Anda di halaman 1dari 8

I.

PENDAHULUAN

Sudah sejak lama masyarakat manusia hidup dalam hubungan yang serasi atau selaras dengan
alam / lingkungannya. Sejak dunia ini diciptakan manusia sudah hidup bersama dengan alam /
lingkungannya. Dan di antara ciptaan-ciptaan Allah, hanya manusia yang memiliki
keistimewaan, yakni memiliki akal budi, dan kepada manusia Allah memberikan kuasa untuk
menguasai dunia ini.1 Artinya, secara kodrati manusia memiliki kemampuan untuk mengolah
alam / lingkungannya. Dengan akal budi dan tenaganya manusia dapat mengolah alam /
lingkungannya.
Dalam sejarahnya manusia mengalami perkembangan yang sangat signifikan dan tersebar di
seluruh dunia. Mereka tersebar dan membentuk kelompok-kelompok, ada yang disebut negara,
provinsi, dan daerah-daerah. Di Indonesia, masyarakatnya tersebar sampai ke pedesaan-
pedesaan. Masyarakat pedesaan sangat dekat dengan alam / lingkungannya, sehingga mereka
sangat akrab dengan alam / lingkungan dan hidup dengan semangat kekeluargaan yang besar
dalam lingkungan sosial. Mereka sudah menerapkan pola hidup yang serasi atau selaras dengan
pengembangan alam / lingkungan hidup mereka.

Kemudian jumlah manusia semakin bertambah dan berkembang, tidak hanya di perkotaan tetapi
juga di pedesaan. Dengan semakin bertambah banyaknya jumlah manusia semakin kecil
kemungkinan seseorang untuk mendapatkan dengan mudah apa yang menjadi kebutuhan
hidupnya. Apalagi pertumbuhan jumlah manusia ini diikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Dan berbagai kebutuhan hidup manusia selanjutnya dipenuhi dengan menggunakan
atau memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini mengubah pola hidup
manusia yang serba selaras dengan alam / lingkungannya, sehingga timbullah masalah
lingkungan hidup yang harus ditanggapi. Masalah lingkungan hidup ini kalau tidak diatasi dapat
mengancam keberadaan masyarakat manusia. Karena itu, keselamatan dan kelestarian
lingkungan hidup merupakan persoalan yang serius baik bagi individu maupun masyarakat
seluruhnya (global). Kesadaran akan urgensi melestarikan dan menjaga keseimbangan
lingkungan hidup mendapat perhatian yang cukup sejak PBB mengadakan konferensi lingkungan
hidup sedunia pada 5 Juni 1972, dan hari itu ditetapkan sebagai Hari Lingkungan Hidup
Sedunia.2
Alam / lingkungan hidup kita adalah sumber nilai bagi hidup kita manusia, karena itu manusia
perlu dan seharusnya menjaga relasinya dengan alam dengan bertanggung jawab memelihara dan
melestarikan alamnya. Oleh karena itu, dalam paper ini akan ditunjukkan permasalah yang
terjadi pada alam / lingkungan hidup manusia, kemudian suatu tinjauan kritis, dan tanggung
jawab manusia atas alam / lingkungan hidupnya.
II. KERUSAKAN ALAM / LINGKUNGAN HIDUP MANUSIA

2.1. Arti Alam / Lingkungan Hidup

Alam / lingkungan hidup berarti keseluruhan persyaratan kehidupan bagi manusia, yang dilihat
dalam keterjalinan serta ketergantungan timbal balik dengan makhluk-makhluk lain beserta
ruang hidupnya.3 Alam / lingkungan memaksudkan ruang atau tempat pemukiman di mana
manusia beserta makhluk-makhluk lain dapat tinggal dan saling mempengaruhi. Pemahaman
lingkungan hidup sebagai ruang / tempat pemukiman bisa dilihat dari istilah Yunaninya,
yaitu oikos yang berarti tempat tinggal atau rumah.4 Dari sini lahir istilah ‘ekologi’, yang
umumnya dimengerti sebagai penyelidikan tentang hubungan-hubungan antara planet, hewan,
manusia, dan lingkungan hidup serta keseimbangan di antara alam dan semua
organisme.5 Dengan kata lain, ekologi ilmu tentang hubungan antar-organisme yang hidup dan
alam / lingkungannya. Eklogi juga dimengerti sebagai ilmu tentang keseluruhan organisme di
wilayah beradanya; ilmu tentang tatanan dan fungsi alam atau kelompok organisme yang
ditemukan dalam alam dan hubungan timbal balik di antara mereka. Istilah ini, ‘ekologi’,
pertama kali diperkenalkan oleh pakar biologi Jerman, Haeckel, pada tahun 1866.6
2.2. Situasi Konkrit Alam / Lingkungan Hidup Dewasa Ini

Dewasa ini, dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia semakin mudah
memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka memanfaatkan kemajuan itu untuk mengolah alam
supaya mendatangkan bagi mereka kebutuhan. Karena semakin mudah, manusia semakin
berambisi untuk mendapatkan sebanyak mungkin kebutuhan hidup mereka. Singkatnya, dengan
jalan itu mereka mengkayakan diri tanpa menjaga keseimbangan dan kelestarian alam. Dengan
demikian keseimbangan alam / lingkungan hidup dapat dibahayakan atau terganggu oleh
tindakan manusia sendiri yang berakibat pada kerusakan alam / lingkungan hidup, dan alam tak
dapat memulihkan dirinya sendiri, sehingga membahayakan dan mengancam kehidupan manusia
serta makhluk-makhluk lainnya.7 Dengan demikian timbullah masalah dan krisis alam /
lingkungan hidup.
Masalah yang sekarang sedang banyak disoroti adalah masalah pencemaran lingkungan hidup.
Pencemaran adalah keadaan di mana terjadinya perubahan kondisi tata lingkungan (tanah, udara,
air) yang tidak menguntungkan (merusak dan merugikan kehidupan manusia, binatang dan
tumbuhan) disebabkan oleh kehadiran benda-benda asing (seperti sampah kota, sampah industri,
sisa-sisa biosida, dan lain-lain) sebagai akibat dari perbuatan manusia, sehingga mengakibatkan
lingkungan itu tidak berfungsi seperti semula.8 Masalah pencemaran ini sudah menjadi persoalan
mondial. Di Indonesia masalah ini sangat parah, seperti di Kalimantan, Papua, Sidoarjo, dan
sebagainya.
2.2.1. Keadaan Udara

Sejak zaman revolusi industri, pencemaran udara telah terjadi, yakni oleh asap-asap yang
menyembur dari cerobong-cerobong pabrik. Sekarang adalah zaman industrialisasi dan terdapat
banyak pabrik raksasa. Dengan demikian banyaknya pabrik rakksasa dapat dibayangkan setiap
hari terjadi pencemaran udara (polusi). Keadaan ini mengakibatkan suhu udara cenderung
meninggi. Selain dari asap pabrik juga dari kendaraan bermotor seperti sepeda motor, mobil, dan
penggunaan batu bara sebagai bahan bakar. Selain suhu bumi meningkat juga ‘hujan asam’ (acid
rain) terbentuk pada saat nitrogen dan sulfur oksida di dalam udara bergabung dengan uap air
dalam awan untuk membentuk ‘asam sendawa’ (nitric acid) dan ‘asam belerang’ (sulfuric acid)
yang diturunkan oleh curah hujan. Curah hujan asam dapat membunuh ikan-ikan di danau dan
sungai. Dampak pencemaran udara dapat dilihat dalam dunia tumbuhan, hewan, manusia.
Khusus bagi manusia, hidup dan kesehatannya dapat terganggu. Karbon dioksida yang
dihasilkan oleh asap pabrik dan kendaraan dapat menimbulkan saskit kepala dan kehilangan
kettajaman penglihatan. Dan juga asap dapat mengganggu pernafasan seseorang.9
2.2.2. Keadaan Air

Pencemaran tidak hanya terjadi pada udara, tetapi juga pada air. Pencemaran air merupakan
persoalan klasik. Pencemaran air terjadi oleh karena manusia membuang sampah (organik
maupun anorganik) di air dan terjadi pengendapan di dalam air. Pencemaran ini membuat air
menjadi tidak higienis dan mengancam kesehatan manusia dan binatang air terancam akan
punah. Hal ini terjadi karena sampah organik yang masuk ke dalam air akan dikonsumsi oleh
berbagai bentuk bakteri. Dalam proses ini, kadar oksegen dalam air menjadi berkurang. Air yang
kadar oksigennya kurang tidak mampu menjamin hidup ikan dan oraganisme lain.10 Air
merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan semua organisme di dunia ini.11 Dan lebih
dari 50 % penduduk dunia menggantungkan hidup mereka pada air.12
2.2.3. Keadaan Ozon

Ozon merupakan salah satu bentuk oksigen. Menurut penyelidikan laboratorium bahwa khlor
dapat terpisah dari ozon. Bila dekat dengan tanah, ozon adalah salah satu unsur
utamasmog (dabut campur asap), apabila ozon berada tinggi di udara, maka ozon menyerap
radiasi ultraviolet yang berbahaya. Apa yang membuat lapisan ozon rusak ? Yaitu oleh khlor
yang dari bahan kimia yang terkandung, antara lain, dalam kulkas, air conditioner (AC). Dengan
rusaknya lapisan ozon, yaitu terjadi kebocoran, akibatnya adalah banyak orang akan menderita
kanker kulit.13
2.2.4. Keadaan Tanah
Pencemaran juga terjadi pada tanah. Pencemaran tanah berupa pembuangan sampah, pengeboran
yang berlebihan seperti yang terjadi di Porong-Sidoarjo, atau penggalian emas seperti di
Kalimantan, di mana lokasi penggalian itu sudah menjadi seperti gurun. Selain itu juga,
terjadinya penebangan hutan yang dapat mengakibatkan terjadinya longsor, erosi. Hal ini juga
dapat mengancam kelangsungan hidup manusia dan hewan.

Ternyata kerusakan alam ini karena tindakan manusia sendiri yang berambisi untuk
mendapatkan lebih banyak kebutuhan hidup. Mereka tidak hanya tinggal, tetapi juga menggarap
alam ini sekehendak hatinya tnpa memperhatikan dan mempertimbangkan dampak samping serta
masa depan tindakan mereka. Akibat dari tindakan manusia yang serakah ini adalah muncul
bencana alam berupa tanah longsor, banjir, meluasnya areal padang gurun, dan lain-lain.
Kawasan hutan semakin berkurang, padahal hutan merupakan paru-paru dan jantung bumi.

III. TINJAUAN KRITIS ETIS

Etika alam / lingkungan hidup merupakan salah satu bidang etika yang meletakkan fondasinya
pada alam. Alam merupakan tempat tinggal atau rumah (oikos) bagi semua organisme. Maka
dari itu, antara alam dan semua organisme itu ada hubungan timbal balik. Bukan hanya bahwa
alam itu berguna bagi hidup manusia (relasi kegunaan), tetapi bagaimana juga manusia itu
memberikan perhatian dengan memelihara dan menjaga keseimbangan dan kelestarian alam.
Karena itu, etika alam / lingkungan hidup ini berbicara tentang relasi di antara organisme dan
alam dan keseimbangannya. Etika alam ini menempatkan pertama-tama bahwa alam merupakan
sumber nilai dalam dan bagi hidup manusia.

Bagaimanakah etika alam / lingkungan hidup ini dalam menilai manusia, alam, dan relasi di
antara manusia dan alam / lingkungan hidupnya ?

3.1. Pandangan Etika Yang Egosentris

Etika ini berakar dalam tuntutan manusia untuk memelihara dan mengembangkan kehidupan
pribadinya. Etika ini menandaskan bahwa apa yang baik serta bermanfaat bagi individu dengan
sendirinya akan juga bermanfaat bagi masyarakat. Demikian pula kesejahteraan umum akan
muncul dengan sendirinya bila kesejahteraan pribadi terwujud. Dengan demikian, etika ini
mengedepankan kesejahteraan pribadi.15 Salah satu tokoh etika ini adalah Garret Hardin,
seorang ekolog dari Universitas California. Dia (diinspirasi oleh filsafat Hobbes) mengandaikan
bahwa manusia itu secara alamiah adalah makhluk yang suka bersaing satu sama lain, dan
bahwa alam / lingkungan hidup merupakan arena tempat manusia berjuang mengejar untung
dengan jalan menguasai dan memanfaatkan potensi-potensi yang terkandung di dalam alam itu
sendiri.16 Dari pendapatnya ini terlihat bahwa pertama-tama etika berbicara tentang relasi antar
individu, kemudian muncul etika lingkungan hidup yang lebih menekankan relasi antara alam
dan manusia. Pendapat Hardin di atas melihat relasi antara alam dan manusia dari relasi
ekonomis, relasi kegunaan. Manusia menguasai dan memanfaatkan potensi-potensi yang
terkandung di dalam alam ini untuk menguntungkan dirinya sendiri. Menurut Hardin, setiap
individu itu mempunyai kecenderungan yang kuat untuk merusak keseimbangan alam, sebab
keuntungan yang dinikmatinya jauh lebih besar daripada kerugian yang harus
ditanggungnya.17 Manusia secara individu memanfaatkan dan mengolah alam dan dinikmatinya
sendiri dengan menggunakan berbagai cara tanpa memperhatikan keseimbangan alam yang
berakibat pada kerusakan alam, dan kerusakan itu ditanggung bukan hanya oleh dirinya sendiri,
tetapi bersama.
Atas situasi ini, Hardin memberikan jalan keluarnya yakni dengan atau melalui paksaan timbal
balik yang disepakati bersama (mutual coercion mutually agreed upon) berdasarkan kemampuan
rasional manusia untuk memperhitungkan ancaman yang menghadang di masa depan.18 Dalam
konteks ini pula, dia menawarkan sebuah pemecahan etis yang bersifat egosentris yang
disebutnya “Etika Hidup di atas Sekoci Penolong” (Living on a Lifeboat Ethics).19 Etika ini
bersifat egosentris sebab mengandaikan bahwa setiap individu berhak untuk menentukan pilihan
tentang nasibnya sendiri berdasarkan kemampuan akal budinya. Situasi kritis menghadapkan
individu dengan pilihan untuk bertindak rasional atau menanggung bencana. Di sini dia
memisalkan di dalam sebuah kapal terdapat banyak penumpang dan sesak, karena mungkin
kapal itu tidak sesuai jumlah penumpang yang ada, maka kapal itu karam, dan sekoci yang ada
juga terbatas, sehingga individu-individu yang terselamatkan pastilah mereka yang berusaha
untuk menyelamatkan dirinya sendiri sebelum ditolong oleh orang lain, misalnya tim SAR atau
oleh nelayan.
Pendapat Hardin di atas, menurut penulis, kurang menunjukkan perhatian pada masalah
keselamatan lingkungan hidup kita, karena alam dan segala isinya, bagi Hardin, adalah untuk
kesejahteraan individu. Di sini Hardin tidak memberikan bagaimana seharusnya individu itu
berelasi dengan alam, dalam arti bahwa tidak hanya alam yang berguna bagi manusia ( yang
memanfaatkannya) …….. Dengan kata lain, setiap orang harus punya kepeduliaan dan mau
membantu orang lain. Hubungannya dengan alam adalah bahwa setiap orang tidak boleh
memanfaatkan dan menguras alam semaunya tanpa bertanggung jawab, dan dengan demikian ia
peduli pada orang lain (tidak hanya saat sekarang, tetapi juga untuk masa mendatang). Artinya,
bahwa alam yang tetap seimbang dapat digunakan oleh orang-orang pada masa mendatang
(misalnya anak cucu kita).

3.2. Pandangan Etika Yang Ekosentris


Etika ini berpondasi pada kosmos, dalam kesatuan alam yang teratur dan saling bergantung. Dan
semua yang ada di dalam alam mempunyai nilai yang intrinsik, yaitu bernilai dalam dan demi
dirinya sendiri, lepas dari kebutuhan dan rencana manusia,20 tetapi oleh beberapa filsuf
lingkungan hal ini dipertanyakan, sebab bagi mereka hanya manusia saja yang mempunyai nilai
intrinsik. Tujuan komprehensif etika ini adalah memelihara keseimbangan alam dan melestarikan
keutuhan, kelangsungan, kekayaan, dan keserasian ekosistem. Dengan demikian, segala yang ada
di alam ini mengandung suatu tuntutan moral-etis yang harus selalu dipertimbangkan.21
Etika ini dirintis dan dipopulerkan, pertama kali, oleh Aldo Leopold sekitar tahun 1930-1940.
Etika alam (The Land Ethic) merupakan judul bab terakhir bukunya yang berjudul A Sand
County Almanac and Sketches Here and There.22 Menurut Leopold, etika ini berusaha untuk
memperluas rasa persekutuan dengan segala makhluk lainnya dan alam itu sendiri. Dengan
demikian, manusia bukan lagi sebagai pemeras alam beserta isinya, tetapi sebagai anggota
keluarga alam dan di dalamnya dia belajar hidup, mencintai, dan menghormati, dari anggota
yang lain. Dalam praksisnya, bagaimanakah pertimbangan etis etika ini diterapkan, khususnya
dalam kaitannya dengan alam ? Menurut Leopold, “tindakan manusia itu baik bila cenderung
melestarikan keutuhan, keindahan, dan kelangsungan komunitas biotik; dan tindakan manusia itu
buruk bila sebaliknya, yaitu merusak, menguras, dan tidak memperhatikan keseimbangan dan
kelestarian alam.”23 Oleh karena itu, kerusakan alam / lingkungan hidup karena tindakan
manusia merupakan tindakan yang buruk. Maka, supaya manusia bertindak benar dan sesuai
dengan kaidah emas tadi, manusia harus mempunyai kewajiban etis terhadap alam, yang mana
hal ini haruslah diajarkan kepada manusia melalui pendidikan pelestarian lingkungan.
Senada dengan Leopold, G. Tyler Miller, Jr, dalam bukunya “Living in the Environment”
mengemukakan beberapa sikap yang menjadi petunjuk relasi yang etis dengan alam.24 Bagi
Miller alam / lingkungan ini pertama-tama ada bukan untuk manusia tetapi untuk semua
makhluk hidup. Semua yang ada di dunia adalah seperti keluarga, dan manusia merupakan salah
satu anggotanya. Menurutnya, manusia harus mempunyai kewajiban etis untuk menghormati dan
memelihara serta mengurangi pemborosan karena alam ini terbatas. Selain itu, Miller juga
mengingatkan bahwa manusia dan berbagai spesies mempunyai relasi yang timbal balik dan
demikian juga manusia dengan alam ini.
IV. TANGGUNG JAWAB BERSAMA MANUSIA

Berhadapan dengan semua organisme di dalam alam dan alam itu sendiri, manusia seharusnya
mengambil sikap dan tindakan yang baik dan bertanggung jawab. Manusia dengan akal budi dan
kehendak bebasnya dapat melakukan berbagai tindakan, tetapi tidak berarti dia boleh melakukan
tindakan yang membahayakan kelangsungan semua makhluk dan alam ini. Manusia harus
mampu memilih dan mengambil keputusan untuk bertindak secara tepat dan dapat
dipertanggung jawabkan. Baik buruk suatu tindakan seharusnya dipertimbangkan, sehingga
dengan demikian manusia dapat mengambil sekap dasar yang sehat dan bertanggung jawab
terhadap alam / lingkungannya. Karena itu, poin tanggung jawab ini menjadi sangat penting.

4.1. Membentuk Kerja Sama Global

Sikap bertanggung jawab tidak hanya dituntut dari individu-individu saja, tetapi kepada semua.
Dan tanggung jawab ini dapat berupa tindakan kerja sama dalam memelihara, melestarikan, dan
menjaga keseimbangan alam. Kerja sama ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumbangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, misalnya melakukan penelitian bersama terhadap sistem-sistem
ekologis, penelitian untuk menemukan sumber-sumber baru energi, bahn-bahan dan makanan
atau penggantinya, atau penelitian tentang metode-metode pengolahan sampah, dan
sebagainya.25 Selain memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga dapat memanfaatkan
sumbangan ilmu-ilmu positif lainnya.
4.2. Perlindungan Lingkungan Hidup Melalui Hukum

Selain membentuk kerja sama, tanggung jawab bersama dapat juga dalam bentuk pemberlakuan
hukum untuk mengatur bagaimana seharusnya bertindak terhadap sesama, ciptaan lain, dan alam
/ lingkungan hidup sendiri. Tujuan utama hukum adalah menciptakan suasana tenteram dan
aman dalam masyarakat setempat maupan masyarakat dunia.26 Maka, hukum dapat dikatakan
memiliki ciri khas tersendiri. Hukum bila diberlakukan oleh yang berwewenang maka sifatnya
mengikat. Dengan demikian dapat mengontrol tindakan manusia. Misalnya, di Indonesia hukum
tentang lingkungan ini terdapat dalam UU No. 23/1997.27 Hukum ini berfungsi untuk mengatur
tatanan lingkungan, mencakup semua kondisi, benda, termasuk manusia dan tindakannya, serta
alam tempat manusia hidup. Dengan adanya hukum tentang lingkungan hidup sekiranya dapat
membantu untuk merasa wajib bertanggung jawab dalam melestarikan alam / lingkungan
hidupnya.
4.3. Pembinaan Sikap dan Gaya Hidup

Menurut E.F. Schumacher, pengarang buku “Kecil iut Indah”, kerusakan lingkungan dewasa ini
pertama-tama bukan disebabkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan pula
karena manusia kurang pengetahuan dan informasi, tetapi kerusakan lingkungan ini terutama
disebabkan oleh sikap dan gaya hidup dunia modern yang berakar dalam cara pandang tertentu
terhadap lingkungan.28 Sikap dan gaya hidup manusia modern bersifat antroposentris: manusia
adalah pusat dan sumber segala nilai. Sikap ini jelas menekankan dominasi manusia atas alam
dan organisme lain yang ada di dalamnya. Selain itu, gaya hidup menusia modern, yaitu
hedonisme dan instanisme.
Melihat situasi ini yang dapat mengancam alam dan seluruh makhluk, maka tanggung jawab kita
adalah mengembangkan relasi etis dengan lingkungan. Relasi ini mempertimbangkan situasi
manusia secara menyeluruh dan penghormatan yang wajar terhadap alam / lingkungan hidup.
Relasi yang etis menjadi dasar bahwa sikap dan gaya hidup yang sembrono terhadap lingkungan
merupakan suatu pengingkaran terhadap eksistensi. Maka, perlu dan merupakan tanggung jawab
manusia untuk selalu membina sikap dan gaya hidup yang tidak merugikan alam dan dirinya
sendiri.

V. PENUTUP

Kerusakan alam / lingkungan hidup kita sekarang ini menuntut pengembangan sikap etis.
Manusia seharusnya mengembangkan sikap yang tidak memanipuilasi, mengeksplorasi, dan
mengeksploitasi alam. Sikap dan gaya hidup yang membahayakan dan mengancam
kelangsungan hidup semesta ini seharusnya ditinggalkan. Tuntutan etis ini bukan lagi hanya
suatu nilai ideal, tetapi bernilai praksis untuk menyelamatkan kehidupan semesta ini: semua
organisme yang ada di dalam dan alam itu sendiri.

Tindakan untuk menyelamatkan semesta ini merupakan tanggung jawab individu. untuk itu
semua, dibutuhkan satu tekad bulat untuk bertindak. Tindakan ini harus di mulai dari sikap dan
gaya hidup diri sendiri. Selain itu, manusia dapat memanfaatkan sumbangan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Dengan bertanggung jawab untuk menyelamatkan bumi ini, antara manusia dan
alam tidak hanya terjadi relasi kegunaan, tetapi lebih dari itu relasi yang timbal balik. Alam
merupaka arena kehidupan di mana manusia melakoni peran dan tugasnya. Dan manusialah yang
memberikan arti bagi alam. Relasi manusia dan alam adalah relasi yang eksistensial. Manusia
hanya ada dalam alam dan manusia yang membuat alam menjadi alam / lingkungan hidup yang
manusiawi.