Anda di halaman 1dari 14

BAB I

KONSEP DASAR

A. Definisi

Hipertropi prostat adalah pertumbuhan dari nodula-nodula

fibroadenomatosa majemuk dalam prostat , jaringan hiperplastik terutama terdiri

dari kelenjar dengan stroma fibrosa yang jumlahnya berbeda-beda ( price, 2005)

Hipertropi prostat adalah pembesaran adenomatous dari kelenjar prostat ,

lebih dari setengahnyadan orang yang usianya diatas 50 tahun dan 75% pria

yang usianya 70 tahun menderita pemebesaran prostat ( C.long, 1996).

Sehingga hipertropi prostat adalah pembesaran kelenjar prostat yang

disebabkan oleh bertambahnya sel-sel glnaduler dan intertisial atau pertumbuhan

nodula-nodula fibroadenomatosa yang menutupi orifisium uretra sehingga

menyumbat aliran urin dan terjadi pada usia lanjut,

Prostat merupakan kelenjar berbentuk konus terbalik yang dilapisi oleh

kapsul fibromuskuler, yang terletak di sebelah inferior vesika urinaria,


mengelilingi bagian proksimal uretra (uretra pars prostatika) dan berada di

sebelah anterior rektum. Bentuknya sebesar buah kenari dengan berat normal

pada orang dewasa ± 20 gram, dengan jarak basis ke apek ± 3 cm, lebar yang

paling jauh 4 cm dengan tebal 2,5 cm. Kelenjar prostat merupakan suatu kelenjar

yang terdiri 30-50 kelenjar yang terbagi atas 4 lobus yaitu :

a. Lobus medius.

b. Lobus lateralis.

c. Lobus anterior.

d. Lobus posterior.

Menurut Mc Neal (1976) dalam Hariyanto 2008 yaitu membagi kelenjar

prostat dalam beberapa zona, antara lain adalah zona perifer, zona sentral, zona

transisional, zona fibromuskuler anterior dan zona periuretral. Sebagian besar

hiperplasia prostat terdapat pada zona transisional yang letaknya proksimal dari

sfincter eksternus di kedua sisi dari verumontanum dan di zona periuretral.

Kedua zona tersebut hanya merupakan 2% dari seluruh volume prostat.

Sedangkan pertumbuhan karsinoma prostat bersal dari zona perifer.

Prostat mempunyai ± 20 duktus yang bermuara di kanan dari

verumontanum di bagian posterior dari uretra pars prostatika. Di sebelah depan

didapatkan ligamentum pubo prostatika, di sebelah bawah ligamentum

triangulare inferior dan di sebelah belakang didapatkan fascia denonvilliers.

Fascia denonvilliers terdiri dari dua lembar, lembar depan melekat erat dengan

prostat dan vesika seminalis, sedangkan lembar belakang melekat secara

longgar dengan fascia pelvis dan memisahkan prostat dengan rektum. Antara
fascia endopelvic dan kapsul sebenarnya dari prostat didapatkan jaringan peri

prostat yang berisi pleksus prostatovesikal.

Pada potongan melintang kelenjar prostat terdiri dari :

a. Kapsul anatomis Sebagai jaringan ikat yang mengandung otot polos yang

membungkus kelenjar prostat.

b. Jaringan stroma yang terdiri dari jaringan fibrosa dan jaringan muskuler

Jaringan kelenjar yang terbagi atas 3 kelompok bagian :

a. Bagian luar disebut glandula principalis atau kelenjar prostat sebenarnya

yang menghasilkan bahan baku sekret.

b. Bagian tengah disebut kelenjar submukosa, lapisan ini disebut juga sebagai

adenomatous zone.

c. Di sekitar uretra disebut periuretral gland atau glandula mukosa yang

merupakan bagian terkecil,bagian ini sering membesar atau mengalami

hipertrofi pada usia lanjut.

BPH sering terjadi pada lobus lateralis dan lobus medialis karena

mengandung banyak jaringan kelenjar, tetapi tidak mengalami pembesaran pada

bagian posterior daripada lobus medius (lobus posterior) yang merupakan bagian

tersering terjadinya perkembangan suatu keganasan prostat. Sedangkan lobus

anterior kurang mengalami heperplasi karena sedikit mengandung jaringan

kelenjar. Secara histologis, prostat terdiri atas kelenjar-kelenjar yang dilapisi

epitel thoraks selapis dan di bagian basal terdapat juga sel-sel kuboid, sehingga

keseluruhan epitel tampak menyerupai epitel berlapis.

Kelenjar prostat berfungsi menambah cairan alkalis pada cairan seminalis

berguna untuk melindungi spermatozoa terhadap tekanan yang terdapat pada


uretra dan vagina. Kelenjar bulbo uretralis, terletak di sebelah bawah dari

kelenjar prostat panjangnya 2-5 cm, fungsinya sama dengan fungsi kelenjar

prostat.

B. Etiologi

Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya

hipertropi prostat, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hipertropi

prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan

proses aging (menjadi tua). Beberapa teori atau hipotesis yang diduga sebagai

penyebab timbulnya hipertropi prostat adalah:

a. Teori Hormonal Teori ini dibuktikan bahwa sebelum pubertas dilakukan

kastrasi maka tidak terjadi BPH, juga terjadinya regresi BPH bila dilakukan

kastrasi. Selain androgen (testosteron/DHT), estrogen juga berperan untuk

terjadinya BPH. Dengan bertambahnya usia akan terjadi perubahan


keseimbangan hormonal, yaitu antara hormon testosteron dan hormon

estrogen, karena produksi testosteron menurun dan terjadi konversi

testosteron menjadi estrogen pada jaringan adiposa di perifer dengan

pertolongan enzim aromatase, dimana sifat estrogen ini akan merangsang

terjadinya hiperplasia pada stroma, sehingga timbul dugaan bahwa

testosteron diperlukan untuk inisiasi terjadinya proliferasi sel tetapi kemudian

estrogenlah yang berperan untuk perkembangan stroma. Kemungkinan lain

ialah perubahan konsentrasi relatif testosteron dan estrogen akan

menyebabkan produksi dan potensiasi faktor pertumbuhan lain yang dapat

menyebabkan terjadinya pembesaran prostat.

Dari berbagai percobaan dan penemuan klinis dapat diperoleh kesimpulan,

bahwa dalam keadaan normal hormon gonadotropin hipofise akan

menyebabkan produksi hormon androgen testis yang akan mengontrol

pertumbuhan prostat. Dengan makin bertambahnya usia, akan terjadi

penurunan dari fungsi testikuler (spermatogenesis) yang akan menyebabkan

penurunan yang progresif dari sekresi androgen. Hal ini mengakibatkan

hormon gonadotropin akan sangat merangsang produksi hormon estrogen

oleh sel sertoli. Dilihat dari fungsional histologis, prostat terdiri dari dua

bagian yaitu sentral sekitar uretra yang bereaksi terhadap estrogen dan bagian

perifer yang tidak bereaksi terhadap estrogen.

b. Teori Growth Factor (faktor pertumbuhan) Peranan dari growth factor ini

sebagai pemacu pertumbuhan stroma kelenjar prostat. Terdapat empat peptic

growth factor yaitu; basic transforming growth factor, transforming growth

factor b1, transforming growth factor b2, dan epidermal growth factor.
c. Teori Peningkatan Lama Hidup Sel-sel Prostat karena Berkuramgnya Sel

yang Mati

d. Teori Sel Stem (stem cell hypothesis) Seperti pada organ lain, prostat dalam

hal ini kelenjar periuretral pada seorang dewasa berada dalam keadaan

keseimbangan “steady state”, antara pertumbuhan sel dan sel yang mati,

keseimbangan ini disebabkan adanya kadar testosteron tertentu dalam

jaringan prostat yang dapat mempengaruhi sel stem sehingga dapat

berproliferasi. Pada keadaan tertentu jumlah sel stem ini dapat bertambah

sehingga terjadi proliferasi lebih cepat. Terjadinya proliferasi abnormal sel

stem sehingga menyebabkan produksi atau proliferasi sel stroma dan sel

epitel kelenjar periuretral prostat menjadi berlebihan.

e. Teori Dihydro Testosteron (DHT) Testosteron yang dihasilkan oleh sel leydig

pada testis (90%) dan sebagian dari kelenjar adrenal (10%) masuk dalam

peredaran darah dan 98% akan terikat oleh globulin menjadi sex hormon

binding globulin (SHBG). Sedang hanya 2% dalam keadaan testosteron

bebas. Testosteron bebas inilah yang bisa masuk ke dalam “target cell” yaitu

sel prostat melewati membran sel langsung masuk kedalam sitoplasma, di

dalam sel, testosteron direduksi oleh enzim 5 alpha reductase menjadi 5

dyhidro testosteron yang kemudian bertemu dengan reseptor sitoplasma

menjadi “hormone receptor complex”. Kemudian “hormone receptor

complex” ini mengalami transformasi reseptor, menjadi “nuclear receptor”

yang masuk kedalam inti yang kemudian melekat pada chromatin dan

menyebabkan transkripsi m-RNA. RNA ini akan menyebabkan sintese

protein menyebabkan terjadinya pertumbuhan kelenjar prostat.


f. Teori Reawakening Mc Neal tahun 1978 menulis bahwa lesi pertama bukan

pembesaran stroma pada kelenjar periuretral (zone transisi) melainkan suatu

mekanisme “glandular budding” kemudian bercabang yang menyebabkan

timbulnya alveoli pada zona preprostatik. Persamaan epiteleal budding dan

“glandular morphogenesis” yang terjadi pada embrio dengan perkembangan

prostat ini, menimbulkan perkiraan adanya “reawakening” yaitu jaringan

kembali seperti perkembangan pada masa tingkat embriologik, sehingga

jaringan periuretral dapat tumbuh lebih cepat dari jaringan sekitarnya,

sehingga teori ini terkenal dengan nama teori reawakening of embryonic

induction potential of prostatic stroma during adult hood.

Selain teori-teori di atas masih banyak lagi teori yang menerangkan tentang

penyebab terjadinya BPH seperti; teori tumor jinak, teori rasial dan faktor sosial,

teori infeksi dari zat-zat yang belum diketahui, teori yang berhubungan dengan

aktifitas hubungan seks, teori peningkatan kolesterol, dan Zn yang kesemuanya

tersebut masih belum jelas hubungan sebab-akibatnya.

C. Manifestasi Klinik

Obstruksi prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih maupun

keluhan di luar saluran kemih. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah atau

Lower Urinari Tract Symptoms (LUTS) terdiri atas gejala iritatif dan gejala

obstruktif.

1. Gejala iritatif meliputi:

a. frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat terjadi

pada malam hari (Nocturia) dan pada siang hari.

b. Nokturia yaitu terbangun untuk miksi pada malam hari


c. Urgensi yaitu perasaan ingin miksi yang sangat mendesak dan sulit di

tahan

d. Dysuria yaitu nyeri pada saat miksi

2. Gejala obstruktif meliputi:

a. Rasa tidak lampias sehabis miksi

b. Hesitancy yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali disertai dengan

mengejan yang disebabkan oleh karena otot destrussor buli-buli

memerlukan waktu beberapa lama meningkatkan tekanan intravesikal

guna mengatasi adanya tekanan dalam uretra prostatika

c. Straining yaitu harus mengejan

d. Intermittency yaitu terputus-putusnya aliran kencing yang disebabkan

karena ketidakmampuan otot destrussor dalam pempertahankan tekanan

intra vesika sampai berakhirnya miksi dan waktu miksi yang memanjang

yang akhirnya menjadi retensi urine dan inkontinensia karena overflow.

Untuk menilai tingkat keparahan dari keluhan saluran kemih sebelah

bawah, beberapa ahli urology membuat sistem scoring yang secara

subyektif dapat diisi dan dihitung sendiri oleh pasien.

3. Gejala pada saluran kemih bagian atas Keluhan akibat penyulit hhipertropi

prostat pada saluran kemih bagian atas, berupa gejala obstruksi antara lain:

nyeri pinggang, benjolan di pinggang (yang merupakan tanda dari

hidronefrosis), yang selanjutnya dapat menjadi gagal ginjal dapat ditemukan

uremia, peningkatan tekanan darah, perikarditis, foetoruremik dan neuropati

perifer.
Menurut Long (1996, hal. 339-340), pada pasien post operasi BPH,

mempunyai tanda dan gejala:

1. Hemorogi

a. Hematuri

b. Peningkatan nadi

c. Tekanan darah menurun

d. Gelisah

e. Kulit lembab

f. Temperatur dingin

2. Tidak mampu berkemih setelah kateter diangkat

3. Gejala-gejala intoksikasi air secara dini:

a. bingung

b. agitasi

c. kulit lembab

d. anoreksia

e. mual

f. muntah

D. Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi pada hipertropi prostat adalah:

1. Retensi kronik dapat menyebabkan refluks vesiko-ureter

2. Hidroureter

3. Hidronefrosis

4. Gagal ginjal,proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi pada waktu

miksic.
5. Hernia/hemoroid, karena selalu terdapat sisa urin sehingga menyebabkan

terbentuknya batu.

6. Hematuriaf

7. Sistitis dan Pielonefritis,post operasi

8. Fistula,Striktur pasca operasi

9. Inconentia urine

E. Pemeriksaan Penunjang

1. Laboratorium

2. Meliputi ureum (BUN), kreatinin, elekrolit, tes sensitivitas dan biakan urin

3. Radiologis Intravena pylografi, BNO, sistogram, retrograd, USG, Ct

Scanning, cystoscopy, foto polos abdomen. Indikasi sistogram retrogras

dilakukan apabila fungsi ginjal buruk, ultrasonografi dapat dilakukan secara

trans abdominal atau trans rectal (TRUS = Trans Rectal Ultra Sonografi),

selain untuk mengetahui pembesaran prostat ultra sonografi dapat pula

menentukan volume buli-buli, mengukut sisa urine dan keadaan patologi

lain seperti difertikel, tumor dan batu (Syamsuhidayat dan Wim De Jong,

1997)

4. Prostatektomi Retro Pubis

5. Pembuatan insisi pada abdomen bawah, tetapi kandung kemih tidak dibuka,

hanya ditarik dan jaringan adematous prostat diangkat melalui insisi pada

anterior kapsula prosta

6. Prostatektomi Parineal

7. Yaitu pembedahan dengan kelenjar prostat dibuang melalui perineum.


F. Penatalaksanaan

a. Terapi

Pemberian terapi tergantung pada penyebab, keparahan obstruksi, dan

kondisi klien. Jika klien datang ke rumah sakit dalam keadaan darurat karena ia

tidak dapat berkemih, maka kateterisasi segera dilakukan. Kateter yang lazim

mungkin terlalu lunak dan lemas untuk dimasukan melalui uretra kedalam

kandung kemih. Dalam kasus seperti ini, kabel kecil yang di sebut stylet

dimasukan (oleh ahli urology) ke dalam kateter untuk mencegah kateter kolaps

ketika menemui tahanan. Pada kasus yang berat, mungkin digunakan kateter

logam dengan tonjolan kurva prostatik. Kadang suatu insisi dibuat kedalam

kandung kemih (sistostomi suprapubik) untuk drainase yang adekuat. Tujuan

terapi pada pasien hipertropi prostat adalah :

a. Memperbaiki keluhan miksi.

b. Meningkatkan kualitas hidup.

c. Mengurangi intravesika.

d. Mengembalikan fungsi ginjal jika terjadi gagal ginjal.

e. Mengurangi residu urine setelah miksi.

f. Mencegah progresif penyakit.

Tidak semua pasien hipertropi proatat perlu menjalani tindakan medis.

Kadang-kadang mereka mengeluh low urinary tract symptom (LUTS). Ringan

dapat sembuh sendiri tanpa mendapatkan terapi apapun atau hanya dengan

nasehat dan konsultasi saja.


b. Tindakan medis yang bertujuan untuk pengobatan

Tindakan medis pada klien dengan benigna prostat hiperplasia jangka

panjang yang paling baik saat ini adalah tindakan pembedahan yaitu

prostratektomi. Operasi prostratektomi adalah metode dari millin yaitu

melakukan enukleasi kelenjar prostat melalui pendekatan retropublik

intravesik freyer, melalui pendekatan suprapublik transvesika atau

transperineal. Karena pada pemberian obt-obatan atau terapi non inpasif

lainnya membutuhkan jangka waktu yang sangat lama.

Adapun jenis-jenis prostratektomi yaitu :

1) Transurethral Resection Of The Prostate (TURP). Pengangkatan

sebagian atau seluruh kelenjar prostat melalui sistoskop atau resektoskop

yang dimasukan melalui uretra.

2) Prostatektomi Suprapubis. Pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi

yang dibuat di kandung kemih.

3) Prostatektomi Retropubis. Pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi

pada abdomen bagian bawah melalui frosa prostat anterior tanpa

memasuki kandung kemih.

4) Prostatektomi Perineal. Pengankatan kelenjar prostat radikal melalui

sebuah insisi di antara skortum dan rektum.

5) Prostatektomi Reropubis Radikal. Pengangkatan kelenjar prostat

termasuk kapsula, vesikula seminalis, dan jaringan yang berdekatan

melalui sebuah insisi pada abdomen bagian bawah ; uretra di

anastomosiskan ke leher kandung kemih