Anda di halaman 1dari 6

NO Judul Artikel Nama Penulis

1 Jurnal Repertorium, Vol. Novi Ratna Sari


IV, No.2, 2017

Jurnal Serambi Hukum Widi


2 Vol. 11 No. 01 Februari - Nugrahaningsih,Mir
Juli 2017 a Erlinawati

Anak Agung Deby


Desa Vol. 01, No. Wulandari,Ida
3 Kertha Bagus Putra
01, Maret 2013 Atmadja,A.A. Sri
Indrawati

Jurnal Legislasi
4 Indonesia Vol 14, No 3, Iswi Hariyani
September 2017
PRANATA HUKUM
5 Vol 9, No 1, Lina Maulidiana
Januari 2014

6 ASAS, Vol.6, No.1, Ahmad Khumaidi


Januari 2014 Ja’far

Jurnal Hukum dan


7 Syariah Vol. 9 No.2 Dede Abdurohman
Tahun 2018

8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
Rangkuman/isi

Pada dasarnya syarat Perjanjian dalam Hukum Perdata dan Hukum Islam hampir sama, yaitu untuk melindungi kepentingan pa
pihak yang saling mengikatkan diri dalam sebuah kontrak. Dalam hukum perdata syarat sah nya perjanjian diantaranya dengan
adanya kecakapan untuk membuat suatu perikatan (bekwaamheid), adanya perizinan sebagai kata sepakat secara sukarela dar
mereka yang membuat perjanjian (toestemming), mengenai suatu hal atau obyek tertentu (bepaalde onderwerp), serta adany
sebab (kausa) yang dibenarkan (georloofde oorzak). Sedangkan dalam hukum Islam syarat sah nya perjanjian diantaranya deng
adanya subjek Perikatan (Al’Aqidin), adanya objek perikatan (Mahallul ‘Aqd), tujuan perikatan (Maudhu ‘ul’Aqd) serta adanya Ija
Kabul (Sighat al-‘Aqd). Perjanjian dalam Hukum Perdata difahami dari hukum Barat, sedangkan dalam Hukum Islam didasarkan
hukum syariat

Pemerintah dalam hal ini membuat kebijakan telah memberikan kepastian hukum untuk melindungi konsumen yang memanfa
media online untuk bertransaksi. Khususnya dalam UUPK ada pasal 8 dan pasal 9. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas
UUPK terhadap bisnis online yaitu faktor substansi atau faktor hukum mempengaruhi karena sejauh ini aturan yang lebih tekni
mengatur perlindungan konsumen dalam transaksi online masih kurang jelas. Sedangkan faktor kultur, yaitu kultur konsumen d
pelaku usaha yang kurang atau bahkan tidak tahu mengenai aturan perlindungan konsumen menyebabkan konsumen juga tida
melaporkan kerugiannya atas pelanggaran hak konsumen dan pelaku usaha tetap pada tindakan yang merugikan konsumen.

Bentuk perlindungan hukum bagi franchisee UMKM dalam bisnis franchise ada 2. Pertama, perlindungan hukum prefentif yang
bertujuan untuk mencegah terjadinya perselisihan. Hal ini diwujudkan dengan cara calon franchisee diberikan kesempatan unt
mengajukan keberatan atau menyampaikan pendapatnya sebelum suatu perjanjian tersebut disepakati oleh kedua belah pihak
Kedua, perlindungan hukum represif yang bertujuan untuk menyelesaikan perselisihan. Hal ini dapat diwujudkan melalui lemb
litigasi maupun non-litigasi yang berwenang.

OJK berperan dalam pengembangan bisnis PM-Tekfin karena OJK adalah lembaga negara independen yang berwenang mengat
dan mengawasi lembaga jasa keuangan. OJK mendorong perkembangan bisnis PM-Tekfin guna merespon kemajuan teknologi
informasi dan komunikasi serta perkembangan bisnis daring. Perlindungan hukum bagi pengguna dan penyelenggara PM-Tekfin
diatur dalam UU Otoritas Jasa Keuangan dan peraturan terikat lainnya. c) Penyelesaian sengketa bisnis PM-Tekfin dapat dilaku
melalui jalur litigasi (di dalam pengadilan) dan non-litigasi (di luar pengadilan).
Konsep dasar yang ideal bagi bisnis waralaba dalam perspektip hukum kontrak adalah berdasarkan rasa keadilan dan kepatutan
(equity) dengan mengacu kepada asas-asas hukum kontrak yang dikemukakan dalam Seminar tentang ―Reformasi Kitab Unda
Undang Hukum Perdata yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan Hukum Nasional (BPHN) pada tahun 1981 dinyataka
bahwa Undang-Undang Kontrak yang baru akan dibuat berlandaskan pada asas kebebasan untuk mengadakan kontrak, asas
menjamin perlindungan bagi kelompok-kelompok ekonomi lemah, asas itikad baik, asas keselarasan, asas kesusilaan, asas
kepentingan umum, asas kepastian hukum, asas pacta sunt servanda dan asas proporsionalitas. Bangunan hukum kontrak yan
dicita-citakan mengadopsi kesembilan asas tersebut diatas. Dengan demikian dapat diharapkan kepentingan franchisor dan
franchisee terpenuhi dan seimbang.

Terdapat perbedaan pendapat dari para pelaku bisnis tentang perlu tidaknya etika dalam kegiatan bisnis. Satu pihak memanda
bahwa etika sangat diperlukan dalam kegiatan bisnis, tetapi satu pihak menganggap bahwa dalam kegiatan berbisnis tidak perl
beretika. Islam telah menentukan nilai-nilai etika bisnis yang bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada konsumen den
cara beri'tikad baik, tidak boleh bersumpah palsu, tidak boleh mengurangi takaran/timbangan, tidak boleh menjual barang yan
cacat, menghindari riba dan mengeluarkan zakat sebagai pembersih harta.

Bisnis jasa penyaluran tenaga kerja sebagian kalangan memang menginginkan untuk dihapuskan karena merugikan pekerja dar
tenaga, waktu, dan upah. Akan tetapi lepas dari itu semua, tentu masayarkat memiliki pekerjaan sekalipun dalam keterbatasan
Masyarakat yang bekerja dibawah perusahaan outsourcing mereka mendapatkan hak yang sama dengan pekerja lainnya di lua
perusahaan outsourcing yakni darii sisi fasilitas seperti kesehatan, dan tunjangan lainnya. Dengan adanya pekerja yang bekerja
nama perusahaan outsourcing di lembaga lain, maka perusahaan outsourcing memiliki kewajiban untuk memberikan upah, bu
kewajiban perusahaan penerima pekerja outsourcing. Sehingga apa yang didapat oleh perusahaan outsourcing sah secara huk
dan halal menurut hukum ekonomi syariah.
Link

https://jurnal.uns.ac.id/repertorium/article/download/18284/14486

https://media.neliti.com/media/publications/163571-ID-implementasi-undang-undang-nomor-8-tahun.pdf

https://ojs.unud.ac.id/index.php/kerthadesa/article/view/5022

http://e-jurnal.peraturan.go.id/index.php/jli/article/view/136
http://jurnal.ubl.ac.id/index.php/PH/article/view/203

http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/asas/article/view/1709

http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/jurisdictie/article/view/5552