Anda di halaman 1dari 10

JURANG INFORMASI SEBAGAI EFEK

Makalah Ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teori Komunikasi
Dosen Pengampu : Dr. HM. Kholili, M. Si.

Kelompok 9 :

1. Millenia Qurrotun Aini (18102010053)


2. Aglifa Shafly Al-Farabi (18102010055)
3. Diva Ulayya (18102010060)

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM


FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul
“Jurang Informasi Sebagai Efek”.

Makalah ini kami susun untuk memberikan pengetahuan tentang jurang informasi
sebagai efek. Dalam penulisan makalah ini, kami telah berusaha semaksimal mungkin dalam
penyusunan nya, jika terdapat kesalahan dalam penulisan makalah ini, kami memohon maaf
yang sebesar-besarnya.

Kritik dan saran yang membangun kami terima dengan senang hati dari semua pihak
agar selanjutnya bisa lebih baik lagi. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca dalam meningkatkan pengetahuan dan pendidikan. Semoga Allah SWT meridhoi
setiap usaha kita. Aamiin.

Yogyakarta, 22 April 2019

Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam membahas efek jangka panjang komunikasi massa, tampaknya penting
untuk dikemukakan suatu pokok bahasan yang disebut sebagai celah informasi atau
celah pengetahuan (information atau knowledge gaps). Latar belakang pemikiran ini
terbentuk oleh adanya arus informasi yang terus meningkat, yang sebagian besar
dimungkinkan oleh media massa. Secara teoretis peningkatan ini akan
menguntungkan setiap orang dalam masyarakat karena setiap individu memiliki
kemungkinan untuk mengetahui apa yang terjadi di sekelilingnya atau di dunia, yang
tentunya akan membantu dirinya dalam memperluas wawasan.
Meskipun demikian, sejumlah peneliti menunjukkan bahwa peningkatan arus
informasi sering kali menghasilkan efek negatif, di mana peningkatan pengetahuan
pada kelompok tertentu akan jauh meninggalkan melebihi kelompok lainnya. Dalam
hal seperti ini information gaps akan terjadi dan terus meningkat sehingga
menimbulkan jarak antara kelompok sosial yang satu dengan yang lain dalam hal
pengetahuan mengenai suatu topik tertentu.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka dapat dirumuskan
beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan jurang informasi sebagai efek ?
2. Hubungan jurang informasi sebagai efek dengan dakwah ?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Dapat mengetahui maksud dari jurang informasi sebagai efek.
2. Dapat mengetahui hubungan jurang informasi sebagai efek dengan dakwah.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Jurang Informasi Sebagai Efek


Dalam membahas efek jangka panjang komunikasi massa, tampaknya
penting untuk dikemukakan suatu pokok bahasan yang disebut sebagai celah
informasi atau celah pengetahuan (information atau knowledge gaps). Latar belakang
pemikiran ini terbentuk oleh adanya arus informasi yang terus meningkat, yang
sebagian besar dimungkinkan oleh media massa. Secara teoretis peningkatan ini akan
menguntungkan setiap orang dalam masyarakat karena setiap individu memiliki
kemungkinan untuk mengetahui apa yang terjadi di sekelilingnya atau di dunia, yang
tentunya akan membantu dirinya dalam memperluas wawasan.
Meskipun demikian, sejumlah peneliti menunjukkan bahwa peningkatan
arus informasi sering kali menghasilkan efek negatif, di mana peningkatan
pengetahuan pada kelompok tertentu akan jauh meninggalkan melebihi kelompok
lainnya. Dalam hal seperti ini information gaps akan terjadi dan terus meningkat
sehingga menimbulkan jarak antara kelompok sosial yang satu dengan yang lain
dalam hal pengetahuan mengenai suatu topik tertentu.
Phillip Tichenor (1970) yang mengawali pemikiran tentang knowledge gaps
ini menjelaskan bahwa ketika arus informasi dalam suatu sistem sosial meningkat,
maka mereka yang berpendidikan yaitu mereka yang memiliki status sosial ekonomi
yang lebih baik, akan lebih mudah, lebih cepat, dan lebih baik dalam menyerap
informasi dibandingkan mereka yang kurang berpendidikan dengan status yang lebih
rendah. Jadi, meningkatnya informasi akan menghasilkan melebarnya jurang/celah
pengetahuan daripada mempersempitnya.
Sementara itu Everett M. Rogers (1976) memperkuat asumsi tersebut
dengan mengatakan bahwa informasi bukan hanya menghasilkan melebarnya
knowledge gaps, tetapi juga gaps yang berkaitan dengan sikap dan perilaku. Lebih
lanjut dia mengemukakan bahwa komunikasi massa bukan satu-satunya penyebab
terjadinya gaps tersebut, karena komunikasi langsung antar individu dapat memiliki
efek yang serupa
Suatu konsep lain yang dikemukakan oleh sekelompok peneliti dari Swedia,
menjelaskan tentang karakteristik dan sumber-sumber yang memungkinkan seseorang
untuk memberi dan menerima informasi, dan yang membantu proses komunikasi bagi
dirinya. Konsep yang disebut `potensi komunikasi' tersebut dipandang sebagai alat
untuk mencapai/mendapatkan nilai-nilai tertentu dalam hidupnya. Ukuran dan bentuk
potensi komunikasi tergantung pada tiga karakteristik utama, yaitu:
1. Karakteristik pribadi. Orang memiliki sekaligus kemampuan alamiah seperti
melihat atau berbicara, dan kemampuan yang diperoleh melalui pembelajaran
seperti berbicara dalam beberapa bahasa yang berbeda. Di samping itu is
memiliki potensi komunikasi, pengetahuan, sikap, dan kepribadian tertentu.
2. Karakteristik seseorang tergantung pada posisi sosialnya. Posisi ini ditentukan
oleh variabel-variabel seperti penghasilan, pendidikan, umur, dan jenis kelamin.
3. Karakteristik dari struktur sosial di mana seseorang berada. Salah satu faktor
penting adalah berfungsinya primary group (misalnya keluarga, kelompok kerja),
dan secondary group (misalnya organisasi, sekolah, klub) dalam hal komunikasi.
Dalam konteks ini, adalah relevan untuk menganggap masyarakat sebagai sistem
komunikasi.
Potensi tersebut dapat membawa pada pencapaian nilai-nilai dan tujuan-
tujuan tertentu. Sebagai contoh, pembentukan identitas diri dan tumbuhnya solidaritas
dapat mempengaruhi situasi kehidupan seseorang, dan dapat mempengaruhi
masyarakat secara keseluruhan. Jika kita tempatkan konsep di atas dalam konteks
media massa, maka kita harus menganggap ketiga karakteristik tersebut sebagai
variabel independen dan tingkat pencapaian nilai dan tujuan sebagai variabel
dependen (efek/konsekuensi). Dalam perspektif yang lebih Was kita dapat
mengasumsikan bahwa, jika dalam suatu masyarakat terdapat perbedaan yang
sistematis antara berbagai potensi komunikasi dari berbagai kelompok yang berbeda,
maka akan menyebabkan terjadinya perbedaan yang sistematis pula dalam pencapaian
tujuan dan nilai dari kelompok-kelompok tersebut.
Pemikiran tentang adanya information gaps atau knowledge gaps dalam
masyarakat ternyata belum cukup menjelaskan fenomena yang terjadi. Sebenarnya
tidak hanya terdapat satu information gaps, tetapi banyak dan tidak sama antara satu
dengan lainnya. Misalnya, ada gaps dalam informasi politik dan informasi tentang
meningkatnya biaya hidup, dan biasanya gaps dalam informasi tentang situasi politik
dunia lebih besar dibanding dengan gaps yang terjadi dalam informasi tentang
kenaikan biaya hidup.
Berangkat dari pemikiran tentang adanya berbagai information gaps dalam
suatu masyarakat, kita akan menemukan pula bahwa gaps yang berbeda terjadi dalam
berbagai bentuk dan cara yang berbeda pula.
Selanjutnya, beberapa anggapan menyatakan bahwa gaps cenderung
meningkat seiring dengan waktu. Dalam beberapa kasus tertentu hal ini dapat terjadi,
namun Thunberg (1979) mengemukakan bahwa situasi sebaliknya dapat pula terjadi.
Yaitu ketika gaps yang pada awalnya melebar akhirnya dapat menutup ketika
kelompok yang status social ekonominya lebih rendah dapat menyusulnya. Dalam hal
ini yang terjadi hanyalah persoalan waktu saja. Pada awalnya, ketika kelompok yang
diuntungkan karena memiliki akses dan exposure pada komunikasi yang lebih baik
(memiliki potensi komunikasi yang tinggi) dengan cepat mampu menyerap informasi
tentang topik tertentu yang beredar dalam masyarakat. Meskipun demikian pada
akhirnya kelompok yang memiliki potensi komunikasi rendah akan dapat menyusul
penyerapan informasi tersebut sehingga gaps akan menutup.
Model semacam itu disebut memiliki ceiling effects, artinya ada plafon atau
batas tertentu dalam penyerapan informasi. Ceiling effects terjadi jika potensi
informasi mengenai suatu topik tertentu adalah terbatas. Mereka yang memiliki
kapasitas yang besar dalam menyerap informasi, setelah sekian waktu tidak akan
menemukan lagi informasi yang tersisa mengenai suatu topik tertentu. Hal ini
menyebabkan kelompok dengan potensi komunikasi yang rendah akan mampu
menyusulnya. Efek ini juga dapat terjadi jika kelompok yang potensial tidak lagi
memiliki motivasi untuk mencari lebih banyak informasi, sementara kelompok yang
kurang potensial masih termotivasi, sehingga dalam waktu tertentu mereka juga akan
menjadi well informed.
Meskipun demikian Donohue (1975) menegaskan bahwa tidak semua gaps
dapat menutup. Beberapa penelitian yang dilakukannya di Amerika menunjukkan
bahwa perhatian yang besar terhadap media menghasilkan pelebaran gaps antara
mereka yang berpendidikan tinggi dengan mereka yang berpendidikan rendah.
Diungkapkan pula bahwa ketika suatu topik tidak lagi menjadi pembicaraan umum,
sehingga tidak ada lagi atau hanya sedikit orang yang masih membicarakannya, gap
antara mereka yang memiliki potensi komunikasi tinggi dan mereka yang memiliki
potensi komunikasi rendah akan tetap sama (tidak menutup) atau bahkan menjadi
melebar.
B. Hubungan Jurang Informasi Sebagai Efek dengan Dakwah
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/24428093/Teori_Komunikasi_Massa_Media_Efek_dan_A
udience_Modul_5
https://www.academia.edu/30082456/Bahan_Teori_Information_Gaps
https://sarahmaesaroh.wordpress.com/ilam/