Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH ALUR PIKIR ILMIAH

20 RIBU TENAGA PERAWAT BARU DI JAWA TIMUR TERANCAM JADI


PENGGANGGURAN INTELEKTUAL

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah “Filsafat Ilmu”


Fasilitator : Prof. Suhartono Taat Putra

Disusun oleh :

1. Antonia Helena Hamu 131714153008


2. Nurilla Kholidah 131714153026
3. Lis Triasari 131714153035
4. Primalova Septiavy Estiadewi 131714153065
5. Suhardiana Rachmawati 131714153098

PROGRAM MAGISTER KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2017
ALUR PIKIR ILMIAH

Topik : Pendidikan Profesi


Fenomena : 20 Ribu Tenaga Perawat Baru di Jawa Timur Menganggur
Tak Terserap
Artikel Berita :
Gading (wartabromo.com) – Lebih dari 20 ribu Perawat yang tersebar di
hampir seluruh daerah wilayah Jawa Timur menganggur atau tidak terserap sebagai
tenaga profesional di bidang medis. Minimnya kebutuhan, tidak berbanding lurus
dengan jumlah lulusan perawat baru yang lebih besar, (over capacity), disebut sebagai
penyebab tenaga jasa medis ini tidak terpakai.

Jumlah tersebut mengemuka setelah ketua Persatuan Perawat Nasional


Indonesia (PPNI) Jawa Timur, Prof. DR. Nur Salam, mengisi acara bertajuk Capacity
Building, yang dilaksanakan PPNI Kabupaten Probolinggo di Kampung Kita, Desa
Condong, Kecamatan Gading, Sabtu (8/7/2017).

“Ya ada sekitar dua puluh ribuan tenaga perawat di Jawa Timur yang tidak
mendapatkan pekerjaan. Kondisi ini tak jauh beda dengan di tingkat nasional, dimana
lulusan pendidikan perawat hanya sekitar 15 persen saja yang terserap,” ujar Prof.
DR. Nur Salam kepada wartabromo.com.

Besarnya angka pengangguran itu dikatakan sudah terjadi sejak 2008 lalu,
diperoleh dari kalkulasi lulusan baru (fresh graudate) di 58 perguruan tinggi yang
membuka jurusan Keperawatan di Jawa Timur.

Namun, dari jumlah lulusan tersebut, tidak semuanya dapat diserap agar dapat
memberikan jasa keahliannya, Sehingga ia sempat berkelekar, bahwa puluhan ribu
perawat itu sekarang menjadi pengangguran intelektual.

Dekan Fakultas Keperawatan Unair Surabaya itu, kemudian menyarankan bagi


perawat baru lulus, dapat membuka praktik secara mandiri, dengan terlebih dahulu
mengurus Surat Tanda Registrasi (STR).
Dikatakan juga jika saat ini, PPNI Jatim terdapat anggota 50 ribu yang tercatat,
baik yang sudah mempunyai STR maupun mereka yang bekerja di berbagai instansi.

“Selain praktik mandiri, juga menjadi tenaga kesehatan di luar Jawa atau
menjadi perawat di luar negeri. Tapi kebanyakan dari mereka ingin menjadi PNS dan
dekat rumah,” tambahnya.

Sementara itu, salah satu tokoh Kabupaten Probolinggo Hasan Aminuddin,


berharap para Perawat dapat meningkatkan kemampuan dan inovasi dalam melayani
masyarakat.

Menurutnya hal itu sangat penting, karena profesi perawat merupakan bagian
salah satu ujung tombak pengentasan kemiskinan. Sehat tidaknya warga, banyak
dipengaruhi oleh peranan tenaga medis, baik perawat, bidan maupun dokter.

“Perawat wajib berinovasi untuk memberikan pelayanan bagi masyarakat, yang


terpenting seusai peraturan dan nilai agama. Komitmen, solidaritas dan niat yang
sama untuk melayani masyarakat sangat berarti bagi peningkatan IPM (Indeks
Pembangunan Manusia, red) di Kabupaten ini,” kata mantan Bupati Probolinggo dua
periode ini. (saw/saw)

Masalah : 20 Ribu Tenaga Perawat Baru di Jawa Timur Menganggur Tak


Terserap

Tujuan Umum : Mengidentifikasi penyebab tenaga perawat baru di Jawa Timur


terancam menjadi pengangguran intelektual.
Kerangka Konseptual :

Pendidikan Profesi
(Perawat)

Minimnya kebutuhan tenaga


profesional keperawatan

> 20 ribu tenaga perawat baru


terancam jadi penggangguran
intelektual

- STR
- Nursepreneur
-Peningkatan kemampuan dan Praktik Mandiri
inovasi dalam melayani
masyarakat

Peningkatan Indeks Pembanguan


Manusia (IPM)

Tujuan Khusus :

- Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab 20 ribu tenaga perawat baru di Jawa


Timur tidak bisa terserap sebagai tenaga profesional keperawatan
- Mengidentifikasi peluang apa saja yang bisa dilakukan oleh perawat baru
sebagai tenaga profesional keperawatan.
Rumusan Masalah :

Bagaimana tenaga perawat baru di Jawa Timur terancam menjadi pengangguran


intelektual?

Manfaat :
- Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab mengapa Perawat baru di Jawa
timur tidak bisa terserap sebagai tenaga profesional keperawatan
- Untuk mengetahui peluang-peluang yang bisa dilakukan tenaga perawat baru
jika tidak bisa terserap sebagai tenaga profesional keperawatan

Judul :

20 Ribu Tenaga Perawat Baru di Jawa Timur terancam jadi Penggangguran


Intelektual
BAB I
PENDAHULUAN

A. LatarBelakang
Keperawatan merupakan profesi yang membantu dan memberikan pelayanan
yang berkontribusi pada kesehatan dan kesejahteraan individu. Keperawatan juga
diartikan sebagai konsekuensi penting bagi individu yang menerima pelayanan,
profesi ini memenuhi kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh seseorang, keluarga
atau kelompok di komunitas. (Committee on Education American Nurses Association
(ANA), 1965).
WHO Expert Committee on Nursing dalam Aditama (2000) mengatakan
bahwa, pelayanan keperawatan adalah gabungan dari ilmu kesehatan dan seni
melayani/memberi asuhan (care), suatu gabungan humanistik dari ilmu pengetahuan,
filosofi keperawatan, kegiatan klinik, komunikasi dan ilmu sosial.
Keperawatan merupakan suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan
bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan,
berbentuk pelayanan biopsikososial dan spiritual yang komprehensif, ditujukan
kepada individu, keluarga dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup
seluruh aspek kehidupan manusia. (Lokakarya Nasional, 1983).
Profesi berasal dari kata profession yang berarti suatu pekerjaan yang
membutuhkan dukungan body of knowledge sebagai dasar bagi perkembangan teori
yang sistematis meghadapi banyak tantangan baru, dan karena itu membutuhkan
pendidikan dan pelatihan yang cukup lama, memiliki kode etik orientasi utamanya
adalah melayani (alturism).
Profesi adalah suatu pekerjaan yang ditujukan untuk kepentingan masyarakat
dan bukan untuk kepentingan golongan atau kelompok tertentu. Profesi sangat
mementingkan kesejahteraan orang lain, dalam konteks bahasan ini konsumen
sebagai penerima jasa pelayanan keperawatan profesional. Menurut Webster, profesi
adalah pekerjaan yang memerlukan pendidikan yang lama dan menyangkut
keterampilan intelektual.
Kelly dan Joel (1995) menjelaskan, “Profesional sebagai suatu karakter, spirit
atau metode profesional yang mencakup pendidikan dan kegiatan di berbagai
kelompok okupasi yang anggotanya berkeinginan menjadi profesional”. Profesional
merupakan suatu proses yang dinamis untuk memenuhi atau mengubah karakteristik
kearah suatu profesi.
Pendidikan keperawatan merupakan pendidikan profesi dimana polanya harus
dikembangkan sesuai dengan kaidah ilmu dan profesi yang dilandaskan oleh
akademik dan keprofesian.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa sampai saat ini masih terjadi ketimpangan
dan kesenjangan antara ‘suplai-demand’ pelayanan perawat. Banyaknya institusi
pendidikan yang menghasilkan lulusan keperawatan belumlah sepenuhnya dapat
terserap dan tersebar di pelayanan kesehatan. Maka dari itu perlunya suatu terobosan
terkait dengan profesi yang dimiliki lulusan keperawatan, mulai dari peningkatan
kompetensi lulusan keperawatan, peningkatan kemampuan bahsa asing jika lulusan
keperawatan ingin bekerja di luar negeri dan pengembangan jiwa nursepreneur
sebagai soft skills positif yang bisa dikembangkan dalam pendidikan profesi.
Sedikitnya 20 ribu tenaga profesional bidang keperawatan di Jawa Timur saat ini
adalah pengangguran. Ribuan perawat dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun
swasta tidak terserap kemampuannya, karena minimnya lapangan pekerjaan.
Minimnya kebutuhan, tidak berbanding lurus dengan jumlah lulusan perawat baru
yang lebih besar. Hal ini menjadi penyebab tenaga jasa keperawatan ini tidak
terpakai.

Berdasarkan latar belakang diatas kelompok tertarik untuk menganalisa faktor


yang mengancam tenaga profesional keperawatan menjadi pengangguran dan solusi
apa yang bisa dilakukan supaya angka pengangguran tidak semakin meningkat.

B. RumusanMasalah
Bagaimanatenaga perawat baru di Jawa Timurterancam menjadi pengangguran
intelektual
C. Tujuan
- TujuanUmum
Mengidentifikasi penyebab tenaga perawat baru terancam menjadi
pengangguran intelektual
- TujuanKhusus
Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab 20 ribu tenaga perawat baru di Jawa
Timur tidak bisa terserap sebagai tenaga profesional keperawatan
Mengidentifikasi peluang apa saja yang bisa dilakukan sebagai tenaga
profesional keperawatan
D. Manfaat
- Untuk mengetahui faktor-faktor peneyebab tenaga perawat baru di Jawa Timur
tidak bisa terserap sebagai tenaga profesional keperawatan
- Untuk mengetahui peluang-peluang yang bisa dilakukan tenaga perawat baru
sebagai tenaga profesional keperawatan
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI
Profesi adalah aktivitas intelektual yang dipelajari termasuk pelatihan yang
diselenggarakan secara formal ataupun tidak formal dan memperoleh sertifikat yang
dikeluarkan oleh sekelompok / badan yang bertanggung jawab pada keilmuan
tersebut dalam melayani masyarakat, menggunakan etika layanan profesi dengan
mengimplikasikan kompetensi mencetuskan ide, kewenangan ketrampilan teknis dan
moral serta bahwa perawat mengasumsikan adanya tingkatan dalam masyarakat
daniel bell (1973) Profesi merupakan suatu keahlian dalam mengetahui segala sesuatu
dengan lebih baik dibandingkan orang lain (pasien) hughes, e.c ( 1963 ). Kelly dan
Joel (1995) menjelaskan, “Profesional sebagai suatu karakter, spirit atau metode
profesional yang mencakup pendidikan dan kegiatan di berbagai kelompok okupasi
yang anggotanya berkeinginan menjadi profesional”. Profesional merupakan suatu
proses yang dinamis untuk memenuhi atau mengubah karakteristik kearah suatu
profesi.
Pendidikan keperawatan merupakan pendidikan profesi dimana polanya harus
dikembangkan sesuai dengan kaidah ilmu dan profesi yang dilandaskan oleh
akademik dan keprofesian.
Keperawatan sebagai profesi merupakan salah satu pekerjaan dimana dalam
menentukan tindakannya didasarkan pada ilmu pengetahuan serta memiliki
keterampilan yang jelas dalam keahliannya. Dengan adanya perkembangan
keperawatan dari kegiatan yang sifatnya rutin yang menjadi pemenuhan kebutuhan
berdasarkan ilmu, membawa suatu perubahan yang sangat besar dalam dunia
keperawatan karena pelayanan yang semula hanya berdasarkan pada insting dan
pengalaman menjadi pelayanan keperawatan profesional berdasarkan ilmu dan
teknologi keperawatan yang selalu berubah sesuai dengan kemajuan zaman.
Keperawatan merupakan suatu bentuk pelayanan yang dilakukan oleh perawat
dengan memberikan asuhan keperawatan secara tepat kepada individu, kelompok dan
masyarakat, yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan, mencegah dan mengobati
penyakit serta pemulihan kesehatan demi tercapainya kesejahteraan umat manusia,
dengan berpegang teguh pada kode etik yang melandasinya. Sedangkan perawat
adalah seseorang yang telah menyelesaikan studinya dan telah siap untuk
mengabdikan dirinya kepada masyarakat.
Perawat merupakan salah satu pekerjaan yang mulia dengan cara memberikan
perawatan yang benar, sesuai dengan ilmu yang telah didapatkannya. Ilmu tersebut
diterapkannya dengan suatu metode yang dikenal dengan “Proses Keperawatan”.
Metode ini merupakan metode yang sistematis, meliputi tahap pengkajian, diagnosa
keperawatan, merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi tindakan keperawatan.
Dari tahapan metode ini, perawat sering menemukan hal-hal baru dari setiap
kasus yang ditanganinya. Oleh karena itu, mereka perlu meningkatkan wawasannya
agar mampu menangani klien-kliennya dengan benar.
Hal inilah yang membawa perubahan besar bagi dunia keperawatan karena
pelayanan yang pada awalnya hanya berdasarkan pengalaman, kemudian berkembang
menjadi pelayanan yang didasarkan pada ilmu keperawatan yang selalu berubah
sesuai dengan perkembangan zaman.
Profesi merupakan suatu keahlian yang membutuhkan ilmu pendidikan dan
pelatihan sebagai dasar pengembangan teori untuk menangani permasalahan yang
sering muncul dalam bidangnya.
Dengan melihat definisi dan ciri-ciri dari profesi diatas, maka dapat disimpulkan
bahwa keperawatan dianggap sebagai suatu profesi. Hal ini dikarenakan keperawatan
memiliki ciri-ciri yang sama dengan profesi.
Setiap tenaga keshatan yang akan menjalankan pekerjaannya wajib memiliki
STR, Salah Satunya yaitu profesi keperawatan, dimana untuk memperoleh STR
tenaga kesehatan harus memiliki ijazah dan sertifikat kompetensi. Ijazah dan
sertifikat kompetensi diberikan kepada peserta didik setelah dinyatakan lulus ujian
program pendidikan dan uji kompetensi. Ijazah dikeluarkan oleh perguruan tinggi
bidang kesehatan sesuai dengan peratutan perundang-undangan yang dimana
sertifikat kompetensi dikeluarkan oleh MTKI (Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia).
Sertifikat kompetensi berlaku selama 5 ( lima ) tahun dan dapat diperpanjang setiap 5
( lima ) tahun
Kewajiban registrasi perawat sesuai dengan Kepmenkes Nomor 1239 Tahun 2001
adalah lisensi Surat Izin Perawat (SIP), Surat Izin Kerja (SIK), dan Surat Izin Praktik
Perawat (SIPP). Sementara peraturan tentang SIPP diatur secara terpisah.sejak
dikeluarkannya Permenkes RI Nomor 148 Tahun 2010 tentang Izin dan
Penyelenggaraan Praktik Perawat. Namun sejak keluarnya Pemenkes RI Nomor 161
Tahun 2010 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan yang kemudian diganti dengan
Permenkes RI Nomor 1796 Tahun 2011 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan, acuan
dalam Kepmenkes RI Nomor 1239 tersebut dicabut, yang mana perawat sudah tidak
menggunakan SIP lagi melainkan diganti dengan Surat Tanda Registrasi (STR).
Terkait dengan kewajiban perawat, pada kenyataannya masih banyak perawat
yang belum memiliki STR, SIK, maupun SIPP. Seiring berjalannya waktu
meningkatnya penyelenggara pendidikan tinggi keperawatan di Indonesia
menyebabkan meningkatnya jumlah lulusan perawat di Indonesia. Hal ini tidak
diimbangi dengan tersedianya lapangan pekerjaan bagi lulusan tenaga perawat
tersebut.
Banyak dari lulusan perawat yang setelah lulus masih menganggur sampai lebih
dari 2 tahun. Institusi pendidikan keperawatan sangat bertanggungjawab dan berperan
penting dalam rangka melahirkan generasi perawat yang berkualitas dan berdedikasi.
Pemilik dan pengelola institusi pendidikan keperawatan yang sama sekali tidak
memiliki pemahaman yang cukup tentang keperawatan baik secara disiplin ilmu atau
profesi dapat menjadi penyebab rendahnya mutu lulusan dari pendidikan keperawatan
yang ada. Kualitas lulusan perawat masih menjadi isu utama dalam hal keperawatan.
Di Jawa Timur, dari jumlah sekolah keperawatan yang ada menghasilkan 200
lulusan per angkatan. Sayangnya hampir semuanya tidak terserap. Minimnya
kebutuhan, tidak berbanding lurus dengan jumlah lulusan perawat baru yang lebih
besar. Hal ini menjadi penyebab tenaga jasa profesional keperawatan ini tidak
semuanya dapat diserap dan dapat memberikan jasa keahliannya, sehingga menjadi
pengangguran intelektual.
Perawat sebagai tenaga profesional juga dituntut mampu berinovasi untuk
memberikan pelayanan bagi masyarakat, yang terpenting sesuai peraturan dan nilai
agama. Inovasi ini sangat penting, karena profesi perawat merupakan ujung tombak
pengentasan kemiskinan. Sehat tidaknya warga, banyak dipengaruhi oleh peran
tenaga medis, baikperawat, bidan maupun dokter.
BAB III

KERANGKA KONSEPTUAL

Pendidikan Profesi
(Perawat)

Minimnya kebutuhan tenaga profesional


keperawatan

> 20 ribu tenaga perawat baru terancam jadi


penggangguran intelektual

- STR
- Nursepreneur
Praktik Mandiri
-Peningkatan kemampuan dan inovasi
dalam melayani masyarakat

Peningkatan Indeks Pembanguan Manusia


(IPM)
BAB IV

PEMBAHASAN

Meningkatnya penyelenggara pendidikan tinggi keperawatan di Indonesia


menyebabkan meningkatnya jumlah lulusan perawat di Indonesia. Hal ini tidak
diimbangi dengan tersedianya lapangan pekerjaan bagi lulusan tenaga perawat
tersebut. Banyak dari lulusan perawat yang setelah lulus masih menganggur sampai
lebih dari 2 tahun. Institusi pendidikan keperawatan sangat bertanggungjawab dan
berperan penting dalam rangka melahirkan generasi perawat yang berkualitas dan
berdedikasi. Pemilik dan pengelola institusi pendidikan keperawatan yang sama
sekali tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang keperawatan baik secara
disiplin ilmu atau profesi dapat menjadi penyebab rendahnya mutu lulusan dari
pendidikan keperawatan yang ada. Kualitas lulusan perawat masih menjadi isu utama
dalam hal keperawatan.

Di Jawa Timur, dari jumlah sekolah keperawatan yang ada menghasilkan 200
lulusan per angkatan. Sayangnya hampir semuanya tidak terserap. Minimnya
kebutuhan, tidak berbanding lurus dengan jumlah lulusan perawat baru yang lebih
besar. Hal ini menjadi penyebab tenaga jasa profesional keperawatan ini tidak
semuanya dapat diserap dan dapat memberikan jasa keahliannya, sehingga menjadi
pengangguran intelektual.

Oleh karena itu kami menyarankan bagi perawat yang baru lulus supaya dapat
membuka praktik secara mandiri dengan terlebih dahulu mengurus Surat Tanda
Registrasi (STR),selain praktik mandiri, mereka juga bisa menjadi tenaga kesehatan
di luar Jawa atau menjadi perawat di luar negeri. Tapi kebanyakan dari mereka ingin
menjadi PNS dan dekat rumah.

Selain itu wawasan entrepreneur bagi perawat juga sangat penting dan
sebenarnya dapat dipelajari sambil melakukannya (learning by doing), namun harus
diingat bahwa wawasan tentang jenis usaha yang dipilih tetap sangat diperlukan.
Nursepreneur merupakan istilah baru dalam mempopulerkan entrepreneurship
yang dikaitkan dengan perawat atau dunia keperawatan. Seiring dengan gencarnya
program gerakan nasional kewirausahaan pada masyarakat luas, kalangan kampus
adalah salah satu sasarannya. Para calon intelektual yang tengah dalam studi pada
berbagai bidang ilmu berusaha dikenalkan pada dunia wirausaha.

Hal tersebut diupayakan sebagai sebuah upaya lompatan pola berpikir


menanggulangi pengangguran melalui dunia pendidikan. Lebih jauh lagi memang
ditujukan agar dapat membentuk jiwa-jiwa wirausaha baru yang dapat berkontribusi
bagi kesejahteraan masyarakat, disamping memiliki soft skill dan ketrampilan yang
kompeten dalam bidang profesi keperawatan sesuai dengan studi yang dijalani.

Perawat sebagai tenaga profesional juga dituntut mampu berinovasi untuk


memberikan pelayanan bagi masyarakat, yang terpenting sesuai peraturan dan nilai
agama. Inovasi ini sangat penting, karena profesi perawat merupakan ujung tombak
pengentasan kemiskinan. Sehat tidaknya warga, banyak dipengaruhi oleh peranan
tenaga medis, baik perawat, bidan maupun dokter. Inovasi ini diyakini tidak hanya
bermanfaat bagi masyarakat, namun juga berpeluang membuka lapangan kerja baru.
Komitmen, solidaritas, dan niat yang sama untuk melayani masyarakat sangat berarti
bagi peningkatan IPM (Indeks Pembangunan Manusia).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Untuk mencegah meningkatnya jumlah pengangguran intelektual diharapkan
perawat harus menumbuhkan semangat enterpreneurship khususnya terkait dengan
bisnis di bidang keperawatan. Perawat tidak boleh hanya sekedar menjadi penonton
yang duduk diam berpangku tangan. Beberapa alasan perawat wajib ‘melek’
nursepreneurship antara lain : tuntutan kemandirian perawat itu sendiri agar tidak
jatuh ke jurang pengangguran intelektual, menyediakan lapangan kerja baik untuk
perawat sendiri, tenaga kesehatan lainnya maupun sumber daya manusia lainnya.

4.2 Saran
Sebagai tenaga perawat baru yang profesional harus mampu menciptakan
inovasi dalam organisasi pelayanan kesehatan melalui introduksi baru. Entrepreneur
merupakan paradigma baru, namun untuk lebih fokus pada bidang lulusan
nursepreneur bisa menjadi jalan bagi lulusan keperawatan, jadi para lulusan harus
mengembangka kompetensi dan tidak hanya bergantung pada lapangan kerja, tapi
juga harus bisa membuka lapangan pekerjaan.
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Zaidin,H.2001.Dasar-dasar keperawatan professional.Jakarta: Widya Medika.

Potter, Praticia A.2005.Buku ajar fundamental keperawatan edisi 4.Jakarta: EGC.