Anda di halaman 1dari 39

WALK THROUGH SURVEY

PT. PRIMISSIMA (PERSERO) YOGYAKARTA


TANGGAL 31 OKTOBER 2018

KELOMPOK 2
KESEHATAN DAN ERGONOMI

Disusun oleh :

dr. Abdillah Kristriyoga dr. Gorby Arvin Lillo


dr. Achwido Arjundananto Wiyasa dr. Grace Deborah Br Sirait
dr. Adella Fiona Aminta dr. Indah Triswanti
dr. Amanda Besta Rizaldy dr. Mahdea Kasyiva
dr. Andaru Trisetyo WIbowo dr. Muhammad Dimas Reza R.
dr. Dian Puspita Iswahyuni dr. Mutia Sukma Dewi
dr. Ferty Saulina Silaen dr. Olin Olina
dr. Firda Amalia dr. Riandy Nopridio
dr. Gibrael Jireh dr. Rika Indriani Br Karo Karo
dr. Safira Nur Askarina dr. Siti Srimulyati
dr. Tedja Prakoso dr. Tessa Fafia Utami
dr. Warenda Wisnu A.R. dr. Yusnia Irchami Fahmi
dr. Zulfa Nabila

PELATIHAN HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA


KEMENTERIAN TENAGA KERJA RI
PERIODE 31 OKTOBER 2018
YOGYAKARTA

1
DAFTAR ISI

Cover ....................................................................................................... 1

Daftar Isi .................................................................................................. 2

BAB 1. PENDAHULUAN .......................................................................... 4


1. 1. Latar Belakang Masalah............................................................. 4
1. 2. Dasar Hukum............................................................................. 5
1. 3. Profil Perusahaan....................................................................... 6
1. 4. Alur Produksi.............................................................................. 9
1. 5. Landasan Teori.......................................................................... 11

BAB 2. PELAKSANAAN .......................................................................... 22


2. 1. Tanggal dan Waktu Pengamatan............................................... 22
2. 2. Lokasi Pengamatan.................................................................... 22
2. 3. Dokumen Pengamatan............................................................... 23

BAB 3. HASIL PENGAMATAN ................................................................ 26


3. 1. Fasilitas Pelayanan Kesehatan ................................................. 26
3. 2. Program Kesehatan .................................................................. 26
3. 3. Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba ........................................ 26
3. 4. Pemeriksaan Kesehatan ........................................................... 27
3. 5. Kesesuaian Pekerja dengan Alat .............................................. 27
3. 6. Program Pemenuhan Gizi Pekerja ............................................ 29
3. 7. 10 Besar Penyakit pada Pelayanan Kesehatan ........................ 29
3. 8. Penyakit Akibat Kerja ................................................................ 30
3. 9. Sarana P3K ............................................................................... 30
3. 10. Personil Kesehatan ................................................................... 30

BAB 4. PEMECAHAN MASALAH ............................................................ 31

2
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN............................................................. 35

BAB 6. PENUTUP..................................................................................... ... 39

3
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Kesehatan Kerja (KK) merupakan spesialisasi dalam ilmu
kesehatan/kedokteran berserta praktiknya yang bertujuan agar
tenaga kerja memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya,
baik fisik, mental, maupun sosial dengan cara promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif terhadap penyakit yang diakibatkan faktor-
faktor pekerjaan dan lingkungan kerja serta terhadap penyakit umum
untuk menuju peningkatan produktivitas sebagaimana telah
diamanatkan dalam UU no. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
Kecelakaan kerja tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga
menimbulkan kerugian bagi pekerja dan pengusaha, mengganggu
proses produksi perusahaan, dan merusak lingkungan yang akhirnya
berpengaruh terhadap masyarakat luas.
Oleh karena itu, upaya yang untuk mencegah terjadinya
kecelakaan kerja (KK) dan penyakit akibat kerja (PAK) harus
dilakukan secara maksimal. Apabila analisis dilakukan secara
mendalam, maka kecelakaan kerja (seperti peledakan, kebakaran)
dan penyakit akibat kerja umum yang disebabkan oleh
ketidakpedulian akan sistem manajemen K3 (SMK3) dengan baik dan
benar dapat di kurangi resikonya.
Ergonomi merupakan salah satu hazard yang dapat berpotensi
menimbulkan penyakit akibat kerja (PAK). Ergonomi adalah ilmu yang
penerapannya berusaha menyerasikan pekerjaan dan lingkungan
terhadap orang atau sebaliknya, dengan tujuan tercapainya
produktivitas dan efisiensi yang setinggi-tingginya melalui
pemanfaatan faktor manusia seoptimal-optimalnya.

4
Laporan kunjungan perusahaan di PT Primissima ini dibuat
sebagai salah satu syarat tugas pelatihan HIPERKES periode 29
Oktober – 02 November 2018 untuk mempelajari K3 khususnya
aspek kesehatan dan ergonomi.

1.2 Dasar Hukum


Dengan alasan untuk melindungi para tenaga kerja dan
pengembangan usaha demi tercapainya tidak adanya kecelakaan
dan penyakit akibat kerja maka ada beberapa landasan yang
digunakan oleh perusahaan, sebagai berikut :
1. UU No.I tahun 1970 tentang kesehatan dan keselamatan kerja.
2. UU Republik Indonesia No. 13 tahun 2003 pasal 86 dan 87
tentang ketenagakerjaan.
3. PP No. 50 tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (SMK3)
4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Koperasi
No. Per 01/MEN/1967 tentang Wajib Latihan Hiperkes Bagi Dokter
Perusahaan.
5. Permenakertrans No.01/Men/1979 tentang Kewajiban Pelatihan
Hiperkes bagi Paramedic Perusahaan.
6. Permenakertrans No. Per 13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang
Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja.
7. UU No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan.
8. UU No 3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
9. Permenakertrans No.03/Men/1982 tentang Pelayanan Kesehatan
Kerja.
10. Kepres RI No.22 tahun 1993 tentang Penyakit yang Disebabkan
oleh Pekerjaan atau Lingkungan Kerja.
11. Kepmenakertrans No.68 tahun 2004 tentang Pencegahan dan
Penanggulangan HIV/AIDS di Tempat Kerja.

5
12. Permenakertrans No.11/Men/VI/2005 tentang Pencegahan
Penyalahgunaan Narkoba, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya di
Tempat Kerja.
13. Permenakertrans No.Per 02/Men/1980 tentang Pemeriksaan
Kesehatan Tenaga Kerja dalam Penyelanggaraan Keselamatan
Kerja.
14. Permenakertrans No.Per 03/Men/1983 tentang Pelayanan
Kesehatan Kerja.
15. SE.Menakertrans No.SE.01/Men/1979 tentang Pengadaan Kantin
dan Ruang Makan.
16. SE.Dirjen binawas No.SE.86/BW/1989 0tentang Perusahaan
Catering yang Mengelola Makanan bagi Tenaga Kerja.
17. Permenakertrans No.Per 05/MEN/VIII/2008 tentang Pertolongan
Pertama pada Kecelakaan di Tempat Kerja.
1.3 Profil Perusahaan
a. Sejarah Perusahaan
PT Primissima didirikan sebagai perusahaan patungan
antara Pemerintah Republik Indonesia (RI) dengan Gabungan
Koperasi Batik Indonesia (GKBI) dalam rangka pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 9 tahun 1969 dan Peraturan
Pemerintah Nomor 12 tahun 1969.
Penyertaan pemerintah RI berupa mesin mesin
pemintalan dna pertenunan serta perlengkapannya yang
merupakan grant dari pemerintah Belanda, grant tersebut
berasal dari para oengusaha tekstil Belanda yang ditujukan
kepada GKBI untuk melestarikan produksi mori berkualitas
tinggi (Primissima Cap “Cent”) sedangkan penyertaan dari
GKBI berupa tanah, bangunan pabrik, biaya pemasangan, dan
modal kerja.
Rapat umum pemegang saham luar biasa pada tanggal
31 oktober 1996 memutuskan pengalihan seluruh kepemilikan

6
saham GKBI kepada PT GKBI investment. Kemudian rapat
umum pemegang saham luar biasa tersebut juga menetapkan
pengalihan seluruh saham prioritas menjadi saham biasa.

b. Visi dan Misi Perusahaan


Visi :
Menjadikan PT Primissima sebagai produsen tekstil halus
terkemuka di Indonesia yang produknya memiliki daya cipta
nilai tinggi dan mampu bersaing di dalam pasar global.
Misi :
Sesuai dengan pokok-pokok pembinaan BUMN:
1. Sebagai agen pembangunan yang berwawasan bisnis
yang berperan aktif dalam bidang industri tekstil dan
menyediakan bahan baku bagi industri pembatikan.
2. Sebagai unit ekonomi yang dapat memberikan
kontribusi bagi penerimaan negara serta pemegang
saham lainnya.
3. Menunjang program pemerintah dalam peningkatan
ekspor non-migas
c. Jumlah Pegawai Perusahaan
Jumlah pekerja sebanyak ± 800 orang pekerja. Jam kerja
pekerja dibagi menjadi 3 shift.
d. Sektor Usaha
PT Primissima memproduksi kain Grey, yaitu jenis kain
mori yang belum di putihkan. ada tiga tingkat kualitas kain grey,
yaitu kualitas A bila didalamnya terdapat cacat antara satu sampai
96 poin per yard. Kualitas B memiliki cacat antara 97 sampai 144
poin per yard. Kulalitas C bila didalamnya memiliki cacat lebih dari
144 poin per yard.

7
e. Jam Kerja
Pabrik :
Jam Kerja
Shift I : 06.00 - 14.00 WIB
Shift II : 14.00 - 22.00 WIB
Shift III : 22.00 - 06.00 WIB
Kantor
Jam Kerja : 07.00 - 15.00 WIB
f. Asuransi
BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.

g. Sertifikasi Perusahaan
SNI ISO 9001 : 2008
h. Kelembagaan P2K3
PT. Primissima mempunyai kelembagaan P2K3. Penanganan
pertama pada kecelakaan kerja, akan ditangani pertama kali oleh
PPGD yang berada di setiap unit bagian, yang kemudian akan
dibawa ke Rumah Sakit yang bekerja sama dengan perusahaan
yaitu RSUD Sleman
i. Personil Keselamatan Kerja
PT. Primissima membentuk kelembagaan P2K3. Dimana
anggota P2K3 juga mempunyai bagian devisi bersertifikasi yaitu
umum, kimia, kebakaran, dan listrik, yang tiap anggota
bersertifikasi diletakkan di tiap unit yang sesuai dengan unit yang
resiko tinggi guna mempersiapkan saat terjadi tanda bahaya.
j. Prasarana Kerja
PT Primissima memiliki 2 kamar mandi, 1 masjid, kantin, ruang
istirahat khusus perempuan, dan area parkir karyawan.

8
k. Alur Produksi

KAPAS SPINNING BENANG GREY

BENANG GREY
WEAVING GREY FINISHING KONSUMEN

Keterangan : FINISHING
1. Benang yang diproses terdiri dari benang
produk
sendiri dan benang dari luar.
2. Proses finishing dilaksanakan di pabrik lain. CAMBRICS

9
1.4. Alur Produksi

KAPAS

SPINNING

BENANG BENANG

WEAVING

GREY

GREY
FINISHING GREY

FINISHING KONSUMEN

CAMBRICS

Gambar 1.1 Alur Proses Produksi PT Primissima

10
1.5. Landasan Teori
1.5.1. Ergonomi
Ergonomi berasal dari bahasa Yunani, ergon yang memiliki arti
kerja dan nomos yang artinya peraturan atau hukum, sehingga dapat
diartikan sebagai peraturan tentang bagaimana melakukan kerja
termasuk sikap kerja. Menurut Badan Buruh Internasional
(International Labor Organization/ILO), ergonomic merupakan
penerapan ilmu biologi manusia sejalan dengan ilmu rekayasa untuk
mencapai penyesuaian bersama antara pekerjaan dan manusia
secara optimum agar bermanfaat demi efisiensi dan kesejahteraan.
Pada prosesnya dibutuhkan kerjasama antara lingkungan kerja (ahli
hiperkes), manusia (dokter dan paramedik), serta mesin perusahaan
(ahli tehnik) yang biasanya disebut dengan segitiga ergonomi.
Efisiensi dan kesejahteraan yang berkaitan erat dengan produktivitas
dan kepuasan kerja merupakan tujuan utama dari ergonomi. Sasaran
dari ergonomi terdiri dari seluruh tenaga kerja baik sektor formal,
informal, maupun tradisional.
Konsep pendekatan ergonomi mengacu pada total manusia,
mesin, dan lingkungan yang bertujuan agar pekerjaan dalam industri
dapat berjalan secara efisien, selamat, dan nyaman. Sehingga, hal-
hal yang perlu diperhatikan dalam penerapannya yaitu tempat kerja,
posisi kerja, dan proses kerja. Tujuan penerapan ergonomi adalah
sebagai berikut :
1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental, dengan
meniadakan beban kerja tambahan (fisik dan mental),
mencegah penyakit akibat kerja, dan meningkatkan
kepuasan kerja
2. Meningkatkan kesejahteraan sosial dengan jalan
meningkatkan kualitas kerjasama sesama pekerja,
pengorganisasian yang lebih baik dan menghidupkan
sistem kebersamaan dalam tempat kerja

11
3. Berkontribusi di dalam keseimbangan rasional antara
aspek-aspek teknik, ekonomi, antropologi, dan budaya
dari sistem manusia-mesin untuk tujuan meningkatkan
efisiensi sistem manusia-mesin.
Manfaat dari pelaksanaan ergonomi adalah menurunnya
angka kesakitan akibat kerja, menurunnya kecelakaan kerja, biaya
pengobatan dan kompensasi berkurang, stress akibat kerja
berkurang, produktivitas membaik, alur kerja bertambah baik, rasa
aman karena bebas dari gangguan cidera, kepuasan kerja
meningkat.
Ruang lingkup ergonomi sangat luas aspeknya, antara lain
meliputi; teknik, fisik, pengalaman psikis, anatomi (kekuatan dan
gerakan otot dan persendian), anthropometri, sosiologi, fisiologi
(berhubungan dengan temperatur tubuh, oxygen up take dan
aktivitas otot), dan disain.
1.5.2. Aplikasi Ergonomi Pada Tenaga Kerja
a. Posisi kerja
Terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana
kaki tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama
bekerja. Sedangkan posisi berdiri dimana posisi tulang belakang
vertikal dan berat badan tertumpu secara seimbang pada dua
kaki.
b. Proses kerja
Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai
dengan posisi waktu bekerja dan sesuai dengan ukuran
anthropometrinya. Harus dibedakan ukuran anthropometri
barat dan timur.
c. Tata letak tempat kerja
Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja.
Sedangkan simbol yang berlaku secara internasional lebih
banyak digunakan daripada kata-kata.

12
d. Mengangkat beban
Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni,
dengan kepala, bahu, tangan, punggung, dan lain-lain. Beban
yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera tulang punggung,
jaringan otot, dan persendian akibat gerakan yang berlebihan.

1.5.3. Faktor Resiko Kesalahan Ergonomi


Kecelakaan kerja masih sering terjadi yang disebabkan karena
pihak manajemen masih belum mempertimbangkan segi ergonomi.
Kondisi ini menimbukan cedera pada pekerja. Ada beberapa faktor
resiko yang dapat menimbulkan kesalahan ergonomi, sebagai berikut:
 Pengulangan yang banyak, yaitu menjalankan gerakan yang
sama berulang-ulang
 Beban berat, yaitu beban fisik yang berlebihan selama bekerja
 Postur yang kaku, yaitu menekuk atau memutar bagian tubuh
 Beban statis, yaitu bertahan lama pada satu postus sehingga
menyebabkan kontraksi otot
 Tekanan, yaitu tubuh tertekan pada suatu permukaan
 Getaran, yaitu menggunakan peralatan yang bergetar

1.5.4. Supervisi Tenaga Kerja


Supervisi medis pada pekerja dilakukan secara kontinyu dan
teratur. Supervisi medis yang biasanya antara lain:
a. Pemeriksaan sebelum kerja untuk menyesuaikan pekerja baru
terhadap beban kerjanya.
b. Pemeriksaan berkala untuk memastikan pekerja sesuai dengan
pekerjaannya dan mendeteksi bila ada kelainan.
c. Nasihat dan edukasi tentang higiene dan kesehatan

13
1.5.5. Kesehatan Kerja
Menurut UU Kesehatan 1992 Pasal 23, kesehatan kerja
merupakan upaya penyeserasian antara kapasitas kerja, beban
kerja, dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja
secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun
masyarakat di sekelilingnya, agar diperoleh produktivitas kerja yang
optimal. Kesehatan kerja memiliki tujuan untuk memperoleh derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik, mental dan sosial
bagi masyarakat pekerja dan masyarakat yang berada di
lingkungan perusahaan dalam bentuk upaya promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif.
Promosi kesehatan merupakan ilmu pengetahuan dan seni
yang membantu seseorang untuk mengubah gaya hidup menuju
kesehatan yang optimal, yaitu terjadinya keseimbangan kesehatan
fisik, emosi, spiritual dan intelektual yang bertujuan untuk :
 Mengembangkan perilaku kerja sehat
 Menumbuhkan lingkungan kerja sehat
 Menurunkan angka absensi sakit
 Meningkatkan produktivitas kerja
 Menurunnya biaya kesehatan
 Meningkatnya semangat kerja
Upaya preventif dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit
akibat kerja yang disebabkan oleh alat/mesin dan masyarakat yang
berada di sekitar lingkungan kerja ataupun penyakit menular
umumnya yang bisa terjangkit pada saat melakukan pekerjaan yang
diakibatkan oleh pekerja demi menunjang kesehatan optimal pekerja
agar didapat kepuasan antara pihak pekerja dan perusahaan
sehingga menimbulkan keuntungan bagi kedua belah pihak. Aplikasi
upaya preventif diantaranya pemakaian alat pelindung diri dan
pemberian gizi makanan bagi pekerja.

14
Upaya kuratif merupakan langkah pemeliharaan dan
peningkatan kesehatan bagi pekerja. Upaya penatalaksanaan
penyakit yang timbul pada saat bekerja merupakan langkah untuk
meningkatkan kepuasan pekerja dalam bekerja, sekaligus
memberi motivasi untuk pekerja supaya memiliki kesehatan yang
optimal. Penyakit yang sering timbul dalam suatu lokasi pekerjaan
dapat menjadi tolak ukur dalam mengambil langkah promosi dan
pencegahan, sehingga tujuan pemeliharaan dan peningkatan
kesehatan kerja optimal dilaksanakan.
Salah satu aspek yang harus diimplementasikan dalam
kesehatan kerja adalah adanya pemeriksaan kesehatan bagi
tenaga kerja, baik sejak awal sebelum bekerja, selama bekerja,
maupun sesudah bekerja. Tujuan dari pemeriksaan kesehatan ini
ditujukan agar selain tenaga kerja yang diterima di awal berada
dalam kondisi kesehatan setinggi-tingginya, juga untuk memantau
status kesehatan pekerja dan juga meminimalisir dan mendeteksi
dini apakah ada penyakit akibat kerja yang ditimbulkan akibat
proses produksi.
Sarana P3K di tempat kerja diatur dalam Permenakertrans
RI No. 15/MEN/VIII/2008. Dalam Permenakertrans tersebut,
dijabarkan bahwa Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan di
tempat kerja (P3K) adalah upaya memberikan pertolongan
pertama secara cepat dan tepat kepada pekerja/buruh/dan/atau
orang lain yang berada di tempat kerja, yang mengalami sakit atau
cidera di tempat kerja dimana fasilitas P3K yang dimaksud dalam
Permenakertrans ini meliputi ruang P3K, kotak P3K dan isinya
sesuai standar, alat evakuasi dan alat transportasi, fasilitas
tambahan berupa alat pelindung diri dan/atau peralatan khusus di
tempat kerja yang memiliki potensi bahaya yang bersifat khusus.
Pengusaha wajib menyediakan ruang P3K dalam hal proses
produksi mempekerjakan pekerja/buruh 100 orang atau lebih atau

15
kurang dari 100 orang dengan potensi bahaya tinggi. Ruang P3K
juga diatur standarnya, salah satunya meliputi lokasi yang harus
dekat dengan toilet/kamar mandi, jalan keluar, mudah dijangkau,
dan dekat dengan tempat parkir kendaraan, termasuk kotak P3K
yang juga harus terbuat dari bahan yang kuat dan mudah dibawa,
berwarna dasar putih dengan lambang P3K berwarna putih
dengan lambang P3K berwarna hijau dengan isi kotak sesuai
dengan Permenakertrans yang mengatur. Penempatan kotak P3K
juga harus pada tempat yang mudah dilihat dan dijangkau dengan
diberi tanda arah yang jelas dan cukup cahaya serta mudah
diangkat apabila digunakan dan disesuaikan dengan jumlah
tenaga kerja yang ada, dan dalam hal tempat kerja dengan unit
kerja berjarak 500 meter atau lebih masing-masing unit kerja harus
menyediakan kotak P3K sesuai jumlah pekerja/buruh.

1.5.6. Gizi Kerja


Gizi kerja merupakan gizi/nutrisi yang diperlukan oleh tenaga
kerja untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan jenis pekerjaan dan
beban kerja tambahan. Gizi kerja sering menjadi masalah
dikarenakan beberapa hal yaitu rendahnya kebiasaan makan pagi,
kurangnya perhatian pengusaha, kurangnya pengetahuan tenaga
kerja tentang gizi, tidak mendapat uang makan, serta jumlah, kapan
dan apa dimakan tidak diketahui, dimana efek dari gizi kerja yang
kurang adalah:
- Pekerja tidak bekerja dengan maksimal
- Pertahanan tubuh terhadap penyakit berkurang
- Kemampuan fisik pekerja yang berkurang
- Berat badan pekerja yang berkurang atau berlebihan
- Reaksi pekerja yang lamban dan apatis
- Pekerja tidak teliti
- Efisiensi dan produktivitas kerja berkurang

16
Penyakit yang bisa didapat oleh pekerja akibat jenis pekerjaan
dan gizi yang tidak sesuai antara lain obesitas, penyakit jantung
koroner, stroke, penyakit degenerative, arteriosklerotik, hipertensi,
kurang gizi dan mudah terserang infeksi akut seperti gangguan
saluran nafas. Ketersediaan makanan bergizi dan peran perusahaan
untuk memberikan informasi gizi makanan atau pelaksanaan
pemberian gizi kerja yang optimal akan meningkatkan kesehatan dan
produktivitas yang setinggi-tingginya.

1.5.7. Penyakit Akibat Kerja


Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh
pekerjaan, alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja.
Dengan demikian Penyakit Akibat Kerja merupakan penyakit yang
artifisial atau man made disease.sedangkan menurut UU Kesehatan
Tahun 1992 Pasal 23 upaya Kesehatan Kerja adalah upaya
penyerasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja
agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan
dirinya sendiri maupun masyarakat di sekelilingnya, agar diperoleh
produktivitas kerja yang optimal. WHO membedakan empat kategori
Penyakit Akibat Kerja:
- Penyakit yang hanya disebabkan oleh pekerjaan, misalnya
Pneumoconiosis
- Penyakit yang salah satu penyebabnya adalah pekerjaan,
misalnya Karsinoma Bronkhogenik.
- Penyakit dengan pekerjaan merupakan salah satu penyebab di
antara faktor-faktor penyebab lainnya, misalnya Bronkhitis
khronis.
- Penyakit dimana pekerjaan memperberat suatu kondisi yang
sudah ada sebelumnya, misalnya asma.

17
Pada simposium internasional mengenai penyakit akibat
hubungan pekerjaan yang diselenggarakan oleh ILO (International
Labour Organization) di Linz, Austria, definisi menyangkut Penyakit
Akibat Kerja adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang
spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan, yang pada
umumnya terdiri dari satu agen penyebab yang sudah diakui.
Penyakit yang Berhubungan dengan Pekerjaan adalah penyakit
yang mempunyai beberapa agen penyebab, dimana faktor
pekerjaan memegang peranan bersama dengan faktor risiko
lainnya dalam berkembangnya penyakit yang mempunyai etiologi
kompleks.
Penyebab beberapa penyakit tersebut timbul karena suatu
faktor, tergantung pada bahan yang digunakan dalam proses
kerja, lingkungan kerja ataupun cara kerja. Pada umumnya faktor
penyebab dapat dikelompokkan dalam 5 golongan :
- Fisik : suara (bising), radiasi, suhu (panas/dingin), tekanan
yang sangat tinggi, vibrasi, penerangan lampu yang
kurang baik.
- Kimiawi : bahan kimiawi yang digunakan dalam proses
kerja, maupun yang terdapat dalam lingkungan kerja,
dapat berbentuk debu, uap, gas, larutan, awan atau kabut
- Biologis : bakteri, virus atau jamur
- Fisiologis : biasanya disebabkan oleh penataan tempat
kerja dan cara kerja
- Psikososial : lingkungan kerja yang mengakibatkan stress.
Penyakit akibat kerja juga perlu dilakukan beberapa tahap
diagnose, yang sebelumnya perlu dilakukan pendekatan
sistematis untuk mendapatkan informasi yang diperlukan dan
menginterpretasinya secara tepat yaitu sebagai berikut :

1) Diagnosis klinis

18
2) Pajanan yang dialami oleh tenaga kerja selama ini,meliputi :
a. Penjelasan mengenai semua pekerjaan yang telah
dilakukan oleh penderita secara khronologis
b. Lamanya melakukan masing-masing pekerjaan
c. Bahan yang diproduksi
d. Materi (bahan baku) yang digunakan
e. Jumlah pajanannya
f. Pemakaian alat perlindungan diri
g. Pola waktu terjadinya gejala
h. Informasi mengenai tenaga kerja lain (apakah ada yang
mengalami gejala serupa)
i. Informasi tertulis yang ada mengenai bahan-bahan yang
digunakan (MSDS, label, dan sebagainya)
(3) Menentukan apakah pajanan tersebut memang dapat
menyebabkan penyakit tersebut
(4) Mentukan apakah jumlah pajanan yang dialami cukup besar
untuk dapat mengakibatkan penyakit tersebut.
(5) Menentukan faktor-faktor lain yang mungkin dapat
mempengaruhi
(6) Mencarikemungkinan lain yang dapat merupakan penyebab
penyakit
(7) Buat keputusan apakah penyakit tersebut disebabkan oleh
pekerjaannya

1.5.8. Narkoba Dan Hiv-AIDS


Narkoba
Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan
berbahaya. Selain "narkoba", istilah lain yang diperkenalkan
khususnya oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesiaa adalah
napza yang merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat
Adiktif .Semua istilah ini, baik "narkoba" ataupun "napza", mengacu

19
pada kelompok senyawa yang umumnya memiliki risiko kecanduan
bagi penggunanya. Menurut pakar kesehatan,narkoba sebenarnya
adalah senyawasenyawa psikotropika yang biasa dipakai untuk
membius pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan untuk
penyakit tertentu.
Narkoba memiliki berbagai jenis diantaranya narkotika,
psikotropika, dan bahan aditif lainnya:
1. Narkotika
Narkotika adalah zat atau obat yang bersal dari tanaman
atau bahan tanaman, yang dapat menyebabkan penurunan atau
perubahan kesadaran dan hilangnya rasa. Narkotika memiliki daya
adiksi (ketagihan) yang sangat berat. Narkotika juga memiliki daya
toleran (penyesuaian) dan daya habitual (kebiasaan), ketiga sifat
narkotika inilah yang menyebabkan pemakai narkotika tidak dapat
lepas dari cengkramannya.
2. Psikotropika
Psikotropika adalah zat atau obat bukan narkotika, baik alami
maupun sintesis, yang memiliki sifat proaktif melalui pengaruh selektif
pda susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada
aktivitas normal dan perilaku. Psikotropika adalah obat yang
dugunakan oleh dokter untuk mengobati gangguan jiwa (psyche).
3. Prekursor narkotika
Prekursor narkotika adalah zat atau bahan pemula atau
bahan kimia yang dapat digunakan dalam pembuatan narkotika
4. Bahan adiktif lainnya
Golongan adiktif lainnya adalah zat-zat yang dapat
menimbulkan ketergantungan. Contohnya rokok, kelompok alkohol
dan minuman lain yang memabukkan dan menimbulkan ketagihan,
dan thinner dan zat-zat lainnya.

20
HIV/AIDS
Prinsip – prinsip kunci dari ILO tentang HIV/AIDS dan dunia
kerja yang berlaku bagi semua aspek pekerjaan dan semua
tempat kerja, termasuk sektor kesehatan:
1. Isu Tempat Kerja
2. Non Diskriminasi
3. Kesetaraan gender
4. Lingkungan kerja yang sehat
5. Dialog Sosial
6. Tidak boleh melakukan skrining untuk tujuan rekrutmen Tes
HIV di tempat kerja harus dilaksanakan secara sukarela dan
rahasia, tidak boleh digunakan untuk menskrining pelamar atau
pekerja.
7. Kerahasiaan
8. Melanjutkan hubungan pekerjaan
9. Pencegahan
10. Kepedulian dan dukungan

21
BAB 2
PELAKSANAAN

2.1. Tanggal dan Waktu Pelaksanaan


Kunjungan perusahaan ke PT. PRIMISSIMA dilakukan pada
hari Rabu, 31 Oktober 2018, Pukul 08.00 WIB – 13.00 WIB

2.2. Lokasi Pengamatan


PT. PRIMISSIMA terletak di daerah Medari, kecamatan
Sleman – Yogyakarta, tepatnya berada di Jl. Raya Magelang Km. 15.
PT. PRIMISSIMA didirikan diatas tanah seluas 73.194 m 2 dengan
luas bangunan 36.300 m2. Peranan lokasi sangat penting bagi
perusahaan dalam menentuakan keputusan mendirikan usaha,
karena dapat mempengaruhi kegiatan operasional perusahaan.
Letaknya yang sangat strategis, karena dilalui jalan raya penghubung
Yogyakarta dan Semarang, yang memudahkan untuk keperluan
transportasi, baik untuk bahan baku maupun produk yang akan
dipasarkan. Tanah disekitar perusahaan masih sangat luas dan harga
tanah masih relatif murah, yang memungkinkan bagi perusahaan
untuk mengadakan perluasan perusahaan dengan memanfaatkan
areal tanah yang belum digunakan. Bebas dari banjir, karena
permukaan yang sedikit miring yang dan berada di kaki yang aman
dari gunung merapi. Sarana – sarana yang diperlukan oleh
perusahaan, seperti Air, udara bersih, komunikasi dan transportasi
mudah didapatkan. Biaya tenaga kerja relatif rendah dibading
daerah–daerah lain.

22
2.3. Dokumen

Sumber : PT Primissima

Sumber : PT Primissima

23
Sumber : PT Primissima

Sumber : PT Primissima

24
Sumber : PT Primissima

Sumber : PT Primissima

25
BAB 3
HASIL PENGAMATAN

3.1. Fasilitas Pelayanan Kesehatan


Fasilitas pelayanan kesehatan yang terdapat di PT. PRIMISSIMA
yaitu:
a) Perusahaan bekerja sama dengan RSUD Sleman. Apabila
karyawan memiliki keluhan atau terjadi kecelakaan kerja,
pekerja langsung disarankan untuk ke Rumah Sakit yang
bekerja sama dengan perusahaan.
b) Perusahaan telah memberikan fasilitas BPJS kepada setiap
pekerja dan keluarganya sehingga apabila terjadi
kecelakaan kerja atau pekerja membutuhkan pelayanan
kesehatan maka biaya kesehatan pekerja sudah
ditanggung oleh BPJS.

3.2. Program Kesehatan


PT. Primissima belum memiliki klinik kesehatan atau fasilitias
pelayanan kesehatan, sehingga program kesehatan pada PT ini belum
berjalan secara maksimal. Beberapa program masih dipegang oleh
bagian K3 di mana dengan menggunakan kampanye K3. Sedangakan
untuk program preventif yang dilakukan oleh PT Primissima ini adalah
antara lain pemeriksaan awal sebelum masuk pekerjaan, medical check
up yang dilakukan setiap tahun sekali, namun tidak semua pekerja yang
diperiksa, melainkan hanya pekerja-pekerja berisiko dan memiliki keluhan
saja yang dilakukan pemeriksaan berkala. Untuk program lain seperti
program kuratif dan rehabilitative masih bergantung pada rumah sakit
yang bekerjasama dengan PT ini.

3.3 Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba


Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba pada PT Primissima sudah
cukup baik, sudah dilakukan pemeriksaan darah, dahak, dan urin untuk

26
pemeriksaan awal sebelum bekerja, tetpi tidak ada pemeriksaan untuk HIV
AIDS dan di PT Primissima juga belum ada penyuluhan mengenai
pencegahan HIV AIDS dan narkoba.

3.4. Hasil Pengamatan Pemeriksaan Kesehatan


Pada perusahaan PT Primissima, dilakukan pemeriksaan kesehatan
pada awal masuk, dan kemudian dilakukan pemeriksaan berkala tiap satu
tahun sekali. Namun, pemeriksaan berkala dan khusus hanya dilakukan
pada pekerja yang memiliki keluhan saja, seperti keluhan sesak nafas.
Pemeriksaan kesehatan awal meliputi pemeriksaan fisik lengkap, kesegaran
jasmani, rontgen paru-paru, dan laboratorium rutin serta pemeriksaan lain
yang dianggap perlu sesuai jenis pekerjaan.

3.5. Kesesuaian Pekerja dengan Alat


3.5.1. Sikap Kerja
Hasil pengamatan mengenai sikap kerja dari tenaga kerja di
unit tertentu seperti pada perusahaan PT. PRIMISISA bagian
glooming 3 menunjukkan kurang sesuai dengan aspek ergonomis,
terbukti dengan tidak sesuainya seperti tidak adanya tempat
duduk bagi para pekerja yang lebih banyak bekerja dengan posisi
berdiri dan selalu berjalan. Hal tersebut tidak sesuai dengan
prinsip ergonomis dengan posisi anatomis tubuh dengan beban
yaitu bertumpu terus menerus. Selain itu tidak sesuai prinsip
ergonomis yaitu dengan adanya suara keras dari mesin yang
bekerja yang membuat kebisingan. Debu dari hasil pemintalan
kapas dan benangpun berterbangan tanpa ada pembuangan
yang khusus.

27
3.5.2. Cara Kerja
Hasil pengamatan mengenai cara kerja, tenaga kerja lebih
banyak berdiri selama proses kerja dan kebisingan selama proses
bekerja. Cara kerja diamati dari 2 sisi yaitu;
- Posisi kerja kurang ergonomis karena para pekerja
terlalu banyak berdiri dan berjalan
- Proses kerja didapatkan para pekerja yang tidak
menggunakan sarung tangan, sepatu bahkan masker
dan ear plug untuk perlindungan
- Pada saat kerja , pekerja didapati berjalan tanpa adanya
kewaspadaan dengan alat yang bekerja

3.5.3. Beban Kerja


Hasil pengamatan didapatkan, karyawan pabrik bekerja dari
hari Senin sampai minggu terbagi dalam shift dengan jam kerja:
Waktu kerja :
Pabrik :
Jam Kerja : Shift I 06.00 – 14.00 WIB
Shift II 14.00 – 22.00 WIB
Shift III 22.00 - 06.00 WIB
Jam Istirahat : setiap shift di berikan jam istirahat selama 2 jam
dengan dibagi 2 untuk pekerjanya agar proses kerja tetap berjalan.
Kantor
Jam Kerja : Senin - jumat : 07.00 - 15.00 WIB
Sabtu : 07.00 - 13.00 WIB

3.5.4. Lingkungan Kerja


Lingkungan kerja yang terdapat pada gedung III PT.
PRIMISIMA terletak di paking belakang kompleks pabrik dan memiliki
luas sekitar 1 hektar. Di dalam lingkungan pabrik tidak didapati
adanya tempat duduk untuk pekerja dan hanya ada tempat istirahat

28
wanita serta loker untuk pekerja namun tidak layak karena sangat
rapuh dan kotor. Penempatan pendingin ruangan tidak tersedia.
Lingkungan kerja karyawan dikelilingi oleh mesin yang bersuara
sangat keras dan bekerja cepat sehingga menimbulkan suara bising
serta debu dari kapas yang bertebangan di lingkungan kerja tersebut.

3.6. Program Pemenuhan Gizi Pekerja


Program pemenuhan gizi pada pekerja di PT. Primissima, sudah
cukup baik. Perusahaan sudah menyediakan kantin dengan cukup bersih
pada meja, lantai dan kursi. Hanya saja plafon pada bagian kantin, sebgina
sudah rusak. Pada PT Primissima, Perusahaan juga menyediakan makanan
bergizi bagi para karyawannya pada tiap shift kerja. Dengan jadwal untuk
shift pagi, makanan di berikan pada pukul 09.00-10.00, sedangkan pada shift
siang, makanan diberikan pad pukul 18.00-19.00, untuk shift malam di
berikan pad apukul 01.00-02.00 malam. Untuk bisa mendpaatkan jatah
makan, karyaawan diberikan kupon, sehingga tidak ada karyawan yang
makan dua kali atau karyawaan yang tidk kebagin makn. Untuk menu
makanan, sudah cukup bervariasi dan berbeda stiap harinya. Contoh
makanan yang disediakan antara lain: nasi soto, nasi yam tempe sop, dan
sebagainya.

3.7. Sepuluh Besar Penyakit Pada Pelayanan Kesehatan


Pada perusahaan PT. Primissima tidak dapat disimpulkan penyakit
yang tersering diderita pada karyawan perusahaan tersebut dikarenakan
ketiadaan klinik yang bertanggung jawab terhadap kesehatan pada
perorangan yang bekerja di perusahaan tersebut, sehingga tidak dapat di
tarik sepuluh besar penyakit yang sering diderita oleh karyawan yang
bekerja di perusahaan PT. Primissima. Namun dari hasil wawancara
manajer, ada beberapa yang sering diderita tenaga kerja. Penyakit
terbanyak yang diderita tenaga kerja perusahaan PT. Primissima, yaitu:
a. Rhinitis alergi

29
b. Tinnitus
c. ISPA
d. Asma
e. LBP
f. CTS
g. TTH
h. Varises
i. Dermatitis statis

3.8. Penyakit Akibat Kerja


Penyakit akibat kerja yang terjadi di PT. Primissima sampai saat
ini adalah Tinitus dan HNP Lumbalis.

3.9. Sarana P3K


Perusahaan telah menyediakan sarana P3K di pos keamaan dan
ruang penggulungan benang. Adapun isi dari kotak P3K tersebut terdiri
dari: kassa gulung steril, plester, betadine, kapas, alkohol 70%. Kotak
P3K digunakan jika terjadi kecelakaan akibat kerja yang dapat ditangani
sendiri dengan bantuan alat P3K atau sebelum dirujuk ke Rumah Sakit
terdekat.

3.10. Personil Kesehatan


Saat ini tidak terdapat personil kesehatan khusus yang bertugas di
PT. Primissima dikarenakan para karyawan langsung memeriksakan
kesehatan di FAKES Tingkat I yang sesuai dalam kartu BPJS Kesehatan
karyawan.

30
BAB 4
PEMECAHAN MASALAH

4.1. Fasilitas Pelayanan Kesehatan


Fasilitas Pelayanan Kesehatan PT Primissim dapat dikatakan
masih sangat kurang, dikrenakan memang belum disediakan oleh PT ini.
Sehingga perlu ditambahkan dan dirnacngkan untuk pembuatan fasilitas
pelayanan kesehatan agar tenaga kerja bisa tetap dijaga kesehatan dan
untuk memaksimalkan produktivitas tenaga kerja, sehingga didapatkan
produksi yang meningkat pula.

4.2. Program Kesehatan


Program Kesehatan di PT Primissima sangat minimal. Perlu
ditingkatkan pemenuhan program di perusahaan ini. Pertama adlah
program promotif yang bisaa terdiri dri spanduk kmpanye K3, pengadaan
petugs P3K, dan beberapa pelatihaan terkaait pennagaananan keadaan
gawat daarurat. Kemudin yang kedua untuk program preventif, perlu
dilakukan pemeriksaan berkla miniml satu thun sekali untuk seluruh teng
kerja. Kemudian perlu dilakukan pemeriksan khusus untuk beberp
pekerja yang berkeluhan dna memiliki resiko.

4.3 Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba


Menjadwalkan dan melakukan penyuluhan tentang HIV AIDS dan
Narkoba secara berkala serta menerapkan prosedur K3 khusus untuk
pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS.

4.4. Pemeriksaan Kesehatan


Pada pemeriksaan kesehatan PT Primissima dapat dikatakan cukup
terorganisasi dengan adanya pemeriksaan awal, berkala, dan khusus.
Pemeriksaan sudah dilakukan dengan baik namun ada baiknya pemeriksaan

31
berkala dilakukan pada semua pekerja, agar dapat mengurangi terjadinya
penyakit yang lebih serius kedepannya. Karena sifat dari pemeriksaan
secara berkala ini dapat bersifat sebagai preventif atau sebagai pencegahan
penyakit akibat kerja sehingga dapat dilakukan tindakan promotif dan
mengurangi penyakit pekerja kedepannya. Menurut kami pemeriksaan
kesehatan pada PT Primissima masih kurang karena pemeriksaan
kesehatan hanya dilakukan pada pekerja yang sakit saja.

4.5. Kesesuaian Pekerja Dengan Alat


Kesesuaian pekerja dengan alat yang ada di PT. PRIMISIMA dapat
dikatakan belum cukup baik untuk memenuhi prisip ergonomis. Karena tiap
pekerja mengerjakan banyak sekali mesin dengan perbandingan yang tidak
sesuai. Selain itu sikap kerja para karyawan selama proses kerja
berlangsung kurang baik karena pekerja tidak menggunakan APD maupun
mengikuti aturan yang sudah ada sebagai prinsip ergonomis. Sehingga
diperlukan adanya penyuluhan dan pengawasan selama proses kerja untuk
meningkatkan prinsip ergonomis yaitu yang dilakukan oleh pengawas atau
leader untuk bagaimana posisi kerja dan bagimana penggunakan APD
selama proses kerja berlangsung agar meminimalisir terjadinya penyakit
akibat kerja.

4.6. Program Pemenuhan Gizi Pekerja


Masalah yang perlu diperbaiki, antra lain mengenai, sarana kantin
untuk lebih diperhatikan dan diperbaiki, untuk kebutuhan gizi, berisi menu
sudah baik. Sudah sesuai dengan kebutuhan gizi untuk bekerja selama
delapan jam. Hal tersebut telah sesuai dengan surat edaran menteri tenaga
kerja dan transmigrasi No. SE. 01/Men/1979 tentang pengadaan kantin dan
ruang makan.

32
4.7. 10 Besar Penykit pada Pelayanan Kesehatan
Perusahaan PT. Primissima seharusnya memiliki klinik yang
bertanggung jawab pada kesehatan para karyawan yang bekerja pada
perusahaan mereka, hal ini bertujuan untuk melihat apa saja penyakit yang
sering dialami oleh para pekerja baik penyakit yang sudah dibawa oleh para
pekerja maupun penyakit yang ditimbulkan karena bidang pekerjaan mereka.
Sehingga pendirian klinik kesehatan tersebut dapat meminimalisir
peningkatan masalah kesehatan pada karyawan yang bekerja, selain itu
dengan adanya klinik kesehatan dapat memberikan suatu sarana kepada
karyawan yang bekerja untuk berkonsultasi tentang masalah kesehatan diri
mereka baik itu bersifat promotif, preventif maupun kuratif.
Sepuluh besar penyakit pada pekerja PT. Primissima dalam
pelayanan kesehatan dapat dikatakan bervariasi jenisnya. Namun jumlah per
kasus sangat sedikit dan bahkan jarang terjadi. Mungkin penyakit tersebut
dapat dikatakan terjadi karena kelalaian per seorang pekerja. Sehingga
sepuluh besar penyakit pada pelayanan kesehatan dapat dikurangi bahkan
diminimalisir terjadinya dengan cara pemberian edukasi per pekerja akan
kesehatan pribadi dan harus mengikuti peraturan yang sudah ada.

4.8. Penyakit Akibat Kerja


Penyakit akibat kerja PT. Primissima dalam pelayanan kesehatan
dapat dikatakan bervariasi jenisnya. Sebagian besar hal tersebut terjadi
akibat penataan mesin ataupun ruang kerja yang kurang ergonomis.
Kurangnya kesadaran karyawan terhadap perlindungan diri juga menjadi
pemicu munculnya suatu gangguan kesehatan. Pemberian edukasi tentang
kesehatan dan penataan ruang kerja yang lebih ergonomis diharapkan
dapat mengurangi gangguan kesehatan pada karyawan PT. Primissima.

4.9. Sarana P3K


Pada sarana P3K PT. Primissima dapat dikatakan kurang lengkap dan
tidak cukup memadai. Sehingga dari pengamatan kami perlu ada
peningkatan dalam sarana P3K. Sehingga program tersebut dapat

33
ditingkatkan dan konsisten dalam upaya menjaga kesehatan karyawan dan
pertolongan pertama saat terjadi kecelakaan kerja.

4.10. Personil Kesehatan


Tidak terdapat personil kesehatan PT. Primissima maupun tenaga
terlatih yang mendapatkan pelatihan kesehatan. Sehingga dari pengamatan
kami perlu ditambah personil kesehatan ataupun karyawan yang dibekali
dengan sertifikat-sertifikat dan pelatihan khusus kesehatan dan
keselamatan kerja agar dapat memberikan upaya promotif, preventif, kuratif
dan rehabilitatif.

34
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Pada observasi yang dilakukan pada PT. Primissima Medari Sleman
Yogyakarta yang menjadi objek penelitian usaha di bidang tekstil ini telah
menerapkan ergonomi dan K3 belum sesuai dengan aturan yang telah
ditetapkan pemerintah .
Pada proses pemintalan. limbah debu kapas paling banyak didapat
pada proses blowing, carding. Limbah aktual pada pekerjaan blowing dan
carding masing-masing sebesar 3.5% dan 2.5%
sedangkan tingkat kebisingan speed frame sebesar > 85 dB.
Penyakit yang akan timbul adalah Byssinosis (penyakit tergol
ong pneumoconiosis) yang berasal dari limbah debu kapas kepada pekerja-
pekerja dalam industri tekstil. Pencengahan dengan menggunakan APD (alat
pelindung diri) seperti: memakai safety glasses, ear plug, ear muff, respirator
dan lain-lain.
Berdasarkan pengolahan data dan analisa data, maka dapat
disimpulkan bahwa:
a. Potensi bahaya
Adapun potensi bahaya yang dapat timbul di tempat kerja yang ada di
PT. Primissima meliputi, terjepit, terjatuh, tertimpa kulit, terpeleset,
dan peledakan.
b. Sikap Kerja
Hasil pengamatan mengenai sikap kerja dari tenaga kerja di unit
tertentu seperti pada perusahaan PT. PRIMISISA bagian glooming 3
menunjukkan kurang sesuai dengan aspek ergonomis, terbukti
dengan tidak sesuainya seperti tidak adanya tempat duduk bagi para
pekerja yang lebih banyak bekerja dengan posisi berdiri dan selalu
berjalan.

35
c. Cara kerja
Hasil pengamatan mengenai cara kerja, tenaga kerja lebih banyak
berdiri selama proses kerja dan kebisingan selama proses bekerja.
Cara kerja diamati dari 2 sisi yaitu;
- Posisi kerja kurang ergonomis karena para pekerja
terlalu banyak berdiri dan berjalan
- Proses kerja didapatkan para pekerja yang tidak
menggunakan sarung tangan, sepatu bahkan masker
dan ear plug untuk perlindungan
- Pada saat kerja , pekerja didapati berjalan tanpa adanya
kewaspadaan dengan alat yang bekerja
d. Lingkungan kerja
Lingkungan kerja yang terdapat pada gedung III PT. PRIMISIMA
terletak di paking belakang kompleks pabrik dan memiliki luas sekitar
1 hektar. Didalam lingkungan pabrik tidak didapati adanya tempat
duduk untuk pekerja dan hanya ada tempat istirahat wanita serta loker
untuk pekerja namun tidak layak karena sangat rapuh dan kotor.
Penempatan pendingin ruangan tidak tersedia. Lingkungan kerja
karyawan dikelilingi oleh mesin yang bersuara sangat keras dan
bekerja cepat sehingga menimbulkan suara bising serta debu dari
kapas yang bertebangan di lingkungan kerja tersebut.
e. Penyakit akibat kerja
Penyakit akibat kerja yang terjadi di PT. Primissima sampai saat ini
adalah Tinitus dan HNP Lumbalis.
f. Getaran
Tingkat getaran terendah pada proses tanning dan tertinggi pada
staking. Faktor yang mempengaruhi getaran pada ruangan
dipengaruhi oleh banyaknya mesin dan kompresor pada ruang
tersebut.

36
g. Iklim Kerja
Dari hasil pemeriksaan yang telah kami lakukan pada PT Primissima,
didapatkan hasil yang menunjukkan semua ruangan kurang
mendukung untuk produktivitas dan keselamatan kerja.
h. Program Pemenuhan gizi
Sudah sesuai dengan kebutuhan gizi untuk bekerja selama delapan
jam. Hal tersebut telah sesuai dengan surat edaran menteri tenaga
kerja dan transmigrasi No. SE. 01/Men/1979 tentang pengadaan
kantin dan ruang makan.

5.2. Saran
a. Membuat dan merancangkan untuk pembuatan fasilitas pelayanan
kesehatan
b. Menjadwalkan dan melakukan penyuluhan tentang HIV AIDS dan
Narkoba secara berkala serta menerapkan prosedur K3 khusus untuk
pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS.
c. Membuat penyuluhan dan pengawasan selama proses kerja untuk
meningkatkan prinsip ergonomis yaitu penggunakan APD selama
proses kerja berlangsung agar meminimalisir terjadinya penyakit
akibat kerja.

d. Perbesar ventilasi untuk tempat masuk cahaya matahari sebagai


sumber cahaya alami.
e. Dari segi sumber bising dapat dilakukan pengendalian berupa
pemeliharaan bising secara berkala, atau penggantian mesin lama
dengan mesin baru.
f. Dari segi administratif dapat dilakukan rotasi kerja yang teratur dan
kontinu sehingga resiko gangguan pendengaran dapat berkurang.
g. Membuat sarana P3K PT. Primissima dengan memadai bagi pekerja
h. Pemeriksaan kesehatan secara berkala pada setiap pekerja PT
Primissima

37
i. Disediakan air minum yang mencukupi dan pemberian minum
15- 20 menit sebanyak kurang lebih 159 mL serta suhu air minum
dijaga 10-20 0C.
j. Sebaiknya karyawan menggunakan masker yang setiap hari diganti.
k. Disarankan untuk diperbaiki sesuai dengan aspek yang bersifat
teknik, meliputi pembuatan alat bantu yang ergonomis kursi pekerja
yang nyaman.

38
BAB 6
PENUTUP

PT. Primissima dari hasil walkthrough survey yang kami lakukan,


perusahaan belum mengimplementasikan sistem manajemen kesehatan
dan keselamatan kerja (SMK3) secara baik sesuai dengan peraturan
pemerintah.
Semoga makalah ini dapat membantu dalam menyikapi
permasalahan yang ada dan perbaikan perusahaan dalam aspek
kesehatan dan keselamatan kerja.

39