Anda di halaman 1dari 11

Konduktivitas Apatit Lantanum Silikat Terdoping Timah(IV) Oksida dan

Bismut Oksida
Atiek Rostika Noviyanti*1, Shofia Utari Agustina1, Juliandri1, Yoga Trianzar Malik1, Dani Gustaman
Syarif2, Risdiana3.
1
Department of Chemistry, Faculty of Mathematic and Natural Sciences, Universitas Padjadjaran
Jl. Raya Bandung-Sumedang KM. 21 Jatinangor.
2
PSTNT – BATAN, Jl. Taman Sari 71 Bandung 40132 Indonesia
3
Department of Physic, Faculty of Mathematic and Natural Sciences, Universitas Padjadjaran
Jl. Raya Bandung-Sumedang KM. 21 Jatinangor.
*
Corresponding author: atiek.noviyanti@unpad.ac.id

Abstrak
Apatit lantanium silikat, memiliki struktur terbuka yang memungkinkan strukturnya dimodifikasi
melalui metode doping sehingga berpotensi sebagai elektrolit bahan bakar oksida padat pada suhu
menengah. Teknik doping pada struktur apatit dapat dilakukan pada dua posisi yaitu pada posisi
La dan posisi Si. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh apatit dengan konduktivitas tinggi
yang dilakukan kodoping pada posisi ion La3+ dan ion Si4+ dengan ion Bi3+ dan ion Sn4+ dengan
menggunakan metode hidrotermal. Tahapan penelitian ini meliputi sintesis apatit lantanium silikat
tanpa doping sebagai pembanding dan sintesis lantanium silikat yang didoping di posisi ion La3+
dan ion Si4+ secara bersamaan dengan komposisi Bi (x = 0,5; 1 dan 1,5) dan komposisi Sn (y = 0,1
; 0,3 dan 0,5). Hasil dari identifikasi software highscoreplus bahwa setiap sampel teridentifikasi
mengandung fase sekunder (LaOH3) dan untuk sampel La8,33Bi1Si5,7Sn0,3O26 teridentifikasi
mengandung Bi0,05Sn0,95 sedangkan La7,83Bi1,5Si5,7Sn0,3O26 mengandung Bi24Si12 O40. Adanya
variasi komposisi ion dopan Bi dan Sn dapat mempengaruhi nilai parameter kisi dan nilai
konduktivitas. Variasi komposisi dopan yang menghasilkan konduktivitas tinggi yaitu pada
La7,83Bi1,5Si5,7Sn0,3O26 yaitu 2,71×10-4 S/cm dan nilai energi aktivasi yang dihasilkan ≤ 1,1 eV
yang menandakan bahwa konduktivitas apatit kodoping hasil sintesis dihasilkan dari migrasi ion.

Kata kunci : Apatit Lantanium Silikat, kodoping, metode hidrotermal, sel bahan bakar oksida padat

Pendahuluan
Apatit lantanium silikat adalah mineral unsur tanah jarang yang berbentuk kristal yang memiliki
rumus umum M10(XO4)6Z2 dengan M adalah logam unsur tanah jarang atau alkali tanah, X adalah
unsur blok p, seperti fosfor (P), Silikon (Si) atau germaniun (Ge) (Nakayama et al., 1995). Apatit
lantanum silikat dengan potensi konduktivitas ion oksida yang tinggi dapat digunakan sebagai
elektrolit, terutama digunakan untuk sel bahan bakar oksida padat (Kendrick et al., 2007, Sansom
et al., 2004). Hal ini dimungkinkan karena struktur apatit yang memiliki ion oksigen pada saluran
konduksinya (sumbu-c) (Panteix et al., 2006). Struktur kristal apatit ditunjukkan pada Gambar 1.
Oksida apatit telah berhasil disintesis dengan menggunakan berbagai metode. Hidrotermal
merupakan salah satu metode yang layak untuk sintesis apatit lantanium silikat karena selain suhu
sintesis yang digunakan rendah, metode ini juga memungkinkan didapatkan padatan yang
memiliki kemurnian dan kristalinitas tinggi (Fredov et al., 2006; Noviyanti et al., 2012).
Gambar 1. struktur apatit lantanium silikat dilihat dari arah sumbu-c dengan rumus umum
La9,33+x(SiO4)6O 2+3x/2 (tetrahedral = SiO4, bola biru = La 6h, bola coklat = La 4f, bola
merah = O 2a

Salah satu cara dalam memperoleh elektrolit padat dengan konduktivitas tinggi yaitu dengan
teknik doping. Doping sejumlah ion pada ion La3+ dan ion Si4+ telah dilakukan dan terbukti dapat
mempengaruhi konduktivitasnya (Abram et al., 2005, Sansom et al., 2004, Sansom et al., 2005,
Sansom dan Slater, 2004). Peneliti sebelumnya telah melakukan doping Sn 4+ pada BaCe0,8SnxO3-
𝜎 dengan komposisi 0,05, 0,1, 0,15, 0,2, dan 0,25 dengan nilai konduktivitas 0,007 S/cm pada 973
K (Xie et al., 2009), doping Bi3+ pada Ca10-xBix(PO4)6CuyO2H2-y-δ dengan komposisi 0,5, 1, dan 2
(Pogosova et al., 2015), doping Bi3+ di posisi La3+ dengan komposisi x doping adalah 0,5 dan 1
(Noviyanti et al., 2015) dan Sn4+ di posisi Si4+ dengan komposisi x doping adalah 0,5 dengan nilai
konduktivitas 2,46x10-4 S/cm pada 773 K dan 5,71x10-3 S/cm pada 1073 K (Xiang et al., 2012),
doping Bi3+ dengan komposisi 0≤x≤8 pada La0,8-xBixSr0,2FeO3-δ dengan nilai konduktivitas 100,3
S/cm pada 813 K (Li et al., 2014), kodoping dopan Bi dan In pada BaZr0,8-xIn0,2BixO3-δ dengan
komposisi (x = 0, 0,05, 0,1, dan 0,2) dengan nilai konduktivitas 9,93x10-4 S/cm pada 873 K (Ling
et al., 2016), doping Bi3+ pada La1,65Bi0,1Sr0,25NiO4+δ dengan nilai konduktivitas 9,3 S/cm pada
973 K (Zhu et al., 2017).
Doping secara bersamaan pada La3+ dan Si4+ dengan ion dopan Bi3+ dan Sn4+, belum pernah
diteliti sebelumnya. Berdasarkan paparan tersebut penelitian ini difokuskan pada pengaruh variasi
komposisi doping La3+ dan Si4+ dengan ion Bi3+ dan Sn4+ pada apatit lantanum silikat terhadap
nilai konduktivitasnya.

Metode Penelitian
Sintesis Apatit kodoping

Pada penelitian ini disintesis apatit yaitu La9,33Si6O26, La8,83Bi0,5Si5,9Sn0,1O26,


La8,83Bi0,5Si5,7Sn0,3O26, La8,83Bi0,5Si5,5Sn0,5O26 , La8,33Bi1Si5,7Sn0,3O26 , dan La7,83Bi1,5Si5,7Sn0,3O26
dari prekursor (La2O3; Sigma Aldrich 99,999%) yang sudah dikalsinasi pada 1100oC selama 10
jam dan Na2SiO3 (Na2SiO3; Sigma Aldrich 97%) dan bahan pendoping Bi2O2 dan Sn2O3 dalam
pelarut NaOH (NaOH ; Merck 99%) 3M. Senyawa target dan perkursor yang dibutuhkan
dirangkum dalam Tabel 1.

Tabel 1. Senyawa target dan precursor apatit kodoping Bi3+ di posisi Sn4+

Massa zat pereaksi (g)


Senyawa Target Bahan Utama Bahan Doping
La2O3 Na2SiO3.5H2O Bi2O3 SnO2
La9,33Si6O26 1,6165 1,3534 - -
La8,83Bi0,5Si5,9Sn0,1O26 1,4948 1,3003 0,1211 0,0157
La8,83Bi0,5Si5,7Sn0,3O26 1,4809 1,2445 0,1199 0,0465
La8,83Bi0,5Si5,5Sn0,5O26 1,4672 1,1892 0,1188 0,0769
La8,33Bi1Si5,7Sn0,3O26 1,3723 1,2225 0,2356 0,0457
La7,83Bi1,5Si5,7Sn0,3O26 1,2674 1,2012 0,3472 0,0449

Campuran La2O3, dan Na2SiO3 prekursor untuk doping dimasukkan ke dalam autoklaf dan
dipanaskan dalam oven pada suhu 230oC selama 3 hari. Setelah dingin, campuran yang terbentuk
didekantasi untuk memperoleh endapan yang merupakan material target. Padatan yang dihasilkan
dicuci dengan air demineralisasi (Brataco), untuk menghilangkan pelarut. Serbuk kemudian
dikeringkan dalam oven pada 100oC selama 24 jam untuk menghilangkan air.

Karakterisasi Apatit

Struktur apatit yang dihasilkan dikarakterisasi dengan difraksi sinar-X radiasi Cu-Kα pada
sudut 2θ dalam rentang 10o - 80 o dengan kecepatan 2o/menit. Nilai parameter kisi kristal dan
volumenya kemudian dianalisis dengan menggunakan program Highscoreplus. Refinement
dilakukan dengan memasukkan data parameter kisi oksida standar (diperoleh dari library program)
sebagai inputnya.
Pengaruh doping Bi3+ di posisi Sn4+ pada perubahan konduktivitasnya diuji dengan
spektroskopi impedansi (LCR Meter GW Instek 61056) pada pellet hasil sintering. Kedua sisinya
dilapisi pasta perak, lalu peletnya dipanaskan pada suhu 600ºC selama 10 menit agar pasta perak
mengering dan menempel pada permukaan pelet. Pelet yang telah dilapisi pasta perak kemudian
dihubungkan dengan kawat platina sebagai pengumpul arus listrik. Kawat konduktor dihubungkan
dengan elektroda pembanding dan elektroda pembantu pada sisi permukaan dan permukaan lainya.
rangkaian ini disambungkan ke alat SI. Frekuensi terendah yang digunakan adalah 20 Hz dan
frekuensi tertinggi adalah 5 MHz, tegangan 1V pada suhu pemanasan 300–600 ºC.
Dari hasil pengukuran SI dapat diketahui Z real dan Z imaginer (setelah dikalikan dengan
frekuensi yang digunakan). Untuk mengetahui impedansi totalnya (impedansi dari fasa bulk dan
fasa grain boundary), data Z real, Z imaginer dan frekuensi kemudian dianilisis dengan perangkat
lunak Z view. Nilai konduktivitas dihitung menggunakan persamaan 𝜎 = 𝐿/(𝑅. 𝐴) dengan 𝜎 =
konduktivitas , L = tebal pellet (cm) , R = hambatan (ohm) dan A = luas elektrolit efektif (cm).
Plot antara σ terhadap 1/T menghasilkan kurva Arrhenius, dari kemiringan plot Arrhenius ini
diperoleh nilai Ea (energi aktivasi) konduktivitas ionik apatit lantanum silikat yang terkodoping.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pola difraksi apatit dan apatit kodoping ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Difraktogram XRD apatit kodoping fasa (a) La9,33Si6O26 , (b) La8,83Bi0,5Si5,9Sn0,1O26 ,
(c) La8,83Bi0,5Si5,7Sn0,3O26 , (d) La8,83Bi0,5Si5,5Sn0,5O26 , (e) La8,33Bi1Si5,7Sn0,3O26 , (f)
La7,83Bi1,5Si5,7Sn0,3O26 dengan x menunjukkan puncak fasa sekunder.

Pola difraksi apatit kodoping memiliki kemiripan satu sama lain dan memiliki kemiripan
dengan pola difraksi apatit La9,33Si6O26 yaitu terlihat adanya puncak-puncak difraksi yang muncul
pada daerah 2𝜃 sebesar 21,1°, 22°, 24,8o, 27o, 28o, 30,7o, 30,9o, 31,9o, 32,7o, 38,5o, 39o, 40,7o, 42o,
42,9o, 45o, 46,3o, 47,4o, 48,8o, 49,6o yang mengindikasikan adanya puncak dari apatit La9,33Si6O26.
Pola difraksi tersebut sesuai dengan pola difraksi standar apatit La9,33Si6O26 yang terdapat dalam
ICSD (ICSD No. 158963) dan beberapa literature (Nakayama, et al., 1995, Nakayama, et al., 2000,
Savignat, et al., 2007). Adanya fasa sekunder juga ditunjukkan puncak pada 2𝜃 sekitar 15o dan
intensitas fase sekunder pada setiap sampel menunjukkan intensitas yang berbeda. Perbedaan ini
disebabkan adanya pengaruh komposisi dopan yang digunakan. Menurut Kendrick, et al., dan
savignat, et al., pada tahun 2007 bahwa fasa sekunder yang terkandung adalah La2SiO5.
Hasil fitting menunjukkan bahwa semua apatit terdoping mengadopsi struktur kristal
heksagonal dengan grup ruang P63/M. Perubahan parameter kisi pada umumnya merupakan refleksi
dari ukuran dopan yang disubtitusikan, dopan dengan ukuran lebih besar daripada ion yang
disubtitusi biasanya menghasilkan parameter lebih besar pula. Parameter kisi apatit terdoping hasil
fitting, dirangkum dalam Tabel 2. Perubahan parameter kisi dan volume sel pada apatit kodoping
sangat bergantung pada jari-jari dan komposisi dopan yang mensubtitusinya. Ukuran jari-jari ion
yang besar cenderung mensubtitusi ion La sedangkan ukuran jari-jari ion yang kecil cenderung
mensubtitusi ion Si (Kendrick, et al., 2007), maka dari itu pada penelitian ini penurunan parameter
sel dan volume sel pada apatit kodoping dengan ion dopan Bi dan Sn disebabkan karena ukuran
jari-jari ion Sn lebih besar daripada ukuran jari-jari ion Si. Hasilnya identifikasi fase sekunder pada
apatit yang terkodoping ditunjukkan pada Tabel 3.

Tabel 2. Parameter kisi dan volume sel apatit yang terkodoping


Senyawa Target Jari-Jari a=b c Volume Sel Posisi
(Å) (Å) (Å) (Å3) Doping
La9,33Si6O26 La3+ (1,15) 9,722 7,185 588,188 Tanpa
Si4+ (0,41) doping
La8,83Bi0,5Si5,9Sn0,1O26 9,722 7,178 587,627 La + Si
La8,83Bi0,5Si5,7Sn0,3O26 9,719 7,177 587,184 La + Si
3+
La8,83Bi0,5Si5,5Sn0,5O26 Bi (1,17) 9,720 7,178 587,321 La + Si
La8,83Bi0,5Si5,7Sn0,3O26 Sn4+ (0,71) 9,719 7,177 587,184 La + Si
La8,33Bi1Si5,7Sn0,3O26 9,717 7,174 586,645 La + Si
La7,83Bi1,5Si5,7Sn0,3O26 9,715 7,177 586,713 La + Si

Tabel 3. Persentasi fasa apatit dan fasa sekunder yang terkandung pada apatit yang terkodoping
Senyawa Target Apatit Fasa Sekunder (%)
(%) La(OH)3 Bi0,05Sn0,95 Bi24Si12 O40
La8,83Bi0,5Si5,9Sn0,1O26 97 3 - -
La8,83Bi0,5Si5,7Sn0,3O26 92,7 7,3 - -
La8,83Bi0,5Si5,5Sn0,5O26 89,2 10,8 - -
La8,33Bi1Si5,7Sn0,3O26 81,5 18 0,5 -
La7,83Bi1,5Si5,7Sn0,3O26 74,8 23,5 - 1,7

Berdasarkan Tabel 3 ada tiga jenis fase sekunder yang teridentifikasi yaitu La(OH)3,
Bi0,05Sn0,95, dan Bi24Si12O40. Semua sampel teridentifikasi adanya La(OH)3, diduga adanya
La(OH)3 karena sifat apatit yang higroskopis dan setelah sintesis hanya dilakukan pemanasan pada
suhu 120 °C yang dimungkinkan adanya La(OH)3 pada setiap sampel. Sedangkan untuk sampel
yang memiliki komposisi dopan Bi (1 dan 1,5) adanya fasa sekunder lain selain La(OH)3, yaitu
pada La8,33Bi1Si5,7Sn0,3O26 teridentifikasi adanya Bi0,05Sn0,95 sebesar 0,5% dan pada
La7,83Bi1,5Si5,7Sn0,3O26 teridentifikasi adanya Bi24Si12 O40 sebesar 1,7%. Adanya fasa sekunder
Bi0,05Sn0,95 dan Bi24Si12 O40 diduga karena Bi tidak tersubtitusi sempurna. dimungkinkan adanya
batas maksimal subtitusi Bi pada La.
Pada Tabel 3 yang memiliki nilai fase sekunder paling kecil adalah La8,83Bi0,5Si5,9Sn0,1O26 yaitu
3% dan nilai fase sekunder paling besar adalah La7,83Bi1,5Si5,7Sn0,3O26 yaitu 25.2%. Sesuai dengan
intensitas yang ditunjukkan pada Gambar 2 bahwa La8,83Bi0,5Si5,9Sn0,1O26 memiliki intensitas fase
sekunder paling rendah dan La7,83Bi1,5Si5,7Sn0,3O26 memiliki intensitas fase sekunder paling tinggi.
Simulasi posisi dopan (Bi dan Sn) pada struktur kristal apatit yang didoping ditunjukkan pada
Gambar 3.
(a) (b)

(c) (d)

(e)
Gambar 3. Simulasi posisi doping Bi dan Sn, pada struktur kristal apatit kodoping hasil fitting
dengan highscoreplus (a) La8,83Bi0,5Si5,9Sn0,1O26, (b) La8,83Bi0,5Si5,7Sn0,3O26, (c)
La8,83Bi0,5Si5,5Sn0,5O26, (d) La8,33Bi1Si5,7Sn0,3O26, dan (e) La7,83Bi1,5Si5,7Sn0,3O26 (abu-
abu: atom La, hijau: atom Si, ungu pada warna abu-abu: atom doping Bi, putih pada
warna hijau: atom doping Sn, biru: atom La, putih pada warna biru: atom doping Bi,
dan merah : atom O).

Dari Gambar 3 ini dapat diperkirakan bahwa nilai konduktivitas tinggi akan dimiliki oleh senyawa
La7,83Bi1,5Si5,7Sn0,3O26 karena terlihat memiliki cacat doping lebih besar dibandingkan dengan
yang lainnya dari atom Bi.????? (tidak jelas cacatnya di gambar,
harus dijelaskan)
Pengujian Konduktivitas

Konduktivitas apatit kodoping ditunjukkan dalam Tabel 4.

Tabel 4. Konduktivitas apatit kodoping pada variasi suhu

Senyawa Target σ / Scm-1


o -4
600 C × 10 500 C ×10-5 400 oC × 10-6
o
300 o ×10-7
La8,83Bi0,5Si5,9Sn0,1O26 0,104 0,33 0,857 0,559
La8,83Bi0,5Si5,7Sn0,3O26 0,854 3,0 2,39 2,35
La8,83Bi0,5Si5,5Sn0,5O26 0,440 2,4 2,04 0,827
La8,33Bi1Si5,7Sn0,3O26 1,92 3,2 4,76 3,97
La7,83Bi1,5Si5,7Sn0,3O26 2,71 5,9 6,08 5,51

Nilai konduktivitas apatit kodoping tertinggi adalah 2,71×10-4 S.cm-1 dan terendah 1,04×10-5
S.cm-1, perbedaan ini membuktikan bahwa nilai konduktivitas dipengaruhi komposisinya, karena
doping ion Bi dan Sn. Hubungan antara konsentrasi doping dengan nilai konduktivitasnya pada
berbagai variasi suhu operasi ditunjukkan pada Gambar 4.

Gambar 4. Nilai konduktivitas apatit kodoping pada suhu operasi (300 – 600 oC).

Komposisi doping tertinggi La7,83Bi1,5Si5,7Sn0,3O26 (Bi = 1,5 dan Sn = 0,3) menunjukkan


nilai konduktivitas yang lebih tinggi pada berbagai variasi suhu pengujian dibandingkan dengan
apatit doping lainnya, juga apatit tanpa doping La9.33Si6O26. Semakin tinggi komposisi Bi
semakin tinggi juga konduktivitas apatitnya, hal ini diduga adanya ruang interstisi untuk ion
oksida bermigrasi ( sesuaikah dengan simulasi posisi doping)?. Hal
ini sesuai dengan nilai densitas yang tinggi (dari data apa densitas ini didapat) dari
X-ray? Mana hitungannya), karena semakin tinggi nilai densitas yang memungkinkan
hanya meloloskan oksigen dalam bentuk ion oksida.
Apatit lantanum silikat yang didoping dengan Sn 0,3memiliki hubungan secara kuadratik
dengan nilai konduktivitasnya pada suhu 600 °C, hal ini diduga bahwa konsentrasi Sn memiliki
titik optimum pada puncak grafik (Gambar 4.). Kelebihan konsentrasi Sn sebagai doping akan
menyebabkan penurunan konduktivitas. Namun demikian, nilai konduktivitas tertinggi yang
dapat diperoleh dengan penambahan dopan Sn pada konsentrasi tertentu dapat diramalkan melalui
persamaan kuadratik y = -6E-05x2 + 0,0002x – 0,0002 dengan y sebagai konduktivitas, dan x
sebagai konsentrasi Sn.
Sementara itu, konsentrasi dopan Bi memiliki hubungan secara linear terhadap nilai
konduktivitas apatit lantanum silikat (Gambar 5.), ini berarti konsentrasi dopan Bi lebih dari 1,5
akan meningkatkan nilai konduktivitasnya. Batas kejenuhan doping Bi pada posisi La
dimungkinakan lebih besar dari 1,5.

Variasi Konsentrasi Dopan Sn


1.00E-04
9.00E-05
Konduktivitas/Scm-1

8.00E-05
7.00E-05
6.00E-05
5.00E-05
4.00E-05
3.00E-05
2.00E-05 y = -6E-05x2 + 0.0002x - 0.0002
R² = 1
1.00E-05
0.00E+00
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5
Konsentrasi Sn

Gambar 4. Hubungan nilai konduktivitas dengan komposi Bi konstan (0.5) dan komposisi Sn
bervariasi (0.1, 0.3, dan 0.5)

Variasi Konsentrasi Dopan Bi


3.00E-04
y = 9E-05x - 2E-06
2.50E-04 R² = 0.993
Konduktivitas/Scm-1

2.00E-04

1.50E-04

1.00E-04

5.00E-05

0.00E+00
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5
Konsentrasi Bi

Gambar 5. Hubungan nilai konduktivitas dengan komposi Sn konstan (0.3) dan komposisi Sn
bervariasi (0.5, 1, dan 1.5)
Dari nilai konduktivitas dihasilkan plot antara konduktivitas (σ) dan suhu (K) pengukuran
dinyatakan sebagai plot Arrhenius. Plot Arrhenius konduktivitas total apatit kodoping ditunjukkan
pada Gambar 6.

Gambar 6. Plot Arrhenius konduktivitas total apatit kodoping yang telah dilakukan sintering pada
suhu 1500 oC (1) La8,83Bi0,5Si5,9Sn0,1O26, (2) La8,83Bi0,5Si5,7Sn0,3O26, (3)
La8,83Bi0,5Si5,5Sn0,5O26, (4) La8,33Bi1Si5,7Sn0,3O26, dan (5) La7,83Bi1,5Si5,7Sn0,3O26.

Gradien (kemiringan) kurva pada plot Arrhenius menunjukkan nilai energi aktivasi (Ea).
Dengan memasukkan nilai gradient pada persamaan liniernya terhadap persamaan Arrhenius,
maka diperoleh masing-masing energi aktivasi untuk setiap apatit yang didoping.

Tabel 5. Nilai energi aktivasi


Komposisi Energi aktivasi (Ea) /
eV
La8,83Bi0,5Si5,9Sn0,1O26 0,71
La8,83Bi0,5Si5,7Sn0,3O26 0,87
La8,83Bi0,5Si5,5Sn0,5O26 0,83
La8,33Bi1Si5,7Sn0,3O26 0,84
La7,83Bi1,5Si5,7Sn0,3O26 0,86

Semua nilai energi aktivasi yang dihasilkan menunjukkan bahwa nilai energi aktivasi lebih
kecil dari 1,1 eV. Energi aktivasi yang rendah ≤ 1,1 eV menandakan bahwa konduktivitas apatit
kodoping pada suhu 300 – 600 oC dihasilkan dari migrasi ion intertstisi. Energi pengaktifan yang
rendah (<1,1 eV) menandakan bahwa konduktivitas apatit hasil sintesis hidrotermal pada suhu
300 – 600 oC dihasilkan dari migrasi ion oksigen interstisi. Sudah diketahui sebelumnya pada
oksi-apatit bila energi pengaktifan konduktivitas ioniknya lebih kecil dari 1,1 eV maka
mekanisme konduksinya berasal dari migrasi ion interstisi (Kendrick et al., 2007).

Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dpat disimpulkan bahwa:
1. Berdasarkan difraktogram XRD bahwa kodoping ion Bi dan Sn pada apatit lantanum silikat
berhasil disintesis dengan metode hidrotermal, dengan sedikit fasa sekunder pada setiap
sampel.
2. Komposisi doping yang dimiliki oleh La7,83Bi1,5Si5,7Sn0,3O26 memberikan nilai konduktivitas
yang paling tinggi diantara komposisi yang lainnya. Hal ini menandakan signifikannya
pengaruh doping terhadap konduktivitas. Nilai energi aktivasi untuk semua sampel pada suhu
pengujian 300-600 °C adalah ≤ 1,1 eV, menunjukkan bahwa semua sampel berpotensi sebagai
material konduktor ionik yang cukup baik.

Ucapan terimakasih
Kami pengucapkan terimakasih kepada DIKTI dan DRPMI Unpad melalui penelitian PTUPT no
kontrak ……2018. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada Prof. ……(Tohoku Unversity,
Japan) untuk pengukuran XRD beberapa sampel.

Daftar Pustaka
Abram, E. J., Kirk, C. A., Sinclair, D. C. & West, A. R. 2005. Synthesis and characterisation of
lanthanum germanate-based apatite phases, solid state ionics, 176, 1941-1947.

Ferdov, S., Rauwel, R.A.S & Lin, Z. 2006. Hydrothermal synthesis, structural investigation,
photoluminascence features, and emission quatum yield of eu and Eu-Gd silicaes with apatite-
type structure. Chemistry of materials. 18: 5958-5964.

Kendrick, E., M.S. Islam, and P.R. Slater, Investigation of the structural changes on Zn doping in
the apatite-type oxide ion La9,33Si6O26; A combined neutron diffraction and atomistic
simulation study. Solid State Ionics. 2007. 177(39-40), 3411-3416.

Li, Mei, Wang, You, Wang, Yunlong, Chem, Fanglin, and Xia, Changrong. 2014. Bismuth doped
Lanthanum Ferrite Perovskites as Novel Cathodes for Intermediate-Temperature solid oxide
fuel cells. Applied Material & Interfaces, Vol. 6, 11286-11294.
Ling, Y., Chen, H., Niu, J., Wang, Fang, Ling, Zhao, Ou, Xuemei, Nakamura, Takashi, Amezawa,
Koji. 2016. Bismuth and indium co-doping strategy for developing stable and efficient barium
zirxonate-based proton conductors for high-performance H-SOFCs. Journal of the European
Ceramic Society. 36, 3423-3411.
Nakayama, S., T. Kageyama, H. Aono, Y. S. 1995. Ionic Conductivity of Lanthanoid Silicates,
Ln10(SiO4)6O3 (Ln = La, Nd, Sm, Gd, Dy, Y, Ho, Er and Yb). Journal of Materials Chemistry,
1801–1805.

Noviyanti, A. R., Ismunandar, B. & Prijamboedi, I. N. M. 2012. Hydrothermal Preparation of


Apatite-Type Phases La9.33Si6O26 and La9M1Si6O26.5 (M = Ca, Sr, Ba). ITB Journal of
Science, 44, 193–203.

Noviyanti, A.R, Eddy, D. R. Anshari, A. 2015. Synthesis of the Bi-doped apatite-type phases La10-
xBixSi6O27 (x=0,5 dan 1) by hydrothermal method. Procedia Chemistry 17 (2015) 16-20
Panteix, P. J., Julien, I., Bernache-Assollant, D. & Abelard, P. 2006. synthesis and characterization
of oxide ions conductors with the apatite structure for intermediate temperature SOFC, Material
chemistry and physics, 95, 313-320.

Pogosova, M.A. Provotorov, D.I. Eliseev, A.A. Jansen, M. Kazin, P.E. 2015. Synthesis and
characterization of the Bi-for-Ca substituted copper-based apatite pigments. Dyes and Pigments
113(2015) 96-101

Sansom, J. E. H., Tolchard, J. R., Slater, P. R., & Islam, M. S. 2004. Synthesis and structural
characterisation of the apatite-type phases La 10 À x Si 6 O 26 + z doped with Ga, 167, 17–22.

Sansom, J. E. H., Slater, P. R., 2004. Oxide ion conductivity in the mixed Si/Ge apatite-type phases
La9.33Si6-xGexO26. Solid State Ionics. 167. 23-27.
Sansom, J. E. H., Sermon, P. A., & Slater, P. R. 2005. Synthesis and conductivities of the Ti doped
apatite-type phases ( La / Ba ) 10 À x ( Si / Ge ) 6 À y Ti y O 26 + z, 176, 1765–1768.
Xiang, Jun. Liu, Zhan-Guo. Ouyang, Jia-Hu. Zhou, Yu. Yan, Fu-yao. 2012. Synthesis and
electrical conductivity of La10Si5,5B0,5O27+δ (B = In, Si, Sn, Nb) ceramics. Solid State Ionics 220
(2012) 7-11.
Xie, Kui. Yan, Ruiqiang. Chen, Xiarui. Wang, Songlin. Jiang, Yinzhu. Liu, Xingqin, Liu. Meng,
Guangyao. 2009. A stable and easily sintering BaCEO3-based proton-conductive electrolyte.
Journal of Alloys and Compounds 473 (2009) 323-329.
Zhu, Z., Li, Mei, Xia, Changrong, and J. M., Henny, Bouwmeester. 2017. Bismuth-doped
La1,75Sr0,25NiO4+δ as a novel cathode material for solid oxide fuel cells. Journal of Materials
Chemistry A