Anda di halaman 1dari 13

BLOK MCMR 08 Januari 2018

KROMATOGRAFI GAS

Disusun oleh :
Kelompok 3
Neni Nengsih Dadiara (2014-83-012)
Juliana Mahulette (2014-83-015)
Gabriella S Maitimu (2014-83-016)
Zuraida F A Ohorella (2014-83-017)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
TAHUN 2018
KROMATOGRAFI GAS

1. Defenisi Dan Perkenalan Alat Kromatografi Gas

Kromatografi adalah metode pemisahan senyawa penyusun gas sampel diantara dua
fasa yaitu fasa diam dan fasa gerak.Kromatografi gas adalah teknik untuk
memisahkan senyawa atsiri dalam fase gas melalui fase diam. Bila fase diam berupa
zat padat, kita sebut cara itu sebagai kromatografi gas-padat. Bila fase diam berupa
zat cair, kita sebut cara itu sebagai kromatografi gas-cair.Selain waktu yang
diperlukan untuk pemisahan relatif singkat, kolom kromatografi gas dapat digunakan
berulang-ulang asal perawatannya benar.

Syarat cuplikan :

 Harus memiliki keatsirian yang cukup (Volatil)


 Stabil terhadap panas.

Populasi :

± 10-20% senyawa dapat dianalisis dengan kromatografi gas.


Atau dengan kata lain, Senyawa yang dapat dianalisis dengan Kromatografi Gas :

Pada suhu operasional KG (< 450oC)

 molekul / senyawa dapat berubah fase gas atau uap


 Tidak terdekomposisi pada suhu tersebut

Bagan Sistem Kromatografi Gas

Bagian dasar kromatografi gas :

 Sistem gas pembawa


 Sistem pemasukan cuplikan
 Sistem pemanasan kolom
 Kolom
 Sistem deteksi
 Sistem pengolah data
Peralatan kromatografi gas merupakan si stem tertutup sejak dari gas pembawa,
pemasukan sampel {injection port) hingga masuk kedalam kolom. Setelah sampai ke
detektor baru berhubungan dengan udara luar.

Gambar : Diagram Kromatografi Gas


Keterangan :

1. Silinder gas pembawa

2. Pengatur tekanan (laju aliran gas)

3. Tempat injeksi

4. Tabung kolom

5. Detektor

6. Amplifier elektronik

7. Rekorder

8. Termostat

Cara kerja alat :

1. Sebelum dioperasikan, instrumen diperiksa; apakah kolomnya sudah sesuai


yang diinginkan. Apakah septum di injection port masih baik tidak bocor.
Apakah detektor sudah terpasang sesuai yang dikehendaki, dll.
2. Aliran gas dimulai dengan kecepatan alir yang rendah dengan membuka katup
utama dan sekunder pada tanki gas pembawa hingga menunjukkan jarum 15
psi, ini memungkinkan aliran gas pembawa 2-5 ml/menit untuk kolom paking
atau 0,5 ml/menit untuk kolom kapiler. Selanjutnya diperiksa ada tidaknya
kebocoran gas pada sambungan ke kolom dan keluar kolom menggunakan
semprotan sabun.
3. Kolom dipanaskan hingga suhu awal yang dikehendaki, suhu detektor diatur
10-25°C lebih tinggi dari suhu kolom, demikian juga suhu injection port.
4. Kecepatan (laju) aliran gas kemudian dinaikkan hingga 25-30 ml/menit kolom
paking kolom atau hingga dicapai kecepatan alir gas optimum.
5. Bila digunakan Detektor ionisasi nyala perlu diperhatikan adanya gas
hidrogen dan udara yang mengalir ke detektor tersebut.
6. Sampel dilarutkan dalam pelarut yang mudah menguap, volume sampel yang
diinjeksikan tergantung jenis detektor yang digunakan. ( TCD=>10 μl, FID=
1-10 )μl, BCD =0,1-5 μl. dengan micro syringe) Selama elusi yaitu selama
perjalanan sampel dari injection port hingga detektor, jika suhu kolom
dipertahankan tetap, maka elusi demikian disebut Elusi isotermal. Sedangkan
Elusi dengan suhu terprogram (temperature programming) (Gambar 9) adalah
selama elusi suhu kolom diatur naik bertahap dengan kecepatan tertentu, atau
diatur naik pada suhu tertentu kemudian dan ditahan suhunya. (linier dan
kenaikan divariasikan).
7. Signal dari detektor ini akan direkam sebagai kromatogram pada rekorder
sederhana atau yang diolah mikroprosesor ditampilkan pada layar monetor.
Pada kromatogram yang ditampilkan oleh mikroprosesor sekaligus dapat
diketahui kadar tiap komponen.

2. Prinsip Dasar Kromatografi Gas

Kromatografi merupakan medan yang bergerak cepat karena


sangat pentingnya dalam praktek dalam banyak bidang penelitian. Usaha-
uasaha berlanjut sepanjang banyak jalur, beberapa diantaranya adalah :
detektor yang lebih baik, bahan kemasan kolom yang baru, hubungan dengan
instrument lain (seperti spectrometer massa) yang dapat membantu untuk
mengidentifikasi komponen-komponen yang dipisahkan.
Cara kerja dari kromatografi gas adalah gas pembawa lewat melalui
satu sisi detektor kemudian memasuki kolom. Di dekat kolom ada suatu alat di
mana sampel – sampel bisa dimasukkan ke dalam gas pembawa ( tempat
injeksi). Sampel – sampel tersebut dapat berupa gas atau cairan yang volatil
(mudah menguap). Lubang injeksi dipanaskan agar sampel teruapkan dengan
cepat.
Aliran gas selanjutnya menemui kolom, kolom merupakan jantung
intrumen tempat di mana kromatografi berlangsung. Kolom berisi suatu
padatan halus dengan luas permukaan yang besar dan relatif inert. Namun
padatan tersebut hanya sebuah
penyangga mekanika untuk cairan. Sebelum diisi ke dalam kolom, padatan
tersebut diimpregnasi dengan cairan yang diinginkan yang berperan sebagai
fasa diam atau stasioner sesungguhnya, cairan ini harus stabil dan nonvolatil
pada temperatur kolom dan harus sesuai dengan pemisahan tertentu. Setelah
muncul dari kolom itu, aliran gas lewat melalui sisi lain detektor. Maka elusi
zat terlarut dari kolom mengatur ketidakseimbangan antara dua sisi detektor
yang direkam secara elektrik.
Sebagai gambaran bagaimana yang terjadi di dalam kolom, anggap
bahwa dalam kolom tersebut memilki serangkaian kamar – kamar kecil,
masing – masing mengandung suatu bagian cairan yang nonvolatil sebagai
fasa stasioner. Suatu fasa bergerak atau gas pembawa bersama – sama dengan
cairan yang sudah berupa gas masuk ke dalam kamar pertama, di mana suatu
sampel (gas yang dikromatografikan) dari fasa bergerak. Jika cairan tersebut
(fasa stasioner) cocok dengan tujuan, sebagian sampel akan yang berupa gas
tersebut akan masuk dan dan larut di dalamnya dan sebagian lagi akan tetap
ikut bersama dengan gas pembawa tersebut. Sekarang hukum Henry, dalam
bentuk biasanya, menyatakan bahwa tekanan parsial yang dihasilkan oleh zat
terlarut dalam suatu larutan encer sebanding dengan fraksi molnya. Maka
untuk distribusi benzena antara fasa cair dan uap dalam kamar itu dapat

dituliskan sebagai berikut : Pbenzena = k Xbenzena

Di mana Pbenzena adalah tekanan parsial dalam fasa uap, Xbenzena adalah fraksi
mol benzena dalam cairan dan k sebuah tetapan. Dalam kromatografi gas,
tekanan parsial dan fraksi mol seringkali digantikan dengan konsentrasi
yang mnghasilkan suatu koefisisen distribusi yang tak bersatuan, K =
konsentrasi benzena dalam fasa cair/konsentrasi benzena dalam fasa gas
Pindahkan gas nitrogen yang membawa sebagian sampel yang tidak
terhenti pada kamar pertama ke kamar kedua, di mana gastersebut bertemu
dnegan cairan. Dalam hal ini sebagian sampel di dalamnya akan melarut dan
yang lainnya tetap ikut dengan gas pembawa atau fasa geraknya. Dalam
kromatografi, aliran fasa gerak berlanjut sampai zat terlarut telah bermigrasi
sepanjang kolom itu. Namun, setelah menelusuri panjang kolom suatu
campuran akan mengalami fraksinasi, dan kemudianmuncul satu demi satu
untuk memasuki detektor. Kamar atau ruang khayalan dalam peralatan GC
disebut pelat – pelat teoritis.
Petunjuk cara kerja kromatografi gas

Walaupun beberapa sistem GC sangat rumit, pada dasarnya cara


kerjanya sama. Jika GC telah dinyalakan maka dapat dilakukan beberapa
langkah berikut ini :
a) Istrumen diperiksa, terutama jika tidak dipakai terus-menerus. Ini
dilakukan untuk mengecek apakah telah dipasang kolom yang tepat,
apakah septum injector tidak rusak (apakah ada lubang besar atau bocor
karena sering dipakai), apakah sambungan saluran gas kedap, apakah
tutup tanur tertutup rapat, apakah semua bagian listrik bekerja dengan
baik, dan apakah detektor yang terpasang sesuai.
b) Aliran gas kekolom dimulai atau disesuaikan. Ini dilakukan dengan
membuka katup utama pada tangki gas dan kemudian memutar katup
(diafragma) sekunder kesekitar 15psi dan membuka katup jarum sedikit.
Ini memungkinkan aliran gas yang lambat (2-5 ml)/menit untuk kolom
kemas dan sekitar 0,5ml/menit untuk kolom kapiler melewati system dan
melindungi kolom dan detektor terhadap perusakan secara oksidasi.
Dalam banyak instrument modern, aliran gas dapat diatur dengan
rotameter atau aliran otomatis atau pengendali tekanan, atau dapat
dimasukkan melalui modul pengendali berlandas mikroprosesor.
Apapun jenisnya, sambungan system (terutama sambungan kolom) harus
dicek dengan larutan sabun untuk mengetahui apakah ada yang bocor,
atau dengan larutan khusus untuk mendeteksi kebocoran (SNOOP),atau
dapat juga dengan larutan pendeteksi kebocoran niaga.
c) Kolom dipanaskan sampai suhu awal yang dikehendaki. Ini dilakukan,
pada instrument buatan lama, dengan memutar transformator tegangan
peubah yang mengendalikan gelungan pemanas dalam tanur kesekitar 90
V.
Selain prosedur kerja di atas, pengoperasian kromatografi gas dapat
dilakukan dengan tiga cara khususnya untuk penentuan kadar zat, sebagai
berikut:
 Cara baku internal.

Pada satu seri zat baku internal dengan jumlah tertentu, masing-
masing tambahkan sejumlah zat dengan jumlah yang berbeda-beda. Dari
masing-masing larutan baku tersebut, suntikan dengan jumlah yang sama
pada tempat penyuntikan zat. Garis kalibrasi diperoleh dengan
menggambarkan hubungan antara perbandingan luas daerah puncak kurva atau
tinggi puncak kurva zat dengan zat baku internalnya, pada sumbu vertical, dan
perbandingan jumlah zat baku dengan jumlah zat baku internal, atau jumlah
zat baku, pada sumbu horizontal.
Buat larutan zat seperti yang tertera pada masing-masing monografi,
tambahkan zat baku internal dengan jumlah sama seperti pada larutan zat
baku di atas. Dari kromatogram yang diperoleh dengan kondisi yang sama
seperti cara memperoleh garis kalibrasi, hiitung perbandingan luas daerah
puncak kurva atau tinggi puncak kurva zat dengan luas daerah puncak
kurva zat baku internal. Jumlah zat dapat ditetapkan dari garis kalibrasi.
Untuk baku internal, gunakan senyawa yang mantap yang puncak
kurvanya terletak dekat puncak kurva zat tetapi cukup terpisah dari puncak
kurva zat, serta puncak kurva komponen-komponen lain.
 Cara garis kalibrasi mutlak

Buat satu seri larutan baku. Suntikan dengan volume sama tiap larutan
ke dalam tempat penyuntikan zat. Gambar garis kalibrasi dari
kromatogram, dengan berat zat pada sumbu horizontal, dan tinggi puncak
kurva atau luas daerah puncak kurva pada sumbu vertical. Buat larutan zat
seperti yang tertera pada masing-masing monografi. Dari kromatogram yang
diperoleh dengan kondisi yang sama seperti cara memperoleh garis kalibrasi,
ukur luas daerah puncak kurva atau tinggi puncak kurva. Hitung jumlah zat
menggunakan garis kalibrasi. Dalam cara kerja ini, semua harus dikerjakan
dengan kondisi yang betul-betul tetap.
 Cara luas daerah normalisasi

Jumlah luas daerah puncak kurva komponen-komponen yang


bersangkutan dalam kromatogram dinyatakan sebagai angka 100.
Perbandingan kadar komponen- komponen dihitung dari harga prosen luas
daerah tiap puncak kurva masing-masing.
Dalam tiga cara yang dinyatakan di atas, tinggi puncak kurva atau luas
daerah puncak kurva ditetapkan sebagai berikut :
1. Tinggi Puncak Kurva
Ukur tinggi dari titik puncak kurva sepanjang garis tegak lurus
hingga berpotongan dengan garis yang menghubungkan kedua kaki dari
puncak kurva.
2. Luas daerah puncak kurva
 Lebar puncak kurva pada pertengahan tinggi puncak kurva x
tinggi puncak kurva
 Gunakan planimeter untuk mengukur daerah puncak kurva

3. Syarat pemisahan kromatografi gas

Syarat senyawa yang dapat dianalisis dengan GC, yaitu pada suhu
operasional KG (< 450 C):

1. molekul / senyawa dapat berubah fase gas atau uap


2. Tidak terdekomposisi pada suhu tersebut

Syarat gas sebagai fase gerak :


1. Lembam
2. Koefisien difusi gas rendah
3. Kemurnian tinggi
4. Mudah didapat dan murah
5. Cocok dengan detektor yang dipakai
Contoh gas pembawa : N2, He, H2, Ar, dll

4. Kelebihan dan kelemahan Kromatografi gas

Kelebihan

1. Waktu analisis yang singkat dan ketajaman pemisahan yang tinggi

2. Dapat menggunakan kolom lebih panjang untuk menghasilkan


efisiensi pemisahan yang tinggi
3. Gas mempunyai vikositas yang rendah

4. Kesetimbangan partisi antara gas dan cairan berlangsung cepat


sehingga analisis relatif cepat dan sensitifitasnya tinggi

5. Pemakaian fase cair memungkinkan kita memilih dari sejumlah


fase diam yang sangat beragam yang akan memisahkan
12amper segala macam campuran.

Kekurangan

1. Teknik Kromatografi gas terbatas untuk zat yang mudah menguap

2. Kromatografi gas tidak mudah dipakai untuk memisahkan campuran


dalam jumlah besar. Pemisahan pada tingkat mg mudah dilakukan,
pemisahan pada tingkat gram mungkin dilakukan, tetapi pemisahan
dalam tingkat pon atau ton sukar dilakukan kecuali jika ada metode
lain.
3. Fase gas dibandingkan sebagian besar fase cair tidak bersifat reaktif
terhadap fase diam dan zat terlarut.
DAFTAR PUSTAKA

1. Day, Jr dan Underwood, A.L. 1991. Analisis Kimia Kuantitatif


Edisi 5. Jakarta: Penerbit Erlangga.

2. Fadholi, Arif. 2009. Kromatografi Gas (online).


http://ariffadholi.blogspot.com/2009/10/oleh-najiullah-2007-
kromatografi- gas-i.html. Diakses pada tanggal 7 Januari 2018.

3. Husni, Hafidz. 2009. Kromatografi Gas (online).


http://hafidzmetalurgi.blogspot.com/2009/12/kromatografi-gas.html.
Diakses pada tanggal 7 Januari 2o18.

4. Madbardo. 2008. Kromatografi Gas. (online).


http://madbardo.blogspot.com/2010/02/kromatografi-gas.html.
Diakses pada tanggal 7 Januari 2018.