Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang sering dialami oleh para
lansia, dan dapat memicu timbulnya penyakit degenerative seperti gagal
ginjal dan gagal jantung kongestif.
Berdasarkan American Heart Association (AHA, 2001) terjadi
peningkatan rata-rata kematian akibat hipertensi sebesar 21% dari tahun
1989 sampai 1999. Secara keseluruhan kematian akibat hipertensi
mengalami peningkatan sebesar 46%. Data riset kesehatan dasar
(Riskesdas) menyebutkan hipertensi merupakan penyebab kematian nomor
tiga setelah stroke dan tuberculosis, jumlahnya mencapai 6,8% dari
populasi penyebab kematian pada semua umur di Indonesia.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana definisi dari hipertensi?
2. Bagaimana etiologi dari hipertensi?
3. Bagaimana klasifikasi dari hipertensi?
4. Bagaimana patofisiologi dari hipertensi?
5. Bagaimana manifestasi klinis dari hipertensi?
6. Bagaimana komplikasi dari hipertensi?
7. Bagaimana penatalaksanaan dari hipertensi?
8. Bagaimana pemeriksaan penunjang dari hipertensi?
9. Bagaimana konsep asuhan keperawatan dari hipertensi?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui proses keperawatan pada lanjut usia yang
menderita hipertensi
2. Tujuan Khusus
- Dapat memahami pengertian hipertensi
- Dapat memahami etiologi hipertensi
- Dapat memahami klasifikasi hipertensi

1
- Dapat memahami patofisiologi hipertensi
- Dapat memahami manifestasi klinis dari hipertensi
- Dapat memahami komplikasi hipertensi
- Dapat memahami penatalaksanaan medis dari hipertensi
- Dapat memahami pemeriksaan penunjang dari hipertensi
- Dapat memahami komplikasi dari difteri
- Dapat memahami dan menerapkan asuhan keperawatan
gerontik dengan hipertensi

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Hipertensi adalah kondisi tekanan darah seseorang yang berada di atas
batas-batas tekanan darah normal. Hipertensi disebut juga pembunuh gelap
atau silent killer. (Susilo & Wulandari 2011)
Hipertensi adalah sebagai peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya
140 mmHg atau tekanan diastolic sedikitnya 90 mmHg. Hipertensi tidak
hanya beresiko tinggi menderita penyakit jantung, tetapi juga menderita
penyakit lainseperti penyakit saraf, ginjal, dan pembuluh darah dan makin
tinggi tekanan darah, makin besar resikonya. (Sylvia A. Price dalam Nurarif
dan Hardhi Kusuma, 2015)
Jadi, hipertensi adalah kondisi di mana tekanan darah lebih tinggi dari
140/90 mmHg. Angka 140 mmHG merujuk pada sistolik, ketika jantung
memompa darah ke seluruh tubuh. Sementara itu, angka 90 mmHg mengacu
pada diastolik, ketika jantung dalam keadaan rileks dan mengisi ulang bilik-
biliknya dengan darah.

B. Etiologi
Hipertensi disebabkan oleh berbagai faktor yang sangat mempengaruhi
satu sama lain. Penyebab penyakit hipertensi yang diketahui adalah hipertensi
sekunder, sedangkan hipertensi essensial penyebabnya belum diketahui
secara pasti (ideopatik). Adapun penyebab hipertensi sekunder, berikut
faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya hipertensi secara umum (Susilo &
Wulandari, 2011):

a. Toksin
Toksin adalah zat-zat sisa pembuangan yang harusnya dibuang
karena bersifat racun.

3
b. Faktor genetik
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan
keluerga tersebut mempunyai resiko menderita hipertensi.
c. Faktor umur
Hipertensi akan meningkat seiring dengan bertambahnya umur
seseorang. Individu yang berumur diatas 60 tahun, 50-60%
mempunyai tekanan darah lebih besar atau sama dengan 140/90
mmHg.
d. Jenis kelamin
Setiap jenis kelamin memiliki struktur organ dan hormon yang
berbeda. Begitu pun yang terjadi pada perempuan dan laki-laki.
Laki-laki lebih beresiko tinggi untuk menderita hipertensi dari
perempuan.
e. Etnis
Hipertensi lebih banyak terjadi pada orang berkulit hitam daripada
yang berkulit putih. Belum diketahui secara pasti penyebabnya
(ideopatik) tetapi pada orang kullit hitam ditemukan kadar renin
yang lebih rendah dan sensitivitas terhadap vasopresin yang lebih –
besar, inilah yang menyebabkan mereka lebih rentan terkena
hipertensi.
f. Faktor stress
Seseorang yang mengalami stres akan membangkitkan saraf
simpatetis yang akan memicu kerja jantung dan menyebabkan
peningkatan tekanan darah.
g. Faktor obesitas (kegemukan)
Kegemukan (obesitas) juga merupakan salah satu faktor yang
menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit berat salah
satunya adalah hipertensi.

4
h. Nutrisi
Sodium adalah penyebab penting terjadinya hipertensi primer.
Asupan garam tinggi akan menyebabkan pengeluaran berlebihan dari
hormon natriouretik yang secara tidak langsung akan meningkatkan
tekanan darah.
i. Merokok
Merokok merupakan faktor risiko yang potensial peningkatan
hipertensi khususnya dan penyakit kardiovaskuler.
j. Narkoba
Komponen-komponen zat aditif dalam narkoba akan memicu
peningkatan tekanan darah. Efek buruk yang ditimbulkannya sangat
besar.
k. Alkohol
Penggunaan alkohol secara berlebihan juga akan menimbulkan
peningkatan tekanan darah.
l. Kafein
Kopi adalah bahan minuman yang banyak mengandung kafein.
Kandungan kafein selain tidak baik pada tekanan darah, dalam
jangka panjang pada orang-orang tertentu juga menimbulkan efek
yang tidak baik seperti tidak bisa tidur, jantung berdebar-debar,
sesak napas, dan lain-lain.
m. Kurang olahraga
Hidup di zaman modern seperti sekarang ini, banyak kegiatan yang
dapat dilakukan dengan cepat dan praktis. Selain itu, banyaknya
kesibukan juga cenderung membuat orang tidak punya waktu untuk
berolahraga. Akibatnya bisa menjadi kurang gerak dan kurang
olahraga, kondisi seperti inilah yang akan menyebabkan hipertensi.
n. Kolesterol tinggi
Kandungan lemak yang berlebihan dalam darah dapat menyebabkan
penumpukkan kolesterol pada dinding pembuluh darah. Hal ini dapat

5
membuat pembuluh darah menyempit dan akibatnya tekanan darah
akan meningkat (Susilo & Wulandari, 2011).

C. Jenis Hipertensi

Jenis-jenis hipertensi antara lain :


a. Hipertensi esensial (hipertensi primer)
Hipertensi primer secara umum belum diketahui penyebabnya
(ideopatik). Sekitar 90-95% hipertensi adalah hipertensi primer. Hipertensi
primer biasanya terjadi pada proses labil (intermiten) pada individu di umur
akhir 30-an dan awal 50-an. (Susilo dan Wulandari, 2011)
b. Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder merupakan hipertensi yang disebabkan karena
gangguan pembuluh darah atau organ tertentu atau yang disebabkan oleh
penyakit lain. Hipertensi sekunder biasanya disebabkan oleh penyakit seperti
penyakit ginjal, endokrin, obat-obatan dan lain sebagainnya. (Widyanto &
Tribowo, 2013)

Penyebab hipertensi sekunder menurut (Jurnal Nursing, 2011) antara lain :


a) Koarktasi aorta
b) Sindrom cushing
c) Obat, misal kokain, epoetin alfa dan siklosporin
d) Penggunaan kontraseptif hormonal
e) Gangguan neurologis
f) Feokromositoma
g) Kehamilan
h) Hiperaldosteronisme primer
i) Disfungsi tiroid, pituitari atau paratiroid

6
D. Patofisiologi
Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa
cara yaitu jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak
cairan pada setiap detiknya arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi
kaku sehingga mereka tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa
darah melalui arteri tersebut. Darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk
melalui pembuluh darah yang sempit dari pada biasanya dan menyebabkan
naiknya tekanan. Inilah yang terjadi pada usia lanjut, dimana dinding
arterinya telah menebal dan kakukarena arteriokalierosis. (Triyanto, 2010)
Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkatkan pasa saat
terjadi vasokontriksi, yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu
mengkerut karena perangsangan saraf atau hormone di dalam darah.
Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya
tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga
tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume
darah dalam tubuh meningkat sehingga tekanan darah juga meningkat.
(Triyanto, 2010)
Ginjal merupakan organ penting dalam mengendalikan tekanan darah,
karena itu berbagai penyakit dan kelainan pada ginjal dapat menyebabka
terjadinya tekanan darah tinggi. Peradangan dan cedera pada salah satu atau
kedua ginjal juga bisa menyebabkan naiknya tekanan darah. (Triyanto, 2010)
Sistem saraf simpatis merupakan bagian dari system saraf otonom yang
untuk sementara waktu akan meningkatnya tekanan darah selama respon
fight-or-flight (reaksi fisik tubuh terhadap ancaman dari luar), meningkatnya
kecepatan dan kekuatan denyut jantung, dan juga mempersempit sebagian
besar arteriola, tetapi memperlebar arteriola di daerah tertentu (misalnya otot
rangka yang memerlukan pasokan darah yang lebih banyak), mengurangi
pembuangan air dan garam oleg ginjal, sehingga akan meningkatkan volume
darah dalam tubuh, pelepasan hormoneepinefrin (adrenalin) dan
nonepinefrinn (nonadrenalin), yang merangsang jantung dan pembuluh
darah. Faktor stres merupakan satu faktor pencetus terjadinya peningkatan

7
tekanan darah dengan proses pelepasan hormone epinefrin dan nonepinefrin.
(Triyanto, 2010)

Pathway

Nurarif dan Hardhi Kusuma, 2015

8
E. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yang timbulkan dari hipertensi antara lain (Herlambang,
2013) :

a. Sakit kepala
b. Kelelahan
c. Mual
d. Muntah
e. Sesak nafas
f. Gelisah
g. Pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak,
mata, jantung dan ginjal.

Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan


bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut
enselopati hipertensif, yang harus dilakukan penanganan segera.
(Herlambang, 2013)

F. Komplikasi
Apabila seseorang mengalami hipertensi maka dia juga akan mengalami
komplikasi dengan penyakit lainnya. Bila terjadi satu gangguan pada organ
tubuh manusia akan menyebabkan gangguan pada bagian lainnya. Apabila
satu organ sakit maka organ yang lainnya juga akan ikut terganggu. Berikut
beberapa komplikasi dari penyakit hipertensi (Susilo & Wulandari 2011) :
a. Hipertensi dapat merusak ginjal
Hipertensi yang tidak terkontrol dapat merusak ginjal. Hipertensi
adalah salah satu penyebab penyakit ginjal kronis. Hipertensi membuat
ginjal harus bekerja lebih keras. Akibatnya, sel-sel pada ginjal akan lebih
cepat mengalami kerusakan.
b. Hipertensi dapat merusak kinerja otak
Secara keseluruhan, hipertensi akan mengganggu seluruh kinerja
kesehatan di dalam tubuh. Kinerja otak terganggu karena tekanan darah

9
yang menyebabkan pembentukkan lepuh kecil di otak (neurisma) yang
selanjutnya akan menimbulkan terjadinya stroke dan gagal jantung, karena
terjadinya penyempitan dan pergeseran pembuluh-pembuluh darah yang
ada di jantung.
c. Hipertensi dapat merusak kinerja jantung
Penderita hipertensi yang tidak mendapatkan pengobatan dan
pengontrolan secara teratur (rutin) maka penderita dapat beresiko dalam
kasus-kasus serius bahkan bisa menyebabkan kematian. Tekanan darah
tinggi yang terus-menerus menyebabkan jantung pnderita bekerja ekstra
keras. Dan akhirnya, dapat berkibat terjadinya kerusakan pada pembuluh
darah jantung, gingal, otak, dan mata.
d. Hipertensi dapat menyebabkan kerusakan mata
Selain dapat menyebabkan pembesaran jantung, gagal ginjal,
kerusakan otak atau saraf, hipertensi juga menyebabkan kerusakan pada
mata. Adanya gangguan dalam tekanan darah akan menyebabkan
perubahan-perubahan dalam retina pada belakang mata.
e. Hipertensi dapat menyebabkan resistensi pembuluh darah
Penderita penyakit hipertensi akut biasanya mengalami kekakuan
yang meningkat atau resistensi pada pembuluh-pembuluh darah sekeliling
jaringan-jaringan tubuhnya. Peningkatan resistensi ini menyebabkan otot
jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah melalui pembuluh-
pembuluh darah. Peningkatan beban kerja ini dapat menegangkan jantung
yang dapat menjurus pada kalaianan-kalaianan jantung yang umumnya
terlihat sebagai pembesaran otor jantung.
f. Hipertensi dapat menyebabkan stroke
Hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan stroke yang
dapat menyebabkan kerusakan pada otak atau saraf. Stroke umumnya
disebabkan oleh suatu hemorrhage (kebocoran darah atau leaking blood)
atau suatu gumpalan darah (trombosis) dari pembuluh-pembuluh darah
yang mensuplai darah ke otak.

10
G. Penatalaksanaan
Banyak penelitian menunjukkan bahwa pentingnya terapi hipertensi pada
lanjut usia, dimana terjadi penurunan morbiditas dan mortalitas akibat penyakit
kardiovaskuler dan serebrovaskuler (Kuswardhani, 2006). Terapi pada pasien usia
lanjut meliputi terapi norfamakologis dan farmakologis. Terapi non farmakologis
harus dilaksanakan oleh semua pasien hipertensi dengan tujuan menurunkan
tekanan darah dan mengendalikan faktor-faktor resiko serta penyakit penyerta
lainnya. Terapi non farmakologis terdiri dari:
a. Menghentikan merokok
b. Menurunkan berat badan
c. Menurunkan konsumsi alkohol berlebih
d. Latihan fisik
e. Menurunkan asupan garam
f. Meningkatkan konsumsi buah dan sayur serta menurunkan asupan lemak
(Yogiantoro, 2009).
Jenis-jenis obat antihipertensi untuk terapi farmakologis hipertensi yang
dianjurkan oleh JNC 7 adalah:
a. Diuretika, terutama jenis thiazide atau agonis aldosteron
b. Beta Blocker (BB)
c. Calcium Chanel Blocker
d. Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI)
e. Angiotensin II Receptor Blocker (ARB)
Untuk sebagian besar pasien hipertensi, terapi dimulai secara bertahap, dan
target tekanan darah dicapai secara progresif dalam beberapa minggu. Dianjurkan
untuk menggunakan obat antihipertensi dengan masa kerja penuh atau yang
memberikan efek 24 jam dengan pemberian sekali sehari. Pilihan apakah memulai
terapi dengan satu jenis obat hipertensi atau dengan kombinasi tergantung pada
tekanan darah awal dan ada tidaknya komplikasi. Jika terapi dimulai dengan satu
jenis obat dan dalam dosis rendah, dan kemudian tekanan darah belum mencapai
target, maka langkah selanjutnya adalah meningkatkan dosis obat tersebut, atau
berpindah ke antihipertensi lainnya dengan dosis rendah. Efek samping umumnya

11
bisa dihindari dengan menggunakan dosis rendah, baik tunggal maupun
kombinasi.
Sebagian besar pasien memerlukan kombinasi obat antihipertensi untuk
mencapai tekanan darah, tetapi kombinasi obat dapat meningkatkan biaya
pengobatan dan menurunkan kepatuhan pasien karenajumlah obat yang harus
diinum bertambah. Kombinasi obat yang telah terbukti efektif dan dapat
ditoleransi pasien adalah:
a. Diuretika dan ACEI atau ARB
b. CCB dan BB
c. CCB dan ACEI atau ARB
d. CCB dan diuretika
(Yogiantoro, 2009)

H. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Hb/Ht : untuk mengkaji hubungan dari sel – sel terhadap volume
cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko seperti
hipokoagulabilitas, anemia.
b. BUN/kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi/fungsi
ginjal.
c. Glukosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapat
diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin
d. Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal
dan ada DM
2. CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati
3. EKG : Dapat menunjukkan pola regangan, dimana luas, peninggian
gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi
4. IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti batu ginjal,
perbaikan ginjal

12
5. Photo dada : menunjukkan destruksi klasifikasi pada area katup,
pembesaran jantung
(Nurarif dan Hardhi Kusuma, 2015)

13
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Identitas
a) Identitas pasien berupa nama, tanggal lahir, umur, jenis kelamin, status,
agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, nomor RM, diagnosa medis.
b) Identitas penanggung jawab berupa nama, tanggal lahir, jenis kelamin,
status, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, hubungan dengan pasien.
c) Catatan medis.

Riwayat Kesehatan
a) Keluhan utama
b) Riwayat kesehatan sekarang
c) Riwayat kesehatan dahulu
d) Riwayat kesehatan keluarga

Pengkajian Fungsional Gordon


a) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
b) Pola nutrisi
c) Pola eliminasi
d) Pola istirahat dan tidur
e) Pola personal hygiene
f) Pola aktivitas dan latihan
g) Pola manajemen kesehatan
h) Pola konsep diri
i) Pola hubungan dan peran
j) Pola seksual dan reproduksi

Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan umum dan kesadaran umum
b) Tanda-tanda vital berupa tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu
c) Pemeriksaan head to toe

14
d) Pemeriksaan nyeri
e) Data penunjang
f) Program terapi
g) Data fokus

2. Diagnosa Keperawatan
a) Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral
dan iskemia
b) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik
c) Ansietas berhubungan dengan insomnia
(Nurarif dan Hardhi Kusuma, 2015)

3. Intervensi
Tujuan dan Kriteria
Dx Intervensi Rasional
Hasil
1 Setelah dilakukan a) Observasi TTV pasien a) Mengetahui TTV
tindakan b) Lakukan pengkajian nyeri dari pasien
keperawatan …x24 (P, Q, R, S, T) b) Mendapatkan
jam, diharapkan c) Ajarkan teknik relaksasi hasil dari :
nyeri yang dirasakan nafas dalam - P (pemacu)
pasien berkurang d) Kolaborasi dengan dokter - Q (quality)
dengan kriteria hasil: dalam pemberian obat - R (region)
a) Skala nyeri analgesik - S (severity)
rentang 1-3 - T (time)
b) Pasien tidak c) Memberikan rasa
meringis sakit nyaman terhadap
pasien
d) Pemberian obat
analgesik untuk
mengurangi nyeri

15
2 Setelah dilakukan a) Observasi TTV pasien a) Mengetahui TTV
tindakan b) Anjurkan pasien untuk pasien
keperawatan selama meningkatkan istirahat b) Agar pasien
3x24 jam diharapkan c) Anjurkan keluarga untuk istirahat cukup
kemampuan dalam membantu pasien dalam dan tidak merasa
aktifitas kembali melakukan aktifitas lemas
normal dengan seperti berpakaian, c) Agar pasien
kriteria hasil: toileting, berpindah. dapat melakukan
a) Pasien mampu aktifitas secara
melakukan normal
aktifitas secara
mandiri seperti
berpakaian,
toileting,
berpindah
b) Pasien tidak
lemah
3 Setelah dilakukan a) Ajari pasien teknik a) Agar pasien
tindakan relaksasi merasa rileks
keperawatan 3x24 b) Beritahu keluarga pasien b) Agar pasien
jam diharapkan untuk memberikan merasa nyaman
pasien tidak merasa keamanan dan dan tidak cemas
cemas dengan mengurangi rasa takut c) Agar keluarga
kriteria hasil : pada pasien tahu keinginan
a) Klien mampu c) Dengarkan dengan penuh pasien
mengidentifikasi perhatian d) Agar pasien
dan d) Bantu pasien mengenal terhindar dari
mengungkapkan situasi yang menimbulkan kecemasan yang
gejala cemas kecemasan berlebihan
b) Mengidentifikasi, e) Dorong pasien untuk e) Mengetahui
mengungkapkan mengungkapkan perasaan, bagaimana

16
dan menunjukkan ketakutan, persepsi kondisi pasien
teknik untuk
mengontrol
cemas
c) Postur tubuh,
ekspresi wajah,
bahasa tubuh dan
tingkat aktivitas
menunjukkan
berkurangnya
kecemasan

(Nurarif dan Hardhi Kusuma, 2015)

4. Implementasi
Melakukan tindakan asuhan keperawatan yang sesuai dengan intervensi
yang telah disusun.

5. Evaluasi
Dx 1 : Setelah dilakukan tindakan keperawatan …x24 jam,
diharapkan nyeri yang dirasakan pasien berkurang dengan kriteria hasil:
a) Skala nyeri rentang 1-3
b) Pasien tidak meringis sakit

Dx 2 : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam


diharapkan kemampuan dalam aktifitas kembali normal dengan kriteria
hasil:
a) Pasien mampu melakukan aktifitas secara mandiri seperti berpakaian,
toileting, berpindah
b) Pasien tidak lemah

17
Dx 3 : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam
diharapkan pasien tidak merasa cemas dengan kriteria hasil :
a) Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas
b) Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan teknik untuk
mengontrol cemas
c) Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas
menunjukkan berkurangnya kecemasan

18
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang sering dialami oleh
para lansia, dan dapat memicu timbulnya penyakit degenerative.
Seseorang dikatakan terkena hipertensi mempunyai tekanan darah sistolik
≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg. Banyak faktor
yang menyebabkan hipertensi. Apabila seseorang mengalami hipertensi
maka dia juga akan mengalami komplikasi dengan penyakit lainnya.
B. Saran
Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang
membawanya dan penulis juga berharap dapat menerima sara dan kritik
dari para pembawa yang dapat membangun untuk kesempurnaan makalah
ini selanjutnya.

19
DAFTAR PUSTAKA

Herlambang. 2013. Menaklukkan Hipertensi dan Diabetes. Yogyakarta :


Tugu Publisher
Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan
Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc.
Yogyakarta : Mediaction
Susilo, Yekti dan Ari Wulandari. 2011. Cara Jitu Mengatasi Hipertensi.
Jakarta : Andi Publisher
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan
Indonesia : Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta : DPP PPNI
Triyanto, Endang. 2010. Pelayanan Keperawatan Bagi Penderita Hipertensi
Secara Terpadu. Yogyakarta: Graha Ilmu
Widyanto, F.C dan Triwibowo C. 2013. Trend Disease. Jakarta : Trans Info
Media
Yogiantoro, M. 2009. Hipertensi Esensial dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit
dalam Edisi IV. Jakarta : Balai Penerbit FKUI

20