Anda di halaman 1dari 10

A.

Fisiologi pendengaran
Gelombang Suara masuk melalui telinga luar  Masuk ke membran timpani Membran
Timpani mengubah gelombang suara menjadi getaran  Getaran Diteruskan ke Koklea (Rumah
Siput  Getaran membuat cairan di rumah siput bergerak Pergerakan cairan merangsang
berbagai reseptor rambut di koklea (rumah siput)  Sel rambut akan bergetar  Getaran akan
dikirim melalui saraf sensoris menuju otak dalam bentuk impuls  Otak menerima impuls dan
menerjemahkannya sebagai suara.

B. Definisi
Otitis media akut (OMA) adalah suatu peradangan akut pada telinga tengah yang umunya
terjadi dalam waktu kurang dari 3 minggu. Keadaan ini terjadi akibat adanya gangguan pada
sistem pertahanan (silia mukosa tuba Eustachius, enzim dan antibodi) yang menghalangi
masuknya mikroorganisme ke dalam telinga tengah.

OMA lebih sering terjadi pada anak-anak yang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
posisi dari tuba Eustachius yang cenderung lebih horizontal, pendek dan lebar.Berbeda dengan
tuba Eustachius pada orang dewasa, dimana posisinya lebih tinggi dibanding anak-anak dan
lebih panjang.

Faktor lain yang mempengaruhi adalah kecenderungan anak-anak terhadap penyakit infeksi
saluran napas bagian atas (ISPA), dimana semakin sering anak menderita ISPA maka
kemungkinannya untuk terkena OMA semakin besar.

C. Klasifikasi

Otitis Media
Supuratif Akut/Otitis
Media Akut
Otitis Media
Supuratif
Otitis Media
Supuratif Kronik

Otitis Media
Adhesiva

Otitis Media
Otitis Media Spesifik
Otitis Media Serosa
Akut

Otitis Media Serosa


(Non Supuratif)
Otitis Media Serosa
Kronik
1. Berdasarkan Gejala
1.1 Otitis Media Supuratif :
1.1.1 Otitis Media Supuratif Akut/Otitis Media Akut
Proses peradangan pada telinga tengah yang terjadi secara cepat dan
singkat (dalam waktu kurang dari 3 minggu) yang disertai dengan
gejala lokal dan sistemik.(Munilson, Jacky. Et al.)
1.1.2 Otitis Media Supuratif Kronik
Infeksi kronik telinga tengah disertai perforasi membran timpani dan
keluarnya sekret yang apabila tidak ditangani dengan tepat akan
membuat progresivitas penyakit semakin bertambah.
1.2 Otitis Media Adhesiva: Keadaan terjadinya jaringan fibrosis di telinga tengah
sebagai akibat proses peradangan yang berlangsung lama
1.3 Otitis Media Non Supuratif / Serosa
1.3.1 Otitis Media Serosa Akut
Keadaan terbentuknya sekret di telinga tengah secara tiba-tiba yang
disebabkan oleh gangguan fungsi tuba.
1.3.2 Otitis Media Serosa Kronik
Pada keadaan kronis sekret terbentuk secara bertahap tanpa rasa nyeri
dengan gejala – gejala pada telinga yang berlangsung lama. Terjad
sebagai gejala sisa dari otitis media akut yang tidak sembuh sempurna.
D. Manifestasi Klinik dan Stadium
Gejala klinik otitis media akut tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien.
Keluhan yang biasanya timbul adalah otalgia, otorea, pendengaran berkurang, rasa penuh di
telinga, demam. Pada anak-anak biasanya timbul keluhan demam, anak gelisah dan sulit tidur,
diare, kejang, kadang-kadang anak memegang telinga yang sakit. Stadium otitis media akut
berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah terdiri dari :

i. Stadium Oklusi Tuba Eustachius

Tanda adanya oklusi tuba eustachius ialah adanya gambaran retraksi membran timpani akibat
tekanan negatif didalam telinga tengah, karena adanya absorpsi udara. Posisi malleus menjadi
lebih horizontal, refleks cahaya juga berkurang, edema yang terjadi pada tuba eustachius juga
menyebabkannya tersumbat. Kadang-kadang membrane timpani tampak normal atau berwarna
keruh pucat. Efusi mungkin telah terjadi, tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini sukar
dibedakan dengan otitis media serosa yang disebabkan oleh virus atau alergi.
ii. Stadium Hiperemis (presupurasi)

Pada stadium ini tampak seluruh membrane timpani hiperemis serta edem. Sekret yang telah
terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat1. Hiperemis
disebabkan oleh oklusi tuba yang berpanjangan sehingga terjadinya invasi oleh mikroorganisme
piogenik. Proses inflamasi terjadi di telinga tengah dan membran timpani menjadi kongesti.
Stadium ini merupakan tanda infeksi bakteri yang menyebabkan pasien mengeluhkan otalgia,
telinga rasa penuh dan demam. Pendengaran mungkin masih normal atau terjadi gangguan
ringan, tergantung dari cepatnya proses hiperemis. Hal ini terjadi karena terdapat tekanan udara
yang meningkat di kavum timpani. Gejala-gejala berkisar antara dua belas jam sampai dengan
satu hari.

iii. Stadium Supurasi


Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superficial, serta
terbentuknya sekret eksudat yang purulen di cavum timpani menyebabkan membrane timpani
menonjol (bulging) ke arah liang telinga luar.

Pada keadaan ini pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta rasa nyeri di
telinga bertambah hebat. Apabila tekanan nanah di cavum timpani tidak berkurang maka terjadi
iskemia akibat tekanan pada kapiler-kapiler, kemudian timbul tromboflebitis pada vena-vena
kecil serta nekrosis pada mukosa dan submukosa. Nekrosis ini pada membrane timpani terlihat
sebagai daerah yang lembek dan berwarna kekuningan atau yellow spot. Di tempat ini akan
terjadi rupture.

iv. Stadium Perforasi


Karena beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian antibiotic atau virulensi kuman yang
tinggi, maka dapat terjadi rupture membrane timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga
tengah ke telinga luar, secret yang keluar terlihat seperti berdenyut. Anak-anak yang tadinya
gelisah sekarang menjadi tenang, suhu badan turun dan anak-anak dapat tidur nyenyak.

v. Stadium Resolusi
Stadium terakhir dari OMA. Bila membrane timpani tetap utuh maka keadaan membrane
timpani perlahan-lahan akan normal kembali bila sudah terjadi perforasi, kemudian secret akan
berkurang dan akhirnya kering. Pendengaran kembali normal. Bila daya tahan tubuh baik atau
virulensi kuman rendah, maka resolusi dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan. Otitis media
akut dapat menimbulkan gejala sisa (sequele) berupa otitis media serosa bila secret menetap di
cavum timpani tanpa terjadinya perforasi. Apabila stadium resolusi gagal terjadi, maka akan
berlanjut menjadi otitis media supuratif kronik. Kegagalan stadium ini berupa perforasi
membran timpani menetap, dengan sekret yang keluar secara terus-menerus atau hilang timbul.

E. Diagnosis
Kriteria diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal berikut, yaitu:

1) Penyakitnya muncul secara mendadak dan bersifat akut.


2) Ditemukan adanya tanda efusi. Efusi merupakan pengumpulan cairan di telinga tengah.
Efusi dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut, seperti
menggembungnya membran timpani atau bulging, terbatas atau tidak ada gerakan pada
membran timpani, terdapat bayangan cairan di belakang membran timpani, dan terdapat
cairan yang keluar dari telinga.
3) Terdapat tanda atau gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan dengan adanya
salah satu di antara tanda berikut, seperti kemerahan atau erythema pada membran
timpani, nyeri telinga atau otalgia yang mengganggu tidur dan aktivitas normal.
Diagnosis dapat ditegakkan dengan melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang
cermat. Gejala yang timbul dapat bervariasi tergantung pada stadium dan usia pasien. Pada
umunya anak-anak dengan OMA mengeluhkan rasa nyeri pada telinga dan disertai adanya
demam. Biasanya terdapat riwayat infeksi saluran napas atas sebelumnya. Keluhan yang
dirasakan oleh orang dewasa dapat berupa nyeri telinga, gangguan pendengaran dan terasa penuh
pada telinga. Gejala sulit tidur, diare, demam tinggi, gelisah, dan sering memegang telinga
adalah gejala khas yang dapat ditemukan pada bayi dengan OMA.

Menurut Rubin et al. (2008), keparahan OMA dibagi kepada dua kategori, yaitu ringan-
sedang, dan berat. Kriteria diagnosis ringan-sedang adalah terdapat cairan di telinga tengah,
mobilitas membran timpani yang menurun, terdapat bayangan cairan di belakang membran
timpani, membengkak pada membran timpani, dan otore yang purulen. Selain itu, juga terdapat
tanda dan gejala inflamasi pada telinga tengah, seperti demam, otalgia, gangguan pendengaran,
tinitus, vertigo dan kemerahan pada membran timpani. Tahap berat meliputi semua kriteria
tersebut, dengan tambahan ditandai dengan demam melebihi 39,0°C, dan disertai dengan otalgia
yang bersifat sedang sampai berat11.

F. Diagnosis Banding
Otitis eksterna
Otitis media efusi
Eksaserbasi akut otitis media kronik
Infeksi saluran napas atas
OMA dapat dibedakan dari otitis media dengan efusi yang dapat menyerupai OMA. Efusi telinga
tengah (middle ear effusion) merupakan tanda yang ada pada OMA dan otitis media dengan
efusi. Efusi telinga tengah dapat menimbulkan gangguan pendengaran dengan 0-50 decibels
hearing loss.
Berikut pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan:

1) Otoskopi
Adalah pemeriksaan telinga dengan menggunakan otoskop terutama untuk melihat gendang
telinga. Pada otoskopi didapatkan hasil adanya gendang telinga yang menggembung, perubahan
warna gendang telinga menjadi kemerahan atau agak kuning dan suram, serta cairan di liang
telinga

2) Otoskop Pneumatic
Merupakan alat pemeriksaan bagi melihat mobilitas membran timpani pasien terhadap
tekanan yang diberikan. Membrane timpani normal akan bergerak apabila diberitekanan.
Membrane timpani yang tidak bergerak dapat disebabkan oleh akumulasi cairan didalam telinga
tengah, perforasi atau timpanosklerosis. Pemeriksaan ini meningkatkan sensitivitas diagnosis
OMA. Namun umumnya diagnosis OMA dapat ditegakkan dengan otoskop biasa

3) Timpanometri
Untuk mengkonfirmasi penemuan otoskopi pneumatik dilakukan timpanometri.
Timpanometri dapat memeriksa secara objektif mobilitas membran timpani dan rantai tulang
pendengaran. Timpanometri merupakan konfirmasi penting terdapatnya cairan di telinga
tengah.Timpanometri juga dapat mengukur tekanan telinga tengah dan dengan mudah menilai
patensi tabung miringotomi dengan mengukur peningkatan volume liang telinga
luar.Timpanometri punya sensitivitas dan spesifisitas 70-90% untuk deteksi cairan telinga
tengah, tetapi tergantung kerjasama pasien. Pemeriksaan dilakukan hanya dengan menempelkan
sumbat ke liang telinga selama beberapa detik, dan alat akan secara otomatis mendeteksi keadaan
telinga bagian tengah.

4) Timpanosintesis
Timpanosintesis diikuti aspirasi dan kultur cairan dari telinga tengah, bermanfaat pada
pasien yang gagal diterapi dengan berbagai antibiotika, atau pada imunodefisiensi.
Timpanosintesis merupakan pungsi pada membran timpani, dengan analgesia lokal untuk
mendapatkan sekret dengan tujuan pemeriksaan dan untuk menunjukkan adanya cairan di telinga
tengah dan untuk mengidentifikasi patogen yang spesifik.

5) Uji Rinne
Tes pendengaran untuk membandingkan hantaran tulang dan hantaran udara telinga pasien.
Langkah: Tangkai penala digetarkan lalu ditempelkan pada prosesus mastoid (hantaran tulang)
hingga bunyi tidak lagi terderngar. Penala kemudian dipindahkan ke depan telinga sekitar 2,5
cm. Bila masih terdengar disebut Rinne positif (+), bila tidak terdengar disebut Rinne negatif (-)

6) Uji Webber
Tes pendengaran untuk membandingkan hantaran tulang telinga kiri dengan telinga kanan.
Langkah: Penala digetarkan dan tangkai penala diletakkan di garis tengah kepala (di verteks,
dahi, pangkal hidung, di tengah-tengah gigi seri atau dagu). Apabila bunyi penala terdengar lebih
keras pada salah satu telinga disebut Weber lateralisasi ke telinga tersebut. Bila tidak dapat
dibedakan ke arah telinga mana bunyi terdengar lebih keras disebut Weber tidak ada lateralisasi

7) Uji Swabach
Tes pendengaran untuk membandingkan hantaran tulang orang yang diperiksa dengan
pemeriksa yang pendengarannya normal. Langkah: Penala digetarkan, tangkai penala diletakkan
pada prosesus mastoideus sampai tidak terdengar bunyi. Kemudian tangkai penala segera
dipindahkan pada prosesus mastoideus telinga pemeriksa yang pendengarannya normal. Bila
pemeriksa masih dapat mendengar disebut Schwabach memendek, bila pemeriksa tidak dapat
mendengar, pemeriksaan diulang dengan cara sebaliknya yaitu penala diletakkan pada prosesus
mastoideus pemeriksa lebih dulu. Bila pasien masih dapat mendengar bunyi disebut Schwabach
memanjang dan bila pasien dan pemeriksa kira-kira sama-sama mendengarnya disebut dengan
Schwabach sama dengan pemeriksa.

G. Penatalaksanaan Medis
1. Berdasarkan stadium
1.1 Stadium Oklusi. Bertujuan untuk membuka tuba eustachius. Diberikan obat
tetes hidung.
1.1.1 HCl Efedrin 0,5% dalam larutan fisiologik untuk anak <12 tahun
1.1.2 HCl Efedrin 1% dalam larutan fisiologik untuk anak >12 tahun atau
dewasa.
1.1.3 Sumber infeksi juga harus diobati dengan memberikan antibiotik.
1.2 Stadium Presupurasi. Diberikan antibiotik, obat tetes hidung, dan analgetik.
Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Bila membran timpani sudah
hiperemi difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Untuk terapi awal,
diberikan penisilin IM agar konsentrasinya adekuat dalam darah.
1.2.1 Ampisilin 4 x 50-100 mg/KgBB
1.2.2 Amoksisilin 4 x 40 mg/KgBB/hari
1.2.3 Eritromisin 4 x 40 mg/KgBB/hari
1.3 Stadium Supurasi. Pasien harus dirujuk untuk dilakukan miringotomi bila
membran timpani masih utuh. Selain itu, analgesik juga diperlukan agar nyeri
dapat berkurang.
1.4 Stadium Perforasi. Diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari
serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu.
1.5 Stadium Resolusi. Biasanya akan tampak sekret keluar. Pada keadaan ini
dapat dilanjutkan antibiotik sampai 3 minggu, namun bila masih keluar sekret
diduga telah terjadi mastoiditis. Pada stadium ini, harus di follow up selama 1
sampai 3 bulan untuk memastikan tidak terjadi otitis media serosa.

Tindakan

 Timpanosintesis
Tindakan dengan cara mengambil cairan dari telinga tengah dengan menggunakan jarum
untuk pemeriksaan mikrobiologi. Risiko dari prosedur ini adalah perforasi kronik membran
timpani, dislokasi tulang-tulang pendengaran, dan tuli sensorineural traumatik, laserasi nervus
fasialis atau korda timpani. Timpanosintesis merupakan prosedur yang invasif, dapat
menimbulkan nyeri, dan berpotensi menimbulkan bahaya sebagai penatalaksanaan rutin.

 Miringotomi
Tindakan insisi pada membran timpani untuk drainase cairan dari telinga tengah. Pada
miringotomi dilakukan pembedahan kecil di kuadran posterior-inferior membran timpani. Untuk
tindakan ini diperlukan lampu kepala yang terang, corong telinga yang sesuai, dan pisau khusus
(miringotom) dengan ukuran kecil dan steril. Indikasi untuk miringotomi adalah terdapatnya
komplikasi supuratif, otalgia berat, gagal dengan terapi antibiotik, pasien imunokompromis,
neonatus, dan pasien yang dirawat di unit perawatan intensif.

H. Prognosa dan Komplikasi


Prognosis otitis media akut adalah dubia ad bonam, biasanya gejala membaik dalam 24 jam dan
dapat sembuh dalam 3 hari dengan pengobatan yang adekuat, tetapi jika tidak diobati dengan
benar, otitis media akut dapat menimbulkan komplikasi mulai dari mastoiditis, kolesteatom,
abses subperiosteal sampai abses otak dan meningitis. Sekarang semua jenis komplikasi tersebut
biasanya didapat pada OMSK. Jika perforasi menetap dan secret tetap keluar lebih dari 3 bulan
maka keadaan ini disebut OMSK.
PEMBAHASAN

pasien mengeluhkan nyeri telinga kanan berdenyut sejak satu minggu. Nyeri dirasakan
seperti di tusuk tusuk. intensitas nyeri jika diukur dengan skala VAS yaitu 4. Sebelumnya belum
pernah mengalami nyeri serupa. Nyeri dirasakan hilang timbul dengan intensitas berbeda beda.
Saat ini pasien mengeluhkan pilek dan sakit tenggorok sudah 3 hari namun tidak ada demam dan
batuk. Pasien mengeluhkan penurunan fungsi pendengaran sejak 1 minggu bersamaan dengan
awal nyeri telinga.

Dari hasi anamesis didapatkan nyeri yang dapat disebabkan reaksi radang pada telinga
tengah. Infeksi pada telinga tengah dengan tanda dan gejala lokal maupun sistemik yang
disebabkan oleh ganguan pertahanan tubuh pada silia mukosa tuba eustachius (sumber utama)
dan antibodi. Mikroba dari nasofaring dan faring dapat masuk ke telinga tengah menimbulkang
radang. Infeksi saluran nafas atas dapat juga menjadi faktor pencetus.

Pada pasien didapatkan riwayat pilek. Keadaan ini dapat menyebabkan infeksi tersebut masuk
memlauli tuba eustachius ke telinga. Sehingga terjadi proses radang dan merangsang reseptor
nyeri sehingga muncul nyeri akut.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan membran timpani hiperemis tanpa disertai adanya
bulging. Hiperemis yang terjadi pada membran timpani terjadi karena pelebaran pembuluh
darah. Pada keadaan ini terapi terbaik adalah dengan pemberian antibiotik, obat tetes dan
analgetik. Antibiotik yang baiknya diberikan yaitu golongan penicilin atau ampisilin. Dapat
diberikan juga amoksisilin. Dengan harapan gejala dapat berkurang.

Pasien diberikan amoxyclaf 3x1, Ryvel plus 2x1, dan lameson 2x1. Amoxyclav adalah
antibakteri kombinasi oral yang terdiri antibiotika, semisintetik amoksisilina dan penghambat
beta-laktamase, kalium klavulanat (garam kalium dari asam klavulanat). Amoksisilina adalah
antibiotik semisintetik dengan spektrum aktivitas antibakteri luas yang mempunyai efek
bakterisidal terhadap berbagai macam bakteri gram-positif dan gram negatif. Asam klavulanat
adalah suatu beta-laktam, yang struktur kimianya mirip dengan golongan pinisilin, mempunyai
kemampuan menghambat aktivitas berbagai enzim beta-laktamase yang sering ditemukan pada
berbagai mikroorganisme yang resisten terhadap golongan pinisilin dan sefalosporin.. Ryvel plus
adalah obat yang digunakan untuk pengobatan simtomatik hidung tersumbat, bersin-bersin,
rhinorrhea, gatal pada mata atau hidung, rhinitis alergi musiman dan rhinitis alergi perennial.
Ryvel Plus mengandung Cetirizine, obat antihistamin generasi kedua yang merupakan antagonis
kuat dan sangat selektif terhadap histamin perifer H1-reseptor, dikombinasikan dengan
pseudoephedrine, obat yang digunakan sebagai nasal dekongestan. Sedangkan lameson
merupakan obat yang digunakan sebagai anti alergi, imunosupresan, anti syok dan anti inflamasi.
Lameson mengandung Methylprednisolone, obat yang termasuk jenis obat steroid jenis
glukokortikoid sintetis.