Anda di halaman 1dari 36

PARASITOLOGI AKUATIK (IKAN)

PARASITER PADA IKAN

Parasit adalah hewan atau tumbuhan yang hidup pada induk semangnya (hewan atau
tumbuh-tumbuhan lain) dan merugikan. Jadi parasit mempunyai cara untuk menyakiti induk
semangnya.

Bebih-benih parasit ikan dapat masuk ke kolam atau akuarium karena terbawa
masuk oleh air, tumbuh-tumbuhan air, dan benda-benda serta binatang yang
dimasukkan kemudian, Juga terbawa oleh binatang-binatang renik (jentik-jentik
nyamuk, kutu-kutu air seperti Cladocera dan Daphnia) yang biasa dipakai untuk
makanan ikan .

Pada umumnya parasit ikan hanya dapat hidup di air apabila di suatu perairan tersebut
terdapat ikannya. Atau organisme akuatik lainnya anjing laut, kura-kura kepiting ?? dll.

Lokasi penyerangan:
1. Penyakit pada kulit ikan.
Kulit ikan menunjukkan warna pucat dan berlendir, tanda ini jelas terlihat pada ikan yang
berwarna gelap.
2. Penyakit pada insang.
Ikan terlihat sulit bernafas. Tutup insang mengembang dan lembaran-lembaran insang
berwarna pucat, ptechiae dan bila terdapat bintik-bintik putih pada insang, hal ini disebabkan
oleh parasit kecil yang menempel pada tempat tersebut
3. Penyakit pada organ dalam. Perut ikan membengkak dengan sisik-sisik berdiri.

Ektoparasit adalah parasit yang berada di kulit ikan dan endoparasit adalah parasit
dalam keadaan dewasa maupun belum dewasa (stadium larva) yang berada dalam
tubuh ikan atau di antara kulit ikan. Endoparasit dapat pula berada dalam tubuh ikan
dalam bentuk kista, larva, atau dewasa.
Parasit dalam darah seperti Trypanoplasma dan Sanguinicola yang masing-masing termasuk
golongan Flagellata dan Trematoda yang tidak atau belum ditemukan di Indonesia .
Proses kejadian penyakit pada ikan secara umum
Munculnya penyakit padsa ikan umumnya merupakan hasil interaksi antara 3 faktor dalam
ekosistim perairan, yaityu inang/ikan, agen patogenik dan lingkungan. Kombinasi ikan yang
lemah, lingkungan yang buruk serta adanya patogen yang virulen.
TEORI KEJADIAN PENYAKIT

I I
DIAGRAM VENN

A
Ikan Sehat
Ikan Sakit L
Ikan Sehat : lingkungan dalam keadaan normal dan
L optimum, yang mendukung agen keduanya dalam posisi
yang seimbangan
Ikan Sakit : lingkungan dalam keadaan tidak normal dan tidak optimum, ikan dan agen pathogen hidup dalam
keadaan tidak seimbang dan tidak harmonis
2.Teori segitiga epidemiologi

.
 Jenis parAsit yg bisa didapat : protozoa, cacing, arthRopoda ( sbg endopararasit dan
ektoparasit)
 Krn ikan hiDup di air, maka parasit pd siklus hidupnya : bisa HIDUP BEBAS di air
(protozoa dan arthRopoda), kemudian MENEMPEL ( protozoa, arthRopoda, cacing) ??,
MASUK ke ikan ( ikan sbg inang antara ( t.u : cacing )

 KENAPA PARASIT PADA IKAN????


 Mungkin ? Butuh nutrisi? Merusak? MEMATIKAN?
 MASUK KE KOLAM/AIR tawar? DI AIR LAUT?
 Kaberadaan saat di air ???? ..stadium bebas.YAITU tempat kelangsungan hidup.
 Kendala hidupnya parasit di air sbg penentu/ , saat belum sampai ke ikan??? Kualitas
air ? Faktor Kimia, Fisik, Biologi air????
 KERAGAMAN ????, KELIMPAHAN ???
 DISTRIBUSI ????
 MENEMPEL ….masuk ke tubuh ikan ???
 keragaman tinggi… kualitas air baik ???

urutan wabah penyakit ikan di Indonesia :

TAHUN 1932 > Ichthyophtiriasis  WS


1951 > Myxobuliasis
1963 > Lerneasis
1980 > Aeromonas ( pada ikan mas, gurame dan lele )
1986 > Pseudomonas ( spinal; carvutura ; syndrome )
1990 > Vibriosis ( Lele, Udang

CATATAN :
> Ich 1932 mematikan : tawes, gurame ( ikan hias dari amerika serikat)
> Myx 1951 benih ikan mas kiista dan spora  tumor insang
> Lernea 1963 ikan Mas, tawes dan gurame
> Herpes Virus 2002 ikan mas , pada koi namanya KHV

PEMBAHASAN PARASIT IKAN PER-ORGANISME


A. PROTOZOA
Protozoa dicirikan oleh ukurannya yang mikroskopis dan organisme uniseluler. Ada
beberapa spesies protozoa yang hidup bebas di alam dan hidup sebagai parasit. Kemampuannya
memperbanyak diri pada atau dalam tubuh inang menjadi parasit yang berbahaya bagi ikan. Di
negara-negara Asia Tenggara, pengetahuan parasit protozoa pada ikan masih belum banyak.
1. Ichtyophthirius multifilis Fouquet
Penyakit parasit ini disebut Ichthyophthiniasis atau White Spot atau sering disebut
sebagai penyakit “Ich” . Inang dari parasit ini adalah kosmopolit, hampir terdapat pada berbagai
jenis ikan budidaya dan akuarium.
Taksonomi (Levine, dkk, 1980)
Filum : Ciliophora
Kelas : Oligohymenophora
Subkelas : Hymenostomatia
Ordo : Hymenostomatida
Subordo : Ophyroglenina
Famili : Ophyroglenidae
Genus : Ichthyophthirius
Spesies : Ichthyophthirius multifiliis Fouquet
Morfologi :
Ichthyophthirius dewasa (trofozoit)berbentuk oval dan diameter tubuhnya 1 mm. seluruh
permukaan tubuhnya ditutupi oleh cilia, kecuali pada bagian anterior yang berbentuk lingkaran
yang disebut sitostoma. Di dalam sitoplasma terdapat inti yang besar seperti sepatu kuda .
Pada penyerangan yang berat dan massal terlihat ikan berkumpul dan megap-megap di
sekitar air masuk atau permukaan air. Biasanya memperlihatkan gejala “flashing”, yaitu ikan
yang bergerak secara berkelabat dan memantulkan cahaya biasanya saat menjelang tengah
hari atau malam, ada iritasi dan ikan melompat-lompat di permukaan.
Gambar Struktur skematis Ichthyophthirius multifiliis (modifikasi dari Kabata 1985).

Keterangan:
1.Cytostome
2.Makronukleus (berbentuk tapal kuda)
3.Ciliary yarn
4.Vakuola kontraktil
5.Partikel makanan
6.Silia

Ichthyopthirius sp.

Fisiologi :
Stadium-stadium yang tidak bersifat parasit pada siklus hidup I. multifiliis Fouquet peka
terhadap factor-faktor lingkungan, misal pada pH yang lebih rendah dari 5,0. Dan oksigen
terlarut turun sampai di bawah 0,8 mg/l parasit akan mati. Infeksi parasit ini dapat menurunkan
kekebalan tubuh ikan.
Parasit yang dewasa akan tinggal pada tubuh ikan selama periode waktu tertentu yang
berkisar antara tiga hari sampai tiga minggu. Kemudian harus meninggalkan tubuhn ikan karena
proses propagasi pada tubuh ikan tidak mungkin dilakukan.
Siklus Hidup
Siklus hidup parasit ini dimulai dari stadium dewasa dimana parasit berkembang di dalam
epitel kulit, insang, atau sirip ikan. Parasit dewasa akan meninggalkan inangnya dan bergerak
bebas menuju ke air, berenang sekitar dua sampai enam jam. Kemudian melekatkan diri pada
suatu benda dan mensekresikan sejenis gelatin membentuk selaput tipis untuk menutup
tubuhnya. Bentuk ini disebut kista. Di dalam kista ini tropozoit memperbanyak diri membentuk
sejumlah individu yang disebut “tomites” atau ciliospora dan berdiameter 30-45 µ. Jumlah
tomites yang dihasilkan tergantungpada besarnya kista, namun pada umumnya berjumlah 1.000
buah dan kista yang besar dapat menghasilkan sampai 2.000 tomites. Perkembangan stadium ini
cepat menjadi sempurna dalam waktu 24 jam. Pada kondisi lingkungan yang baik, tomites akan
keluar dari kista yang pecah dan berenang mencari ikan sebagai inangnya. Masa hidup parasit
muda ini terbatas waktunya dan akan mati bila dalam 24 jam kemudian tidak menemukan
inangnya. Setelah menemukan ikan, tomites menembus kulit dengan pertolongan cilianya. Siklus
hidup parasit ini dipengaruhi oleh suhu. Pada suhu 16,80 C siklus hidup berlangsung selama 13-
16 hari dan pada suhu 220- 240 C berlangsung selama 10 hari.
Tanda-tanda Penyakit :
Tanda-tanda penyakit pada ikan yang terinfeksi memperlihatkan bintik-bintik putih di
permukaan tubuhnya. Ikan biasanya bergerak lambat dan bila tingkat infeksinya parah, kadang-
kadang ikan tergeletak di dasar kolam atau akuarium. Pada tingkat infeksi awal, ikan terlihat
menggesekkan tubuhnya pada benda-benda yang ada di kolam. Bintik-bintik putih kadang-
kadang tidak terlihat pada permukaan tubuh, tetapi insangnya dapat terinfeksi berat. Bila
infeksinya berat, pada umumnya terlihat pendarahan pada sirip dan tubuh tertutup oleh lender
yang tebal (Dana, 1984).
Menurut Kabata (1985), penembusan parasit ini menyebabkan perubahan-perubahan
disekeliling jaringan kulit dan membentuk suatu rongga yang dikelilingi oleh parasit. Sel-sel
epitel yang berdekatan dengan parasit menjadi rusak. Pembuluh-pembuluh darah yang terkena
menjadi berdilatasi dan jaringan-jaringan di sekitarnya terinfiltrasi oleh sel-sel darah.
Patogenesa :
Meskipun penyakit ini tidak terjadi pada populasi ikan yang hidup bebas di perairan
terbuka, penyakit ini pada mulanya menjadi masalah pada ikan-ikan yang didomestikasi. Parasit
ini termasuk parasit yang tidak berinang khusus. Kerentanan ikan terhadap penyakit ini tampak
berbeda dengan letak geografi yang berbeda. Ikan yang memiliki tingkat kerentanan rendah
dapat menjadi carrier. Penyakit ini menyebar melalui perpindahan ikan-ikan yang terinfeksi,
bahan-bahan organik yang terkontaminasi atau penyebaran tomites yang terbawa oleh aliran air.
Ikan-ikan yang lebih muda umurnya, pengaruhnya akan lebih hebat (Kabata, 1985).
Diagnosa :
Diagnosa penyakit ikan pada dasarnya sama dengan diagnosa penyakit hewan-hewan
terrestrial (Humphrey, 1988). Diagnosa untuk penyakit ini didasarkan pada ciri-ciri kerusakan
dan identifikasi parasit (Davis, 1974). Trofozoit-trofozoit yang hidup sudah dikenal karena
ukurannya yang besar, selalu menggerak-gerakkan cilia dan pergerakannya yang berputar,
kadang-kadang bergerak secara amoeboid. Secara mikroskopis dapat dilihat makronukleus yang
berbentuk bulan sabit yang besar.

Kejadian di Indonesia :
Parasit ini pertama kali dijumpai pada tempat-tempat akuarium di Bogor pada tahun
1928. Diduga parasit ini berasal dari ikan hias yang diimport dari negara-negara Eropa atau
Amerika Serikat. Wabah epizootik yang sangat hebat terjadi pada tahun 1932 di Tasikmalaya.
Pada kolam-kolam ikan di kota tersebut dengan segera dilakukan tindakan pengeringan dan
melarang penjualan ikan-ikan yang terinfeksi. Namun malangnya tindakan pencegahan tersebut
terbukti tidak efektif karena wabah telah menyebar dengan cepat sampai ke kota Wonosobo Jawa
Tengah. Ikan-ikan yang paling banyak menderita adalah ikan tawes. Selain itu jenis ikan lainnya
seperti tambakan dan gurame juga turut terinfeksi (Sachlan, 1952).
Meskipun hingga kini tidak timbul lagi wabah epizootik dari parasit ini, namun menurut
pengamatan pada tahun 1985 oleh Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi di Tasikmalaya, masih
menunjukkan bahwa parasit ini sebagai parasit yang dominan ditemukan di tempat-tempat
budidaya ikan.
Pemcegahan dan Pengobatan :
Semua ikan-ikan yang baru harus dikarantina dahulu hingga diyakini ikan-ikan tersebut
bebas dari parasit. Lamanya karantina adalah tiga minggu pada air yang mengalir. Kelompok
umur ikan harus dipisahkan dan ikan-ikan yang hidup bebas di perairan terbuka dapat bertindak
sebagai carrier harus dicegah masuk ke kolam-kolam ikan. Pencegahan di kolam dilakukan
dengan cara memindahkan ikan-ikan dari kolam ke kolam yang lainnya dan kolam harus
dikeringkan selama lebih dari empat hari. Kemudian pada kolam diberi larutan quicklime (CaO)
dengan jumlah 120 kg/ha yang ditujukan untuk membunuh kista pada dasar kolam (Kabata,
1985).
Menurut Djajadiredja (1974), ikan yang sudah terlanjur sakit akibat penyakit White Spot,
dapat diobati dengan diobati dengan merendam ikan dalam larutan Methylene Blue 0,1 ppm
selama 24 jam. Garam dapur juga dapat digunakan dengan cara merendam ikan dalam larutan
garam dapur yang berkonsentrasi 1 ppm selama 5 menit.

.2. Trichodina domerguei domerguei


Parasit ini menurut Kabata (1985) juga disebut sebagai Cyclochaeta domerguei
Wallengren. Penyakitnya disebut Cyclochaetiasis dan dicirikan dengan pembentukan sekresi
lumpur pada kulit ikan (Van Duijn, 1967). Jenis-jenis ikan yang dapat menjadi inangnya adalah
tawes, sepat siam dan seribu (Lebistus reticulatus). Di Jawa Barat, parasit ini juga menyerang
ikan mas kerdil yang disebut “kumpay” sebagai nama daerah untuk ikan ini .

Taksonomi (Levine dkk, 1980) :


Filum : Ciliphora
Kelas : Oligohymenophorea
Subkelas : Peritrichia
Ordo : Peritrichida
Subordo : Mobilina
Famili : Trichodinidae
Genus : Trichodina
Spesies : Trichodina domerguei domerguei
Morfologi :
Bentuk parasit ini seperti lonceng terbalik. Sisi dorsalnya cembung dan dapat
dikontraksikan serta memiliki dua mahkota bersilia. Sisi bagian ventral sedikit cekung dan
berfungsi sebagai alat penghisap. Mulut terdapat ditengah alat penghisapnya. Bila parasit ini
memanjangkan atau memendekkan tubuhnya, maka mulutnya akan melebar atau menyempit.
Parasit ini berukuran kira-kira 50 µ diameter tubuhnya.

Biologi :
Parasite ini tidak tahan hidup lama tanpa adanya inang. Satu-satunya cara propagasi
sejauh ini hanya dikenal dengan cara pembelahan. Cincin pada mulutnya yang memiliki tanduk-
tanduk mudah memisahkan diri menjadi dua bagian yang lebih kecil dan kemudian masing-
masing bagian tersebut akan memperbanyak diri. Perkembangan seksual belum diketahui
(Sachlan, 1952).
Tanda-tanda Penyakit :
Ikan yang terinfeksi oleh parasit ini menunjukkan tingkah laku yang aneh dan terjadi
perubahan warna pada kulit ikan. Ikan mengalami kelemahan, kehilangan berat badan, dan dapat
terjadi moribun. Kulit mengalami iritasi, hyperplasia, degenerasi dan nekrosa pada sel-sel epitel.
Ketika proses degenerasi menghebat, terjadi deskuamasi dan erosi sel-sel epitel. Lapisan mukosa
menjadi suram, tipis, dan berwarna keputih-putihan. Sirip ikan sering rusak, demikian pula pada
insangnya. Bila sudah demikian, kehadiran bakteri sebagai agen penyakit sekunder sangat besar
kemungkinannya menyerang kulit dan insang ikan. Parasit ini umumnya menimbulkan kematian
pada benih-benih ikan.
Patogenesa :
Akibat buruk dari Trichodina ini adalah karena gerakannya yang cepat dan dapat kemana-
mana sehingga parasite ini secara individu dapat menyerang ikan-ikan lainnya. Parasit ini dapat
hidup lebih dari dua hari tanpa induk semang. Trichodina tumbuh dengan baik pada kolam-
kolam yang dangkal dan menggenang, terutama pada tempat-tempat pemijahan dan pembibitan
ikan ketika populasinya meningkat. Beberapa spesies Trichodina dapat berada di kandung
kencing ikan dan menmpel pada dinding dalamnya. Trichodina menginfeksi ikan pada segala
umur, tetapi pada umumnya menyerang benih-benih ikan dan ikan yang masih muda.
Diagnosa :
Diagnosa sementara didasarkan pada identifikasi pada kerusakan-kerusakan tubuh ikan.
Namun bagaimanapun juga karena parasit-parasit protozoa yang lain pada umumnya ada secara
bersama-sama,dan diagnosa secara mikroskopis dengan cara menemukan parasitnya.
Kejadian di Indonesia :
Parasit ini pertama kali dijumpai pada ikan seribu pada tahun 1951. Meskipun ikan ini
dikenal tahan terhadap parasit, tetapi beberapa ikan ini ternyata mati dalam tempat-tempat
akuarium. Kemudian pada tahun yang sama, ditemukan parasit ini menyerang ikan sepat siam di
Bogor (Sachlan, 1952). Parasit ini belum pernah menyebabkan wabah epizootik pada benih ikan
yang dibudidayakan di Indonesia hingga sekarang ini.

Pencegahan dan Pengobatan :


Pencegahan yang paling baik terhadap Trichodina adalah dengan menciptakan kondisi
lingkungan yang tidak menyenangkan baginya. Kolam-kolam harus didesinfeksi sebelum ikan
dimasukkan ke dalamnya. Pemindahan ikan harus diperiksa tergadap adanya kemungkinan
Trichodina. Bilamana perlu, berudu katak dan copepoda harus dihalangi masuk ke dalam kolam
ikan. Kepadatan ikan harus dijaga serendah mungkin namun optimal.
Pengobatan dilakukan dengan cara menyiramkan larutan formalin yang berkonsentrasi
166 ppm selama satu sampai dua jam pada ikan yang terinfeksi. Potassium permanganat,
penyiraman 16 jam pada konsentrasi 5 ppm dan Malachite Green 15 ppm selama 6-24 jam.

B. SPOROZOA
Sporozoa termasuk dalam kelompok protozoa yang dicirikan oleh kemampuannya menghasilkan
spora. Bentuk normal parasit ini adalah amoeboid dan untuk berkembang biak parasit ini akan
menghasilkan ratusan sampai ribuan spora yang masing-masing berisi sebuah sporozoit. Seluruh
sporozoa adalah parasit.
Myxosporea adalah bentuk dan stadium sporanya serta cara-cara penyebarannya. Bentuk
sporanya merupakan petunjuk yang terbaik dalam menentukan taksonomi dan identifikasi. Spora
biasnya terdiri dari dua katup yang bersatu dalam suatu jahitan. Katup-katupnya mempunyai
bentuk yang bermacam-macam. Jahitan dapat lurus atau mengikuti perjalanan lekukan ruang
tubuh spora. Garis jahitan pada umumnya menonjol keluar dan terlihat jelas pada tempat
penggabungan kedua katup. Di dalam ruang yang tertutup oleh katup-katup tersebut, terdapat
satu atau dua polar kapsul dan sporoplasma yang merupakan bagian infektif dari spora.
Sporoplasma memiliki dua inti dan kadang-kadang suatu vakuola yang berwarna coklat bila
diwarnai dengan larutan lugol iodine dan oleh karena itu dinamakan sebagai vakuola iodinofil.
Ukuran spora juga sangat penting untuk identifikasi spesies, terutama untuk suatu genus
sporozoa yang memiliki beberapa spesies seperti Myxobolus.
.1. Myxobolus koi
Parasite penyakit ini disebut dengan Myxoboliasis pada ikan. Inangnya adalah ikan
tawes dan mas. Spesies ini menghasilkan semacam tumor (kista) yang kemudian akan pecah,
kista berwarna agak merah muda dan berdiameter di atas lima millimeter.

Taksonomi (Levine dkk, 1980) :


Filum : Myxozoa
Kelas : Myxosporea
Ordo : Bivalvulida
Subordo : Platysporina
Famili : Myxobolidae
Genus : Myxobolus
Spesies : Myxobolus koi
Morfologi dan Biologi :
Spora parasit ini bentuknya membulat dan melebar pada bagian posterior dan menyempit
serta menajam pada bagian anterior. Penonjolan jahitan cukup berkembang dengan baik. Katup-
katupnya halus. Polar kapsul berbentuk pyriform, panjang, ramping, dan menempati 2/3 hingga
¾ bagian spora. Panjang spora berukuran 13,5-16 µ, lebarnya 7,0-9,0 µ dan tebalnya 5,0-6,7 µ.
Polar kapsul panjangnya 7,0-9,0 µ dan filament kutub panjangnya 72,0 µ (Kabata, 1985).
Parasit ini tidak hanya tinggal pada insang tetapi menurut Markovich (1963) dalam
Rukyani (1978), parasit ini merupakan parasit obligat pada jaringan-jaringan internal seperti
jaringan ikat, hati, ginjal, dan mesenterium. Siklus hidup parasit ini belum diketahui.
Tanda-tanda Penyakit :
Ikan mengalami gangguan pernafasan karena kista menutupi permukaan insang sehingga
mengganggu gerakan insang. Biasanya ikan-ikan yang sakit berkumpul bersama-sama di
permukaan air dan lama-kelamaan akan menjadi lemah dan akhirnya mati (Rukyani, 1978).
Patogenesa :
Akibat infeksi Myxobolus koi tergantung dari kehebatan dan letak kistanya. Infeksi yang
hebat pada insang dapat menyebabkan kemacetan kapiler-kapiler darah, nekrosa, dan gangguan
pernafasan. Bila usus terkena, perubahan-perubahan miolitik terjadi secar luas pada dinding-
dinding usus. Infeksi yang berat pada jaringan subkutan dan insang menyebabkan penurunan
berat badan, terutama pada ikan-ikan muda. Ikan-ikan menjadi lemah dan cenderung berenang
dekat pinggir kolam. Warna ikan menjadi suram. Infeksi dapat terjadi pada hati, ginjal, dan
mesenterium. Parasite ini sering menginfeksi bersama-sama dengan Trichodina, Cryptobia,
Ichthyobodo, dan jamur. Infeksi-infeksi campuran cenderung menyebabkan kematian ikan
(Kabat, 1985).
Kejadian di Indonesia :
Penyebaran parasit ini hanya diketahui terdapat di Pulau Jawa dimana budidaya ikan air
tawar secara intensif telah menyebar dengan luas. Ada tiga genus dari family Myxobolidae yang
ditemukan di Pulau Jawa. Dua diantaranya telah diidentifikasi dan dilaporkan oleh Rukyani
(1978) sebagai Myxobolus koi dan Thelohanellus pyriformis dari ikan mas. Kemudian yang satu
lagi belum dapat diidentifikasi.
Myxobolus koi telah dikenal sejak tahun 1974 di Jawa Barat. Parasit ini umumnya menyerang
ikan mas muda. Dalam dua tahun sebelumnya, wabah yang disebabkan oleh parasite ini lebih
hebat daripada yang disebabkan oleh Thelohanellus pyriformis. Prosentase kematian tertinggi
pada populasi ikan mas mencapai 90%.
Pencegahan dan Pengobatan : pencegahan dapat dilakukan dengan cara:
 Memusnahkan benih-benih ikan yang terinfeksi
 Menjarangkan pemindahan benih ikan ke kolam lain
 Pemberian makanan yang cukup
 Pengeringan kolam-kolan terinfeksi dan desinfeksi denga CaO (quicklime) 25
ka/ha.Sedangkan pengobatan dapat dilakukan memberikan makanan yang baik dan cukup .

.2. Myxoboluus sp.


Myxobolus spp. telah ditemukan di Indonesia. Oada tahun 1983-1985, Dana (1988) telah
melakukan penelitian tentang morfologi dan inang khusus dari kelas Myxosporea pada ikan-ikan
budidaya di Jawa Barat dan memperoleh hasil beberapa spesies Myxobolus, seperti Myxobolus
sp. 1 yang identic dengan Myxobolus koi pada ikan mas, Myxobolus sp. 2 pada ikan lele dan
Myxobolus sp. 3 pada ikan nilem. Sebelum tahun tersebut, Myxobolus sp. telah ditemukan dan
dilaporkan oleh Sachlan (1952) menyebabkan wabah penyakit di kolam-kolam pembenihan di
Ngrajeg (Yogyakarta) pada tahun 1941 dan di Kabupaten Kedu Jawa Tengah pada tahun 1952.
Wabah tersebut menimbulkan kematian masal pada benih ikan tawes. Pemeriksaan secara
mikroskopis pada saat tersebut menunjukkan Myxobolus yang berukuran 18 µ panjangnya dan 8
µ lebarnya serta memiliki sebuah polar kapsul, dinamakan Myxobolus pyriformis.

ichtiobodo sp

.3. Myxosoma sp.


Parasit ini juga menyerang ikan mas sekitar tahun 1978 di Jawa Barat dan menyebabkan
pembengkakan pada otot-otot tubuh ikan (Djajadiredja dkk, 1983).
Parasit ini dibedakan dari Myxobolus karena morfologi dan sporanya. Spora Myxobolus
sp. bentuknya pyriform dan sporoplasma berisi vakuola iodinofil, sedangkan spora Myxosoma
sp. bentuknya oval dan kurang berisi vakuola iodinofil.
Taksonomi spesies Myxosoma pada umumnya diwarnai perdebatan oleh para ahli.
Vakuola merupakan suatu bentuk yang tidak tetap dan dapat ada atau tidak ada pada spesies
parasit yang sama, tergantung pada stadium, kematangan spora atau karena beberapa alas an
yang tidak diketahui. Namun para ahli tersebut juga mengeluhkan apabila vakuola dijadikan
sebagai patokan penentuan taksonomi. Dalam penyusunan taksonomi yang baru, Myxosoma sp.
tidak dicantumkan dalam family Myxodidae.

.4. Heneguya sp.


Parasit yang termasuk family Myxobolidae ini menyerang insang ikan gurame di Pulau
Jawa
Taksonomi (Levine dkk, 1980) :
Filum : Myxozoa
Kelas : Myxosporea
Ordo : Bivalvulida
Subordo : Platysporina
Famili : Myxobolidae
Genus : Heneguya
Spesies : Heneguya sp.
Morfologi :
Ciri dari parasit ini adalah sporanya berbentuk fusiform, ramping, dengan ujung bagian belakang
yang paling besar mempunyai katup yang lembut dan halus dengan tepi-tepi yang
memperlihatkan seperti jahitan. Penjuluran-penjuluran pada bagian belakang katup sebagian
bergabung, panjang dan ramping. Sporoplasma meimiliki beberapa granula kecil dan vakuola
iodinofil terletak di bawah inti sporoplasma. Parasit ini membentuk kista berdiameter 0,5-1,0 µ

Patogenesa :
Kista ditemukan dibagian dalam tubuh ikan diantara lipatan-lipatan alat pernafasannya.
Dua sampai sepuluh kista dapat berada pada filament-filamen insang, menggelembung dan dapat
menggeser lipatan-lipatan alat-alat respirasi. Dapat menyebabkan hyperplasia jaringan. Tempat-
tempat yang terinfeksi ditemukan infiltrasi sel-sel darah putih dan kapiler arterimengalami
kongesti. Infeksi yang hebat dapat mnenyebabkan kematian yang tinggi pada populasi ikan
(Kabata, 1985).
Kejadian di Indonesia :
Parasite ini pertama kali ditemukan di Jawa Barat pada tahun 1978. Parasit ini menyerang
insang ikan gurame.
Pencegahan dan Pengobatan :
Tindakan pencegahan dan pengobatan sama dengan tindakan pada Myxobolus spp

.5. Thelohanellus pyriformis


Parasit ini telah ditemukan bersama-sama dengan Myxobolus koi pada tahun 1974 di
Jawa Barat pada ikan mas (Rukyani, 1978). Selain ikan mas, ikan tawes juga terserang oleh
parasit ini.
Taksonomi (Levine dkk, 1980) :
Filum : Myxozoa
Kelas : Myxosporea
Ordo : Bivalvulida
Subordo : Platysporina
Famili : Myxobolidae
Genus : Thelohanellus
Spesies : Thelohanellus pyriformis
Morfologi :
Spora berbentuk pyriform, memanjang, bulat halus, dan bagian posterior lebar serta
menajam. Bagian anterior lonjong, sering melekuk pada salah satu sisi. Katup-katup tanpa
hiasan. Polar kapsul yang tunggal berbentuk seperti alat pemukul atau pentung yang panjangnya
tidak melebihi dari setengah panjang spora. Ukuran spora : panjangnya 13,0-22,0 µ, lebarnya
7,0-10,0 µ, dan tebalnya 6,5-6,7 µ. Panjang polar kapsul adalah 6,0-10,5 µ dan lebarnya 4,5 µ
(Kabata, 1985).
Patogenesa :
Kista parasit ini umumnya terdapat pada insang ikan, otot, jaringan ikat subkutan,
dinding usus, dinding kandung kemih, hati, dan ginjal. Diameter kista berukuran 1,0 x 0,1 mm.
keterangan-keterangan yang terperinci tentang perubahan-perubahan patologi yang lain tidak ada
(Kabata, 1985).
Kejadian di Idonesia :
Rukyani (1978) telah berhasil mengidentifikasi parasit ini sebagai Thelohanellus
pyriformis pada tahun 1974 menyerang ikan mas di Jawa Barat. Parasit ini sering bersama-sama
dengan Myxobolus koi menyerang ikan mas dan menyebabkan kerugian yang cukup besar.
Pencegahan dan Pengobatan :
Tindakan pencegahan dan pengobatan sama dengan tindakan pada Myxobolus spp.

6. Epistylis sp.
Parasit ini termasuk dalam Filum ciliophora, kelas Oligohymenophorea, Ordo Sessile,
Famili Epistylididae, Genus Epistylis, Spesies Epistylis sp. Penyakit yang sisebabkan oleh
parasit Epistylis sp. disebut Epistiliasis. Epistylis sp. adalah protozoa yang menyerang ikan air
tawar, air payau, dan ikan-ikan laut budidaya, termasuk udang windu dan udang galah. Ikan
air tawar yang sering diserang parasit ini adalah ikan mas, gurami, tambakan, lele, tawes, nila,
mujair, dan nilem. Sedangkan ikan laut yang diserang parasit adalah kakap putih dan kakap
merah. Epistylis sp. merupakan protozoa bertangkai dan memiliki bulu getar. Pada dasarnya
spesies ini merupakan protozoa yang hidup bebas dengan melekat pada tanaman air. Pada
kondisi kualitas air kaya akan bahan organik, maka Epistylis sp. dapat berubah menjadi
agensia penyakit (Irianto, 2005). Ikan yang terserang diawali memperlihatkan gejala
”flashing” yaitu tubuhnya bergerak secara berkelambat dan memantulkan cahaya.

Gambar 1.4. Morfologi Epistilis sp. (Sumber : Kabata 1985)


Gambar 1.5. Morfologi Vorticella sp. (Sumber : Kabata 1985)

7.Oodinium sp.

Oodinium sp. yang ditemukan pada penelitian ini berbentuk bulat tidak
sempurna dan mempunyai silia di sekeliling tubuhnya. Hal tersebut sesuai dengan apa
yang dikemukakan oleh Kabata (1985) bahwa Oodinium sp. adalah protozoa yang
mempunyai bentuk bulat tidak sempurna dengan ukuran antara 15 - 70 μm dan
panjangnya 150 μm. Oodinium sp. dapat mencapai ukuran maksimum 0.3 mm.
Oodinium sp. termasuk ke dalam classis Ciliata, ordo Dirofirida, serta familia
Blastodiniidae (Kabata, 1985). .Organ insang ikan merupakan organ yang sering
terinfeksi oleh spesies ektoparasit ini .
Gambar .Oodinium sp. (Sumber : Kabata 1985 )

Gambar 1.2. (A) Morfologi Oodinium sp. (http://www.google.com), (B) Struktur skematis
Oodinium sp. (modifikasi dari http://www.fbas.co.uk).

Keterangan:
1. Rhizoid
2. Chloroplasts
3. Nukleus

C. HELMINTH
Diantara banyaknya organisme yang menunjukkan sebagai cacing. Platyhelminthes atau
cacing pipih menempati kedudukan yang sangat khusus dibandingkan dengan jenis cacing
lainnya. Evolusi cacing pipih telah berlangsung dengan baik dan menyebabkan adanya bentuk-
bentuk hubungan yang beranekaragam antara cacing dengan inangnya. Demikian pula siklus
hidupnya, sering menjalani siklus hidup yang kompleks dan melibatkan satu atau lebih induk
semang. Meskipun nama cacing pipih menunjukkan keadaan tubuhnya yang pipih, beberapa
cacing yang temasuk golongan ini berbentuk fusiform atau filiform. Cacing pipih ada yang
bersegmen (beberapa Cestoda) da nada yang tidak bersegmen. Seluruh cacing pipih dilengkapi
dengan suatu alat penempel yang khas, bentuknya sedemikian rupa sehingga mampu untuk
mempertahankan hubungan antara dirinya dengan inangnya dalam kondisi-kondisi tertentu. Yang
termasuk dalam cacing pipih adalah kelas Trematoda Monogenetik, Trematoda Digenetik dan
Cestoda.
Jenis cacing lain yang dapat bertindak sebagai parasit ikan adalah cacing bulat
(Nematoda) dan cacing kepala berduri (Acanthocephala). Cacing nematode merupakan cacing
yang tidak bersegmen. Cacing ini dapat menggunakan ikan sebagai inang antara atau inang
definitive dan dalam jaringan tubuh ikan cacing ini menghasilkan kista atau hidup sebagai cacing
dewasa di dalam saluran pencernaan ikan.
Seluruh cacing Acanthocephala hidup sebagai parasit. Cacing ini mempertahankan
hidupnya pada inang dengan menggunakan proboscisnya. Tidaklah seperti nematode, cacing ini
menggunakan ikan sebagai inang terakhirnya (Kabatam 1985).
Uraian berikut ini tidak membahas tentang penyakit-penyakit ikan yang disebabkan oleh
cacing nematode dan Acanthocephala, karena cacing-cacing tersebut tidak umum ditemukan di
tempat-tempat budidaya ikan yang dipelihara secara intensif.
C.1. Kelas Trematoda Monogenetik
Trematoda monogenetik sering ditemukan pada insang atau kulit ikan. Istilah
monogenetik dipakai karena parasit ini tidak mempunyai inang antara dan dengan pengecualian
bagi tipe penelur, menghabiskan seluruh hidupnya pada inangnya (Dana, 1984). Menurut Kabata
(1985), Trematoda ini pada umumnya hidup sebagai ektoparasit ikan.
Biologi :
Organisme pada Trematoda monogenetic sebagian besar hidup sebagai ektoparasit pada
ikan. Parasit memiliki panjang tubuh sekitar 50 µ - 3,0 mm. Parasit ini memiliki tubuh simetris
bilateral dan pipih dorsoventral. Bentuk tubuhnya dicirikan oleh adanya opisthaptor, suatu alat
untuk melekatkan dirinya pada inang. Opisthaptor bentuknya sedikit melekuk, terletak pada
anggota tubuh bagian belakang. Opisthaptor ini dilengkapi dengan duri-duri dari khitin yang
digunakan untuk menempelkan tubuhnya pada inang. Trematoda monogenetic tidak mempunyai
ruang tubuh, alat-alat dalamnya terutama pada parenkim tubuhnya (Kabata, 1985).
Terdapat ribuan spesies Trematoda monogenetic yang pada umumnya masuk dalam
genus Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Dua genus tersebut dibedakan dari morfologi dan system
reproduksinya. Ciri-ciri morfologi yang digunakan untuk membedakan tersebut adalah susunan
sucker atau jumlah kaitnya. System reproduksi Trematoda monogenetic sebagian merupakan tipe
penelur (Dactylogyridae) dan yang lainnya mempunyai tipe beranak satu (Gyrodactylidae)
(Dana, 1984). Pada umumnya parasite Dactylogyridae menyerang insang ikan dan
Gyrodactylidae menyerang kulit ikan (Van Duijn, 1967).
Siklus Hidup :
Pada umumnya memiliki siklus hidup yang langsung dan parasit-parasit hanya
menggunakan satu induk semang. Parasit yang oviparous akan mengeluarkan telur yang
kemudian menetas menjadi larva yang dilengkapi dengan sebuah cilia. Kemudian larva berenang
bebas mencari inang. Bila telah berhubunga dengan inang, larva akan menempelkan dirinya pada
inang dan tumbuh hingga dewasa.
Cacing Trematoda monogenetic yang mempunyai tipe beranak satu, melahirkan anak
cacing yang telah dilengkapi dengan alat-alat reproduksi yang sudah berkembang dengan baik.
Cacing-cacing yang muda cenderung menempel dengan segera pada inangnya setelah lahir,
kemudian membentuk populasi yang besar (Kabata, 1985).
Patogenesa dan Tanda-tanda Pentakit :
Pada umumnya parasit-parasit ini tidak menimbulkan masalah pada ikan yang hidup
bebas di perairan terbuka. Pada kondisi budidaya ikan yang padat, parasit dapat mencapai
populasi yang cukup tinggi untuk menimbulkan perubahan-perubahan patologi dan gejala-gejala
penyakit (Dana, 1984).
Bila infeksi oleh parasit ini cukup berat, ikan akan mengalami gejala megap-megap.
Perubahan-perubahan patologi biasanya terlihat pada kulit ikan, kulit menjadi pucat, hyperplasia
epitel, teleangiectasi pada kapiler-kapiler daraj insang, erosi pada jaringan-jaringan local, dan
adanya proliferasi periferi. Produksi lender sangat berlebihan dan mengganggu pernafasan.
Insang menjadi bengkak dan mengalami perubahan warna.
Gejala umum meliputi perlambatan pertumbuhan, kehilangan berat badan, kehilangan
selera makan, dan dapat bertingkah laku secara aneh (Kabata, 1985).
Diagnosa :
Diagnosa dilakukan dengan menemukan kerusakan-kerusakan pada kulit dan insang ikan
kemudian melakukan identifikasi secara mikroskopis.

C.1.1. Dactylogyrus sp.


Parasit ini di Indonesia menyerang ikan mas, tambakan, gurame, tawes, dan sepat siam.
Biasanya parasit ini bersama-sama dengan Gyrodactylus sp. menyebabkan “Penyakit Kanak-
kanak” pada benih ikan mas yang berukuran 2-10 cm (Sachlan, 1978). Infeksi parasit ini
biasanya tidak fatal, kecuali bila intensitas penyerangannya sangat tinggi.
Taksonomi (Kabata, 1985) :
Filum : Platyhelminthes
Kelas : Monogenea
Subkelas : Polyonchoinea
Ordo : Dactylogyridea
Famili : Dactylogyridae
Genus : Dactylogyrus
Spesies : Dactylogyrus sp.
Morfologi :
Bentuk cacing dewasa berukuran 0,2-0,5 mm. menempel pada tubuh inang dengan
menggunakan duri yang terdapat pada ujung tubuhnya. Mulut parasit dan dua pasang matanya
terdapat di bagian depan tubuhnya yang lonjong. Pada alat penempel yang terdapat pada bagian
distal tubuhnya terselip dua alat kait yang besar dan berbeda pada tiap-tiap spesies. Duri dan kait
dapat digerakkan dan memungkinkan cacing membuat kerusakan-kerusakan pada jaringan-
jaringan tubuh ikan. Dekat dengan mulutnya terdapat suatu kelenjar yang menghasilkan sekreta
yang bersifat seperti lem yang digunakan pada saat mengadakan gerakan pada tubuh inangnya
(Sachlan, 1952).
Kejadian di Indonesia :
Pada tahun 1952 di Cisaat Bogor ditemukan parasit ini pada ikan tawes yang terinfeksi
Myxobolus, namun parasit ini tidak sempat menimbulkan wabah penyakit di Jawa Barat.
Menurut Djajadiredja dan Soejanto (1974), parasite ini bersama-sama dengan Gyrodactylus sp.
menyebabkan penyakit “Kutilen” pada ikan-ikan gurame di Purwokerto dimana sebenarnya
kutilen tersebut merupakan kista dari cacing Trematoda ini.

Pencegahan dan Pengobatan :


Trematoda monogenetic dapat dihindari dengan pengelolaan kolam yang baik. Kolam
yang terkena harus dikeringkan dan dikapur (Dana, 1984). Menurut Sachlan (1952), pencegahan
terhadap parasit ini dilakukan dengan cara:
 Pemberian makanan yang cukup pada anak-anak ika,
 Pengeringan segera kolam-kolam yang terinfeksi,
 Jika infeksi baru terjadi, junlah ikan yang dimasukkan ke kolam harus rendah dan pemberian
makanan diperbanyak.
Pengobatan dilakukan dengan menggunakan Quinine hydrochloride yang berkonsentrasi
15 ppm efektif untuk merendam ikan selama beberapa hari. Potassium antimon tartrat kadang-
kadang digunakan dalam akuarium, konsentrasi yang digunakan adalah 1,5 ppm (Kabata, 1985).
C.1.2. Gyrodactylus sp.
Parasit ini menyerang ikan sepat dan mas. Penyakitnya disebut Gyrodactyliasis pada ikan
(Van Duijn, 1967).
Taksonomi (Kabata, 1985) :
Filum : Platyhelminthes
Kelas : Monogenea
Subkelas : Polyonchoinea
Ordo : Gyrodactylidea
Famili : Gyrodactylidae
Genus : Gyrodactylus
Spesies : Gyrodactylus sp.
Morfologi :
Tubuh memanjang, kecil, opisthaptor dengan kait kecil berjumlah 16 buah dan sepasang
duri yang masing-masing duri dihubungkan oleh batang dorsal dan ventral. Tidal mempunyai
mata. Oesofagus sangat pendek, saluran kelamin terletak agak ditengah. Tidak memiliki vagina,
uterus hanya mengandung satu embrio (Kabata, 1985).
Kejadian di Indonesia :
Parasit ini ditemukan pada ikan sepat siam di tempat-tempat akuarium LPPD Bogor pada
tahun 1951. Parasit ini bersama-sama dengan Dactylogyrus sp. juga pernah ditemukan pada
jenis-jenis ikan mas di Cisaat (Sachlan, 1952). Parasit ini belum pernah menimbulkan wabah
penyakit yang besar pada ikan-ikan di Indonesia.
Pencegahan dan Pengobatan :
Tindakan pencegahan dan pengobatan sama dengan tindakan pada Dactylogyrus sp.
C.2. Kelas Trematoda Digenetik
Trematoda ini bersifat hermafrodit, tubuhnya pipih, memiliki dua alat penghisap yang
masing-masing terletak di kepala dan ditengah-tengah tubuhnya. Istilah digenetik diberikan
karena siklus hidupnya kompleks dan biasanya melibatkan siput dan kadang-kadang burung.
Ikan merupakan inang terkahir bagi Trematoda ini dan parasit ditemukan pada lumen alat
pencernaan, darah, dan dalam arteri yang berasal dari jantung ke insang dan menimbulkan
kerusakan-kerusakan (Dana, 1984).
Biologi :
Trematoda digenetik ini pada umumnya hidup sebagai endoparasit. Tubuhnya pipih
dorsoventral, berbentuk oval dan tidak bersegmen. Parasit ini biasanya dilengkapi dengan dua
alat untuk melekatkan dirinya pada inangnya, yaitu oral sucker dan ventral sucker (acetabulum).
Siklus hidup Trematoda ini biasanya melibatkan lebih dari satu inang dan mengalami
beberapa stadium (Kabata, 1985).
Siklus Hidup :
Setelah Trematoda digenetik bertelur, telurnya akan berkembang menjadi miracidium
(bentuk larva bercilia) yang kemudian masuk ke siput. Dalam hati siput, miracidium berkembang
menjadi sporokist (stadium larva kedua). Di dalam sporokist tersebut terbentuk redia dalam
jumlah yang banyak. Redia akan berkembang menjadi cercaria. Cercaria yang mempunyai
bentuk seperti ekor, meninggalkan siput dan masuk ke tubuh ikan. Selama proses tersebut
ekornya akan menghilang. Di dalam tubuh ikan, cercaria berkembang menjadi cacing dewasa
pada usus ikan (Dana, 1984).
Patogenesa dan Tanda-tanda Penyakit :
Trematoda dewasa dianggap tidak berbahaya sejauh parasit tersebut tidak merusak
jaringan-jaringan meskipun jumlah parasit bertambah banyak. Trematoda masuk ke tubuh ikan
dalam bentuk cercaria yang berkista dalam jaringan-jaringan. Bila kista-kista berkumpul dalam
satu-kesatuan akan menyebabkan gangguan-gangguan pada inangnya. Proses-proses masuknya
parasit ini ke tubuh inang melalui dua fase. Selama fase pertama, metacercaria baru secara aktif
berpindah ke tempat sasaran yang dituju pada tubuh inangnya, tinggal pada bekas-bekas jaringan
yang hancur. Tingkat patogennya tergantung pada jumlah parasit dan lintasan perjalanan yang
harus dilalui sebelum berkista. Cercaria yang berkista pada subkutan menyebabkan iritasi dan
stress selama tahapa awal infeksi.
Selama fase kedua, metacercaria berkista dan tidak melakukan gerakan. Akibat yang
ditimbulkannya saat itu tergantung pada jumlah dan tempat serta ukuran kistanya. Perubahan
yang terjadi adalah nekrosa jaringan tubuh ikan. Pemindahan-pemindahan jaringan atau alat-alat
tubuh yang vital disebabkan oleh adanya kista yang dapat mengakibatkan gangguan fungsi-
fungsi alat-alat tubuh dan kematian. Kerusakan pada inang yang hebat dapat disebabkan oleh
kista Trematoda ini. Akibat-akibat yang tampak lebih buruk apabila benih-benih ikan dan ikan-
ikan yang masih muda terinfeksi pula oleh Trematoda ini. Trematoda pada ikan dapat pula
menjadi masalah bagi kesehatan manusia. Metacercaria Clinostomum complanatum yang berada
dalam tubuh ikan bila termakan oleh manusia akan menyebabkan laryngo-pharyngitis (Kabata,
1985).
Tnada-tanda penyakit karena Trematoda digenetik ini adalah adanya bulatan-bulatan
putih, kuning atau hitam pada kulit ikan. Pada infeksi yang parah terlihat pada hati dan ginjal
(Dana, 1984). Pembengkakan pada perut akibat penekanan oleh alat-alat tubuh juga teramati
(Kabata, 1985).
Diagnosa :
Diagnose dilakukan dengan menemukan kerusakan-kerusakan atau kelainan-kelainan
yang ditimbulkan dan identifikasi secara mikroskopis.
C.2.1. Clinostomum sp.
Parasit ini merupakan metacercaria yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan ikan
yang diserang.
Taksonomi (Kabata, 1985) :
Filium : Platyhelminthes
Kelas : Trematoda
Famili : Clinostomatidae
Genus : Clinostoma
Spesies : Clinostomum sp.
Morfologi :
Tubuhnya pipih dorsoventral, berbentuk oval dan tidak bersegmen. Mempunyai dua alat
yang melekatkan diri pada inang yaitu oral sucker dan ventral sucker. Kedua tubuh parasit ini
membulat.
Kejadian di Indonesia
Parasit ini berkista di dalam jaringan tubuh ikan kutuk (Ophiocephalus striatus) dan
gurame. Di Purwokerto parasit ini sering ditemukan pada benih-benih ikan gurame dan
menyebabkan penyakit “Bintitan”. Bintil-bintil ini mengandung cercaria Clinostomum sp. dan
menyebabkan ikan gurame yang terinfeksi terhambat pertumbuhannya. suatu pengamatan yang
dilakukan terhadap ikan-ikan gurame yang di budidayakan di Pulau Jawa menunjukkan bahwa
kira-kira 4% dari ikan tersebut mengandung kista Clinostomum sp. (Kabata. 1985).
Pencegahan dan Pengobatan :
Pencegahan dapat dilakukan dengan memakai CaO sebanyak 125-150 kg/ha yang
dimasukkan ke kolam sebelum diisi dengan ikan. Kedalaman air harus dijaga satu meter
dalamnya selama pemberian CaO tersebut dan berlangsung selama 24 jam.
Pengobatan untuk melawan endoparasit pada umumnya tidak spesifik (Kabata, 1985).
D. CRUSTACEA
Menurut Kabata (1985), parasit crustacean yang terdapat pada budidaya perikanan di
negara-negara Asia Tenggara meliputi golongan copepod, isopoda, dan branchiura. Untuk negara
Indonesia, parasit crustacean yang penting bagi budidaya ikan pada umumnya masuk dalam
kelompok copepod dan branchiura. Sedangkan kelompok isopoda biasanya ditemukan di tempat-
tempat perairan terbuka.
D.1. Copepoda
Parasit ini menempel pada permukaan tubuh ikan, termasuk insang. Biasanya parasit ini
sulit dikontrol. Copepoda yang non parasitik merupakan inang antara bagi cacing bulat, cacing
pita, dan Acantocephala. Kebanyakan copepoda yang hidup sebagai parasit, menggali ked aging
dan sulit dicapai oleh pengobatan kimiawi. Parasit ini memiliki siklus hidup rumit yang terdiri
dari perkawinan parasit di dalam air, perlekatan parasit betina pada tubuh ikan dan menghasilkan
telur untuk dibuahi kembali (Dana, 1984).
D.1.1. Lernaea cyprinacea
Parasite ini sangat terkenal menyebabkan wabah epizootik pada tahun 1970/1971 yang
meluas hampir ke seluruh daerah perikanan air tawar di Indonesia (Partasasmita, 1978).
Lernaea dapat menginfeksi hampir semua jenis ikan dudidaya, terutama ikan mas, tawes,
dan tambakan. Ikan seribu sangat mudah terserang oleh copepod parasitik ini.
Taksonomi (Kabata, 1985) :
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Ordo : Copepoda
Subordo : Cyclopoida
Famili : Lernaidae
Genus : Lernaea
Spesies : Lernaea cyprinacea
Morfologi :
Tubuh Lernaea ini memanjang seperti cacing. Pada bagian kepalanya terdapat empat
tonjolan seperti tanduk-tanduk. Sepasang tanduk pada bagian ventral lurus, dan sepasang lainnya
pada bagian dorsal bercabang seperti huruf “T”. Di bagian posterior terdapat kantung telur (2-2,5
mm). ukuran telur adalah 0,1 x 0,07 mm. jumlah telur pada setiap pasang kantung berkisar antara
30-300 butir, bahkan ada yang mencapai 500 butir. Panjang Lernaea dewasa betina sekitar 5-22
mm dan yang jantan biasanya lebih kecil (Partasasmita, 1978).
Biologi :
Lernaea merupakan parasit berjangkar (memiliki tanduk-tanduk), terdapat pada ikan
bersisik atau tidak bersisik. Lernaea dewasa menghunjamkan kepalanya ke jaringan badan ikan
dengan kuat sekali, sedangkan badan bagian belakang terkulai keluar. Selama hidup parasit ini
mengalami beberapa stadium yang meliputi stadium nauplius, copepodid, cyclopodid, dan
dewasa (Soejanto, 1980).
Siklus Hidup :
Siklus hidup Lernaea melalui tiga tingkat fase nauplius dan enam tingkat fase copepodid.
Fase copepodid yang keenam dimana copepod telah mencapai kematangan seksual dinamakan
fase cyclopodid.
Larva yang baru menetas dan hidup bebas sebagai plankton disebut nauplius. Bentuk
badan nauplius bulat telur, dilengkapi dengan tiga pasang kaki dan ruas tubuh yang belum
sempurna. Pada bagian posterior terdapat semacam rambut. Pada hari berikutnya terjadi
pergantian kulit dan perubahan bentuk, menjadi fase nauplius kedua dan mulai terbentuk saluran
pencernaan makanan dan dua pasang rambut. Pada hari berikutnya panjang tubuh mencapai kira-
kira 0,12 mm dan terdapat tiga pasang rambut. Tiga hari setelah menetas terjadi fase copepodid
pertama. Fase ini tidak dapat hidup tanpa inang. Mulai dari fase ini hingga tumbuh dewasa,
hidup menempel pada inangnya. Pada stadium cyclopodid terdapat bentuk jantan dan betina
yang melakukan perkawinan. Setelah itu yang jantan segera mati dan yang betina berubah bentuk
lebih lanjut. Bagian kepalanya menusuk atau menghunjam ke dalam jaringan tubuh ikan
sehingga kulit ikan tampak membengkak. Kemudian akan berkembang menjadi dewasa. Bagian
kepalanya tetap menghunjam ke jaringan tubuh ikan, sedangkan tubuh bagian belakang terkulai
keluar. Pada ujung yang terkulai bebas tersebut terbentuk sepasang kantung telur. Jika telur-telur
yang tersimpan di dalam kantung telur tersebut telah menetas, akan menjadi nauplius yang
segera keluar dari dalam kantung dan berenang bebas dalam air. Lamanya siklus hidup Lernaea
tergantung pada spesies dan temperatur. Temperatur optimum adalah 23 0 – 300 C dan pada suhu
ini lamanya siklus hidup berkisar 17-23 hari (Partasasmita, 1978; Soejanto, 1980).
Tanda-tanda Penyakit :
Pada umumnya infeksi Lernaea ditandai oleh kehilangan berat badan. Parasit ini dapat
dilihat dengan mata telanjang atau menggunakan bantuan kaca pembesar (Dana, 1984). Tempat-
tempat dimana parasit ini menempel pada tubuh ikan, menyebabkan terjadinya hiperaemi,
pembengkakan, borok-borok, dan nekrosa-nekrosa jaringan tubuh ikan. Pada jaringan ikat terjadi
pembentukan kapsula fibrosa yang tebal. Sirip ikan dapat rusak, kehilangan berat badan dan
mengalami gangguan pernafasan. Kematian ikan secara besar-besaran tidak umum terjadi
(Kabata, 1985).
Patogenesa :
Infeksi Lernaea cyprinacea menyebabkan kerusakan-kerusakan dan gangguan-gangguan
pada jaringan tubuh ikan. Parasit memakan runtuhan jaringan dan eritrosit. Jaringan yang
pertama kali rusak adalah kulit dan otot ikan. Pada tempat-tempat cacing melekat terjadi
pembengkakan, hiperaemi, borok-borok dan nekrosa jaringan tubuh. Luka-luka yang disebabkan
oleh parasit yang menghunjam pada tubuh ikan, kadang-kadang berkembang menjadi fistula-
fistula. Parasit ini juga dapat menembus rongga tubuh dan kadang-kadang menyebabkan
peritonitis dan kematian. Perlekatan mulut atau kepala Lernaea pada ikan yang masih muda
menyebabkan pembengkokan dan deformasi rahang ikan (Kabata, 1985).
Diagnosa :
Diagnosa dilakukan dengan menemukan kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan serta
menemukan parasitnya pada tubuh ikan.
Kejadian di Indonesia :
Pada mulanya di Indonesia tidak terdapat parasit ini. Ditemukan pertama kali pada tahun
1965 pada ikan-ikan mas koki yang dating dari Jepang (Djajadiredja dan Soejanto, 1974).
Penyerangan parasit ini pada ikan air tawar di Indonesia terjadi secara meluas pada tahun
1970/1971 dan menimbulkan ketugian yang besar. Penyerangannya meliputi perkolaman seluas
lebih dari 1.500 ha di Jawa Barat. Kemudian pada tahun 1974 di Sumatera Utara terjadi wabah
yang sama, meliputi ribuan hektar kolam dan perairan terbuka (Soejanto, 1980) atau sebesar 20%
dari seluruh perkolaman ikan di Sumatera Utara (Lembaga Penelitian Perikanan Darat Bogor,
1978).
Menurut Baruno dan Mukarno (1978), parasite ini juga dijumpai pada ikan hias air tawar
sejenis ikan bicolor di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 1972. Pada tahun 1976, beberapa
Balai Banih Ikan di kota-kota di Jawa Tengah terserang oleh parasit ini dan mengakibatkan
kematian yang tinggi pada benih-benih ikan.
Pencegahan dan Pengobatan :
Pencegahan terhadap Lernaea ditujukan untuk menghilangkan larva yang bebas berenang
masuk ke kolam-kolam ikan.
Pencegahan dapat dilakukan dengan cara:
 Penyediaan air yang bebas dari larva infektif,
 Desinfeksi ikan dan melakukan tindakan karantina,
 Desinfeksi pada kolam-kolam yang akan dimasuki ikan.
Selain cara-cara tersebut, pencegahan juga dapat dilakukan terhadap hewan-hewan carrier seperti
berudu katak atau katak dewasa yang dapat masuk ke kolam-kolam ikan (Kabata, 1985).
Menurut LPPD Bogor (1978), pengobatan pada ikan yang terinfeksi oleh parasit ini
adalah dengan memakai formalin, dipterex dan sumithion 50 EC.
 5 ml formalin 40% dalam 80 liter air selama 15 menit,
 0,5 ppm Dipterex dalam 1000 liter air dimasukkan ke kolam selama tiga hari,
 0,5 ppm sumithion 50 EC dalam 1000 liter air dimasukkan ke kolam (4 kali berturut-turut
dengan selang waktu 4 hari).

D.1.2. Ergasilus sp.


Parasit ini ditemukan pada insang ikan nilem dan gurame. Parasit ini banyak
menimbulkan kematian dan sulit dikontrol (Partasasmita, 1978).
Taksonomi (Kabata, 1985) :
Filum : Arthropoda
Kelas : Cristacea
Ordo : Copepoda
Subordo : POecilostomatoida
Famili : Ergasilidae
Genus : Ergasilus
Spesies : Ergasilus sp.
Morfologi :
Tubuh seperti cyclops, bagian posteriornya menyempit. Panjang tubuh betina adalah 1,5-
2,5 mm (termasuk kantung telurnya). Kepala dan segmen thorax pertama bersatu (cephalothorax)
yang ditutupi oleh carapace yang menggembung pada bagian dorsalnya. Ditengah-tengah
cephalothorax ke arah anterior terdapat sebuah mata. Thorax mempunyai enam segmen. Segmen
kelima seringkali pendek dan sukar dibedakan dengan segmen-segmen lainnya. Segmen keenam
melebar menjadi genital segmen dimana terletak kantung telur. Perut kecil dan mempunyai tiga
segmen dengan satu pasang anal lamella pada akhir segmen. Pada kepala terdapat dua pasang
antenna, satu pasang halus dan sepasang yang lain keras dan berkait. Mulut berkembang baik dan
dipakai untuk mengigit. Pada tiap segmen thorax terdapat satu pasang kaki renang, yang kelima
tidak berfungsi. Ergasilus sp. yang jantan serupa dengan yang betina hanya lebih kecil
ukurannya (0,1 mm). Pada genital segmen terdapat satu pasang duri (Partasasmita, 1978).
Biologi dan Siklus Hidup :
Perkawinan oleh parasit dewasa terjadi di air. Setelah kopulasi, yang jantan akan mati dan
yang betina akan menempel pada inangnya menjadi parasit. Produksi telur terjadi selama 3-12
hari, tergantung dari spesies dan suhu. Siklus hidup Ergasilus melalui fase nauplius,
metanauplius, dan empat fase copepodid. Perkembangan sampai matang berlangsung selama 10
sampai 17 hari (Partasasmita, 1978).
Tanda-tanda Penyakit:
ikan yang terinfeksi mengalami gangguan pernafasan dan pertumbuhannya terhambat.
Insang ikan mengalami erosi akibat koloni parasit ini (Kabata, 1985).
Patogenesa :
Ergasilus sp. menempel pada insang ikan dan menghisap darah serta merusak sel-sel
epitel. Mengakibatkan anemia, mengganggu pernafasan dan memperlambat pertumbuhan. Secara
tidak langsung akan menimbulkan infeksi campuran yang pada umumnya oleh jamur
(Partasasmita, 1978).
Diagnosa :
Diagnosa dilakukan dengan melihat kerusakan-kerusakan pada tubuh ikan nilem di
daerah Tasikmalaya (LPPD Bogor, 1979).
Pencegahan dan Pengobatan :
Pencegahan terhadap parasit ini dilakukan dengan cara mencegah ikan-ikan yang
terinfeksi atau air yang mengandung stadium larva bebas berenang masuk ke kolam-kolam. Pada
kolam-kolam yang terinfeksi harus dilakukan tindakan pengeringan dan pembersihan (Kabata,
1985).
Pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa bahan kimia seperti kalsium
khlorida, cupri sulfat, magnesium sulfat, potassium khlorida, dan sodium khlorida (Partasasmita,
1978). Pengobatan dapat pula menggunakan Dipterex (Dylox, Neguvon, dan Mesoten) dengan
konsentrasi 0,15 ppm selama enam jam pada insang ikan yang terserang (Kabata, 1985).

D.2. Branchiura
Kira-kira terdapat 1.500 spesies Branchiura, sebanyak 100 spesies daripadanya termasuk
genus Argulus. Argulus telah menyebar luas di seluruh dunia, baik di laut maupun air tawar
(Kabata, 1985).
Argulus pada umumnya disebut sebagai “kutu ikan”. Bentuknya pipih seperti piring dan
terlihat merayap ke seluruh permukaan tubuh ikan. Jika tidak bergerak, parasit ini mirip sisik
ikan. Parasit memakan darah dan cairan tubuh dengan dua piringan penghisap yang juga
berfungsi untuk melekatkan dirinya pada tubuh ikan (Dana, 1984).
D.2.1. Argulus indicus
Parasit ini dikenal sebagai “kutu ikan” dan sering terdapat pada jenis-jenis ikan
Labyrinthici, khususnya ikan gurame.
Taksonomi (Kabata, 1985) :
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Ordo : Copepoda
Subordo : Branchiura
Famili : Argulidae
Genus : Argulus
Spesies : Argulus indicus
Morfologi :
Tubuh Argulus berbentuk oval atau bundar dan bening. Tubuhnya terdiri dari dua bagian
yaitu cephalothorax dan abdomen. Pada cephalothorax sebelah dorsal terdapat cephal (kepala),
carapace, dan thorax. Pada kepala terdapat sepasang mata majemuk dan sebuah mata nauplius
yang mulai terbentuk pada stadium nauplius, tetapi tidak berfungsi sebagai mata pada individu
dewasa. Pada cephalothorax bagian ventral sebelah anterior dari mata terdapat dua pasang
antenna. Di belakang mata terdapat alat penusuk dan pada dasarnya terdapat kelenjar racun serta
belalai yang menghisap darah. Disebelah kiri dan kanan alat penusuk terdapat alat penghisap
yang berfungsi untuk menempelkan tubuh pada inangnya. Pada bagian ventral dari carapace
terletak dua pasang alat pernafasan yang bentuknya khusus untuk setiap jenis Argulus. Pada
bagian lateral dari segmen thorax yang kedua sampai keempat mempunyai appendage (anggota
tambahan/embel-embel). Pada jenis jantanappendage kedua sampai keempat menjadi alat
kopulasi. Segmen pertama dari appendage terakhir Argulus betina berubah menjadi natatory
lobe. Ovarium terdapat pada thorax. Testes pada yang jantan dan reseptakel seminalis pada yang
betina terdapat pada abdomen yang mempunyai dua lobus (Partasasmita, 1978).
Siklus Hidup :
Argulus indicus berkembang biak dengan kopulasi, melekatkan telurnya pada benda-
benda yang keras seperti batu, kayu, dan lain-lainnya di dasar atau pinggi perairan. Jumlah telur
berkisar 20-300 butir. Panjang telur kira-kira 0,28 sampai 0,30 mm dan lebarnya 0,22 sampai
0,24 mm. waktu yang diperlukan dari telur sampai menetas adalah 12 hari pada suhu 25,20
sampai 26,10 C. Perkembangan dari larva menjadi dewasa melalui tujuh stadium copepodid.
Stadium larva pertama panjangnya 0,75 mm, dicirikan dengan antenna yang relatif panjang, dua
pasang kaki pada thorax, dua pasang mata, dan carapace kecil. Stadium larva kedua panjangnya
1,0 mm, dicirikan dengan antenna yang relatif lebih pendek, kaki pertama berubah menjadi alat
kait yang kuat untuk menempel, mengalami pergantian kulit dan memiliki thorax yang sudah
berkembang dengan baik. Stadium larva ketiga panjangnya 1,4 mm dan dicirikan dengan adanya
ovarium dan testes serta larva kadang-kadang berenang. Stadium larva keempat panjangnya 1,9
mm dan alat penghisap mulai terbentuk. Stadium larva kelima panjangnya 2,2 mm dan alat
kelamin telah menunjukkan perkembangan yang lebih lanjut. Stadium larva keenam ditandai
dengan ujung kaki pertama panjangnya menjadi sama. Setelah metamorfosa tujuh kali, larva
menjadi dewasa.
Larva Argulus indicus yang baru menetas akan mati bila dalam waktu 36 jam tidak
menemukan inangnya. Parasit dewasa yang hidup tanpa inang akan mati bila lebih dari Sembilan
hari. Pada umumnya siklus hidup Argulus berlangsung selama 28 hari pada suhu 25,20 – 26,10 C
(Partasasmita, 1978).
Patogenesa :
Argulus menginfeksi kulit, mengeluarkan zat racun melalui gigitannya dan menghisap
darah. Kerugian yang ditimbulkan secara langsung adalah bahwa Argulus dapat membunuh ikan
atau menimbulkan infeksi campuran oleh bakteri, jamur atau virus (Partasasmita, 1978). Bila
Argulus ini menempel lama pada tubuh ikan, akan menyebabkan perubahan-perubahan patologi
seperti legokan-legokan pada tubuh ikan dan bilur-bilur yang berwarna merah pada tepi epitel
kulit (Kabata, 1970). Tempat-tempat dimana parasit ini makan menyebabkan terjadinya borok-
borok dan produksi lendir menjadi meningkat. Terjadi nekrosa pada lapisan jaringan ikat dan
menyebabkan infiltrasi oleh butir-butir darah merah yang menampakkan seperti terjadi
pendarahan. Sekresi toksin dari kelenjar pipi dapat menyebabkan peradangan yang hebat
khususnya di tempat-tempat kulit dimana parasit terlindung di dalamnya. Kehilangan berat badan
merupakan gejala yang umum akibat aktifitas makan yang menurun oleh ikan-ikan yang
terinfeksi (Kabata, 1985).
Diagnosa :
Diagnosa dilakukan dengan cara menemukan kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan dan
melakukan identifikasi untuk menentukan morfologi parasite baik dengan mata telanjang atau
memakai bantuan mikroskop (Bowen and Putz, 1966).
Kejadian di Indonesia :
Max Weber pada tahun 1891 menemukan beberapa ikan mas yang terinfeksi oleh Argulus
di Bogor. Setelah itu di Trogong (Jawa Barat) parasit ini juga ditemukan menginfeksi ikan lele.
Jenis-jenis ikan lainnya yang dapat terinfeksi oleh parasit ini adalah sepat siam, tambakan,
betook, mas, dan gurame. Parasit ini belum pernah menyebabkan wabah epizootik di Indonesia
(Sachlan, 1952).
Pencegahan dan Pengobatan :
Satu-satunya cara untuk mencegah infeksi Argulus adalah menghalangi parasit masuk ke
kolam-kolam ikan. Larva maupun parasit dewasa merupakan perenang-perenang yang aktif
sehingga sulit untuk mencegahnya masuk ke kolam. Oleh karena itu, sebagai dasar tindakan
pencegahan adalah mengontrol air yang masuk dan melakukan karantina serta desinfeksi ikan
sebelum dimasukkan ke kolam. Selain itu harus dilakukan pemisahan menurut kelompok umur
ikan dan menghindarkan kepadatan populasi ikan yang meningkat.
Beberapa tumbuhan air seperti Gesemnium elegans yang menghasilkan ekstrak yang
berbahaya bagi Argulus dapat dipakai sebagai obat, yaitu 5-10 kg tanaman tersebut dipakai untuk
50-60 kg ikan/ha. Insektisida Benzen Hexachloride (BHC) dapat dipakai dengan baik pada
konsentrasi 0,0013-0,007 ppm, dipakai untuk merendam ikan. DDT dengan konsentrasi 0,005
ppm disiramkan ke ikan selama 24 jam memberikan hasil yang efektif (Kabata, 1985).

E. FUNGI
Jamur adalah oraganisme heterotrofik, yaitu organisme yang memerlukan senyawa
organik untuk nutrisinya. Organisme ini disebut juga sebagai organisme yang bersifat saprofit,
yaitu organisme yang hidup dari benda-benda organik mati yang terlarut. Meskipun hidup
sebagai organisme saprofit, beberapa spesies jamur ada yang hidup sebagai parasit pada tumbuh-
tumbuhan, hewan, dan manusia. Pada ikan Teleostei, jamur yang bersifat parasit adalah anggota
dari kelas Pycomycetes dan jamur tidak sempurna (fungi imperfect). Biasanya jamur menyerang
ikan bersama-sama dengan organisme lainnya dan jamur tidak berperan sebagai penyebab utama.
Menurut Gopalakrishnan (1968), infeksi jamur dimulai ketika ikan mengalami luka-luka
karena akibat mekanis atau infeksi parasit lainnya. Hoffman (1963) mengatakan bahwa luka-luka
akibat aktivitas ikan saat bertelur dan trauma lainnya atau karena adanya infeksi lain
menyebabkan ikan sering terserang oleh jamur.
Jamur sangat merugikan terutama pada telur-telur ikan. Pada telur-telur ikan yang
kualitasnya kurang baik atau tidak dibuahi, sering atau dapat dikatakan selalu ditumbuhi oleh
jamur (Djajadiredja dan Soejanto, 1974).
Kabata (1985) mengatakan bahwa infeksi oleh jamur mudah dikenali. Lapisan seperti
kapas wol atau benang-benang yang sangat halus dan tumbuh pada kulit ikan, tidak diragukan
lagi bahwa lapisan tersebut adalah jamur. Namun untuk mengidentifikasi jamur yang menyerang
ikan adalah sangat sulit.
Tiap perairan air tawar di seluruh dunia pada umumnya terdapat spora-spora dari jamur
Saprolegnia dan Achlya. Jamur-jamur tersebut siap untuk membongkar hewan-hewan kecil yang
mati serta luka-luka pada tubuh ikan air tawar, teristimewa ikan-ikan dari golongan Labyrinthici
yang lemah sehingga mudah diserang oleh jamur tersebut (Sachlan, 1978).
Sejauh ini di Indonesia hanya dikenal dua jenis jamur pada ikan yaitu Saprolegnia dan
Achlya. Meskipun terdapat jenis jamur lain yang dapat hidup di air tawar seperti Branchiomyces
dan Ichtyophonus, namun dua genus ini belum diselidiki di Indonesia karena tampaknya tidak
begitu berbahaya bagi ikan (Sachlan, 1978). Selain itu menurut Boonyaratpalin (1980), penyakit
ikan yang disebabkan oleh Branchiomyces hanya ditemukan di negara-negara Eropa.
E.1. Saprolegnia dan Achlya
Taksonomi dan Morfologi :
Filum : Mikota
Kelas : Oomycetes
Ordo : Saprolegniales
Famili : Saproleniaceae
Genus : Saprolegnia dan Achlya
Penyakit yang disebabkan oleh jamur-jamur ini berturut-turut dinamakan Saprolegniasis
dan Achlyasis (Boonyaratpalin, 1980).
Pada umumnya jamur-jamur ini berbentuk hifa yang terdiri dari beberapa filamen atau
benan-benang halus yang memiliki lubang dan bersepta. Septa terdiri dari beberapa selulosa dan
di dalamnya berisi sitoplasma. Reproduksi secara aseksual dilakukan dengan cara zoospore.
Ujung hifa menggembung dan terdapat jalur masuk granula sitoplasma. Ujung yang
menggembung ini disebut sebagai zoosporangium yang menghasilkan banyak zoospore (Kabata,
1985; Hoffman, 1963).
Siklus Hidup Secara Aseksual :
Saprolegnia
Pada Saprolegnia, ujung zoosporangium pecah dan zoozpora terlepas serta berenang
bebas. Bentuk awal zoospora adalah pyriform dan memiliki dua ujung yang berflagella.
Organisme ini tidak pandai berenang. Setelah berenang kira-kira kurang dari satu jam,
tergantung pada kondisi lingkungan, organisme ini berhenti bergerak dan menghasilkan dinding
kista. Setelah kista istirahat selama satu jam, kemudian mulai menghasilkan hifa atau pecah
untuk melepaskan zoospora yang kedua. Zoospora yang kedua ini berbeda dari zoospora yang
pertama dalam bentuknya dan memiliki flagella pada sisi tubuhnya. Organisme ini lebih pandai
berenang dan bergerak lebih lama daripada zoospora pertama. Akhirnya organisme ini juga
berkista. Rangkaian pembentukan zoospora kedua ini dapat diulangi lagi, tetapi seluruh sel
akhirnya mulai tumbuh dan membentuk hifa yang baru (Kabata, 1985).
Achlya
Zoospora memiliki sedikit flagella dan akan berkista diatas ujung zoosporangium.
Zoospora-zoospora yang banyak berkumpul bersama-sama membentuk semacam bola yang tidak
teratur. Kista akan terbentuk pada zoospora kedua dan perkembangan selanjutnya, peristiwa-
peristiwanya mirip dengan Saprolegnia. Setelah pengeluaran zoospora kedua, kista yang kosong
menetap diujung hifa yang telah tua dan hal ini memberi petunjuk yang sangat berguna untuk
mengidentifikasi Achlya.
Proses reproduksi secara aseksual dari jamur-jamur tersebut dapat dipengaruhi dan
diubah oleh lingkungan dan factor-faktor makanan. Sebagai contoh, Saprolegnia yang hidup
pada ikan, dapat tidak melepaskan zoospora. Meskipun zoospora-zoospora tumbuh dalam
zoosporangium, namun akibat penembusan ke dinding kista dan menghasilkan hifa baru, akan
dapat masuk ke jaringan tubuh ikan (Kabata, 1985).
Siklus Hidup Secara Seksual :
Reproduksi secara seksual dicapai dengan terjadinya hubungan antara jenis jantan dan
betina. Perbedaan bentuk jantan dan betina adalah penting untuk mencirikan spesies-spesies
lainnya.
Pada bentuk betina, oogonium biasanya tumbuh dan keluar dari hifa, ukurannya pendek
dan bercabang-cabang lembut. Ujung oogonium membesar membentuk sel-sel yang bulat dan
terpotong oleh septa dari hifanya. Dengan oogonium yang multinuklear, nuklei, dan sitoplasma
bergerak kea rah pinggir tempat dimana inti mengalami pembelahan. Separuh daripadanya
kemudian berdegenerasi dan menghilang. Miselium pada kebanyakan spesies menghasilkan
oogonia dan bentuk-bentuk betina yang disebut antheridia. Antheridia ini juga tumbuh menjadi
hifa, tetapi tidak meluas, lembut dan mempunyai rongga. Antheridium bergabung dengan
oogonium dan inti yang jantan melewati sebuah pori-pori dinding antheridium untuk bergabung
dengan inti betina. Oospora dikelilingi oleh dinding ganda dan terlepas masuk ke dalam air.
Setelah istirahat beberapa lama, kurang lebih tiga bulan, oospora tumbuh menjadi hifa. Beberapa
spesies lain, miselium hanya menghasilkan bentuk-bentuk jantan atau betina saja dan hanya
dapat melakukan proses reproduksi secara seksual dengan menggabungkan dirinya dengan
miselium yang berbeda jenis kelaminnya (Kabata, 1985).
Patogenesa :
Infeksi oleh Saprolegnia sering dihubungkan dengan kerusakan pada kulit atau
penanganan ikan yang buruk. Tampaknya kulit dan lendir bertindak sebagai barrier terhadap
perkembangan dan penyebaran jamur (Kabata, 1985).
Neish and Hughes (1980) dalam Kabata (1985) menduga bahwa secara normal, tingkat
kortikosteroid di dalam darah dan jaringan tubuh ikan menyebabkan kecenderungan ikan terkena
infeksi-infeksi jamur. Kortikosteroid ini dihasilkan dari hubungan antara hormon pituitary
dengan kelenjar stress ikan. Kerentanan ikan terhadap infeksi lebih lanjut diperbesar oleh
kekurangan makanan.
Pada dasarnya jamur Saprolegnia berwarna putih, tetapi bermacam-macam warna yang
tampak adalah akibat dari benda-benda atau partikel-partikel yang terperangkap diantara hifa-
hifanya. Saprolegnia tidak menyerang jaringan tertentu saja. Meskipun pada umumnya
ditemukan di kulit, jamur ini dapat masuk hampir ke setiap jaringan ikan. Penembusan hifa
dengan cepat menghancurkan kulit ikan. Ketidakseimbangan osmosa cairan tubuh ikan dan
gangguan pernafasan dapat disebabkan oleh jamur ini. Jamur pada kelompok Saprolegnia ini
diduga tidak menghasilkan racun. Jamur ini pada umumnya hanya sedikit ditanggapi oleh system
pertahanan tubuh ikan yang sehat. Infeksi campuran khususnya oleh jamur atau mikroba lainnya
adalah sangat umum (Kabata, 1985).
Tanda-tanda Penyakit :
Menurut Gopalakrishnan (1968), tanda-tanda penyakit akibat jamur ini adalah ikan
menjadi lemah, lesu, dan lama-kelamaan mati setelah terjadi borok-borok atau pengelupasan
kulit yang diikuti dengan pendarahan-pendarahan, kerusakan-kerusakan pada tulang rahang,
terjadi kebutaan, kongesti pada dasar sirip dada dan sirip bagian anal serta peradangan pada hati
dan usus.
Diagnosa :
Adanya infeksi oleh jamur ditentukan oleh adanya lapisan putih seperti kapas yang
tumbuh pada telur-telur ikan atau tubuh ikan dimana lapisan putih tersebut terdiri dari miselium
dan hifa yang tidak bersepta. Di bawah mikroskop filamen-filamen hifa pada ujungnya terdapat
zoosporangium (Hoffman, 1963).
Untuk membedakan antara Saprolegnia dan Achlya, menurut Van Duijn (1967) sangat
sulit, karena hanya dapat ditentukan pada saat jamur berada dalam stadium siklus hidupnya.
Menurut Kabata (1985), identifikasi Achlya dapat ditentukan pada saat jamur tersebut selesai
mengeluarkan zoospora kedua, dimana kista yang kosong akan menetap diujung hifa yang telah
tua.
Pencegahan dan Pengobatan :
Setelah pemasukan ikan ke kolam, permukaan air harus disemprot dengan larutan 0,15
ppm Malachite Green. Tindakan ini diulang tiga kali dengan selang waktu tiga hari. Sebagai
tindakan pengobatan, ketika luka-luka terlihat, proses penyembuhan dapat dipercepat dengan
memasukkan larutan potassium dikhromat ke dalam kolam ikan. Kemudian setelah sepuluh hari,
kolam harus dikeringkan dan diisi kembali dengan air yang baru (Kabata, 1985).