Anda di halaman 1dari 10

Perbandingan Endoflas dan Zinc oxide Eugenol sebagai bahan

pengisian saluran akar pada gigi sulung.


Nivedita Rewal, Arun Singh Thakur1, Vinod Sachdev2, Nanika Mahajan3

ABSTRAK
Latar Belakang: Zinc oxide eugenol telah lama menjadi bahan pilihan kedokteran gigi anak di seluruh
dunia, meskipun gagal tidak memenuhi persyaratan ideal sebagai bahan pengisi saluran akar untuk gigi
sulung. Endoflas, campuran zinc oxide eugenol, kalsium hidroksida, dan iodoform, dapat dianggap
sebagai bahan pengisi saluran akar gigi sulung yang efektif dibandingkan dengan zinc oxide eugenol.
Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan zinc oxide eugenol dengan endoflas untuk pulpektomi
pada gigi sulung. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan secara klinis dan
radiografis tingkat keberhasilan zinc oxide eugenol dengan endoflas untuk sebagai bahan pengisian
saluran akar gigi sulung pada 3, 6, dan 9 bulan. Desain: Lima puluh geraham gigi molar sulung
dimasukkan dalam penelitian dengan 26 gigi di Grup I (Endoflas) dan 24 gigi di Grup II (zinc oxide
eugenol). Kemudian dilakukan pulpektomi satu kunjungan . Hasil: Tingkat keberhasilan zinc oxide
eugenol adalah 83% sedangkan tingkat keberhasilan 100% didapatkan dalam pada kasus dengan endoflas.
Hasil yang diperoleh dikompilasi dan dilakukan analisis statistik menggunakan uji chi-square. Perbedaan
tingkat keberhasilan antara keduanya signifikan secara statistik (P <0,05). Kesimpulan: Endoflas terbukti
memiliki hasil yang lebih baik daripada zinc oxide eugenol. Oleh karena itu, endoflas harus menjadi
bahan pilihan untuk perawatan saluran akar pada gigi sulung.
Kata kunci: Endoflas, pulpektomi, sinc oxide eugenol

Pendahuluan

Pulpektomi adalah perawatan pilihan dalam pandangan menyelamatkan gigi geligi dusidui
sulung yang terinfeksi. Zinc oxide eugenol telah digunakan secara luas dalam kedokteran gigi
pediatrik anak sejak ditemukan oleh Bonastre dan selanjutnya digunakan dalam kedokteran gigi
oleh Chisholm,[1] meskipun terdapat kekurangan yang telah dilaporkan dalam literatur.
Syarat-syarat penting bahan pengisi saluran akar bagi gigi sulung adalah kemampuan untuk
resorpsi dengan kecepatan yang sama dengan resorpsi akar gigi sulung. Selain itu juga harus
tidak berbahaya bagi jaringan periapikal dan benih gigi tetap, segera diresorpsi jika melebihi
apeks, antiseptik, radioopak, tidak menyusut, menempel dengan baik pada dinding saluran akar,
tidak merubah warna gigi, serta harus mudah diisi dan dikeluarkan disingkirkan, jika diperlukan.
Kalsium hidroksida, vitapex, dan metapex telah digunakan secara luas sebagai bahan pengisi
saluran akar pada gigi sulung meskipun memiliki berbagai macam kekurangan.
Ketidak untungan Kekurangan yang utama dari penggunaan kalsium hidroksida sebagai bahan
pengisi saluran akar yaitu kecenderungan untuk resorb lebih cepat awal dibandingkan resorpsi
fisiologis akar gigi sulung. Hal ini menciptakan efek “hollow tube” dimana yaitu saluran akar
yang tidak terisi ditembus oleh cairan jaringan yang menjadikannya lokasi infeksi. Zinc oxide
eugenol resisten terhadap resorpsi dan memungkinkan hasil yang kurang baik. Namun, zinc
oxide eugenol memiliki keterbatasan kemanjuran antibakterial.
Endoflas (Sanlor and Cia. S. en C.S., Cali, Colombia), dihasilkan di Amerika Selatan, terdiri
dari triiodomethane, zinc oxide eugenol, kalsium hidroksida, barium sulfat dan iodine
dibutylorthocresol dengan cairan yang mengandung eugenol dan paramonochlorophenol. Alasan
dibalik menggabung ketiga bahan zinc oxide eugenol, kalsium hidroksida, dan iodoform dalam
endoflas adalah untuk mengkompensasi kekurangan tidakuntungan dari masing-masing bahan
dan dengan keuntungan dari bahan lainnya.
Pasta endoflas memiliki keuntungan keterbatasan resorbsi terhadap bahan berlebih, yang
ekstrusi. Resorpsi dari bahan tidak terjadi di dalam kanal. Dengan demikian, karena resisten
terhadap resorpsi maka efek “hollow tube” tidak terjadi. Produsen pasta endoflas mengklaim
bahwa bahan ini memiliki efek antibakteri spektrum luas. Materi ini hidrofilik dan bisa
digunakan pada kanal yang agak lembab. Juga memiliki kemampuan disinfektan pada tubuli
dentin dan kanal aksesoris yang sulit dicapai yang biasanya tidak bisa didisinfeksi atau
dibersihkan secara mekanik. Sebagai tambahan, komponen-komponen dari bahan ini dapat
dihilangkan dengan fagositosis sehingga bisa diresorbsi. Walaupun terdapat banyak keuntungan
endoflas dibandingkan zinc oxide eugenol, bahan ini masih belum banyak digunakan sebagai
materi pengisi saluran akar pada gigi sulung.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan secara klinis dan radiografis
endoflas dengan zinc oxide eugenol setelah periode 3, 6, dan 9 bulan postoperatif.

Materi dan metode Penelitian


Sampel terdiri atas 50 gigi geraham molar sulung dari pasien berusia antara 4-9 tahun yang
datang ke Departemen Pencegahan dan Perawatan Kedokteran Gigi Anak. Persetujuan etik
untuk penelitian diperoleh dari Institution Review Board dari Institusi Dental Himachal, Sunder
nagar, India. Anak-anak dan wali diundang untuk berpartisipasi dalam penelitian. Persetujuan
tertulis diperoleh dari orang tua/wali sebelum prosedur dimulai. Gigi yang termasuk di dalam
kriteria inklusi pada penelitian adalah; gigi dengan sejarah riwayat sakit spontan, adanya abses
atau fistula, pembengkakan pada gingiva, sakit pada tes perkusi, dan radiograf yang
memperlihatkan radiolusensi pada interradikular. Gigi dengan resorbsi akar eksternal/internal,
mobilitas ekstrem, dan perforasi lantai pulpa dikeluarkan/ merupakan kriteria ekslusi dari
penelitian ini. Gigi dipilih secara acak lalu dibagi menjadi dua kelompok berisikan terdiri atas 26
gigi (perlakuan dengan Endoflas, kelompok I) dan 24 gigi (perlakuan dengan Zinc Oxide
Eugenol, kelompok II). Prosedur pulpektomi untuk kedua kelompok dilakukan oleh satu peneliti
(NR). Evaluasi klinis dan radiografis dilakukan setelah 3, 6 dan 9 bulan periode pasca perawatan.
Pengobatan dianggap berhasil ketika bila tidak ada nya rasa sakit, kemerahan, pembengkakan,
nyeri pada perkusi, dan sinus atau fistula pada pasien. Untuk evaluasi radiografis, dua peneliti
(NR dan VS) telah dilatih dan terkalibrasi. Reliabilitas interexaminer dan intraexaminer dinilai
dengan menggunakan uji statistik Kappa. Nilai kappa adalah 0,87 dan 0.93 untuk masing-masing
reliabilitas interexaminer dan intraexaminer. Secara radiografis, pengobatan dianggap berhasil
dalam hal pengurangan ukuran radiolusensi interradikular atau ukuran yang tetap sama.
Prosedur dilakukan dalam satu kunjungan dengan menggunakan rubber dam setelah
pemakaian dilakukan anestesi lokal. Akses ke ruang pulpa diperoleh setelah dilakukan
pembuangan struktur gigi yang terkena karies. Pulpa pada bagian koronal dibersihkan dengan
menggunakan instrumen excavator. Radiograf diambil untuk mengkonfirmasi panjang kerja.
Panjang kerja dipertahankan 1 sampai 2 mm kurang dari apikal untuk meminimalisasi
kemungkinan perforasi akibat instrumentasi dan kerusakan periapikal. Dalam kasus gigi
permanen yang belum erupsi dan berada pada area bifurkasi, panjang kerja dibatasi hingga batas
di atas bidang oklusal gigi permanen. Namun, apabila gigi permanen berada di bawah apikal gigi
sulung, keseluruhan panjang akar dianggap sebagai panjang kerja. H file digunakan untuk
memperbesar kanal saluran akar sampai ukuran 35. Irigasi dilakukan menggunakan Natrium
hipoklorit 2,5% atau dengan saline. Perawatan saluran akar pada gigi primer sulung tidak seperti
gigi permanen, pulpektomi gigi sulung adalah preparasi kimia mekanikal untuk meminimalisasi
trauma pada saluran akar. Paperpoint digunakan untuk mengeringkan kanal-kanal pada saluran
akar. Jarum lentulo spiral yang dipasang pada handpiece berkecepatan rendah digunakan untuk
mengaplikasikan Endoflas dan Zinc Oxide Eugenol ke dalam kanal saluran akar. Akses kavitas
pasca obturasi ditutup dengan pasta Zinc Oxide Eugenol, lalu pengambilan foto radiograf untuk
menentukan tingkat pengisian. Pengisian saluran akar diikuti oleh restorasi dengan penempatan
pembuatan stainless steel Crown yang menggunakan teknik standar.

Analisis data
Data dianalisa menggunakan SPSS 11.5. Radiografis dan keberhasilan dari Endoflas dan Zinc
Oxide Eugenol dibandingkan dengan uji chi-square. Angka P<0.05 dianggap sebagai nilai
signifikansi.

HASIL
Lima puluh gigi molar sulung dirawat saluran akar pada anak–anak dengan kelompok usia
antara 4-9 tahun. Gigi yang terpilih dibagi dalam dua kelompok secara acak yaitu sebanyak 26
dan 24 gigi dan diisi masing-masing dengan endoflas (kelompok I) dan zinc oxide eugenol
(kelompok II) secara berurutan [ Tabel 1].

Tabel 1. Distribusi rata usia dan jenis kelamin sampel


Usia Total Kelompok I Kelompok II
endoflas Zinc oxide eugenol
N Laki-laki Perempuan N Laki-laki Perempuan
4-5 tahun 5 4 3 1 1 0 1
6-7 tahun 20 11 6 5 9 5 4
8-9 tahun 25 11 7 4 14 7 7

Tanda dan gejala sebelum perawatan yang dievaluasi berupa rasa sakit, jaringan lunak,
kemerahan, mobilitas, pembengkakan intraoral, dan peka terhadap perkusi. Tanda dan gejala
pasca perawatan serta penilaian radiografis ukuran radiolusensi pada daerah interadikular
dilakukan setelah 3,6, dan 9 bulan [Gambar 1 dan 2].
Gambar 1. Radiografis sebelum dan pasca perawatan pada gigi yang diobturasi menggunakan endoflas:
(a) radiograf sebelum perawatan dengan endoflas, (b) radiograf pasca perawatan segera setelah pengisian
endoflas, (c) radiograf 3 bulan pasca perawatan, (d) radiograf 6 bulan pasca perawatan, dan (e) radiograf
9 bulan pasca perawatan.

Gambar 2. Radiograf sebelum dan pasca perawatan pada gigi yang diobturasi menggunakan zinc oxide
eugenol : (a) Sebelum perawatan dengan ZnOE, (b) Radiograf segera pasca pengisian, (c) Radiograf 3
bulan pasca perawatan, (d) radiograf 6 bulan pasca perawatan, dan (e) radiograf 9 bulan pasca perawatan.
Tanda klinis dan gejala sebelum dan pasca perawatan ditabulasikan [Tabel 2].

Tabel 2. Perbandingan parameter klinis sebelum dan pasca perawatan pada kelompok I dan II

Terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05) terlihat pada kedua kelompok mengenai rasa
sakit dan kepekaan pasca 3 bulan perawatan. Tidak terdapat ekstraksi atau kegagalan pada
kelompok endoflas. Sebaliknya, empat gigi harus dicabut pada kelompok zinc oxide eugenol 2
minggu pasca obturasi. Pada pengamatan setelah 9 bulan, keberhasilan klinis zinc oxide eugenol
sebesar 83% dikarenakan terdapat empat gigi yang diekstraksi pasca perawatan, sementara
keberhasilan klinis kelompok endoflas sebesar 100%. Penilaian radiografis pada pengisian bahan
yang berlebih menghasilkan bahwa dari 12 saluran akar dengan pengisian endoflas berlebih,
resobsi bahan yang lebih terlihat pada 10 saluran akar pada pengamatan setelah 3 bulan. Zinc
oxide eugenol yang berlebih diamati pada 16 saluran akar, dan 4 gigi tidak dihitung karena
diekstraksi akibat sakit pasca perawatan. Partikel zinc oxide eugenol yang keluar teresobsi pada
4 saluran akar dalam waktu 6 bulan . Tetapi retensi bahan ditemukan pada empat saluran akar
pada evaluasi di akhir bulan ke-9. Persentase keberhasilan 60% pada gigi dengan pengisian
berlebih zinc oxide eugenol dibandingkan 100 % keberhasilan pada gigi dengan endoflas
berlebih [Tabel 3 dan 4].

Tabel 3. Perbandingan keberhasilan pasca perawatan pada gigi dengan pengisian berlebih pada
bulan ke-9 pada kelompok I dan kelompok II
Bahan Jumlah gigi Keberhasilan Kegagalan
Endoflas 7 100% (n=7) 0% (n=0)
ZnOE 10 100% (n=6) 40% (n=4)
Tabel 4. Evaluasi radiograf resobsi bahan pengisian saluran akar berlebih pada kelompok I dan II

R= Bahan berlebih teresobsi, TR = bahan berlebih tidak teresobsi

Resorpsi fisiologis terlihat pada 14 dan 12 gigi pada masing-masing kelompok endoflas dan zinc
oxide eugenol. Resorpsi bahan pengisi endoflas sama dengan resorpsi akar fisiologis dalam
100% kasus. Pada kelompok zinc oxide eugenol, tujuh gigi (58,3%) menunjukan resorpsi yang
lambat sedangkan pada lima gigi (41,7%), menunjukan resorpsi yang sama dengan resorpsi akar
fisiologis [Tabel 5].

Tabel 5: Perbandingan resorpsi relatif pasca perawatan dari bahan pengisi yang berhubungan dengan
resorpsi akar pada bulan ke-9 pada kelompok I dan II
Kelompok I endoflas, N Kelompok II zinc oxide eugenol, N
Tanda dan gejala radiografi = 14 = 12
N % N %
Resorpsi Resorpsi akar lebih besar dari bahan pengisi** 0 0 7 58.3
bahan pengisi
Resorpsi akar sama dengan bahan pengisi** 14 100 5 41.7
Yang
berhubungan Resorpsi akar kurang dari bahan pengisi
akar 0 0 0 0
Tidak ada resorpsi
12 8

Resorpsi fisiologis akar tidak ada; **P <0,01 sangat signifikan

Secara radiografi, gigi dinilai dari perubahan ukuran radiolusensi interadikular. Pada
kelompok endoflas, penurunan 100% terlihat pada ukuran radiolusensi interadikular pada
akhir bulan ke-9. Pada kelompok zinc oxide eugenol, penurunan 45% telah diobservasi
[Tabel 6].
Tabel 6: Perbandingan radiolusensi interadikular pra operasi dan pasca operasi pada 3, 6, dan 9 bulan
di Grup I dan II

Kelompok II zinc oxide


Tanda dan gejala radiografi Kelompok I endoflas, N = 26 eugenol, N = 24

Radiolusensi furkasi sebelum


perawatan N (%) N (%)
21 (80.8) 17 (70.8) (13) 65
Bulan ke- Bulan Bulan ke- Bulan ke- Bulan ke-
follow-up pasca perawatan Bulan ke-3 6 ke-9 3 6 9

Dari radiolusensi interadikular


N % N % N % N % N % N %
Interadikular radiolusensi Ukuran sama 2 7.7 0 0 0 0 5 25 4 20 4 20
Ukuran
mengecil 19 73.1 21 80.8 21 80.8 6 30 9 45 9 45
Ukuran
membesar 0 0 0 0 0 0 2 10 0 0 0 0
Empat gigi diekstraksi karena nyeri pasca perawatan, pembengkakan, dan nyeri tekan; **P < 0,01 sebagai
signifikan secara statistik pada 3, 6, dan 9 bulan

Secara keseluruhan temuan klinis dan radiografi dalam penelitian ini menunjukkan 83%
keberhasilan dalam kelompok zinc oxide eugenol dibandingkan dengan 100% keberhasilan
pada kelompok endoflas [Tabel 7].

Tabel 7: Tingkat keberhasilan keseluruhan perawatan pada bulan ke-3, 6, dan 9 pada
kelompok I dan II
Parameter Kelompok I endoflas, Kelompok II zinc oxide eugenol,
Keberhasilan N = 26 N = 24
Bulan ke-3 Bulan ke-6 Bulan ke-9 Bulan ke-3 Bulan ke-6 Bulan ke-9
N % N % N % N % N % N %
Keberhasilan klinis 26 100 26 100 26 100 20 83 20 83 20 83
Keberhasilan
radiografi 26 100 26 100 26 100 18 90 20 100 20 100
*P < 0,05 secara statistik signifikan untuk keberhasilan klinis pada bulan ke-3, 6, dan 9 , dan P > 0,05 tidak
signifikan untuk keberhasilan radiografi pada bulan ke-3, 6, dan 9.

PEMBAHASAN

Pulpektomi sejak lama telah menimbulkan dilema dalam pandangan para klinisi karena
tortuositas saluran akar gigi molar sulung.[13] Preparasi biomekanis yang cermat menentukan
keberhasilan perawatan saluran akar gigi permanen; namun, sifat mudah teresorpsi dan
antimikroba dari bahan pengisi menentukan keberhasilan pulpektomi pada gigi sulung. Preparasi
saluran akar di gigi sulung umumnya berdasarkan dari secara kimia daripada debridemen
mekanik.[14] Zinc oxide eugenol adalah bahan yang paling umum digunakan untuk pulpektomi
gigi sulung.[15] Meskipun tingkat keberhasilannya tinggi, zinc oxide eugenol tidak dapat
memenuhi semua kriteria yang diperlukan untuk mengisi bahan saluran akar yang ideal.
Berbagai peneliti[16,17] telah melaporkan adanya resorpsi yang tertunda pada bahan ekstrusi,
defleksi, atau erupsi ektopik dari gigi sulung, crossbite anterior, dan erupsi palatal setelah terjadi
oksidasi zinc oxide eugenol.
Penelitian ini melaporkan ekstraksi dengan segera pasca operasi pada kelompok zinc oxide
eugenol, yang dijelaskan atas dasar bahwa zinc oxide eugenol adalah penyebab iritasi periapikal
dan harus sangat hati-hati dilakukan pengambilan agar tidak menekan material sehingga
melewati ujung akar.[18] Kedua, bahan ini memiliki aktivitas antibakteri yang terbatas.[9] Hal ini
penting bahwa bahan pengisi saluran akar yang digunakan pada gigi sulung harus dapat
menghancurkan mikroorganisme dalam jaringan karena debridemen mekanik secara komplit
tidak mungkin dilakukan karena kompleksitas sistem saluran akar.[19]
Dalam penelitian ini, retensi ekstrud zinc oxide eugenol di dalam empat kanal terjadi pada
kontrol 9 bulan. Perbandingannya, pada gigi yang diisi dengan endoflas tidak ada retensi bahan
berlebih. Penelitian ini mengamati bahwa endoflas tidak seperti bahan lain yang digunakan untuk
resorpsi pulpektomi pada kecepatan yang sama seperti resorpsi akar fisiologis. Faktor ini
menghasilkan resorpsi bahan yang terbatas pada ekstrud ekstra radikuler tanpa menunjukkan
tanda-tanda resorpsi intra radikuler berlebih.
Penelitian ini menyatakan keberhasilan klinis dan radiografi pada endoflas lebih tinggi
dibandingkan zinc oxide eugenol. Meskipun begitu zinc oxide eugenol merupakan bahan pengisi
saluran akar yang paling banyak digunakan pada gigi sulung. Salah satu kelemahan dari
penelitian ini adalah kendala waktu. Penelitian lebih lanjut harus dilakukan dengan periode
tindak lanjut yang lebih panjang untuk mendapatkan pengetahuan tentang efek jangka panjang
dan tingkat keberhasilan endoflas.
KESIMPULAN
Studi ini menunjukkan bahwa endoflas dengan tingkat keberhasilan 100% adalah bahan yang
jauh lebih baik dibandingkan dengan zinc oxide eugenol dan harus banyak digunakan sebagai
bahan pengisi saluran akar untuk pada gigi sulung mengingat kekurangan zinc oxide eugenol.