Anda di halaman 1dari 5

Dalam hidup selalu ada yang menjadi pertama kali, pertama kali sekolah, pertama kali

kenal dengan seseorang, pertama kali jatuh cinta yang berakhir dengan luka. Seperti halnya aku,
pertama kali mendapatkan gelar sarjana. Ya, aku pertama kali dalam keluarga yang medapatkan
gelar sarjana. Tepat 4 tahun 13 bulan yang lalu, aku mendapatkan gelar sarjana itu. Aku teringat
pertama kali aku mengatakan, aku ingin melanjutkan kuliah. Keluargaku menolaknya. “kuliah itu
nggak ada gunanya, Mending jadi TNI atau polisi saja yang jelas duitnya.” jelas mereka. Aku tau
maksud mereka baik, untuk masa depan aku yang kan datang. Tapi aku punya mimpi berbeda
dengan mereka. Masih ada mimpi besar yang harus aku kejar. Mimpi ini pasti bisa aku wujudkan.
Aku tau itu pasti sulit, tidak mudah merubah hidupku, akan ada banyak kesulitan dalam proses
mewujudkannya. Aku akan mendapat banyak, banyak sekali kekecewaan, banyak kegagalan yang
kan menghampiri, banyak pula rasa sakit yang kan ku terima nanti. Akan ada saatnya aku
meragukan diriku sendiri, serta akan ada banyak badai cobaan yang kan datang. tapi aku tidak akan
meyerah dengan mimpiku. Badai cobaan akan datang, tapi bukan untuk selamanya. Badai pasti
berlalu!. Namun keluargaku tetap tidak mengizinkanku untuk kuliah. Sampai terlontar sebuah
ucapan.
“Kalo kamu kuliah, uang jajan, rumah tempat tinggal, makan, semuanya tidak abang
tanggung lagi” ujar abangku.
Kami bukan orang yang berada, kami hanyalah anak kampung, kedua orang tuaku juga
telah meninggal sejak aku kecil, ibuku meninggal ketika aku berumur 3 tahun, kemudian ayahku
menyusul ibu ketika aku berumur 4 tahun. Kemudian aku diasuh oleh seorang kakak yang bernama
barsiah. Yukba adalah pangilanku ke kakakku bukan cilukba, tapi yukba. Nah saat itulah aku
dikasih tau namaku itu adalah eko wahyu setelah aku naik ke kelas 2 SD kemudian aku diasuh
oleh abang pertamaku, namanya sunaryo golongan darahnya O, penting ngak sih?. Oya ketika aku
dikelas 2, namaku otomatis berubah menjadi eko wahyudi, loh kok bisa? Jangankan kamu, aku
sendiri aja binggung kenapa namaku berubah-ubah dan pada akhirnya saat aku beranjak dewasa,
Ayikkk, beranjak dewasa. Ternyata oh ternyata nama asliku adalah eko nurwahyudi. Bukan
namaku saja yang salah, akan tetapi nama kedua orang tuaku dan tanggal lahirku juga salah. Nama
ayahku karyodono, padahal aslinya karyodiono, sedangkan nama ibuku siapa ya?. Hmmmm
sampai sekarang aku masih binggung, kata yukbar nama ibuku hariyanti, namun kata abang
pertama ku yang golongan darahnya O tadi nama ibuku Siti. Yaudah, aku gabungin aja jadi Siti
Haryanti, eh aku dengar dari orang kampung nama ibuku tiwo. Aku tuh binggung harus gimana,
please tuhan tolong baim.
********
Pada akhirnya aku membulatkan tekad untuk tetap melanjutkan kuliah, namun aku tak
punya apa-apa, jangankan rumah untuk ku tinggal, disaku celanaku hanya 23.500 saja uang yang
aku punya. Serta sepeda pemberian abangku ketika aku SMA. Namun aku harus tetap melanjutkan
kuliah, apapun yang kan terjadi. Ada beberapa langkah yang harus aku kerjakan terlebih dahulu.
Langkah pertama adalah mencari rumah tempatku tinggal, aku ingin mencari kos, tapi aku tak
mempunyai uang, apalagi kalo sewa rumah kos, harus bayar terlebih dahulu baru dapat digunakan.
Aku mengayuh pedal sepadaku, aku ingin keliling mencari angin sembari mencari ide untuk
tempatku tinggal. Jauh sudah aku berjalan, rasa letih dan haus pun datang. Aku berhenti di sebuah
warung milik Pak Abang. Pak Abang merupakan seorang teknisi yang berkerja di sekolahku. Aku
memesan air mineral satu sembaring duduk dibangku yang telah disediakan.
“Kenapa ko, kok terlihat sedih gitu?” Pak abang menghapiriku sambil duduk disampingku.
Awalnya aku enggan meceritakan masalahku, aku malu, namun aku mencoba
memberanikan diri untuk meceritakannya.
“Tinggal disini aja ko sama bapak untuk sementara waktu, sampai nanti eko dapat rumah
baru” ujar pak abang sambil tersenyum kepadaku.
Pak abang memang terkenal baik dan ramah kesemua orang. Alhamdulillah aku
mendapatkan tempat tinggal. Wajahku mulai riang kembali. Kemudian langkah keduaku yaitu
mencari sebuah perkerjaan, aku ada seorang kenalan yang berkerja di sebuah fotocopy dan ia
mengajaku untuk membantunya disitu. Setiap hari ada bapak-bapak datang mengantarkan koran
ke tempatku kerja. Seperti biasa aku tak mengubris koran itu, namun dari kejauhan aku melihat
ada tulisan KFC membuka lowongan kerja. Dengan sigapnya aku mengambil koran itu. Ini kali
pertama aku tertarik dengan koran, biasanya aku membaca koran hanya mehilangkan rasa jenuhku
saja. “Ini kesempatanku untuk mengumpulkan duit untuk daftar kuliah” ujarku dalam hati. Aku
mempersiapkan semua berkas yang dibutuhkan untuk mendaftar di KFC. Tiba suatu hari, hari
dimana kami dipanggil untuk wawancara. Mereka yang datang wawancara mengenakan baju serba
putih dengan celana hitam dan sepatu yang terlihat sedap untuk dipandang. Aku melirik lagi, aku,
aku salah baju, bajuku warna hijau berbaut biru lusuh serta celana jeans yang telah aku jahit di
lututnya dan sendal jepit yang hampir putus ujungnya. Ya Allah, kenapa bisa gini. Tapi, aku tak
boleh terlihat lesuh, aku harus ceria, karena ini adalah kesempatanku untuk kuliah. Aku duduk di
dalam suatu ruangan, walaupun tampak berbeda sendiri, tak jarang mereka melirikku sambil
senyum-seyum dengan temannya.
“Siapa disini yang belum pernah makan KFC, angkat tangan” ujar bapak-bapak didepan
yang mengenakan baju KFC
Aku tak sadar, tangganku terangkat dengan sendirinya, ku lihat kiri kanan hanya aku
sendiri yang mengangkat tangan, mereka semua tertawa. Jujur aku malu kala itu, namun aku juga
ingin jujur kalau aku tidak pernah makan KFC.
“Ya kamu, yang baju hijau, kamu nanti turun kebawah, minta KFC 1, bilang saya yang
nyuruh” ujarnya lagi.
Aku mengangukan kepala, sambil malu bercampur senang, akhirnya dapat makan KFC
gratis. Pada akhirnya aku berkerja di KFC, namun masalah baru datang. KFC tidak
memperbolehkan karyawannya untuk kuliah. Namun tekadku tetap bulat impianku bukanlah di
KFC, aku hanya mengumpulkan duit untukku kuliah. Beberapa bulan aku berkerja di KFC, hari
pendaftaran SBMPTN (jalur masuk kuliah) telah dibuka. Aku pun mendaftar diam-diam tanpa
sepengetahuan pihak KFC. Jadwal kuliah pun tiba, tak jarang jadwal kuliahku berbenturan dengan
jadwal shift kerjaku di KFC. Pada akhirnya mereka tau, karna aku sering merubah jadwal shift
KFC yang telah ditetapkan. Dan pada akhirnya aku mengundurkan diri dari KFC. Sampai-sampai
teman KFC-ku mengatakan kalau aku itu bodoh, udah di KFC gajinya besar dan mau di angkat
jadi kepala kasir malah keluar. Aku tau ini tak mudah bagiku, tapi KFC bukanlah mimpiku selama
ini. Maaf mungkin aku egois, tapi ini salah satu jalan menggapai mimpiku. Seperti target awalku
setelah aku diterima kuliah langkah selanjutnya yaitu mencari beasiswa. Setelah 2 bulan kuliah,
akhirnya aku mencari beasiswa bersama sahabatku Andi namanya, anaknya Pak Andi dan Ibu
Andi serta Andi juga nama adiknya. Jadi kalo kerumahnya kita panggil Andi, satu keluarga keluar.
Aku mendapatkan kabar dari kak Atun, kakak leting ketika aku SMA. Bahwa beasiswa
Etos sedang dibuka pendaftaran, aku bergegas mencoba daftar serta doa yang tak luput aku
panjatkan setiap malamku, aku ingin mendapatkan beasiswa etos ini, sehingga aku tak merepotkan
pak Abang lagi. Berapa hari kemudian aku dinyatakan lulus dan aku harus pidah ke asrama Etos
dan meminta izin ke Pak Abang serta mengucapkan terimakasih. Tak ada linangan air mata di
antara kami. Soalnya aku hanya pindah beberapa meter saja dari rumahnya. Singkat cerita 2 bulan
kemudian aku mendapatkan tawaran beasiswa PTTEP. Semua Itu berkat bantuan Bang Sanusi
sebagai pendamping Etos yang telah banyak membantu untuk mempromosikanku ke beasiswa
PTTEP.
Setiap tahun PTTEP mengadakan sebuah gathering di jakarta. Aku juga mendapatkan
undangan tersebut. Ini kali pertama aku naik pesawat. Aku nggak pernah terbayang sebelumnya,
anak kampung bisa naik pesawat. Kemudian aku bertanya ke abang aku, tutorial naik pesawat.
Maklum baru pertama kali naik pesawat. Ternyata abang juga tak tau cara naik pesawat. Akhirnya
aku coba cari tutorial naik pesawat di internet. Katanya naik pesawat, pertama kali harus beli tiket
terlebih dulu, Oke tiket udah di beliin sama orang PTTEP. Langkah kedua 1 jam sebelum
berangkat, harus Chek-In terlebih dahulu. Oke aku udah Chek-In. Yang ke 3 jangan salah masuk
pesawat, masuk pesawat ketika disuruh aja. Oke aku naek pesawat pas di panggil “Saudara eko,
pesawat mau berangkat”, Nah itu dia namaku dipanggil. Pas udah didalam pesawat, aku bingung,
soalnya nggak ada tutorial cara duduk dipesawat. Sedangkan pesawat itu bangkunya banyak
banget, bingung milihnya. “Mungkin duduknya bebas kali ya, seperti pas duduk dikelas”.
Gumamku dalam hati sambil melirik tempat duduknya nyaman
Yaudah deh, aku bergegas mencari tempat duduk yang cocok, tempat duduk yang bisa
mendapatkan angle yang bagus untuk foto sayap pesawat. Aku enggan nanyak-nanyak ntar dikira
anak kampung pula, masak cara duduk dipesawat aja ngak tau. “Idiiih”. Pada akhirnya pilihanku
jatuh kenomor 34F, pas banget tempatnya dekat jendala dan angle sayap pesawat terlihat bagus
dari sini. Dan pada akhirnya menjadi tempat duduk favoritku sampai saat ini.
Pas lagi enak-enaknya duduk, eh ada ibu-ibu, “maaf dek itu tempat duduk saya” sambil
memperlihatkan tiket yang menunjukkan nomor tempat duduknya. Bersamaan ada pula pramugari,
“ada masalah apa buk?”, “ini tempat duduk saya”, “maaf pak, boleh lihat tiketnya? oh ini bapak
duduknya di nomor 26C, nomor tempat duduknya dapat dilihat dikabin ya pak” sambil
melontarkan senyum. Wadidaww, ketahuankan anak kampungnya. Aku bergegas beranjak
menujuk tempat duduk yang telah disediakan didalam hati kecilku perasaan malu bercampur sedih,
bercampur ketawa menghiasi hati.
**********
Hotel Anton adalah tempat menginap kami, kami dibagi 2 orang perkamar. Aku sama
Shobah, mahasiswa dari malang. Hal memalukan pun terjadi lagi. Ketika kami naik lift, ini juga
kali pertama aku naik lift. Pertama kali naik lift aku bersama teman-temanku lainnya. Aku
memperhatiin dengan seksama cara mereka menekan tombol yang ada pada lift. Liftpun jalan
menuju nomor yang ditekan tadi. Setelah sampai di atas, aku begegas ke kamar untuk meletakkan
tas. Aku izin ke shobah untuk turun kebawah. Padahal aku hanya ingin coba naik lift lagi, soalnya
masih penasaran. Kemudian aku tekan tombol-tombol yang ada pada lift, loh-loh kok nggak gerak-
gerak liftnya, aku tambah penasaran, aku menekan tombolnya lagi, masih sama, liftnya tetap nggak
bergerak. Padahal tadi aku lihat mereka tekan tombol, liftpun langsung bergerak, ini kenapa ya?
Apa mungkin liftnya rusak kali ya? tiba-tiba ada suara ibu-ibu dari belakang.
“Bisa dek” sambil melontarkan senyumnya kepadaku
“Nggak bu, kyaknya rusak nih lift”
“Sini ibu lihat, owalah tempel kartu kamarnya dulu baru bisa gerak” sambil terseyum
Sreetttt lift gerak, ya ampun, ketahuan lagi aku anak kampung yang baru pertama kali naik
lift. Malu, gundah, gulana menerpaku. Sangking penasarannya aku, aku bolak balik aja tu naik
liftnya, turun naik sampai 5 kali lebih sambil ketawa didalam hati. “Owh gini toh rasanya naik lift,
kampungan banget sih, ini aja nggak tahu” gumamku dalam hati.
Dan lebih parahya lagi pas gunain urinoir otomatis di hotel, yang belum tau urioir itu
tempat kencing para lelaki, terus dia bisa nyiram otomatis pas selesai. “Ini cara ceboknya gimana?
airnya kok nggak keluar ya? apa pakek tisu? hmmm nggak mungkin, apa nggak cebok kali ya….
lah jijik banget”. Aku masih berdiri sambil mikirin gimana cara ini cebok. Mataku tertuju ke satu
titik, Ya vas bunga yang ada di pojok wastafel, mumpung keadaan sedang sepi tak fikir panjang
aku bergegas menganmbil vas bunga tersebut, kemudian aku mengeluarkan bunganya sedangkan
vasnya aku isi air dari wastafel. “Ahhh,,,,, akhirnya bisa cebok juga”.
********
Kini aku ini melanjutkan mimpiku selanjutnya. Bukan, bukan mimpi melanjutkan S2-ku
ke jepang, tapi ada mimpi yang lebih besar dari itu. Ya, aku ingin melamarnya. wanita yang telah
aku tunggu 6 tahun yang lalu. Wanita, yang hanya bisa aku cintai dalam diamku, wanita yang
disetiap malamku aku diskusikan dengan tuhanku. Aku ingin melamarnya. Sejujurnya, dulu aku
sempat minder untuk mencintainya. Dia seorang dokter, orang berada, dan juga aktif diberbagai
kegiatan. Lah aku ini siapa? aku hanyalah anak kampung. Pernah jadi pemulung hanya untuk bisa
makan. Pernah juga terluntang-lantung mencari tempat tinggal, mustahil rasanya untuk bisa
menikahinya. Ketika aku mencoba mendekatkan diri ke Allah, seketika rasa minder kian memudar,
semakin aku dekat semakin memudar pula rasa minder itu. Aku sering mengatakan kepada teman-
teman saat aku menjadi narasumber diberbagai acara. Tips agar dia yang kita cintai dekat dengan
kita itu seperti segitiga. Allah itu di atas dan kita berada di setiap sudut bawah, semakin dekat kita
dengan Allah, semakin dekat pula dia sama kita. Libatkan Allah disetiap keinginan kita. Misalnya
kita mau ini, mau itu atau mau apalah minta sama Allah, Ya Allah saya mau jodoh, Ya Allah saya
mau lamar dia, tapi duitnya belum cukup gitu, minta sama Allah, jangan minta sama makhluk.
“Maa Wadda'aka Rabbuka Wamaa Qalaa (Ad-Dhuha ayat 3). Allah itu selalu ada sama kita, Allah
itu pasti dengar semua doa-doa yang kita minta. Kata Ulama segala sesuatu didunia ini, akan pergi
dan tak akan kembali kecuali doa, maksudnya pergi menghadap Allah dan ia kembali kepada yang
meminta, satu satunya yang pergi dan kembali ke dunia ini hanyalah doa. Kalo ada masalah curhat
sama Allah tapi jangan pernah bilang ya Allah aku punya masalah besar nih, tapi katakanlah “hei
masalah aku punya Allah yang maha besar”. Seperti halnya kita mencintai seseorang jangan curhat
ke orangnya tapi curhatlah ke pemilik hatinya, siapa??? Allah SWT. Diskusikan namanya di 1/3
malam kita, karena cinta sejati itu, dimana ia nggak tau kalo namanya kita diskusikan dengan
Allah. “Inni Qoribon” Allah itu dekat, pasti dengar semua yang kita curhatin, “Atstsiqoh Billah”
percaya deh sama Allah.
Pendirianku telah bulat aku ingin melamarnya hari ini, hari ini mungkin menjadi sejarah
baru dalam hidupku. Bissmillah.
“Kedatangan saya kesini, ingin melamar putri bapak” ujarku
“memang kamu punya modal apa?”
“Allah pak”
“Waduh ini pake bawa-bawa Allah lagi. Ya sih Allah, yang keliatan apa? Kan Allah gak
kelihatan”
“Walaupun gak keliatan, Allah lebih pasti pak. Allah berfirman: kalau mereka fakir, Allah
akan memberikan mereka kecukupan”
“Oh ya bener, saya tau ayat itu, terus?”
“Rasullah bersabda: Kalau datang seorang laki-laki yang baik akhlaknya melamar putri
kalian jangan ditolak”
"Wah... Udah pake Allah, pakek Rasul, berat ini"
“Jadi gimana pak?”
“Hmm… Sulit ini…K..”
Tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara membangunkanku.
“Ko bangun, udah subuh, siap-siap wisuda”
“Lontong kue so so”.

*Kue : Kamu (dalam bahasa jawa)