × Σ𝑋𝑖 2 −(Σ𝑋𝑖)2

Dimana :
Yn = Jumlah penduduk pada tahun proyeksi ke n (jiwa)
b = Konstanta pertambahan penduduk (jiwa)
a = Koefisien laju pertambahan penduduk (jiwa/tahun)
Xi = Jumlah tahun proyeksi dihitung dari tahun dasar (tahun)
Sumber: Soleh A. Z (2005).

Setelah mengetahui proyeksi penduduk dan proyeksi fasilitas yang ada di daerah
tersebut, selanjutnya dilakukan perhitungan debit. Diketahui debit air limbah yang akan diolah
sebesar 517 l/s. Berikut beberapa rumus untuk perhitungan debit :
1. Kebutuhan air domestik (Q domestik)
Kebutuhan air domestik dapat dihitung berdasarkan jumlah penduduk wilayah
perencanaan pengolahan air limbah. Perhitungan tersebut dapat dilakukan dengan
rumus sebagai berikut :
standar kebutuhan air bersih× jumlah penduduk
Qdomestik =
86.400 detik
Sumber : Fanggi, MS., Utomo, S., dan Udiana, IM (2015).

2. Kebutuhan Air Non Domestik (Q non domestik)


Kebutuhan air non domestik dihitung berdasarkan persentase kebutuhan air
non domestik terhadap kebutuhan air total pada rekapitulasi kebutuhan air bersih.
Perhitungan tersebut dapat dilakukan menggunakan rumus berikut:

total kebutuhan air non domestik


%Persentase = × 100
total kebutuhan air
Q non domestik = %Persentase × Q domestic
Sumber : Fanggi, MS., Utomo, S., dan Udiana, IM (2015).

3. Kebutuhan Air Total (Q total)


Kebutuhan air total merupakan penjumlahan dari kebutuhan air domestik dan
kebutuhan air non domestik. Perhitungan tersebut dapat dilakukan menggunakan
rumus berikut:
Q total = Qdomestik + Qnon domestik
Ptotal = Peksisting + Pek
Sumber : Fanggi, MS., Utomo, S., dan Udiana, IM (2015).
4. Debit Rata-rata (Qr)
Debit rata-rata air buangan merupakan debit air buangan yang berasal dari
kegiatan rumah tangga, bangunan umum, bangunan komersial, dan bangunan
industri. Perhitungan tersebut dapat dilakukan menggunakan rumus berikut:
Qr = 60-80% × Q total
Sumber : Fanggi, MS., Utomo, S., dan Udiana, IM (2015).

5. Debit Satuan Rata-rata (qr)


Debit rata-rata air limbah domestik (Q min) yang dihasilkan dapat dihitung
menggunakan rumus berikut:

1000
qr = 𝑃𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 × 𝑄𝑟
Sumber : Fanggi, MS., Utomo, S., dan Udiana, IM (2015).

6. Debit Harian Maksimum (Qmd)


Besarnya harga debit harian maksimum (Qmd) bervariasi antara 1,1 – 1,25 dari
debit rata-rata air buangan. Debit harian dapat dihitung dengan menggunakan
rumus berikut:
Qmd = fmd × qr
Sumber : Fanggi, MS., Utomo, S., dan Udiana, IM (2015).

7. Debit Harian Minimum (Q min)


Debit harian minimum (Q min) dapat dihitung menggunakan rumus berikut:

Qmin = 0,5 X Q rata-rata air limbah


Sumber : Fanggi, MS., Utomo, S., dan Udiana, IM (2015).

Debit 5xx L/s didapatkan dari perhitungan kebutuhan air total yang merupakan jumlah
dari Q Domestik dan Q Non Domestik. Jadi debit tersebut didapatkan dari perhitungan Q
average = Q Domestik + Q Non Domestik.

2.2 Analisa Kualitas Air Limbah


2.2.1 Evaluasi Kualitas Air Limbah
Sebelum melakukan pembangunan instalasi pengolahan air limbah, hal yang
perlu dilakukan yaitu menganalisis kualitas dari air limbah yang akan diolah. Analisis
tersebut dilakukan dengan membandingan antara kualitas air buangan yang
dihasilkan didasari dengan baku mutu yang berlaku yang tertera pada Peraturan
Menteri Lingkungan Hidup No. 68 Tahun 2016 Tentang Baku Mutu Air Limbah
Domestik. Berikut merupakan perbandingan kualitas air limbah dengan baku mutu
terkait :
Tabel 2.1 Perbandingan Kualitas Air Limbah dengan Baku Mutu
Baku mutu
Kualitas Air berdasarkan
Parameter Satuan Satuan Keterangan
Limbah PermenLHK No. 68
Tahun 2016
BOD 317 mg/l 30 mg/l Tidak memenuhi baku mutu
COD 617 mg/l 100 mg/l Tidak memenuhi baku mutu
Anga 417 mg/l - - -
Permanganat
Amoniak 81,7 mg/l 10 mg/l Tidak memenuhi baku mutu
Nitrit 0,117 mg/l - mg/l -
Nitrat 5,17 mg/l - mg/l -
Klorida 61,7 mg/l - mg/l -
Sulfat 117 mg/l - mg/l -
pH 6,17 6-9 - Memenuhi baku mutu
TSS 117 mg/l 30 mg/l Tidak memenuhi baku mutu
Detergen 5,17 mg/l - mg/l
Minyak dan lemak 61,7 mg/l 5 mg/l Tidak memenuhi baku mutu
Cd 0,017 mg/l - - -
Pb 0,017 mg/l - - -
Cu 0,0217 mg/l - - -
Fe 31,7 mg/l - - -
Warna 71,7 mg/l - - -
Fenol 0,017 mg/l - - -
Sumber: Hasil Perbandingan Kualitas Air Limbah, 2018.
Berdasarkan hasil perbandingan kualitas air limbah yang akan diolah dengan
baku mutu, diketahui bahwa kadar BOD, COD, amoniak, TSS, minyak dan lemak
melebihi batas baku mutu yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri
Lingkungan Hidup No. 68 Tahun 2016 Tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik, oleh
karena itu air limbah tersebut perlu diolah sebelum dibuang ke badan air sungai.
Menurut Ahmad (2014), kandungan minyak dan lemak yang tinggi di dalam
sebuah perairan disebabkan oleh limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga
dan limbah dari industri makanan, tingginya kadar minyak dan lemak dapat diatasi
dengan unit pengolahan bak pemisahan lemak dan minyak.
Kadar amoniak yang tinggi di dalam sebuah perairan dapat disebabkan oleh
pembusukan bahan organik yang mengandung protein, hasil nitrifikasi, dan urin
manusia, dan ekskresi ikan di perairan tersebut. Kadar amoniak yang tinggi dapat
diatasi dengan unit pengolahan biofilter (Harahap, 2013).
Menurut Zulkifli (2012), kandungan BOD (Biochemichal Oxygen Demand) yang
tinggi di dalam perairan dapat disebabkan oleh banyaknya senyawa organik yang
dioksidasi oleh mikroorganisme (Zulkifli, H., 2012). Untuk mengatasi kadar BOD yang
tinggi dapat dilakukan pengolahan berupa proses koagulasi dan flokulasi, aerasi, dan
mengurangi tingkat kekeruhan atau turbiditas (Simanjuntak, 2012).
Kandungan TSS (Total Suspenden Solid) yang tinggi di dalam sebuah perairan
disebabkan oleh tingginya kandungan lumpur, tanah liat, bakteri, jamur, logam
oksida pada air sungai. Untuk mengatasi kandaungan TSS yang tinggi dapat
dilakukan pengolahan Ozonasi, Sedimentasi, filtrasi, dan presipitasi kimia (Rosmilya,
2014).
Menurut Rizky (2015), kadar COD (Chemical Oxygen Demand) yang tinggi di
dalam sebuah perairan disebabkan oleh banyaknya senyawa organik yang dioksidasi
secara kimia. Sumber dari organik tersebut yaitu limbah domestik, buangan dari WC,
limbah peternakan, limbah pertanian, dan limbah industri. Untuk mengatasi kadar
COD yang tinggi dapat dilakukan dengan cara pengolahan aerasi, biosand filter,
adsorpsi menggunakan activated carbon, dan filtrasi (Suligundi, BT., 2013).

2.2.2 Efisiensi Pengolahan yang Diharapkan Untuk Memenuhi Standar Baku Mutu
Limbah yang diolah diharapkan dapat memenuhi standar baku mutu yang telah
ditetapkan, olehkarena itu perlu diketahui efisiensi penyisihan parameter yang
terdapat pada air limbah domestik agar limbah yang diolah pada unit pengolahan
dapat memenuhi standar baku mutu. Berikut merupakan efisiensi dari penyisihan
parameter yang terkandung dalam limbah domestik:

Tabel 2.2 Efisiensi Pengolahan dengan Effluent Standar


Baku mutu
Efisiensi
Kualitas Air berdasarkan
Parameter Satuan Satuan Pengolahan
Limbah PermenLH No. 68
(%)
Tahun 2016
BOD 317 mg/l 30 mg/l 90,53
COD 617 mg/l 100 mg/l 83,79
TSS 117 mg/l 30 mg/l 74,35
Minyak dan lemak 61,7 mg/l 5 mg/l 91,89
Amoniak 81,7 mg/l 10 mg/l 87,76
Sumber: hasil perhitungan, 2018.

Berdasarkan hasil perhitungan yang telah didapat, diharapkan efisiensi


penyisihan dari parameter BOD sebesar 90,53%, COD sebesar 83,79%, TSS
sebesar 74,35%, minyak dan lemak sebesar 91,89%, dan amoniak sebesar
87,76%. Berdasarkan hasil perhitungan efisiensi, parameter yang paling
mudah untuk disisihkan yaitu parameter minyak dan lemak yang efisiensinya
mencapai 91,89%, dan dapat memenuhi standar baku mutu. Untuk parameter
lainnya juga sudah bagus, dan dapat memenuhi standar baku mutu karena
efisiensi pengolahannya berada diatas 80% terkecuali parameter TSS.
Berikut merupakan rumus dan contoh perhitungan untuk menghitung efisiensi
penyisihan dan hasil perhitungan efisiensi penyisihan:

Rumus perhitungan:
𝐶𝐴𝐿 −(𝐶𝐵𝑀 )
Efisiensi Pengolahan = (𝐶𝐴𝐿 )
× 100%

Keterangan:
CAL = Konsentrasi Air Limbah
CBM = Konsentrasi Baku Mutu
Sumber: KepMen LH No.110 Tahun 2003.

Berikut merupakan contoh perhitungan efisiensi pengolahan :


 BOD
𝑚𝑔
317 −30 𝑚𝑔/𝑙
Efisiensi Pengolahan = 𝑙
317 𝑚𝑔/𝑙
× 100% = 90,53%
 COD
𝑚𝑔
617 −100 𝑚𝑔/𝑙
Efisiensi Pengolahan = 𝑙
× 100% = 83,79%
617 𝑚𝑔/𝑙
 TSS
𝑚𝑔
117 −30 𝑚𝑔/𝑙
Efisiensi Pengolahan = 𝑙
117 𝑚𝑔/𝑙
× 100% = 74,35%
 Minyak dan lemak
𝑚𝑔
61,7 −5 𝑚𝑔/𝑙
Efisiensi Pengolahan = 𝑙
61,7 𝑚𝑔/𝑙
× 100% = 91,89%
 Amoniak
𝑚𝑔
81,7 −10 𝑚𝑔/𝑙
Efisiensi Pengolahan = 𝑙
81,7 𝑚𝑔/𝑙
× 100% = 87,76%

2.2.3 Evaluasi Kualitas Badan Air Penerima

Untuk mengevaluasi kualitas badan air penerima maka perlu dilakukan


perhitungan terhadap konsentrasi campuran. Berikut adalah rumus dan hasil
perhitungan konsentrasi campuran dari parameter-parameter air limbah yang ada:

𝑄𝐴𝑥𝐶𝐴 + 𝑄𝑆𝑥𝐶𝑆
𝐶𝑐 =
𝑄𝐴 + 𝑄𝑆

Keterangan:

Cc = Konsentrasi campuran (mg/l)


QA = Debit air limbah domestik maksimum (L/detik)
Qs = debit air sungai minimum (L/detik)
CA = konsentrasi air limbah domestik (mg/L)
CS = konsentrasi badan air penerim (mg/l)

Diketahui:
Debit min air sungai = 2,5 m3/s
Debit air limbah = 510 l/s
Debit rata-rata = 3,5 m3/s
Debit maks = 4,4 m3/s
Sumber: KepMen LH No.110 Tahun 2003.
Tabel 2.3 Konsentrasi Campuran
Parameter Debit Air Konsentrasi Debit Konsentrasi Konsentrasi
Limbah Satuan Air Limbah Satuan Minimum Air Satuan Air Sungai Satuan Campuran (Cc) Satuan
(QA) (CA) Sungai (QS) (CS)
BOD 517 l/s 317 mg/l 2500 l/s 69.3 mg/l 111,74 mg/l
COD 517 l/s 617 mg/l 2500 l/s 160 mg/l 238,31 mg/l
Angka 517 l/s 417 mg/l 2500 l/s 31,8 mg/l 97,80 mg/l
Permanganat
Ammonia 517 l/s 81,7 mg/l 2500 l/s - mg/l - mg/l
Nitrit 517 l/s 0,117 mg/l 2500 l/s 0.048 mg/l 0,05 mg/l
Nitrat 517 l/s 5,17 mg/l 2500 l/s 0.092 mg/l 0,96 mg/l
Klorida 517 l/s 61,7 mg/l 2500 l/s 23.57 mg/l 30,10 mg/l
Sulfat 517 l/s 117 mg/l 2500 l/s 28.4 mg/l 43,58 mg/l
TSS 517 l/s 117 mg/l 2500 l/s 145 mg/l 137,71 mg/l
Deterjen 517 l/s 5,17 mg/l 2500 l/s - mg/l - mg/l
Minyak dan 517 l/s 61,7 mg/l 2500 l/s NA - mg/l
-
lemak
Cd 517 l/s 0,017 mg/l 2500 l/s NA - - mg/l
Pb 517 l/s 0,017 mg/l 2500 l/s NA - - mg/l
Cu 517 l/s 0,217 mg/l 2500 l/s NA - - mg/l
Fe 517 l/s 31,7 mg/l 2500 l/s 0.02 mg/l 5,35 mg/l
Warna 517 l/s 71,7 PtCo 2500 l/s 5 PtCo 16,42 PtCO PtCo
Fenol 517 l/s 0,17 mg/l 2500 l/s NA - - mg/l
Sumber: hasil perhitungan, 2018.

Tabel di atas menunjukan hasil perhitungan konsentrasi campuran dari air limbah
domestik, dapat terlihat pada tabel diatas bahwa parameter yang memiliki konsentrasi
campuran yang tinggi yaitu parameter TSS sebesar 137,71 mg/l. Konsentrasi campuran TSS
yang tinggi mempengaruhi parameter warna yang melampaui batas dari konsentrasi warna
pada air sungai yaitu sebesar 16,42 PtCo. Oleh karena itu berkaitan dengan efisiensi TSS yang
rendah sehingga parameter TSS yang cukup sulit untuk disisihkan.

Berikut merupakan contoh perhitungan konsentrasi air sungaian konsentrasi campuran


:
 BOD

l l
517 s x317 mg/l + 2500 s x69,3 mg/l
Cc = = 111,74 mg/l
l
517 +2500 l/s
s

 COD
l l
517 s x617 mg/l + 2500 s x160 mg/l
Cc = = 238,31 mg/l
l
517 s +2500 l/s

 Angka Permanganat
l l
517 s x417 mg/l + 2500 s x31,8 mg/l
Cc = = 97,80 mg/l
l
517 s +2500 l/s

 Nitrit
l l
517 x0,117 mg/l + 2500 x0,048 mg/l
Cc = s s = 0,05 mg/l
l
517 +2500 l/s
s

 Nitrat
l l
517 s x5,17 mg/l + 2500 s x0,092 mg/l
Cc = = 0,96 mg/l
l
517 +2500 l/s
s
 Klorida
l l
517 s x61,7 mg/l + 2500 s x23,57 mg/l
Cc = = 30,10 mg/l
l
517 +2500 l/s
s
 Sulfat
l l
517 x117 mg/l + 2500 x28,4 mg/l
Cc = s s = 43,58 mg/l
l
517 s +2500 l/s

 TSS
l l
517 x117 mg/l + 2500 x142 mg/l
Cc = s s = 137,71 mg/l
l
517 s +2500 l/s

 Fe (Besi)
l l
517 s x31,7 mg/l + 2500 s x0,02 mg/l
Cc = =5,35 mg/l
l
517 +2500 l/s
s
 Warna
l l
517 s x71,7 mg/l + 2500 s x5 mg/l
Cc = = 16,42 PtCO
l
517 s +2500 l/s
2.2.4 Evaluasi Konsentrasi Campuran dengan Baku Mutu

Evaluasi konsentrasi campuran dilakukan dengan membandingkan hasil


perhitungan konsentrasi campuran dengan baku mutu PP No. 82 Tahun 2001
Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

Tabel 2.4 Perbandingan Konsentrasi Campuran dengan Baku Mutu Air Limbah
Pada Peraturan Pemerintah No. 82 2001

Parameter Baku Mutu Air Satuan Konsentrasi Satuan Keterangan


PP No.82 Tahun Campuran
2001 (Kelas III) (Cc)
BOD 6 mg/l 111,74 mg/l Tidak memenuhi baku mutu
COD 50 mg/l 238,31 mg/l Tidak memenuhi baku mutu
Angka 10 mg/l mg/l Tidak memenuhi baku mutu
97,80
Permanganat
Ammonia 2500 mg/l -
Nitrit 0,05 mg/l 0,05 mg/l Memenuhi baku mutu
Nitrat 20 mg/l 0,96 mg/l Memenuhi baku mutu
Klorida - 30,10 mg/l -
Sulfat - 43,58 mg/l -
TSS 400 mg/l 137,71 mg/l Memenuhi baku mutu
Deterjen 2500 l/s - - -
Minyak dan lemak 1000 mg/l - - -
Cd 0,01 mg/l - - -
Pb 0,03 mg/l - - -
Cu 0,02 mg/l - - -
Fe - - 5,35 mg/l -
Warna 50 PtCo 16,42 PtCo Memenuhi baku mutu
Fenol 1 mg/l - - -
Sumber: Hasil perhitungan dan PP No.82 Tahun 2001,2018
Berdasarkan hasil perbandingan yang telah diperoleh, diketahui bahwa beberapa
parameter tidak memenuhi standar baku mutu PP No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan
Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Parameter terkait adalah BOD sebesar 111,74
mg/l, COD sebesar 238,31 mg/l, dan angka permanganat sebesar 97,80 mg/l. Konsentrasi
campuran BOD yang tinggi disebabkan oleh kadar organik yang tinggi, sementara konsentrasi
campuran pada parameter COD yang tinggi dapat berasal dari kegiatan rumah tangga seperti
mencuci pakaian (Satyanur, 2015). Konsentrasi campuran pada parameter angka permanganat
yang tinggi dapat dipengaruhi oleh kandungan zat organik pula, tingginya kadar organik dalam
air mempengaruhi angka permanganat (Misnawati, 2017). Karena kadar COD lebih besar dari
kadar BOD, rasio BOD/COD lebih kecil dari 0,5 maka jenis pengolahan yang dapat dilakukan
yaitu jenis pengolahan secara kimia atau jenis pengolahan secara fisika.