Anda di halaman 1dari 19

Volume 1, Nomor 1, Pebruari 2015

ISSN : 2356-4164

PERJANJIAN KREDIT PERBANKAN KONVENSIONAL


DAN AKAD PEMBIAYAAN PERBANKAN SYARIAH :
SUATU TINJAUAN DESKRIPTIF DALAM HUKUM DI INDONESIA

Miftah Idris
Fakultas Hukum
Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai
E-mail : miftah.idris@mail.ugm.ac.id

ABSTRAK
Di dalam penyaluran dana, sistem yang dianut perbankan konvensional maupun
perbankan syariah hampir sama dalam menyalurkan dananya baik itu dengan
pemberian kredit maupun pemberian pembiayaan oleh bank kepada nasabahnya.
Namun secara spesifik ada landasan hukum perjanjian atau akad yang
membedakannya dimana jika perbankan konvensional lebih berlandaskan pada
hukum perjanjian dalam KUHPerdata sedangkan dalam perbankan syariah lebih
berlandaskan pada hukum akad yang diatur dalam syariat Islam (hukum Islam).
Masalah yang dikaji dalam tulisan adalah bagaimana sebenarnya perjanjian kredit
dalam perbankan konvensional dan bagaimana akad pembiayaan dalam
perbankan syariah. Untuk mengetahui permasalahan tersebut maka akan
digunakan jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan jenis data sekunder
sebagai sumber data dari tulisan ini dan kemudian dianalisis secara kualitatif.
Sehingga didapat kesimpulan bahwa dalam Perjanjian Kredit adalah suatu proses
awal antara kreditor dan debitor yang diterapkan dalam sistem perbankan
konvensional dalam upayanya untuk mengembangkan dana yang telah
dihimpunnya dan juga untuk dimanfaatkan dananya dengan sebaik-baiknya.
Menurut asasnya perjanjian tersebut menganut sistem terbuka yang mengandung
asas kebebasan membuat perjanjian, dan menurut bentuknya perjanjian kredit
dalam perbankan konvensional ada yang dibuat di bawah tangan dan ada pula
dibuat di hadapan notaris sedangkan akad pembiayaan dalam perbankan syariah
juga adalah proses awal untuk pengembangan dana, namun akad pembiayaan
perbankan syariah menganut sistem bagi untung dan rugi (Profit and Loss
Sharing). Konsep kebersamaan dalam menghadapi risiko dan memperoleh
keuntungan, serta adanya keadilan dalam berusaha adalah prinsip dasar dari
sistem perbankan syariah. Sehingga penulis menyarankan idealnya baik
pemberian pinjaman uang melalui kredit yang dianut dalam sistem perbankan
konvensional maupun pemberian pembiayaan yang dianut dalam sistem
perbankan syariah kepada debitor dan mudharib sejatinya adalah bertujuan satu
yaitu untuk membantu mensejahterahkan masyarakat secara adil dan merata.

Keywords: Perjanjian, Kredit, Pembiayaan, Perbankan Konvensiona, Syariah.

ABSTRACT
In distribution of fund, the system adopted by conventional banking and Islamic
banking is almost the same in distributing the fund with the provision of credit and of
financing by banks to their customers. There is specifically legal basis of contract
(aqad) that distinguishes where conventional banking is based on the contract law in

Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja | 24


Volume 1, Nomor 1, Pebruari 2015
ISSN : 2356-4164

Burgerlijk Wetboek and Islamic banking is based on aqad law stipulated in Islamic
Sharia (Islamic Law). Problems studied in this research is how the credit contract in
the conventional banking and how aqad financing in islamic banking are actually. To
know the problem, it will be used descriptive study using secondary data as the data
source of this research and then analyzed qualitatively. Thus concluded that the
credit contract is a beginning process between the creditor and debtor which are
applied in the conventional banking system in its efforts to develop funds collected
and also to utilize the funds with the best. But Islamic banking financing adheresses
to the profit and loss sharing system that has a unity concept in facing of risk and
benefit and also existed justice in bussiness is the basic principle of Islamic banking
system. Advice author, ideally lending money through credit in conventional banking
and financing in Islamic banking to debtor (mudharib) is truely one aiming to help
communities prosper in a fair and equitable.

Keywords: contract, credit, financing, conventional banking, and sharia.

Pendahuluan pendapat sebagian besar dari para


Aktivitas yang paling utama ulama bahwa bunga itu adalah haram
lembaga perbankan baik itu hukumnya di dalam Islam.
konvensional maupun syariah (bank Di dalam menyalurkan dananya,
Islam) adalah menghimpun dana dan dalam bentuk kredit maupun
menyalurkan dananya dalam bentuk pembiayaan, bank pada umumnya
perkreditan atau pembiayaan kepada hampir sama dalam pelaksanaan
masyarakat (Ikatan Bankir Indonesia, perjanjiannya (‘aqad/contract/akad)
2014). Pengistilah kredit banyak yaitu dengan melihat beberapa
dipakai dalam sistem perbankan pertimbangan dengan menerapkan
konvensional yang berbasis pada asas kehati-hatian dalam
bunga (interest based), sedangkan pelaksanaannya. Hal ini menjadi poin
dalam hukum perbankan syariah penting dalam suatu perjanjian yang
lebih dikenal dengan istilah diterapkan oleh bank, agar baik bank
pembiayaan (financing) yang berbasis maupun nasabah bisa menjadi saling
pada keuntungan riil yang menguntungkan satu sama lain
dikehendaki (margin) ataupun bagi setelah pemberian kredit dan
hasil (profit sharing) (Ghofur;2007). pembiayaan nantinya.
Secara prinsip, dua bank ini Perjanjian dalam pemberian
dibedakan dengan satu hal yaitu kredit dan pembiayaan yang
sistem bunga. Di mana perbankan dilakukan bank adalah hal yang
konvensional menerapkan sistem paling penting untuk diperhatikan
bunga sedangkan perbankan syariah oleh bank maupun nasabah, karena
tidak sama sekali menerapkan sistem hal inilah tahap awal bagi bank dan
bunga melainkan sistem bagi hasil. nasabah dalam melaksanakan suatu
Hal ini tidak lepas dari hukum dasar perjanjian yang telah disepakatinya
yang dianut dalam pembentukan nanti.
perbankan syariah yaitu penerapan Di dalam proses, pemberian
hukum Islam, di mana tidak kredit yang di lakukan oleh bank
diperbolehkan menerapkan yang konvensional dalam menghimpun
namanya bunga yang menurut dana dengan mengeluarkan kredit

Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja | 25


Volume 1, Nomor 1, Pebruari 2015
ISSN : 2356-4164

kepada debitor. Agar dana yang menyalurkan dana atau pembiayaan


dihimpunnya dapat berkembang menggunakan metode bagi hasil yang
pesat, bank konvensional disepakati satu sama lain (ijab qabul)
menawarkan bunga yang menarik antara bank dan nasabah yang telah
kepada debitor, dalam artian yang sesuai dengan fatwa Dewan Syariah
rendah. Agar debitor dapat Nasional (DSN).
mempergiat usahanya yang pada Proporsi bagi hasil didasarkan
gilirannya dapat memacu atas jumlah keuntungan usaha yang
pertumbuhan ekonomi. Sebab tingkat diperoleh debitur, di mana pada bank
bunga kredit yang tinggi bisa syariah tidak ditentukan keuntungan
menyebabkan produktivitas pasti yang diterapkan pada awal
masyarakat sebagai debitor akan perjanjian, yang berbeda dengan
macet dan calon debitor juga akan bank konvensional yang sudah
enggan untuk melakukan pinjaman memastikan keuntungannya dengan
kredit ke bank jika bunga yang jumlah bunga yang diberikan kepada
diberikan sangat tinggi. debitor, namun pada bank syariah
Di satu sisi jika calon debitor keuntungan di muka hanya
enggan untuk melakukan pinjaman, dimungkinkan untuk akad-akad
maka proses penyaluran dana yang (perjanjian) jual-beli melalui
diterapkan untuk meraup pembiayaan kepemilkan barang.
keuntungan lewat bunga dalam bank Baik bank konvensional
konvensional tidak akan berjalan maupun bank syariah adalah dua
yang dampaknya akan membuat bank jenis bank yang memiliki kesamaan
tersebut akan mengalami kerugian dan perbedaan dalam perjanjian
(Wibowo;2005), Sehingga istilah ini kredit dan akad pembiayaan yang
sering disebut dengan simbiosis prinsipil, dan hal inilah yang
mutualis (Tim Prima Pena;2006) membuat penulis akan mengkaji hal
(saling hidup-menghidupi satu sama tersebut. Berawal dari uraian latar
lain). belakang tersebut sehingga didapat
Berbeda dengan bank syariah akar masalah yang diformulasikan
yang tidak menggunaan bunga dalam rumusan masalah sebagai
melainkan menggunakan sistem berikut:
keuntungan dan rugi (profit and loss 1. Bagaimana Perjanjian Kredit
sharing) maksudnya adalah memiliki dalam Perbankan Konvensional?
konsep kebersamaan dalam 2. Bagaimana Akad Pembiayaan
menghadapi resiko rugi dan dalam Perbankan Syariah?
memperoleh keuntungan.
Dalam melakukan perjanjian Metode Penelitian
kredit untuk meminjam modal, bank Jenis Penelitian
konvensional lebih melihat dari apa Jenis penelitian yang digunakan
yang menjadi pinjaman yaitu utang adalah Penelitian Deskriptif yaitu
pokok ditambah bunga, jadi memberikan gambaran perjanjian
peminjaman modal atau kredit ini kredit yang ada dalam perbankan
tidak terlepas dari metode bunga konvensional dan akad pembiayaan
yang merupakan sumber utama dari yang ada dalam perbankan syariah,
pendapatan bank konvensional, sehingga akan didapatkan penjelasan
sedangkan pada bank syariah dalam

Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja | 26


Volume 1, Nomor 1, Pebruari 2015
ISSN : 2356-4164

secara luas mengenai pembahasan Perjanjian atau juga disebut


yang dikaji. persetujuan sebagaimana dimaksud
Jenis Data dalam Pasal 1313 KUHPerdata “suatu
Jenis data yang digunakan persetujuan adalah suatu perbuatan
adalah jenis data sekunder dimana dimana satu orang atau lebih
data yang dihasilkan dari penelitian mengikatkan diri terhadap satu orang
ini adalah data pustaka atau data lain atau lebih” dan Pasal 1314
sekunder. Untuk memperoleh data KUHPerdata yaitu “suatu persetujuan
sekunder ini penulis melakukan diadakan dengan cuma-cuma atau
penelusuran terhadap bahan hukum dengan memberatkan. Suatu
primer, sekunder dan tertier. persetujuan Cuma-Cuma adalah suatu
Teknik Penyelesaian Masalah persetujuan, bahwa pihak yang satu
Setelah mendapatkan data yang akan memberikan suatu keuntungan
terkait penelitian ini maka kemudian kepada pihak yang lain tanpa
data akan dianalisis dengan beberapa menerima imbalan. Suatu persetujuan
cara untuk mendapatkan hasil memberatkan adalah suatu
penelitian yang kualitatif nantinya. persetujuan yang mewajibkan tiap
Cara yang umum digunakan yaitu pihak untuk memberikan sesuatu,
data diklasifikasikan kemudian data melakukan sesuatu atau tidak
tersebut disistematisasikan lalu melakukan sesuatu.”.
kemudian diinterpretasikan. Setelah Maksud dari kutipan dalam
proses tersebut dilalui, maka yang pasal tersebut adalah suatu peristiwa
terakhir data tersebut akan kembali di mana dua orang atau pihak saling
dievaluasi untuk mendukung berjanji untuk melakukan suatu hal
penyelesaian suatu masalah dalam atau suatu persetujuan yang dibuat
penelitian (Soekanto;2006). oleh dua pihak atau lebih, masing-
masing bersepakat akan menaati apa
Hasil Penelitian dan Pembahasan yang disebut dalam persetujuan itu.
Pengertian Menurut pakar hukum Wirjono
Perjanjian atau Akad Prodjodikoro bahwa perjanjian
Charles Fried mengatakan “in adalah suatu hubungan hukum
Contract as Promise, the basis of mengenai harta benda kekayaan
contract is promise and contract law is antara dua pihak, di mana satu pihak
‘built on’ the enforcement of promises”. berjanji atau dianggap berjanji untuk
Bahwa dia mengkarakteristikkan melakukan suatu hal atau untuk tidak
perjanjian sebagai sumpah, dan dasar melakukan suatu hal, sedang pihak
dari perjanjian itu sendiri adalah lain berhak menuntut pelaksanaan
sumpah dan hukum perjanjian janji itu (Prodjodikoro;1991).
(contract law) yang dibangun untuk Berbeda dengan hal tersebut, di
penegakan hukum itu sendiri adalah dalam hukum Islam (syariah) kata
sumpah. perjanjian berasal dari kata ‘aqad
Perjanjian secara etimologi (selanjutnya disebut akad) yang
adalah ikatan, sedangkan secara secara etimologi bisa berarti
terminology perjanjian adalah suatu “menyimpulkan” (Yunus;1990)
perbuatan dimana seseorang sebagaimana yang di maksud dalam
mengikatkan dirinya kepada seorang kamus Arab-Indonesia, namun dari
atau beberapa lain Brian;6). sumber yang lain akad bisa berarti

Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja | 27


Volume 1, Nomor 1, Pebruari 2015
ISSN : 2356-4164

ikatan, sambungan ataupun janji. perkataan, masuk juga di dalamnya


Ikatan jika bermakna ikatan antara janji dan sumpah, karena sumpah
ujung sesuatu (dua perkara), baik menguatkan niat berjanji untuk
ikatan secara nyata maupun ikatan melaksanakanya isi sumpah atau
secara abstrak, dari satu sisi atau dari meninggalkanya. Demikan juga
dua sisi (Firdaus;2005). halnya dengan janji sebagai perekat
Menurut M. Hasbi Ash- hubungan antara kedua belah pihak
Shiddieqy dan Hendi Suhendi bahwa yang berjanji dan menguatkannya”
akad, secara bahasa adalah mengikat, (Azzam, 2010).
yaitu mengumpulkan dua ujung tali Perjanjian juga kadang
dan mengikat salah satunya dengan didefinisikan sebagai hubungan.
yang lain, sehingga bersambung, Karena merupakan suatu hubungan,
kemudian keduanya menjadi satu maka suatu akad dapat timbul karena
(Suhendi;2007), sedangkan akad perjanjian, yakni dua pihak saling
yang bermakna sambungan yaitu mengemukakan janjinya mengenai
sambungan yang memegang kedua prestasi (http://al-aziz-
tepi itu dan mengikatnya. Dan akad imronrosadi.blogspot.com). Sebab
yang secara etimologi bermakna janji perjanjian adalah semata-mata suatu
sebagaimana yang dijelaskan di persetujuan yang diakui oleh hukum.
dalam al-Qur’an yaitu : Persetujuan ini merupaka
‫ياَيُّهَا الَّ ِذيْنَ ا َمنُوْ ا اَوْ فُوْ ا بِاْل ُعقُوْ ِد‬ kepentingan yang pokok dalam dunia
“Hai orang-orang yang beriman, usaha, dan menjadi dasar dari
penuhilah janji-janjimu.” Di dalam kebanyakan transaksi dagang, seperti
ayat inilah yang menjadi hukum jual beli barang, tanah, pemberian
dasar bagi umat Islam yang ada di kredit, asuransi, pengangkutan
dalam kitab suci al-Qur’an dan juga barang, pembentukan organisasi
hukum dasar dalam membuat hukum usaha, dan begitu jauh menyangkut
mengenai segala macam akad yang juga tenaga kerja (Soulsby, 2013).
ada di dalam perbankan syariah dan Dengan demikian definisi baik
juga kegiatan-kegiatan yang dari kalangan ahli hukum perdata dan
berkaitan dengan hubungan antara ahli hukum Islam ada persamaan
manusia dengan manusia yang lain. dimana titik temunya adalah
Secara epistemologi atau istilah kesepakatan untuk mengikatkan diri
menurut hukum Islam, akad ialah dengan seorang lainnya. Sehingga
sesuatu yang dengannya akan dari kesepakatan tersebut terdapat
sempurna perpaduan antara dua persetujuan atas beban yang
macam kehendak, baik dengan kata mewajibkan masing-masing
atau yang lain, dan kemudian memberikan sesuatu, berbuat
karenanya timbul ketentuan atau sesuatu ataupun tidak berbuat
kepastian pada dua sisinya (Kuzari, sesuatu.
1995). Perbankan Konvensional dan
Menurut Abdul Aziz Muhammad Syariah
kata akad dalam istilah bahasa berarti Pengertian Perbankan
ikatan dan tali pengikat. Dari sinilah Konvensional dan Perbankan Syariah
kemudian makna akad diterjemahkan adalah segala sesuatu yang
secara bahasa sebagai: menyangkut tentang bank baik Bank
“menghubungkan antara dua Konvensional maupun Bank Syariah,

Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja | 28


Volume 1, Nomor 1, Pebruari 2015
ISSN : 2356-4164

mencakup kelembagaan, kegiatan lainnya dalam rangka meningkatkan


usaha, serta cara dan proses dalam taraf hidup masyarakat.
melaksanakan kegiatan usahanya. Perjanjian Kredit Dalam
Pendefinisian mengenai perbankan Perbankan Konvensional
baik Bank Konvensional dan Bank Di dalam Perbankan
Syariah tidaklah berbeda yang Konvensional dalam memaksimalkan
dijelaskan di dalam Undang-Undang perolehan dana dari masyarakat
Perbankan dan Undang-Undang berupa menawarkan tingkat bunga
Perbankan Syariah. simpanan yang menarik dari nasabah
Ketika dijelaskan secara umum penyimpan dana, yaitu bunga
mengenai bank, Bank adalah badan setinggi-tingginya. Bunga simpanan
usaha yang menghimpun dana dari dikatakan menarik jika lebih tinggi
masyarakat dalam bentuk simpanan dari pada tingkat inflasi, tingkat
dan menyalurkannya kepada bunga riil di luar negeri, dan tingkat
masyarakat dalam bentuk kredit, bunga bank-bank dalam negeri
pembiayaan dan atau bentuk-bentuk lainnya.
lainnya dalam rangka meningkatkan Sebaliknya, bank konvensional
taraf hidup rakyat banyak. dalam upayanya untuk
Pengentian ini juga berlaku untuk mengembangkan dana yang telah
bank konvensional maupun bank dihimpunnya mengeluarkan kredit
syariah. kepada debitor. Agar dana yang
Namun pengertian secara dihimpunnya dapat berkembang
khusus di mana Bank Konvensional pesat, bank konvensional
yaitu bank yang aktifitasnya, baik menawarkan bunga kredit yang
penghimpunan dan penyaluran dana, menarik kepada debitor, dengan
memberikan dan mengenakan serendah-rendahnya, bahkan kalau
imbalan berupa bunga atau sejumlah bisa lebih rendah dari bunga
imbalan dalam persentase tertentu simpanan.
dari dana untuk suatu periode Bunga kredit yang rendah dapat
tertentu. Persentse tertentu ini membuat pengusaha mempergiat
biasanya diterapka pertahun usahanya yang pada gilirannya dapat
(Budisantoso, 2006). memacu pertumbuhan ekonomi. Jika
Berbeda dengan Bank tidak, dengan tingkat bunga kredit
Konvensional, Bank Syariah adalah yang tinggi dapat menyebabkan
bank yang menjalankan kegiatan produkifitas masyarakat macet
usahanya berdasarkan prinsip karena pengusaha kekurangan modal
syariah dengan tidak menggunakan (Hendy, 2005).
sistem bunga melainkan bagi hasil. Di dalam KUHPerdata mengatur
Perlu diketahui bahwa baik perjanjian khusus, namun tidak
perbankan konvensional maupun satupun mengatur tentang perjanjian
perbankan syariah yaitu sebagai kredit. Oleh karena itu penetapan
penghimpun dana dari masyarakat mengenai bentuk hubungan hukum
dalam bentuk simpanan dan antara Bank dan Nasabahnya, yang
menyalurkannya kepada masyarakat disebut dengan Perjanjian Kredit
dalam bentuk kredit, maupun Bank itu sebenarnya harus digali dari
pembiayaan dan atau dalam bentuk sumber-sumber di luar KUHPerdata.

Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja | 29


Volume 1, Nomor 1, Pebruari 2015
ISSN : 2356-4164

Dalam hal ini Marhainis telah Terkait mengenai perjanjian


memperbandingkan kelima belas kredit tersebut, maka penulis akan
perjanjian khusus yang diatur dalam mendeskripsikan perjanjian kredit
KUHPerdata dan menurutnya yang yang ada di dalam Perbankan
paling mendekati dengan perjanjian Konvensional dari beberapa aspek, di
kredit adalah pengertian perjanjian antaranya adalah: Asas Perjanjian
pinjam mengganti sehingga apabila Kredit, Bentuk dan Isi Perjanjian
terdapat masalah sengketa perjanjian Kredit, Sifat Hukum Perjanjian Kredit,
kredit dapat menggunakan dasar Ketentuan Syarat Perjanjian Kredit,
hukum perjanjian pinjam mengganti dan Fungsi Jaminan Kredit dalam
menurut KUHPerdata tersebut. Perbankan Konvensional.
Perjanjian kredit termasuk ke Asas Perjanjian Kredit
dalam perjanjian innominat (Salim, Di dalam Perjanjian Kredit
2005) sehingga ketentuannya tidak dikenal yang namanya Asas
secara khusus diatur dalam Kesetaraan, sebagaimana yang
KUHPerdata. Namun para sarjana dimaknai dalam bahasa sehari-hari,
hukum memiliki pendapat yang bahwa kata seimbang (evenwicht)
berbeda tentang hal ini yang secara menunjuk pada pengertian suatu
garis besar, pendapat para sarjana keadaan pembagian beban di kedua
hukum mengenai pengaturan sisi benda dalam keadaan seimbang
perjanjian kredit dapat dibagi (Budiono, 2006).
menjadi dua, yaitu bahwa perjanjian Bahwa perjanjian adalah suatu
kredit pengaturannya merujuk pada proses yang bermula dari suatu janji
Buku III KUHPerdata dan perjanjian menuju kesepakatan (bebas) dari
kredit pengaturannya tunduk kepada para pihak dan berakhir dengan
Undang-Undang Perbankan. pencapaian tujuan yaitu perjanjian
Subjek perjanjian kredit adalah yang tercapai dalam semangat atau
pihak kreditor yang berhak atas jiwa keseimbangan. Dalam lingkup
prestasi dan pihak debitor yang suasana hukum Indonesia tujuan dari
berkewajiban atas prestasi (Harahap, kontrak yakni tercapainya kapatutan
1986). Hal ini senada dengan apa sosial (sociale gezindheid) dan suatu
yang diatur di dalam Pasal 1234 keseimbangan selaras (kemungkinan
KUHPerdata, bahwa prestasi dapat eksistensi materiil (immateriele
berbentuk memberikan sesuatu, zijnsmogelijkheid). Perjanjian yang
berbuat sesuatu, atau tidak berbuat dari sudut substansi atau maksud dan
sesuatu. tujuannya ternyata bertentangan
Kredit dalam arti lain juga dengan kesusilaan atau ketertiban
bermakna penyediaan uang atau umum batal demi hukum (nietig) dan
tagihan yang dapat disamakan pada prinsipnya hal serupa akan
dengan itu, berdasarkan persetujuan berlaku berkenaan dengan perjanjian
pinjam-meminjam antara bank yang bertentangan dengan undang-
dengan pihak lain yang mewajibkan undang.
pihak pinjaman untuk melunasi Asas keseimbangan dilandaskan
utangnya setelah jangka waktu pada upaya mencapai suatu keadaan
dengan jumlah bunga, imbalan atau seimbang yang sebagai akibat darinya
pembagian hasil keuntungan (Hay, harus munculkan pengalihan
1975). kekayaan secara absah. Tidak

Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja | 30


Volume 1, Nomor 1, Pebruari 2015
ISSN : 2356-4164

terpenuhinya keseimbangan, dalam dalam KUHPerdata lazimnya


konteks asas keseimbangan, bukan disimpulkan dalam Pasal 1338 ayat
semata menegaskan fakta dan (1), yang berbunyi demikian:
keadaan, melainkan lebih dari itu “Semua perjanjian yang dibuat
berpengaruh terhadap kekuatan secara sah berlaku sebagai
yuridikal perjanjian dimaksud. Dalam undang-undang bagi mereka
tercipta atau terentuknya perjanjian, yang membuatnya”.
ketidakseimbangan bisa muncul Dengan menekankan pada
sebagai akibat perilaku para pihak perkataan Semua, maka pasal
sendiri ataupun sebagai konsekwensi tersebut seolah-olah berisikan suatu
dari substansi (muatan isi) perjanjian pernyataan kepada masyarakat
atau pelaksanaan perjanjian.. bahwa diperbolehkan membuat
Namun menurut Ridwan perjanjian yang berupa dan berisi apa
Khairandy, kebebasan berkontrak saja (atau tentang apa saja) dan
dan asas pacta sunt servanda dalam perjanjian itu akan mengikat mereka
kenyataannya dapat menimbulkan yang membuatnya seperti suatu
ketidakadilan. Kebebasan berkontrak undang-undang atau dengan kata
didasarkan pada asumsi bahwa para lain, dalam soal perjanjian, kita
pihak dalam kontrak memiliki posisi diperbolehkan membuat undang-
tawar (bargaining position) yang undang atau aturan sendiri dimana
seimbang, tetapi dalam kenyataannya pasal-pasal dari Hukum Perjanjian
para pihak tidak selalu memiliki baru akan berlaku apabila di dalam
posisi tawar yang seimbang. perjanjian yang dibuat tidak terdapat
Akibatnya, pihak yang memiliki posisi aturan-aturan sendiri dalam
tawar yang lebih kuat cenderung perjanjian-perjanjian yang dibuat.
menguasai pihak yang memiliki posisi Bentuk dan Materi (Isi) Perjanjian
tawar yang lebih lemah (Khairandy, Kredit
2004). Sesuai yang tercantum dalam
Selain itu, Di dalam hukum Pasal 1320 KUHPerdata mengenai
perbankan konvensional, perjanjian syarat-syarat terjadinya suatu
menganut sistem terbuka (Subekti, persetujuan yang sah dalam
1991) yang mengandung asas perjanjian kredit serta pemberian
kebebasan membuat perjanjian. kredit oleh Bank kepada debitornya
Dikatakan bahwa Hukum Benda harus dalam bentuk perjanjian yang
mempunyai sistem tertutup, diberi nama Perjanjian Kredit hal ini
sedangkan Hukum Perjanjian sesuai dengan surat Bank Indonesia
mengaanut sistem terbuka. Artinya kepada segenap Bank Devisa No.
macam-macam hak atas benda adalah 03/1093/OPK/KPD tanggal 29
terbatas dan peraturan-peraturan Desember 1970. Perjanjian kredit
yang mengenai hak-hak atas benda juga harus dibuat secara tertulis
itu bersifat memaksa, sedangkan yakni untuk kepentingan administrasi
Hukum Perjanjian memberikan yang rapi dan teratur serta untuk
kebebasan yang seluas-luasnya kepentingan pembuktian.
kepada masyarakat untuk Dalam praktek perbankan yang
mengadakan perjanjian yang berisi secara Yuridis ada 2 (dua) bentuk
apa saja, asalkan tidak melanggar perjanjian kredit, yaitu:
ketertiban umum dan kesusilaan. Di

Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja | 31


Volume 1, Nomor 1, Pebruari 2015
ISSN : 2356-4164

(1) Perjanjian kredit yang dibuat kredit, dan asuransi barang jaminan,
di bawah tangan atau akta di bawah biaya pengikatan jaminan secara
tangan artinya perjanjian pemberian tunai, serta dokumennya. Mengenai
kredit oleh bank kepada nasabahnya pelaksanaan penutupan asuransi
yang dibuat hanya di antara mereka barang jaminan juga diatur dalam
(kreditur dan debitur) tanpa Notaris. klausula ini yang tujuannyauntuk
Lazimnya dalam penandatanganan memperkecil resiko yang terjadi di
akta perjanjian kredit, saksi turut luar kesalahan debitor maupun
serta membubuhkan tandatangannya kreditor.
karena saksi merupakan salah satu Maksimum Kredit. Klausula ini
alat pembuktian dalam perkara menjelaskan tentang obyek dari
perdata. perjanjian kredit yang mana jika
(2) Perjanjian kredit yang dibuat terjadi perubahan mengenai kredit
oleh dan di hadapan Notaris (notariil) yang diberikan maka konsekuensi
atau akta otentik artinya perjanjian hukumnya adalah diperlukannya
pemberian kreditoleh bank kepada perbuatan perjanjian kredit yang
nasabahnya yang hanya dibuat oleh baru atau dibuatkan addendum
atau di hadapan Notaris. Adapun akte terhadap perjanjian pokoknya.
otentik adalah suatu akte undang- Klausula ini digunakan sebagai
undang, dibuat oleh atau di hadapan penetapan bersarnya nilai agunan
pegawai-pegawai umum yang yang harus diserahkan debitor. Dan
berkuasa untuk itu di tempat mana yang terakhir adalah jangka waktu
akte dibuat. Biasanya pemberian kredit itu sendiri yang termasuk
kredit dalam jumlah besar dengan dalam klausula transaksi perjanjian
jangka waktu menengah atau kredit.
panjang. Contohnya kredit investasi, Sifat Hukum Perjanjian Kredit
kredit modal kerja, dan kredit Di dalam literatur terdapat
sindikasi. beberapa pendirian mengenai sifat
Dalam praktiknya, bentuk dan hukum perjanjian kredit yang secara
materi (isi) perjanjian kredit antara garis besar dapat digolongkan ke
satu bank dengan bank yang adalah dalam tiga kelompok, yaitu perjanjian
berbeda. Ketidak samaan dalam kredit yang bersifat riil, perjanjian
perjanjian kredit tersebut karena kredit bersifat konsensual, dan
ketidak samaannya pula dalam perjanjian kredit bersifat konsensual
kebutuhan masing-masing pihak. dan riil. Masing-masing pendirian
Maka dari pada itu, perjanjian memiliki argumen, dasar hukum dan
kredit tidak ada bentuk yang berlaku justifikasinya tersendiri.
umum. Hanya saja, menurut Perjanjian Kredit yang bersifat
Muhammad Djumhana dalam praktik Riil. Riil berarti bahwa perjanjian
ada bebeberapa klausula yang biasa baru ada setelah uang yang
dicantumkan dalam perjanjiuan dipinjamkan dalam perjanjian kredit
kredit, di antaranya mengenai: diserahkan secara nyata kepada
(Djumhana, 2006) debitur. Di dalam KUHPerdata
Syarat-syarat Penarikan Kredit mengatur perjanjian pinjam-
Pertama kali (Predisbuursement meminjam yaitu satu pihak
Clause). Klausula ini menyangkut menyerahkan kepada pihak lain
pembayaran provisi, premi asuransi sejumlah uang atau barang-barang

Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja | 32


Volume 1, Nomor 1, Pebruari 2015
ISSN : 2356-4164

yang dapat diganti dengan janji pihak tentu akan terjadi, baik secara
lain untuk di kemudian hari menangguhkan perikatan sehingga
mengembalikan kepada pihak kesatu terjadinya peristiwa semacam itu,
sejumlah uang yang sama atau maupun secara membatalkan
sejumlah barang-barang yang sama perikatan menurut terjadi atau
jenis dan nilainya. tidaknya peristiwa tersebut
Wirjono Prodjodikoro (Badrulzaman, 1991).
menyatakan bahwa perjanjian pinjam Perjanjian Kredit bersifat
uang bersifat riil, tersimpul dari Konsensual dan Riil. Sifat konsensual
kalimat “pihak kesatu menyerahkan dan riil yang terdapat dalam
uang itu kepada pihak lain” dan perjanjian kredit adalah sebagai
bukan “mengikatkan” diri untuk perpaduan antara pendapat bahwa
menyerahkan uang (Prodjodikoro, perjanjian kredit bersifat konsensual
1981). Pendapat tersebut mendukung dan riil. Artinya diposisikan ada dua
bahwa pinjam-meminjam uang perjanjian yang berdampingan, yaitu
adalah sifat hukum dari perjanjian yang pertama adalah perjanjian
kredit yang bersifat riil artinya untuk mengadakan perjanjian
perjanjian yang baru tercipta dengan pinjaman mengganti dimana
diserahkannya barang-barang (uang) perjanjian ini adalah timbal balik
yang menjadi obyek perjanjian. yang satu wajib menyerahkan benda
Perjanjian Kredit yang bersifat (uang) yang dipinjamkan, sedangkan
Konsensual adalah perjanjian yang pihak yang lain wajib menerima
terjadi sejak adanya kesepakatan. benda (uang) itu dan yang kedua
Dilihat dari perjanjian kredit dan adalah perjanjian pinjam menggganti
perjanjian pinjam uang adalah yaitu perjanjian sepihak, bernama,
merupakan suatu perjanjian yang yang diatur di dalam Pasal 1754-
menentukan sifat hukum perjanjian Pasal 1759 KUHPerdata.
kredit yaitu konsensual (pactum de F. Van Der Feltz dalam bukunya
contranendo) dan obligatoir (suatu De Overeenkomst van Verbuiklening
perjanjian di mana mengharuskan menyatakan bahwa perjanjian pinjam
atau mewajibkan seseorang mengganti baru terjadi setelah ada
membayar atau menyerahkan penyerahan (overgave), selama benda
sesuatu). Dasar dari kekuatan (uang) yang dipinjamkan belum
mengikat adalah Pasal 1338 diserahkan maka Bab XIII Buku III
KUHPerdata yang dikutip dari buku KUHPerdata belum dapat diterapkan.
perjanjian kredit bank karangan Apabila dua pihak bersepakat tentang
Mariam Darus Badrulzaman, semua unsur-unsur dalam perjanjian
Windscheid mengemukakan bahwa pinjam mengganti, maka tidak berarti
perjanjian kredit adalah perjanjian bahwa perjanjian pinjam mengganti
dengan syarat tangguh (condition itu telah terjadi. Yang terjadi
ptestative), yang pemenuhannya sesungguhnya adalah perjanjian
tergantung pada peminjam. Dasar untuk mengadakan perjanjian pinjam
hukumnya adalah Pasal 1253 mengganti. Apabila uang diserahkan
KUHPerdata, suatu perikatan adalah kepada pihak meminjam, maka
bersyarat manakala ia digantungkan lahirlah perjanjian pinjam mengganti
pada suatu peristiwa yang masih dalam pengertian Bab XIII Buku III
akan datang dan yang masih belum KUHPerdata.

Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja | 33


Volume 1, Nomor 1, Pebruari 2015
ISSN : 2356-4164

Syarat Perjanjian Kredit ditentukan, terutama hak dan


Dalam Pasal 1320 KUHPerdata kewajiban debitor, perlindungan dan
untuk sahnya suatu perjanjian upaya hukum yang tersedia baginya
diperlukan empat syarat yaitu; (1) menurut undang-undang, dan jumlah
sepakat mereka yang mengikatkan kredit dan jumlah biaya keseluruhan
dirinya; (2) cakap untuk membuat untuk kredit itu.
suatu perjanjian; (3) mengenai suatu (3) Pemberitahuan tentang hak-
hal tertentu; dan (4) suatu sebab yang hak pembatalan harus diberikan
halal. dalam semua perjanjian yang dapat
Menurut Subekti, dua syarat dibatalkan.
yang pertama dinamakan syarat- Selain dari perjanjian itu harus
syarat subyektif, karena mengenai diberikan kepada debitor, ia harus
orang-orangnya atau subyek dari selalu menerima dengan segera satu
yang mengadakan perjanjian, copy dari formulir yang di
sedangkan dua syarat yang terakhir tandatangani. Jika kemudian formulir
dinamakan syarat-syarat obyektif itu harus dikirimkan untuk
karena mengenai perjanjiannya diselesaikan oleh kreditor, debitor
sendiri atau obyek dari perbuatan juga harus diberi copy dari perjanjian
hukum yang dilakukan itu (Subekti, yang sudah diselesaikan itu dalam
1991). tujuh hari sejak penyelesaiannya,
Menurut S.B. Marsh dan J. sehingga ia dapat memeriksa bahwa
Soulsby, dalam pelaksanaan suatu tidak ada pergantian yang telah
perjanjian sebelum perjanjian dibuat dilakukan sejak penandatangannya.
yang ditinjau dari syarat pelaksanaan Dalam hal perjanjian yang dapat
suatu perjanjian, pemberian dibatalkan, copy kedua ini harus
pinjaman harus memberikan dikirimkan dengan pos dan berisi
keterangan tertentu kepada rincian tentang hak-hak debitor
peminjam dengan cara yang untuk membatalkan.
ditetapkan. Peraturan-peraturan yang Fungsi Jaminan Kredit
meliputi ini mungkin akan Menurut Subekti (1999) bahwa
memerlukan pemberitahuan secara jaminan yang ideal yang bisa
tertulis tentang harga tunai dan harga digunakan dalam kredit perbankan
kredit. Perjanjian itu sendiri harus yaitu: (1.) dapat secara mudah
memenuhi syarat-syarat sebagai membantu perolehan kredit oleh
berikut: pihak yang membutuhkannya; (2.)
(1) Perjanjian itu harus tertulis, tidak melemahkan posisi (kekuatan)
ditandatangai oleh debitor secara si penerima kredit untuk meneruskan
pribadi dan oleh atau atas nama usahanya; (3.) memberikan kepastian
kreditor. Tanda tangan dalam dalam kepada kreditor dalam arti bahwa
bentuk blanko, meninggalkannya yaitu apabila perlu, mudah diuangkan
pada seorang levelansir atau agen untuk melunasi utang si debitor.
untuk diisi secara terinci, tidaklah Pemberian kredit sama halnya
cukup. dengan salah satu bentuk pinjaman
(2) Dokumen itu harus dalam uang. Dalam hal pemberian kredit
bentuk yang ditetapkan, dan berisi perbankan, mengenai jaminan utang
(dalam beberapa hal badan hukum disebut dengan sebutan jaminan
dengan referensi) keterangan yang kredit atau agunan. Jaminan kredit

Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja | 34


Volume 1, Nomor 1, Pebruari 2015
ISSN : 2356-4164

umumnya dipersyaratkan dalam hati-hati sehingga dapat segera


suatu pemberian kredit. melunasi kreditnya agar dapat
Sehubung dengan adanya menguasai kembali hartanya. Tidak
persyaratan yang mewajibkan (calon) dapat dipungkiri siapapun juga pasti
debitor untuk menyerahkan tidak ingin kehilangan harta (aset)-
(memberikan) jaminan kredit, maka nya karena merupakan sesuatu yang
hal tersebut lebih berkaitan dengan dibutuhkan, mempunyai nilai-nilai
beberapa fungsinya. Mengenai fungsi tertentu atau disayangi.
jaminan kredit baik ditinjau dari sisi Ketiga, fungsi yang terkait
bank sebagai kreditor maupun dari dengan pelaksanaan ketentuan
sisi debitor dapat dikemukakan lebih perbankan. Keterkaitan dengan
lanjut sebagai berikut. ketentuan-ketentuan dari berbagai
Pertama, jaminan kredit sebagai peraturan perundang-undangan
pengamanan pelunasan kredit. Fungsi tentang perbankan seperti yang
ini baru akan muncul pada saat kredit tersebut di atas merupakan fungsi
dinyatakan sebagai kredit macet. lain dari jaminan kredit dan
Selama kredit telah dilunasi oleh mendukung keharusan penilaian
debitor, tidak akan terjadi pencairan jaminan kredit secara lengkap oleh
jaminan kreditnya. Dalam hal ini bank sehingga akan merupakan
jaminan kredit akan dikembalikan jaminan yang layak dan berharga.
kepada debitor yang bersangkutan Akad Pembiayaan Dalam
sesuai dengan ketentuan hukum dan Perbankan Syariah
perjanjian kredit. Sebagaimana dijelaskan dalam
Jaminan kredit berfungsi untuk Undang-Undang Perbankan Syariah
mengamankan pelunasan kredit yang menerangkan pengertian
sangat berkaitan dengan kepentingan Pembiayaan adalah penyediaan dana
bank yang menyalurkan dananya atau tagihan yang dipersamakan
kepada debitor yang sering dikatakan dengan itu berupa: termasuk di
mengandung resiko. Jika debitor dalamnya mengenai transaksi bagi
ingkar janji maka dengan adanya hasil, transaksi sewa-menyewa,
jaminan kredit tersebut yang telah trasaksi jual beli dalam bentuk
diikat bank secara hukum yang piutang, transaksi pinjam meminjam
berlaku, fungsi tersebut akan dan transaksi sewa-menyewa jasa
terlaksana. dalam bentuk ijarah untuk transaksi
Kedua, sebagai pendorong multijasa berdasarkan persetujuan
motivasi debitor. Umumnya sesuai atau kesepakatan antara bank syariah
dengan ketentuan intern masing- dan atau Unit Usaha Syariah (UUS)
masing bank, nilai jaminan kredit dan pihak lain yang mewajibkan
yang diserahkan debitor kepada bank pihak yang dibiayai dan atau diberi
lebih besar bila dibandingkan dengan fasilitas dana untuk mengembalikan
nilai kredit yang diberikan bank dana tersebut setelah jangka waktu
kepada debitor yang bersangkutan. tertentu dengan imbalan ujrah, tanpa
Hal inilah yang memberikan motivasi imbalan, atau bagi hasil.
kepada debitor untuk menggunakan Sistem yang dianut dalam
kredit sebaik-baiknya, melakukan perbankan syariah adalah sistem
kegiatan usahanya secara baik, pembiayaan yang berbeda dengan
mengelola kondisi keuangan secara sistem kredit yang dianut dalam

Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja | 35


Volume 1, Nomor 1, Pebruari 2015
ISSN : 2356-4164

perbankan konvensional. Perbankan Menurut Fathurrahman Djamil


syariah dengan sistem bagi untung bahwa di dalam ajaran Islam untuk
dan rugi (Profit and Loss Sharing) sahnya suatu akad, harus dipenuhi
memiliki konsep yang dianggap rukun dan syarat dari suatu akad.
sangat tepat di tengah kondisi Rukun adalah unsur yang mutlak
ketidakadilan yang dialami oleh harus dipenuhi dalam sesuatu hal,
masyarakat. Konsep kebersamaan peristiwa dan tindakan. Sedangkan
dalam menghadapi risiko dan syarat adalah unsur yang harus ada
memperoleh keuntungan, serta untuk sesuatu hal, peristiwa, dan
adanya keadilan dalam berusaha tindakan tersebut.
menjadi suatu potensi yang sangat Rukun akad yang utama adalah
strategis bagi perkembangan Bank ijab dan kabul. Syarat yang harus ada
Syariah di masa yang akan datang. dalam rukun bisa menyangkut
Hal ini disebabkan oleh sebahagian subyek dan obyek dari suatu akad.
besar atau mayoritas penduduk Sedangkan syarat dalam akad
Indonesia adalah beragama Islam, termasuk dalam akad pembiayaan
tantangan ini sekaligus menjadi akan dibahas selanjutnya dengan
prospek yang cukup cerah untuk beberapa hal yang terkait dalam akad
pengembangan Bank Syariah di pembiayaan dalam perbankan
Masyarakat. Di samping itu bank syariah, Baik itu asas, bentuk, sifat-
syariah dengan sistem bagi hasil yang sifat, ketentuan syarat serta jaminan
lebih mengutamakan stabilitas di atas akad pembiayaan dalam perbankan
rentabilitas (Sood; 2005). syariah.
Dalam penyaluran dana atau Asas-Asas Akad Pembiayaan
pembiayaan menggunakan metode Sebagaimana dalam hukum
bagi hasil yang disepakati bersama perjanjian menurut KUHPerdata yang
antara pihak bank dan nasabah, mengenal beberapa asas, di dalam
penyaluran dananya pun harus sesuai hukum Islam juga mengenal asas-asas
dengan yang difatwakan oleh Dewan hukum akad (perjanjian) yang
Syariah Nasional Majelis Ulama kesemua ini tidak lepas dengan asas
Indonesia (DSN-MUI). yang telah diatur di dalam Undang-
Proporsi bagi hasil didasarkan Undang Perbankan Syariah dalam
atas jumlah keuntungan usaha yang melakukan kegiatan usahanya yang
diperoleh nasabah. Pada bank syariah berasaskan prinsip syariah,
tidak menentukan keuntungan pasti demokrasi ekonomi, dan prinsip
yang diterapkan di awal perjanjian, kehati-hatian dalam mengelola sistem
namun keuntungan di muka hanya dalam perbankan syariah. Namun jika
dimungkinkan untuk akad-akad jual secara spesifik mengenai asas dalam
beli melalui kredit kepemilikan akad pembiayaan maka menurut
barang atau aktiva. Sebagaimana Fathurrahman Djamil, dia
yang diungkapkan Karnaen dan membaginya dalam beberapa bagian
Antonio yang mana fasilitas kredit yaitu sebagai berikut: (Djamil, 2001)
kebajikan yang tidak membebani (1.) Al-Hurriyah (Kebebasan)
nasabah dengan biaya apa pun adalah suatu asas yang merupakan
kecuali biaya yang dipergunakannya prinsip dasar dalam hukum
sendiri (Antonio, 1992). perjanjian Islam, dalam artian para
pihak bebas membuat suatu

Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja | 36


Volume 1, Nomor 1, Pebruari 2015
ISSN : 2356-4164

perjanjian atau akad (freedom of menghentikan proses pelaksanaan


making contract) yaitu di dalam akad tersebut.
hukum Islam asas ini dibatasi oleh (6.) Al-Kitabah (tertulis) yaitu
ketentuan dalam syariah (hukum asas yang menyatakan bahwa setiap
Islam), sehingga dalam membuat perjanjian hendaknya dibuat secara
perjanjian ini tidak boleh ada unsur tertulis, lebih berkaitan demi
paksaan, kekhilafan, dan penipuan. kepentingan pembuktian jika di
(2.) Al-Musawwah (Persamaan kemudian hari terjadi sengketa dan
atau Kesetaraan) yaitu di mana asas hal tersebut bisa menjadi akta
ini mengandung pengertian bahwa otentik.
para pihak mempunyai kedudukan Bentuk Akad Pembiayaan
(bargaining position) yang sama, Layaknya bentuk perjanjian
sehingga dalam menentukan term kredit dalam perbankan
and condition dari suatu akad setiap konvensional, di dalam perbankan
pihak mempunyai kesetaraan atau syariah juga terdapat
kedudukan yang seimbang. pengklasifikasian bentuk akad
(3.) Al-‘Adalah (Keadilan) yaitu pembiayaan, sebagaimana yang
dimana pelaksanaan asas ini dalam dijelaskan oleh Abdul Ghofur Anshori,
suatu akad menuntut para pihak yaitu (Anshori, 2006): (1.) akad tidak
untuk melakukan yang benar dalam tertulis, yaitu akad yang dibuat secara
pengungkapan kehendak dan lisan saja dan biasanya terjadi pada
keadaan, memenuhi semua akad yang sederhana, misalnya: jual
kewajibannya. Perjanjian harus beli kebutuhan komsumsi sehari-hari;
senantiasa mendatangkan (2.) akad tertulis, yaitu akad yang
keuntungan yang adil dan seimbang, dituangkan dalam bentuk
serta tidak boleh mendatangkan tulisan/akta baik akta otentik
kerugian bagi salah satu pihak. maupun akta bawah tangan. Akad
(4.) Al-Ridha (Kerelaan) yaitu asas yang dibuat secara tertulis biasanya
yang menyatakan bahwa segala untuk akad-akad yang komplek atau
transaksi yang dilakukan harus atas menyangkut kepentingan publik,
dasar kerelaan antara masing-masing misalnya akad wakaf, akad jual beli
pihak, harus didasarkan pada ekspor impor, dan sebagainya.
kesepakatan bebas dari para pihak Untuk saat ini, secara umum
dan tidak boleh ada unsur paksaan, yang digunakan dalam sistem
tekanan, penipuan, dan mis- perbankan syariah yang masuk dalam
statement. sektor ialah akad tertulis. Adapun
(5.) Ash-Shidq (Kebenaran dan akad tersebut terbagi di dalam dua
Kejujuran) yaitu asas yang melarang bentuk, yaitu: (1.) Akad Tabarru
untuk setiap orang untuk melakukan adalah jenis akad yang berkaitan
kebohongan sebagaimana aturan di dengan transaksi nonprofit
dalam Islam. Karena dengan adanya (transaksi) yang tidak bertujuan
kebohongan (penipuan) sangat semata-mata untuk mendapatkan
berpengaruh dalam keabsahan akad. laba atau keuntungan; (2.) Akad
Akad yang di dalamnya ada Tijarah (akad mu’amalah) adalah
kebohongan maka akan memberikan akad yang bertujuan untuk
hak kepada pihak lain untuk mendapatkan imbalan berupa
keuntungan tertentu. Atau dengan

Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja | 37


Volume 1, Nomor 1, Pebruari 2015
ISSN : 2356-4164

kata lain akad ini menyangkut tertulis term and condition dari dari
transaksi bisnis dengan motif untuk akad tersebut agar dapat
memperoleh laba (profit oriented). menimbulkan akibat hukum; (2.) al-
Sifat-Sifat Akad Pembiayaan Ma’qud alaih/mahal al-‘aqad (obyek
Di lihat dari sifat-sifat akad akad), objek dari akad atau
pembiayaan, salah satunya adalah perjanjian harus memenuhi
sifat mengikat yaitu terdiri dari: (1.) persyaratan berupa telah ada pada
akad yang mengikat secara pasti, waktu akad diadakan; (3.) al-
artinya tidak boleh di fasakh Muta’aqidain/al-‘aqadain (pihak-
(dibatalkan secara sepihak); (2.) akad pihak yang berakad), adalah pihak
yang tidak mengikat secara pasti, yang sama-sama mempunyai
yaitu akad yang dapat difasakh oleh kecakapan melakukan tindakan
dua pihak atau oleh satu pihak. hukum dalam artian sudah dewasa
Ketentuan Syarat Akad dan sehat akal dan pikirannya; dan
Pembiayaan (3.) Maudhu’ al-‘aqd (tujuan akad),
Menurut Ahmad Azhar Basyir, menurut ulama fiqh bahwa tujuan
terdapat beberapa ketentuan syarat- akad adalah harus sejalan dengan
syarat yang harus dipenuhi agar kehendak syarak maka berakibat
kesepakatan para pihak (ijab kabul) pada ketidak absahan dari perjanjian
mempunyai akibat hukum, yaitu yang dibuat. Tujuan harus ada pada
(Basyir, 2000) : (1.) ijab dan kabul saat akad diadakan, dapat
harus dinyatakan oleh orang yang berlangsung hingga berakhirnya
sekurang-kurangnya telah mencapai akad, dan harus dibenarkan oleh
umur tamyiz yang menyadari dan syarak.
mengetahui isi perkataan yang Dari penjelasan tersebut di atas,
diucapkan hingga ucapannya itu maka akan disimpulkan bahwa
benar-benar menyatakan keingainan terdapat beberapa syarat yang harus
hatinya. Dengan kata lain dilakukan terdapat dalam akad, namun dapat
oleh orang yang cakap melakukan dibagi menjadi dua macam, yaitu:
tindakan hukum; (2.) ijab dan kabul Pertama, syarat umum, yaitu
harus tertuju pada suatu obyek yang syarat-syarat yang wajib sempurna
merupakan obyek perjanjian; dan (3.) wujudnya dalam segala macam akad.
ijab dan kabul haru berhubungan Kedua, syarat khusus, yaitu
langsung dalam suatu majelis apabila syarat-syarat yang diisyaratkan
dua belah pihak sama-sama hadir. wujudnya dalam sebagian akad, tidak
Selain itu, jumhur ulama dalam pembagian yang lain. Syarat-
mengatakan bahwa ijab dan kabul syarat ini juga biasa disebut sebagai
merupakan salah satu unsur penting syarat tambahan (syarat idhafiyah)
dalam suatu perjanjian/akad, di yang harus ada di samping syarat-
samping unsur-unsur lain yang juga syarat umum, seperti adanya saksi
termasuk rukun akad. Unsur-unsur untuk terjadinya nikah.
tersebut terdiri dari: (1.) Shighat al- Sehingga disimpulkan beberapa
aqad (pernyataan untuk mengikatkan syarat yang harus terdapat dalam
diri), adalah cara bagaimana segala macam akad dalam
pernyataan pengikatan diri dilakukan pembiayaan perbankan syariah yang
dimana para pihak harus senada dengan pendapat yang sudah
menyampaikannya secara lisan/ dijelaskan sebelumnya, syarat-syarat

Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja | 38


Volume 1, Nomor 1, Pebruari 2015
ISSN : 2356-4164

tersebut adalah: (1.) dikelola oleh mudharib, maka akses


Ahliyatul’aqidaini (kedua pihak yang informasi bank terhadap usaha
melakukan akad cakap bertindak atau mudharib menjadi terbatas. Dengan
ahli); (2.) Qabiliyatul mahalli aqdi li demikian terjadi ketidak samaan
hukmihi (yang dijadikan objek akad informasi (assymetic information)
dapat menerima hukuman); (3.) Al- dimana mudharib banyak
wilyatus syar’iyah fi maudhu’il aqdi mengetahui informasi yang tidak
(akad itu diizinkan oleh syara diketahui oleh bank. Hal ini
dilakukan olen orang yang memungkinkan adanya perilaku yang
mempunyai hak melakukannya dan tidak peduli pada resiko (moral
melaksanakannya, walaupun dia hazard) oleh mudharib, yakni
bukan si ‘aqid sendiri); (4.) Alla mudharib melakukan hal-hal yang
yakunal ‘aqdu au madhu’uhu menguntungkan mudharib tapi
mamnu’an binashshin syar’iyin merugikan shahibul mal (bank).
(janganlah akad itu yang dilarang Untuk menghindari risiko
syara) seperti bai’ munabadzah.; (5.) tersebut, maka bank syariah
kaunul ‘aqdi mufidan (akad itu menerapkan batasan-batasan yang
memberikan faedah); (6.) Baqaul ijabi dikenal incentive compatible
shalihan ila mauqu’il qabul (ijab constraints yaitu mudharib secara
berjalan terus, tidak dicabut, sebelum sistematis dipaksa untuk berperilaku
terjadi qabul); (7.) Ittihadu majalisil memaksimalkan keuntungan bagi
‘aqdi (bertemu di majelis akad). Maka kedua belah pihak, baik mudharib
ijab menjadi batal apabila berpisah sendiri maupun shohibul maal
salah seorang dari yang lain dan (Karim, 2001).
belum terjadi qabul (Firdaus NH, Syarat dan ketentuan jaminan
et.al., 2005). merupakan syarat mutlak dalam
Jaminan Pembiayaan (Profit and pemberian pembiayaan merupakan
Loss Sharing) pengaman bagi bank dalam
Jaminan merupakan suatu mengantisipasi kerugian pada
kepercayaan yang diberikan keadaan tertentu supaya kerugian
peminjam (mudharib) kepada bank dapat dihindari.
pemberi pinjaman, bahwa ia tidak Pada umumnya jaminan yang
akan wanprestasi terhadap yang digunakan dalam pembiayaan profit
diperjanjikannya dan kepercayaan and loss sharing adalah jaminan
tersebut diaktualisasikan dalam kebendaan, karena jaminan
bentuk jaminan. Aktualisasi jaminan kebendaan memiliki keterkaitan
dalam pembiayaan mudharbah langsung dengan nasabah
contohnya merupakan upaya bank pembiayaan. Jika nasabah
syariah dalam mengantisipasi pembiayaan tidak dapat membayar
kerugian yang akan terjadi. Bank kewajibannya, maka akan
syariah tidak begitu saja memudahkan bank untuk melakukan
menyalurkan pembiayaan kepada proses pemenuhan kewajiban
mudharib atas dasar kepercayaan, nasabah pembiayaan (Imaniyati,
karena selalu ada risiko antara lain 2013).
pembiayaan yang telah diberikan
kepada mudharib tidak dipergunakan Simpulan
sebagaimana mestinya begitu dan

Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja | 39


Volume 1, Nomor 1, Pebruari 2015
ISSN : 2356-4164

Dari pembahasan di atas maka dengan perbankan konvensional


didapatkan kesimpulan bahwa: dalam penerapannya.
a. Melakukan perjanjian kredit Saran
adalah suatu proses awal antara Baik pemberian pinjaman uang
kreditor dan debitor yang melalui kredit yang dianut dalam
diterapkan dalam sistem sistem perbankan konvensional
perbankan konvensional dalam maupun pemberian pembiayaan yang
upayanya untuk mengembangkan dianut dalam sistem perbankan
dana yang telah dihimpunnya dan syariah kepada debitor dan mudharib
juga untuk dimanfaatkan dananya sejatinya adalah bertujuan satu yaitu
dengan sebaik-baiknya. Menurut untuk membantu mensejahterahkan
asasnya perjanjian menganut masyarakat secara adil dan merata.
sistem terbuka yang mengandung Sistem kontrol yang tinggi dan
asas kebebasan membuat aktif oleh pemerintah melalui Bank
perjanjian, dan menurut Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan
bentuknya perjanjian kredit yang didukung dengan regulasi yang
dalam perbankan konvensional tegas terhadap lembaga perbankan
ada yang dibuat di bawah tangan harus dimaksimalkan agar pemberian
dan ada pula dibuat di hadapan kredit dan pembiayaan bisa
notaris. dipermudah kepada debitor dan
b. Di dalam akad pembiayaan mudharib untuk tujuan kesejahteraan
perbankan syariah menganut masyarakat.
sistem bagi untung dan rugi Dalam hal ini lembaga
(Profit and Loss Sharing) yang perbankan justru yang berperan aktif
diyakini memiliki konsep yang untuk mengontrol, mengawasi dan
dianggap sangat tepat di tengah mengarahkan para nasabahnya untuk
kondisi ketidakadilan yang mencapai tujuan mereka. Bukan
dialami oleh masyarakat. Konsep justru nasabah yang berperan aktif
kebersamaan dalam menghadapi untuk mencari pinjaman dan
risiko dan memperoleh pembiayaan sedangkan lembaga
keuntungan, serta adanya perbankan yang pasif dalam hal ini.
keadilan dalam berusaha menjadi Sehingga pemberian kredit dan
suatu potensi yang sangat pembiayaan nantinya tidak selalu
strategis bagi perkembangan diperuntukkan orang yang mampu
Bank Syariah di masa yang akan saja tapi diperuntukan bagi golongan
datang. Sedangkan akad dalam menengah ke bawah, sehingga
pembiayaan yang ada dalam tercipta keadilan sosial dan ekonomi
perbankan syariah hampir dalam masyarakat kita sebagaimana
memiliki prinsip yang sama yang dicita-citakan oleh Pancasila
sebagai ruh dari negara kita.

Daftar Pustaka ________, 2007, Perbankan Syariah di


Buku/Makalah/Jurnal Indonesia, Gadjah Mada
Anshori, Abdul Ghofur, 2006, Pokok- University Press, Yogyakarta.
Pokok Hukum Perjanjian Islam Ash-Shiddiqy, M Hasbi, 2001,
di Indonesia, Citra Media, Pengantar Fiqh Muamalah,
Yogyakarta. Putra Rizki Utama, Semarang.

Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja | 40


Volume 1, Nomor 1, Pebruari 2015
ISSN : 2356-4164

Azzam, Abdul Aziz Muhammad, Hay, Murhainis Abdul, 1975, Hukum


2010, Fiqh Muamalat: Sistem Perbankan di Indonesia, Jilid II,
TransSaksi Dalam Fiqh Islam, Pradnya Paramita, Jakarta.
Amzah, Jakarta. http://al-aziz-
Badrulzaman, Mariam Darus, 1991, imronrosadi.blogspot.com/201
Perjanjian Kredit Bank 3/07, Hukum Perjanjian dalam
(beberapa Masalah Hukum Perspektif Hukum Islam (Al-
Dalam Perjanjian Kredit Bank qur’an dan Hadis), diambil pada
Dengan Jaminan Hypotheek tanggal 22/01/2015.
Serta Hambatan-Hambatannya Ikatan Bankir Indonesia, 2014,
Dalah Praktek di Medan, Citra Memahami Bisnis Bank (modul
Aditya Bakti, Bandung. sertifikasi tingkat I general
Bahsan, M., 2007, Hukum Jaminan dan Banking), edisi ke-2, cet. Ke-2,
Jaminan Kredit Perbankan Gramedia Pustaka Utama,
Indonesia, RajaGrafindo Jakarta.
Persada, Jakarta. Imaniyati, Neni Sri, 2013, Perbankan
Basyir, Ahmad Azhar, 2000, Asas-Asas Syariah dalam Perspektif Hukum
Hukum Muamalat (Hukum Ekonomi, Mandar Maju,
Perdata Islam), UII Press, Bandung.
Yogyakarta. Karim, Adiwarman A, 2001, Ekonomi
Bix, Brian H., Theories of Contract law Islam: Suatu Kajian
and Enforcing Promissory Kontemporer, Gema Insani
Morality: Comments on Charles Press, Jakarta.
Fried, Legal Studies Research Khairandy, Ridwan, 2004, Itikad Baik
Paper Series, Research Paper dalam Asas Kebebasan
No. 11-47, University of berkontrak, Program
Minnesota Law School. Pascasarjana Fakultas Hukum
Djamil, Fathurrahman, et. al., 2001, Universitas Islam Indonesia,
Hukum Perjanjian Syariah Jakarta
Dalam Kompilasi Hukum Kuzari, Achmad, 1995, Nikah Sebagai
Perikatan, Citra Aditya Bakti, Perikatan, Raja Grafindo
Bandung Persada, Jakarta.
Djumhana, Muhammad, 2006, Hukum Marsh, S. B., dan J. Soulsby, 2013,
Perbankan di Indonesia, Citra Business Law, Hukum Perjanjian
Aditya Bakti, Bandung. (terjemahan), Cet. Ke-4, Alumni,
Firdaus, Muhammad, et, al., 2005, Bandung.
Briefcase Book Edukasi Marsh, S.B. dan J. Soulsby, 2013,
Profesional Syariah, Cara Mudah Hukum Perjanjian, Cet. Ke-4,
Memahami Akad-Akad Syariah, Alumni, Bandung.
Renaisan, Jakarta. NH, Muhammad Firdaus, et.al., 2005,
Fried, Charles, 1981, Contract as Briefcase Book Edukasi
Promise Thirty Years On, Profesional Syariah, Cara Mudah
Harvard. Memahami Akad-Akad Syariah,
Harahap, M. Yahya, 1986, Segi-segi Renaisan, Jakarta.
Hukum Perjanjian, Alumni, Perwataatmadja, Karnaen, dan
Bandung. Muhammad Syafi’i Antonio,
1992, Apa dan Bagaimana Bank

Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja | 41


Volume 1, Nomor 1, Pebruari 2015
ISSN : 2356-4164

Islam, Dana Bakti Wakaf, Tim Prima Pena, 2006, Kamus Ilmiah
Yogyakarta. Populer Edisi Lengkap, Gita
Prodjodikoro, Wirjono, 1991, Hukum Media Press, Surabaya.
Perdata Tentang Persetujuan- Triandaru, Sigit, dan Totok
persetujuan Tertentu, Sumur Budisantoso, 2006, Bank dan
Bandung, Bandung. Lembaga Keuangan Lain,
Salim, 2005, Hukum Kontrak, Sinar Salemba Empat, Jakarta.
Grafika, Jakarta. Tutik, Titik Triwulan, 2008, Hukum
Soekanto, Soejono, 2006, Pengenalan Perdata Dalam Sistem Hukum
Penelitian Hukum, Grafindo, Nasional, Kencana, Jakarta.
Jakarta. Wibowo, Edy dan Untung Hendy,
Sood, M., et.al., 2005, Kedudukan dan 2005, Mengapa Memilih Bank
Kewenangan Dewan Pengawas Syariah, Ghalia Indonesia,
Syariah dalam Struktur PT. Bank Jakarta.
berkaitan dengan UU No 1
Tahun 1995 tentang Perseroan Undang-Undang
terbatas dan Produk Fatwa Kitab Undang-Undang Hukum
Dewan Syariah Nasional, Perdata/ Burgerlijk Wetboek
Laporan Penelitian, Kerja Sama Undang-Undang Nomor 21 Tahun
Antara Bank Indonesia dengan 2008 Tentang Perbankan
Fakultas Hukum Universitas Syariah.
Mataram. Undang-Undang Nomor 10 Tahun
Subekti, 1991, Hukum Perjanjian, Cet. 1998 Tentang Perubahan Atas
Ke XIII, Intermasa, Jakarta. Undang-Undang Nomor 7
______, 1991, Jaminan-Jaminan Untuk Tahun 1992 Tentang Perbankan
Pemberian Kredit Menurut Undang-Undang Nomor 7 Tahun
Hukum Indonesia, Citra Aditya 1992 tentang Perbankan
Bakti, Bandung. sebagaimana telah diubah
Suhendi, Hendi, 2002, Fiqh dengan Undang-undang Nomor
Muamalah, Rajawali Press, 10 Tahun 1998.
Jakarta. Lain-Lain
_______, 2007, Fiqh Mumalah: Al-Qur’an
Membahas Ekonomi Islam Yunus, Mahmud, 1990, Kamus Arab-
Kedudukan Harta, Hak Milik, Indonesia, Hidakarya Agung,
Jual Beli, Bunga Bank dan Riba, Jakarta.
Musyarakah, Ijarah, Mudayanah,
Koperasi, Asuransi, Etika Bisnis
dan lain-lain, cet. V, PT.
RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Sumiyanto, Ahmad, 2005, Problem
dan Solusi Transaksi
Mudharabah di Lembaga
Keuangan Mikro Syari’ah BMT,
Magistra Insani Press,
Yogyakarta.

Jurnal Komunikasi Hukum Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja | 42