Anda di halaman 1dari 5

2.

1 Anemia Ibu Hamil


2.1.1 Definisi Anemia Ibu Hamil
Anemia yang paling umum ditemui di Indonesia adalah anemia yang terjadi karena
produksi sel-sel darah merah tidak mencukupi, yang disebabkan oleh faktor konsumsi zat gizi,
khususnya zat besi (F. Anwar dan A. Khomsan, 2009). Anemia adalah suatu keadaan dimana
kadar hemoglobin (Hb) atau jumlah eritrosit lebih rendah dari kadar normal. Pada wanita hamil
dikatakan mengalami anemia jika kadar Hb < 11 g/dL. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) tahun 2018, sebanyak 48,9% ibu hamil di Indonesia mengalami anemia. Jumlah ibu
hamil yang mengalami anemia paling banyak pada usia 15-24 tahun sebesar 84,6%, usia 25-34
tahun sebesar 33,7%, usia 35-44 tahun sebesar 33,6%, dan usia 45-54 tahun sebesar 24%.
Bahaya yang dapat ditimbulkan akibat anemia gizi pada kehamilan antara lain: terjadinya
abortus, persalinan prematur, ketuban pecah dini, pengeluaran ASI berkurang, berat badan lahir
rendah, terjadinya cacat bawaan, kematian perinatal, dan intelegensia bayi rendah (Manuaba,
dkk, 2007).
2.1.2 Faktor Risiko Anemia Ibu Hamil
Adapun faktor-faktor dapat mempengaruhi kejadian anemia pada ibu hamil yaitu faktor
dasar (sosial ekonomi, pengetahuan, pendidikan, dan budaya), faktor tidak langsung (Kunjungan
Antenatal Care, paritas, umur, dan dukungan suami), faktor tidak langsung (pola konsumsi tablet
Fe, penyakit infeksi, dan perdarahan) (Wiknjosastro, 2007). Menurut Amiruddin (2007), bahwa
ibu hamil yang berumur kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun yaitu 74,1% menderita
anemia dan ibu hamil yang berumur 20 – 35 tahun yaitu 50,5% menderita anemia. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa variabel paritas merupakan faktor yang paling dominan
mempengaruhi kejadian anemia pada kehamilan. pada paritas 2-3 merupakan paritas paling aman
ditinjau dari sudut kematian maternal. Pada paritas tinggi lebih dari 3 mempunyai angka
kematian maternal lebih tinggi di bandingankan dengan paritas rendah (Saifuddin, 2007).
2.1.3 Pencegahan Anemia Ibu Hamil
Upaya pencegahan dan penanggulangan anemia gizi besi yang dilakukan melalui
pemberian suplemen zat besi ini diprioritaskan pada ibu hamil, karena prevalensi anemia pada
kelompok ini cukup tinggi. Oleh karena itu untuk mencegah anemia gizi pada ibu hamil
dilakukan suplementasi zat besi dengan dosis pemberian sehari sebanyak 1 tablet (60 mg
elemental iron dan 0.25 µg asam folat) berturut-turut minimal selama 90 hari selama masa
kehamilan (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI., 2013).
2.1.4 Penanggulangan Anemia Ibu Hamil
Suplementasi pemberian zat besi dalam program penanggulangan anemia gizi telah dikaji
dan diuji secara ilmiah efektifitasnya apabila dilaksanakan sesuai dengan dosis dan ketentuan.
Tetapi, program pemberian tablet besi pada wanita hamil yang menderita anemia kurang
menunjukkan hasil yang nyata. Hal ini disebabkan karena dua hal, yaitu kepatuhan minum tablet
besi yang kurang optimal, dan status besi Wanita Usia Subur (WUS) sebelum hamil sangat
rendah. Sehingga jumlah tablet besi yang dikonsumsi tidak cukup untuk meningkatkan
Hemoglobin (Hb) dan simpanan besi (Depkes RI, 2011). Kepatuhan dalam meminum suplemen
zat besi merupakan hal yang perlu diperhatikan. Walaupun dari pelaporan dihasilkan bahwa
cakupan ibu hamil yang mendapat suplemen zat besi cukup baik, namun jika tidak dikonsumsi
oleh ibu hamil maka efek minum suplemen zat besi yang diharapkan tidak akan tercapai. Secara
umum derajat kesehatan yang diharapkan meningkatpun akan terhambat (Kemenkes RI, 2011).

2.4.Hb Meter
2.4.1 Definisi Hb Meter
Hb Meter merupakan alat diagnosa pribadi yang digunakan untuk mengukur kadar Hb
dalam darah dengan menggunakan metode amperometeri (stik Hb), yaitu deteksi dengan
menggunakan pengukuran arus yang yang dihasilkan pada sebuah reaksi elektrokimia.
Pemeriksaan metode ini biasa diaplikasikan pada alat Hb meter yang menggunakan teknologi
biosensor. Muatan listrik pada teknologi biosensor ini terjadi karena reaksi dari interaksi kimia
antara zat tertentu dalam darah dan zat kimia pada reagen kering (strip) akan diukur lalu
dikonversikan menjadi angka yang dihasilkan setara dengan kadar yang diukur (Kepmenkes RI
no 1792/MENKES/SK/XII/2010).
Setiap strip kering terdapat 2 lapisan utama yang memiliki peran penting, lapisan pertama
mengandung reagent yang sensitif dengan hemoglobin seperti kalium ferrysianida dan lapisan
kedua mengandung dengan kandungan referensi elektroda seperti Ag (perak) untuk
mengoptimalkan reaksi (Manohar et al, 2010).
2.4.2 Tujuan Hb Meter
Pemeriksaan kadar hemoglobin termasuk salah satu pemeriksaan darah rutin yang
dibutuhkan untuk mendiagnosis suatu penyakit. Kegunaan dari pemeriksaan hemoglobin ini
adalah untuk mengetahui ada tidaknya gangguan kesehatan pada pasien, misalnya kekurangan
hemoglobin yang biasa disebut anemia (Pearce, Evelyn, C., 2009).
2.4.3 Cara Kerja Hb Meter
1. Masukan baterai dan nyalakan alat.
2. Set jam, tanggal dan tahun pada alat.
3. Ambil chip warna kuning masukan ke dalam alat untuk cek alat.
4. Apabila pada layar muncul “ERROR” artinya alat rusak.
5. Apabila pada layar muncul “OK” artinya alat siap dipakai.
6. Setiap botol strip pada gula darah, asam urat dan kolestrol terdapat chip test.
7. Gunakan chip asam urat untuk test asam urat dan chip kolestrol untuk test kolestrol, Chip
gula untuk test Gula.
8. Pada layar akan muncul angka/kode sesuai pada botol strip.
9. Setelah itu akan muncul gambar tetes darah dan kedip-kedip.
10. Masukan jarum pada lancing/alat tembak berbentuk pen dan atur kedalaman jarum sesuai
nomor.
11. Gunakan tisu alkohol untuk membersihkan ujung jari anda.
12. Tembakkan jarum pada ujung jari dan tekan supaya darah keluar.
13. Darah disentuh pada tepi samping strip dan bukan ditetes diatas tengah strip alat test
darah Hb Meter.
14. Sentuh pada bagian garis yang ada tanda panah.
15. Darah akan langsung meresap sampai ujung strip dan bunyi beep.
16. Tunggu sebentar, hasil akan keluar beberapa detik pada layar.
17. Cabut jarumnya dari lancing juga stripnya dan buang.
18. Chip di simpan ke botol lagi.
19. Tutup rapat botol strip apabila tidak dipakai.
20. Perhatikan masa expired / kadaluarsa pada setiap strip
2.4.4 Kelebihan Hb Meter
Pemeriksaan dengan menggunakan metode Hb meter sangat praktis, hasil yang
didapatkan cepat dan mudah digunakan tanpa harus tenaga terlatih (Gandasoebrata, P., 2007).
2.4.5 Kekurangan Hb Meter
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Setiawati (2011) penyebab nilai
sensitivitas kurang baik karena metode Hb meter memiliki beberapa kelemahan diantaranya alat
bekerja tidak stabil atau alat tidak berfungsi secara normal atau alat tidak bekerja dengan baik
karena alat yang kotor, alat bekerja tidak teliti, tidak peka.11 Walaupun uji ini mudah dan cepat
dilakukan, tetapi tidak cukup baik untuk digunakan sebagai uji diagnostik rutin dikarenakan nilai
sensitivitasnya yang rendah. Menurut Nugrahaeni (2011) menyatakan bahwa idealnya suatu alat
uji yang berfungsi sangat baik seharusnya mempunyai spesifisitas yang cukup tinggi yaitu
mendekati nilai 100%.12 Metode Hb meter yang memiliki spesifisitas yang kurang artinya alat
ini dalam mendeteksi seseorang sehat atau tidak menderita anemia kurang baik.

2.7 Reliabilitas
Reabilitas tes adalah tingkat keajegan (konsitensi) suatu tes, yakni sejauh mana suatu tes
dapat dipercaya untuk menghasilkan skor yang ajeg, relatif tidak berubah walaupun diteskan
pada situasi yang berbeda-beda. Reliabilitas suatu tes adalah taraf sampai dimana suatu tes
mampu menunjukkan konsisten hasil pengukurannya yang diperlihatkan dalam taraf ketetapan
dan ketelitian hasil. Reliabel tes berhubungan dengan ketetapan hasil tes.
2.7.1 Reliabilitas Intraobserver
Reliabilitas intra-observer adalah uji reabilitas dimana peneliti utama melakukan
pengukuran sebanyak dua kali untuk mendapatkan bukti reliabilitas pengukuran.

DAFTAR PUSTAKA
Amiruddin. 2007. Pengantar Metode Penelitian. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI. (2013). Riset
Kesehatan Dasar 2013. Jakarta: Kemenkes RI.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI. (2018). Riset
Kesehatan Dasar 2018. Jakarta: Kemenkes RI.
Depkes RI. (2011). Profil Kesehatan Indonesia 2010. Jakarta : Kemenkes RI
F. Anwar dan A. Khomsan, (2009) Makan Tepat, Badan Sehat, Jakarta: PT. Mizan Publika
Gandasoebrata, P., 2007. Penuntun Laboratorium Klinik, Dian Rakyat, pp. 1-4, 7, 11,
Manuaba, dkk, (2007). Pengantar kuliah Obstetri, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Nugrahaeni, Dyah, K., Konsep Dasar Epidemiologi, Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Hal 70,
2011.
Pearce, Evelyn, C., 2009. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis, PT Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta, pp. 160,
Saifuddin. 2007. Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kehamilan. Jakarta: EGC.
Setiawati, Tusi, Perbedaan Hasil Pemeriksaan Kadar Hemoglobin dengan alat Spektrofotometer
4010 dan BC-2600 Auto Analizer Hematologi, Universitas Muhammadiyah Semarang,
2011
Wiknjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.