Anda di halaman 1dari 25

METODE PENELITIAN EKSPERIMEN

Tugas Matakuliah Filsafat Ilmu dan Metode Penelitian


Dosen Pengampu: Dr. Sapja Anantanyu, M.Si

Disusun oleh:
Irma Finurina Mustikawati T641902003

PASCASARJANA PROGRAM DOKTOR


PENYULUHAN PEMBANGUNAN/PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
2019
METODE PENELITIAN EKSPERIMEN

Pengertian Metode Penelitian Eksperimen


Metode penelitian eksperimen merupakan metode penelitian yang paling
produktif, karena jika penelitian tersebut dilakukan dengan baik dapat menjawab
hipotesis yang utamanya berkaitan dengan hubungan sebab akibat. Disamping itu,
penelitian eksperimen juga merupakan salah satu bentuk penelitian yang
memerlukan syarat yang relatif lebih ketat jika dibandingkan dengan jenis
penelitian lainnya.
Dengan kata lain suatu penelitian eksperimen pada prinsipnya dapat
didefinisikan sebagai metode sistematis guna membangun hubungan yang
mengandung fenomena sebab akibat (Causal-effect relationship).
Di bidang pendidikan, penelitian eksperimen dapat dibedakan menjadi dua
macam bentuk, yaitu penelitian di dalam laboratorium dan penelitian di luar
laboratorium. Penelitian di laboratorium, dilaksanakan penelitian di dalam
ruangan tertutup atau dalam kondisi tertentu untuk meningkatkan kondisi yang
lebih teliti terhadap variabel yang diteliti. Sedangkan penelitian di luar
laboratorium yang juga disebut penelitian lapangan, biasanya dilakukan oleh
peneliti guna mendapatkan hasil penelitian yang mendekati dengan lingkungan
nyata, misalnya masyarakat.
Dalam penelitian eksperimen lapangan pada umumnya dapat berupa
kegiatan kelas, sekolah, kegiatan praktik dibengkel atau pertemuan sekolah
lainnya diambil secara alami.
Sehubungan dengan subjek dalam pendidikan adalah siswa, penelitian
yang paling banyak dilakukan adalah di luar laboratorium. Hal ini dikarenakan
terdapat beberapa keunggulan yang dimiliki oleh penelitian di luar laboratorium,
diantaranya:
1. Variabel eksperimen dapat lebih kuat di lapangan di banding penelitian di
laboratorium;
2. Lebih mudah dalam memberikan perlakuan;
3. Dapat melakukan setting yang mendekati keadaan sebenarnya; dan

1
4. Hasil eksperimen lebih aktual.
Selain itu, penelitian eksperimen di laboratorium juga memiliki
keunggulan yang utama adalah bahwa penelitian eksperimen di laboratorium lebih
cocok untuk problem yang berkaitan dengan misi pengembangan ilmu
pengetahuan, termasuk ilmu pendidikan. Hal ini dikarenakan dua alasan sebagai
berikut:
1. Metode pengajaran yang lebih tepat disetting secara alami dan
dikomparasikan di dalam keadaan yang tidak bias;
2. Penelitian dasar dengan tujuan menurunkan prinsip umum teoritis ke dalam
ilmu terapan yang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi oleh sekolah.

Penelitian Eksperimen Menurut Beberapa Ahli


 Penelitian eksperimen adalah penelitian yang berusaha mencari pengaruh
variabel tertentu terhadap variabel lain dengan kontrol yang ketat
(Sedarmayanti dan Syarifudin, 2002).
 Menurut Yatim Riyanto (dalam Zuriah, 2006) penelitian eksperimen
merupakan penelitian yang sistematis, logis, dan teliti di dalam melakukan
kontrol terhadap kondisi.
 Penelitian eksperimen menurut Sugiyono (2012) diartikan sebagai metode
penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu
terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan.
 Eksperimen merupakan modifikasi kondisi yang dilakukan secara sengaja dan
terkontrol dalam menentukan peristiwa atau kejadian, serta pengamatan
terhadap perubahan yang terjadi pada peristiwa itu sendiri (Ali, 1993).
 Penelitian eksperimen menggunakan suatu percobaan yang dirancang secara
khusus guna membangkitkan data yang diperlukan untuk menjawab
pertanyaan penelitian (Margono, 2005). Dalam melakukan eksperimen
peneliti memanipulasikan suatu stimulan, treatment atau kondisi-kondisi
eksperimental, kemudian menobservasi pengaruh yang diakibatkan oleh
adanya perlakuan atau manipulasi tersebut.

2
Proses Penelitian Eksperimen
Langkah-langkah penelitian eksperimen pada prinsipnya sama dengan
jenis penelitian lainnya, dapat diterangkan sebagai berikut.
1. Melakukan kajian induktif yang berkaitan erat dengan permasalahan yang
hendak dipecahkan;
2. Mengidentifikasi masalah;
3. Melakukan studi literatur dari beberapa sumber yang relevan,
memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan definisi operasional dan
variabel;
4. Membuat rencana penelitian yang di dalamnya mencakup kegiatan:
a. Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi
memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen;
b. Menentukan cara untuk mengontrol;
c. Memilih desain riset yang tepat;
d. Menentukan populasi, memilih sampel yang mewakili dan memilih
(desain) sejumlaah subjek penelitian;
e. Membagi subjek ke dalam kelompok kontrol atau ke dalam kelompok
eksperimen;
f. Memberi instrumen yang sesuai, madai instrumen dan melakukan plot
storyagar memperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk
mengambil data yang diperlukan; dan
g. Mengidentifikasi prosedur pengumpulan data, dan menentukan hipotesis.
5. Melakukan eksperimen;
6. Mengumpulkan data kasar dari eksperimen;
7. Mengorganisasi dan mendeskripsikan data sesuai dengan variabel yang telah
ditentukan;
8. Melakukan analisis data dengan teknik statistika yang relevan; dan
9. Membuat laporan eksperimen.
Menurut Gay (1982) langkah-langkah dalam penelitian eksperimen yang
perlu ditekankan adalah sebagai berikut.
1. Adanya permasalahan yang signifikan untuk diteliti.

3
2. Pemilihan subjek yang cukup untuk dibagi dalam kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol.
3. Pembuatan atau pengembangan instrumen.
4. Pemilihan desain penelitian.
5. Eksekusi prosedur.
6. Melakukan analisis data.
7. Memformulasikan simpulan.
Dalam penelitian eksperimen peneliti diharuskan menyusun variabel-
variabel minimal satu hipotesis yang menyatakan harapan hubungan sebab akibat
diatara variabel-variabel yang terjadi.

Karakteristik Penelitian Eksperimen


Penelitian Ekperimen pada umumnya menurut (Ary, 1985), mempunyai
tiga karakteristik penting yaitu:
1. Variabel bebas yang dimanipulasi;
2. Variabel lain yang mungkin berpengaruh dikontrol agar tetap konstan; dan
3. Efek atau pengaruh manipulasi variabel bebas dan variabel terikat diamati
secara langsung oleh peneliti.

Ketiga karaktristik tersebut dapat diuraikan secara singkat, sebagai berikut.


1. Memanipulasi
Karakteristik pertama yang selalu ada dalam penelitian eksperimen
adalah tindakan memanipulasi variabel secara terencana diakukan oleh
peneliti, yang dimaksud dengan manipulasi yaitu tindakan atau perlakuan
yang dilakukan oleh peneliti atas dasar pertimbangan ilmiah yang dapat
dipertanggungjawabkan secara terbuka guna memperoleh perbedaan efek
dalam variabel terikat. Misalnya dalam suatu proses penelitian laboratorium,
dua kelompok yaitu treatment dan kelompok kontrol diberikan suhu ruangan
yang bertingkat, yaitu dingin, sedang, dan panas. Perbedaan kondisi ruang
tersebut direncanakan sebagai penentu awal agar mereka mempeoleh hasil
yang mungkin berbeda diantara kedua grup.Perbedaan yang muncul tersebut

4
diperhitungkan sebagai akibat adanya manipulasi variabel terhadap dua
kelompok.
2. Mengontrol variabel
Karakteristik kedua yang selalu ada dalam penelitian eksperimen yaitu
adanya kontrol yang selalu sengaja dilakukan oleh peneliti terhadap variabel
atau ubahan yang ada. Mengontrol merupakan usaha peneliti untuk
memindahkan pengaruh variabel lain pada variabe terikat yang mungkin
mempengaruhi penampilan variabel tersebut. Kegiatan mengontrol suatu
variabel atau subjek dalam penelitian eksperimen memiliki peranan penting
karena tanpa melakukan kontrol secara sistematis, seorang peneliti tidak
munkin dapat melakukan evaluasi dengan melakukan pengukuran secara
cermat terhadap variabel terikat. Untuk mengatasi hal tersebut maka proses
eksperimen harus dipisahkan dengan variabel luar yang tidak diperlukan
tetapi memiliki potensi yang mungkin dapat mempegaruhi hasil pengukuran
pada variabel terikat, sehingga peneliti yakin bahwa apabila terjadi perbedaan
pada variabel terikat antara grup kontrol dan grup treatment, atau dengan kata
lain perbedaan tersebut disebabkan oleh perubahan treatment yang dilakukan
oleh peneliti pada variabel bebas.
Pelaksanaan penelitian eksperimen, kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol sebaiknya diatur secara intensif sehingga kedua variabel
mempunyai karakteristik sama atau mendekti sama, yang membedakan dari
kedua kelompok ialah bahwa grup eksperimen diberi teatment atau perlakuan
tertentu, sedangkan grup kontrol diberikan treatmen seperti keadaan biasanya.
3. Melakukan Observasi
Karakteristik yang ketiga dalam penelitian eksperimen adalah adanya
tindakan observasi yang dilakukan oleh peneliti selama proses penelitian
berlangsung. Selama proses penelitian berlangsung, peneliti melakukan
observasi terhadap kedua kelompok tersebut. Tujuan melakukan observasi
adalah untuk melihat dan mencatat fenomena apa yang memungkinkan
terjadinya perbedaan diantara kedua kelompok.

5
Kevalidan kesimpulan eksperimen
Kevalidan kesimpulan eksperimen terkait dengan pertanyaan apakah kesimpulan
yang dibuat itu sahih atau tidak.
Kevalidan ini mencakup dua macam, yaitu kevalidan internal dan kevalidan
eksternal.
 Kevalidan internal adalah kesahihan penyimpulan, bahwa munculnya variabel
terikat adalah disebabkan oleh variabel bebas.
Kesahihan penyimpulan, bahwa munculnya variabel terikat adalah
disebabkan oleh variabel bebas (sejarah, kematangan, testing, instrumentasi,
regresi statistik, bias pemilihan subyek, kehilangan subyek, interaksi bias
pemilihan subyek dengan kematangan dsb)
a. Sejarah, yakni peristiwa tertentu di luar variabel eksperimen, yang terjadi
dalam rentangan antara pretes dan postes (dalam proses eksperimen).
Contoh, dalam eksperimen tentang keefektifan suatu metode mengajar,
kelompok yang diberi perlakuan, dieksperimenkan, juga diberi tambahan
les, sementara kelompok kontrol tidak.
b. Kematangan, yakni proses yang terjadi di dalam diri subjek yang
diakibatkan oleh waktu.
Contoh, akibat eksperimen yang terlalu lama, menyebabakan subjek
makin dewasa, atau merasa jemu
c. Testing, yaitu efek penyelenggaraan pretes terhadap hasil dari postes.
Contoh, akibat rentang waktu antara pretes dan postes yang terlalu
pendek, subjek dapat mengingat soal-soal pretes, sehingga ketika
mengikuti postes hasilnya lebih baik, tapi bukan karena variabel
eksperimen.
d. Instrumentasi, yakni alat tes yang digunakan untuk menguji efek
perlakuan tidak valid dan reliabel, sehingga skor yang diperoleh subjek
bukan skor yang sebenarnya, melainkan bersifat bias.
e. Regresi statistik. Ini bisa terjadi, bila peneliti hanya memilih subjek-
subjek yang mempunyai skor ekstrim (skor tinggi saja), dan membuang
skor-skor rendah.
f. Bias pemilihan subjek. Ini bisa terjadi bila subjek dalam kelompok
eksperimen keadaannya berbeda dengan subjek dalam kelompok kontrol,
akibat pemilihan yang tidak dilakukan secara random.

6
g. Kehilangan subjek. Bila sebagian subjek dari kelompok eksperimen yang
mengikuti pretes tidak melanjutkan mengikuti postes menyebabkan
perbedaan jumlah subjek yang mencolok antara kelompok eksperimen
dan kelompok kontrol, maka hal ini dapat menjadi pecemar kevalidan
internal.
h. Interaksi bias pemilihan subjek dengan kematangan dan sebagainya 
Bila pemilihan subjek bersifat bias, maka ada kemungkinan terjadinya
perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol bukan
disebabkan pengaruh perlakuan, tetapi oleh faktor lain, seperti
kematangan, sejarah, dan sebagainya.
 Adapun kevalidan eksternal adalah kesahihan memberlakukan kesimpulan ke
dalam lingkup yang lebih luas, atau kesahihan menggeneralisasi kesimpulan
eksperimen.
Kesahihan memberlakukan kesimpulan ke dalam lingkup yang lebih luas,
atau kesahihan menggeneralisasi kesimpulan eksperimen (Efek interaksi tes,
Efek interaksi bias pemilihan subjek dan variabel eksperimen, Efek reaktif
dari pelaksanaan eksperimen Inferensi perlakuan berganda)
a. Kehilangan subjek. Bila sebagian subjek dari kelompok eksperimen yang
mengikuti pretes tidak melanjutkan mengikuti postes menyebabkan
perbedaan jumlah subjek yang mencolok antara kelompok eksperimen
dan kelompok kontrol, maka hal ini dapat menjadi pecemar kevalidan
internal.
b. Interaksi bias pemilihan subjek dengan kematangan dan sebagainya 
Bila pemilihan subjek bersifat bias, maka ada kemungkinan terjadinya
perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol bukan
disebabkan pengaruh perlakuan, tetapi oleh faktor lain, seperti
kematangan, sejarah, dan sebagainya.
c. Efek reaktif dari pelaksanaan eksperimen. Bila subjek yang mengikuti
pelaksanaan eksperimen menyadari bahwa dirinya sedang diekperimen,
dapat menimbulkan reaksi tertentu pada dirinya.
d. Sementara subjek lain (dari populasi) tidak.
e. Oleh sebab itu, hal ini bisa mencemari kevalidan generalisasi kesimpulan
yang dibuat.

7
f. Interferensi perlakuan berganda. lni bisa terjadi bila suatu perlakuan
diberikan kepada suatu kelompok subjek secara berulang-ulang.
Agar kesimpulan eksperimen itu valid, baik secara internal maupun eksternal,
perlu dihindari adanya faktor yang dapat mencemari kevalidan itu.
Untuk itu, perlu diketahui berbagai pecemar, baik terhadap kevalidan internal
maupun kevalidan eksternal.

Rancangan Penelitian Eksperimen


Rancangan penelitian secara luas adalah semua proses yang diperlukan
dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Dalam hal ini komponen
rancangan dapat mencakup semua struktur penelitian diawali sejak menemukan
ide, menentukan tujuan, kemudian merencanakan proses penelitian, yang di
dalamnya mencakup perencanaan permasalahan, merumuskan, menentukan tujuan
penelitian, mencari sumber informasi dan melakukan kajian dari berbagai pustaka,
menentukan metode yang digunakan, analisis data dan mengetes hipotesis untuk
mendapatkan hasil penelitian, dan sebagainya.
Rancangan penelitian secara sempit dapat diartikan sebagai penggambaran
secara jelas tentang hubungan antarvariabel, pengumpulan data, dan analisis data,
sehingga dengan adanya desain yang baik peneliti maupun orang lain yang
berkepentingan mempunyai gambaran tentang bagaimana keterkaitan antara
variabel yang ada dalam konteks penelitian dan apa yang hendak dilakukan oleh
seorang penelitidalam melaksanakan penelitian.
Untuk memecahkan persoalan eksperimen yang lebih rumit, seorang
peneliti umumnya memerlukan adanya pembahasan tentangapa yang dimaksud
dengan rancangan faktorial. Yang mana rancangan faktorial adalah suatu tindakan
terhadap satu variabel atau lebih yang dimanipulasi secara simultan agar dapat
mempelajari pengaruh setiap variabel terhadap variabel terikat atau pengaruh yang
diakibatkan adanya interaksi antara beberapa variabel.
Rancangan faktorial dapat dibedakan menjadi dua tipe.Tipe pertama, satu
dari variabel bebas dimanipulasi secara eksperimental dengan variabel terikat.
Tipe ini pada umumnya dilakukan karena peneliti tertarik pada pengaruh satu

8
variabel bebas terhadap variabel terikat secara terpisah, baru kemudian
memperhitungkan variabel lainnya yang mungkin berpengaruh pada variabel
tersebut.tipe kedua adalah dalam suatu penelitian, semua variabel bebas
dimanipulasi secara eksperimental, karana si peneliti tertarik terhadap pengaruh
beberapa variabel bebas dan mengharapkan dapat menilai pengaruh variabel
tersebut baik secara terpisah maupun secara bersama.
Ada beberapa rancangan ekperimen yang dapat dikategorikan dalam
penelitian jenis ini. Rancangan penelitian ini meliputi:
1. Rancangan Pra-eksperimen (Non-desain)
Rancangan yang dibicarakan pada saat ini berkaitan dengan rancangan
penelitian yang tidak memerlukan persyaratan tertentu yang harus diikuti oleh
peneliti. Persyaratan tertentu yang dimaksud misalnya prosedur penentuan
subjek atau partisipan penelitian, penetapan homogenitas varian, dan
persyaratan lain. Rancangan penelitian ini banyak mengandung kelemahan-
kelemahan. Rancangan pra-eksperimen atau non desain ini tidak memerlukan
rancangan yang cermat, dan bahkan setiap orang bisa melakukan dengan
mudah.
Ada dua alasan, menurut Vockell & Asher (1995) mengapa kita
menggunakan rancangan nondesain. Pertama, walupun rancangan ini
memiliki berbagai kelemahan, rancangan ini bukan berarti tidak memiliki
kebaikan. Hal yang mungkin (tetapi sulit diwujudkan), yaitu memberikan
gambaran kesimpulan yang valid dari beberapa penelitian dengan non desain
ini. Biasanya sesuatu yang mengandung banyak kelemahan tidak banayak
dilakukan oleh peneliti. Kedua, rancangan ini memberikan suatu landasan
yang baik bagi alasan penggunaan pendekatan rancangan kuasi-eksperimen.
Dengan mengetahui banyak segi kelemahannya, maka kita tidak ingin
membuat keputusan dan kesimpulan yang keliru dalam penelitian yang kita
lakukan.
Ada beberapa rancangan yang dapat dimasukkan ke dalam jenis ini.
Tuckman (1988) memilah rancangan pra-eksperimen atau non desain ini
menjadi tiga jenis: (1) one-shot case study atau one-group posttest-only

9
desaign; (2) one group pretest-posttest design, (3) dan intact group
comparison atau static group comparison. Berikut ini akan diuraikan masing-
masing ketiga jenis rancangan penelitian.

Rancangan pra-eksperimen : (1) one-shot case study atau one-group


posttest-only desaign; (2) one group pretest-posttest design, (3) intact
group comparison atau static group comparison.

a. Rancangan hanya satu kali pascates terhadap satu kelompok (one-shot


case study)
Salah satu rancangan penelitian yang hanya melibatkan satu
kelompok adalah one-shot case study. Rancangan penelitian one-shot case
study disebut juga sebagai rancangan one-group posttest-only desaign
(Asher & Vockell, 1995). Dalam rancangan ini, perlakuan atau treatment
(X) hanya diberikan kepada satu kelompok subjek. Pengamat atau
observasi (O) dilakukan terhadap anggota kelompok untuk menentukan
atau menilai efek atau pengaruh perlakuan. Tidak adanya kelompok
pengendali atau control, yaitu kelompok yang memperoleh perlakuan (X)
dan informasi lain, misalnya tentang bagaimana sampel atau subjek
ditetapkan menyebabkan tidak mudahnya membuat keputusan atau
justifikasi terhadap kesimpulan penelitian bahwa perlakuan (X)
menyebabkan hasil (O). Rancangan penelitian one-shot case study ini
direpresentasikan seperti berikut.

X O (hanya satu kelompok)

Setelah dilakukan perlakuan (treatment) tertentu (X) diberikan


kepada kelompok subjek, kemudian langsung diadakan observasi (O).
Pemberian perlakuan dilakukan selama periode waktu tertentu. Sebagai
contoh, kita ingin meneliti tentang pengaruh pembelajaran pemecahan
masalah terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Kita memberikan

10
perlakuan tentang pembelajaran pemecahan masalah (X), dalam kurun
waktu tertentu kemudian kita adakan tes atau observasi (O).

b. Rancangan satu kelompok dengan prates-pascates (one group pretest-


posttest design)
Rancangan penelitian lain yang hanya melibatkan satu kelompok
adalah one-group pretest-posttest design. Rancangan penelitian ini sedikit
berbeda dengan rancangan one-shot case study di atas, karena rancangan
ini memberikan tes awal sebelum perlakuan. Rancangan penelitian ini
sering dipakaidalam kegiatan penelitian. Rancangan penelitian semacam
ini dapat digambarkan seperti berikut ini.

O1 X O2

Rancangan penelitian one-group pretest-posttest ini menurut Gall,


Gall & Borg (2003) meliputi 3 langkah, yaitu (1) pelaksanaan prates untuk
mengukur variabel terikat; (2) pelaksanaan perlakuan atau eksperimen; dan
(3) pelaksanaan pascates untuk mengukur hasil atau dampak terhadap
variabel terikat. Dengan demikian, dampak perlakuan ditentukan dengan
cara membandingkan skor hasil pretes dan pascates.
Sebelum subjek dikenai perlakuan terlebih dahulu, kita sebagai
peneliti melakukan observasi yang berupa pretes (O 1), kemudian dilakukan
perlakuan (X), dan setelah itu diadakan observasi atau pascates (O2).
Rancangan ini sudah lebih baik dari pada rancangan one-shot case study,
karena adanya informasi tentang sampel atau subjek penelitian yang
berkaitan dengan hasil pretes. Namun demikian, rancangan ini memiliki
kelemahan dalam hal tidak memberikan informasi apapun berkenaan
dengan sejarah, maturasi, testing, dan regresi statistik.

2. Rancangan Eksperimen Murni (True Experimental Design)

11
a. Rancangan kelompok kontrol dengan pascates (posttest-only control
group design)
Rancangan posttest-only control group design ini sangat sering
dipakai dalam penelitian eksperimen.Rancangan ini cukup ideal bahwa
rancangan ini juga mengontrol semua ancaman terhadap validitas dan
semua sumber bias. Rancangan ini menggunakan dua kelompok subjek,
salah satunya diberikan perlakuan sedangkan kelompok lain tidak
diberikan perlakuan, dengan dmikian dapat mengendalikan sejarah dan
maturasi. Rancangan penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

RXO1
RO2

Kedua kelompok subjek penelitian dipilih secara random (tanda R).


Rancangan diatas berbeda dengan rancangan sebelumnya sebagaimana
yang telah dijelaskan di atas. Bedanya kelompok pertama dikenai
perlakuan dan kelompok lain ditetapkan sebagai kelompok pengendali
atau kontrol. Pada akhir perlakuan, kedua kelompok dikenai pengukuran
yang sama. Penetapan kelompok dilakukan secara random, untuk
mengendaliakan seleksi dan mortalitas. Untuk mengendalikan dampak
testing secara sederhana dan interaksi antara testing perlakuan, tidak ada
prates yang diberikan kepada kedua kelompok.
Untuk melakukan analisis data yang diambil dari rancangan
posttest-only control group dilakukan perbandingan antara skor rata-rata
antara O1 dan O2. Skor rata-rata hasil observasi dua kelompok itu
selanjutnya dipakai untuk menentukan efektivitas perlakuan.
Model rancangan di atas dapat dikembangkan, misalnya kita
menguji pengaruh strategi pembelajaran membaca terhadap prestasi
belajar peresta didik. Strategi pembelajaran diidentifikasi sebagai
variabel bebas, yang dipilih menjadi tiga katagori, yaitu: (1) membaca
keras; (2) membaca pelan; dan (3) membaca dalam hati (Tuckman,
1988). Dan, prestasi belajar peserta didik diidentifikasi sebagai variabel

12
terikat. Rancangan penelitian yang diaplikasikan digambarkan sebagai
berikut:

R X1 O1 (membaca keras)

R X2 O2 (membaca pelan)

R X3 O3 (membacdalam hati)

b. Rancangan kelompok control prates-pascates (pretest-posttest control


group design)
Rancangan penelitian pretest-posttest control group design adalah
suatu rancangan eksperimen (true experimental design) karena kedua
kelompok dipilih sesuai dengan kriteria yang dipersyaratkan penelitian.
Rancangan penelitian jenis ini digambarkan sebagai berikut:

R O1 X O2 (kelompok eksperimen)

R O3 O4 (kelompok kontrol)

Langkah-langkah:
(1) Pilih sejumlah subjek secara acak dari suatu populasi.
(2) Secara acak, golongkan subjek menjadi dua kelompok, yaitu kelompok
eksperimen yang dikenal variabel perlakuan X dan kelompok kontrol
yang tidak dikenal variabel perlakuan.
(3) Berikan pretest O1 untuk kelompok eksperimen dan O3 untuk
kelompok kontrol untuk mengukur variabel tergantung pada kedua
kelompok itu, lalu hitung mean masing-masing kelompok.
(4) Pertahankan semua kondisi untuk kedua kelompok itu agar tetap sama,
kecuali pada satu hal yaitu kelompok eksperimen dikenai variabel
perlakuan X untuk jangka waktu tertentu.
(5) Berikan posttest O2 untuk kelompok eksperimen dan O4 untuk
kelompok kontrol untuk mengukur variabel tergantung; lalu hitung
meannya untuk masing-masing kelompok.
R X1 O1 (membaca keras)

R X2 O2 (membaca pelan) 13

R X3 O3 (membaca dalam hati)


(6) Hitung perbedaan antara hasil pretest dan posttest untuk masing-
masing kelompok.
(7) Bandingkan perbedaan-perbedaan tersebut, untuk menentukan apakah
penerapan perlakuan X itu berkaitan dengan perubahan yang lebih
besar pada kelompok eksperimental.
(8) Kenakan test statistik yang cocok untuk rancangan ini untuk
menentukan apakah perbedaan dalam skor seperti dihitung pada
langkah ke-7 itu signifikan, yaitu apakah perbedaan tersebut cukup
besar untuk menolak hipotesis nol bahwa perbedaan itu cuma terjadi
secara kebetulan.
Kedua kelompok sama-sama dipilih secara acak (random
assignment), yang ditandai R. Pada awalnya, keduanya diberi pratest (O1
dan O3). Bedanya kelompok yang satu diberi perlakuan (X), sedangkan
kelompok yang lain tidak dikenai perlakuan tetapi dijadikan atau
diperlakukan sebagai kelompok kontrol. Sebenarnya kedua kelompok
tersebut sama-sama mendapatkan perlakuan, tetapi keduanya mendapat
perlakuan yang berbeda. Setelah perlakuan (pada kelompok yang satu)
selesai, kedua kelompok sama-sama mendapatkan pengukuran pasca tes
atau posttest (O2 dan O4).
Dengan menggunakan kelompok kontrol, kedua kelompok sama-
sama memiliki atau mengalami hal yang sama kecuali perlakuan. Dengan
demikian, kedua kelompok ini dapat mengendalikan adanya faktor-
faktor: sejarah, maturasi, dan regresi, mortalitas, seleksi, testing,
instrumentasi dan interaksi antar faktor.

c. Rancangan empat kelompok random (randomized solomon four group


design)
Sebenarnya rancangan ini merupakan perluasan dari rancangan
sebelumnya. Rancangan ini mempersyaratkan bahwa subjek ditempatkan
secara rambang menjadi empat kelompok. Penempatan kelompok-
kelompok secara rambang tersebut memungkinkan untuk membuat

14
asumsi, bahwa skor prates untuk kelompok 3 dan 4 (jika kelompok itu
mengambil prates) akan sama hasilnya dengan kelompok 1 dan 2. Hanya
saja kelompok 3 dan 4 tidak mengambilnya sehingga tidak ada alasan
untuk merefleksikan skor prates, dengan perlakuan penelitian
digambarkan sebagai berikut:

R O1 X O2

R O2 O2

R - X O2

R - O2

d. Rancangan Faktorial (Factorial Design)


Rancangan-rancangan di atas biasanya dilalukan oleh peneliti,
ketika penelitian hanya memiliki dua variabel, yaitu variabel bebas dan
variabel terikat. Peneliti tidak melibatkan variabel lain dalam
penelitiannya. Dengan demikian, setelah perlakuan peneliti melakukan
pengukuran terhadap variabel terikat (dependent variables).
Kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, kita sebagai peneliti sering
melibatan variabel bebas lain yang dipertimbangkan pengaruhnya pada
variabel terikat. Berkenaan dengan hal tersebut peneliti tidak lagi
menggunakan rancangan-rancangan tersebut, tetapi menggunakan
rancangan faktorial.Rancangan faktorial ini yang paling sederhana
menggunakan dua faktor, dan masing-masing faktor menggunakan dua
katagori. Rancangan vaktorial (factorial design) ini digunakan apabila
peneliti mempertimbangkan variabael bebas lain (biasanya variabel
moderator)dalam peneliatiannya. Variabel bebas (independent variable)
memiliki dimensi atau dipilih menjadi 2, 3, 4 dan seterusnya. Variabel
bebas lain, yang kita sebut sebagai variabel moderator dikatagorikan lagi
menjadi 2, 3, 4 dan seterusnya. Dalam rancangan dibawah ini variabel
moderator dilambangkan dengan Y, yaitu Y1 dan Y2.
(1) Faktorial 2 x 2

15
Rancangan faktorial 2 x 2 adalah rancangan faktorial yang paling
sederhana. Rancangan yang lebih kompleks, yang merupakan perluasan
model yang telah dibicarakan itu sering pula digunakan.Nomenklatur
rancangan faktorial 2 x 2, yang dapat digambarkan sebagai berikut.

R 01 X Y1 02

R 03 - Y1 04

R 05 X Y2 06

R 07 - Y2 08

Dalam contoh di atas, dua kelompok mendapat perlakuan dan dua


kelompok lainnya tidak.Misalnya, seorang peneliti ingin meneliti
pengaruh sajian kuliah dengan menggunakan buku teks (X0) dan yang
satu menggunakan rancangan pengajaran teori elaborasi (X1). Di samping
itu, peneliti juga ingin melihat pengaruh tujuan pengajaran, kelompok
yang satu diberi tahu tujuan pengajarannya (Y1) dan yang lain tidak (Y2).
(2) Faktorial 2 x 3
Rancangan faktorial 2 x 3 ini menggambarkan bahwa peneliti
variabel bebas 1 yang dimanipulasi, dipilih menjadi dua dan variabel
bebas 2 yang dikatagorikan menjadi 3. Misalnya, variabel 1 adalah
strategi atau metode pembelajaran (A dan B), sedangkan variabel 2
adalah gaya belajar siswa (A= auditori, V= visual, dan K= kinestetik).
Atau dicontohkan sebagai berikut:
Variabel pertama : Permainan selama istirahat (yang banyak
menggunakan tenaga jasmani dan yang tidak).
Variabel kedua : Jenis musik sewaktu bekerja (klasik, populer dan
panas).
Rancangan faktorial di atas, apabila disajiakan sesuai dengan
prosedur penelitianOsebagai
1 X berikut.
Y1 O2

O1 - Y1 O2

O1 X Y2 O2

O1 - Y2 O2
16
O1 X Y3 O2

O1 - Y3 O2
(3) Faktorial 2 x 2 x 2
Rancangan faktorial 2 x 2 x 2 ini bisa digunakan oleh peneliti, jika
ia memiliki variabel-variabel, misalnya variabel metode pembelajaran
(yang dipilih menjadi A dan B) berbantuan dan tanpa bantuankommputer
(A1 dan A2, B1 dan B2) dan variabel gaya kognitif (G1 dan G2).
(4) Faktorial 2 x 2 x 2
Tiga variabel, masing-masing terdiri atas dua kategori. Misalnya:
Variabel pertama : frekuensi penyajian (satu kali dan dua kali).
Variabel kedua : cara penyajian (dibacakan/auditory dan dibaca sendiri
oleh subjek/visual).
Variabel ketiga : cara testing (segera dan ditangguhkan).
(5) Rancangan 3 x 3 x 3
Tiga variabel, masing-masing terdiri dari tiga kategori. Misalnya:
Variabel pertama: Taraf IQ (di atas 110, antara 90 dan 110, dan di bawah
90).
Variabel kedua : Cara pemecahan problema (individual, kelompok
kecil dan kelompok besar).
Variabel ketiga : waktu yang disediakan (dua jam tanpa
interaksi/istirahat, dua jam dengan istirahat di tengah
selama satu jam, dua jam dengan istirahat di tengah
selama 24 jam).

3. Rancangan Eksperimen Semu (Quasi-Experimental Design)

17
Banyak rancangan yang disusun menurut model rancangan
eksperimental oleh banyak orang dianggap belum dapat dikatakan memiliki
ciri-ciri rancangan eksperimen yang sebenarnya, karena variabel-variabel
yang seharusnya dikontrol atau dimanipulasi tak dapat dikontrol atau tak
dapat dimanipulasi, sehingga validitas penelitian menjadi tidak cukup
memadai untuk disebut sebagai eksperimen yang sebenarnya.
Rancangan-rancangan yang tergolong ke dalam kelompok ini adalah:
1. The time series experiment.
2. The equivalent time samples design.
3. The equivalent materials design.
4. The non-equivalent control-group design.
5. Counterbalanced design.
6. The separate-sample pretest-posttest design.
7. The separate-sample pretest-posttest control group design.
8. The multiple time-series design.
9. The recurrent institutional cycle design: A “patchup” design.
10. Regression-discontinuity analysis.
11. Correlational and ex post facto designs.

a. Rancangan serial waktu (time series)


Rancangan penelitian time series ini juga melibatkan satu
kelompok saja. Dalam rancangan penelitian ini satu kelompok (tunggal)
yang dilibatkan dalam penelitian diukur secara periodik dalam interval
waktu tertentu, dalam perlakuan eksperimen yang dilaksanakan diantara
dua interval waktu.
Ada dua macam rancangan time series (Vockell & Asher,1995),
yaitu: (1) rancangan perlakuan berulang (repeated treatment design); dan
(2) rancangan serial waktu jeda (interrupted time serial design).

1) Rancangan perlakuan berulang

18
Rancangan ini merupakan cara lain yang hanya melibatkan satu
kelompok kecil sebagai kelompok perlakuan. Rancangan ini juga
sering dipakai dalam penelitian pendidikan, di mana peneliti ingin
mengetahui perubahan perilaku peserta didik. Rancangan ini
digambarkan sebagai berikut.

O1 X O2 X0 O3 X O4

Pelaksanaan rancangan ini diawali dengan pertama kita melakukan


pengukuran pertama (O1), kemudian kita melakukan eksperimen
(X1), dan setelah selesai perlakuan itu kita melaksanakan pengukuran
unjuk kerja O2 yang kedua. Berikutnya, kita menyela dengan
perlakuan atau tindakan (X0). Setelah itu, kita melancarkan
pengukuran yang ketiga O3, tahap berikutnya melakukan tindakan
atau perlakuan yang sama dengan yang pertama atau mengulang
kembali perlakuan pertama dan terakhir, peneliti melakukan kembali
pengukuran yang keempat O4.
Dalam berbagai kondisi, penelitian ini dilakukan dengan cara; (1)
peneliti melakukan observasi dan merekam hasilnya dalam waktu
tertentu; (2) memberikan perlakuan; dan (3) melakukan observasi
dan merekam hasil, dan seterusnya. Waktu di antara dua kondisi
sama. Dengan demikian, hasil yang diharapkan akan tinggi pada
pengamatan O2 dan O4 jika dibandingkan dengan O1 dan O3.
2) Rancangan serial waktu jeda
Rancangan penelitian ini memerlukan beberapa kali pengukuran
yang sama pada kelompok subjek perlakuan, baik sebelum maupun
setelah pelaksanaan perlakuan. Seperti pada rancangan berulang,
rancangan ini hanya melibatkan satu kelompok subjek penelitian.
Rancangan penelitian digambarkan sebagai berikut.

O1 O2 O3 O4 X O5 O6 O7 O8

19
Dalam rancangan di atas, peneliti sebelumnya melakukan serangkaian
pengukuran terhadap kelompok subjek, kemudian memberikan
perlakuan. Setelah itu, serangkaian pengukuran dilakukakn. Hal yang
penting bahwa interval waktu pengukuran adalah sama.
Ada dua rancangan penelitian terkait dengan eksperimen kuasi ini,
yaitu; (1) kelompok berhubungan (intact group comparison; dan (2)
rancangan kelompok kontrol yang tak sama (nonequivalent control group
design).

b. Rancangan perbandingan kelompok berhubungan (intact group


comparasion)

Rancangan penelitian intact-group comparasion. Rancangan


penelitian intact-group design ini sebenarnya berasal dari kelompok
subjek yang sama, berhubungan. Dari kelompok subjek itu, oleh peneliti
dipilah menjadi dua. Dalam rancangan ini sekelompok subjek yang
diambil dari populasi tertentu dikelompokkan secara rambang menjadi
dua, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok control. Kelompok
eksperimen diberi perlakuan tertentu dalam waktu tertentu, sedangkan
kelompok control tidak. Kedua kelompok subjek itu kemudian dikenakan
pengukuran atau observasi (tes) yang sama. Rancangan penelitian
digambarkan seperti berikut ini.

X O1

O2

Tanda garis putus-putus menandakan bahwa kedua kelompok itu


adalah kelompok intac. Peneliti hanya memberikan perlakuan kepada
kelompok yang telah ditentukan sebagai kelompok perlakuan dan setelah
itu keduanya diberikan perlakuan pada saat yang bersamaan. Faktor
validitas seperti sejarah dan maturasi dikendalikan dengan kelompok
kontrol (yang tidak diberi perlakuan). Artinya, dalam situasi yang secara

20
kebetulan berpengaruh terhadap hasil, yang mungkin juga berpengaruh
pada hasil observasi.

Rancangan eksperimen meliputi : (1) posttest-only control group


design; (2) untreated control group design with pretest and posttest;
(3) pretest-posttest control group design; (4) randomized soloman
four group design; dan (5) factorial design.

c. Rancangan kelompok non-ekuivalen


Rancangan penelitian ini sering dipakai dalam penelitian. Dalam
rancangan ini, subjek penelitian atau partisipan penelitian tidak dipilih
secara acak untuk dilibatkan dalam kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol. Pada dasarnya, langkah-langkah dalam rancangan ini sama
seperti pada rancangan pretest-posttest eksperimental control group
design.
Dalam rancangan ini, ada dua kelompok subjek satu mendapat
perlakuan dan satu kelompok sebagai kontrol. Keduanya memperoleh
prates dan pascates. Perbedaan dengan kelompok nonekuivalen, bahwa
kelompok tidak dipilih secara acak atau random.

Perumusan Hasil Eksperimen


Hasil eksperimen dengan subjek manusia atau tingkah laku mempunyai
kemungkinan besar bervariasi, apabila peneliti tidak bisa memisahkan antara
variabel yang diperlukan dari variabel luar di sekitar proses eksperimen. Padahal
secara ideal, suatu eksperimen dikatakan valid apabila:
1. Hasil yang dicapai hanya diakibatkan oleh karena variabel bebas yang
dimanipulasi secara sistematis,
2. Hasil akhir eksperimen harus dapat digeneralisasikan pada kondisi
eksperimen yang berbeda.

21
Untuk mencapai hal yang ideal di atas, ada dua syarat agar hasil suatu
eksperimen dapat mencapai hasil yang baik dan tidak bervariasi. Kedua syarat
yang dimaksud adalah perlunya validitas internal dan validitas eksternal yang
terjaga salama proses penelitian.
Suatu penelitian dikatakan mempunyai validitas internal tinggi, apabila
kondisi berbeda pada variabel terikat dari subjek yang diteliti merupakan hasil
langsung dari 2 adanya manipulasi variabel bebas. Misal, penelitian pendidikan
tentang pengaruh metode mengajar alternatif terhadap metode mengajar yang
biasa diberikan guru terhadap hasil belajar siswa. Jika validitas internal tinggi,
maka perbedaan hasil belajar di antara grup eksperimen dan grup kontrol, hanya
disebabkan adanya pengaruh dari kedua variabel metode mengajar.
Variabel internal penelitian eksperimen dapat terjadi karena adanya
delapan faktor pentng sebagai sumber variasi. Kedelapan faktor tersebut, yaitu
1. Faktor sejarah atau history dari subjek yang diteliti,
2. Proses kematangan,
3. Prosedur pretesting,
4. Instrumen pengukuran yang digunakan,
5. Adanya kecenderungan terjadinya statistik regresi pada individu,
6. Perbedaan pemilihan subjek,
7. Perbedaan lainnya disebabkan adanya mortalitas dalam proses eksperimen,
dan
8. Terjadinya interaksi di antara faktor-faktor di atas, termasuk kematangan,
sejarah, pemilihan, dan sebagainya.

Variabel eksternal tinggi merupakan kondisi di mana hasil penelitian yang


di lakukan dapat digeneralisasi dan digunakan pada kelompok lain di luar setting
eksperimen, ketika keadaan serupa dengan kondisi peneliitian eksperimen. Jika
hasil penelitian tidak dapat digeneralisasi pada situasi lain, maka dapat diartikan
bahwa orang lain tidak dapat mengambil keuntungan dari hasil penelitian yang
ada. Akibatnya mereka harus terus-menerus melakukan penelitian sendiri untuk
memperoleh hasil yang diinginkan.

22
Validitas eksternal pada umumnya dibedakan menjadi empat macam
faktor, yaitu:
1. Adanya interaksi pengaruh bias pemilihan dan X,
2. Pengaruh interaksi pretesting,
3. Pengaruh reaktif proses eksperimen, dan
4. Adanya interferensi antarperlakuan selama dalam proses penelitian
eksperimen.

Penyimpangan penelitian
Penyimpangan penelitian terjadi apabila peneliti secara tidak pada
tempatnya mempengaruhi tingkah subyek. Penyimpangan ini bisa juga terjadi
apabila peneliti membuat suatu “kesalahan” sementara dia mengamati atau
merekam suatu eksperiman. Penyimpangan mungkin berasal dari pengetahuan
peneliti tentang hipotesis atau pengetahuan tentang hipotesis atau pengetahuan
tentang kelompok kendali ataukah kelompok kendali ataukah kelompok
eksperimen dari setiap subyek peneliti tersebut.
Ada beberapa teknik yang biasanya dipakai untuk memperkecil
penyimpangan tersebut. (1) Orang yang bertugas memberi petunjuk-petunjuk atau
mengadakan pengamatan tiak diberitahu tentang hipotesis yang akan diuji. (2)
Kecuali itu orang-orang sampel tersebut juga tak diberitahu ke dalam kelompok
manakah subyek-subyek penelitian kita masukkan. Istilah yang lazim untuk kedua
teknik ini adalah bahwa mereka yang melaksanakan eksperimen hendaklah “buta”
hipotesis dan/atau manipulasi. (3) Alat-alat yang otomatis sebaiknya dipakai bila
mungkin. Misalnya video tape, data recorders dan sebagainya.

Daftar Pustaka
Ali, Mohammad. 1993. Strategi Penelitian Pendidikan. Bandung: Angkasa.

23
Alsa, Asmadi. 2004. Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dalam Penelitian Psikologi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Fraenkel, Jack R dan Norman E. Wallen. 2006. How to Design and Evaluate
Research in Education. New York: McGrow-Hill Inc

Gall, M. D., Gall, J. P., & Borg, W. R. 2003. Educational research: An


introduction (7th ed.). Boston: Allyn & Bacon.

Gay, L.R. 1983. Educational Research Competencies for Analsis & Application.
2nd Edition. Ohio: A Bell & Howell Company.

Margono, S. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Sedarmayanti dan Syarifudin Hidayat. 2002. Metodologi Penelitian. Bandung:


Mandar Maju

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung:


Alfabeta

Tuckman, Bruce W. 1988. Conducting Educational Research. 3 rd Edition.


Universitas Michigan: Harcourt Brace Jovanovich.

Vockell, E.L. and Asher, J.W. (1995) Educational Research. 2nd Edition. Prentice
Hall, Ohio.

Zuriah, Nurul. 2006. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara

24