Anda di halaman 1dari 15

TUGAS MAKALAH PATOLOGI KLINIK

ANEMIA : DERMATITIS KOMPLEKS

Oleh :

Kelompok 1

Dhia Hana Putri Saraswati 061611133018


Nailul Ngizzah 061611133019
Septiana Megasari 061611133023
M. Ihzza Rafsanjany 061611133024
Ni Putu Ambara Cintia Devi 061611133027
Distya Agustini 061611133028
Astina Yulia Subagio 061611133038
Vidiana Prihesti 061611133061
Lexy Rizal Trisnawan 061611133226
Dhinar Ramadhani 061611133230
Bitari Ajeng Cahyani 061611133238
Firky Ardian Wibisono 061611133239

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2019
DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................... 1


1.1 Latar Belakang................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................ 2
1.3 Tujuan.............................................................................................. 2
1.4 Manfaat............................................................................................ 2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... 3
2.1 Anemia............................................................................................. 2
2.2 Pengertian Dermatitis dan Gejala Klinis.......................................... 5
2.3 Penyebab dan Patofisiologi.............................................................. 6
BAB 3 PEMBAHASAN .............................................................................. 7
3.1 Hasil dan Pemeriksaan Fisik............................................................ 7
3.2 Diagnosis.......................................................................................... 7
3.3 Pemeriksaan Penunjang.................................................................... 8
3.4 Abnormalitas Hematologi................................................................. 9
BAB 4 PENUTUP.......... .............................................................................. 12
4.1 Kesimpulan...................................................................................... 12
4.2 Saran................................................................................................ 12
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 13
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Darah adalah suspensi dari partikel dalam larutan encer yang mengandung
elektrolit. Kadar sel darah merah (eritrosit) di dalam darah adalah 45%, dan sisanya
adalah plasma darah 55% dan sel darah putih >1% (leukosit). Sel darah merah
memiliki peran penting dalam tubuh karena berfungsi sebagai media untuk transpor
dan pertukaran oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2). Jika sel darah merah
berkurang, makhluk hidup akan merasakan lemas disebabkan kurangnya pasokan
oksigen.
Anemia adalah pengurangan jumlah sel darah merah, kuantitas hemoglobin
dan volume padat sel darah merah per seratus mililiter darah kurang dari normal.
Dengan demikian anemia bukan suatu diagnosis penyakit melainkan cerminan dari
perubahan patofisiologi yang diuraikan melalui anamnesis yang teliti, pemeriksaan
fisik dan kepastian laboratorium. Anemia dapat diklasifikasikan berdasarkan
morfologi, respon sumsum tulang, dan etiologi/patofisiologi. Salah satu penyebab
anemia adalah dermatitis.
Gangguan kulit merupakan masalah kesehatan yang paling umum pada
anjing. Pada kasus gangguan kulit dapat menyebabkan peradangan kulit
(dermatitis). Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai
respon terhadap pengaruh faktor eksogen dan atau faktor endogen, menimbulkan
kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel,
skauma, likenifikasi) dan keluhan gatal. Tanda polimorfik tidak selalu timbul
bersamaan, bahkan mungkin hanya beberapa (oligomorfik). Dermatitis cenderung
sering kambuh kembali (residif) dan menjadi kronis (Sularsito, 2010).
Berdasarkan atas agen penyebabnya, dermatitis dibedakan atas dermatitis
tunggal disebabkan oleh satu agen infeksius dan dermatitis kompleks disebabkan
oleh banyak agen infeksius. Agen penyebab tersebut adalah infeksi parasit (caplak
dan tungau), infeksi bakteri, infeksi jamur dan virus. Selain itu juga dapat
disebabkan gangguan metabolisme seperti alergi dan diabetes melitus. Komplikasi
dari berbagai agen itu menyebabkan kerusakan pada kulit dan terganggunya proses

1
vaskularisasi ke kulit, hal ini menyebabkan terjadinya pembusukan pada kulit
sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap, kerontokan rambut hingga luka
borok.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat di rumuskan rumusan masalah


sebagai berikut

1. Apakah pengertian dari anemia?


2. Apakah pengertian dan gejala klinis dermatitis kompleks?
3. Apa saja penyebab dan bagaimana patofisiologi dermatitis kompleks?
4. Bagaimana cara diagnosis dermatitis kompleks?

1.3 Tujuan

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui penyakit dermatitis komples


dan penyebab penyakit dermatitis, gejala klinis, peneyebab, serta patofisiologi dari
penyakit dermatitis komples.

1.4 Manfaat

Manfaat pada makalah ini adalah untuk memberikan informasi kepada


masyarakat mengenai penyakit dermatitis komples dan penyebab penyakit
dermatitis, gejala klinis, peneyebab, serta patofisiologi dari penyakit dermatitis
kompleks.

2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anemia
Anemia adalah pengurangan jumlah sel darah merah, kuantitas hemoglobin
dan volume padat sel darah merah (hematokrit) per seratus milliliter darah kurang
dari normal. Anemia terjadi bila pelepasan eritrosit kedalam sirkulasi menurun,
maupun penghancuran eritrosit meningkat tanpa diimbangi dengan peningkatan
produksi. Anemia bukan suatu diagnosis penyakit melainkan pencerminan dari
dasar perubahan patofisiologis yang diuraikan melalui anamnesa yang teliti,
pemeriksaan fisik dan lalaboratorium.
Anemia digolongkan dengan berbagai cara, pertama kali digolongkan
berdasarkan morfologinya, kemudian digolongkan berdasarkan etiologinya
(patofisiologi). Dibidang kedokteran hewan penggolongan anemia berdasarkan
etiologi lebih sesuai, mengingat banyaknya jenis hewan serta kondisi dari masing-
masing hewan berbeda-beda.

Klasifikasi Anemia

Berdasarkan morfologi:

1. Anemia normositik normokromik : sel darah berukuran dan berbentuk


normal serta mengandung jumlah hemoglobin normal, tetapi individu
menderita anemia. Penyebab anemia ini adalah kehilangan darah akut,
hemolysis,penyakit kronis, penyakit infiltratife metastatic pada sumsum
tulang.
2. Anemia makrosistik normokromik : Sel darah merah lebih besar dari normal
dan konsentrasi hemoglobin normal. Keadaan ini disebabkan oleh gangguan
sintetis asam nukleat DNA dan pada kemoteapi kanker.
3. Anemia makrositik hipokromik : sel darah merah lebih besar dari normal
dan konsentrasi hemoglobin kurang dari normal. Keadaan ini biasanya
merupakan masa kesembuhan dari pendarahan yang disebabkan trauma atau
adanya gangguan pada proses koagulasi.

3
4. Anemia mikrositik hipokromik : Sel darah merah lebih kecil dari normal dan
konsentrasi hemoglobin kurang dari norma. Keadaan ini secara umum
diakibatkan insufisiensi sintesis hem dan kehilangan darah kronik, atau
gangguan sintetis globin seperti talasemia.

Berdasarkan etiologi/patofisiologi:

1. Anemia Hemorrhagi

Anemia ini disebabkan karena adanya pendarahan dan sebagai respons dari
pendarahan akut, tergangung dari jumlah darah yang keluar, lama
pendarahan,lokasi pendarahan dan tipe pendarahan. Apabila terjadi pendarahan
eksternal maka jumlah eritroist akan menurun, penurunan konsentrasi protein
plasma dan sebagai akibatnya aknan terjadi penurunan Fe pula dan sel darah
merah menjadi hipokromik sebagai akibat dari masalah dalam produksi hem.
Sedangkan pendarahan internal dapat terjadi karen trauma, adanya parasit
(cacing, coccidia), perdarahan dalam saluran pencernaan, pendarahan urogenital
dan adanya tumor. Penyebab anemia hemorrhagi dapat akut maupun kronis.
Pada akut dapat disebabkan oleh trauma, tindahan pembedahan, lesi, kelainan
koagulas. Sedangkan pada penderahan kronis dapat disebabkan oleh lesi
gastrointestinal, neoplasma dengan perdarahan pada jaringan tubuh, kelainan
koagulasi, trombositopenia dan beberapa parasite(kutu, hemonchus)

2. Anemia Hemolitik

Anemia hemolitik adalah anemia yang disebabkan oleh penigkatan kecepatan


destruksi eritrosit atau bisa disebabkan suatu gangguan yang berkaitan dengan
memendeknya usia sel darah merah. Biasanya terdapat intrakospuskular atau
ekstrakospuskular sehingga rentang hidup eritrosit menjadu terbatas. Anemia
hemolitik ditandai dengan jumlah retikulosit yang meningkat, konsentrasi
protein plasma normal/meninkat, kelainan bentuk eritrosit. Pada anemia
hemolitik ditemukan adanya hyperbilirubinemia dan hemoglobinuria akubat
degradasi hemoglobin, bila fungsi hati dan biliaris normal maka
hiperbililirubinemia tak terkonjugasi terjadi pada kasus hemolysis.

4
3. Anemia karena gangguan proses eritropoesis

Anemia ini terjadi karena terdapat gangguan pada proses eritropoesis biasanya
bersifat non regeneratif dan ditandai dengan abnormaltas sumsum tulang
terutama pada proses pembentukan eritrosit. Biasanya anemia ini disebabkan
oleh adanya penyakit ginjal kronis, sehingga akan terjadi gangguan produksi
eritropoetin. Apabila gangguannya pada deferensiasi stem cell jenis akibat
anemianya adalah Anemia Apaplastik (hipoplastik) ditandai dengan
pansitopenia yang disebabkan oleh aplasia sumsum tulang atau karena tidak
adanya produksi semua garis sel hemopoietik. Pansitopenia menggambarkan
akibat berkurangnya jumlah jumlah sel dari semua jalur sel darah terutama;
eritrosit, leukosit, dan trombosit.

2.2 Pengertian Dermatitis dan Gejala Klinis

Dermatitis atau radang kulit adalah istilah yang digunakan untuk


menggambarkan proses radang yang melibatkan lapisan-lapisan kulit, dermis dan
epidermis. Bagian kulit yang mengalami radang dapat mengalami gangguan dalam
fungsi normalnya, baik sementara maupun permanen. Dermatitis dapat terjadi
karena agen infeksi (parasit bisa caplak atau tungau, bakteri, virus, dan jamur) juga
bisa karena gangguan metabolisme seperti alergi dan diabetes melitus. Dermatitis
yang disebabkan oleh dua atau lebih agen infeksius disebut dermatitis kompleks.
Gejala utama yang terlihat dari agen penyebab dermatitis adalah crusty, scaly,
alopesia, rambut mudah patah, ruam, dan disertai ataupun tidak disertai adanya
pruritus. Gejala-gejala tersebut, terutama pruritus dan kerapuhan rambut,
merupakan gejala yang umum ditemukan pada gangguan kulit anjing.
Pruritus atau rasa gatal yang berlebih dapat menimbulkan kegelisahan dan
menyebabkan penderita menggaruk kulitnya, dimana garukan ini dapat
menyebabkan kulit mengelupas bahkan mengakibatkan timbulnya luka yang berair,
bernanah, dan juga berbau busuk. Selain itu, kegelisahan juga dapat menimbulkan
rasa tidak nyaman yang mempengaruhi nafsu makan menjadi turun yang berakibat
ke pertahanan tubuh penderita.

5
2.3 Penyebab dan Patofisiologis

Dermatitis kompleks merupakan sutau penyakit peradangan pada kulit yang


disebabkan oleh dua atau lebih agen. Dermatitis kompleks ditandai oleh adanya
hiperemia, eritema, serous, eksudasi dan infiltrasi neutrofil dan sel mononuclear.
Penyebab dermatitis kompleks antara lain bakteri, virus, parasit, bahan kimia,
alergi, trauma, jamur dan racun yang dihasilkan. Jenis-jenis dermatitis terbagi
menjadi vesicular dermatitis, parasitic dermatitis, allergic dermatitis dan
gangrenous dermatitis.
Parasitic dermatitis (Acariasis) sering disebut kudis disebabkan oleh tungau
dan ditandai oleh hiperkeratosis dan peradangan kulit yang menyebabkan gatal.
Penyebabnya adalah tungau Sarcoptes scabei. Kulit tampak mengalami
hyperkeratosis dan bersisik
Allergic dermatitis adalah peradangan kulit yang peka zat tertentu, yang
dikenal sebagai alergen. Seperti itu peradangan dapat dilihat sebagai hasil dari
keterlambatan reaksi tipe hipersensitivitas (DTH). Penyebab Allergic dermatitis
antara lain bahan kimia, reaksi tuberculin, reaksi alergi, sabun, deterjen, bahan
kimia organik, parasit kutu. Kulit tampak hiperemia, eritema, terjadi oedema, ruam
vesikular, pruritus. Pada sediaan mikroskopis tampak adanya Infilterasi eosinophil,
makrofag dan limfosit dan terlihat sel mengalami nekrosis.

6
BAB III PEMBAHASAN

3.1 Hasil Pemeriksaan Fisik

Dermatitis kompleks adalah radang kulit yang disebabkan oleh komplikasi


berbagai agen penyebab seperti parasit, bakteri dan jamur. Sehingga dapat
ditemukan lesi primer dan sekunder pada kulit yang terdistribusi di seluruh bagian
tubuh. Maka dari pemeriksaan fisik, akan didapatkan hasil seperti :
1. Anemia.
Sakina dan Mandial (2013) menyatakan bahwa nilai hemoglobin yang
berada di bawah kisaran normal dapat terjadi pada kejadian skabiosis dan
demodekosis atau terjadinya infestasi parasit. Banyak bakteri Gram positif
maupun bakteri Gram negatif menggunakan heme sebagai sumber utama
zat besi. Hal ini dapat terjadi pula pada anjing penderita dermatitis kompleks
yang salah satu agen infeksiusnya adalah bakteri. (Kochan et al., 1969).
2. Kerontokan rambut.
3. Lesi primer, seperti : eritema, papula, pustula, krusta, vesikula, bula dan
nodul.
4. Lesi sekunder, seperti : skale, krusta, erosi, ekskorasio, ulser, epidermal
kolarete, folikuler cast, komedo, licenifikasi, hiperpigmentasi dan
alopesia.
5. Pembusukan pada kulit sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap.
6. Luka borok.
3.2 Diagnosis

Untuk menegakan diagnosis dermatitis dapat didasarakan pada (Siregar, 2004) :


a. Anamnesis, harus dilakukan dengan cermat. Anamnesis dermatologis
terutama mengandung pertanyaan−pertanyaan seperti onset dan durasi, fluktuasi,
perjalanan gejala−gejala, riwayat penyakit terdahulu, lingkungan tempat tinggal,
serta terapi yang dijalani (Mulyaningsih, 2005).
b. Pemeriksaan klinis, hal pokok dalam pemeriksaan dermatologis yang
baik adalah:
1. Lokasi atau distribusi dari kelainan yang ada.

7
2. Karakteristik dari setiap lesi, dilihat dari morfologi lesi (eritema,
urtikaria, likenifiksasi, perubahan pigmen kulit).
3. Pemeriksaan lokasi−lokasi sekunder.
c. Teknik−teknik pemeriksaan khusus, hasil pemeriksaan laboratorium
didukung dengan pemeriksaan tes tempel (tes reaksi alergi) (Suryani, 2011).
d. Pemeriksaan hemogram yang meliputi jumlah eritrosit, total leukosit, nilai
hematokrit, dan kadar hemoglobin. Serta penghitungan hemogram dilakukan
dengan menggunakan auto analyzer Animal Blood Counter iCell-800Vet
(KUBEIER-Y, Shaanxi, China).
3.3 Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
a. Darah : Hb, leukosit, hitung jenis, trombosit, elektrolit, protein total,
albumin, globulin
b. Urin : pemerikasaan histopatologi
2. Penunjang (pemeriksaan Histopatologi)
Pemeriksaan ini tidak memberi gambaran khas untuk diagnostik
karena gambaran histopatologiknya dapat juga terlihat pada dermatitis
oleh sebab lain. Pada dermatitis akut perubahan pada dermatitis berupa
edema interseluler (spongiosis), terbentuknya vesikel atau bula, dan pada
dermis terdapat dilatasi vaskuler disertai edema dan infiltrasi
perivaskuler sel-sel mononuclear. Dermatitis sub akut menyerupai
bentuk akut dengan terdapatnya akantosis dan kadangkadang
parakeratosis. Pada dermatitis kronik akan terlihat akantosis,
hiperkeratosis, parakeratosis, spongiosis ringan, tidak tampak adanya
vesikel dan pada dermis dijumpai infiltrasi perivaskuler, pertambahan
kapiler dan fibrosis. Gambaran tersebut merupakan dermatitis secara
umum dan sangat sukar untuk membedakan gambaran histopatologik
antara dermatitis kontak alergik dan dermatitis kontak iritan.
Pemeriksaan ultrastruktur menunjukkan 2-3 jam setelah paparan antigen, seperti
dinitroklorbenzen (DNCB) topikal dan injeksi ferritin intrakutan, tampak sejumlah
besar sel langerhans di epidermis. Saat itu antigen terlihat di membran sel dan di
organella sel Langerhans. Limfosit mendekatinya dan sel Langerhans menunjukkan

8
aktivitas metabolik. Berikutnya sel langerhans yang membawa antigen akan tampak
didermis dan setelah 4-6 jam tampak rusak dan jumlahnya di epidermis berkurang.
Pada saat yang sama migrasinya ke kelenjar getah bening setempat meningkat.
Namun demikian penelitian terakhir mengenai gambaran histologi, imunositokimia
dan mikroskop elektron dari tahap seluler awal pada pasien yang diinduksi alergen
dan bahan iritan belum berhasil menunjukkan perbedaan dalam pola
peradangannya.

3.4 Abnormalitas Hematologi


Tabel 1. Hematogram anjing penderita dermatitis kompleks

Anjing penderita dermatitis kompleks memiliki nilai hemogram yang bervariasi,


ada yang berada pada nilai normal, di bawah normal, dan di atas normal. Sebesar
73,33% anjing
penderita dermatitis kompleks memiliki total eritrosit di bawah kisaran normal
(eritrositopenia) (Tabel 1). Kondisi eritropenia pada anjing, dapat disebabkan oleh
hilangnya darah secara berlebihan (hemorhagi), penghancuran eritrosit (hemolisis),
atau rendahnya produksi eritrosit (Meyer et al., 1992). Faktor lain yang dapat
mempengaruhi jumlah eritrosit adalah nutrisi, defisiensi vitamin B12 dan asam folat
dapat menyebabkan kegagalan pematangan eritrosit dalam proses eritropoiesis dan
hal tersebut mengakibatkan rendahnya jumlah eritrosit dalam darah (Guyton dan

9
Hall, 1997). Selain infestasi parasit, infeksi jamur juga dapat menyebabkan
penurunan total eritrosit (Ravindran, 2016). Menurut Walaa et al. (2008) kejadian
dermatitis atopik pada anjing menyebabkan penurunan jumlah eritrosit, yang
disertai pula dengan penurunan hemoglobin, PCV, dan MCH.

Nilai Hb anjing penderita dermatitis, sebesar 66,67% di bawah normal


(Tabel 1). Nilai hemoglobin yang rendah menandakan bahwa tubuh mengalami
anemia. Anemia adalah suatu keadaan dimana hewan mengalami defisiensi jumlah
eritrosit atau jumlah hemoglobin.

Penurunan juga terjadi pada nilai PCV atau hematokrit yaitu pada 93,33%
anjing sampel (Tabel 1). Nilai hematokrit sebanding dengan jumlah eritrosit dan
kadar hemoglobin. Mbassa dan Poulsen (1993) menjelaskan bahwa nilai hematokrit
dipengaruhi oleh waktu, tempat, dan kondisi hewan pada saat pengambilan sampel.
Nilai PCV yang rendah dapat terjadi pada kasus dermatitis atopik (Walaa et al.,
2008) dan pioderma (Reddy et al., 2016). Pada 73,33% anjing penderita dermatitis
kompleks nilai MCVnya di bawah kisaran normal, berbeda dengan MCH (66,67%)
dan MCHC (93,33%) yang berada di atas kisaran normal (Tabel 1). Secara umum,
MCH meningkat dalam keadaan makrositosis dan menurun dalam keadaan
mikrositosis dan hipokromia, namun dapat terjadi adanya variasi karena dua faktor,
yaitu ukuran sel dan konsentrasi hemoglobin yang saling mempengaruhi. Nilai
MCHC pada 93,3% anjing penderita dermatitis kompleks ada di atas normal. Hal
ini dikarenakan kecenderungan volume sel darah merah yang yang kecil sehingga
konsentrasi hemoglobin menjadi tinggi pada eritrosit. Kondisi yang dapat
meningkatkan nilai MCHC adalah terjadinya intravaskuler hemolisis.

Hampir seluruh anjing sampel (93,33%) memiliki persentase basofil di atas


kisaran normal, hal ini disebut basofilia (Tabel 1). Basofilia cukup jarang teramati
dan hampir selalu terjadi bersamaan dengan eosinofilia (Dharmawan, 2002).
Basofil yang tidak bersifat fagositik ini memiliki peran penting dalam proses
inflamasi. Sebanyak 60% anjing sampel eosinofilnya berada pada kisaran normal.

Peningkatan persentase eosinofil (eosinofilia) ditemukan ada 33,33%.


Keadaan tersebut ditemukan pada kejadian infestasi parasit, seperti skabiosis

10
(Sakina dan Mandial, 2013), demodekosis (Sakina et al., 2014), dermatitis atopik
(Walaa et al., 2008), pioderma (Reddy et al., 2016), dan dermatofitosis (Ravindran,
2016). Peningkatan jumlah limfosit disebut sebagai limfositosis. Menurut
Dharmawan, (2002) limfosit yang tinggi dapat menggambarkan kondisi seperti
terjadinya penyakit yang berlangsung menahun atau kronis, terjadi pada kondisi
yang disertai oleh penurunan neutrofil (biasanya bersifat limfositosis relatif),
leukemia limfositik (kejadian ini jelas ada kenaikan jumlah sel limfosit), stadium
kesembuhan dari penyakit tertentu (kenaikan total limfosit). Kenaikan limfosit dan
eosinofil terjadi pada keadaan insufisiensi korteks adrenal, limfositosis kadang-
kadang ditemukan sesudah dilakukan vaksinasi secara umum, dan hipertiroidismus
(mekanisme yang belum jelas).

Sebanyak 60% anjing sampel persentase monositnya berada dalam kisaran


normal, dan 40% ada di bawah normal (Tabel 1). Monosit berfungsi untuk
mengawasi daerah infeksi dan memfagositosis bakteri, benda asing, dan sel-sel
yang mati. Monosit aktif dalam pergerakan dan memfagosit memiliki peranan
penting dalam menghancurkan bakteri serta membersihkan sel debris pada area
jaringan yang rusak.

11
BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dermatitis adalah suatu peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai


respon terhadap pengaruh faktor eksogen dan atau faktor endogen, yang
menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema, edhema,
papul, vesikel, skauma, likenifikasi) dan gatal. Gangguan kulit merupakan masalah
kesehatan yang paling umum pada anjing, pada kasus gangguan kulit dapat
menyebabkan peradangan kuit (dermatitis). Gejala utama yang terlihat seperti
crusty, scaly, alopecia, rambut mudah patah, dan ruam. Penyebab dermatitis
kompleks antara lain bakteri, virus, parasit, bahan kimia, alergy, trauma, jamur, dan
racun yang dihasilkan. Temuan hemogram yang paling umum pada anjing penderita
dermatitis kompleks adalah anemia, neutropenia, dan basofilia. Neutropenia yang
terjadi pada anjing penderita dermatitis kompleks disertai peningkatan neutrofil
stab/neutrofil muda.

4.2 Saran

Kepada mahasiswa calon – calon dokter hewan atau pembaca disarankan


agar dapat mengambil pelajaran dari makalah ini sehingga dapat melakukan
pencegahan yang tepat, serta apabila terdapat dan gejala klinis yang terlihat dari
penyakit dermatitis maka kita dapat melakukan tindakan pengobatan yang tepat.

12
DAFTAR PUSTAKA

A Djuanda. 2005. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : FKUI

Bijanti., R., M. Gandul A. Y., Retno S. W., R. Budi U., Buku Ajar Patologi Klinik
Veteriner, Edisi 1, Surabaya: Airlangga University Press.
Chauhan, R.S. 2007. Illustrated Veterinary Pathology (General & Systemic
Pathology). International Book Distributing Company (Publishing
Division).

Devita, P. 2016. Ragam Jenis Kapang yang Terisolasi pada Anjing yang
Terdiagnosa Dermatitis. Universitas Gadjah Mada.

Putri, R., dkk. 2014. Demodicosis dan FLUTD (Feline Low Urinary Tract Disease).
Universitas Brawijaya.
Rini, Sandra. 2015. Hubungan Frekuensi Paparan, Masa Kerja dan Alat Pelindung
Diri Terhadap Paparan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan Pada Pekerja
Semprot Koperasi Bersama Kabupaten Tulang Bawang Lampung.
Lampung. Universitas Lampung.
Sularsito, S. A., dan Djuanda, S., 2010. Dermatitis. Dalam: Adhi Djuanda,
Mochtar Hamzah dan Siti Aisah (Eds). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin,
Ed. 5th, Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia., pp. 129-152.
Weiss JD, Wellman LM, Wardrop KJ, Teske E, Raskin RE, Moritz A, Modiano JF,
Messick JB, Callan BM, Brooks MB, Boudreaux MK. 2010. Schalm’s:
Veterinary Hematology. 6th ed. USA: Wiley Blackwell.
Widyanti, Agnes Indah. 2018. Hemogram Anjing Penderita Dermatitis Kompleks.
Denpasar. Universitas Udayana.

13