Anda di halaman 1dari 7

LEARNING ISSUE SKENARIO B BLOK 14

NAMA : MUHAMMAD RIZKY


NIM : 04011381722186
KELAS : GAMMA 2017

Rhinosinusitis

DEFINISI

Rhinosinusitisadalah gabungan dari rhinitis dan sinusitis yang merupakan inflamasi mukosa
pada hidung dan sinus paranasalis.

Klasifikasi

Rhinosinusitis Akut
Kriteria rhinosinusitis akut adalah sebagai berikut:
 Gejala berlangsung < 12 minggu
 Episode akut berlangsung < 4 kali/tahun
 Reversibilitas mukosa: normal kembali setelah tatalaksana medik adekuat

Gejala :

 Mayor: ingus purulen (probabilitas RSA: 92%)


 Minor: Sakit kepala, nyeri wajah, edema periorbita, nyeri telinga, halitosis, nyeri gigi,
nyeri tenggorok, peningkatan wheezing, dan demam

Diagnosis: 2 gejala mayor atau 1 gejala mayor dan ≥ 2 gejala minor

a. Rhinosinusitis viral akut (common cold)


Umumnya durasi gejala < 10 hari
b. Rhinosinusitis non-viral akut
Perburukan gejala setelah 5 hari, atau gejala menetap setelah 10 hari dengan durasi < 12 minggu.
Kasus yang disebabkan oleh bakteri disebut juga sebagai rhinosinusitis bakterialis akut, yang
secara klinis dapat ditegakkan apabila ditemukan minimal 3 gejala atau lebih dari gejala/tanda
berikut:
 Ingus purulen (biasanya unilateral)
 Nyeri berat lokal (biasanya unilateral)
 Demam > 38˚C
 Peningkatan laju endap darah (LED) atau C-reactive protein (CRP)
 Adanya perburukan gejala setelah 5 hari

1.) Rhinosinusitis Kronis


Kriteria rhinosinusitis kronis adalah sebagai berikut:
 Gejala berlangsung selama lebih dari 12 minggu
 Episode akut ≥ 4 kali/tahun
 Reversibilitas mukosa: abnormal menetap kembali setelah tata laksana medik adekuat

Gejala

 Mayor: nyeri wajah/rasa tekanan, obstruksi nasal/kongesti nasal, ingus purulen,


hiposmia/anosmia, dan batuk bukan karena asma (hanya pada anak)
 Minor: nyeri kepala, demam, halitosis, fatigue, nyeri gigi, batuk (pada dewasa), gejala otologik

Diagnosis: > 2 gejala mayor, 1 gejala mayor dan 2 gejala minor (nyeri wajah saja tanpa gejala
mayor lain tidak dianggap gejala mayor). Jika hanya ditemukan 1 gejala mayor atau ≥2 gejala
minor maka dianggap sugestif.

Etiologi

 ISPA virus dan infeksi sekunder bakteri


 Rhinogenik: rhinitis alergi, rhinitis infeksi, rhinitis vasomotos, rhinitis medikamentosa
 Pajanan lingkungan: polusi udara, iritan, dan rokok
 Obstruksi rongga hidung (hipertrofi konka, deviasi septum, benda asing) atau meatus medius
 Kelainan anatomi hidung: infundibulum lebih sempit dari normal, obstruksi koana oleh jaringan
adenoid jinak
 Trauma sinus, fraktur, dna adanya luka tembak
 Tonsilitis atau adenoiditis
 Kelainan keadaan umum: pasien imunokompromais, gangguan silia atau mukosilier
 Berenang/menyelam: air terhisap ke sinus
 Resistensi obat: amoksilin

Patofisiologi

Invasi mikroorganisme atau benda asing melalui saluran napas dapat memicu proses inflamasi
pada mukosa hidung dan sinus paranasal. Proses patologis yang terjadi antara lain kerusakan
epitel mukosa, pengurangan jumlah sel silia, serta peningkatan produktivitas sel Goblet
menghasilkan sekret mukus. Adanya obstruksi juga membuat sekret yang harusnya keluar
tersebut terperangkap di dalam sinus paranasal.

Diagnosis

1.) Anamnesis
Gejala lokal: ingus purulen, hidung tersumbat, nyeri atau rasa tekan pada wajah, nyeri kepala,
dan hiposmia/anosmia
 Gejala sistemik: malaise, demam, dan lemas. Gejala lain karena iritasi faring, laring,
atau trakea, dapat ditemukan nyeri tenggorok dan batuk
 Tanda-tanda alergi: allergic shiner (bayangan gelap dibawah mata karena stasis vena
sekunder), allergic salute (menggosok-gosok hidung dengan tangan karena gatal), allergic
crease (garis melintang di sepertiga bawah dorsum nasi), dan facies adenoid (gangguan
pertumbuhan gigi-geligi)
 Durasi penyakit: < 12 minggu (akut), < 10 hari (common cold), memburuk setelah 5
hari atau persisten > 10 hari (rhinosinusitis akut non viral), > 12 minggu (kronis)
 Nilai Visual Analogue Scale/VAS (berkisar dari 0-10). Nilai VAS 0-3 menandakan
keluhan ringan, VAS 4-7 menunjukkan keluhan sedang, dan VAS 8-10 berarti keluhan berat.
2.) Pemeriksaan fisis
 Apabula suhu > 38˚C, maka perlu dicurigai infeksi bakteri
 Inspeksi dan palpasi luar hidung dan sinus: bengkak (dahi, kelopak mata atas dan
bawah), nyeri sinus
- Sinus maksila: nyeri pipi
- Sinus etmoid: nyeri di antara atau di belakang kedua bola mata
- Sinus frontal: nyeri di dahi atau seluruh kepala
- Sinus sfenoid: nyeri di vertex, oksipital, belakang kepala, dan mastoid
 Rhinoskopi anterior: konka edema, mukosa hiperemis, dan terdapat pus purulen.
- Pus pada meatus medius: mengenai sinus maksila, etmoid anterior, dan frontal
- Pus pada meatus superior: mengenai etmoid posterior dan sfenoid
 Rhinoskopi posterior: post nasal drip, infeksi gigi
3.Pemeriksaan penunjang
 Transluminasi
 Laboratorium: CRP (C-reactive protein: meningkat pada infeksi bakteri), LED (Laju
Endap Darah: tanda inflamasi)
 Pencitraan radiologis
- Foto polos posisi Waters: menilai air fluid level pada rhinosinusitis akut
- CT-scan sering digunakan pada rhinosinusitis kronis, terutama untuk menilai adanya
kelainan anatomis seperti polip. Indikasi: keraguan dalam diagnosis dan terapi, riwayat tidak
berespon terhadap terapi adekuat (minimal 2 minggu pemberian terapi), dan dilakukan sebelum
terapi pembedahan sinus
- Nasoendoskopi, sinuskopi (bila tersedia).

Kriteria Rujukan

Pasien dirujuk pada gejala unilateral, ada perdarahan, krusta, kakosmia, gejala orbita, bengkak
mata/palpebra, mata merah, perubahan bola mata, penglihatan ganda, penurunan visus, nyeri
frontal berat dan unilateral, bengkak pada daerah frontal, gejala meningitis, defisit neurologis,
dan gejala sistemik.

Prognosis

Sebanyak 98% rhinosinusitis viral akut akan sembuh sendiri (self-limiting), sementara
rhinosinusitis bakterialis memiliki angka insidens kekambuhan sekitar 5%. Jika setelah 48 jam
pengobatan belum ada perbaikan gejala secara bermakna, terpai perlu dievaluasi kembali.
Rhinosinusitis akut yang tidak ditangani secara adekuat dapat menjadi kronis, dan rhinosinusitis
kronis maupun akut berpotensi menimbulkan komplikasi meningitis, abses orbita, abses otak,
hingga tromboflebitis sinus kavernosus.
PEMERIKSAAN FISIK

-Rinoskopi anterior dengan cahaya lampu kepala yang adekuat dan kondisi rongga hidung yang lapang
(sudah diberi topikal dekongestan sebelumnya) Dengan rinoskopi anterior dapat dilihat kelainan rongga
hidung yang berkaitan dengan rinosinusitis kronik seperti udem konka, hiperemi, sekret (nasal drip),
krusta, deviasi septum, tumor atau polip.

-Rinoskopi posterior bila diperlukan untuk melihat patologi di belakang rongga hidung.

Pemeriksaan Penunjang

-Transiluminasi, merupakan pemeriksaan sederhana terutama untuk menilai kondisi sinus maksila.
Pemeriksaan dianggap bermakna bila terdapat perbedaan transiluminasi antara sinus kanan dan kiri.

-Endoskopi nasal, dapat menilai kondisi rongga hidung, adanya sekret, patensi kompleks ostiomeatal,
ukuran konka nasi, udem disekitar orifisium tuba, hipertrofi adenoid dan penampakan mukosa
sinus.Indikasi endoskopi nasal yaitu evaluasi bila pengobatan konservatif mengalami kegagalan. Untuk
rinosinusitis kronik, endoskopi nasal mempunyai tingkat sensitivitas sebesar 46 % dan spesifisitas 86 %.

Radiologi, merupakan pemeriksaan tambahan yang umum dilakukan, meliputi X-foto posisi Water, CT-
scan, MRI dan USG. CT-scan merupakan modalitas pilihan dalam menilai proses patologi dan anatomi
sinus, serta untuk evaluasi rinosinusitis lanjut bila pengobatan medikamentosa tidak memberikan
respon.1,18 Ini mutlak diperlukan pada rinosinusitis kronik yang akan dilakukan pembedahan.

Pemeriksaan penunjang lain yang dapat dilakukan antara lain:


1. Sitologi nasal, biopsi, pungsi aspirasi dan bakteriologi
2. Tes alergi
3. Tes fungsi mukosiliar : kliren mukosiliar, frekuensi getar siliar, mikroskop elektron dan nitrit
oksida
4. Penilaian aliran udara nasal (nasal airflow): nasal inspiratory peakflow, rinomanometri,
rinometri akustik dan rinostereometri
5. Tes fungsi olfaktori: threshold testing
6. Laboratorium : pemeriksaan CRP ( C-reactive protein)
ANALISIS MASALAH

a. Apa makna dari 10 hari obstruksi nasal? (akut atau kronis) andrian abim rizky
Rhinosinusitis akut (< 4 minggu)
b. Bagaimana mekanisme obstruksi nasal pada kasus ini? Abim risky cahaya

c. Bagaimana mekanisme mukopurulen rhinorrhea? (dari obstruksi) risky cahaya catra


d. Apa prinsip pemeriksaan otoscopy? Andriann abim rizky

Otoskop memiliki tiga bagian, yaitu kepala, gagang, dan kerucut. Gagang berguna
untuk menggenggam otoskop dan merupakan sumber daya sinar cahaya yang akan
dipancarkan, sedangkan kepala otoskop terdiri dari bola lampu dan lensa pembesar
berdaya rendah. Di sisi lain, kerucut otoskop adalah bagian yang akan dimasukkan ke
saluran telinga. Ukuran otoskop sangat beragam, mulai dari ukuran besar dengan
dinding menjulang dan bertenanga listrik hingga seukuran genggaman tangan dengan
dukungan baterai. Otoskop hadir dapat dilengkapi dengan lensa monokular dan atau
binokular.

e. Apa tujuan dan indikasi pemeriksaan otoscopy? Abim risky cahaya

Otoskopi adalah prosedur diagnostik untuk memeriksa struktur dalam telinga


menggunakan alat khusus bernama otoskop atau auriskop. Tujuan utamanya adalah
mendiagnosis abnormalitas atau kondisi yang menyerang telinga, khususnya pada
telinga tengah, karena strukturnyayang bertanggung jawab atas pendengaran dan
keseimbangan. Kondisi atau penyakit yang dapat terdiagnosis melalui prosedur ini,
antara lain:

 Eksim telinga – Kondisi yang ditandai dengan rasa gatal menetap di dalam telinga dan
peradangan di dalam telinga. Saluran telinga akan tampak kering dengan dinding yang
berkerak.
 Otitis media atau infeksi telinga – Kondisi yang ditandai dengan peradangan telinga
dalam karena infeksi bakteri. Saluran telinga membengkak, sehingga menimbulkan
nyeri menetap dan membuat kemampuan mendengar menurun. Kondisi ini pun sering
kali menyebabkan pelepasan cairan yang berupa campuran nanah dan darah.
 Kondisi yang menyerang gendang telinga atau membran timpanik, seperti
timpanosklerosis dan perforasi – Kondisi dapat terdiagnosis oleh melalui versi otoskopi
yang telah dimodifikasi. Adalah oOtoskopi pneumatik yang dilakukan dengan
memberikan tekanan untuk menentukan bagaimana membran timpanik bergerak.
Gendang telinga yang tidak bergerak menandakan adanya efusi di telinga tengah.
Prosedur ini juga dapat dilakukan untuk menggambarkan dan membersihkan kotoran
telinga atau serumen. Beberapa jenis otoskop memungkinkan penggantian lensa
dengan perangkat khusus yang dapat digunakan tidak hanya untuk membersihkan
kotoran telinga, namun benda asing yang terjebak di saluran telinga.
f. Apa interpretasi pemeriksaan anterior rhinoscopy? Risky cahaya catra

g. Bagaimana mekanisme abnormalitas dari pemeriksaan Hb? Ian abim rizky


Hb normal
h. Bagaimana mekanisme abnormalitas dari pemeriksaan WBC? Abim risky cahaya
Pirogen endogen akan memediasi sejumlah respon lain. Misalnya, interleukin-1 yang
tugasnya adalah mediator inflamasi yang menghasilkan tanda-tanda lain
inflamasi,salah satunya adalah leukositosis.
i. Bagaimana mekanisme abnormalitas dari pemeriksaan CRP? Risky cahaya catra
C-reactive protein (CRP) adalah serum marker inflamasi sistemik, terutama pada
infeksi bakteri. Kemungkinan pasien dalam kasus ini mengalami infeksi bakteri,
maka CRP meningkat.