Anda di halaman 1dari 25

DEMENSIA ALZHEIMER

Andi Suci Juwita, Irmayani Aboe Kasim

A. Pendahuluan
Demensia merupakan gejala utama dari penyakit alzheimer, yang
ditandai oleh gangguan beberapa fungsi otak dan gangguan fungsi kognitif
(1)
. Fungsi otak yang mengalami gangguan diantaranya adalah gangguan
memori, berpikir, orientasi, pemahaman, perhitungan, kapasitas belajar,
bahasa, dan penilaian, Sedangkan gangguan fungsi kognitif biasanya
disertai atau didahului, dengan penurunan pengendalian emosi, perilaku
(2)
sosial, atau motivasi . Alzheimer merupakan penyakit degeneratif yang
memiliki gejala utama demensia atau penurunan daya ingat. Istilah
demensia digunakan untuk menggambarkan sindrom klinis dengan gejala
menurunnya daya ingat dan hilangnya fungsi intelek lainnya.
B. Anatomi
Ganglia Basalis
Ganglia basalis banyak berhubungan dengan bagian-bagian lain
SSP, termasuk korteks serebri, serebelum, thalamus dan forsio retikularis.
Ganglia basalis berfungsi sebagai pusat koordinasi yang penting (3).
Pada tiap hemisperium serebri ditemukan ganglia basalis atau
nuklei basal yang berpasangan dan terbentuk dari substansia grisea sentral
telensefalon. Yang termasuk ganglia basalis adalah klaustrum, putamen,
globus palidus, nukleus caudatus (bagian paling kaudal dari ganglia
basalis) berbentuk koma dengan ekor menjulur. Nukleus amigdaloid
berbentuk seperti simpul substansia grisea diujung ekor nukleus caudatus.
Putamen dan globus palidus bersama-sama dikenal sebagai nukleus
lentikularis (berbentuk lensa). Nukleus ini menjulur dari bagian keala
nukleus caudatus. Kapsula interna berada di dalam ruang yang di batasi
oleh thalamus, nukleus caudatus, dan nukleus lentikularis. Daerah yang
penting ini merupakan jalur lintas bagi semua serabut saraf yang
menghubungkan serebrum dengan bagian susunan saraf pusat lainnya.

1
Nukleus lentikularis dan caudatus bersama dengan bagian kapsula interna
yang berdekatan kadang-kadang bersama disebut korpus striatum (3).
Amigdala yang berada di interior di sisi bawah lobus temporalis
adalah regio yang sangat penting untuk memproses masukan yang
menghasilkan sensasi takut. Pada manusia dan hingga tahap yang belum
diketahui tingkat-tingkat korteks yang lebih tinggi juga penting bagi
kesadaran akan perasaan emosional (4).

Gambar 1. Komponen Ganglia Basalis

Gambar 2. Topografi Ganglia Basalis


Hipokampus
Hipokampus, bagian medial lobus tenporalis yang memanjang dan
merupaan bagian dari sistem libik, berperan vital dalam ingatan jangka
pendek yang melibatkan integrasi berbagai rangsangan terkait serta
penting bai konsolidasi ingatan tersebut menjadi ingatan jangka panjang.
Hipokampus dipercayai menyimpan ingatan jangka panjang baru hanya

2
sesaat dan kemudian memindahkannya kebagian korteks lain untuk
penyimpanan yang lebih permanen. Tempat untuk penyimpanan jangka
panjang berbagai jenis ingatan sedang mulai diidentifikasi oleh para
ilmuwan saraf (4).
Hipokampus dan daerah sekitarnya berperan sangat penting dalam
ingatan deklaratif-ingatan “apa” tentang orang, tempat, benda, fakta, dan
kejadian spesifik yang sering berbentuk setelah hanya satu pengalaman
dan yang dapat di kemukakan dalam suatu pernyataan seperti “ Saya
melihat tugu mona tahun lalu” atau mengingat kembali suatu gambar
dalam ingatan. Ingatan deklaratif memerlukan pemanggilan kembali
secara sadar. Hipokampus dan struktur temporalis/limbuk terkait sangat
penting dalam mempertahankan ingatan tentang kejadian-kejadian sehari-
hari dalam waktu yang memadai (4).
Orang dengan kerusakann hipokampus sangat mudah lupa akan
fakta-fakta yang sangat penting untuk kehidupan sehari-hari. Ingatan
deklaratif biasanya adalah yang pertama kali hilang (4).
C. Epidemiologi
Penyakit ini paling banyak ditemukan pada kelompok usia
lanjutbyakni kelompok usia lebih dari 65 tahun. Di negara maju seperti
Amerika Serikat saat ini ditemukan lebih dari 4 juta orang usia lanjut
(4)
menderita penyakit alzheimer . Sedangkan di Indonesia di perkirakan
jumlah usia lanjut berkisar 18,5 juta orang, dengan angka insidensi dan
prevalensi penyakit alzheimer belum diketahui dengan pasti.
Alzheimer’s Disease International (ADI) melaporkan bahwa
sekitar 46,8 juta orang di dunia menderita demensia pada tahun 2015.
Jumlah ini akan mengalami peningkatan hingga hampir dua kali lipat
setiap 20 tahun. Prevalensi penyakit alzheimer pada tahun 2015
diperkirakan meningkat di negara-negara berkembang seperti di beberapa
negara di benua Asia dan Afrika, tetapi menurun di negara maju di benua
Eropa dan Amerika (5).

3
Berdasarkan jenis kelamin, prevalensi wanita lebih banyak tiga kali
di bandingkan laki-laki. Hal ini mungkin refleksi dari usia harapan hidup
wanita lebih lama di bandingkan laki-laki. Dari beberapa penelitian tidak
ada perbedaan terhadap jenis kelamin (5).
D. Etiologi
Penyebab yang pasti belum diketahui. Namun ada beberapa
kemungkinan yang sering dikemukakan seperti degenerasi neuronal,
defisiensi faktor pertumbuhan atau asam amino, ataupun faktor genetika
(5)
.
Degenerasi neuronal merupakan dasar kelainan patologi penyakit
alzheimer yang dapat menyebabkan terjadinya kematian daerah spesifik
jaringan otak yang mengakibatkan gangguan fungsi kognitif dengan
penurunan daya ingat secara progresif. Kondisi lain seperti adanya
defisiensi faktor pertumbuhan atau asam amino dapat menyebabkan
kematian selektif neuron yang memungkinkan terjadinya degenerasi sel
otak yang diakibatkan oleh adanya peningkatan kalsium intraseluler ,
kegagalan metabolisme energi, adanya formasi radikal bebas atau
terdapatnya produksi protein abnormal yang non spesifik. Sedangkkan
faktor genetik telah dibuktikan oleh beberapa penelitian, beberapa
penelitian juga membuktikan bahwa faktor genetika dapat di perparah
dengan adanya faktor lingkungan.
Beberapa hipotesisi lain disebutkan dapat menjadi penyebab
terjadinya penyakit ini seperti intoksikasi logam, gangguan fungsi
imunitas, infeksi virus, polusi udara/industri, trauma, neurotransmitter,
defisit formasi sel-sel filament, predisposisi herediter (5).
E. Patomekanisme
Sejumlah patgogenesa penyakit alzheimer’s yaitu (1) :
1. Faktor genetik
Beberapa peneliti mengungkapkan 50% prevalensi kasus alzheimer
ini diturunkan melalui gen autosomal dominant. Individu keturunan garis
pertama pada keluarga penderita alzheimer mempunyai resiko menderita

4
demensia 6 kali lebih besar dibandingkan kelompok kontrol normal .
Pemeriksaan genetika DNA pada penderita alzheimer dengan familial
early onset terdapat kelainan lokus pada kromosom 21 diregio proximal
log arm, sedangkan pada familial late onset didapatkan kelainan lokus
pada kromosom 19. Begitu pula pada penderita down syndrome
mempunyai kelainan gen kromosom 21, setelah berumur 40 tahun terdapat
neurofibrillary tangles (NFT), senile plaque dan penurunan Marker
kolinergik pada jaringan otaknya yang menggambarkan kelainan
histopatologi pada penderita alzheimer. Hasil penelitian penyakit
alzheimer terhadap anak kembar menunjukkan 40-50% adalah
monozygote dan 50% adalah dizygote. Keadaan ini mendukung bahwa
faktor genetik berperan dalam penyaki alzheimer. Pada sporadik non
familial (50-70%), beberapa penderitanya ditemukan kelainan lokus
kromosom 6, keadaan ini menunjukkan bahwa kemungkinan faktor
lingkungan menentukan ekspresi genetika pada alzheimer (1).
2. Faktor infeksi (1)
Ada hipotesa menunjukkan penyebab infeksi virus pada keluarga
penderita alzheimer yang dilakukan secara immuno blot analisis, ternyata
diketemukan adanya antibodi reaktif. Infeksi virus tersebut menyebabkan
infeksi pada susunan saraf pusat yang bersipat lambat, kronik dan remisi.
Beberapa penyakit infeksi seperti Creutzfeldt-Jacob disease dan kuru,
diduga berhubungan dengan penyakit alzheimer. Hipotesa tersebut
mempunyai beberapa persamaan antara lain:
a. manifestasi klinik yang sama
b. Tidak adanya respon imun yang spesifik
c. Adanya plak amyloid pada susunan saraf pusat
d. Timbulnya gejala mioklonus
e. Adanya gambaran spongioform
3. Faktor lingkungan(1)
Ekmann (1988), mengatakan bahwa faktor lingkungan juga dapat
berperan dalam patogenesa penyakit alzheimer. Faktor lingkungan antar

5
lain, aluminium, silicon, mercury, zinc. Aluminium merupakan
neurotoksik potensial pada susunan saraf pusat yang ditemukan
neurofibrillary tangles (NFT) dan senile plaque (SPINALIS). Hal tersebut
diatas belum dapat dijelaskan secara pasti, apakah keberadaan aluminum
adalah penyebab degenerasi neurosal primer atau sesuatu hal yang
tumpang tindih. Pada penderita alzheimer, juga ditemukan keadan ketidak
seimbangan merkuri, nitrogen, fosfor, sodium, dengan patogenesa yang
belum jelas. Ada dugaan bahwa asam amino glutamat akan menyebabkan
depolarisasi melalui reseptor N-methy D-aspartat sehingga kalsium akan
masuk ke intraseluler (Cairan-influks) danmenyebabkan kerusakan
metabolisma energi seluler dengan akibat kerusakan dan kematian neuron.
4. Faktor imunologis (1)
Behan dan Felman (1970) melaporkan 60% pasien yang menderita
alzheimer didapatkan kelainan serum protein seperti penurunan albumin
dan peningkatan alpha protein, anti trypsin alphamarcoglobuli dan
haptoglobuli. Heyman (1984), melaporkan terdapat hubungan bermakna
dan meningkat dari penderita alzheimer dengan penderita tiroid. Tiroid
Hashimoto merupakan penyakit inflamasi kronik yang sering didapatkan
pada wanita muda karena peranan faktor immunitas
5. Faktor trauma (1)
Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan penyakit
alzheimer dengan trauma kepala. Hal ini dihubungkan dengan petinju
yang menderita demensia pugilistik, dimana pada otopsinya ditemukan
banyak neurofibrillary tangles.
6. Faktor neurotransmiter (1)
Perubahan neurotransmitter pada jaringan otak penderita alzheimer
mempunyai peranan yang sangat penting seperti:
a. Asetilkolin
Barties et al (1982) mengadakan penelitian terhadap aktivitas
spesifik neurotransmiter dengan cara biopsi sterotaktik dan otopsi
jaringan otak pada penderita alzheimer didapatkan penurunan aktivitas

6
kolinasetil transferase, asetikolinesterase dan transport kolin serta
penurunan biosintesa asetilkolin. Adanya defisit presinaptik dan
postsynaptik kolinergik ini bersifat simetris pada korteks frontalis,
temporallis superior, nukleus basalis, hipokampus. Kelainan
neurottansmiter asetilkoline merupakan kelainan yang selalu ada
dibandingkan jenis neurottansmiter lainnyapd penyakit alzheimer,
dimana pada jaringan otak/biopsinya selalu didapatkan kehilangan
cholinergik Marker. Pada penelitian dengan pemberian scopolamin
pada orang normal, akan menyebabkan berkurang atau hilangnya daya
ingat. Hal ini sangat mendukung hipotesa kolinergik sebagai
patogenesa penyakit alzheimer
b. Noradrenalin
Kadar metabolisma norepinefrin dan dopimin didapatkan menurun
pada jaringan otak penderita alzheimer. Hilangnya neuron bagian
dorsal lokus seruleus yang merupakan tempat yang utama noradrenalin
pada korteks serebri, berkorelasi dengan defisit kortikal noradrenergik.
Bowen et al(1988), melaporkan hasil biopsi dan otopsi jaringan otak
penderita alzheimer menunjukkan adanya defisit noradrenalin pada
presinaptik neokorteks. Palmer et al(1987), Reinikanen (1988),
melaporkan konsentrasi noradrenalin menurun baik pada post dan
ante-mortem penderita alzheimer.
c. Dopamin
Sparks et al (1988), melakukan pengukuran terhadap aktivitas
neurottansmiter regio hipothalamus, dimana tidak adanya gangguan
perubahan aktivitas dopamin pada penderita alzheimer. Hasil ini masih
kontroversial, kemungkinan disebabkan karena potongan histopatologi
regio hipothalamus setia penelitian berbeda-beda.
d. Serotonin
Didapatkan penurunan kadar serotonin dan hasil metabolisme 5
hidroxi-indolacetil acid pada biopsi korteks serebri penderita
alzheimer. Penurunan juga didapatkan pada nukleus basalis dari

7
meynert. Penurunan serotonin pada subregio hipotalamus sangat
bervariasi, pengurangan maksimal pada anterior hipotalamus
sedangkan pada posterior peraventrikuler hipotalamus berkurang
sangat minimal. Perubahan kortikal serotonergik ini berhubungan
dengan hilangnya neuron-neuron dan diisi oleh formasi NFT pada
nukleus rephe dorsalis
e. MAO (Monoamine Oksidase)
Enzim mitokondria MAO akan mengoksidasi transmitter mono
amine. Aktivitas normal MAO terbagi 2 kelompok yaitu MAO A
untuk deaminasi serotonin, norepineprin dan sebagian kecil dopamin,
sedangkan MAO B untuk deaminasi terutama dopamin. Pada penderita
alzheimer, didapatkan peningkatan MAO A pada hipothalamus dan
frontais sedangkan MAO B meningkat pada daerah temporal dan
menurun pada nukleus basalis dari meynert.
F. Diagnosis (6)
Telah dijelaskan bahwa penyakit Alzheimer merupakan salah satu
jenis demensia yang terbanyak pada orang dewasa. Demensia sudah sering
dikenal dengan menggunakan kritera DSM IV (Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorders, fourth edition). Menegakkan penyakit
Alzheimer dengan menggunakan kriteria oleh the National Institute of
Neurological and Communicative Disorders and Stroke (NINCDS) dan
the Alzheimer’s Disease and Related Disorders Association (ADRDA)
dengan menggunakan klasifikasi definite (diagnosis klinis dengan
gambaran histologic), probable (sindrom klinik tipikal tanpa gambaran
histologic) dan possible( gambaran klinis atipikal tetapi tidak ada
diagnosis alternative dan tidak ada gambaran histologi)
Kriteria untuk Diagnosis Klinis Penyakit Alzheimer (6)
Kriteria diagnosis klinis untuk probable penyakit Alzheimer mencakup:
- Demensia yang ditegakkan oleh pemeriksaan klinis dan tercatat dengan
pemeriksaan the mini-mental test,Blessed Dementia Scale,atau
pemeriksaan sejenis,dan dikonfirmasi oleh tes neuropsikologis

8
- Defisit pada dua atau lebih area kognitif
- Tidak ada gangguan kesadaran
- Awitan antara umur 40 dan 90,umunya setelah umur 65 tahun
- Tidak adanya kelinan sistemik atau penyakit otak lain yang dapat
menyebabkan defisit progresif pada memori dan kognitif
Diagnosis probable penyakit Alzheimer didukung oleh:
- Penurunan progresif fungsi kognitif spesifik seperti afasia,apraksia,dan
agnosia
- Gangguan aktivitas hidup sehari-hari dan perubahan pola perilaku
- Riwayat keluarga dengan gangguan yang sama,terutama bila sudah
dikonfirmasi secara neuropatologi
- Hasil laboratorium yang menunjukkan
- Pungsi lumbal yang normal yang dievaluasi dengan teknik standar Pola
normal atau perubahan yang nonspesifik pada EEG,seperti peningkatan
atktivitas slow-wave
- Bukti adanya atrofi otak pada pemeriksaan CT yang progresif dan
terdokumentasi oleh pemeriksaan serial
Gambaran klinis lain yang konsisten dengan diagnosis probable penyakit
Alzheimer, setelah mengeksklusi penyebab demensia selain penyakit
Alzheimer:
- Perjalanan penyakit yang progresif namun lambat (plateau)
- Gejala-gejala yang berhubungan seperti depresi, insomnia,
inkontinensia, delusi, halusinasi, verbal katastrofik, emosional,
gangguan seksual, dan penurunan berat badan
- Abnormalitas neurologis pada beberapa pasien,terutama pada penyakit
tahap lanjut,seperti peningkatan tonus otot,mioklunus,dan gangguan
melangkah
- Kejang pada penyakit yang lanjut
- Pemeriksaan CT normal untuk usianya
Gambaran yang membuat diagnosis probable penyakit Alzheimer menjadi
tidak cocok adalah:

9
- Onset yang mendadak dan apolectic
- Terdapat defisit neurologis fokal seperti hemiparesis, gangguan
sensorik, defisit lapang pandang, dan inkoordinasi pada tahap awal
penyakit;dan kejang atau gangguan melangkah pada saat awitan atau
tahap awal perjalanan penyakit
Diagnosis possible penyakit Alzheimer:
- Dibuat berdasarkan adanya sindrom demensia,tanpa adanya gangguan
neurologis psikiatrik,atau sistemik alin yang dapat menyebabkan
demensia,dan adandya variasi pada awitan,gejala klinis,atau perjalanan
penyakit
- Dibuat berdasarkan adanya gangguan otak atau sistemik sekunder yang
cukup untuk menyebabkan demensia,namun penyebab primernya bukan
merupakan penyabab demensia
Kriteria untuk diagnosis definite penyakit Alzheimer adalah:
- Kriteria klinis untuk probable penyakit Alzheimer
- Bukti histopatologi yang didapat dari biopsi atau otopsi
Klasifikasi penyakit Alzheimer untuk tujuan penelitian dilakukan bila terdapat
gambaran khusus yang mungkin merupakan subtipe penyakit
Alzheimer,seperti:
- Banyak anggota keluarga yang mengalami hal yang sama
- Awitan sebelum usia 65 tahun
- Adanya trisomi-21
- Terjadi bersamaan dengan kondisi lain yang relevan seperti penyakit
Parkinson
1. Gejala Klinis
Gejala klinis demensia Alzheimer biasanya berupa awitannya yang
gradual yang berlangsung secara labat. Biasanya dapat di bedakan dalam
tiga fase ( Whalley, 1997) :
a. Fase I. Ditandai dengan gangguan memori subjektif, konsentrasi buruk
dan gangguan visuo=spatial. Lingkungan yang biasa menjadi seperti
asing, sukar menentukan jalan oulang yang biasa di lalui. Penderita

10
mungkin mengeluhkan agnosis kanan-kiri. Bahkan pada fase dini ini
rasa tilikan (insigth) sering sudah terganggu.
b. Fase II. Terjadi tanda yang mengarah kekeruskan fokal kortikal,
walauoun tidak terlihat pola defisit yang khas. Simptom yang di
sebabkan oleh disfungsi lobus parietalis (misal agnosia, dispraksia dan
akalkulia) sering didapatkan. Gejala neurologik mungkin termasuk
antara lain tanggapan ekstensor plantaris dan beberapa kelemahan
fasial. Delusi dan halusinasi mungkin terdapat, walaupun pembicaraan
mungkin masih kelihatan normal.
c. Fase III. Pembicaraan terganggu berat, mungkin sama sekali hilang.
Penderita tampak terus menerus apatik. Banyak penderita tidak
mengenali diri sendiri atau orang yang dikenalnya. Dengan
berkelanjutannya penyakit, penderita sering hanya berbaring di tempat
tidur, inkontinensia baik urin maupun alvi. Sering disertai serangan
kejang epileptik grandmal. Gejala neurologik menunjukkan gangguan
berat dari gerak langkah (gait), tonus otot, dan gambaran yang
mengarah pada sindrom Kluver-Buci (apati, gangguan pengenalan,
gerakan mulut tak terkontrol, hiperseksualitas, amnesia, dan bulimia ).
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan pada penderita alzheimer tidak lepas dari aturan baku
pemeriksaan fisik. Hal tersebut di maksud agar diagnosis dan terapi
dapat di lakukan secara cepat dan tepat. Namun ada beberapa
pemerikaan rutin yang perlu mendapat perhatian khusus yang
berkaitan dengan penyakit ini :
a. Pemeriksaan memori
Pemeriksaan dapat di lakukan dengan meminta penderita untuk
mengulang kata-kata (registration), mengingat kembali informasi
yang telh diberi setelah istirahat beberapa menit (retention recall),
dan mengenal kata-kata dari banyak daftar (recognition).
Kemampuan untuk mempelajrai informasi baru dapat di periksa
dengan meminta untuk mempelajari suatu daftar kata-kata.

11
Penderita yang mengalami defisit dalam “mendapatkan kembali”
(retrival deficits) dapat di periksa dengan MCQ karena
gangguannya terletak dalam kemampuan untuk menggunakan
memorinya. Memori lama dapat diperiksa dengan meminta
penderita untuk mengingat orang-orang lain atau bahan-bahan lama
yang pernah diminatinya (politik, olahraga, atau hobi lainnya).
Keterangan dari pihak lain tentang keadaan penderita juga bisa
dimanfaatkan, membayar tagihan, pulang kerumah tanpa tersesat.
b. Pemeriksaan Kemampuan Berbahasa
Penderita di minta menyebutkan nama benda yang ada dalam
ruangan atau bagian dari tubuhnya. Selain itu penderita di minta
untuk melakukan perintah/aba-aba, atau diminta mengulang kata-
kata yang di ucapkan pemeriksa.
c. Pemeriksaan Apraksia
Keterampilan motorik dapat diperiksa dengan cara meminta
penderita untuk melakukan gerakan tertentu, misalnya
memperlihatkan bagaimana cara menggosok gigi, memasang atau
menyusun balok-balok, atau menyusun tongkat dalam desain
tertentu.
d. Pemeriksaan Daya Abraksi
Daya abraksi dapat diperiksa dengan berbagai cara, misalnya
menyuruh penderita untuk menghitung sampai sepuluh, menyebut
seluruh alfabet, menghitung angka kelipatan tujuh, menyebut nama
binatang sebanyak-banyaknya dalam waktu satu menit, atau
menulis huruf m dan n secara bergantian.
e. Mini Mental State Examination
Penderita diminta menjawab 30 pertanyaan sederhana selama 10-
15 menit. Hasil positif palsu dapat di peroleh dari penderita usia
tua dengan depresi. Pemeriksaan MMSE ini tidak begitu sensitif
untuk pasien demensia awal.

12
No Tes Nilai Maks Nilai
1 ORIENTASI
Sekarang (tahun, musim, 5
bulan, tanggal, hari) apa?
2 Kita berada dimana ?
(negara, propinsi, kota, 5
rumah sakit, lantai/kamar)
3 REGISTRASI
Sebutkan 3 buah nama
benda (Apel, meja, koin)
tiap benda 1 detik, pasien
disuruh mengulang nama
ketiga benda tadi. Nilai 1 3
untuk setiap nama benda
yang benar. Ulangi sampai
pasien dapat menyebutkan
dengan benar dan catat
jumlah pengulangan.
4 ATENSI DAN
KALKULASI
Kurangi 100 dengan 7. Nilai
1 untuk setiap jawaban yang
benar. Hentikan setelah 5
jawaban. Atau disuruh
5
mengeja terbalik kata “
WAHYU” ( nilai di beri
pada huruf yang benar
sebelum kesalahan :
misalnya UYAHW  nilai
2

13
5 MENGINGAT KEMBALI
(RECALL)
Pasien disuruh menyebut 3
kembali 3 nama benda
diatas.
6 BAHASA
Pasien disuruh menyebutkan
2
nama benda yang di
tunjukkan (pensil, buku)
7 Pasien disuruh mengulang
kata-kata : namun, tanpa, 1
dan bila.
8 Pasien disuruh melakukan
perintah : “ambil kertas ini
dengan tangan kanan anda,
lipatlah menjadi dua dan
3
letakkan di lantai”. Setiap
bagian perintah yang
dilakukan dengan benar di
nilai 1.
9 Pasien disuruh membaca
dan melakukan perintah
1
tertulis : “PEJAMKAN
MATA ANDA”
10 Pasien disuruh menulis
1
kalimat dengan spontan.
11 Pasien disuruh
menggambarkan bentuk di
bawah ini 1

14
Total 30

Interpretasi :
- 24-30 : Tidak di temukam kelainan kognitif
- 18-23 : Kelainan kognitif yang ringan
- 0-17 : Kelainan kognitif yang berat

Pemeriksaan Penunjang (7)

1. Neuropatologi (7)
Diagnosa definitif tidak dapat ditegakkan tanpa adanya konfirmasi
neuropatologi. Secara umum didapatkan atrofi yang bilateral, simetris,
sering kali berat otaknya berkisar 1000 gr (850-1250gr).
Beberapa
penelitian mengungkapkan atropi lebih menonjol pada lobus
temporoparietal, anterior frontal, sedangkan korteks oksipital, korteks
motorik primer, sistem somatosensorik tetap utuh. Kelainan-kelainan
neuropatologi pada penyakit Alzheimer terdiri dari:
a. Neurofibrillary Tangles (NFT)
Merupakan sitoplasma neuronal yang terbuat dari filamen-filamen
abnormal yang berisi protein neurofilamen, ubiquine, epitoque. NFT
ini juga terdapat pada neokorteks, hipokampus, amigdala, substansia
alba, lokus seruleus, dorsal raphe dari inti batang otak. NFT selain
didapatkan pada penyakit Alzheimer, juga ditemukan pada otak
manula, down syndrome, parkinson, SSPE, sindroma ektrapiramidal,
supranuklear palsy. Densitas NFT berkolerasi dengan beratnya
demensia.
b. Senile Plaque (SP) 

Merupakan struktur kompleks yang terjadi akibat degenerasi nerve
ending yang berisi filamen-filamen abnormal, serat amiloid
ektraseluler, astrosit, mikroglia.Protein prekursor amiloid yang terdapat
pada SP sangat berhubungan dengan kromosom 21.Senile plaque ini

15
terutama terdapat pada neokorteks, amygdala, hipokampus, korteks
piriformis, dan sedikit didapatkan pada korteks motorik primer, korteks
somatosensorik, korteks visual, dan auditorik. Senile plaque ini juga
terdapat pada jaringan perifer. Perry (1987) mengatakan densitas Senile
plaque berhubungan dengan penurunan kolinergik. Kedua gambaran
histopatologi (NFT dan senile plaque) merupakan gambaran
karakteristik untuk penderita penyakit Alzheimer.
c. Degenerasi neuron 

Pada pemeriksaan mikroskopik perubahan dan kematian neuron pada
penyakit Alzheimer sangat selektif.Kematian neuron pada neokorteks
terutama didapatkan pada neuron piramidal lobus temporal dan
frontalis.Juga ditemukan pada hipokampus, amigdala, nukleus batang
otak termasuk lobus serulues, raphe nukleus, dan substanasia
nigra.Kematian sel neuron kolinergik terutama pada nukleus basalis
dari meynert, dan sel noradrenergik terutama pada lokus seruleus serta
sel serotogenik pada nukleus raphe dorsalis, nukleus tegmentum
dorsalis.Telah ditemukan faktor pertumbuhan saraf pada neuron
kolinergik yang berdegenerasi pada lesi eksperimental binatang dan ini
merupakan harapan dalam pengobatan penyakit Alzheimer.
d. Perubahan vakuoler 

Merupakan suatu neuronal sitoplasma yang berbentuk oval dan dapat
menggeser nukleus. Jumlah vakuoler ini berhubungan secara bermakna
dengan jumlah NFT dan SP , perubahan ini sering didapatkan pada
korteks temporomedial, amygdala dan insula. Tidak pernah ditemukan
pada korteks frontalis, parietal, oksipital, hipokampus, serebelum dan
batang otak.
e. Lewy body 

Merupakan bagian sitoplasma intraneuronal yang banyak terdapat pada
enterhinal, gyrus cingulate, korteks insula, dan amygdala.Sejumlah
kecil pada korteks frontalis, temporal, parietalis, oksipital.Lewy body
kortikal ini sama dengan immunoreaktivitas yang terjadi pada lewy

16
body batang otak pada gambaran histopatologi penyakit parkinson.
Hansen et al menyatakan lewy body merupakan varian dari penyakit
Alzheimer.
2. Pemeriksaan neuropsikologik (7)
Penyakit Alzheimer selalu menimbulkan gejala demensia.Fungsi
pemeriksaan neuropsikologik ini untuk menentukan ada atau tidak adanya
gangguan fungsi kognitif umum dan mengetahui secara rinci pola defisit
yang terjadi.Tes psikologis ini juga bertujuan untuk menilai fungsi yang
ditampilkan oleh beberapa bagian otak yang berbeda-beda seperti
gangguan memori, kehilangan ekspresi, kalkulasi, perhatian, dan
pengertian berbahasa. Evaluasi neuropsikologis yang sistematik
mempunyai fungsi diagnostik yang penting karena:
a. Adanya defisit kognisi yang berhubungan dengan demensia awal yang
dapat diketahui bila terjadi perubahan ringan yang terjadi akibat
penuaan yang normal.
b.Pemeriksaan neuropsikologik secara komprehensif memungkinkan untuk
membedakan kelainan kognitif pada global demensia dengan defisit
selektif yang diakibatkan oleh disfungsi fokal, faktor metabolik, dan
gangguan psikiatri.
c. Mengidentifikasi gambaran kelainan neuropsikologik yang diakibatkan
oleh demensia karena berbagai penyebab.
The Consortium to establish a Registry for Alzheimer Disease
(CERALD) menyajikan suatu prosedur penilaian neuropsikologis dengan
mempergunakan alat yang bermanifestasi gangguan fungsi kognitif,
dimana pemeriksaannya terdiri dari:
1. Verbal fluency animal category
2. Modified boston naming test
3. Mini mental state

4. Word list memory
5. Constructional praxis
6. Word list recall


17
7. Word listr ecognition
Test ini memakan waktu 30-40 menit dan <20-30 menit pada control
3. CT Scan dan MRI (7)
Merupakan metode non invasif yang beresolusi tinggi untuk
melihat kuantifikasi perubahan volume jaringan otak pada penderita
Alzheimer antemortem.Pemeriksaan ini berperan dalam menyingkirkan
kemungkinan adanya penyebab demensia lainnya selain Alzheimer seperti
multi infark dan tumor serebri.Atropi kortikal menyeluruh dan pembesaran
ventrikel keduanya merupakan gambaran marker dominan yang sangat
spesifik pada penyakit ini. Tetapi gambaran ini juga didapatkan pada
demensia lainnya seperti multi infark, parkinson, binswanger sehingga kita
sukar untuk membedakan dengan penyakit Alzheimer. Penipisan
substansia alba serebri dan pembesaran ventrikel berkorelasi dengan
beratnya gejala klinik dan hasil pemeriksaan status mini mental. Pada MRI
ditemukan peningkatan intensitas pada daerah kortikal dan periventrikuler
(Capping anterior horn pada ventrikel lateral).Capping ini merupakan
predileksi untuk demensia awal.Selain didapatkan kelainan di kortikal,
gambaran atropi juga terlihat pada daerah subkortikal seperti adanya atropi
hipokampus, amigdala, serta pembesaran sisterna basalis dan fissura
sylvii.Seab et al, menyatakan MRI lebih sensitif untuk membedakan
demensia dari penyakit Alzheimer dengan penyebab lain, dengan
memperhatikan ukuran (atropi) dari hipokampus.
4. EEG (7)
Berguna untuk mengidentifikasi aktifitas bangkitan yang
subklinis.Sedang pada penyakit Alzheimer didapatkan perubahan
gelombang lambat pada lobus frontalis yang non spesifik.
5. PET (Positron Emission Tomography) (7)
Pada penderita Alzheimer, hasil PET ditemukan penurunan aliran
darah, metabolisme O, dan glukosa di daerah serebral. Uptake I. 123
sangat menurun pada regional parietal, hasil ini sangat berkorelasi dengan

18
kelainan fungsi kognisi dan selalu sesuai dengan hasil observasi penelitian
neuropatologi.
6. SPECT (Single Photon Emission Computed Tomography) (7)
Aktivitas I. 123 terendah pada regio parieral penderita Alzheimer.
Kelainan ini berkolerasi dengan tingkat kerusakan fungsional dan defisit
kognitif. Kedua pemeriksaan ini (SPECT dan PET) tidak digunakan secara
rutin.
G. DIAGNOSIS BANDING (8)
1. Delirium
Gangguan memori terjadi baik pada delirium maupun pada
demensia. Delirium juga dicirikan oleh menurunnya kemampuan untuk
mempertahankan dan memindahkan perhatian secara wajar. Gejala
delirium bersifat fluktuatif, sementara demensia menunjukkan gejala
yang relatif stabil. Gangguan kognitif yang bertahan tanpa perubahan
selama beberapa bulan lebih mengarah kepada demensia daripada
delirium. Delirium dapat menutupi gejala demensia. Dalam keadaan
sulit untuk membedakan apakah terjadi delirium atau demensia, maka
dianjurkan untuk memilih demensia sebagai diagnosis sementara, dan
mengamati penderita lebih lanjut secara cermat untuk menentukan
jenis gangguan yang sebenarnya.
2. Amnesia
Amnesia dicirikan oleg gangguan memori yang berat tanpa
gangguan fungsi kognitiflainnya (afasia, apraksia, agnosia, dan
gangguan fungsi eksekutif/daya abstraksi).
3. Retardasi Mental
Retardasi mental dicirikan oleh fungsi intelektual di bawah rata-
rata, yang diiringi oleh gangguan dalam penyesuaian diri, yang
awitannya di bawah 18 tahun. Apabila demensia tampak pada usia di
bawah 18 tahun, diagnosis demensia dan retardasi mental dapat
ditegakkan bersama-sama asal kriterianya terpenuhi.
4. Skizofrenia

19
Pada skizofrenia mungkin terjadi gangguan kognitif multipleks,
tetapi skizofrenia muncul pada usia lebih muda, disamping itu
dicirikan oleh pola gejala yang khas tanpa disertai etiologi yang
spesifik. Yang khas, gangguan kognitif pada skizofrenia jauh lebih
berat daripad gangguan kognitif pada demensia.
5. Depresi
Depresi yang berat dapat disertai keluhan tentang gangguan memori,
sulit berpikir dan berkonsentrasi, dan menurunnya kemampuan
intelektual secara menyeluruh. Kadang penderita menunjukkan
penampilan yang buruk pada pemeriksaan status mental dan
neuropsikologi. Terutama usia lanjut, sering kali sulit untuk
menentukan apakah gejala gangguan kognitif merupakan gejala
demensia atau depresi.
H. Penatalaksanaan (6)
Pengobatan penyakit Alzheimer masih sangat terbatas oleh karena
penyebab dan patofisiologis masih belum jelas. Pengobatan simptomatik
dan suportif seakan hanya memberikan rasa puas pada penderita dan
(6)
keluarga. Tidak ada pengobatan spesifik untuk penyakit Alzheimer .
Pemberian pengobatan pada penyakit alzheimer memiliki manfaat yang di
harapkan dapat memperbaiki kemampuan kognitif, respon global terhadap
(9).
pengobatan, tingkah laku, dan aktivitas sehari-hari serta kualitas hidup
Pengobatan secara simptomatik, sosial, terapi psikiatri dan dukungan
keluarga menjadi pilihan terapi yang digunakan saat ini.
Acetylcholinesterase inhibitors atau N-methylD-aspartate(NMDA)
inhibitor (Memantin) dapat meningkatkan fungsi kognitif pada penyakit
(6)
Alzheimer stadium awal. Dari 5 jenis pengobatan untuk penyakit
alzheimer, semuanya terbukti dapat membantu memperlambat penurunan
kognitif tetapi tidak begitu banyak. Semua juga telah di temukan
pengobatan ini dapat memberi respon terhadap keseluruhan kondisi pasien,
baik itu mengendalikan maupun mengurangi gejala (9).
1. Kolinesterase inhibitor (6)

20
Beberapa tahun terakhir ini, banyak peneliti menggunakan
inhibitor untuk pengobatan simptomatik penyakit Alzheimer, dimana pada
penderita Alzheimer didapatkan penurunan kadar asetilkolin.

Cholinesterase inhibitor telah diakui untuk pengobatan penyakit
Alzheimer ringan sampai sedang yang juga dapat dijadikan standar
perawatan untuk pasien dengan penyakit Alzheimer. Kerja farmakologis
dari Donepezil, rivastigmine, dan galantamine adalah menghambat
cholinesterase, dengan menghasilkan peningkatan kadar asetilkolin di otak
.Untuk mencegah penurunan kadar asetilkolin dapat digunakan anti
kolinesterase. Pemberian obat ini dikatakan dapat memperbaiki memori
dan apraksia selama pemberian berlangsung. 4 jenis kolinesterase inhibitor
yang paling sering digunakan adalah
a. Donepezil (merk dagang ARICEPT®) disetujui untuk pengobatan
semua tahap Alzheimer disease.
b. Galantamine (merk dagang RAZADYNE®) disetujui untuk tahap
ringan sampai sedang.
c. Rivastigmine (merk dagang EXELON®) untuk tahap ringan sampai
sedang.
d. Tacrine (COGNEX®) merupakan kolinesterase inhibitor pertama yang
disetujui untuk digunakan sejak tahun 1993, namun sudah jarang
digunakan saat ini karena faktor resiko efek sampingnya, salah satunya
adalah kerusakan hati.
Pemberian dosis dari ketiga cholinesterase inhibitor yang umum
digunakan adalah sebagai berikut :
a. Donepezil dimulai dengan dosis 5 mg per hari, kemudian dosis
ditingkatkan menjadi 10 mg per hari setelah satu bulan. Donepezil
bermanfaat dalam terapi penurunan kognisi pada pasien DA, berdasar
pada 13 RCT dan 2 buah review sistematik. Donepezil 10 mg lebih
efektif di bandingkan dengan donezepil 5 mg dal plasebo dalam hal
perubahan dari dasar pada Alzheimer Disease Assessment Scale-
Cignition (ADAS-Cog) (10)

21
b. Dosis rivastigmine ditingkatkan dari 1,5 mg dua kali sehari sampai 3
mg dua kali sehari, kemudian menjadi 4,5 mg dua kali sehari, dan
untuk maksimal dosis 6 mg dua kali sehari. Bukti dari 3 buah review
sistematik, 4 buah RCT rivastigmine bermanfaat untuk dementia
alzheimer pada dosis tinggi (6-12 mg/hari) (10)
c. Galantamine dimulai dengan dosis 4 mg dua kali sehari. Pertamatama,
dosis ditingkatkan menjadi 8 mg dua kali sehari dan akhirnya sampai
12 mg dua kali sehari. Seperti rivastigmine, waktu yang lebih lama
antara peningkatan dosis berhubungan dengan penurunan efek
samping. Pengobatan sehari-hari dengan donepezil memberikan hasil
yang efektif dalam kisaran dosis 5 sampai 10 mg; Rivastigmine,
dalam kisaran 6 sampai 12 mg; serta galantamine , dalam kisaran dari
16 sampai 24 mg.
2. Memantin (6)
Memantin merupakan obat yang telah diakui oleh Food and Drug
Administration (FDA) untuk pengobatan penyakit Alzheimer sedang
sampai berat. Dosis awal untuk penggunaan Memantin adalah 5 mg
perhari, kemudian dosis ditingkatkan berdasarkan penelitian, hingga 10
mg dua kali sehari. Memantine tampaknya bekerja dengan cara memblok
saluran N-methyl-D-aspartate (NMDA) yang berlebihan. Memantine yang
dikombinasikan dengan cholinesterase inhibitor maupun yang tidak,
tampaknya dapat memperlambat kerusakan kognitif pada pasien dengan
AD yang moderat.
3. Thiamin (6)
Penelitian telah membuktikan bahwa pada penderita Alzheimer
didapatkan penurunan thiamin pyrophosphatase dependent enzym yaitu 2
ketoglutarate (75%) dan transketolase (45%), hal ini disebabkan kerusakan
neuronal pada nukleus basalis. Pemberian thiamin hydrochlorida dengan
dosis 3 gr/hari selama 3 bulan peroral, menunjukkan perbaikan bermakna
terhadap fungsi kognisi dibandingkan placebo selama periode yang sama.
4. Haloperiodol (6)

22
Pada penderita Alzheimer, sering kali terjadi gangguan psikosis
(delusi, halusinasi) dan tingkah laku. Pemberian oral Haloperiod 1-5
mg/hari selama 4 minggu akan memperbaiki gejala tersebut. Bila penderita
Alzheimer menderita depresi sebaiknya diberikan tricyclic anti depresant
(Amitryptiline 25-100 mg/hari)
5. Acetyl L-Carnitine (ALC) (6)
Merupakan suatu subtrat endogen yang disintesa di dalam
mitokondria dengan bantuan enzim ALC transferase. Penelitian ini
menunjukkan bahwa ALC dapat meningkatkan aktivitas
asetilkolinesterase, kolin asetiltransferase. Pada pemberian dosis 1-2
gr/hari/peroral selama 1 tahun dalam pengobatan, disimpulkan bahwa
dapat memperbaiki atau menghambat progresifitas kerusakan fungsi
kognitif.
6. Antioksidan (6)
Pada pasien dengan AD sedang-berat, penggunaan antioksidan
selegiline, a-tokoferol (vitamin E), atau keduanya, memperlambat proses
kematian. Karena vitamin E memiliki potensi yang rendah untuk
toksisitas dari selegiline, dan juga lebih murah, dosis yang digunakan
dalam penelitian untuk diberikan kepada pasien AD adalah 1000 IU dua
kali sehari. Namun, efek yang menguntungkan dari vitamin E tetap
kontroversial, dan sebagian peneliti tidak lagi memberikan dalam dosis
tinggi karena ternyata memiliki potensi dalam menimbulkan komplikasi
kardiovaskular.
I. Prognosis (6)
Dari pemeriksaan klinis pada 42 penderita probable Alzheimer
menunjukkan bahwa nilai prognostik tergantung pada 3 faktor yaitu:
 Derajat beratnya penyakit
 Variabilitas gambaran klinis
 Perbedaan individual seperti usia, keluarga demensia, dan jenis
kelamin.

23
Ketiga faktor ini diuji secara statistik, ternyata faktor pertama yang
paling mempengaruhi prognostik penderita Alzheimer. Pasien dengan
penyakit Alzheimer mempunyai angka harapan hidup rata-rata 4-10 tahun
sesudah diagnosis dan biasanya meninggal dunia akibat infeksi sekunder.

24
Daftar Pustaka

1. Japardi I. 2002. Penyakit Alzheimer. Medan : USU digital Library


2. Duthey B. 2004. Alzheimer Disease and oOther Dementias. USA :
Background Paper 6.11
3. Price S. Wilson, Lorraine M. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-
Proses Penykit Edisi 6 Volume 2. Jakarta : EGC.
4. Sherwood L. 2001. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
5. Hernanta I. 2003. Ilmu Kedokteran Lengkap Tentang Neurosains.
Yogyakarta : D-Medika.
6. Anonim.2013. Bahan Ajar I Penyakit Alzheimer. Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara.
7. Darmojo B. 2014. Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut) Ed. 5.
Jakarta : Balai Penerbitan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
8. Harsono. 2009. Kapita Selekta Neurologi Ed. 2. Yogyakarta : Gadjah
Mada Universitas Press.
9. Consumers Union Team. 2012. Evaluating Presciption Drugs Used Treat :
Alzhemer’s Disease Comparing Effectiveness, safety, Price. USA :
Consumer Report Best Buy Drugs.
10. Anam ,P. 2015. Panduan Praktik Klinik Diagnosis dan penatalaksanaan
Demensia. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia.

25