Anda di halaman 1dari 17

CRITICAL JURNAL REPORT

TENUNAN DAN CARA MENENUN

Dosen Pengampu :
Dr. Dina Ampera, M.Si
Yudhistira Anggraini, M.Pd

Oleh :

Anggi Pratiwi
Enitara Agasti Manurung
Nurul Fransiska
Rahfi Fusfa Dwita
Sintia Auli

PRODI PENDIDIKAN TATA BUSANA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkay
rahmat dan karunia-Nya kita masih diberi ksehatan sehingga kita masih bisa
mengerjakan atau menyususn CJR (Critical Jurnal Review). Untuk memenuhi tugas
mata kuliah “Tekstil” yang diberikan dosen dengan tepat waktu.

Saya berterimakasih kepada dosen pembimbing yang sudah membimbing


saya dalam menyusun Critical Jurnal Review. Dalam penulisan ini saya rasa masih
banyak terdapat kekurangan baik secara teknik maupun secara materi. Saya berharap
pembaca dapat mengkritik dan memberikan saran yang membangun guna
memperbaiki kekurangan Critical Jurnal Review ini.

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................................................... i


DAFTAR ISI ...................................................................................................................................................... ii
BAB I ..................................................................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN ............................................................................................................................................ 1
A. Latar Belakang ...................................................................................................................................... 1
B. Tujuan...................................................................................................................................................... 2
C. Manfaat ................................................................................................................................................... 2
BAB II ISI JURNAL ......................................................................................................................................... 3
A. Pembahasan Isi Jurnal ....................................................................................................................... 3

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bangsa Indonesia kaya akan warisan budaya yang menjadi salah satu
kebanggaanbangsa dan masyarakat. Salah satu dariwarisan budaya yakni keragaman
kain dantenunan tradisional. Beberapa kain dantenunan tradisional tersebut antara
lain: kainUlos dari Sumatera Utara, kain Limar dariSumatera Selatan, kain Batik dan
Lurik dariYogyakarta, kain Gringsing dan Endek dariBali, kain Hinggi dari Sumba,
kain SarungEnde dari Flores, kain Buna dari Timor, kaintenun Kisar dari Maluku,
kain Ulap Doyo dariKalimantan Timur, dan kain Sasirangan dariSulawesi Selatan
(Ensiklopedi,1990 : 243).Melalui kain tradisional tersebut dapatkita lihat kekayaan
warisan budaya yang tidaksaja terlihat dari teknik, aneka ragam corakserta jenis kain
yang dibuat. Akan tetapi, dapatjuga dikenal berbagai fungsi dan arti kaindalam
kehidupan masyarakat Indonesia yangmencerminkan adat istiadat, kebudayaan,
dankebiasaan budaya (culturalhabit), yangbermuara pada jati diri masyarakat
Indonesia(Proyek Inventarisasi dan Pembinaan NilainilaiBudaya NTB, 1992 : 332).
Simboliknya tersebut dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat
yangbersangkutan sejak dikenalnya kain tenuntradisional, baik dalam hubungan
secaravertikal maupun horisontal, dan selaludikaitkan dengan pelaksanaan konsep
sosioreligi, seperti busana adat, upacara inisasi,alat tukar menukar, hadiah dan lain-
lainnya.
Salah satu kelompok masyarakatyang mewariskan budaya tenun di
Indonesiakhususnya di pulau Lombok yang disebut sukusasak. Suku sasak memiliki
populasi kuranglebih90% dari keseluruhan pendudukLombok. Kelompok-kelompok
lain, sepertiBali, Sumbawa, Jawa, Arab, dan Cina,merupakan kelompok pendatang.
Hingga saatini di Lombok yang terkenal suku Sasaknyaterdapat berbagai macam
budaya daerah,yang merupakan aset daerah yang perludilestarikan sebagai

1
peninggalan nenekmoyang. Kebudayaan Sasak bukan hanyamilik Lombok,
melainkan sudah termasuk kedalam kebudayaan Indonesia (ProyekInventarisasi dan
Pembinaan Nilai-nilaiBudaya NTB, 1992:332).Dusun Sade bisa dikatakan
sebagaisisa-sisa kebudayaan Sasak lama yang mencoba bertahan sejak zaman
Kerajaan Penjanggik di Praya Kabupaten Lombok Tengah, sebagai salah satu desa
tradisional, Dusun Sade memang sengaja diberdayakan dan didorong oleh pemerintah
setempat untuk terus menjaga warisan tradisi leluhur mereka salah satunya hasil
tenun (Nur Alam MN, 2013).

B. Tujuan
Dengan selesainya critical jurnal report ini penulis bertujuan untuk memberi
pengetahuan dan wawasan mengenai tenunan dan cara menenun. Selain itu penulis
juga bertujuan untuk memenuhi tugas mata kulia kepemimpinan dan juga
mengkritik jurnal serta menumbuhkan minat baca dengan mengidentifikasi jurnal
tersebut.

C. Manfaat
Dengan dibuatnya critical jurnal review ini, manfaat yang didapatkan penulis
adalah memiliki tambahan wawasan mengena topic yang dibahas, penulis memiliki
referensi jurnal yang patut dibaca oleh pembaca melalui paparan kelemahan dan
kelebihan jurnal tersebut dan penulis juga mampu menilai jurnal. Dan penulis juga
mampu mengkritisi buku dan mengembangkan pola pikir kreatif.

2
BAB II
ISI JURNAL

A. Pembahasan Isi Jurnal

JURNAL I : JURNAL JURNAL II : TINJAUAN TENUN


KOMUNIKASI PROFESIONAL TRADISIONAL

JUDUL Pemberdayaan Pengrajin Perempuan Tinjauan Tenun Tradisional Dusun


Penenun sarung Alat Tenun Bukan Sade Desa RambitanKecamatan
Mesin Pujut Kabupaten Lombok Tengah
IDENTITAS 1. Pengarang : Farida & nevrettia 1. Pengarang : Trisna
Christantyawati Nurmeisarah, Gede
2. Tahun Terbit : 2017 Sudirtha, Made Diah
3. Volume : 1 Angendari.
4. Nomor : 1 2. Tahun Terbit : 2015
5. Bahasa : Indonesia 3. Volume : 10
6. Halaman : 58-72 4. Bahasa : Indonesia
7. Reviewer : Anggi Pratiwi 5. Reviewer : Anggi Pratiwi
ABSTRAK/ABS Pemberdayaan masyarakat melalui Penelitian ini bertujuan untuk: 1)
TRACT UMKM saat ini adalah tema sentral mengetahui proses pembuatan kain
yang sering diangkat kepermukaan tenun di Dusun Sade. 2)
oleh beberapa peneliti dan juga mengetahui ragam hias serta makna
menjadi perhatian utama bagi masing-masing ragam hias tenun
pemerintah, khususnya oleh Dinas Dusun Sade. 3) mengetahui
Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan perkembangan ragam hias tenun
Menengah. Data yang dilansir oleh Dusun Sade.Penelitian ini

3
Dinas Koperasi dan UMKM pada dilaksanakan di Dusun Sade Desa
tahun 2013, sumbangsih koperasi dan Rambitan Kecamatan Pujut
UMKM mencapai lebih dari Rp 600 Kabupaten Lombok Tengah.
Trilyun atau sekitar 57% dari PDRB Subjek penelitian adalah pengerajin
Jawa Timur yang mencapai Rp 1.012 tenun Dusun Sade sebanyak 6
Trilyun. Disamping itu 54,34 % orang dan informan kunci 1 orang
industry di Jawa Timur juga berasal yaitu Kepala Dusun Sade. Objek
dari UMKM yang mampu penelitian adalah proses
menampung 98 % tenaga kerja pembuatan, ragam hias tenun
(Bappeda Jtim, 2014). Tahun 2015 ini beserta maknanya dan
pemerintah sedang menggalakkan perkembangan tenun. Teknik
OVOP (One Village One Product). Ini pengumpulan data menggunakan
adalah cara pemerintah untuk metode wawancara, observasi, dan
meningkatkan nilai tambah produk pencatatan dokumen. Metode
unggulan yang berasal dari daerah. analisis data menggunakan analisis
Sambopinggir dan Cerme merupakan deskriptif.
daerah kecil di Kabupaten Lamongan
dan Gresik penghasil sarung tenun Hasil penelitian menunjukkan
ATBM. Kelompok pengrajin bahwa
perempuan penenun sarung ATBM 1) proses pembuatan tenun adalah:
(Alat Tenun Bukan Mesin) merupakan a) Proses Pemintalan Benang
sebagian kecil dari kelompok b) Pewarnaan Pada Benang,
perempuan yang berkiprah dalam c) Penenunan.
usaha kecil kerajinan tangan yang
murni mengandalkan tenaga manusia. 2) Ragam Hias tenun Dusun Sade
Saat ini produk kain tenun pabrikan antara lain
yang banyak muncul di pasaran tentu a) Ragam Hias Selolot,
saja sangat mengkhawatirkan dan b) Ragam Hias Kelungkung,

4
mengancam keberlangsungan usaha c) Ragam Hias Tapok Kemalo
mereka kedepannya. Harga untuk d) Ragam Hias Batang Empat
sarung pabrik yang lebih murah dan e) Ragam Hias Ragi Genep
desain yang bervariatif akan membuat f) Ragam Hias Kembang Komak,
sarung tenun ATBM menjadi kalah g) Ragam Hias Berang, h) Ragam
jauh. Disinilah perlunya peranan Hias bebesak,
berbagai pihak untuk tetap i) Ragam Hias Tuntang Balik,
melestarikan usaha tenun tangan yang j) Ragam Hias Sabuk Antang,
telah berjalan bertahun-tahun ini agar k) Ragam Hias Umbak.
jangan sampai punah. Pada program 3) Perkembangan ragam hias tenun
ini kelompok pengrajin perempuan Dusun Sade antara lain dalam segi
penenun akan dilatih mengenai desain perkembangan motif,
produk sarung tenun sehingga lebih perkembangan warna, serta proses
bervariasi, pengolahan kain sarung pembuatan kain tenun.
tenun menjadi bentuk lain seperti tas,
mukena dan baju sehingga lebih
bernilai jual dan juga pengemasan dan
pemberian nama produk. Pemasaran
juga tidak lagi dilakukan secara
konvensional sehingga produk sarung
tenun ATBM ini dapat dipasarkan
lebih luas lagi.

5
PEMBAHASAN Pemberdayaan masyarakat melalui Proses Pembuatan Kain Tenun
UMKM saat ini adalah tema sentral TradisionalDusun Sade Desa
yang sering diangkat kepermukaan Rambitan Kecamatan Pujut
oleh beberapa peneliti dan juga Kabupaten Lombok Tengah Kain
menjadi perhatian utama bagi tenun yang dihasilkan
pemerintah, khususnya oleh Dinas olehpengerajin di Dusun Sade
Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan adalah kaindigunakan masih sangat
Menengah. Data yang dilansir oleh sederhana danbahan yang
Dinas Koperasi dan UMKM pada digunakan untuk menghasilkankain
tahun 2013, sumbangsih koperasi dan tenun yang indahpun mereka dapat
UMKM mencapai lebih dari Rp 600 dari sekeliling lingkungan mereka.
Trilyun atau sekitar 57% dari PDRB Dari hasil wawancara dan
Jawa Timur yang mencapai Rp 1.012 observasi yang penulis lakukan
Trilyun. Disamping itu 54,34 % tahap pertama yang harus diketahui
industry di Jawa Timur juga berasal adalah mengenai alat-alat yang
dari UMKM yang mampu digunakan, proses pembuatan
menampung 98 % tenaga kerja benang, proses pewarnaan sampai
(Bappeda Jtim, 2014). dengan proses menenun serta
bahanbahan yang mereka gunakan
Tahun 2015 emerintah sedang dalam menciptakan suatu kain
menggalakkan OVOP (One Village tenun.
One Product). Ini adalah cara a. Alat-alat dalam Pembuatan Kain
pemerintah untuk meningkatkan nilai Tenun
tambah produk unggulan yang berasal Adapun alat-alat yang digunakan
dari daerah. Di Jawa Timur sendiri, dalam pembuatan kain tenun antara
konsep OVOP ini dicoba lain:
dikembangkan di Kabupaten Pacitan 1. Golong, yaitu alat yang
dengan akan digarapnya prduk-produk digunakan untukmelepaskan biji

6
batik dan batu permata, yang tetap kapas yang akandipintal menjadi
merupakan produk lokal tetapi benang tenun.
berpotensi menuju pasar global (local 2. Pebetuk, yaitu alat yang
but global). Kedepan, tentunya masih digunakanuntuk melenbutkan
banyak daerah-daerah lain di Jawa kapas yang akandipintal.
Timur yang bisa dikembangkan 3. Pelusut, yaitu alat yang
dengan konsep OVOP karena Jawa digunakanuntuk memisah-
Timur memiliki potensi untuk produk- misahkan kapas agarpada saat
produk tersebut. (Rahardjo,Teropong dipintal tidak menggumpal.
edisi 78 tahun 2014) 4. Pintal, yaitu alat pemintal
Susilo (2016) menjelaskan bahwa benang yang terdiri dari anak isi
Perempuan bukan hanya dan arah
dimarginalisasi secara fisik, namun 5. Ajung, yaitu alat yang digunakan
juga mengalami opresi – opresi secara untuk meratakan benang yang
ekonomi. Berangkat dari pemikiran sudah dipintal..
tersebut, peneliti melihat upaya 6. Alat tenun gedogan, yaitu alat
pemberdayaan perempuan bukan tenun tradisional yang
hanya memberdayakan perempuan penggunaannya dengan cara
secara mandiri namun juga upaya pengerajin duduk selojor kemudian
untuk bentuk eksistensi identitas alat tenun dipangku dipaha.
perempuan penenun itu sendiri.
Kelompok pengrajin perempuan b. Proses Pembuatan Tenun Dusun
penenun sarung ATBM (Alat Tenun Sade Kecamatan Pujut Kabupaten
Bukan Mesin) merupakan sebagian Lombok Tengah. Tahap awal
kecil dari kelompok perempuan yang dalam proses pembuatan kain tenun
berkiprah dalam usaha kecil kerajinan yaitu pembuatan benang tenun
tangan yang murni mengandalkan dengan cara memintal benang,
tenaga manusia. Saat ini produk kain yang terdiri dari pemanenan kapas,

7
tenun pabrikan yang banyak muncul penjemuran kapas, pemisahan
tentu saja sangat mengkhawatirkan kapas dari bijinya menggunakan
dan mengancam keberlangsungan alat tradisional (golong), proses
usaha mereka kedepannya. Harga penghalusan kapas dengan
untuk sarung pabrik yang lebih murah menggunakan (pebetuk),persiapan
dan desain yang bervariatif akan pemintalan dengan membuat kapas
membuat sarung tenun ATBM dalam bentuk rol (pelusut).
menjadi kalah jauh. Disinilah perlunya 1. Proses Pemintalan Benang
peranan berbagai pihak untuk tetap Proses awal dari pemintalan
melestarikan usaha tenun tangan yang benang yaitu kapas dipisahkan
telah berjalan bertahun-tahun ini agar dengan bijinya menggunakan alat
jangan sampai punah. Dan didasari golong, kemudian setelah kapas
alasan diatas inilah maka tim pengusul dipisahkan dengan bijinya, kapas
mengusulkan program pemberdayaan dihaluskan dengan menggunakan
pada kelompok perempuan penenun alat pebetuk lalu setelah kapas
sarung ATBM ini. dihaluskan kemudian
kapasdigulung pada pelusut agar
Adapun beberapa kegiatan yang akan kapas mudahdipintal, setelah kapas
dilakukan oleh tim pengusul bersama telah digulungkemudian kapas
mitra dalam rangka memecahkan mulai dipintal menjadibenang
berbagai permasalahan yang ada, dengan alat pintal. Kapas yang
adalah sebagai berikut : telahdipintal dan siap diwarnai
Pertama, memberikan pelatihan terlebih dahulu diratakan dengan
kepada kelompok perempuan penenun alat ajung.
untuk membuat variasi produk dari 2. Proses Pewarnaan
kain tenun sehingga mereka tidak Pada tahap proses pewarnaan,
hanhya menjual produk lembaran kain warna benang sangat menentukan
saja namun juga berupa barang lain desain dari kain. Proses pewarnaan

8
seperti tas, dompet, baju, mukena, dan adalah sebagai berikut:
lainnya. a. Proses Pewarnaan Merah
(Mengkudu) dengan teknik dingin
Kedua, memberikan penyuluhan antara lain
kepada kelompok pengrajin a) Bahan-bahan yang disiapkan
perempuan penenun tentang adalah:
pentingnya mereka mempertahankan 1. Benang yang sudah siap
usaha mereka yang telah berjalan diwarnai
secara turun temurun selama puluhan 2. Kulit Akar mengkudu
tahun. 3. Daun Emarik Gugur
4. Air
Ketiga, memberikan bantuan peralatan
yang dibutuhkan untuk pengembangan b)Proses Celup
usaha dan pendampingan mengenai 1 Langkah pertama untuk proses
teknik desain produk dan kemasan pewarnaa dengan akar mengkudu
yang akan dilakukan oleh tim terlebih dahulu akar mengkudu
pengusul. ditumbuk hingga halus kemudian
hasil tumbukan tersebut dicampur
Keempat, memberikan pendampingan dengan air lalu diperas untuk
dari sisi pemasaran produk yang mengambil sari dari akar
berbahan kain tenun yang sudah mengkudu tersebut.
dihasilkan sehingga produk dapat 2 Langkah kedua yaitu daun
dikenal oleh masyarakat, bila pasar emarikpun ditumbuk hingga halus
sudah terbentuk maka produksi dapat kemudian dicampurkan kedalam
terus berjalan dengan baik air perasan akar mengkudu lalu
kedepannya. diaduk rata.
3 Langkah ketiga yaitu setelah
Adapun program pelatihan yang telah bahan tercampur rata lalu benang

9
dilakukan adalah: yang telah siap diberi warna
1. Pemberian wawasan bahwa motif dimasukkan kedalam larutan warna
kain tenun yang mewarnai pasar sudah tersebut sambil diremasremas dan
begitu beragam dan sangat variatif. diaduk agar rata. Perendaman
benang dilakukan selama 24 jam (1
2. Pembuatan desain pola kreasi motif
hari) untuk satu sisi benang
kain tenun.
kemudian dibalik ke sisi berikutnya
3. Pemberian wawasan diversifikasi dan perendamanpun dilakukan
kain tenun sarung. selama 24 jam (1 hari).
b. Proses Pewarnaan Merah
4. Membuat contoh diversifikasi kain
(Mengkudu) dengan teknik Panas
tenun sarung berupa baju dan sajadah.
antara lain:
a) Bahan yang dibutuhkan adalah:
HASIL YANG DICAPAI
1. Benang yang sudah siap
Sesuai dengan pelaksanaan
diwarnai
penyuluhan dan pelatihan dalam
2. Kulit Akar Mengkudu kering
program pengabdian kepada
atau basah
masyarakat ini, tahap selanjutnya
3. Kulit Jangau
mengacu pada table 6.1 berikut.
4. Kapur sirih
5. Daun Gambir
Program ke 6 :Pendampingan
b) Proses pencelupan
packaging produk
1. Langkah pertama untuk proses
Pada tahap ini, para pengrajin sarung
pewrnaan mengkudu dengan teknik
tenun akan dibina dan diberikan
panas yaitu terlebih dahulu kulit
ketrampilan untuk mengemas produk.
akar mengkudu dan kulit jangau
Sebelumnya mereka cenderung
dibersihkan kemudian dijemur
melipat dan membungkus produk
sampai kering lalu ditumbuk
sebisanya tanpa memahami proses
hingga halus.
akhir sebuah packaging.

10
Peserta pelatihan akan diberikan 2. Langkah kedua yaitu, bahan
pemahaman yang memadai mengenai yang telah ditumbuk halus
pentingnya packaging dalam sebuah dicampur dengan air mendidih
pemasaran produk. Pelatihan lebih dengan perbandingan 1 genggam
menekankan pada bagaimana kulit jangau: 3 genggam kulit akar
kreatifitas kemasan produk agar bisa mengkudu: 3 gayung air panas
lebih menarik untuk didisplay. untuk ukuran 1 emeber sedang. 3.
Berikutnya pelatihan akan Langkah ketiga yaitu, setelah
memberikan pelatihan teknik kemasan bahan-bahan dicampur rata
dan keunikan kemasan agar dapat kemudian benang yang telah siap
meraih perhatian di pasar. diberi warna dimasukkan dalam
larutan warna tersebut kemudian
Program ke 7 : Pendampingan dijemur pada panas matahari (pada
pemasaran online malam hari benang diangkat, dan
Dalam tahap ini, para pengrajin yang hari berikutnya dijemur lagi sampai
memang kesulitan untuk menembus larutan warna benar-benar meresap
pasar yang lebih luas, senderung pada benang).
memasarkan secara konvensional. c. Proses pewarnaa Hitam (tarum)
Pemanfaatan media komunikasi antara lain:
pemasaran cenderung tidak diketahui a) Bahan yang digunakan adalah:
sehingga belum sampai 1. Daun tarum tua
mengeksplorasi media. Pelatihan akan 2. Kapur sirih
lebih difokuskan dalam pemanfaatan 3. Benang
media online dan media alternative b) Proses pencelupan
lain dalam proses pemasaran. Tidak 1. Langkah pertama yaitu Daun
hanya itu, tapi mereka juga akan Tarum dimasak terlebih dahulu
mendapatkan pendampingan dalam sampai warna daun berubah
tekhnik tekhnik khusus memasarkan menjadi hitam atau biru setelah itu

11
lewat jaringan komunitas di media daun diangkat.
social.
2. Langkah kedua yaitu air daunt
Program 8 : Laporan Akhir arum tersebut dicampur dengan
Akhir dari program ini adalah kapur sirih sambil diaduk hingga
mengevaluasi dan memonitor dari warna air berubah menjadi hitam.
hasil hasil yang sudah dicapai. Dari
satu tahun memberikan penyuluhan, 3. Langkah ketigayaitu setelah air
pelatihan dan pendampingan kepada warna dau tarum tersebut berubah
kelompok pengrajin diharapkan dapat menjadi hitam, benangpun siap
memberikan manfaat seluas luasnya dicelupkan pada larutan tersebut
kepada masyarakat pengrajin sarung untuk proses pewarnaan benang,
tenun. Dengan demikian, ilmu dan pencelupan benang harus dilakukan
pengetahuan dari lingkup perguruan berulang-ulangsampai
tinggi bisa didiseminasikan kepada mendapatkan warna yang baik
masyarakat yang membutuhkan. (biasanya sampai tujuh kali
ulangan).
d. Proses pewarnaan Kuning
(kunyit) antara lain:
a) Bahan yang digunakan adalah:
1. Benang yang sudah dingaos
2. Kunyit
3. Kulit Kayu Gandis
4. Air
Kelebihan :Pada jurnal ini membahas Kelebihan :Pada jurnal ini
tentang pengabdian masyarakat menjelaskan lebih teperinci
melalui UMKM, dimana ini mengenai bagaimaa proses
merupakan cara pemerintah untuk pembuatan kain tenun tradisional ,

12
meningkatkan nilai tambah produk menjelaskan alatalat yang
unggulan yang berasal dari daerah. digunakan dalam pembuatan kain
Pada jurnal ini juga membahas tenun, proses pembuatan tenun,
bagaimana seorang pengrajin tenun proses pemintalan benang, proses
mempersiapkan hasil jadi tenunanny pewarnaan, dan proses penenunan,
dengan cara pendampingan packing bagaimana tahap-tahap penenunan.
produk yang biasanya pengrajin hanya Selain itu pada jurnal ini juga
membungkus produk sebisanya tanpa dijelaskanbbagaimana proses
memahami proses akhir packing. pewarnaannya dan baan-bahan
Selain itu pada jurnal ini jugga pewarnaan secara alami. Selain
dilakukan pendampingan pemasaran penjelasan menegnai pewarnaan
online sehingga lebih meningkatkan dan penenunan jurnal ini juga
produktifitas. menjelaskan bagaimana
perkembangn kain tenun di Dusun
Kekuranga : Pada jurnal ini thanya Sade, tidak hanya menjelaskan
terfokus pada baris besarnya saja perkembangan tentang kainnya saja
seperti bagaimana seorang penenun teapi menjelaskan juga bagaimana
mampu mengkombinasikan warna, perkembangan warna.
mempersiapkan hasil produk dengan
baik, persaingan penenun tradisional Kekuranga : kekurangannya
dan pabrik, pemasaran yang tidak adalah pengrajin perlu menggali,
hanya melalui manual namun juga mempelajari dan harus lebih kreatif
secara online, pada jurnal ini tidak dalam membuat ragam hias baru
dijelaskan sedikit tentang cbagaimana tanpa meninggalkan ciri khas agam
cara memenun sehingga pembaca bisa hias yang telah diwariskan oleh
tahu bagaimana perbedaan anatar nenek moyang serta memahami arti
penenun tradisonal dengan yang dab makna dari ragam hiasa. Pada
dibuat dipabrik. jurnal ini juga masih banyak

13
kekurangannya dan informasi yang
masih belum lengkap dalam
penelitian ini karena hanya terbatas
satu tempat saja.

KESIMPULAN Berdasarksn penelitian yang dilakukan dapat dimpulkan bahawa proses


pembuatan tenun di Dusun Sade adalah proses pemintalan benang, dan
pewarnaan pada benang-benang sesuai yang diinginkan. Dan pada ragam
hias tenunnya yang sangat bervariasi serta perkebangan hias tenunnya juga
yang sangat banyak.
Dari permasalahan yang sejak awal sudah dideteksi, maka melalui program
pelatihan pengrajin sarung tenun IBM telah dicapai hasil hasil semacam
yang diterangkan dibawah ini :Pertama, jumlah penenun sudah berkurang
jauh karena banyak gadis yang setelah menikah tidak lagi diijinkan bekerja
oleh suaminya. Kedua, Banyaknya serbuan produk sarung tenun pabrikan
membuat para penenun merasa persaingan menjadi sangat ketat.Ketiga,
kurangnya variasi bahan tenunan sehingga yang ada hanya sarung tenun
saja.Keempat, kurangnya variasi desain produk, sehingga terkesan desain
mereka adalah itu-itu saja tanpa memperhatikan selera pasar.Kelima,
kurangnya sarana pemasaran untuk membranding produk sehingga produk
bisa memiliki nilai jual yang lebih.Keenam, belum adanya jalur pemasaran
yang dilakukan melalui internet atau pemasaran secara online sehingga
pemasaran masih terbatas.Selanjutnya, tidak adanya alat tenun yang yang
lebih modern, mereka hanya menggunakan alat tenun yang mereka miliki
sejak turun temurun.

14