Anda di halaman 1dari 5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori
2.1.1 Bobot Jenis
Bobot jenis adalah konstanta/tetapan yang bergantung pada suhu untuk
padar, cair, bentuk gas yang homogen. Didefinisikan sebagai hubungan massa (m)
suatu bahan terhadap volumenya. Atau bobot jenis adalah suatu karakteristik
bahan yang penting yang digunakan untuk pengujian identitas dan kemurniaan
dari bahan obat dan bahan pembantu, terutama dari cairan dan zat-zat bersifat
seperti malam (Rudolf, Voight, 1994).
Bobot jenis dinyatakan dalam desimal dengan beberapa angka di belakang
koma sebanyak akurasi yang diperlukan pada penentuannya.Bobot jenis
menggambarkan hubunga antara bobot suatu zat terhadap bobot suatu zat baku.
Dalam farmasi, Bobot jenis merupakan faktor yang memungkinkan pengubahan
jumlah zat dalam formula.Bobot jenis juga digunakan untuk mengubah
pernyataan kekuatan dalam konsentrasi persen. (Ansel, 2004)
Penentuan bobot jenis selain piknometer, neraca westphalt, dan areopmeter
adalah neraca hidrostalik, neraca Reimen, untuk menentukan mengetahui berat
jenis zat cair, neraca Ephim, untuk mengakur zat cair, neraca Qeimann, untuk
mengukur zat cair saja (karena telah memiliki benda padat yang tak bisa diganti
dengan zat padat (Raharjo, 2008).
Kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi, penetapan bobot
jenis dugunakan hanya untuk cairan, dan kecuali dinyatakan lain, didasarkan pada
perbandingan bobot zat diudara pada suhu 25 terhadap bobot air dengan volume
dan suhu yang sama. Bila suhu ditetapkan dalam monografi, bobot jenis adalah
perbandingan bobot zat di udara pada suhu yang ditetapkan terhadap bobot air
dengan volume suhu yang sama. Bila pada suhu 25 zat terbentuk padat, tetapkan
bobot jenis pada suhu yang telah tertera pada masing-masing monografi, dan
mengacu pada air yang tetap pada suhu 25 (Voight, R.1994).
Dalam farmasi perhitungan bobot jenis terutama menyangkut cairan, zat
padat, dan air merupakan pilihan yang tepat untuk digunakan sebagai standar
karena mudah didapat dan mudah dimurnikan (Howard, Ansel, 1989).
Menurut Lachman, L, (1994) Pengujian bobot jenis dilakukan untuk
menentukan 3 macam bobot jenis yaitu:
1. Bobot jenis nyata
Massa partakel dibagi volume pertikel tidak termasuk rongga yang terbuka dan
tertutup.
2. Bobot jenis nyata
Massa pertikel dibagi volume partikel tidak termasuk pori/lubang terbuka,
tetapi termasuk pori yang terbuka.
3. Bobot jenis efektif
Massa partikel dibagi volume partikel termasuk pori yang terbuka dan tertutup

Dan berikut adalah Rumus perhitungan bobot jenis :

2.1.2 Kerapatan
Kerapatan adalah turunan besaran karena menyangkut satuan massa dan
volume. Batasannya adalah massa per satuan volume pada temperatur dan tekanan
tertentu dan dinyatakan dalam sistem cgs dalam gram per sentimeter
kubik(gram/cm³) (Martin, 1993).
Hubungan antara massa dan volume tidak hanya menunjukan ukuran dan
bobot molekul suatu komponen, tetapi juga gaya-gaya yang mempengaruhi sifat
karakteristik “pemadatan” (“Packing Characteristic”). Dalam sistem matriks
kerapatan diukur dengan gram/milimeter (untuk cairan) atau gram/cm2 (Martin,
1993).
Ahli farmasi sering kali mempergunakan besaran pengukuran ini apabila
mengadakan perubahan antara massa dan volume. Kerapatan adalah turunan
besaran karena menyangkut satuan massa dan volume. Batasannya adalah massa
per satuan volume pada temperatur dan tekanan tertentu, dan dinyatakan dalam
sistem cgs dalam gram per sentimeter kubik (gram/cm3) (Martin, 1993).
Berbeda dengan kerapatan, berat jenis adalah bilangan murni tanpa
dimensi, yang dapat diubah menjadi kerapatan dengan menggunakan rumus yang
cocok. Berat jenis didefinisikan sebagai perbandingan kerapatan dari suatu zat
terhadap kerapatan air, harga kedua zat itu ditentukan pada temperatur yang sama,
jika tidak dengan cara lain yang khusus. Istilah berat jenis, dilihat dari definisinya,
sangat lemah, akan lebih cocok apabila dikatakan sebagai kerapatan relatif
(Martin, 1993).
Berat jenis untuk penggunaan praktis lebih sering didefinisikan sebagai
perbandingan massa dari suatu zat terhadap massa sejumlah volume air yang sama
pada suhu 4oC atau temperatur lain yang tertentu. Notasi berikut sering ditemukan
dalam pembacaan berat jenis: 25oC/25oC, 25oC/4oC, dan 4oC/4oC. Angka yang
pertama menunjukkan temperatur udara di mana zat ditimbang; angka di bawah
garis miring menunjukkan temperatur air yang dipakai. Buku-buku farmasi resmi
menggunakan patokan 25oC /25oC untuk menyatakan berat jenis (Martin, 1993).
Suatu sifat yang besarnya tergantung pada jumlah bahan yang sedang
diselidiki disebut sifat ekstensif. Baik massa maupun volume adalah sifat-sifat
ekstensif. Suatu sifat tergantung pada jumlah bahan adalah sifat intensif. Rapatan
yang merupakan perbandingan antara massa dan volume, adalah sifat intensif.
Sifat-sifat intensif umumnya dipilih oleh para ilmuwan untuk pekerjaan ilmiah
karena tidak tergantung pada jumlah bahan yang sedang diteliti (Petrucci, 1985).
2.1.3 Metode Penentuan Bobot Jenis
Menurut Roth (1988), metode penentuan untuk cairan adalah sebagai
berikut:
1. Metode Piknometer.
Prinsip metode ini didasarkan atas penentuan massa cairan dan
penentuan ruang, yang ditempati cairan ini. Untuk ini dibutuhkan wadah
untuk menimbang yang dinamakan piknometer. Ketelitian metode piknometer
akan bertambah hingga mencapai keoptimuman tertentu dengan
bertambahnya volume piknometer. Keoptimuman ini terletak pada sekitar isi
ruang 30 ml.

2. Metode Neraca Hidrostatik.


Metode ini berdasarkan hukum Archimedes yaitu suatu benda yang
dicelupkan ke dalam cairan akan kehilangan massa sebesar berat volume
cairan yang terdesak.
3. Metode Neraca Mohr-Westphal.
Benda dari kaca dibenamkan tergantung pada balok timbangan yang
ditoreh menjadi 10 bagian sama dan disetimbangkan dengan bobot lawan.
Keuntungan penentuan kerapatan dengan neraca Mohr-Westphal adalah
penggunan waktu yang singkat dan mudah dilaksanakan.
4. Metode Areometer.
Penentuan kerapatan dengan areometer berskala (timbangan benam,
sumbu) didasarkan pada pembacaan seberapa dalamnya tabung gelas tercelup
yang sepihak diberati dan pada kedua ujung ditutup dengan pelelehan.
2.2 Uraian Bahan
2.2.1 Alkohol (Dirjen POM, 1995; Rowe,et al, 2009)
Nama Resmi : AETHANOLUM
Nama Lain : Alkohol; Etanol; Etil Alkohol, Alkohol murni,
Alkohol absolut
Berat molekul : 46,068 g/mol
Rumus Struktur :

Rumus Molekul : C2H6O


Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air.
Pemerian : Cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap, dan
mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah
terbakar, dan memberikan nyala biru.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terhindar dari cahaya
Khasiat : Desinfektan (membunuh jaringan bakteri) dan
antiseptik (membunuh bakteri pada jaringan hidup).
Kegunaan : Sebagai disenfektan.
2.2.2 Air demineral (Dirjen pom, 1979)
Nama Resmi : AQUA DEMINERALISATA
Nama Lain : Air
Berat molekul : 18,02 g/mol
Rumus Struktur :
O

H H
Rumus Molekul : H2O
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak
mempunyai rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Pembersih sampel.
2.2.3 Minyak kelapa (Dirjen POM,1979)
Nama Resmi : Oleum cocos
Nama Lain : Minyak kelapa
Berat Molekul :
Rumus Struktur :

Rumus Molekul :
Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna, atau kuning pucat, bau
khas tidak tengik.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya,
dan di tempat sejuk.
Kegunaan : Sebagai sampel