Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indikator asam basa merupakan zat warna yang perubahan warnanya

tampak jelas dalam rentang pH yang sempit. Kebanyakan dari laboratorium

memakai indikator buatan atau bahan sintetis. Indikator yang sering digunakan dalam

titrasi asam basa adalah indikator phenolptalin dan indikator metil merah. Indikator

sintetis tersebut sangat dibutuhkan ditingkat sekolah lanjutan sampai dengan

perguruan tinggi (Gusrtriani, dkk., 2016).

Setiap indikator sintesis memiliki karakteristik berupa trayek pH yang

ditunjukkan oleh perubahan warna pada kondisi asam dan basa serta harga tetapan

indikator. Keberadaan indikator sintesis yang terbatas menyebabkan pemakaiannya

dibatasi (Rahmawati, 2016). Indikator sintetis yang digunakan selama ini mempunyai

beberapa kelemahan seperti polusi kimia, ketersediaan dan biaya produksi mahal

(Nuryanti, dkk., 2010).

Pewarna alami dapat digunakan sebagai indikator karena dapat berubah

warna pada suasana asam dan basa walaupun kadang-kadang perubahan warna

tersebut kurang jelas atau hampir mirip untuk perubahan pH tertentu. Hal tersebut

terjadi karena perubahan warna dipengaruhi oleh kestabilan antosianin. Faktor-faktor

yang mempengaruhi kestabilan antosianin adalah kondisi pH, cahaya, suhu dan

kondisi pelarut saat ekstraksi.

Berdasarkan uraian diatas, percobaan tentang kesetimbangan asam basa

dilakukan agar praktikan dapat mengetahui cara menentukan pH, suhu dan derajat

ionisasi suatu larutan serta menentukan pengaruh pengenceran tehadap pH,

kesetimbangan ionisasi dan derajat ionisasi larutan asam lemah.


1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah pada percobaan kali ini yaitu:

1. bagaimana pengaruh pengenceran terhadap pH ?

2. bagaimana menentukan derajat ionisasi ?

1.3 Maksud dan Tujuan

1.3.1 Maksud Percobaan

Praktikan diharapkan dapat memahami cara menentukan pH larutan asam

lemah dengan menggunakan kertas pH universal, dan pH meter, menentukan

pengaruh pengenceran terhadap pH dan tetapan kesetimbangan ionisasi, serta derajat

ionisasi larutan asam lemah, hingga menentukan derajat ionisasi asam lemah

berdasarkan nilai pH.

1.3.2 Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut :

1. menentukan pH larutan asam lemah dengan menggunakan kertas pH universal,

dan pH meter.

2. menentukan pengaruh pengenceran terhadap pH, dan tetapan kesetimbangan

ionisasi, serta derajat ionisasi larutan asam lemah.

3. menetukan derajat ionisasi asam lemah berdasarkan nilai pH.

1.4 Prinsip Percobaan

Pada percobaan ini asam formiat (HCOOH) dan asam asetat (CH3COOH)

diencerkan dengan pengenceran tertentu, yakni dengan konsentrasi 0,1 M ke

konsentrasi 0,01 M,0,001 M, 0,0001 M, 0,00001 M lalu mengukur pH-nya

menggunakan kertas pH universal dan pH meter. Setelah itu bandingkan pengaruh

pengenceran terhadap perubahan pH, tetapan kesetimbangan asam lemah dan derajat

ionisasinya.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Asam Basa Arrhenius

Di tahun 1884, Arrhenius mendefinisikan asam adalah zat yang menghasilkan

H+ dan basa adalah zat yang menghasilkan OH-. Bila asam adalah HA dan basa

BOH, maka HA →H+ + A- dan BOH → B+ + OH-. Bila asam dan basa bereaksi akan

dihasilkan air (Saito, 1996).

2.2. Asam Basa Bronsted-Lowry

Dalam teori baru yang diusulkan tahun 1923 secara independen oleh

Bronsted dan Lowry, asam didefinisikan sebagai molekul atau ion yang

menghasilkan H+ dan molekul atau ion yang menerima H+ merupakan partner asam

yakni basa. Basa tidak hanya molekul atau ion yang menghasilkan OH-, tetapi yang

menerima H+. Karena asam HA menghasilkan H+ ke air dalam larutan dalam air dan

menghasilkan ion oksonium, H3O+, air juga merupakan basa menurut definisi ini

(Saito, 1996).

HA(asam) + H2O(basa) → H3O+(asam konjugat) + A- (basa konjugat) (2.1)

Di sini H3O+ disebut asam konjugat dan A- adalah basa konjugat. Namun,

karena air juga memberikan H+ ke amonia dan menghasilkan NH4+ , air juga

merupakan asam, seperti diperlihatkan persamaan berikut (Saito, 1996):

H2O(asam) + NH3 (basa) → NH4+ (asam konjugat) + OH- (basa konjugat) (2.2)

Jadi air dapat berupa asam atau basa bergantung ko-reaktannya. Walaupun

definisi Bronsted Lowry tidak terlalu berbeda dengan definisi Arrhenius, definisi ini

lebih luas manfaatnya karena dapat digunakan ke sistem asam-basa dalam pelarut

non-air (Saito, 1996).


Penjelasan tentang asam basa Arrhenius tidak memuaskan untuk

menjelaskan tentang sifat asam basa pada larutan yang bebas air atau tidak

mengandung air. Sebagai contoh, asam asetat akan bersifat asam jika dilarutkan

dalam air, tetapi ternyata sifat asam tersebut tidak tampak pada saat asam asetat

dilarutkan dalam benzena. Demikian juga dengan larutan amonia (NH3) dalam

natrium amida (NaNH2) yang menunjukan sifat basa meskipun tidak mengandung

ion OH–. Berdasarkan kenyataan tersebut, Johannes Bronsted dan Thomas Lowry

secara terpisah mengusulkan bahwa yang berperan dalam memberikan sifat asam dan

basa suatu larutan adalah ion H+ atau proton (ingat bahwa hidrogen hanya

mempunyai sebuah elektron dan sebuah proton, jika elektronnya dilepaskan menjadi

ion +1, yang tertinggal hanya proton saja) (Kilo, 2018).

Menurut teori asam basa Bronsted Lowry, asam adalah spesi (ion atau

molekul) yang berperan sebagai donor proton (pemberi proton atau H+) kepada suatu

spesi yang lain. Basa adalah spesi (molekul atau ion) yang bertindak menjadi

akseptor proton (penerima proton atau H+). Atau bisa juga dikatakan bahwa menurut

teori asam basa Bronsted Lowry, jika suatu asam memberi proton (H+), maka sisa

asam tersebut mempunyai kemampuan menerima proton atau bertindak sebagai basa.

Sisa asam tersebut dinamakan basa konjugasi dari asam semula. Demikian pula, jika

suatu basa menerima proton (H+), maka basa yang terbentuk mempunyai

kemampuan untuk melepas proton tersebut atau bertindak sebagai asam konjugasi

dari basa semula (Kilo, 2018).

2.3 Asam Basa Lewis

Konsep asam-basa menurut Bronsted Lowry mempunyai keterbatasan,

terutama di dalam menjelaskan reaksi-reaksi yang melibatkan senyawa tanpa proton


(H+), misalnya reaksi antara senyawa NH3 dan BF3, serta beberapa reaksi yang

melibatkan senyawa kompleks (Kilo, 2018).

Pada tahun 1932, ahli kimia G.N. Lewis mengajukan konsep baru mengenai

asam – basa, sehingga dikenal adanya asam Lewis dan basa Lewis. Menurut teori

asam basa Lewis tersebut, yang dimaksud dengan asam Lewis adalah suatu senyawa

yang mampu menerima pasangan elektron dari senyawa lain, atau akseptor pasangan

elektron, sedangkan basa Lewis adalah senyawa yang dapat memberikan pasangan

elektron kepada senyawa lain atau donor pasangan elektron. Teori asam basa Lewis

ini lebih memperluas konsep asam – basa yang teladikembangkan oleh Brosted

Lowry. Contoh (Kilo, 2018):

H+ + NH3 NH4+ (2.3)

Gambar 2.1 Asam Basa Lewis dari NH3

Konsep asam–basa yang dikembangkan oleh Lewis didasarkan pada ikatan

kovalen koordinasi. kovalen koordinasi adalah ikatan kimia yang terbentuk dari

pemakaian elektron bersama yang digunakan elektron tersebut berasal dari salah satu

atom atau molekul yang berikatan. Atom atau spesi yang yang memberikan

pasangan elektron di dalam membentuk ikatan kovalen koordinasi akan bertindak

sebagai basa, sedangkan atom, molekul atau spesi yang menerima pasangan elektron

disebut sebagai asam. Dengan konsep ini dapat dijelaskan terjadinya reaksi asam

basa yang terjadi pada ion logam dengan suatu molekul atau ion (Kilo, 2018).
2.4 Asam Basa Lux dan Flood

Konsep asam basa Lux dan Flood sangat berguna dalam pengolahan sistem

anhidrat pada suhu tinggi seperti keramik dan metalurgi. Menurut Lux dan Flood,

asam adalah pendonor ion oksida dan basa adalah akseptor ion oksida.

2.5 Asam Basa Keras Lunak (HSBA)

Konsep Hard Soft Acid Base (HSAB) biasa dikenal sebagai asam basa

Pearson. HSAB merupakan teori yang menjelaskan tentang keras lunaknya suatu

asam dan basa. HSAB digunakan dalam ilmu kimia untuk menjelaskan kesetabilan

senyawa dan mekanisme. Teory ini digunakan dalam konteks kuantitatif untuk

mengetahui faktor utama terjadinya reaksi kimia, terutama pada logam transisi

(Kilo, 2018).

Pearson mengusulkan bahwa asam basa Lewis dapat diklasifikasikan sebagai

asam basa lunak (soft) atau keras (hard). Asam basa lunak adalah asam basa yang

elektron-elektron valensinya mudah terpolarisasi atau terlepaskan, sedangkan asam

basa keras adalah asam basa yang elektron valensinya sukar terpolarisasi. Dengan

kata lain asam basa lunak mempunyai sifat terpolarisasi tinggi dan asam basa keras

mempunyai sifat terpolarisasi rendah. Ligan-ligan dengan atom yang sangat

elektronegatif dan berukuran kecil merupakan basa keras, sedangkan ligan-ligan

dengan atom yang elektron terluarnya mudah terpolarisasi akibat pengaruh ion dari

luar merupakan basa lemah. Ion-ion logam yang berukuran kecil namun bermuatan

positif besar, elektron terluarnya tidak mudah dipengaruhi oleh ion dari luar sebagai

asam keras, sedangkan ion-ion logam yang berukuran kecil namun bermuatan positif

besar, elektron terluarnya tidak mudah dipengaruhi oleh ion dari luar adalah sebagai

asam keras. Sedangkan ion-ion logam yang bermuatan besar dan bermuatan kecil
atau nol, elektron terluarnya mudah dipengaruhi oleh ion lain, dikelompokkan

kedalam asam lemah (Kilo, 2018).

Syarat-syarat asam-basa keras adalah jejari atom kecil, blangan oksidasi

tinggi, polaritasnya rendah, elektronegatifitasnya tinggi. Sebaliknya syarat asam basa

lunak adalah jejari atom besar, biloks rendah, polaritas rendah, elektronegativitas

rendah. Tori HSAB menggolongkan asam dan basa dalam tiga kategori masing-

masing asam keras, sedang, asam lunak dan basa keras, sedang basa lunak yang

merupakan pengembangan dari teori asam basa Lewis (Kilo, 2018).

2.6 Indikator Asam basa

Indikator asam basa adalah asam atau basa organik yang mempunyai satu

warna jika konsentrasi hidrogen lebih tinggi dari pada suatu harga tertentu dan suatu

warna lain jika konsentrasi itu lebih rendah. Indikator asam basa dapat berubah

warna apabila pH lingkungan berubah. Apabila dalam suatu titrasi asam maupun

basa merupakan elektrolit kuat, larutan pada titik ekuivalen akan mempunyai pH = 7.

Apabila asam ataupun basa merupakan elektrolit lemah, garam yang terjadi akan

mengalami hidrolisis pada titik ekivalen larutan akan mempunyai pH>7. Harga pH

yang tepat dapat dihitung dari tetapan ionisasi dari asam atau basa lemah tersebut dan

dari konsentrasi larutan yang diperoleh (Sundari, 2016).

2.6 Titrasi Asam Basa

Titrasi adalah suatu proses atau prosedur dalam analisis volumetric di mana

suatu titran atau larutan standar (yang telah diketahui konsentrasinya) diteteskan

melalui buret ke larutan lain yang dapat bereaksi dengannya (belum diketahui

konsentrasinya) hingga tercapai titik ekuivalen atau titik akhir. Artinya, zat yang

ditambahkan tepat bereaksi dengan zat yang ditambahi. Zat yang akan ditentukan
kadarnya disebut sebagai “titrant” dan biasanya diletakan di dalam Erlenmeyer,

sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya disebut sebagai “titer” dan

biasanya diletakkan di dalam “buret”. Baik titer maupun titrant biasanya berupa

larutan (Ika, 2009).

Berikut ini adalah syarat-syarat yang diperlukan agar proses titrasi berhasil

(Ika, 2009):

1. Konsentrasi titran (NaOH) harus diketahui. Larutan seperti ini disebut larutan

standar.

2. Titik ekuivalen harus diketahui. Indikator yang memberikan perubahan warna,

atau sangat dekat dengan titik ekuivalen yang sering digunakan. Salah satunya

dengan mengetahui perubahan warna larutan pada saat proses titrasi berlangsung.

Titik pada saat indikator berubah warna disebut titik akhir.

3. Volume titran yang dibutuhkan untuk mencapai titik ekuivalen harus diketahui

setepat mungkin.

Proses titrasi asam basa sering dipantau dengan penggambaran pH larutan

yang dianalisis sebagai fungsi jumlah titran yang ditambahkan. Gambar yang

diperoleh tersebut disebut kurva pH, atau kurva titrasi yang di dalamnya terdapat

titik ekuivalen, yaitu titik dimana titrasi dihentikan (Ika, 2009).

2.7 Prinsip Titrasi Asam Basa

Titrasi asam basa akan menjadi setimbang (pH 7) apabila jumlah asam

setara dengan jumlah basa. Kesetimbangan asam basa adalah salah satu dari

ketentuan yang terjadi pada hukum alam yang mendasari penciptaan dan

keteraturan makromos (Ika, 2009).

Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun

titrant. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam
ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Titrant ditambahkan

titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen (artinya secara

stoikiometri titrant dan titer tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut sebagai “titik

ekuivalen” (Ika, 2009).

Pada saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita

mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan

menggunakan data volume titrant, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa

menghitung kadar titrant (Ika, 2009).

Prinsip utama dari pH dalam larutan asam basa adalah yang untuk

menentukan konsentrasi dalam beebagai larutan atau campuran. Larutan asam

terbagi menjadi dua yaitu asam kuat dan asam lemah. Larutan asam kuat terionisasi

sempurna sehingga harga α-nya = 1. Sedangkan, larutan asam lemah mempunyai

daya hantar listrik yang lemah karena jumlah ion-ionnya relatif sedikit

(Zumdahl dan Zumdahl, 2014).


BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaan

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah larutan asam formiat

0,1 M, larutan asam cuka 0,1 M, akuades (air suling), dan kertas pH universal.

3.2 Alat Percobaan

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah pipet volume 10 mL 2 buah,

pipet skala, pipet tetes, tabung reaksi, plat tetes, labu takar 50 mL, dan termometer.

3.3. Prosedur Percobaan

3.3.1 Prosedur Percobaan Larutan Asam Formiat

Masukkan 50 mL asam formiat dengan konsentrasi 0,1 M ke dalam labu ukur

50 mL, lalu dihimpitkan sampai tanda batas dengan menggunakan akuades kemudian

dihomogenkan sehingga diperoleh larutan asam formiat 0,01 M, 5 mL larutan ini

diencerkan ke konsentrasi 0,001 M. Pengenceran yang sama dilakukan untuk larutan

0,001 M hingga diperoleh 0,0001 M. Kemudian dilakukan kembali pengenceran

untuk larutan 0,0001 M hingga konsentrasinya menjadi 0,00001 M. Pada masing-

masing konsetrasi pH larutan diukur dengan menggunakan pH universal dengan

ditetesi pada plat tetes dengan menggunakan indikator methyl orange dan brom

cresol green yang sesuai dengan trayek pH pada hasil pembacaan kertas pH

universal, kemudian perubahan warna di catat pada tabel pengamatan.

3.3.2 Prosedur Percobaan Larutan Asam Cuka

Masukkan 50 mL asam cuka dengan konsentrasi 0,1 M ke dalam labu ukur

50 mL, lalu dihimpitkan sampai tanda batas dengan menggunakan akuades kemudian
dihomogenkan sehingga diperoleh larutan asam asetat 0,01 M, 5 mL larutan ini

diencerkan ke konsentrasi 0,001 M. Pengenceran yang sama dilakukan untuk larutan

0,001 M hingga diperoleh 0,0001 M. Kemudian dilakukan kembali pengenceran

untuk larutan 0,0001 M hingga konsentrasinya menjadi 0,00001 M. Pada masing-

masing konsetrasi pH larutan diukur dengan menggunakan pH universal dengan

ditetesi pada plat tetes dengan menggunakan indikator methyl orange dan brom

cresol green yang sesuai dengn trayek pH pada hasil pembacaan kertas pH universal,

kemudian perubahan warna dicatat pada tabel pengamatan.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengaruh Pengenceran terhadap Konsentrasi

Tabel 1. Pengenceran Asam Formiat

pH larutan sebelum pH larutan setelah


Percobaan
pengenceran pengenceran

A 2 2

B 2 3

C 3 4

D 4 5

E 5 6

Tabel 2. Pengenceran Asam Asetat

Percobaan pH larutan sebelum pH larutan setelah

pengenceran pengenceran

A 3 3

B 3 4

C 4 4

D 4 5

E 5 5
Berdasarkan pengamatan pengaruh pengenceran terhadap konsentrasi, dapat

diketahui bahwa semakin encer suatu larutan maka konsentrasi larutan tersebut akan

semakin kecil dan semakin pekat suatu larutan maka konsentrasi larutan tersebut

akan semakin besar.

4.2 Pengaruh Konsentrasi terhadap pH

Tabel 3. pH Larutan Asam Formiat

Percobaan Konsentrasi (M) pH Larutan

A 0,1 2

B 0,01 3

C 0,001 4

D 0,0001 5

E 0,00001 6

Tabel 4. pH larutan Asam Asetat

Percobaan Konsentrasi (M) pH larutan

A 0,1 3

B 0,01 4

C 0,001 4

D 0,0001 5

E 0,00001 5

Berdasarkan pengamatan pengaruh konsentrasi terhadap pH, dapat diketahui

bahwa semakin tinggi konsentrasi larutan maka pH larutan tersebut akan semakin

tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi larutan berbanding lurus dengan

tingkat kenaikan pH.


4.3 Pengaruh Konsentrasi terhadap Ka

Tabel 5. Kesetimbangan Asam Formiat


Percobaan Kosentrasi (M) Kesetimbangan

A 0,01 10-4

B 0,001 10-5

C 0,0001 10-6

D 0,00001 10-7

E 0,000001 10-8

Tabel 6. Kesetimbangan Asam Asetat


Percobaan Kosentrasi (M) Kesetimbangan

A 0,01 10-6

B 0,001 10-7

C 0,0001 10-8

D 0,00001 10-9

E 0,000001 10-9

Berdasarkan pengamatan pengaruh konsentrasi terhadap kesetimbangan


asam, dapat diketahui bahwa semakin tinggi konsentrasi larutan maka nilai
kesetimbangan asam larutan tersebut akan semakin tinggi. Hal ini menunjukkan
bahwa konsentrasi larutan berbanding lurus dengan tingkat kenaikan kesetimbangan
asamnya .

4.4 Pengaruh Konsentrasi terhadap Derajat Ionisasi

Tabel 7. Derajat Ionisasi Asam Formiat


α (derajat ionisasi dalam
Percobaan Kosentrasi (M)
%)
A 0,01 1

B 0,001 1

C 0,0001 1
D 0,00001 1

E 0,000001 1

Tabel 8. Derajat Ionisasi Asam Asetat


α (derajat ionisasi dalam
Percobaan Kosentrasi (M)
%)
A 0,01 1

B 0,001 1

C 0,0001 1

D 0,00001 1

E 0,000001 1

Berdasarkan pengamatan tersebut, derajat ionisasi suatu asam lemah dapat


ditentukan berdasarkan nilai pH. Nilai a dari larutan asam formiat yaitu 1% begitu
juga dengan asam asetat.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:

1. menentukan pH larutan asam lemah dapat dilakukan dengan menggunakan kertas

pH universal.

2. semakin rendah konsentrasi suatu larutan asam lemah, maka nilai pH akan

semakin tinggi.

3. semakin banyak pengenceran yang dilakukan, maka semakin rendah harga

konsentrasi suatu larutan asam lemah, semakin tinggi pula pH larutan.

5.2 Saran

5.2.1 Saran untuk Laboratorium

Sebaiknya laboratorium dapat menyediakan alat yang lebih lengkap dalam

proses praktikum. Agar praktikan dapat lebih mudah melakukan praktikum dan

proses pengambilan data dapat lebih efektif.

5.2.2 Saran untuk Praktikum

Sebaiknya dalam melakukan praktikum kebersihan harus senantiasa

diperhatikan. Kebersihan dalam praktikum harus dijaga agar proses percobaan

berjalan lebih efektif dan untuk kenyamanan praktikan di dalam laboratorium.


DAFTAR PUSTAKA

Gustriani, N., Novitriani, K., dan Mardiana, U., 2016, Penentuan Trayek Ph Ekstrak
Kubis Ungu (Brassica Oleracea L) sebagai Indikator Asam Basa dengan
Variasi Konsentrasi Pelarut Etanol, Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada,
16(1): 94-100.

Ika, D., 2009, Alat Otomatisasi Pengukur Kadar Vitamin C Dengan Metode Titrasi
Asam Basa, Jurnal Neutrino, 1(2): 163-178.

Kilo, A.L., 2018, Kimia Anorganik Struktur dan Kereaktifan, UNG Press, Gorontalo.

Nurhayati, S., Matsjeh, S., Anwar, C., dan Raharjo, T.J., 2010, Indikator Titrasi
Asam-Basa dari Ekstrak Bunga Sepatu (Hibiscus Rosa Sinensis L), Agritech,
309(3): 178-183.
Rahmawati, Nuryanti, S., dan Ratman, 2016, Indikator Asam-Basa dari Bunga
Dadap Merah (Erythrina crista-galli L.), J. Akademia Kim., 5(1): 29-36.

Saito, T., 1996, Kimia Anorganik, diterjemahkan oleh Ismunadar, Iwanami Shoten,
Tokyo.
Sundari, R., 2016, Pemanfaatan dan Efisiensi Kurkumin Kunyit (Curcuma
domestica val) sebagai Indikator Titrasi Asam Basa, Teknoin, 22(8): 595-601.
Zumdahl, S.S. dan Zumdahl, A.S., 2014, Chemistry Ninth Edition, Boston, USA.
Lampiran 1. Bagan Kerja

a) Asam Formiat 0,1 M

- Diambil 5mL larutan asam formiat 0,1 M

- Dimasukkan kedalam labu takar 50 mL

- Ditambahkan aquades sampai batas tanda dan dihomogenkan

- Dimasukkan kedalam gelas kimia

- Diukur suhu dan pH

- Ditetesi larutan petunjuk sesuai pengukuran

-Hasil
b) Asam Formiat sisa Percobaan a

- Diambil 5mL larutan asam formiat sisa percobaan a

- Dimasukkan kedalam labu takar 50 mL

- Ditambahkan aquades sampai batas tanda dan dihomogenkan

- Dimasukkan kedalam gelas kimia

- Diukur suhu dan pH

- Ditetesi larutan petunjuk sesuai pengukuran

-Hasil
c) Asam Formiat sisa Percobaan b

- Diambil 5mL larutan asam formiat sisa percobaan b

- Dimasukkan kedalam labu takar 50 mL

- Ditambahkan aquades sampai batas tanda dan dihomogenkan

- Dimasukkan kedalam gelas kimia

- Diukur suhu dan pH

- Ditetesi larutan petunjuk sesuai pengukuran


Hasil
d) Asam Formiat sisa Percobaan c

- Diambil 5mL larutan asam formiat sisa percobaan c

- Dimasukkan kedalam labu takar 50 mL

- Ditambahkan aquades sampai batas tanda dan dihomogenkan

- Dimasukkan kedalam gelas kimia

- Diukur suhu dan pH

- Ditetesi larutan petunjuk sesuai pengukuran

-Hasil
e) Asam Formiat sisa Percobaan d

- Diambil 5mL larutan asam formiat sisa percobaan d

- Dimasukkan kedalam labu takar 50 mL

- Ditambahkan aquades sampai batas tanda dan dihomogenkan

- Dimasukkan kedalam gelas kimia

- Diukur suhu dan pH

- Ditetesi larutan petunjuk sesuai pengukuran

-Hasil

Cat: Diulangi percobaan a,b,c,d, dan e dengan mengganti asam formiat dengan
asam asetat.
Lampiran 2. Perhitungan

Lampiran 2. Perhitungan

Perhitungan Asam Formiat (HCOOH)

Pengenceran

Sebelum Pengenceran : 0,1 M

Pengenceran I :

V1 x M2 = V2 x M2

5 mL x 0,1 M = 50 mL x M2

5 mL x 0,1 M
= M2
50 mL

0,5 M
M2 =
50

M2 = 0,01 M

Pegenceran II :

V1 x M1 = V2 x M2

5 mL x 0,01 M = 50 mL x M2

5 mL x 0,01 M
= M2
50 mL

0,05 M
M2 =
50

M2 = 0,001 M

Pengenceran III :

V1 x M1 = V2 x M2

5 mL x 0,001 M = 50 mL x M2

5 mL x 0,001 M
= M2
50 mL
0,005 M
M2 =
50

M2 = 0,0001 M

Pengenceran IV :

V1 x M1 = V2 x M2

5 mL x 0,0001 M = 50 mL x M2

5 mL x 0,0001 M
= M2
50 mL

0,0005 M
M2 =
50

M2 = 0,00001 M

Menghitung pH

Berdasarkan pH universal, maka didapatkan :

1. Pengenceran I : pH 3

2. Pengenceran II : pH 4

3. Pengenceran III : pH 5

4. Pengenceran IV : pH 6

5. Pengenceran V : pH 7

Menghitung Ka (keseimbangan asam)

Pengenceran I :

[10-pH]2
Ka =
[M]

[10-3]2
Ka =
[10-2]
10-6
Ka =
10-2
Ka = 10-4

Pengenceran II :

[10-pH]2
Ka =
[M]

[10-4]2
Ka =
[10-3]

10-8
Ka =
10-3

Ka = 10-5

Pengenceran III :

[10-pH]2
Ka =
[M]

[10-5]2
Ka =
[10-4]

10-10
Ka =
10-4
Ka = 10-6

Pengenceran IV :

[10-pH]2
Ka =
[M]

[10-6]2
Ka =
[10-5]
10-12
Ka =
10-5
Ka = 10-7

Pengenceran V :

[10-pH]2
Ka =
[M]

[10-7]2
Ka =
[10-6]

10-14
Ka =
10-6

Ka = 10-8

Perhitungan Asam Asetat (CH3COOH)

Pengenceran

Sebelum Pengenceran : 0,1 M

Pengenceran I :

V1 x M2 = V2 x M2

5 mL x 0,1 M = 50 mL x M2

5 mL x 0,1 M
= M2
50 mL

0,5 M
M2 =
50

M2 = 0,01 M

Pegenceran II :

V1 x M1 = V2 x M2

5 mL x 0,01 M = 50 mL x M2
5 mL x 0,01 M
= M2
50 mL

0,05 M
M2 =
50

M2 = 0,001 M

Pengenceran III :

V1 x M1 = V2 x M2

5 mL x 0,001 M = 50 mL x M2

5 mL x 0,001 M
= M2
50 mL

0,005 M
M2 =
50

M2 = 0,0001 M

Pengenceran IV :

V1 x M1 = V2 x M2

5 mL x 0,0001 M = 50 mL x M2

5 mL x 0,0001 M
= M2
50 mL

0,0005 M
M2 =
50

M2 = 0,00001 M

Menghitung pH

Berdasarkan pH universal, maka didapatkan :

1. Pengenceran I : pH 4

2. Pengenceran II : pH 5

3. Pengenceran III : pH 6

4. Pengenceran IV : pH 7

5. Pengenceran V : pH 7
Menghitung Ka (keseimbangan asam)

Pengenceran I :

[10-pH]2
Ka =
[M]

[10-4]2
Ka =
[10-2]

10-8
Ka =
10-2

Ka = 10-6

Pengenceran II :

[10-pH]2
Ka =
[M]

[10-5]2
Ka =
[10-3]

10-10
Ka =
10-3

Ka = 10-7

Pengenceran III :

[10-pH]2
Ka =
[M]

[10-6]2
Ka =
[10-4]

10-12
Ka =
10-4

Ka = 10-8
Pengenceran IV :

[10-pH]2
Ka =
[M]

[10-7]2
Ka =
[10-5]

10-14
Ka =
10-5

Ka = 10-9

Pengenceran V :

[10-pH]2
Ka =
[M]

[10-7]2
Ka =
[10-5]

10-14
Ka =
10-5

Ka = 10-9