Anda di halaman 1dari 12

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………............…… 2
DAFTAR ISI……………………………………………………………................3

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………...............…….4
1.1 Latar Belakang........................................................................................ 4
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………….......... 4
1.3 Tujuan Penulisan .................................................................................. 4

BAB II PEMBAHASAN…………………………………………................…… 6
2.1Definisi Akuntansi Keprilakuan...………….………………………….......... 6
2.2 Ruang Lingkup Akuntansi Keprilakuan …………………………….......... 7
2.3 Peran Akuntansi Keprilakuan…………................................................... 8

BAB III PENUTUP………………………………………………………............11


3.1 Kesimpulan & Saran...............................................................................11

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………….............…..14
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Akuntansi sebagai sistem, akuntansi sebagai suatu ilmu, akuntansi


sebagai suatu mitos, akuntansi sebagai seni pencatatan, semakin lama
semakin luas saja bidang cakupan akuntansi. Asumsi bahwa akuntansi bisa
mempengaruhi bidang apapun mulai terlihat nyata pada perkembangannya di
era globalisasi, di era layar yang kita hadapi sekarang. Akuntansi mulai
menyentuh aspek keperilakuan yaitu pada individu manusia itu sendiri menjadi
tren positif di kalangan praktisi dan akademik di bidang akuntansi. Dengan
hanya melihat, mendengar, mengetahui informasi, bahkan memberi pendapat
terhadap laporan keuangan ternyata tidak dapat dipungkiri, juga dipengaruhi
oleh faktor sosilologis dan psikologis manusia. Bisa saja kondisi seorang
individu sebelum menyatakan pendapatnya atas laporan keuangan berubah.
Karena menurut penulis sendiri faktor psikologis merupakan salah satu faktor
internal dan mempunyai andil penting ketika opini atau pendapat dikeluarkan
terkait dengan laporan keuangan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa defenisi Akuntansi Keperilakuan ?

2. Apa saja ruang lingkup Akuntansi Keperilakuan ?

3. Apa saja peran akuntansi Keprilakuan ?

1.3 Tujuan Umum

2
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk mengetahui defenisi akuntansi
keprilakuan, ruang lingkup akuntansi keprilakuan dan peran akuntansi
keprilakuan. Makalah ini juga merupakan ringkasan dari beberapa hasil
diskusi kami dalam perkuliahan dan tujuan dari makalah ini adalah
memberikan informasi seluas-luasnya kepada mahasiswa, dosen, civitas
akademika tentang adanya aspek keperilakuan yang turut mengambil andil
penting dalam akuntansi. Terlebih lagi dari makalah ini dapat memberikan
informasi ke masyarakat pada umumnya.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Defenisi Akuntansi Keprilakuan

Akuntansi merupakan suatu sistem untuk menghasilkan informasi


keuangan yang digunakan oleh para pemakainya dalam proses pengambilan
keputusan bisnis. Tujuan informasi tersebut adalah memberikan petunjuk
dalam memilih tindakan yang paling baik untuk mengalokasikan sumber daya
yang langka pada aktifitas bisnis dan ekonomi. Namun, pemilihan dan
penetapan suatu keputusan bisnis juga melibatkan aspek-aspek keperilakuan
dari para pengambil keputusan. Dengan demikian, akuntansi tidak dapat
dilepaskan dari aspek perilaku manusia serta kebutuhan organisasi akan
informasi yang dapat dihasilkan oleh akuntansi. Akhirnya, akuntansi bukanlah
suatu yang statis, tetapi akan selalu berkembang sepanjang waktu seiring
dengan perkembangan linkungan akuntansi, agar dapat memberikan informasi
yang dibutuhkan oleh penggunanya.

Akuntansi keperilakukan ialah ilmu yang mempelajari efek dari perilaku


manusia sehingga bisa mempengaruhi data-data akuntansi serta pengambilan
keputusan usaha/bisnis. juga sebaliknya bagaimana akuntansi bisa
mempengaruhi perilaku manusia serta pengambilan keputusan bisnis.
kuntansi keperilakuan merupakan cabang ilmu akuntansi yang mempelajari
hubungan antara perilaku manusia dengan sistem informasi akuntansi. Istilah
sistem informasi akuntansi yang dimaksud di sini dalam arti luas meliputi
seluruh desain alat pengendalian manajemen yang meliputi sistem

4
pengendalian, sistem penganggaran, desain akuntansi pertanggungjawaban,
desain organisasi seperti desentralisasi atau sentralisasi, desain kolektibilitas
biaya, penilaian kinerja, serta laporan keuangan.

2.2 Ruang Lingkup Akuntansi Keprilakuan

Akuntansi keperilakuan juga bagian dari akuntansi tradisional yang berperan


untuk pengumpulan, pengukuran, pencatatan serta pelaporan tentang
informasi keuangan. Ini merupakan dimensi akuntansi yang secara khusus
pada perilaku manusia serta hubungannya dengan penerapan sistem
informasi akuntansi. Dalam akuntansi keperilakuan perilaku manusia menjadi
salah satu pertimbangan dalam pengambilan keputusan, karena didalamnya
terdapat dimensi sosial dari organisasi tersebut. Sehingga hal ini menjadi salah
satu elemen penting yang harus ada pada setiap laporan oleh akuntan. Secara
lebih terperinci ruang llingkup akuntansi keperilakuan meliputi:

 Mempelajari pengaruh antara perilaku manusia terhadap konstruksi,


bangunan, dan penggunaan sistem informasi yang diterapkan dalam
perusahaan dan organisasi, yang berarti bagaimana sikap dan gaya
kepemimpinan manajemen mempengaruhi sifat pengendalian
akuntansi dan desain organisasi; apakah desain sistem pengendalian
akuntansi bisa diterapkan secara universal atau tidak.
 Mempelajari pengaruh sistem informasi akuntansi terhadap perilaku
manusia, yang berarti bagaimana sistem akuntansi mempengaruhi
kinerja, motivasi, produktivitas, pengambilan keputusan, kepuasan kerja
dan kerja sama.
 Metode untuk menjelaskan dan memprediksi perilaku manusia dan
strategi untuk mengubahnya, yang berarti bagaimana sistem akuntansi
dapat dipergunakan untuk mempengaruhi perilaku, dan bagaimana
mengatasi resistensi itu. Disini muncul istilah freezing (membekukan)
dan unfreezing (mencairkan). Contohnya perubahan sistem. Perubahan

5
sistem bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi perlu upaya untuk sampai
pada aplikasi sistem itu sendiri karena bisa jadi ada resistensi di situ.
 Studi/pembelajaran atas efek terhadap format serta isi laporan
akuntansi / keuangan.
 Pengembangan teknik laporan untuk mengkomunikasikan antara
perilaku data kepada user.
 Mengembangkan strategi yang efektif untuk bisa memotivasi serta
mempengaruhi terhadap perilaku, aspirasi serta tujuan dari setiap
personal yang ada dalam organisasi.
 Metode atau cara untuk memprediksi untuk mengubah perilaku
manusia, yang mana menekankan pada cara agar sistem akuntansi
dapat dimanfaatkan untuk mempengaruhi habit atau perilaku manusia.

2.3 Peran Akuntansi Keprilakuan

Peran mengenai akuntansi perilaku dalam organisasi oleh Schiff dan Lewin
(1974) dibagi menjadi 4 (empat) bagian yaitu :

a. Planning and Bugeting (Perencanaan dan Penganggaran).

Tujuan utama dari bagian ini adalah bagaimana formulasi tujuan operasional
perusahaan.dan interaksi perilaku individu dalam proses ini. Ada beberapa
dimensi dalam proses ini misalnya partisipasi penyusunan anggaran dan
kepuasan anggota organisasi atas anggaran tersebut, tingkat kesulitan
pencapaian tujuan, tingkat aspirasi dalam penyusunan anggaran dan tujuan
organisasi serta konflik di antara tujuan individu dan tujuan organisasi.

Ada kebijakan yang berbeda yang digunakan oleh organisasi dalam


pembuatan perencanaan serta penganggaran. Ada organisasi yang
melibatkan semua lini organisasi dalam penetapan perencanaan serta
anggaran yang akan dilaksanakan yang secara teori sering digunakan istilah

6
bottom up. Di satu sisi ada organisasi yang penetapan rencana dan anggaran
dilakukan oleh atasan saja (Top down). Dari proses yang berbeda tersebut
dapat menghasilkan perilaku yang berbeda dari anggota organisasi.

Tujuan yang ditetapkan oleh perusahaan juga memiliki tingkat kesulitan yang
berbeda. Tingkat kesulitan yang ditetapkan dapat mempengaruhi perilaku
individu. Jika individu memandang bahwa tujuan yang menjadi tanggung
jawabnya ditetapkan terlalu sulit maka individu tidak akan termotivasi untuk
mencapainya. Sebaliknya jika tujuan yang ditetapkan terlalu lunak, individu
akan ceroboh dalam mencapai tujuan tersebut.

b. Decision Making

Tujuan utama bagian ini adalah aspek perilaku pada pengambilan keputusan
oleh individu dan pengambilan keputusan organisasional. Ada dua dimensi
dalam bidang ini. Dimensi pertama membahas mengenai isu-isu mendasar
mengenai pengambilan keputusan oleh individu dan kelompok misalnya
persepsi, akibat dari gagal atau suksesnya keputusan, tipe risk aversion
(penghindar resiko) dalam pembuatan keputusan. Dimensi kedua meliputi
pengaruh dari jenis struktur organisasi atas pengambilan keputusan.

Keputusan yang dibuat organisasi dapat dibuat oleh individu saja ataupun oleh
anggota kelompok. Proses tersebut tentu saja berpengaruh pada perilaku baik
individu maupun kelompok. Kegagalan dan kesuksesan keputusan yang telah
dibuat juga berpengaruh pada perilaku pembuat keputusan.

Ada dua tipe individu sehubungan dengan resiko yang dihadapinya, yaitu (a)
tipe pengambil resiko (risk taker), (b) tipe penghindar resiko (risk averse). Dua
tipe tersebut akan menyebabkan perilaku yang berbeda saat menghadapi
resiko atas alternatif keputusan akan yang dibuat.

7
c. Control

Tujuan bagian ini untuk menyelidiki permasalahan individual dalam penilaian


kinerja dan proses adaptasi individu terhadap proses pengendalian yang
dilakukan oleh organisasi. Dimensi lain dari bagian ini berisi permasalahan
sentralisasi-desentralisasi serta hubungan dalam hirarki administrasi.

d. Financial Reporting

Bagian ini mencakup perilaku perata-labaan (income smoothing), reliabilitas


pelaporan akuntansi dan relevansi informasi akuntansi terhadap pengguna.

8
BAB III

PENUTUP

A. KESMIPULAN & SARAN

Akuntansi sebagai sistem, akuntansi sebagai suatu ilmu, akuntansi sebagai


suatu mitos, akuntansi sebagai seni pencatatan, semakin lama semakin luas
saja bidang cakupan akuntansi. Asumsi bahwa akuntansi bisa mempengaruhi
bidang apapun mulai terlihat nyata pada perkembangannya di era globalisasi,
di era layar yang kita hadapi sekarang.

Akuntansi semakin diperlukan oleh semua sektor dan semua bidang. Sebuah
sunnatullah yang diajarkan oleh Rasulullah S.A.W tentang pentingnya
pengelolaan keuangan dengan mengedepankan prinsip transparansi. Telah
jauh sebelumnya di lukiskan di dalam Surah Al-Baqarah ayat 282 tentang
wajibnya mengedepankan transparansi dalam setiap transaksi dan semakin
jelas dengan pencatatan.

Akuntansi mulai menyentuh aspek keperilakuan yaitu pada individu manusia


itu sendiri menjadi tren positif di kalangan praktisi dan akademik di bidang
akuntansi. Dengan hanya melihat, mendengar, mengetahui informasi, bahkan
memberi pendapat terhadap laporan keuangan ternyata tidak dapat dipungkiri,
juga dipengaruhi oleh faktor sosilologis dan psikologis manusia. Bisa saja
kondisi seorang individu sebelum menyatakan pendapatnya atas laporan

9
keuangan berubah. Karena menurut penulis sendiri faktor psikologis
merupakan salah satu faktor internal dan mempunyai andil penting ketika opini
atau pendapat dikeluarkan terkait dengan laporan keuangan.

Akuntansi merupakan suatu system untuk menghasilkan informasi keuangan


yang digunakan oleh para pemakainya dalam proses pengambilan keputusan
bisnis. Tujuan informasi tersebut adalah memberikan petunjuk dalam memilih
tindakan yang paling baik untuk mengalokasikan sumber daya yang langka
pada aktifitas bisnis dan ekonomi. Namun, pemilihan dan penetapan suatu
keputusan bisnis juga melibatkan aspek-aspek keperilakuan dari para
pengambil keputusan. Dengan demikian, akuntansi tidak dapat dilepaskan dari
aspek perilaku manusia serta kebutuhan organisasi akan informasi yang dapat
dihasilkan oleh akuntansi. Akhirnya, akuntansi bukanlah suatu yang statis,
tetapi akan selalu berkembang sepanjang waktu seiring dengan
perkembangan linkungan akuntansi, agar dapat memberikan informasi yang
dibutuhkan oleh penggunanya.

Pihak pemakai laporan keuangan dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu
pemakai internal (internal users) dan pemakai eksternal (external users).
Sebagaimana dibahas sebelumnya, pemakaian laporan keuangan oleh pihak
internal dimaksudkan untk melakukan serangkaian evaluasi kinerja.
Sedangkan pihak eksternal, sama seperti pihak internal, tetapi mereka lebih
berfokus pada jumlah investasi yang mereka lakukan dalam orgnisasi tersebut.

Awal perkembangan riset akuntansi keperilakuan menekankan pada aspek


akuntansi manajemen khususnya penganggaran (budgeting), namun domain
dalam hal ini terus berkembang dan bergeser kearah akuntansi keuangan,
system informasi akuntansi, dan audit.

Masalah-masalah etika yang dihadapi riset keperilakuan di antaranya adalah


sebagai berikut. Melakukan riset bukanlah hal yang mudah. Butuh tahapan-
tahapan panjang hingga akhirnya terwujudlah suatu hasil riset yang baik. Dan

10
dalam penyusunannya pun juga tidak sembarangan. Ada beberapa hal yang
wajib untuk diperhatikan. Untuk itulah mengapa sebelum melakukan riset,
terlebih dahulu dimengerti tentang apa itu etika riset. Ini karena dalam
melakukan sebuah riset, banyak pihak yang terlibat dan etika riset digunakan
sebagai pedoman peneliti dalam bertindak terutama dengan orang lain yang
notabene adalah subjek penelitian. Selain itu, karena riset merupakan bagian
yang tak terpisahkan dari sebuah siklus keilmuan dimana hal tersebut sangat
berpengaruh terhadap perkembangan dunia ilmu itu sendiri, tentunya dalam
perkembangan keilmuan tersebut, terdapat sebuah etika yang melandasi
seorang peneliti dalam melakukan riset. Hal ini telah memberikan sebuah
penilaian mengenai pentingnya etika dalam riset yang dapat dijadikan sebuah
patokan sehingga penelitian tersebut benar-benar berada dalam koridor siklus
keilmuan.

11
DAFTAR PUSTAKA

Arfan, Ikhsan Lubis. “Akuntansi Keperilakuan.” Jakarta : Salemba Empat, 2005.

Hamel, Gary. “Bringing Silicon Valley Inside.” Harvard Business Review, Januari-
Februari 2001.

Slyvatski, Adrian. Digital BusinessModels. Boston: Harvard Business School Press,


2001.

12