Anda di halaman 1dari 29

BAB I

KONSEP MEDIS

A. Definisi

Batu di dalam saluran kemih (Urinary Calculi) adalah massa keras

seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan

nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu ini bisa

terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu

kandung kemih). Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis (litiasis

renalis, nefrolitiasis) ( Elizabeth J. Corwin, 2009)

Batu ginjal atau kalkulus renal (nefrolitiasis) dapat terbentuk dimana

saja di dalam traktus urinarius kendati paling sering ditemukan pada piala ginjal

(pelvis renis) atau kalises. Batu ginjal memiliki ukuran yang beragam dan bias

soliter atau multiple. Batu ginjal lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan

pada wanita dan jarang ditemukan pada anak-anak. Batu kalsium umumnya

ditemukan pada laki-laki berusia pertengahan dengan riwayat pembentukan

batu di dalam keluarga (Kowalak, 2011).

Batu ginjal merupakan suatu kondisi terbentuknya material keras yang

menyerupai batu di dalam ginjal. Material tersebut berasal dari sisa zat-zat

limbah di dalam darah yang dipisahkan ginjal yang kemudian mengendap dan

mengkristal seiring waktu (Anonim, 2015).

Dari penjelasan para ahli di atas, dapat disimpulkan batu ginjal adalah

suatu keadaan penyakit pembetukan batu (kalkuli) yang dapat ditemukan di


setiap bagian ginjal yang terjadi akibat endapan zat-zat sisa di ginjal sehingga

menyebabkan terganggunya sistem perkemihan.

Gambar 1: Batu ginjal dalam kalises mayor, kalises minor


ginjal dan dalam ureter

B. Etiologi

Meskipun penyebab pasti tidak diketahui, factor predisposisi terjadinya

batu ginjal meliputi (Kowalak, 2011):

1. Dehidrasi

2. Infeksi

3. Perubahan pH urin (batu kalsium karbonat terbentuk pada pH yang tinggi,

batu asam urat terbentuk pada pH yang rendah)

4. Obstruksi pada aliran urin yang menimbulkan stasis di dalam traktus

urinarius.

5. Imobilisasi yang menyebabkan kalsium terlepas ke dalam darah dan

tersaring oleh ginjal.

6. Faktor metabolic

7. Faktor makanan
8. Faktor penyakit renal

9. Faktor penyakit gout

Penyebab terbentuknya batu saluran kemih diduga berhubungan dengan

gangguan aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi

dan keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik). Secara

epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu

saluran kemih yang dibedakan sebagai faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik,

yaitu (Purnomo, 2011):

a. Faktor intrinsik, meliputi:

1) Herediter; diduga dapat diturunkan dari generasi ke generasi.

2) Umur; paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun karena terjadinya

penurunan kerja organ sistem perkemihan

3) Jenis kelamin; jumlah pasien pria 3 kali lebih banyak dibanding pasien

wanita dapat dikatakan karena perbedaan aktivitas.

b. Faktor ekstrinsik, meliputi:

a. Geografi; pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian yang

lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone

belt.

b. Iklim dan temperatur

Tempat yang bersuhu dingin (ruang AC) menyebabkan kulit kering dan

pemasukan cairan kurang. Tempat yang bersuhu panas misalnya di

daerah tropis, di ruang mesin menyebabkan banyak keluar keringat,

akan mengurangi produksi urin.


c. Asupan air

Kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium dapat

meningkatkan insiden batu saluran kemih.

d. Diet

Diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu

saluran kemih. Kebiasaan mengkonsumsi makanan tinggi kalsium

seperti susu, keju, kacang polong, kacang tanah dan coklat. Tinggi purin

seperti : ikan, ayam, daging, jeroan. Tinggi oksalat seperti : bayam,

seledri, kopi, teh, dan vitamin D.

e. Pekerjaan

Penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak

duduk atau kurang aktivitas fisik (sedentary life). Pekerjaan dengan

banyak duduk lebih memungkinkan terjadinya pembentukan batu

dibandingkan pekerjaan seorang buruh atau petani.

f. Infeksi

Infeksi saluran kemih dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan

menjadi inti pembentukan batu.

C. Manifestasi Klinik

Tanda dan gejala batu ginjal yang mungkin meliputi (Kowalak ,2011):

1. Nyeri hebat akibat obstruksi

2. Nausea dan vomitus

3. Demam dan menggigil karena infeksi

4. Hematuria jika batu tersebut menimbulkan abrasi ureter

5. Distensi abdomen
6. Anuria akibat obstruksi bilateral atau obstruksi pada ginjal yang tinggal

satu-satunya dimiliki pasien.

Secara umum pasien urolithiasis datang ke pelayanan kesehatan dengan

keluhan utama nyeri pada pinggang dan hematuria. Keluhan yang disampaikan

oleh pasien tergantung pada posisi atau letak batu, besar batu, dan penyulit yang

telah terjadi. Keluhan yang paling dirasakan oleh pasien adalah nyeri pada

pinggang. Nyeri ini mungkin bisa berupa nyeri kolik maupun bukan kolik.

Nyeri kolik terjadi karena aktivitas peristaltik otot polos sistem kalises ataupun

ureter meningkat dalam usaha untuk mengeluarkan batu dari saluran kemih.

Peningkatan peristaltik ini menyebabkan tekanan intraluminalnya meningkat

sehingga terjadi peregangan dari terminal saraf yang memberikan sensasi nyeri.

Nyeri non kolik terjadi akibat peregangan kapsul ginjal karena terjadi

hidonefrosis atau infeksi pada ginjal (Kuntarti, 2009).

Hematuria sering kali dikeluhkan oleh pasien akibat trauma pada

mukosa saluran kemih yang disebabkan oleh batu. Kadang-kadang hematuria

didapatkan dari pemeriksaan urinalisis berupa hematuria mikroskopik. Jika

didapatkan demam harus dicurigai suatu urosepsis dan ini merupakan

kedaruratan di bidang urologi. Dalam hal ini harus secepatnya ditentukan letak

kelainan anatomik pada saluran kemih yang mendasari timbulnya urosepsis dan

segera dilakukan terapi berupa drainase dan pemberian antibiotika (Kuntarti,

2009).

Infeksi (pielonefritis dan sistitis yang disertai menggigil, demam dan

disuria) dapat terjadi dari iritasi batu yang terus menerus. Beberapa batu
menyebabkan sedikit gejala namun secara perlahan merusak unit fungsional

(nefron) ginjal (Kuntarti, 2009).

D. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan yang dapat menunjang diagnostic batu ginjal antara lain

(Rasad, Sjahriar. 2010):

a. Urinalisa

Warna normal adalah kekuning-kuningan, sedangkan warna abnormal dalah

coklat gelap, merah, berdarah yang menunjukkan hematuri (kemungkinan

obstruksi urine, kalkulus renalis, tumor,kegagalan ginjal). Secara umum

menunjukkan adanya sel darah merah, sel darah putih dan kristal serta

serpihan, mineral, bakteri, pus, pH urine asam (asam meningkatkan sistin

dan batu asam urat). Pada Urine 24 jam didapatkan kreatinin, asam urat,

kalsium, fosfat, oksalat atau sistin meningkat.

b. Pemeriksaan hematologi:

1. Sel darah putih : meningkat menunjukkan adanya infeksi.

2. Sel darah merah : biasanya normal.

3. Hb, Ht : abnormal bila pasien dehidrasi berat atau polisitemia.

c. Pemeriksaan Imaging

 Urografi

Pemeriksaan radiologis yang digunakan harus dapat memvisualisasikan

saluran kemih yaitu ginjal, ureter dan vesika urinaria (KUB). Tetapi

pemeriksaan ini mempunyai kelemahan karena hanya dapat

menunjukkan batu yang radioopaque. Batu asam urat dan ammonium

urat merupakan batu yang radiolucent. Tetapi batu tersebut terkadang


dilapisi oleh selaput yang berupa calsium sehingga gambaran akhirnya

radioopaque. Pelapisan adalah hal yang sering, biasanya lapisan tersebut

berupa sisa metabolik, infeksi dan disebabkan hematuri sebelumnya.

 Cystogram/ intravenous pyelografi

Jika pada pemeriksaan secara klinik dan foto tidak dapat menunjukkan

adanya batu, maka langkah selanjutnya adalah dengan pemeriksaan

IVP. Adanya batu akan ditunjukkan dengan adanya filling defek.

 Ultrasonografi (USG)

Batu akan terlihat sebagai gambaran hiperechoic, efektif untuk melihat

batu yang radiopaque atau radiolucent.

 CT scan

Pemeriksaan ini dilakukan untuk banyak kasus pada pasien yang nyeri

perut, massa di pelvis, suspect abses, dan menunjukkan adanya batu

yang tidak dapat ditunjukkan pada IVP. Batu akan terlihat sebagian batu

yang keruh.

 MRI

Pemeriksaan ini akan menunjukkan adanya lubang hitam yang

semestinya tidak ada/yang seharusnya terisi penuh, ini diassosiasikan

sebagai batu.

D. Penatalaksaan

Tujuan dasar penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan batu,

menentukan jenis batu, mencegah kerusakan nefron, mengendalikan infeksi dan

mengurangi obstruksi yang terjadi. Untuk Indikasi pengeluaran batu saluran

kemih yaitu obstruksi jalan kemih, infeksi, nyeri menetap atau nyeri berulang-
ulang, batu yang akan menyebabkan infeksi atau obstruksi, batu metabolic yang

tumbuh cepat (Kowalak, 2011).

1. Terapi Konservatif

Sebagian besar batu ureter mempunyai diameter <5 mm. Seperti

disebutkan sebelumnya, batu ureter <5 mm bisa keluar spontan. Terapi

bertujuan untuk mengurangi nyeri, memperlancar aliran urin dengan

pemberian diuretikum, berupa :

a. Minum sehingga diuresis 2 liter/ hari

b. α - blocker

c. NSAID

Batas lama terapi konservatif adalah 6 minggu. Di samping ukuran batu

syarat lain untuk observasi adalah berat ringannya keluhan pasien, ada

tidaknya infeksi dan obstruksi. Adanya kolik berulang atau ISK menyebabkan

observasi bukan merupakan pilihan. Begitu juga dengan adanya obstruksi,

apalagi pada pasien-pasien tertentu (misalnya ginjal tunggal, ginjal trasplan

dan penurunan fungsi ginjal ) tidak ada toleransi terhadap obstruksi. Pasien

seperti ini harus segera dilakukan intervensi.

2. ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy)


Dengan ESWL sebagian besar pasien tidak perlu dibius, hanya diberi

obat penangkal nyeri. Pasien akan berbaring di suatu alat dan akan dikenakan

gelombang kejut untuk memecahkan batunya Bahkan pada ESWL generasi

terakhir pasien bisa dioperasi dari ruangan terpisah. Jadi, begitu lokasi ginjal

sudah ditemukan, dokter hanya menekan tombol dan ESWL di ruang operasi

akan bergerak. Posisi pasien sendiri bisa telentang atau telungkup sesuai

posisi batu ginjal. Batu ginjal yang sudah pecah akan keluar bersama air seni.

Biasanya pasien tidak perlu dirawat dan dapat langsung pulang.

Pembangkit (generator) gelombang kejut dalam ESWL ada tiga jenis

yaitu elektrohidrolik, piezoelektrik dan elektromagnetik. Masing-masing

generator mempunyai cara kerja yang berbeda, tapi sama-sama menggunakan

air atau gelatin sebagai medium untuk merambatkan gelombang kejut. Air

dan gelatin mempunyai sifat akustik paling mendekati sifat akustik tubuh

sehingga tidak akan menimbulkan rasa sakit pada saat gelombang kejut

masuk tubuh.

ESWL merupakan alat pemecah batu ginjal dengan menggunakan

gelombang kejut antara 15-22 kilowatt. ESWL hanya sesuai untuk

menghancurkan batu ginjal dengan ukuran kurang dari 3 cm serta terletak di

ginjal atau saluran kemih antara ginjal dan kandung kemih (kecuali yang

terhalang oleh tulang panggul). Batu yang keras (misalnya kalsium oksalat

monohidrat) sulit pecah dan perlu beberapa kali tindakan. ESWL tidak boleh

digunakan oleh penderita darah tinggi, kencing manis, gangguan pembekuan

darah dan fungsi ginjal, wanita hamil dan anak-anak, serta berat badan

berlebih (obesitas).
Penggunaan ESWL untuk terapi batu ureter distal pada wanita dan

anak-anak juga harus dipertimbangkan dengan serius. Sebab ada

kemungkinan terjadi kerusakan pada ovarium. Meskipun belum ada data yang

valid, untuk wanita di bawah 40 tahun sebaiknya diinformasikan sejelas-

jelasnya

3. Endourologi

Tindakan Endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk

mengeluarkan batu saluran kemih yang terdiri atas memecah batu, dan

kemudian mengeluarkannya dari saluran kemih melalui alat yang

dimasukkan langsung ke dalam saluran kemih. Alat itu dimasukkan melalui

uretra atau melalui insisi kecil pada kulit (perkutan). Proses pemecahan batu

dapat dilakukan secara mekanik, dengan memakai energi hidraulik, energi

gelombang suara, atau dengan energi laser.

Beberapa tindakan endourologi antara lain:

a. PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy) yaitu mengeluarkan batu yang

berada di dalam saluran ginjal dengan cara memasukkan alat endoskopi ke

sistem kalises melalui insisi pada kulit. Batu kemudian dikeluarkan atau

dipecah terlebih dahulu menjadi fragmen-fragmen kecil.


Keuntungan dari PNL, bila batu kelihatan, hampir pasti dapat diambil atau

dihancurkan; fragmen dapat diambil semua karena ureter bisa dilihat

dengan jelas. Prosesnya berlangsung cepat dan dengan segera dapat

diketahui berhasil atau tidak. Kelemahannya adalah PNL perlu

keterampilan khusus bagi ahli urologi.

b. Litotripsi (untuk memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan

memasukkan alat pemecah batu/litotriptor ke dalam buli-buli),

c. Ureteroskopi atau uretero-renoskopi.

Keterbatasan URS adalah tidak bisa untuk ekstraksi langsung batu ureter

yang besar, sehingga perlu alat pemecah batu seperti yang disebutkan di

atas. Pilihan untuk menggunakan jenis pemecah batu tertentu, tergantung

pada pengalaman masing-masing operator dan ketersediaan alat tersebut.

d. Ekstraksi Dormia (mengeluarkan batu ureter dengan menjaringnya melalui

alat keranjang Dormia).

4. Bedah Terbuka

Di klinik-klinik yang belum mempunyai fasilitas yang memadai untuk

tindakan-tindakan endourologi, laparoskopi, maupun ESWL, pengambilan


batu masih dilakukan melalui pembedahan terbuka. Pembedahan terbuka itu

antara lain adalah: pielolitotomi atau nefrolitotomi untuk mengambil batu

pada saluran ginjal, dan ureterolitotomi untuk batu di ureter. Tidak jarang

pasien harus menjalani tindakan nefrektomi atau pengambilan ginjal karena

ginjalnya sudah tidak berfungsi dan berisi nanah (pionefrosis), korteksnya

sudah sangat tipis, atau mengalami pengkerutan akibat batu saluran kemih

yang menimbulkan obstruksi atau infeksi yang menahun.

5. Pemasangan Stent

Meskipun bukan pilihan terapi utama, pemasangan stent ureter terkadang

memegang peranan penting sebagai tindakan tambahan dalam penanganan

batu ureter. Misalnya pada penderita sepsis yang disertai tanda-tanda obstruksi,

pemakaian stent sangat perlu. Juga pada batu ureter yang melekat (impacted).

Setelah batu dikeluarkan dari saluran kemih, tindakan selanjutnya yang

tidak kalah pentingnya adalah upaya menghindari timbulnya kekambuhan.

Angka kekambuhan batu saluran kemih rata-rata 7% per tahun atau kurang

lebih 50% dalam 10 tahun.


BAB II

KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian Keperawatan

Pengkajian adalah data dasar utama proses keperawatan yang tujuannya

adalah untuk memberikan gambaran secara terus menerus mengenai keadaan

kesehatan klien yang memungkinkan perawat asuhan keperawatan kepada

klien.

a. Identitas pasien yaitu: mencakup nama, umur, agama, alamat, jenis kelamin,

pendidikan, perkerjaan, suku, tanggal masuk, no. MR, identitas keluarga,

dll.

b. Riwayat Kesehatan

 Riwayat Penyakit Sekarang

Biasanya klien mengeluh nyeri pinggang kiri hilang timbul, nyeri

muncul dari pinggang sebelah kiri dan menjalar ke depan sampai ke

penis. Penyebab nyeri tidak di ketahui.

 Riwayat Penyakit Dahulu

Kemungkinan klien sering mengkonsumsi makanan yang kaya vit D,

klien suka mengkonsumsi garam meja berlebihan, dan mengkonsumsi

berbagai macam makanan atau minuman dibuat dari susu/ produk susu.

 Riwayat Penyakit Keluarga

Dikaji apakah keluarga klien mengalami batu ginjal atau penyakit

lainnya.
Berdasarkan klasifikasi Doenges, riwayat keperawatan yang perlu

dikaji adalah:

a. Aktivitas/istirahat:

Gejala:

 Riwayat pekerjaan monoton, aktivitas fisik rendah, lebih banyak duduk

 Riwayat bekerja pada lingkungan bersuhu tinggi

 Keterbatasan mobilitas fisik akibat penyakit sistemik lainnya (cedera

serebrovaskuler, tirah baring lama).

b. Sirkulasi

Tanda:

 Peningkatan TD, HR (nyeri, ansietas, gagal ginjal)

 Kulit hangat dan kemerahan atau pucat

c. Eliminasi

Gejala:

 Riwayat ISK kronis, obstruksi sebelumnya

 Penrunan volume urine

 Rasa terbakar, dorongan berkemih

 Diare

Tanda:

 Oliguria, hematuria, piouria

 Perubahan pola berkemih

d. Makanan dan cairan:

Gejala:

 Mual/muntah, nyeri tekan abdomen


 Riwayat diet tinggi purin, kalsium oksalat dan atau fosfat

 Hidrasi yang tidak adekuat, tidak minum air dengan cukup

Tanda:

 Distensi abdomen, penurunan/tidak ada bising usus

 Muntah

e. Nyeri/kenyamanan:

Gejala:

Nyeri hebat pada fase akut (nyeri kolik), lokasi nyeri tergantung lokasi batu

(batu ginjal menimbulkan nyeri dangkal konstan)

Tanda:

 Perilaku berhati-hati, perilaku distraksi

 Nyeri tekan pada area ginjal yang sakit

f. Keamanan:

Gejala:

 Penggunaan alkohol

 Demam/menggigil

g. Penyuluhan/pembelajaran:

Gejala:

 Riwayat batu saluran kemih dalam keluarga, penyakit ginjal, hipertensi,

gout, ISK kronis

 Riwayat penyakit usus halus, bedah abdomen sebelumnya,

hiperparatiroidisme

 Penggunaan antibiotika, antihipertensi, natrium bikarbonat, alopurinul,

fosfat, tiazid, pemasukan berlebihan kalsium atau vitamin.


B. Diagnosa Keperawatan (NANDA)

 Pre- Operasi

1. Nyeri (akut) berhubungan dengan peningkatan frekuensi/dorongan

kontraksi ureteral

2. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan stimulasi kandung

kemih oleh batu, iritasi ginjal dan ureter, obstruksi mekanik dan

peradangan.

3. Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan

mual/muntah (iritasi saraf abdominal dan pelvis ginjal atau kolik ureter,

diuresis pasca obstruksi.

4. Ansietas berhubungan dengan kurang terpajan informasi tentang

penyakit

5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi

berhubungan dengan kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap

informasi, keterbatasan kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi

yang ada.

 Post Operasi

1. Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan

2. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan tindakan invasive.


C. Rencana/ Intervensi Keperawatan
 Pre-operasi
Diagnosa Keperawatan/ Masalah Rencana keperawatan
Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Nyeri akut NOC : NIC :
Definisi :  Pain Level, Pain Management
Pengalaman sensori yang tidak  pain control,  Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
menyenangkan dan pengalaman  comfort level termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
emosional yang muncul secara aktual Kriteria hasil: kualitas dan faktor presipitasi
atau potensial kerusakan jaringan atau  Mampu mengontrol nyeri (tahu  Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
menggambarkan adanya kerusakan penyebab nyeri, mampu  Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk
(Asosiasi Studi Nyeri Internasional): menggunakan tehnik mengetahui pengalaman nyeri pasien
serangan mendadak atau pelan nonfarmakologi untuk  Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
intensitasnya dari ringan sampai berat mengurangi nyeri, mencari  Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
yang dapat diantisipasi dengan akhir bantuan)  Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang
yang dapat diprediksi dan dengan  Melaporkan bahwa nyeri ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau
durasi kurang dari 6 bulan. berkurang dengan menggunakan  Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan
Batasan karakteristik : manajemen nyeri menemukan dukungan
 Laporan secara verbal atau non  Mampu mengenali nyeri (skala,  Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri
verbal intensitas, frekuensi dan tanda seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
 Fakta dari observasi nyeri)  Kurangi faktor presipitasi nyeri
 Posisi antalgic untuk  Menyatakan rasa nyaman setelah  Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non
menghindari nyeri nyeri berkurang farmakologi dan inter personal)

 Gerakan melindungi  Tanda vital dalam rentang normal  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan
 Tingkah laku berhati-hati  Tidak mengalami gangguan tidur intervensi

 Muka topeng  Ajarkan tentang teknik non farmakologi

 Gangguan tidur (mata sayu,  Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri


 Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
tampak capek, sulit atau gerakan
 Tingkatkan istirahat
kacau, menyeringai)
 Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan
 Terfokus pada diri sendiri
tindakan nyeri tidak berhasil
 Fokus menyempit (penurunan
 Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri
persepsi waktu, kerusakan proses
Analgesic Administration
berpikir, penurunan interaksi
 Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat
dengan orang dan lingkungan)
nyeri sebelum pemberian obat
 Tingkah laku distraksi, contoh :
 Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan
jalan-jalan, menemui orang lain
frekuensi
dan/atau aktivitas, aktivitas
 Cek riwayat alergi
berulang-ulang)
 Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari
 Respon autonom (seperti
analgesik ketika pemberian lebih dari satu
diaphoresis, perubahan tekanan
darah, perubahan nafas, nadi dan  Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan
dilatasi pupil) beratnya nyeri
 Perubahan autonomic dalam  Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis
tonus otot (mungkin dalam optimal
rentang dari lemah ke kaku)  Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan
 Tingkah laku ekspresif (contoh : nyeri secara teratur
gelisah, merintih, menangis,  Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian
waspada, iritabel, nafas analgesik pertama kali
panjang/berkeluh kesah)  Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri
 Perubahan dalam nafsu makan hebat
dan minum  Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek
Faktor yang berhubungan : samping)
Agen injuri (biologi, kimia, fisik,
psikologis).

Diagnosa Keperawatan/ Masalah Rencana keperawatan


Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Resiko defisit volume cairan NOC: NIC :
Definisi :  Fluid balance Fluid management
Berisiko mengalami dehidrasi  Hydration  Timbang popok/pembalut jika diperlukan
vaskular,seluler, atau intraseluler.  Nutritional Status : Food  Pertahankan catatan intake dan output yang
Faktor risiko: and Fluid Intake akurat
- Kehilangan cairan aktif Kriteria Hasil :  Monitor status hidrasi ( kelembaban membran
- Kurang pengetahuan  Mempertahankan urine mukosa, nadi adekuat, tekanan darah
- Penyimpangan yang output sesuai dengan usia ortostatik ), jika diperlukan
mempengaruhi absorp cairan dan berat badan, BJ urine  Monitor vital sign
- Penyimpangan yang normal, HT normal  Monitor masukan makanan / cairan dan hitung
mempengaruhi akses cairan  Tekanan darah, nadi, suhu intake kalori harian
- Penyimpangan yang tubuh dalam batas normal  Lakukan terapi IV
mempengaruhi asupan cairan  Tidak ada tanda tanda  Monitor status nutrisi
- Kehilangan berlebihan dehidrasi, Elastisitas turgor  Berikan cairan
melalui rute normal misalnya kulit baik, membran  Berikan cairan IV pada suhu ruangan
diare mukosa lembab, tidak ada  Dorong masukan oral
- Usia lanjut rasa haus yang berlebihan  Berikan penggantian nesogatrik sesuai output
- Berat badan ekstrim  Dorong keluarga untuk membantu pasien
- Faktor yang mempengaruhi makan
kebutuhan cairan (status  Tawarkan snack ( jus buah, buah segar)
hipermetabolik)  Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih
- Kegagalan fungsi regulator muncul memburuk
- Kehilangan cairan melalui  Atur kemungkinan tranfusi
rute abnormal (misalnya  Persiapan untuk tranfusi
selang menetap)
- Agen fermasutikal (misalnya
diuretik).

Diagnosa Keperawatan/ Masalah Rencana keperawatan

Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Ketidakseimbangan nutrisi NOC: Kaji adanya alergi makanan


kurang dari kebutuhan tubuh  Nutritional status: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan
Adequacy of nutrient jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan
Definisi: Asupan nutrisi tidak cukup
 Nutritional Status : food pasien
untuk memenuhi kebutuhan
and Fluid Intake Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi
metabolik.
 Weight Control serat untuk mencegah konstipasi
Batasan karakteristik: Kriteria Hasil: Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan
 Kram abdomen  Adanya peningkatan makanan harian.
 Nyeri abdomen berat badan sesuai Monitor adanya penurunan BB dan gula darah
 Menghindari makanan dengan tujuan Monitor lingkungan selama makan
 Berat badan 20% atau lebih di  Berat badan ideal sesuai Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama
bawah berat badan ideal dengan tinggi badan jam makan
 Kerapuhan kapiler  Mampu mengidentifikasi Monitor turgor kulit

 Diare kebutuhan nutrisi Monitor kekeringan, rambut kusam, total protein,

 Kehilangan rambut berlebihan  Tidak ada tanda –tanda Hb dan kadar Ht

 Bising usus hiperaktif malnutrisi Monitor mual dan muntah


 Menunjukkan Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan
 Kurang makanan
peningkatan fungsi jaringan konjungtiva
 Kurang informasi
pengecapan dari menelan Monitor intake nuntrisi
 Kurang minat pada makanan
 Tidak terjadi penurunan Informasikan pada klien dan keluarga tentang
 Penurunan berat badan dengan
berat badan yang berarti manfaat nutrisi
asupan makanan adekuat
Kolaborasi dengan dokter tentang kebutuhan
 Kesalahan konsepsi
suplemen makanan seperti NGT/ TPN
 Kesalahan informasi
 Membran mukosa pucat
 Ketidakmampuan memakan sehingga intake cairan yang adekuat dapat
 Tonus otot menurun dipertahankan.
 Mengeluh gangguan sensasi Atur posisi semi fowler atau fowler tinggi selama
rasa makan

 Mengeluh asupan makanan Kelola pemberan anti emetik:.....

berkurang dari RDA Anjurkan banyak minum

(recommended daily allowance) Pertahankan terapi IV line

 Cepat kenyang setelah makan Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila

 Sariawan rongga mulut lidah dan cavitas oval

 Steatorea
 Kelemahan otot pengunyah
 Kelemahan otot untuk menelan

Faktor-faktor yang berhubungan:


 Faktor biologis
 Faktor ekonomi
 Ketidakmampuan untuk
mengabsorpsi nutrien
 Ketidakmampuan untuk
mencerna makanan
 Ketidakmampuan untuk
menelan makanan
 Faktor psikologis

Diagnosa Keperawatan/ Masalah Rencana keperawatan


Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Ansietas NOC : NIC :
- Anxiety self control
Definisi: Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)
- Anxiety level
Perasaan ketidaknyamanan atau
- koping  Gunakan pendekatan yang menenangkan
kekhawatiran yang samar disertai
Kriteria hasil:  Nyatakan dengan jelas harapan terhadap
respon autonom (sumber sering pelaku pasien
 Klien mampu
kali tidak spesifik atau tidak
mengidentifikasi dan  Jelaskan semua prosedur dan apa yang
diketahui oleh individu; perasaan dirasakan selama prosedur
mengungkapkan gejala
takut yang disebabkan oleh
cemas  Temani pasien untuk memberikan keamanan
antisipasi terhadap bahaya. Hal ini dan mengurangi takut
 Mengidentifikasi,
merupakan isyarat kewaspadaan
mengungkapkan dan
yang memperingatkan individu menunjukkan tehnik untuk  Berikan informasi faktual mengenai
akan adanya bahaya dan mengontol cemas diagnosis, tindakan prognosis
memampukan individu untuk  Vital sign dalam batas  Libatkan keluarga untuk mendampingi klien
bertindak menghadapi ancaman. normal  Instruksikan pada pasien untuk menggunakan
 Postur tubuh, ekspresi tehnik relaksasi
Batasan karakteristik:
 Perilaku:
wajah, bahasa tubuh dan  Dengarkan dengan penuh perhatian
tingkat aktivitas  Identifikasi tingkat kecemasan
- Penurunan produktivitas
menunjukkan  Bantu pasien mengenal situasi yang
- Gerakan yang ireleven
berkurangnya kecemasan menimbulkan kecemasan
- Gelisah
- Melihat sepintas  Dorong pasien untuk mengungkapkan
- Insomnia perasaan, ketakutan, persepsi
- Kontak mata yang buruk  Berikan obat untuk mengurangi kecemasan
- Mengekspresikan
kekhwatiran karena
perubahan dalam
peristiwa hidup
- Agitasi
- Mengintai
- Tampak waspada
 Afektif:
- Gelisah,distres
- Kesedihan yang
mendalam
- Ketakutan
- Perasaaan tidak adekuat
- Berfokus pada diri sendiri
- Peningkatan
kewaspadaan
- Iritabilitas
- Gugup senang berlebihan
- Rasa nyeri yang
meningkatkan
ketidakberdayaan
- Peningkatan rasa
ketidakberdayaan yang
persisten
- Bingung, menyesal.
- Ragu atau tidak percaya
diri
- Khawatir
 Fisiologis
- Wajah tegang, tremor
tangan
- Peningkatan keringat
- Peningkatan ketegangan
- Gemetar atau tremor
- Suara bergetar
 Simpatik
- Anoreksia
- Eksitasi kardiovaskuler
- Diare,mulut kering
- Wajah merah
- Jantung berdebar-debar
- Peningkatan tekanan
darah
- Peningkatan refleks
- Peningkatan frekuensi
pernafasan
- Pupil melebar
- Kesulitan bernafas
- Vasokontriksi superfisial
- Lemah, kedutan pada otot

 Parasimpatik
- Nyeri abdomen
- Penurunan tekanan darah
- Penurunan denyut nadi
- Diare, mual,vertigo
- Letih, gangguan tidur
- Kesemutan pada
ekstremitas
- Sering berkemih
- Anyang-anyangan
- Dorongan segera
berkemih
 Kognitif
- Menyadari gejala
fisiologis
- Bloking pikiran, konfusi
- Penurunan lapang
persepsi
- Kesulitan berkonsentrasi
- Penurunan kemampuan
untuk belajar
- Penurunan kemampuan
untuk memecahkan
masalah
- Ketakutan terhadap
konsekuensi yang tidak
spesifik
- Lupa, gangguan
perhatian
- Khawatir, melamun
- Cenderung menyalahkan
orang lain.
Faktor yang berhubungan:
 Perubahan dalam(status
ekonomi, lingkungan, status
kesehatan, pola
interaksi,fungsi peran, status
peran)
 Pemajanan toksin
 Terkait keluarga
 Herediter
 Infeksi/kontaminan
interpersonal
 Penularan penyakit
interpersonal
 Krisis maturasi
 Krisis situasional
 Stres, ancaman kematian
 Penyalahgunaan zat
 Ancaman pada (status
ekonomi, lingkungan, status
kesehatan, pola interaksi,
fungsi peran, status peran,
konsep diri)
 Konflik tidak disadari
mengenai tujuan penting
hidup
 Konflik tidak disadari
mengenai nilai yang esensial
atau penting.
 Kebutuhan yang tidak
dipenuhi
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Deficit Pengetahuan NOC: NIC :
Definisi: Ketiadaan atau defisiensi  Knowledge : disease
Teaching: disease process
informasi kognitif yang berkaitan process
dengan topic tertentu.  Knowledge : health  Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan

Batasan karakteristik: Behavior pasien tentang proses penyakit yang spesifik.

 Perilaku hiperbola Kriteria hasil:  Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan

 Pasien bagaimana hal ini berhubungan dengan


 Ketidakakuratan mengikuti dan keluarga
menyatakan pemahaman anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.
perintah
 Gambarkan tanda dan gejala yang biasa
 Ketidakakuratan mengikuti tentang penyakit, kondisi,
prognosis dan program muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat
tes
 Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang
 Perilaku tidak tepat (mis., pengobatan
 Pasien dan keluarga mampu tepat
hysteria, bermusuhan, agitasi,
apatis) melaksanakan prosedur  Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan
yang dijelaskan secara cara yang tepat
 Pengungkapan masalah
benar  Sediakan informasi pada pasien tentang

Factor yang berhubungan:  Pasien dan keluarga mampu kondisi, dengan cara yang tepat

 Keterbatasan kognitif menjelaskan kembali apa  Sediakan bagi keluarga informasi tentang
yang dijelaskan perawat/tim kemajuan pasien dengan cara yang tepat
 Salah interpretasi informasi
kesehatan lainnya  Diskusikan perubhan gaya hidup yang
 Kurang pajanan
mungkin diperlukan untuk mencegah
 Kurang minat dalam belajar
komplikasi di masa yang akan dating dan atau
 Kurang dapat mengingat
proses pengontrolan penyakit.
 Tidak familier dengan
 Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
sumber informasi.
 Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion dengan cara
yang tepat atau diindikasikan
 Rujuk pasien pada grup atau agensi di
komunitas lokal dengan cara yang tepat.
 Instruksikan pasien mengenai tanda gejala
untuk melaporkan pada pemberi perawatan
kesehatan dengan cara yang tepat.
 Post operasi

Diagnosa Keperawatan/ Masalah Rencana keperawatan


Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Nyeri akut NOC : NIC :
 Pain Level, Pain Management
Definisi :  pain control,  Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
Sensori yang tidak menyenangkan  comfort level termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
dan pengalaman emosional yang kualitas dan faktor presipitasi
muncul secara aktual atau Kriteria hasil:  Observasi reaksi nonverbal dari
potensial kerusakan jaringan atau  Mampu mengontrol nyeri ketidaknyamanan
menggambarkan adanya (tahu penyebab nyeri, mampu  Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk
kerusakan (Asosiasi Studi Nyeri menggunakan tehnik mengetahui pengalaman nyeri pasien
Internasional): serangan nonfarmakologi untuk  Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
mendadak atau pelan intensitasnya mengurangi nyeri, mencari  Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
dari ringan sampai berat yang bantuan)  Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain
dapat diantisipasi dengan akhir  Melaporkan bahwa nyeri tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa
yang dapat diprediksi dan dengan berkurang dengan lampau
durasi kurang dari 6 bulan. menggunakan manajemen  Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan
nyeri menemukan dukungan
Batasan karakteristik :  Mampu mengenali nyeri  Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi
 Laporan secara verbal atau (skala, intensitas, frekuensi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan
non verbal dan tanda nyeri) kebisingan
 Fakta dari observasi  Menyatakan rasa nyaman  Kurangi faktor presipitasi nyeri
 Posisi antalgic untuk setelah nyeri berkurang  Pilih dan lakukan penanganan nyeri
menghindari nyeri  Tanda vital dalam rentang (farmakologi, non farmakologi dan inter

 Gerakan melindungi normal personal)

 Tingkah laku berhati-hati  Tidak mengalami gangguan  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan
 Muka topeng tidur intervensi
 Ajarkan tentang teknik non farmakologi
 Gangguan tidur (mata sayu,
 Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
tampak capek, sulit atau
gerakan kacau, menyeringai)  Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
 Tingkatkan istirahat
 Terfokus pada diri sendiri
 Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan
 Fokus menyempit (penurunan
dan tindakan nyeri tidak berhasil
persepsi waktu, kerusakan
 Monitor penerimaan pasien tentang manajemen
proses berpikir, penurunan
nyeri
interaksi dengan orang dan
lingkungan)
 Tingkah laku distraksi, contoh Analgesic Administration
: jalan-jalan, menemui orang  Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan
lain dan/atau aktivitas, derajat nyeri sebelum pemberian obat
aktivitas berulang-ulang)  Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan
 Respon autonom (seperti frekuensi
diaphoresis, perubahan  Cek riwayat alergi
tekanan darah, perubahan  Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi
nafas, nadi dan dilatasi pupil) dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu
 Perubahan autonomic dalam  Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan
tonus otot (mungkin dalam beratnya nyeri
rentang dari lemah ke kaku)  Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan

 Tingkah laku ekspresif dosis optimal

(contoh : gelisah, merintih,  Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk

menangis, waspada, iritabel, pengobatan nyeri secara teratur

nafas panjang/berkeluh kesah)  Monitor vital sign sebelum dan sesudah

 Perubahan dalam nafsu makan pemberian analgesik pertama kali

dan minum  Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri


hebat

Faktor yang berhubungan :  Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala

Agen injuri (biologi, kimia, fisik, (efek samping)

psikologis).

Diagnosa Keperawatan/ Masalah Rencana keperawatan


Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Kerusakan integritas kulit NOC : NIC : Pressure Management
Definisi: - Tissue Integrity : Skin and  Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian
Perubahan atau gangguan, Mucous Membranes yang longgar
epidermis dan/atau dermis - Hemodialis akses  Hindari kerutan pada tempat tidur
 Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan
Batasan karakteristik: Kriteria hasil: kering
 Kerusakan lapisan kulit atau  Integritas kulit yang baik  Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua
dermis bisa dipertahankan jam sekali
 Gangguan permukaan kulit (sensasi, elastisitas,  Monitor kulit akan adanya kemerahan
atau epidermis temperatur, hidrasi,  Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah
 Invasi struktur tubuh pigmentasi) yang tertekan
 Tidak ada luka/lesi pada  Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
Faktor yang berhubungan: kulit  Monitor status nutrisi pasien

 Eksternal :  Perfusi jaringan baik


- Zat kimia, radiasi  Menunjukkan  Memandikan pasien dengan sabun dan air
- Usia yang ekstrim pemahaman dalam proses hangat
- Kelembaban perbaikan kulit dan  Kaji lingkungan dan peralatan yang
- Hipertermia atau hipotermia mencegah terjadinya menyebabkan tekanan
- Faktor mekanik (misalnya sedera berulang  Observasi luka : lokasi, dimensi, kedalaman
gaya gunting atau shearing  Mampu melindungi kulit luka, karakteristik,warna cairan, granulasi,
forces) dan mempertahankan jaringan nekrotik, tanda-tanda infeksi lokal,
- Medikasi kelembaban kulit dan formasi traktus
- Lembab perawatan alami  Ajarkan pada keluarga tentang luka dan
- Imobilitasi fisik perawatan luka
 Internal :  Kolaburasi ahli gizi pemberian diae TKTP,
- Perubahan status cairan vitamin
- Perubahan pigmentasi  Cegah kontaminasi feses dan urin
- Perubahan turgor (elastisitas  Lakukan tehnik perawatan luka dengan steril
kulit)  Berikan posisi yang mengurangi tekanan pada
- Faktor perkembangan luka
- Ketidakseimbangan status
nutrisi (obesitas, emasiasi)
- Penurunan imunologi
- Penurunan sirkulasi
- Kondisi gangguan metabolik
- Gangguan sensasi
- Tonjolan tulang
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Zaidin. 2009. Dasar-dasar Dokumentasi Keperawatan. Jakarta : EGC.


Anonim. 2015. Batu Ginjal. [internet] tersedia dalam
http://www.alodokter.com/batu-ginjal diakses pada 27 Agustus 2019
pukul 18.00 WITA.
Elizabeth J. Corwin. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Kowalak, Jennifer P., dkk. 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Kuntarti, 2009. Fisiologi Ginjal dan Sistem Saluran Kemih. Jakarta: Bagian Urologi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Lina N, 2008. Faktor-Faktor Kejadian Batu Saluran Kemih Pada Laki-Laki. Tesis
Mahasiswa Pasca Sarjana Epidemiologi Universitas Diponegoro.
[internet] tersedia dalam http://eprints.undip.ac.id/18458/1/Nur_Lina.pdf
diakses pada 8 Oktober 2015 pukul 18.00 WITA.
Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA NIC-NOC. Edisi Revisi Jilid 2.
Yogyakarta: Penerbit Mediaction.
Nursalam. 2011. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem
Perkemihan. Jakarta : Salemba Medika.
Purnomo, B.B. 2011. Dasar-Dasar Urologi. Edisi ke 3. Jakarta: CV. Sagung Seto.
Rasad, Sjahriar. 2010. Radiologi Diagnostik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Edisi Kedua. Jakarta: Penerbit Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Rully, M. Azharry S. 2010. Batu Staghorn Pada Wanita: Faktor Risiko dan Tata
Laksananya. Vol. 1 No. 01. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran
Indonesia, Jakarta
Sjamsuhidayat. De jong, wim. Buku ajar ilmu Bedah. Hlmn 1024-1034. EGC :
Jakarta.
Shires, Schwartz. Intisari prinsip – prinsip ilmu bedah. ed-6. EGC : Jakarta. 588-
589
http://www.aku.edu/akuh/health_awarness/pdf/Stones-in-the-Urinary-Tract.pdf.
akses tanggal 27 Agustus 2019.