Anda di halaman 1dari 34

Critical Book Report

Student Development

Lectures :

Prof. Dr. Sri Milfayetti, M.pd

And

Shofia Mawaddah, S.Psi., M.Sc

MAIN BOOK

 Tittle : Perkembangan Peserta Didik


 Author : Drs. Idad Suhada, M.pd
 Publisher/Year of Publication/ Number of Pages : Remaja Rosda karya/2017/196 pages
 Student Name : Fadhillah Rahma Purba
 NIM/Study Program : 419 334 2004/ Biology Education
COMPARISON BOOK

 Tittle : Perkembangan Peserta Didik


 Author : Dra. Rahmulyani, M.Pd., Kons
 Publisher/Year of Publication/ Number of Pages : Unimed Press/2019/191 pages
 Student Name : Fadhillah Rahma Purba
 NIM/Study Program : 419 334 2004/ Biology Education
BAB I
PREFACE

1. Background

Perkembangan peserta didik mengacu pada bagaimana seorang peserta didik


tumbuh, beradaptasi, dan berubah disepanjang hidupnya melalui perkembangan fisik,
kepribadian, sosioemosional, maupun kognitif.
Secara garis besar, buku ini merupakan pedoman bagi seorang calon pendidik
maupun pendidik,dimana buku ini mengulas tentang bagaimana cara pendidik dalam
memahami perkembangan peserta didiknya dan penerapannya dalam pelaksanaan
pembelajaran.

2. Purpose
1. Untuk menilai kelebihan dan kekurangan pada buku perkembangan peserta
didik.
2. Agar lebih mudah memahami maksud dari si penulis tentang perkembangan
peserta didik.
3. Agar menilai kualitas dari buku perkembangan peserta didik sehingga cocok
atau tidak dibaca khalayak umum.
4. Agar bisa memberi masukan terhadap kekurangan yang ada pada buku yang
nantinya bisa dipebaiki di kemudian hari.
5. Dan juga untuk menjadikan kelebihan yang ada pada buku perkembangan
peserta didik sebagai landasan calon guru dalam memahami perkembangan
peserta didik

3. Benefit
1. Bisa mengetahui kelebihan dan kekurangan pada buku perkembangan peserta
didik.
2. Bisa memahami perkembangan peserta didik seperti maksud si penulis.
3. Bisa mengetahui kecocokan buku perkembangan peserta didik untuk khalayak
umum.
4. Bisa membuat perbaikan untuk kekurangan yang sudah terjadi menjadi lebih
baik lagi.
5. Bisa menjadi pedoman dalam menghadapi pekembangan anak atau peserta
didik.
BAB II

BOOK CONTENTS

BAB I

The Concept of Growth and Development

Pada bab ini menjelaskan konsep pengertian pertumbuhan dan perkembangan. Yang
mana pertumbuhan merupakan perubahan fisik secara kuantitatif yang menyangkut
peningkatan ukuran dan struktur biologis. Contoh hasil pertumbuhan antara lain bertambah
panjang, berat dan kekuatannyaa. Begitu pula pertumbuhan akan mencakup perubahan yang
semakin sempurna pada sistem jaringan saraf dan perubahan-perubahan struktur jasmani
lainnya.

Namun, ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi pertumbuhan sehingga terlihat berbeda
dari petumbuhan yang normal. Yaitu faktor sebelum lahir, pada saat melahirkan, yang
dialami bayi sesudah lahir, dan faktor fisiologis

Sedangkan perkembangan adalah perubahan yang berlangsung dari keadaan


global dan kurang berdiferensiasi sampai pada keadaan diferensiasi, artikulasi, dan integrasi
meningkat secara bertahap (Werner,1957). Perubahan memiliki beberapa aspek, baik fisik
maupun psikis. Dan terdiri dari 4 kategori , yaitu perubahan dalam ukuran, perubahan dalam
perbandingan, perubahan untuk mengganti hal hal yang sama, dan perubahan untuk
memperoleh hal hal baru.
BAB II

Differences in Individual characteristics

Pada bab ini terdapat 2 sub bab yang yang pertama menjelaskan tentang perbedaan antar
individu satu dengan yang lain. Ada beberapa jenis perbedaan antarindividu yaitu:

1. Perbedaan kognitif
Yang mana perbedaan akan hasil daripada kegiatan pembelajaran.
2. Perbedaan dalam kecakapan bahasa
Yang mana perbedaan dari kecakapan berbahasa yang di dapat dari lingkungan
tempat tinggal.
3. Perbedaan dalam kecakapan motorik
Yang mana perbedaan antar individu yang cekatan dengan yang sedikit lambat yang
dipengaruhi oleh kemampuan berfikirnya.
4. Perbedaan dalam latar belakang
Latar belakang keluarga juga dapat mempengaruhi perbedaan individu.
5. Perbedaan bakat
Bakat adalah kemampuan khusus yang dibawa sejak lahir. Namun jika seiring
pertumbuhan dan perkembangan bakat tidak diberi stimulasi maka bisa jadi bakat
tersebut akan terpendam.
6. Perbedaan dalam kesiapan belajar

Selanjutnya adalah perbedaan individual yang khas. Yang mana pada sub bab ini lebih
kepada perbedaan belajar yang khas antar individu. Cara belajar sendiri dibagi menjadi 3.
Yaitu visual, kinestetik dan audiotorial.
BAB III

The Proses of Growth and Development of individuals

Pada bab ini terdapat faktor faktor yang mempengaruhi proses pertumbuhan dan
perkembangan. Dimana pada setiap fase terdapat tugasnya masing masing. Yaitu, tugas pada
fase kanak kanak, fase anak, remaja, dewasa awal, setengah baya dan fase orang tua. Dari
fase-fase tersebutlah yang membantu proses perkembangan.

BAB IV

Stage of Growth, Development and Needs of Children

Pada bab ini membahas tentang tahapan pertumbuhan , perkembangan dan kebutuhan anak.
Yaitu:

1. Hakikat Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Istilah “perkembangan” (development) dalam psikologi merupakan sebuah konsep yang


cukup kompleks. Di dalamnya terkandung banyak dimensi. oleh sebab itu, untuk dapat
memahami konsep dasar perkembangan, perlu dipahami beberapa konsep lain yang
terkandung di dalamnya, di antaranya: pertumbuhan, kematangan, dan perubahan.

2. Hukum – Hukum Perkembangan

Hukum-hukum perkembangan antara lain:

 Hukum Tempo Perkembangan

Bahwa perkembangan jiwa tiap-tiap anak itu berlainan, menurut temponya masing-
masing perkembangan anak yang ada.

 Hukum Irama Perkembangan

Hukum ini mengungkapkan bukan lagi cepat atau lambatnya perkembangan anak, akan
tetapi tentang irama atau ritme perkembangan

 Hukum Konvergensi Perkembangan


Pandangan pendidikan tradisional di masa lalu berpendapat bahwa hasil pendidikan yang
dicapai anak selalu dihubung-hubungkan dengan status pendidikan orang tuannya

 Hukum Kesatuan Organ

Tiap-tiap anak itu terdiri dari organ-organ (anggota) tubuh, yang merupakan satu
kesatuan, di antara organ-organ tersebut antara fungsi dan bentuknya, tidak dapat dipisahkan
berdiri integral.

 Hukum Hierarki Perkembangan

Bahwa perkembangan anak tidak mungkin akan mencapai suatu fase tertentu dengan
cara spontan atau sekaligus, akan tetapi harus melalui tingkat-tingkat/tahapan tertentu yang
telah tersusun sedemikian rupa. Sehingga perkembangan diri seseorang menyerupai derat
perkembangan.

Contoh: Perkembangan pikiran/intelek anak, mesti didahului dengan perkembangan


pengenalan dan pengamatan.

3. Perkembangan Otak Anak


a. Janin – 5 tahun

Di lima tahun pertama kehidupan si kecil ini, fase perkembangan otaknya terbagi atas dua
tahap :

 0 – + 10 bulan (Janin)

Pada masa ini bagian-bagian otak mulai terbentuk, neuron (sel saraf) mulai tumbuh. Ini
adalah masa paling penting dalam proses perkembangan otak anak karena akan terbentuk
lebih dari 100 milyar sel sel saraf / neuron.Agar proses perkembangan ini berlangsung
optimal, ibu yang sedang mengandung perlu mengatur pola hidup selama masa kehamilan.

 Lahir – 6 tahun

Bagian otak yang paling berkembang pada fase ini adalah Frontal Lobes. Bagian otak ini
mengembangkan emosi, kedekatan, proses perencanaan, dan daya ingat. Pengenalan dan rasa
nyaman anak terhadap diri sendiri juga berkembang pesat pada masa ini, sementara
pengalaman sehari-hari akan membentuk kenyamanan emosional.
b. Usia sekolah

Proses perkembangan otak di usia sekolah terus berlangsung dan sebenarnya merupakan
bagian dari proses perkembangan hingga dewasa (usia produktif, siap bekerja).

Pada usia ini, orang tua sebaiknya merangsang anak untuk dapat
mengendalikan gerak tubuh. Caranya adalah dengan mengajaknya berolahraga.
Umumnya gerakan-gerakan olahraga memiliki tujuan tertentu yang dapat merangsang anak
menggerakan tubuhnya, sehingga terlatih dan terarah.

Sesungguhnya fase perkembangan usia ini berlangsung hingga seseorang mencapai usia
22 tahun. Pada usia tersebut, otak akan mencapai performa terbaik, dalam fungsi dan respons.

4. Perbedaan Individual dan Jenis Kebutuhan Anak Usia Sekolah Dasar


1. Perbedaan Individual Anak Usia SD/MI

Perbedaan individual seorang anak akan terjadi pada setiap aspek perkembangan anak itu.
Aspek perkembangan tersebut di antaranya adalah pada aspek perkembangan fisik,
intelektual, moral,

2. Jenis-Jenis Kebutuhan Anak Usia SD/MI

Istilah “kebutuhan”, “dorongan” atau “motif” pada kehidupan sehari-hari sering


digunakan secara berganitan. Namun demikian, secaara konsep ada perbedaan diantaranya.
kebutuhan lebih mengacu pada keadaan di mana seseorang terdorong melakukan sesuatu
karena adanya kekurangan pada jaringan-jaringan di dalam dirinya yang lebih bersifat
fisiologis. Sedangkan dorongan atau motif merupakan kebutuhan tingkat tinggi yang bersifat
psikologi

5. Perkembangan Anak Usia Sekolah Menengah

Peserta didik usia 12-19 tahun merupakan periode remaja transisi, yaitu periode
transisi antara masa kanak-kanak dan usia dewasa. kemudian pubertas adalah waktu
perkembangan fisik yang cepat, menandakan akhir masa kanak-kanak dan awal dari
kematangan seksual. peserta didik perempuan maupun laki-laki umumnya menyelesaikan
masa ini tanpa masalah.

Selama masa kanak-kanak, laki-laki menghasilkan hormon endrogen sama dengan


perempuan menghasikan hormon esstrogen. perempuan umumnya mulai pubertas beberapa
tahun lebih awal dari pada laki-laki, sekitar usia 11-12 tahun, sedangkan masa pubertas laki-
laki sekitar usia 12 hingga 14 tahun.

 Pengembangan Intelektual

Menurut Robert Strenberg, kecerdasan terdiri dari tiga aspek atau dikenal dengan
dengan triarkis teori{triarchic theory}yaitu:

1. Componential intelligence bermakna kemampuan untuk menggunakan strategi pemrosesan


informasi internal ketika peserta didik mengindentifikasi dan berpikir tentang pemecahan
masalah dan mengevaluasi hasil.

2. Experiential intelligence adalah kemampuan untuk membandingkan informasi lama dan


baru, dan untuk menempatkan fakta bersama dengan cara-cara yang asli.

3. Contextual intelligence adalah kemampuan untuk menerapkan kecerdasan praktis,


termasuk memiliki kepedulian sosial,budaya, dan konteks historis.

 Pengembangan Moral dan Penilaian

Sebagian pengembangan moral peserta didik tergantung pada munculnya empati,rasa


malu, dan rasa bersalah. sebagai bukti bahwa peserta didik meningkat kemampuan
kognitifnya,mereka mampu menimbang konsekuensi dari sudut kepentingan pribadi dan
kepentingan orang-orang di sekitar mereka.

6. Implikasi Karakteristik Peserta Didik Terhadap Penyelenggaraan


Pendidikan

Pemahaman tentang karakteristik individu peserta didik ini memiliki arti penting dalam
interaksi belajar-mengajar. Bagi sorang guru khususnya, informasi mengenai karakteristik
individu peserta didik ini akan sangat berguna dalam memilih dan menentukan pola-pola
pengajaran yang lebih baik atau yang lebih tepat, yang dapat menjamin kemudahan belajar
bagi setiap peserta didik. Dengan pemahaman atas karakteristik peserta didik ini, guru dapat
merekonstruksi dan mengorganisasikan materi pelajaran sedemikian rupa, memilih dan
menentukan metode yang lebih tepat, sehingga terjadi proses interaksi dari masing-masing
komponen belajar mengajar secara optimal. Di samping itu, pemahaman atas karakteristik
individu peserta didik juga sangat bermanfaat bagi guru dalam memberikan motivasi dan
bimbingan bagi setiap individu peserta didik ke arah keberhasilan belajarnya.
BAB V

Physical, intelectual, language and Psychossocial Development of Children

Pada bab ini membahas tentang perkembangan fisik, intelektual, dan psikososial anak. Yaitu :

a. Perkembangan Fisik Anak


Pertumbuhan fisik adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan merupakan
gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Perubahan fisik tersebut bukan saja menyangkut
bertambahnya ukuran tubuh dan berubahnya proporsi tubuh, melainkan juga meliputi
perubahan ciri-ciri yang terdapat pada kelamin utama dan kedua. Baik pada remaja laki-laki
maupun wanita, perubahan fisik tersebut mengikuti urutan-urutan tersebut.
Beberapa factor yang mempengaruhi terhadap pertumbuhan fisik ini adalah:
1. Factor keluarga, yaitu meliputi factor keturunan dan factor keluarga;
2. Factor gizi, yang erat hubungannya dengan kondisi social ekonomi keluarga;
3. Factor emosional, yang bertalian dengan gangguan emosional yang dialami selama
perkembangannya;
4. Factor jenis kelamin, dimana laki-laki cenderung meiliki ukuran tubuh lebih tinggi dan
lebih berat dibandingkan wanita;

B. Perkembangan Intelektual dan Kelainan Mental


Menurut kamus Webster New World Dictionary of the American
Language, istilah intellect berarti :
1) Kecakapan untuk berpikir, mengamati atau mengerti; kecakapan untuk mengamati
hubungan-hubungan, perbadaan-perbedaan, dan sebagainya. Dengan demikian kecakapan
berbeda dari kemauan dan perasaan;
2) Kecakapan mental yang besar, sangat intelligence, dan
3) Pikiran atau inteligensi
Intelek adalah kecakapan mental, yang mengambarkan kemampuan berpikir. Banyak
definisi tentang inteligensi namun makna inteligensi dapat diartikan sebagai kemampuan
seseorang dalam berpikir dan bertindak. Kemampuan berpikir atau inteligensi diukur dengan
tes inteligensi. Tes inteligensi yang terkenal adalah tes Binet-Simon.
Kemampuan berpikir berpengaruh terhadap tingkah laku. Seseorang yang
berkemampuan berpikir tinggi akan cekatan dan cepat dalam bertindak, terutama dalam
menghadapi permasalahan. Hal ini akan berakibat pada pembentukkan sikap mandiri.
Sebaliknya seseorang yang berkemampuan berpikir kurang akan lebih bersikap tergantung.
Ciri-ciri pokok dalam perkembangan intelek remaja (yang telah berada pada tingkat
berpikir operasional-formal) dapat disebutkan sebagai berpikir deduktif-hipotesis dan berpikir
kombinatoris.
Perkembangan inteligensi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain pengalaman
belajar termasuk berbagai macam latihan, lingkungan, terutama kondisi lingkungan keluarga.
Oleh karena itu terdepat perbedaan kemampuan dan irama perkembangan inteligensi individu.
Secara umum dapat dikenal pengelompokkan individu berdasarkan tingkat kecerdasaannya
dalam beberapa tingkat atau jenjang: kelompok anak berkelainan mental, kelompok anak
bodoh, anak normal, anak pandai, anak cerdas, dan anak istimewa (jenius).

C. Keterlambatan dan Kelainan Bahasa


Menurut para pakar, perkembangan fungsi berbahasa merupakan proses paling
kompleks diantara seluruh fase perkembangan (Hardiono Pusponegoro, 2003). Fungsi
berbahasa seringkali menjadi indikator paling baik dari ada tidaknya gangguan
perkembangan intelek. Bersama-sama dengan perkembangan sensori motorik, perkembangan
fungsi bahasa akan menjadi fungsi perkembangan sosial.

BAB VI

Social and Emotional Development of Children

Pada bab ini membahas tentang sosial dan emosi yang dialami oleh anak. Yaitu :

A. Makna Perkembangan Sosial Anak


Perkembangan sosial adapt diartikan sebagai pencapaian kematangan dalam
hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagai proses belajar untuk
menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi ; meleburkan diri
menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama. ( Syamsu Yusuf, 2007 )

Hubungan sosial (sosialisasi) merupakan hubungan antar manusia yang saling


membutuhkan. Hubungan sosial mulai dari tingkat sederhana dan terbatas, yang didasari oleh
kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa dan bertambah umur, kebutuhan manusia
menjadi kompleks dan dengan demikian tingkat hubungan sosial juga berkembang amat
kompleks.

Dari kutipan diatas dapatlah dimengerti bahwa semamin bertambah usia anak maka
semakin kompleks perkembangan sosialnya, dalam arti mereka semakin membutuhkan orang
lain. Tidak dipungkiri lagi bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan mampu
hidup sendiri, mereka butuh interaksi dengan manusia lainnya, interaksi sosial merupakan
kebutuhan kodrati yang dimiliki oleh manusia.

B. Bentuk – Bentuk Tingkah laku Sosial


Dalam perkembangan menuju kematangan sosial, anak mewujudkan dalam bentuk-
bentuk interkasi sosial diantarannya :

1. Pembangkangan (Negativisme)
Bentuk tingkah laku melawan. Tingkah laku ini terjadi sebagai reaksi terhadap
penerapan disiplin atau tuntutan orang tua atau lingkungan yang tidak sesuai dengan
kehendak anak. Tingkah la ku ini mulai muncul pada usia 18 bulan dan mencapai puncaknya
pada usia tiga tahun dan mulai menurun pada usia empat hingga enam tahun.

2. Agresi (Agression)
Yaitu perilaku menyerang balik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (verbal).
Agresi merupakan salah bentuk reaksi terhadap rasa frustasi ( rasa kecewa karena tidak
terpenuhi kebutuhan atau keinginannya). Biasanya bentuk ini diwujudkan dengan menyerang
seperti ; mencubut, menggigit, menendang dan lain sebagainya.

Sebaiknya orang tua berusaha mereduksi, mengurangi agresifitas anak dengan cara
mengalihkan perhatian atau keinginan anak. Jika orang tua menghukum anak yang agresif
maka egretifitas anak akan semakin memingkat.

3.Bertengkar
Sikap ini terjadi jika anak merasa tersinggung atau terganggu oleh sikap atau perilaku
anak lain.

4. Teasing
Menggoda merupakan bentuk lain dari sikap agresif, menggoda merupakan serangan
mental terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan) yang
menimbulkan marah pada orang yang digodanya.

5. Rivaly
Yaitu keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong oleh orang lain. Sikap
ini mulai terlihat pada usia empat tahun, yaitu persaingan prestice dan pada usia enam tahun
semangat bersaing ini akan semakin baik.

6. Kerja sama (Cooperation)


Yaitu sikap mau bekerja sama dengan orang lain. Sikap ini mulai nampak pada usia
tiga tahun atau awal empat tahun, pada usia enam hingga tujuh tahun sikap ini semakin
berkembang dengan baik.

7. Tingkah laku berkuasa (Ascendant behavior)


Yaitu tingkah laku untuk menguasai situasi sosial, mendominasi atau bersikap
bossiness. Wujud dari sikap ini adalah ; memaksa, meminta, menyuruh, mengancam dan
sebagainya.

8. Mementingkan diri sendiri (selffishness)


Yaitu sikap egosentris dalam memenuhi interest atau keinginannya

9. Simpati (Sympaty)
Yaitu sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap
orang lain mau mendekati atau bekerjasama dengan dirinya.

C. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial


Perkembangan sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: keluarga,
kematangan anak, status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental
terutama emosi dan inteligensi.

1. Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap
berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara
kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Di dalam
keluarga berlaku norma-norma kehidupan keluarga, dan dengan demikian pada dasarnya
keluarga merekayasa perilaku kehidupan anak.

2. Kematangan Anak
Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu
mempertimbangan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang lain,
memerlukan kematangan intelektual dan emosional. Di samping itu, kemampuan berbahasa
ikut pula menentukan.

3. Status Sosial Ekonomi


Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial
keluarga dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai
anak yang independen, akan tetapi akan dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam
keluarga anak itu. “ia anak siapa”. Secara tidak langsung dalam pergaulan sosial anak,
masyarakat dan kelompoknya dan memperhitungkan norma yang berlaku di dalam
keluarganya.

4. Pendidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan
sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberikan warna kehidupan sosial
anak di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang. Pendidikan
dalam arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kehidupan
keluarga, masyarakat, dan kelembagaan. Penanaman norma perilaku yang benar secara
sengaja diberikan kepada peserta didik yang belajar di kelembagaan pendidikan(sekolah).
Kepada peserta didik bukan saja dikenalkan kepada norma-norma lingkungan dekat,
tetapi dikenalkan kepada norma kehidupan bangsa(nasional) dan norma kehidupan
antarbangsa. Etik pergaulan membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

5. Kapasitas Mental, Emosi, dan Intelegensi


Kemampuan berpikir banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar,
memecahkan masalah, dan berbahasa. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi akan
berkemampuan berbahasa secara baik. Oleh karena itu kemampuan intelektual tinggi,
kemampuan berbahasa baik, dan pengendalian emosional secara seimbang sangat
menentukan keberhasilan dalam perkembangan sosial anak.

D. Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku

Pikiran anak sering dipengaruhi oleh ide-ide dari teori-teori yang menyebabkan sikap
kritis terhadap situasi dan orang lain, termasuk kepada orang tuanya. Kemampuan abstraksi
anak sering menimbulkan kemampuan mempersalahkan kenyataan dan peristiwa-peristiwa
dengan keadaan bagaimana yang semstinya menurut alam pikirannya.
Disamping itu pengaruh egoisentris sering terlihat, diantaranya berupa :

1. Cita-cita dan idealism yang baik, terlalu menitik beratkan pikiran sendiri, tanpa
memikirkan akibat labih jauh dan tanpa memperhitungkan kesulitan praktis yang mungkin
menyebabkan tidak berhasilnya menyelesaikan persoalan.

2. Kemampuan berfikir dengan pendapat sendiri, belum disertai pendapat orang lain daalm
penilaiannya.

Melalui banyak pengalaman dan penghayatan kenyataan serta dalam menghadapi


pendapat orang lain, maka sikap ego semakin berkurang dan diakhir masa remaja sudah
sangat kecil rasa egonya sehingga mereka dapat bergaul dengan baik.

E. Kelainan Psikososial
Perkembangan psikososial adalah perkembangan yang berhubungan dengan
pemahaman seorang individu atas situasi sosial di lingkungannya. Secara riil, psikososial ini
meliputi bagaimana seseorang mengetahui apa yang dirasakan orang lain, bagaimana
mengekspresikan perasaannya dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungannya. Selain
itu, psikososial juga berkaitan dengan kemampuan seorang anak melepaskan diri dari ibu atau
orang penting didekatnya dan melakukan tugas-tugas yang diberikan secara mandiri. Pada
saat yang bersamaan, perkembangan psikososial ini juga meliputi pemahaman seorang anak
atas peraturan-peraturan yang ada di sekitarnya.
Dengan demikian yang dimaksud dengan kelainan psikososial adalah kelainan-
kelainan yang berhubungan dengan fungsi emosi, dan perhatian terhadap sekitarnya.
Beberapa penyimpangan atau kelainan perilaku yang muncul berkaitan dengan fungsi-fungsi
ini antara lain adalah :

• Gangguan emosi
gangguan emosi tampak melalui perilaku ekstrim seperti terlalu agresif, terlalu
menarik diri, berteriak, diam seribu bahasa, terlalu gembira atau terlalu sedih. Perilaku
ekstrim ini muncul dalam tempo yang tidak sebentar dan dalam situasi yang tidak tepat.
Masyarakat kadang-kadang membeei label pada mereka yang memiliki hambatan ini dengan
sebutan “anak nakal” misalnya.

• Gangguan perhatian
gangguan perhatian tampak sebagai kesulitan seorang anak dalam memberikan
perhatian terhadap objek disekitarnya, sekalipun dalam waktu tidak lama. Termasuk dalam
kelainan ini adalah hiperaktif, sulit memusatkan perhatian (adhd) dan autism. Secara sekilas,
penyandang gangguan ini dapat terlihat seperti anak dengan keterbelakangan mental,
kelainan perilaku, gangguan pendengaran atau bahkan berperilaku aneh dan nyentrik. Yang
lebih menyulitkan lagi adalah semua gejala tersebut diatas dapat timbul secara bersamaan,
sehingga dapat dikatakan bahwa anak-anak yang memiliki gangguan perhatian ini termasuk
memiliki gangguan yang kompleks. Untuk memastikan apakah seorang anak memiliki
gangguan perhatian ini, utamanya autism, perlu dilakukan oleh dokter, psikolog, terapis, guru
dan utamanya keterangan orang tua, mengenai sejarah perkembangannya.

Sebagaimana dikatakan para pakar bahwa ada tidaknya perubahan kwalitas


perkembangan anak sedikit banyak adalah hasil dari pembiasaan yang diterapkan oleh orang
tuanya. Seorang anak yang terbiasa mendapati lingkungan yang menyenangkan (hawa udara,
cahaya, suara) dan tidak mengalami hal-hal yang menakutkan atau serba tidak menentu akan
cenderung menumbuhkan perasaan mempercayai sesuatu. Sebaliknya, jika seorang anak
dibesarkan oleh kebiasaan yang tidak menyenangkan, ia akan tumbuh menjadi anak yang
mudah curiga atau tidak mempercayai sesuatu, dingin dan acuh tak acuh . Bahkan diduga,
mereka yang tidak mendapatkan hal-hal yang menyenangkan akan tumbuh menjadi pribadi
yang tidak memiliki belas kasih.
F. Perkembangan Emosi
Anak kecil bereaksi dengan intensitas yang sama tetapi dia sering marah dan
cenderung cemburu ketika dia merasakan kasih sayangnya berkurang, baik terhadap situasi
yang remeh maupun yang serius.

1. Gejala-Gejala yang akan dihadapi:


· Ditandai dengan rasa bosan
· Takut
· Menangis
· Marah
· Kebiasaan berbohong
· Berbuat kasar kepada teman
· Bereaksi secara berlebihan terhadap hal-hal yang kecil, dan perubahan yang drastis
terhadap penampilan akademik.

BAB VII

Development Children’s Values, Morals, and Attitudes

Pada bab ini membahas tentang nilai, moral dan sikap yang dilakukan anak. Yaitu :

Dalam perspektif Spranger, kepribadian manusia terbentuk dan berakar pada tatanan nilai-
nilai dan kesejahteraan. Meskipun menempatkan konteks sosial sebagai dimensi nilai dalam
kepribadian manusia, tetapi spranger tetap mengakui kekuatan individual yang dikenal
dengan istilah “ roh subjektif” (subjective spirit) dan kekuatan nilai-nilai budaya merupakan
“roh objektif” (objevtive spirit). Roh objektif akan berkembang manakala didukung oleh roh
subjektif, sebaliknya roh subjektif terbentuk dan berkembang dengan berpedoman k Spranger
menggolongkan nilai itu kedalam enam jenis, yaitu:

 Nilai teori atau nilai keilmuan (I)


Mendasari perbuatan seseorang atau kelompok orang yang bekerja terutama atas dasar
pertimbangan rasional.

 Nilai ekonomi (E)


Suatu nilai yang mendasari perbuatan seseorang atau kelompok orang atas dasar
pertimbangan ada tidaknya keuntungan finansial sebagai akibat dari perbuatannya.
 Nilai sosial atau nilai solidaritas (Sd)
Suatu nilai yang mendasari perbuatan seseorang terhadap orang lain tanpa menghiraukan
akibat yang mungkin timbul terhadap dirinya sendiri, baik berupa keberuntungan atau
ketidakberuntungan.

 Nilai agama (A)


Suatu nilai yang mendasari perbuatan seseorang atas dasar pertimbangan kepercayaan bahwa
sesuatu itu dipandang benar menurrut ajaran agama.

 Nilai seni (S)


Suatu nilai yang mendasari perbuatan seseorang atau kelompok atas dasar pertimbangan rasa
keindahan atau rasa seni yang terlepas dari berbagai pertimbangan material.

 Nilai politik atau nilai kuasa (K)


Suatu nilai yang mendasari perbuatan seseorang atau kelompok orang atas dasar
pertimbangan baik buruknya untuk kepentingan dirinya atau kelompoknya.

1. Moral
Istilah moral berasal dari kata Latin Mores yang artinya tata cara dalam kehidupan, adat
istiadat, atau kebiasaan. Maksud moral adalah sesuai dengan ide-ide yang umum diterima
tentang tindakan manusia mana yang baik dan wajar. Moral merupakan kaidah norma dan
pranata yang mengatur perilaku individu dalam kehidupannya dengan kelompok sosial dan
masyarakat. Moral merupakan standar baik-buruk yang ditentukan bagi individu sebagai
anggota sosial. Moralitas merupakan aspek kepribadian yang diperlukan seseorang dalam
kaitannya dengan kehidupan sosial secara harmonis, adil, dan seimbang. Perilaku moral
diperlukan demi terwujudnya kehidupan yang damai penuh keteraturan, ketertiban, dan
keharmonisan. kepada roh objektif yang diposisikan sebagai cita-cita yang harus dicapai.
Stephen R. Covey mengemukakan tiga teori determinisme yang diterima secara luas, baik
sendiri-sendiri maupun kombinasi, untuk menjelaskan sikap manusia, yaitu:

1. Genetic determinism: berpandangan bahwa sikap individu diturunkan oleh sikap kakek-
neneknya. Itulah sebabnya, seseorang memiliki sikap dan tabiat seperti sikap dan tabiat
nenek moyangnya.
2. Psychic determinism: berpandangan bahwa sikap individu merupakan hasil pelakuan, pola
asuh, atau pendidikan orang tua yang diberikan kepada anaknya.
3. Environmental determinism: berpandangan bahwa perkembangan sikap seseorang sangat
dipengaruhi oleh lingkungan individu itu tinggal dan bagaimana lingkungan
memperlakukan individu tersebut. Bagaimana atasan/pimpinan memperlakukan kita,
bagaimana pasangankita memperlakukan kita, situasi ekonomi, atau kebijakan-kebijakan
pemerintah, semuanya membentuk perkembangan sikap individu.

 Hubungan antara Nilai, Moral, dan Sikap


Dalam konteksnya hubungan antara nilai, moral, dan sikap adalah jika ketiganya sudah
menyatu dalam superego dan seseorang yang telah mampu mengembangkan superegonya
dengan baik, sikapnya akan cenderung didasarkan atas nilai-nilai luhur dan aturan moral
tertentu sehingga akan terwujud dalam perilaku yang bermoral. Ini dapat terjadi karena
superego yang sudah berkembang dengan baik dapat mengontrol dorongan-dorongan
naluriah dari id yang bertujuan untuk memenuhi kesenangan dan kepuasan. Berkembangnya
superego dengan baik, juga akan mendorong berkembang kekuatan ego untuk mengatur
dinamika kepribadian antara id dan superego, sehingga perbuatannya selaras dengan
kenyataannya di dunia sekelilingnya.

BAB VIII

Physical Development and Adolescent Intellec

Pada bab ini membahas tentang Perubahan fisik selama masa remaja dibagi menjadi beberapa
tahap:
1. Perubahan Eksternal
Perubahan yang terjadi selama masa remaja dibagi menjadi beberapa tahap:
a. Tinggi Badan
Rata-rata anak perempuan mencapai tingkat matang pada usia antara 17 dan 18 tahun,
rata-rata anak laki-laki kira-kira setahun setelahnya. Perubahan tinggi badan remaja
dipengaruhi asupan makanan yang diberikan, pada anak yang diberikan imunisasi pada masa
bayi cenderung lebih tinggi dipada anak yang tidak mendapatkan imunisasi. Anak yang tidak
diberikan imunisasi lebih banyak menderita sakit sehingga pertumbuhannya terlambat.
b. Berat Badan
Perubahan berat badan mengikuti jadwal yang sama dengan perubahan tinggi badan,
perubahan berat badan terjadi akibat penyebaran lemak pada bagian-bagian tubuh yang hanya
mengandung sedikit lemak atau bahkan tidak mengandung lemak.
Ketidakseimbangan perubahan tinggi badan dengan berat badan menimbulkan ketidak
idealan badan anak, jika perubahan tinggi badan lebih cepat dari berat badan, maka bentuk
tubuh anak menjadi jangkung (tinggi kurus), sedangkan jika perubahan berat badan lebih
cepat dari perubahan tinggi badan, maka bentuk tubuh anak menjadi gemuk gilik (gemuk
pendek).
c. Proposi Tubuh
Berbagai anggota tubuh lambat laun mencapai perbandingan yang tumbuh baik.
Misalnya, badan melebar dan memanjang sehingga anggota badan tidak lagi kelihatan terlalu
pandang.
d. Organ Seks
Baik laki-laki maupun perempuan, organ seks mengalami ukuran matang pada akhir
masa remaja, tetapi fungsinya belum matang sampai beberapa tahun kemudian.
e. Ciri-ciri Seks Sekunder
Ciri-ciri seks sekunder yang utama, perkembangannya matang pada masa akhir masa
remaja.Ciri sekunder tersebut antara lain ditandai dengan tumbuhnya kumis dan jakun pada
laki-laki, sedangkan pada perempuan ditandai dengan membesarnya payudara.
Kondisi-kondisi Yang Mempengaruhi Perkembangan Fisik Remaja

Perkembangan fisik erat hubungannya dengan kondisi remaja. Kondisi yang baik
berdampak baik pada pertumbuhan fisik remaja, demikian pula sebaliknya. Adapun kondisi-
kondisi yang mempengaruhinya adalah sebagai berikut:

1. Pengaruh Keluarga
Pengaruh keluarga meliputi faktor keturunan maupun faktor lingkungan. Karena
faktor keturunan seorang anak dapat lebih tinggi atau panjang dari anak lainnya, sehingga ia
lebih berat tubuhnya, jika ayah dan ibunya atau kakeknya tinggi dan panjang.
2. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan akan membantu menentukan tercapai tidaknya perwujudan potensi
keturunan yang dibawa dari orang tuanya. Lingkungan juga dapat memberikan pengaruh
pada remaja sedemikian rupa sehingga menghambat atau mempercepat potensi untuk
pertumbuhan dimasa remaja.
3. Pengaruh Gizi
Anak yang mendapatkan gizi cukup biasanya akan lebih tinggi tubuhnya dan sedikit
lebih cepat mencapai taraf dewasa dibandingkan dengan mereka yang tidak mendapat gizi
cukup.
4. Gangguan Emosional
Anak yang sering mengalami gangguan emosional akan menyebabkan terbentuknya
steroid adrenal yang berlebihan dan ini akan membawa akibat berkurangnya pembentukan
hormon pertumbuhan dikelenjar pituitary.
Bila terjadi hal demikian pertumbuhan awal remajanya terhambat dan tidak tercapai berat
tubuh yang seharusnya.
5. Jenis Kelamin
Anak laki-laki cenderung lebih tinggi dan lebih berat daripada anak perempuan, kecuali
pada usia 12-15 tahun. Anak perempuan biasanya akan sedikit lebih tinggi dan lebih ber at
daripada anak laki-laki. Hal ini terjadi karenabentuk tulang dan otot pada anak laki-laki
berbeda dengan permpuan. Anak perempuan lebih cepat kematangannya daripada laki-laki.

6. Sifat Sosial Ekonomi


Anak yang berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi rendah, cenderung lebih
kecil daripada anak yang berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi yang tinggi.
7. Kesehatan
Kesehatan amat berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik remaja. Remaja yang
berbadan sehat dan jarang sakit, biasanya memiliki tubuh yang lebih tinggi dan berat
dibanding yang sering sakit.

8. Pengaruh Bentuk Tubuh


Pengaruh bentuk psikologis muncul antara lain disebabkan oleh perubahan-perubahan
fisik. Diantara perubahan fisik yang sangat berpengaruh adalah pertumbuhan tubuh (badan
makin panjang dan tinggi), mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid
pada perempuan dan “mimpi pertama” pada laki-laki), dan tanda-tanda kelamin kedua yang
tumbuh.
Pengertian Intelektual
Intelektual adalah orang yang menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar,
membayangkan, mengagas, atau menyoal dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan.
Pada usia remaja secara mental anak telah dapat berfikir logis tentang berbagai gagasan
yang abstrak. Dengan kata lain, berfikir operasi formal lebih bersifat hipotesis dan abstrak
serta sistematis dan ilmiah dalam memecahkan masalah daripada berfikir konkrit.
Pada periode ini, idealnya para remaja sudah memiliki pola fikir sendiri dalam usaha
memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak. Kemampuan berfikir para remaja
berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangankan
banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya.
Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses
informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri. Mereka juga tidak
mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi
konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan. Dengan kemampuan operasional formal
ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka.
Secara kritis, remaja akan lebih banyak melakukan pengamatan keluar dan
membandingkannya dengan hal-hal yang selama ini diajarkan dan ditanamkan kepadanya.
Sebagian besar para remaja mulai melihat adanya “kenyataan” lain diluar dari yang selama
ini diketahui dan dipercayainya. Ia akan melihat bahwa ada banyak aspek dalam melihat
hidup dan beragam jenis pemikiran yang lain. Baginya dunia menjadi lebih luas dan sering
kali
Intelektual Pada Remaja
Tidak sedikit anak remaja yang berupaya menentukan pilihan-pilihan kegiatannya
atas dasar pertimbangan yang rasional, baik dari sisi kompetensi pribadi dan minatnya
terhadap pilihan tersebut.
Contohnya pertama, apabila disekolah terdapat bermacam-macam program
ekstrakurikuler maka anak tersebut berupaya memilih salah satu ekstrakurikuler yang
diminatinya serta sesuai dengan kemampuan dirinya, tidak lagi atas dasar pilihan orang
tuanya.
Contoh kedua, dalam hal memilih sekolah. Tidak sedikit remaja yang memilih sekolah atas
dasar pertimbangan hal-hal yang ada dalam pribadinya bukan karena pilihan ditentukan oleh
orang tuanya, walaupun juga masih ada remaja yang menurut apa yang menjadi pilihan, apa
yang menjadi ketentuan, serta apa yang menjadi harapan orang tua bagi dirinya.
BAB IX

Emotional and social Development of adolescents

 Pengertian

Menurut Crow & Crow (1958) pengertian emosi adalah pengalaman afektif yang disertai
penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik yang berwujud suatu
tingkah laku yang tampak. Emosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai
warna afektif baik pada tingkat lemah maupun pada tingkat yang luas.

Karakteristik Perkembangan Emosi Remaja

Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak ke masa dewasa.Pada
masa ini remaja mengalami perkembangan mencapai kematangan fisik,mental,social dan
emosional.Masa ini biasanya dirasakan sebagai masa yang sulit, baik bagi remaja sendiri
maupun bagi keluarga atau lingkungannya.

Perkembangan Sosial Remaja

 Pengertian
Pada awal manusia dilahirkan belum bersifat sosial, dalam artian belum memiliki
kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan sosial anak diperoleh dari
berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang dilingkungannya.
Pada dasarnya pribadi manusia tak sanggup taksanggup hidup seorang diri tanpa
lingkungan psikis dan rohaniahnya walaupun secara biologis-fisiologis ia dapat
mempertahankan dirinya sendiri.
Hubungan sosial merupakan hubungan antarmanusia yang saling membutuhkan.
Pada jenjang perkembangan remaja, seorang remaja bukan saja memerlukan orang lain demi
memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi juga melakukan tahap perkembangan
sosial.Pengertian perkembangan sosial adalah berkembangnya tingkat hubungan antar
manusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia.
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial.
Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri
terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi meleburkan diri menjadi satu kesatuan
dan saling berkomunikasi dan kerja sama.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial
1. Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap
berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara
kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Di dalam
keluarga berlaku norma-norma kehidupan keluarga, dan dengan demikian pada dasarnya
keluarga merekayasa perilaku kehidupan anak.
2. Kematangan Anak
Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu
mempertimbangan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang lain,
memerlukan kematangan intelektual dan emosional. Di samping itu, kemampuan berbahasa
ikut pula menentukan. Dengan demikian, untuk mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan
kematangan fisik sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjalankan fungsinya dengan
baik.
3. Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial
keluarga dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai
anak yang independen, akan tetapi akan dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam
keluarga anak itu. “ia anak siapa”. Secara tidak langsung dalam pergaulan sosial anak,
masyarakat dan kelompoknya dan memperhitungkan norma yang berlaku di dalam
keluarganya.
akan membentuk kelompok elit dengan normanya sendiri.
4. Pendidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan
sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberikan warna kehidupan sosial
anak di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang. Pendidikan
dalam arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kehidupan
keluarga, masyarakat, dan kelembagaan.
BAB X

Development Adolescent Values, Morals, and Religious

Nilai sosial adalah nilai yang dianut oleh suatu masyarakat, mengenai apa yang dianggap
baik dan apa yang dianggap buruk oleh masyarakat. Untuk menentukan sesuatu itu dikatakan
baik atau buruk, pantas atau tidak pantas harus melalui proses menimbang. Hal ini tentu
sangat dipengaruhi oleh kebudayaan yang dianut masyarakat.
Moral merupakan kondisi pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia yang terkait
dengan nilai-nilai baik dan buruk. Apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai
rasa yang berlaku di masyarakat dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan
masyarakatnya, maka orang itu dinilai memiliki moral yang baik, begitu juga sebaliknya.
Sikap merupakan proses sosialisasi dimana seseorang akan bereaksi sesuai dengan
rangsang yang diterimanya”. (Mar’at,1981:9).

 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Nilai, Moral, dan Sikap


Remaja
1. Lingkungan Keluarga
Keinginan dan harapan orang tua yang cukup kuat agar anaknya tumbuh dan
berkembang menjadi individu yang memiliki dan menjunjung tinggi nilai nilai luhur, mampu
membedakan yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, yang boleh dan tidak
boleh dilakukan, serta memiliki sikap dan prilaku yang terpuji sesuai dengan harapan orang
tua.
2. Lingkungan Sekolah
Dalam konteks ini, guru juga harus mampu mengembangkan proses pendidikan yang
bersifat demokratis. Jika guru tetap berpendirian bahwa dirinya sebagai tokoh intelektual dan
tokoh otoritas yang memegang kekuasaan penuh,
3. Lingkungan Sosial
Faktor sosial mencakup semua pengaruh sosial dalam perkembangan sikap
keberagamaan, yaitu: pendidikan orang tua, tradisi – tradisi sosial dan tekanan – tekanan
lingkungan sosial untuk menyesuaikan diri dengan berbagai pendapat dan sikap yang
disepakati oleh lingkungan.

Implikasi Pengembangan Nilai, Moral dan Sikap Remaja


1. Pendidikan moral dalam rumah tangga
Pendidikan moral yang paling baik, terdapat dalam agama, karena nilai moral yang
dapat dipatuhi dengan sukarela, tanpa ada paksaan dari luar, hanya dari kesadaran sendiri,
datangya dari keyakinan sendiri.
Orang tua harus memperhatikan pendidikan moral serta tingkah laku anak-
anaknya.Pendidikan dan perlakuan orang tua terhadap anaknya hendaknya menjamin segala
kebutuhannya, baik fisik ataupun psikis ataupun sosial.
2. Pendidikan moral dalam sekolah
Pendidikan agama, haruslah dilakukan secara intensif Hendaknya segala sesuatu yang
berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran (baik guru, pegawai , buku, peraturan dan
alat-alat) dapat membawa anak didik kepada pembinaan mental yang sehat.
3. Pendidikan moral dalam masyarakat
Sebelum menghadapai pendidikan anak, maka masyarakat yang telah rusak moralnya
diperbaiki terlebih dahulu.Mengusahakan supaya masyarakat, termasuk pemimpin dan
penguasanya menyadari betapa pentingnya masalah pendidikan moral anak.

Agama Dan Budaya

Kebudayaan dikenal karena adanya hasil-hasil atau unsur-unsurnya. Unsur-unsur


kebudayaan terus menerus bertambah seiring dengan perkembangan hidup dan kehidupan.
Manusia mengembangkan kebudayaan; kebudayaan berkembang karena manusia.

BAB XI

Language Development and Independence

Perkembangan Bahasa
Perkembangan bahasa adalah meningkatnya kemampuan penguasaan alat
berkomunikasi, baik alat komunikasi dengan cara lisan, tertulis, maupun dengan tanda-tanda
dan isyarat. Sejalan dengan perkembangan hubungan sosial, maka perkembangan bahasa
seorang (bayi-anak) dimulai dengan meraba (suara atau bunyi tanpa arti) dan diikuti dengan
bahasa satu suku kata, dua suku kata, menyusun kalimat sederhana dan seterusnya melakukan
sosialisasi dengan menggunakan bahasa yang kompleks sesuai dengan tingkat perilaku sosial.
Sedangkan dalam perkembangan berbahasanya, potensi anak untuk berbicara didukung
beberapa hal, diantaranya:
1. Kematangan alat berbicara
2. Kesiapan berbicara
3. Adanya model yang baik untuk dicontoh oleh anak
4. Kesempatan berlatih
5. Motivasi untuk belajar dan berlalih
6. Bimbingan

Perkembangan Kemandirian
Menurut Chaplin (2002), otonomi atau kemandirian adalah kebebasan individu manusia
untuk memilih menjadi kesatuan yang bisa memerintah, menguasai, dan menentukan dirinya
sendiri. Sedangkan menurut Erikson (dalam Monks,dkk,1989), menyatakan kemandirian
adalah usaha untuk melepaskan diri dari orangtua dengan maksud untuk menemukan dirinya
melalui proses mencari identitas ego yaitu merupakan perkembangan kearah individualitas
yang mantap dan berdiri sendiri. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kemandirian
mengadung pengertian :
1. Suatu kondisi dimana seseorang memiliki hasrat bersaing untuk maju demi kebaikan
dirinya sendiri
2. Mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi
3. Memiliki kepercayaan diri dan melaksanakan tugas-tugasnya
4. Bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemandirian


Faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian yaitu:
a. Proses belajar mengajar yang demokratis,yang memungkinkan anak merasa dihargai.
b. Dorongan untuk anak agar dia dapat mengambil keputusan sendiri dan mengikuti kegiatan-
kegiatan yang ada di sekolah.
c. Kebebasan anak untuk dapat mengeksplorasi lingkungan mereka agar dapat mendorong
rasa ingin tahu mereka.
d. Tidak adanya diskriminasi antara anak dalam perlakuannya.
e. Hubungan harmonis antara anak dan orangtua.
f. Adanya motivasi yang kuat dari diri anak itu sendiri.
Tingkatan dan Karakteristik Kemandirian
Sebagai suatu dimensi psikologi yang kompleks, kemandirian dalam perkembangannya
memiliki tingkatan-tingkatan. Perkembangan kemandirian seseorang berlangsung secara
bertahap sesuai dengan tingkat perkembangan kemandirian tersebut. Lovinger (dalam
Sunaryo Kartadinata, 1988), mengemukakan tingkat kemandirian dan karakteristik, yaitu
sebagai berikut:
1. Tingkat pertama, adalah tingkat impulsive.
2. Tingkat kedua, adalah tingkat konformistik
3. Tingkat ketiga, adalah tingkat sadar diri.
4. Tingkat keempat, adalah tingkat saksama (conscientions).
5. Tingkat kelima, adalah tingkat individualistik.
6. Tingkat keenam, adalah tingkat mandiri.
:

BAB XII

Adjustment and The Problem

Tidak selamanya individu- individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri,


karena kadang-kadaang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan individu tidak
berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam
dirinya atau mungkin diluar dirinya. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan karakteristik
penyesuaian diri yang positif dan penyesuaian diri yang salah :
1. Penyesuaian diri secara positif
a) Tidak menunjukkan adanya ketegangan emosional
b) Tidak menunjukkan adanya frustasi- frustasi pribadi
c) Memiliki pertimbangan Rasional dan pengarahan diri
d) Mampu dalam belajar
e) Menghargai pengalaman

2. Penyesuaian yang salah


Ada tiga bentuk reaksi penyesuaian diri yang salah, yaitu :

a) Reaksi bertahan
Individu berusaha untuk mempertahankan dirinya, seolah- olah tidak menghadapi kegagalan,
ia selalu berusaha untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak mengalami kegagalan.
b) Reaksi menyerang
Orang yang mempunyai penyesuaian diri yang salah menunjukkan tingkah laku yang
bersifat menyerang untuk menutupi kegagalannya. Ia tidak mau menyadari kegagalannya.
c) Reaksi Melarikan Diri
Dalam reaksi ini orang yang mempunyai penyesuaian diri yang salah akan melarikan diri
dari situasi yang menimbulan kegagalan, reksinya tampak dalam tingkah laku sebagai
berikut :
 Berfantasi, yaitu memasukkan keinginan yang tidak tecapai dalam bentuk angan-angan.
 Banyak tidur
 Minum minuman keras
 Menjadi pecandu ganja, narkotika, dan
 Regresi, yaitu kembali kepada awal ( misal: orang dewasa yang bersikap dan berwatak
seperti anak kecil), dll.

Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Proses Penyesuaian Diri Pada Remaja


1. Lingkungan sebagai Penentu Penyesuaian Diri
 Pengaruh rumah dan keluarga
Dari sekian banyak faktor yang mengondisikan penyesuaian diri, faktor rumah dan
keluarga merupakan faktor yang sangat penting, karena keluarga merupakan satuan
kelompok sosial terkecil. Interaksi sosial yang pertama diperoleh individu adalah dalam
keluarga. Kemampuan interaksi sosial ini kemudian akan dikembangkan di masyarakat.

 Hubungan Orang Tua dan Anak


Pola hubungan antara orang tua dengan anak akan mempunyai pengaruh terhadap
proses penyesuaian diri anak –anak. Beberapa pola hubungan yang dapat mempengaruhi
penyesuaian diri antara lain :
 Menerima (acceptance)
 Menghukum dan disiplin yang berlebihan
 Memanjakan dan melindungi anak secara berlebihan
 Penolakan
 Hubungan saudara
Suasana hubungan saudara yang penuh persahabatan, kooperatif, saling menghormati,
penuh kasih sayang, mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk tercapainya
penyesuaian yang lebih baik.
 Masyarakat
Keadaan lingkungan masyarakat dimana individu berada merupakan kondisi yang
menentukan proses dan pola-pola penyesuaian diri.

 Sekolah
Suasana di sekolah baik sosial maupun psikologis menentukan proses dan pola
penyesuaian diri. Disamping itu, hasil pendidikan yang diterima anak disekolah akan
merupakan bekal bagi proses penyesuaian diri di masyarakat.

Kultural dan Agama Sebagai Penentu Penyesuaian Diri


Lingkungan kultural dimana individu berada dan berinteraksi akan menentukan pola-
pola penyesuaian dirinya. Contohnya tatacara kehidupan di sekolah, masjid, gereja, dan
semacamnya akan mempengaruhi bagaimana anak menempatkan diri dan bergaul dengan
masyarakat sekitarnya.

Masalah- Masalah Dalam Penyesuaian Diri


Penolakan orang tua terhadap anaknya dapat dibagi menjadi dua macam.
Pertama, penolakan mungkin merupakan penolakan tetap sejak awal, dimana orang tua
merasa tidak sayang kepada anaknya, karena berbagai sebab, mereka tidak menghendaki
kelahirannya. Menurut Boldwyn: “Bapak yang menolak anaknya berusaha menundukkan
anaknya dengan kaidah-kaidah kekerasan, karena itu ia mengambil ukuran kekerasan,
kekejaman tanpa alasan nyata.” Jenis kedua, dari penolakan adalah dalam bentuk berpura-
pura tidak tahu keinginan anak.
BAB III

DISCUSSION

 Setelah membandingkan kedua buku, masing masing buku memiliki kelebihan dan
kekurangannya masing masing.

No. Main Book Comparison Book


1 Cover: Cover:
Jika dilihat dari cover maka buku utama Dilihat dari cover maka buku ini kurang
lebih menarik masyarakat umum karena menarik khalayak umum.
covernya terdapat gambar (anak- anak).

2 Kata pengantar: Kata pengantar:


Di dalam buku ini terdapat kata Di dalam buku ini juga terdapat kata
pengantar yang mana penulis pengantar. Namun letaknya sesudah daftar
mengucapkan kata kata terima kasih isi. Yang mana penulisan kata pengantar
kepada Allah SWT. Dan letaknya benar seharusnya sebelum daftar isi.
menurut penulisan karya ilmiah.
3 Daftar isi: Daftar isi:
Penulisan daftar isi kurang terperinci. Penulisan daftar isi terperinci. Terdapat
Dimana hanya menuliskan sampai sub subsub bab yang bisa membantu pembaca
bab saja. mendapatkan judul yang ingin di cari
4 Pendahuluan : Pendahuluan :
Di buku ini terdapat pendahuluan yang Sedangkan dibuku ini tidak ada pendahuluan
di tulis untuk alasan mengapa buku ini namun, disetiap sub bab yang pertama di
ditulis. Dan pendahuluan tersebut lihat ada tujuan yang bisa mengganti
mewakili satu buku. Tidak seperti buku pendahuluan
pembanding yang tujuannya ditulis pada
awal setiap sub bab dibuka

5 Isi : Isi :
Terdapat di beberapa bab yang Sebagian bab pada buku ini mampu
kajiannya sudah sangat bagus. Yang membuat pembaca mengerti apa yang
terperinci dan sangat mudah di pahami, dimaksud penulis. Karena kajiannya sudah
sehingga pembaca mampu bagus .
membayangkan apa yang dimaksud Juga terdapat gambar gambar yang
penulis tersebut. membantu pembaca membayangkan maksud
Namun pembaca juga ada yang penulis. Ada juga bagan bagan perbandingan
dikategorikan visual yang mana dia yang memudahkan pembaca
lebih suka buku yang terdapat membandingkan topik tersebut.
gambarnya. Dan pada buku isi buku ini Di bagian akhir setiap bab terdapat
tidak terdapat gambar yang meng- rangkuman dan soal yang semakin
ilustrasikan maksud dari pembahasan memudahkan pembaca mengingat dan
suatu bab. berfikir tentang topik bahasan pada bab
Kemudian ada dari bab ini yang tersebut.
pembahasanya terlampau jauh dari judul
dan di ulang pada bab yang lain .
Terdapat soal pada akhir setiap bab
yang akan membuat pembaca
mengingat dan berfikir tentang topik
bahasan pada bab tersebut.
6 Daftar pustaka: Daftar pustaka:
Pada buku ini terdapat daftar pustaka di Sedangkan dibuku ini daftar pustaka nya
akhir buku. Yang membantu pembaca terletak di akhir setiap bab.
menemukan penulis yang dicari.
BAB IV

CLOSING

1. Conclussion
Pada dasarnya, isi dari buku Perkembangan Peserta didik itu adalah proses
pertumbuhan dan perkembangan yang ditunjang oleh faktor faktor di sekeliling anak
atau remaja. Karena faktor tersebut bisa jadi penghambat ataupun penndorong
perkembangan peserta didik. Sebagai calon pendidik kita juga harus bisa memahami
proses tersebut dengan sebaik baiknya. Agar fase perkembangan anak didik kita tidak
terhambat dan bukan kita sebagai penghambatnya.
Buku karangan Drs. Idad Suhada yang berjudul Perkembangan Peserta Didik
secara keseluruhan sudah lengkap dan cocok dijadikan panduan bagi para calon guru
dan guru.
Dari segi isi buku ini sebenarnya sudah merangkum beberapa materi dengan
lebih sederhana agar mudah dimengerti oleh pembaca.Setiap topik bahasan dalam
buku ini juga dijelaskan secara lebih mendalam. Jadi walau memiliki beberapa
kelemahan dan kekurangan menurut saya secara keseluruhan buku ini sudah sangat
bagus dan lengkap.

2. Suggestion
Karena kedua buku memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing, akan
lebih baik apabila kedua penulis berkolaborasi dalam menulis buku untuk mendatang,
dimana setiap kekurangan diperbaiki. Begitu juga kelebihan kelebihannya, semoga
semakin dipertahankan dan ditingatkan lagi.