Anda di halaman 1dari 34

SATUAN ACARA PENYULUHAN

ASI EKSLUSIF DI RUANG ANTURIUM


RSUP DR HASAN SADIKIN BANDUNG
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Keperawatan
Management

Disusun Oleh :
Alia Isna Yudianti 220112160078
Hana Nur Anifah 220112160080
Rika Riyanti Teresa 220112160082
Ratu Irbath Khairun Nisa 220112160087
Dewi Puspitasari 220112160091
Nurul Fatimah Saripudin 220112160094
Irma Lusiana Susanti 220112160099
Ipah Saripah 220112160101
Erlin Marlinda 220112160107

PROGRAM PROFESI NERS XXXII


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2016
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan : ASI Ekslusif


Sub Pokok Bahasan : Keuntungan dan keunggulan pemberian ASI
Gizi ibu, persiapan dan mempertahankan menyusui
Akibat negatif dari pemberian makanan botol secara
parsial terhadap pemberian ASI
Kesulitan untuk mengubah keputusan untuk tidak
memberikan ASI.
Sasaran : Ibu dan Keluarga Bayi di Ruang Anturium
Waktu : 60 menit
Tempat : Ruang Tunggu IGD RSUP Dr. Hasan Sadikin

A. LATAR BELAKANG
Sumber utama nutrisi pada bayi neonatus adalah ASI. UNICEF dan
WHO merekomendasikan pemberian ASI kepada Bayi segera dalam waktu
1 (satu) jam setelah lahir dan memberikan hanya ASI saja sejak lahir sampai
umur 6 (enam) bulan. ASI mengandung zat gizi dan non-gizi yang lengkap
dan cukup untuk bayi sejak lahir sampai usia 6 bulan. Bayi dengan ASI ekslusif
memiliki pertumbuhan yang lebih baik dibanding yang tidak menggunakan ASI
Ekslusif (Briawan, 2004).
ASI Ekslusif juga dapat menurunkan risiko infeksi akut seperti diare,
pnemonia, infeksi telinga, haemophilus influenza, meningitis, infeksi
saluran kemih, dan penyakit kronis masa depan seperti diabetes tipe 1. ASI
Ekslusif juga berhubungan dengan penurunan tekanan darah, kolesterol
serum total, prevalensi diabetes tipe 2 yang lebih rendah, serta kelebihan
berat badan dan obesitas pada masa remaja dan dewasa (NHS, 2017).
Akan tetapi, keberhasilan pemberian ASI eksklusif secara nasional
hanya 35% menurut WHO Global Data Bank 2012. Berdasarkan data series
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), ibu-ibu yang
memberikan ASI eksklusif hanya 55,1% pada tahun 2003 (BPS, 2003).
Untuk meningkatkan pengunaan ASI Ekslusif, pemerintah membuat
peraturan nomor 33 tahun 2012 tentang pemberian ASI Ekslusif. Salah
satunya mengenai kewajiban tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi
ASI Eksklusif kepada ibu dan/atau anggota Keluarga dari Bayi yang
bersangkutan sejak pemeriksaan kehamilan sampai dengan periode
pemberian ASI Eksklusif selesai. Edukasi mengenai ASI ini berdasarkan
penelitian dapat meningkatkan durasi pemberian ASI sehingga sangat
penting untuk dilakukan (Imdad et al., 2011).
Berdasarkan data yang kami dapatkan di ruang Alamanda RSUP Dr.
Hasan Sadikin, dari sebelas orang ibu yang bayinya dirawat di ruang
Anturium, hanya enam orang yang dengan benar mengetahui pengertian
ASI Ekslusif, lima orang yang mengetahui cara pemberian ASI yang benar,
dan terdapat tiga orang yang belum pernah mendapat edukasi mengenai
ASI. Untuk itu, minimal edukasi mengenai ASI Ekslusif yang telah
ditetapkan pemerintah perlu diberikan.
Perawat perinatologi sebagai salah satu tenaga kesehatan yang
memiliki peran edukasi dan advokasi dapat turut menyukseskan program
ASI Ekslusif ini. Berdasarkan penelitian, peran aktif perawat dalam edukasi
ASI Ekslusif dapat turut serta meningkatkan angka pemberian ASI Ekslusif
(Newell, 2015). Oleh karena itu, edukasi mengenai ASI Eksklusif oleh
perawat ini perlu untuk dilakukan.

B. TUJUAN
Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan keluarga pasien bayi di Ruang
Anturium RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung mengetahui mengenai ASI
Ekslusif.
Tujuan Khusus
1. Ibu atau keluarga mengetahui tentang keuntungan dan keunggulan
pemberian ASI
2. Ibu atau keluarga mengetahui tentang gizi ibu, persiapan dan
mempertahankan menyusui
3. Ibu atau keluarga mengetahui tentang akibat negatif dari pemberian
makanan botol secara parsial terhadap pemberian ASI
4. Ibu atau keluarga mengetahui tentang kesulitan untuk mengubah
keputusan untuk tidak memberikan ASI.

C. ISI MATERI
1. Pengertian ASI Ekslusif
2. Keuntungan dan keunggulan pemberian ASI
3. Gizi ibu, persiapan dan mempertahankan menyusui
4. Akibat negatif dari pemberian makanan botol secara parsial terhadap
pemberian ASI
5. Kesulitan untuk mengubah keputusan untuk tidak memberikan ASI.

D. MEDIA
1. Leaflet
2. Lembar Balik

E. METODE PENYULUHAN
1. Ceramah
2. Diskusi tanya jawab

F. KEGIATAN PENYULUHAN
Penyuluhan dapat dilakukan sebulan sekali pada minggu pertama.
RESPON
NO. WAKTU KEGIATAN PENYULUHAN
PENYULUHAN
1 5 menit 1. Mengucapkan salam 1. Menjawab salam
2. Memperkenalkan nama kepada 2. Memperhatikan dan
audiens mendengarkan
3. Kontrak waktu 3. Memperhatikan dan
mendengarkan
4. Menjelaskan tujuan penyuluhan 4. Memperhatikan dan
mendengarkan
35 menit 1. Menjelaskan pengertian ASI 1. Mendengarkan dan
Ekslusif memperhatikan
2. Menjelaskan keuntungan dan 2. Mendengarkan dan
keunggulan pemberian ASI memperhatikan
3. Menjelaskan gizi ibu, persiapan 3. Mendengarkan dan
dan mempertahankan menyusui memperhatikan
4. Menjelaskan akibat negatif dari 4. Mendengarkan dan
pemberian makanan botol secara memperhatikan
parsial terhadap pemberian ASI
5. Menjelaskan mengenai kesulitan 5. Mendengarkan dan
untuk mengubah keputusan untuk memperhatikan
tidak memberikan ASI.
10 menit 1. Mengajukan 5 pertanyaan tentang 1. Bertanya
materi penyuluhan yang telah
dijelaskan
2. Memberikan kesimpulan tentang 2. Memperhatikan dan
penyuluhan mendengarkan
3. Salam penutup 3. Menjawab salam

G. EVALUASI
1. Apa yang dimaksud dengan ASI Ekslusif?
2. Apa saja keuntungan menggunakan ASI Ekslusif?
3. Apa saja yang harus dilakukan agar ibu dapat lancar menyusui
bayinya?
4. Apa saja dampak negatif dari pemberian makanan botol pada bayi
kurang dari enam bulan?
5. Bagaimana cara menyikapi kesulitan dalam mengubah keputusan
untuk tidak memberikan ASI?
H. MATERI
ASI Ekslusif
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan tunggal dan terbaik yang
memenuhi semua kebutuhan tumbuh kembang bayi sampai berusia 6 bulan.
ASI yang pertama keluar, kolostrum, atau yang sering disebut ‘cairan emas’
karena berwarna kekuningan, mengandung protein dan antibodi yang tidak
dapat diperoleh dari sumber lain termasuk susu formula. Inisiasi Menyusu
Dini (IMD), adalah proses membiarkan bayi dengan nalurinya sendiri dapat
menyusu segera dalam satu jam pertama setelah lahir, bersamaan dengan
kontak kulit antara bayi dengan kulit ibu. Bayi dibiarkan setidaknya selama
satu jam di dada ibu, sampai dia menyusu sendiri.
Berkaitan dengan pemberian ASI Eksklusif selama enam bulan,
proses IMD ini menjadi salah satu faktor penentu keberhasilannya. Dengan
mempraktekkan IMD, maka produksi ASI akan terstimulasi sejak dini,
sehingga tidak ada lagi alasan “ASI kurang”, atau “ASI tidak keluar” yang
seringkali menjadi penghambat ibu untuk menyusui bayinya secara
eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan.
Pemberian ASI sangat penting bagi tumbuh kembang yang optimal
bagi bayi. pemberian ASI akan terlaksana dengan benar bila terdapat
beberapa faktor. Faktor-faktor keberhasilan dalam menyusui antara lain :
 Komitmen ibu untuk menyusui
 Pemberian ASI yang dilaksanakan secara dini (early inititation)
 Posisi menyusui yang baik dan benar bagi ibu dan anak
 Menyusui atas permintaan bayi (on demand)
 Memberikan ASI secara eksklusif

1. Pengertian ASI Ekslusif


ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan tambahan lain
pada bayi berumur nol sampai enam bulan (6 x 30 hari). Hanya ASI satu-
satunya makanan dan minuman yang diperlukan oleh seorang bayi dalam
enam bulan pertama. Tidak ada makanan atau minuman lain, termasuk air
putih, yang diperlukan selama periode ini. Susu hewan, susu formula
(bahkan yang harganya paling mahal), susu bubuk, teh, minuman yang
mengandung gula, air putih, pisang dan padi-padian tidak memiliki
kandungan sebaik ASI.
ASI adalah makanan yang bergizi dan berkalori tinggi, yang mudah
untuk dicerna. ASI memiliki kandungan yang membantu penyerapan nutrisi,
membantu perkembangan dan pertumbuhanan, juga mengandung sel-sel
darah putih, anti-bodi, anti-peradangan dan zat-zat biologi aktif yang
penting bagi tubuh bayi dan melindungi bayi dari berbagai penyakit.
Kandungan-kandungan tersebut tidak terdapat dalam susu formula, selain
itu asupan apapun selain ASI sulit dicerna oleh bayi, sehingga justru akan
membahayakan kesehatannya.

2. Keuntungan Menyusui
a. Membantu ikatan batin antara ibu dengan bayi.
Bayi yang sering berada dalam dekapan ibu karena menyusu akan
merasakan kasih sayang ibunya. Ia juga akan merasa aman dan tentram,
terutama karena masih mendengar detak jantung sang ibu yang telah
dikenalnya sejak dalam kandungan.
b. Membantu menunda kehamilan baru.
Cara ini mengandalkan pemberian ASI pada masa menyusui bayi
(pascapersalinan). Selama ibu memberi ASI Eksklusif dan belum haid,
98% tidak akan hamil pada 6 bulan pertama setelah melahirkan, dan
96% tidak akan hamil sampai bayi berusia 12 bulan.
c. Melindungi kesehatan ibu.
Menyusui dapat mengurangi risiko pendarahan setelah melahirkan,
karena pada saat menyusui kadar Oksitosin yang berguna juga untuk
penutupan pembuluh darah sehingga pendarahan lebih cepat berhenti.
Selain itu dapat mengurangi anemia, mengecilkan rahim, lebih cepat
langsing, dan mengurangi risiko menderita kanker payudara & indung
telur.
d. Biayanya lebih rendah daripada pemberian asupan buatan.
Dengan memberi ASI Eksklusif, berarti tidak ada pengeluaran untuk
membeli susu formula selama 6 bulan, bahkan sampai 2 tahun. Selain
itu karena bayi akan lebih jarang sakit, maka pengeluaran untuk ke
dokter atau ke rumah sakit juga akan berkurang.
e. Meningkatkan kecerdasan anak.
Dengan memberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan, akan menjamin
tercapainya pengembangan potensi kecerdasan anak secara optimal. Hal
ini karena selain sebagai nutrien yang ideal, dengan komposisi yang
tepat, serta disesuaikan dengan dengan kabutuhan bayi. ASI juga
mengandung nutrien khusus yang diperlukan otak. Menurut Rulina
(2002), penelitian pada anak-anak yang tidak diberi ASI mempunyai IQ
(Intellectual Quotient) lebih rendah 7-8 poin dibandingkan dengan
anak-anak yang diberi ASI eksklusif.
f. Meningkatkan daya tahan tubuh bayi.
Bayi yang baru lahir secara alamiah mendapat imunoglobulin (zat
kekebalan tubuh) dari ibunya melalui ari-ari. Namun kadar zat ini akan
cepat sekali menurun segera setelah bayi lahir. Ketika zat kekebalan
menurun dan tubuh bayi belum mampu memproduksi banyak zat
kekebalan, maka ASI adalah cairan hidup yang mengandung zat
kekebalan yang akan melindungi bayi dari berbagai penyakit.
Menyusui menurunkan risiko infeksi akut seperti diare, pnemonia,
infeksi telinga, haemophilus influenza, meningitis dan infeksi saluran
kemih. Menyusui juga melindungi Bayi dari penyakit kronis masa
depan seperti diabetes tipe 1. Menyusui selama masa Bayi berhubungan
dengan penurunan tekanan darah dan kolesterol serum total,
berhubungan dengan prevalensi diabetes tipe 2 yang lebih rendah, serta
kelebihan berat badan dan obesitas pada masa remaja dan dewasa.
3. Gizi Ibu, persiapan dan mempertahankan menyusui
A. Gizi ibu menyusui
Gizi dibutuhkan untuk produksi ASI dan pemulihan kesehatan
ibu. Kebutuhan gizi yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Makanan dianjurkan seimbang antara jumlah dan mutunya.
2. Banyak minum, setiap hari harus minum lebih dari 6 gelas.
3. Makan makanan yang tidak merangsang, baik secara termis,
mekanis, atau kimia untuk menjaga kelancaran pencernaan.
4. Batasi makanan yang berbau keras
5. Gunakan bahan makanan yang dapat merangsang produksi ASI,
misalnya sayuran hijau.
Diet dalam masa nifas harus bergizi, bervariasi, dan seimbang.
Diet ini sebaiknya mengandung tinggi kalori. Pada wanita dewasa,
kebutuhan kalori sebesar 2200 kkal, sedangkan untuk ibu menyusui
diperlukan tambahan 700 kkal untuk 6 bulan pertama setelah
melahirkan dan selanjutnya 500 kkal. Kalori ini terdiri dari:
1. Karbohidrat
Total makanan yang dianjurkan mengandung 50-60% karbohidrat.
Makanan sumber karbohidrat antara lain: nasi, kentang, roti, ubi,
mie, jagung, dan berbagai makanan jajanan yang berasal dari tepung.
2. Lemak
Kebutuhan lemak sebesar 25-35% dari total makanan. Bahan
makanan sumber lemak adalah keju, susu, santan, mentega, dan
margarin. Fungsi lemak untuk ibu menyusui sebagai daya tahan
tubuh.
3. Protein
Pada wanita dewasa, kebutuhan protein perhari yaitu 51 gram,
sedangkan pada ibu menyusui perlu tambahan 16 gram pada 6 bulan
pertama selanjutnya 12 gram. Fungsi protein untuk membentuk
jaringan baru dan memproduksi air susu, jumlah protein sekitar 10-
15% dari total makanan. Makanan yang merupakan sumber protein
yaitu tempe, tahu, kacang-kacangan, daging, telur, hati dan ikan.
Selain karbohidrat, lemak dan protein juga diperlukan vitamin
dan mineral yang didapat dari sayuran dan buah buahan sebagai sumber
pengatur dan pelindung. Ibu yang menyusui dianjurkan untuk makan 4-
5 kali sehari dan minum segelas cairan setiap selesai menyusui. Kafein
dan nikotin pun harus dihindari, seperti kopi, cokelat, soda, dan
makanan awetan serta menjauhi cemilan yang tidak terjamin
kebersihannya.
Contoh Menu Makanan Ibu Menyusui
Jenis Makanan Usia bayi 0-6 bulan Usia bayi > 6 bulan
Nasi 5 piring 4 piring
Ikan 3 potong 2 potong
Tempe 5 potong 4 potong
Sayuran 3 mangkok 3 mangkok
Buah 2 potong 2 potong
Gula 5 sendok 5 sendok
Susu 1 gelas 1 gelas
Air 8 gelas 8 gelas

Berdasarkan waktu makan untuk ibu menyusui contohnya;


1. Makan pagi: nasi, urap sayur, ikan bandeng goreng, kudapan (donat dan
yoghurt)
2. Makan siang: nasi, ayam goreng, rempeyek, rebon, sayur nangka, jeruk,
kudapan (kolak pisang)
3. Makan malam: nasi, semur dagung, pepes tahu, capcay, pepaya, kudapan
(ubi merah goreng) .

B. Persiapan dan mempertahankan menyusui


a) Langkah langkah menyusui yaitu sebagai berikut:
1. Cuci tangan dengan benar terlebih dahulu menggunakan sabun dan air
bersih. Tangan ibu akan menyentuh bagian-bagian yang dihisap oleh bayi
(puting dan areola), sehingga untuk menghindari perpindahan kuman dari
tangan, maka sebaiknya ibu mencuci tangan dengan sabun terlebih
dahulu. Cara mencuci tangan: basahi kedua tangan dengan air mengalir,
gosok dengan sabun hingga ke sela jari dan kuku, bilaslah dengan air
mengalir hingga bersih, lalu keringkan dengan lap yang bersih.
2. Keluarkan sedikit ASI dan oleskan pada puting dan areola sekitarnya.
Cara ini bermanfaat untuk menjaga wilayah areola dan puting tetap steril,
karena ASI juga mampu berfungsi sebagai desinfektan (pencegah infeksi
dari kuman penyakit). Selain itu, dapat menjaga kelembaban areola dan
puting payudara.
3. Letakkan bayi menghadap perut ibu/payudara, mulai dari payudara yang
terakhir belum dikosongkan. Posisi bayi sebaiknya menghadap ibu,
dengan kepala bayi menghadap ke arah depan (ke arah payudara),
sehingga telinga dan tangannya berada pada satu garis lurus. Payudara
yang akan disusukan ke bayi haruslah payudara yang belum
dikosongkan, agar menjaga kelangsungan produksi ASI.
4. Jika payudara terlalu besar, pegang payudara dengan ibu jari di atas dan
jari lainnya menopang bagian bawah payudara. Payudara yang terlalu
besar dapat mengakibatkan puting tidak menonjol keluar, karenanya
perlu dipegang sedemikian rupa agar bayi dapat dengan mudah melekat
pada areola.
5. Jika perlu, rangsang bayi untuk membuka mulut dengan menyentuhkan
jari ke sisi mulutnya. Bayi harus melekat pada areola payudara ibu, dan
bukan pada putingnya saja, karenanya mulut bayi harus terbuka lebar.
6. Dekatkan dengan cepat kepala bayi ke payudara ibu, dengan puting dan
areola dimasukkan ke mulut bayi. Ketika mulut bayi sudah terbuka lebar,
kepala bayi segera didekatkan pada payudara ibu sebelum bayi kembali
menutup mulutnya.
7. Setelah payudara yang dihisap bayi terasa kosong, lepaskan isapan bayi
dengan menekan dagunya ke bawah atau jari kelingking ibu dimasukkan
ke mulut bayi. Sebaiknya bayi menghisap hingga susu akhir dari
payudara ibu, baru kemudian dilepaskan. Tetapi dapat juga bayi
dibiarkan sampai melepaskan sendiri hisapannya dari payudara ibu. Jika
bayi hanya merasa haus, maka ia tidak lama menyusu, hanya meminum
susu awal saja lalu melepaskan hisapannya. Ibu dapat merasakan ketika
payudaranya sudah terasa benar-benar kosong karena susu akhir yang
lebih kental sudah dihisap bayi. Pada saat inilah bayi dapat dilepaskan
atau melepaskan hisapannya dari payudara ibu.
8. Susui berikutnya mulai dari payudara yang belum terkosongkan. Setelah
selesai dengan salah satu payudara, maka kegiatan menyusu berikutnya
dilakukan pada payudara yang belum dihisap bayi.
9. Keluarkan sedikit ASI dan oleskan pada puting dan areola sekitarnya,
kemudian biarkan kering dengan sendirinya (jangan dilap). Cara ini
dilakukan untuk menjaga kelembaban wilayah di sekitar areola dan
puting, sehingga tidak kering.
10. Sendawakan bayi. Bayi perlu disendawakan agar tidak
memuntahkan ASI yang sudah diminumnya. Caranya bisa dengan
menepuk-nepuk punggungnya secara perlahan, sambil digendong dengan
bersandar pada bahu ibu/ayah, atau menengkurapkannya di pangkuan.
Berikut beberapa contoh gambar cara menyendawakan bayi:

b) Perlekatan Bayi yang Benar Ketika Menyusu


Perlekatan bayi ketika menyusui adalah keadaan menempelnya bayi
ke badan ibu ketika disusui. Perlekatan yang tidak benar akan menyebabkan
bayi mengalami masalah dalam menyusui, seperti kesulitan menghisap susu
dengan efisien dan masalah pada ibu seperti puting luka, belah, atau
berdarah, dan masalah-masalah lainnya.
Tanda-tanda Perlekatan yang benar ;
 Bayi tampak tenang dan meneguk berirama (terlihat dari rahangnya)
 Badan bayi menghadap perut ibu
 Mulut bayi terbuka lebar
 Dagu bayi menempel pada payudara ibu
 Sebagian besar areola bagian bawah masuk ke dalam mulut bayi
 Bibir bawah bayi ke arah luar
 Bayi nampak menghisap kuat dengan irama perlahan, sesekali berhenti
menghisap
 Puting susu ibu tidak terasa nyeri/tidak sakit
 Telinga dan bahu bayi terletak pada satu garis lurus
 Kepala bayi agak menengadah

Tanda-tanda Perlekatan yang tidak benar


 Bayi tampak sibuk menghisap dengan berbunyi
 Badan bayi tidak menghadap perut ibu
 Mulut bayi tidak terbuka lebar
 Dahi bayi menempel pada payudara ibu
 Sebagian besar areola bagian atas masuk ke dalam mulut bayi
 Bibir bawah bayi ke arah dalam
 Bayi nampak menghisap kuat dan cepat
 Puting susu ibu berasa sedikit nyeri/sedikit sakit
 Hidung dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus
 Kepala bayi agak menunduk

c) ASI Kurang
Istilah ASI kurang adalah istilah yang rancu, atau tidak cukup jelas,
yang dapat ditafsirkan menjadi 3 pengertian yang berbeda. Pertama, Ibu
merasa produksi ASI-nya kurang, ini berkaitan dengan perasaan si Ibu, yang
kedua dapat juga kategori ASI kurang dimaksudkan sebagai produksi ASI
Ibu memang benar-benar kurang, yang berarti produksi ASI Ibu sudah
terbukti memang hanya sedikit, sehingga tidak mencukupi kebutuhan bayi.
Sedangkan yang ketiga, jumlah ASI yang diterima bayi memang kurang. Ini
bisa terjadi seandainya perlekatan bayi pada saat menyusu tidak tepat, atau
karena sebab lainnya. Pengertian yang pertama dan kedua bukanlah hal
yang penting, dibandingkan dengan yang ketiga. Meskipun produksi ASI
‘tidak banyak’, namun jika yang diterima oleh bayi sudah cukup, maka
jumlah produksi ASI tidak menjadi masalah. Penekanan istilah ASI Kurang
disini adalah jumlah ASI yang diterima oleh bayi memang kurang (atau
pengertian ketiga seperti yang dijelaskan di atas).
Tanda-tanda ‘Pasti’ ASI Kurang
Ini adalah tanda-tanda yang meyakinkan bahwa jumlah ASI kurang
yang diterima bayi memang benar-benar kurang.
 Berat badan bayi tidak naik. Jika pertambahan berat badan bayi kurang
dari 500 gram/ bulan, atau setelah dua minggu beratnya kurang dari
berat lahirnya.
 Bayi mengompol kurang dari 6 kali sehari, bau dan berwarna kuning
tua.
Tanda-tanda ‘Mungkin’ ASI Kurang
Tanda-tanda berikut tidak berarti bahwa ASI-nya yang kurang, tetapi
bisa terjadi karena sebab lainnya.
 Bayi tidak puas setelah menyusu
 Bayi sering menyusu
 Bayi jarang buang air besar
 Bayi sering menangis
 Kotoran bayi keras, kering, atau kehijauan
 Tidak ada ASI yang keluar ketika diperah
 Selama kehamilan, payudara tidak membesar

‘Bukan’ Tanda ASI Kurang


Kategori tanda-tanda berikut sama sekali bukan tanda bahwa ASI
kurang, melainkan tandatanda untuk peristiwa yang lain.
 Bayi menghisap jari
 Bayi menyusu sangat lama
 Payudara lebih lunak dari sebelumnya
 Bayi tidur lama setelah diberi susu botol
 Bayi menolak menyusu
 ASI tidak menetes keluar
 Perut bayi tidak bundar setelah disusui
 Payudara tidak langsung penuh setelah melahirkan
 Tidak merasakan refleks pelepasan ASI
 Setelah melahirkan, ASI tidak keluar
 Petugas kesehatan mengatakan ASI tidak cukup
 Dikatakan terlalu muda atau terlalu tua untuk menyusui
 Orang lain meragukan kecukupan ASI
 Dikatakan bayi terlalu kecil atau terlalu besar
 ASI tampak encer
 Tidak punya/kurang pengalaman menyusui sebelumnya
Alasan kemungkinan mengapa terjadi ASI Kurang
Berikut faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi ASI Kurang,
beserta tanda-tandanya: ;
 Faktor Menyusui.
Awal yang tertunda, menyusui terjadwal, jarang menyusui, tidak
menyusui pada waktu malam, setiap kali menyusui hanya sebentar,
perlekatan kurang baik, penggunaan botol/empeng, asupan selain ASI.
 Faktor Psikologis Ibu.
Kurang percaya diri, khawatir/stress, tidak senang menyusui, penolakan
terhadap bayi, kejenuhan.
 Kondisi Fisik Ibu.
Pil kontrasepsi, kehamilan, kekurangan gizi, pecandu alkohol, perokok,
tertinggalnya sisa plasenta (jarang terjadi), perkembangan payudara
tidak baik (sangat jarang terjadi).
 Kondisi Bayi.
Sedang sakit, memiliki cacat bawaan.

d) Cara mengetahui bahwa bayi mendapat ASI cukup


1. Periksalah pertambahan berat bayi.
Selama 6 bulan pertama, bayi sebaiknya bertambah berat sedikitnya 500
gram setiap bulan, atau 125 gram setiap minggu. Perhatikan KMS bayi
jika ada, atau perhatikan catatan lain tentang berat badan bayi
sebelumnya. Jika tidak ada catatan berat badan, jadwalkan untuk
menimbangnya lagi dalam waktu satu minggu. Bila pertambahan berat
badan bayi cukup, maka ia mendapat ASI yang cukup. Sangat sulit
mengetahui apakah ASI yang diterima bayi cukup atau tidak jika tidak
ada catatan berat badannya.
2. Periksalah air seni bayi.
Bayi yang disusui secara eksklusif dan mendapat ASI yang cukup,
biasanya mengeluarkan air seni jernih sekurangnya 6-8 kali dalam 24
jam. Bayi yang tidak mendapat cukup ASI mengeluarkan asir seni
kurang dari 6 kali dalam 24 jam (bahkan seringkali kurang dari 4 kali
sehari). Tanda lainnya adalah air seninya berwarna pekat, berbau tajam,
dan berwarna kuning tua sampai jingga, khususnya bayi yang berusia
lebih dari 4 minggu.

e) Upaya Memperbanyak dan Mempertahankan Persediaan ASI


Rangsang untuk mengsekresi ASI yang paling memuaskan adalah
pengosongan susu teratur dan sempurna. Produksi susu dikurangi ketika
susu yang disekresi tidak dikeluarkan. Bila laktasi terbina dengan baik, ibu
mampu memproduksi lebih banyak ASI daripada kebutuhan bayinya. Ada
banyak sebab mengapa menyusui tidak sempurna, tetapi yang utama adalah
kekurangan dukungan, kelemahan bayi dan kegagalan memulai siklus lapar
alamiah.
Perawatan pada putting susu yang perih dan sakit harus dilakukan
sebelum nyeri berat terjadi akibat luka lecet dan pecah yaitu dengan
menghindari sabun, alkohol, sering mengganti bantalan penyusuan
disposibel yang membatasi tutup beha, menyusui lebih sering, memeras
susu secara normal, menyusui pada posisi yang berbeda, dan dianjurkan
mempertahankan susu tetap kering antara pemberian minum. Bila keperihan
menyebabkan ibu ketakutan refleks ejeksi-susu dapat tertunda,
menyebabkan bayi frustasi dan makin mengisap bertambah kuat, yang
melukai putting dan daerah aerola lebih lanjut . Terdapat beberapa faktor
yang dapat mempengaruhi pembentukan air susu ibu meliputi:
1. Rangsangan otot-otot payudara.
Rangsangan ini diperlukan untuk memperbanyak air susu ibu dengan
mengaktivasi kelenjar-kelenjarnya. Otot-otot payudara terdiri dari otot-
otot polos. Dengan adanya rangsangan, otot-otot akan berkontraksi lebih
dan kontraksi ini diperlukan dalam laktasi. Rangsangan pada payudara
dapat dilakukan dengan masase atau mengurut atau menyiram payudara
dengan air hangat dan dingin secara bergantian.

2. Keteraturan bayi mengisap.


Isapan anak akan mernagsang otot polos payudara untuk berkontraksi
yang kemudian merangsang susunan saraf di sekitarnya dan meneruskan
rangsangan ini ke otak. Otak akan memerintahkan kelenjar hipofisis
posterior untuk mengeluarkan hormon pituitari lebih banyak, sehingga
kadar hormon estrogen dan progestron yang masih ada menjadi lebih
rendah. Pengeluaran hormon pituitarin yang lebih banyak akan
memengaruhi kuatnya kontraksi otot-otot polos payudara dan uterus.
Kontraksi otot-otot polos payudara berguna mempercepat pembentukan
ASI, sedangkan kontraksi otot-otot polos uterus berguna untuk
mempercepat involusi.
3. Kesehatan ibu.
Kesehatan ibu memegang peranan dalam produksi air susu ibu. Bila ibu
tidak sehat, asupan makanannya kurang atau kekurangan darah untuk
membawa nutrien yang akan diolah oleh sel-sel di payudara. Hal ini
menyebabkan produksi ASI menurun. Menurut Nilas dan Michael
Newton dalam Briefts Footnotes on Maternity Care, keberhasilan
menyusui sangat bergantung pada emosi dan sikap ibu. Tidak ada faktor
yang lebih penting daripada kebahagiaan dan pikiran yang rileks.
Kekuatiran dan ketidakbahagiaan adalah hal paling efektif untuk
mengurangi atau menghilangkan sekresi susu.
4. Makanan dan istirahat ibu.
Makanan diperlukan oleh ibu dalam jumlah lebih banyak dari hamil
hingga masa nifas. Istirahat atau menghindari kelelahan juga penting,
tetapi ibu harus cukup latihan fisik untuk menaikkan kesehatan fisiknya.

f) Lama dan Frekuensi Menyusui


Sebaiknya menyusui bayi tanpa dijadwal melainkan on demand, karna
bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya
bila bayi menangis bukan karena sebab lain (mis., kencing) atau ibu sudah
merasa perlu menyusui bayinya. Selain itu, karena bayi tidak dapat bicara
maka bayi harus sering-sering ditawari payudara untuk menyusu.
g) Mengeluarkan ASI
Ibu yang harus kembali bekerja harus mengeluarkan ASI-nya agar
sang bayi dapat tetap memperoleh ASI eksklusif. ASI yang dikeluarkan
disimpan dan diberikan kepada bayi dengan menggunakan sendok atau pipet
oleh orang lain karena ibu sedang bekerja. Kadang-kadang ASI dalam
payudara sedemikian penuhnya sehingga menyebabkan rasa sakit. Jika tidak
dikeluarkan, ASI yang penuh justru dapat membahayakan karena dapat
menyebabkan saluran ASI tersumbat. Payudara yang penuh dengan ASI
juga dapat menyulitkan bayi untuk menyusu. Jika payudara terasa terlalu
penuh, keluarkan sedikit ASI terlebih dahulu sebelum menyusui bayi.
Mengeluarkan ASI juga adalah cara yang baik digunakan untuk
mempertahankan produksi ASI, selain menyusui bayi.

1. Memerah ASI dengan tangan


Untuk mengeluarkan ASI, Anda memerlukan wadah yang bersih.
Sebaiknya gunakan wadah yang dapat ditutup dan terbuat dari bahan gelas.
Botol selai dengan mulut botol yang lebar adalah wadah yang baik untuk
tujuan ini. Cucilah wadah ASI dengan bersih menggunakan sabun. Biarkan
kering dengan sendirinya, atau keringkan dengan memanfaatkan panas
matahari.

Langkah-langkah Memerah ASI dengan Tangan


 Sterilkan wadah ASI.
Masaklah air hingga mendidih selama 20 menit. Isikan air mendidih ini
ke dalam wadah yang hendak disterilkan, secara perlahan-lahan (agar
tidak pecah). Biarkan selama beberapa menit, kemudian buanglah air
tersebut.
 Cucilah tangan dengan benar, sebelum menyentuh payudara dan wadah
ASI.
Mencuci tangan setelah memegang payudara atau wadah ASI, akan
memungkinkan kotoran berpindah ke payudara atau wadah ASI. Cara
mencuci tangan: basahi kedua tangan dengan air mengalir, gosok dengan
sabun hingga ke sela jari dan kuku, bilaslah dengan air mengalir hingga
bersih, lalu keringkan dengan lap yang bersih.
 Pilihlah tempat yang tenang, agar tidak terganggu.
Mengeluarkan ASI akan sangat terbantu apabila pikiran Anda tidak
terganggu oleh hal-hal lain.
 Santailah dan pikirkan sang bayi.
ASI akan lebih mudah keluar jika perasaan (emosi) ibu dalam keadaan
baik. Kondisi santai ibu akan membuat perasaan damai. Pikirkanlah
betapa lucu dan menggemaskannya bayi Anda. Dengan memikirkan
sang bayi, perasaan kecintaan ibu kepada bayi muncul dalam pikiran
ibu. Santai dan kecintaan ibu dapat membantu mempermudah keluarnya
ASI. Sebaliknya, jika pikiran ibu mengkhawatirkan masalah lain, tidak
akan membantu mempermudah keluarnya ASI atau malah mempersulit.
Keadaan ibu yang santai dan memikirkan sang bayi akan membantu
pelepasan hormon oksitosin, yang kemudian akan melancarkan
pengeluaran ASI.
 Lakukan pijatan ringan dengan ujung jari atau kepalan tangan, mulai
dari pangkal payudara mengarah ke areola.
Lakukan pijatan ringan ini di sekeliling payudara. Pada peristiwa
menyusui, sedotan bayi pada payudara akan menimbulkan pelepasan
hormon oksitosin. Dengan demikian, sedotan bayi pada payudara lebih
efektif dan efisien dibandingkan dengan pemerahan ASI. Pada
pemerahan ASI, pelepasan hormon oksitosin perlu dirangsang karena
tidak ada rangsangan dari sedotan bayi. Tindakan pijatan ringan dengan
ujung jari atau kepalan tangan ini dimaksudkan untuk merangsang
pelepasan hormon oksitosin.
 Dengan ibu jari di tepi luar areola sisi atas dan telunjuk di tepi luar
areola sisi lainnya, tekan ke arah dada.
Payudara yang ditekan ke belakang (ke arah dada) akan mendesak air
susu ibu di dalam payudara ke arah depan.
 Peras bagian luar areola dengan ibu jari dan telunjuk, kemudian
longgarkan tekanan.
Air susu ibu (akan) keluar dari saluran ASI (di bawah bagian dalam
areola) ketika bagian luar areola tersebut ditekan/diperah. Ibu
seharusnya tidak merasa sakit/nyeri. Jangan memijit puting, karena
dapat menyebabkan rasa nyeri atau bahkan lecet.
 Ulangi gerakan tekan-peras-longgarkan – tekan-peras-longgarkan, di
sekeliling areola dari semua sisi.
Setelah melakukan gerakan tekan-peras-longgarkan, alihkanlah posisi
ibu jari dan telunjuk sedemikian rupa sehingga gerakan tersebut
dilakukan di sekeliling areola. Pada awalnya mungkin ASI tidak keluar,
jangan berhenti. Setelah beberapa kali ASI akan keluar. Ini seperti
pompa air tradisional, pada pompaan awal air tidak keluar karena masih
dalam perjalanan. Pada pompaan berikut-berikutnya air akan keluar.
Begitu pula ASI. ASI yang berhasil dikeluarkan dengan memerahnya,
pada saat pertama kali mungkin tidak banyak. Dengan latihan, Ibu akan
berhasil mengeluarkan lebih banyak ASI. Jika mengeluarkan ASI
dilakukan karena ibu harus kembali bekerja, lakukan pemerahan ASI ini
2 minggu sebelum bekerja. Dengan demikian, pada saat ibu mulai
bekerja, ibu sudah dapat mengeluarkan cukup banyak ASI untuk bayi
yang ditinggal bekerja.

Manfaat memerah ASI


 Mengurangi bengkak pada payudara
 Mengurangi sumbatan atau ASI statis
 Sambil diberi ASI perah, bayi belajar menyusu dari puting yang
terbenam
 Bayi yang mengalami kesulitan dalam koordinasi menyusu, dapat diberi
ASI perah terlebih dahulu
 Bayi yang menolak menyusu, dapat diberi ASI perah dulu, sambil
belajar menyukai proses menyusu
 Bayi dengan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) yang tidak bias
menyusu, dapat diberi ASI perah
 Bayi yang sakit dapat diberi ASI perah, ketika tidak mendapat ASI yang
cukup dari kegiatan menyusu langsung pada ibu
 Mempertahankan pasokan ASI ketika bayi atau ibunya sakit
 Ketika ibu bekerja, bayi tetap mendapat ASI yang diperah
 Mencegah ASI menetes ketika ibu jauh dari bayinya
 Membantu bayi melekat pada payudara yang penuh
 Memberi ASI langsung ke mulut bayi, dengan cara diperah
 Mencegah puting dan areola menjadi kering dan lecet.

Beberapa hal penting tentang memerah ASI dengan tangan ;


 Memerah dengan tangan adalah cara paling baik untuk memerah ASI.
Cara ini kecil kemungkinannya menularkan infeksi, dan dapat
dilakukan kapan saja, oleh setiap ibu.
 Penting sekali bagi ibu untuk belajar memerah ASI dengan tangan, dan
tidak menganggap pompa sebagai suatu kebutuhan.
 Untuk memerah ASI secara efektif, akan sangat membantu jika
merangsang refleks oksitosin terlebih dahulu, serta menggunakan teknik
yang tepat. Merangsang refleks oksitosin akan membantu pemerahan
ASI, karena ASI akan membantu refleks pelepasan ASI, sehingga ASI
lebih mudah mengalir/keluar melalui puting ibu

h) ASI Eksklusif bagi Ibu yang Bekerja


Terdapat beberapa cara bagi ibu untuk mempertahankan pemberian
ASI eksklusif kepada bayinya. Berikut adalah saran-saran bagi ibu bekerja:
 Jika memungkinkan, bawalah bayi ke tempat bekerja.
 Jika tempat kerja dekat dengan rumah, ketika jam istirahat:
o Ibu pulang untuk meneteki, atau
o Seseorang mengantarkan bayi untuk diteteki.
 Jika tempat kerja jauh dari rumah:
o Beri ASI saja sesering mungkin selama cuti. Hal ini akan
memberikan manfaat menyusu bagi bayi, dan meningkatkan
persediaan ASI. Dua bulan pertama adalah masa menyusui yang
paling penting.
o Perah ASI sebelum berangkat kerja, dan berikan ASI kepada
pengasuh untuk diberikan kepada bayi. ASI yang diperah di pagi hari
atau sebelum berangkat bekerja akan lebih segar untuk diberikan
kepada bayi. Jangan memanaskan ASI! Panas akan merusak zat-zat
penting dalam ASI.
o Teteki pada malam hari, pagi hari, dan kapan saja pada saat berada
di rumah. Hal ini akan mempertahankan persediaan ASI, sambil
tetap memberikan manfaat ASI kepada bayi. Banyak bayi yang
menyusu lebih banyak di malam hari; lebih banyak tidur di siang
hari (sehingga lebih sedikit membutuhkan menyusu di siang hari).
o Jangan beri ASI dengan botol susu, gunakan cangkir! Bahkan bayi
yang sangat mungil pun dapat minum dari cangkir. Kira-kira
seminggu sebelum kembali bekerja, luangkan waktu untuk
mengajari pengasuh bayi dan bayi minum dari cangkir! Botol susu
akan memuaskan bayi menyedot, sehingga tidak akan membuatnya
ingin menetek. Bahkan akan membuatnya malas menetek, sehingga
mengurangi persediaan ASI
o Pemberian ASI hasil perahan kepada bayi jangan menggunakan
botol/dot. Pemberian ASI dengan botol/dot akan menyebabkan bayi
‘bingung puting’. Kebutuhan bayi untuk menyedot akan terpuaskan
oleh botol sehingga bayi tidak berminat lagi menetek. Jika ini terjadi,
maka produksi ASI akan berkurang.
o Segera berlatih memerah ASI setelah melahirkan. Hal ini akan
membuat ibu lebih mudah dan terbiasa melakukannya nanti ketika
diperlukan.
o Teteki bayi setelah memerah ASI. Sedotan bayi menyusu lebih
efektif dibandingkan dengan pemerahan ASI, sehingga bayi akan
memperoleh bagian ASI yang tidak dapat/sulit diperah (termasuk
sebagian ASI yang sangat kaya akan lemak dan energi)
Pemberian ASI perahan yang benar adalah dengan menggunakan
cangkir. Bayi yang mungil sekalipun dapat belajar minum dari cangkir. Cara
lainnya adalah menggunakan sendok. Berikan ASI perahan kepada bayi
dengan menggunakan cangkir atau sendok, sehingga bila saatnya ibu
menyusui langsung, bayi tidak akan menolak menyusu. Pemberian ASI
dengan sendok biasanya kurang praktis dibandingkan dengan cangkir,
karena membutuhkan waktu yang lebih lama. Namun, pada keadaan di
mana bayi membutuhkan hanya sedikit ASI, atau bayi sering
tersedak/muntah, maka lebih baik bila ASI perahan diberikan dengan
menggunakan sendok.

i) Cara Pemberian ASI Perahan dengan Menggunakan Cangkir:


1. Pengasuh (yang memberi minum bayi), duduk dengan memangku bayi
2. Punggung bayi dipegang dengan lengan.
3. Cangkir diletakkan pada bibir bawah bayi
4. Lidah bayi berada di atas pinggir cangkir dan biarkan bayi menghisap
ASI dari dalam cangkir (saat cangkir dimiringkan)
5. Beri sedikit waktu istirahat setiap kali menelan.

j) Bagaimana ASI perahan Disimpan dan Digunakan Kembali?


ASI dapat disimpan untuk digunakan pada bayi selama ibu bekerja.
Wadah untuk menyimpan ASI sebaiknya terbuat dari kaca/gelas, dan
tertutup rapat (udara tidak dapat masuk), dan usahakan tidak terkena cahaya
matahari langsung. Untuk ketahanan ASI yang disimpan, perhatikan hal-hal
berikut:
 ASI dapat bertahan selama ± 6-8 jam jika disimpan pada suhu ruangan
(maksimal 250 Celcius). Suhu ruangan lebih dari 250 Celcius tidak aman
untuk menyimpan ASI. Selubungi wadah penyimpan ASI dengan handuk
basah/dingin untuk menghindari suhu yang terlalu panas.
 ASI dapat bertahan selama ± 24 jam, jika disimpan pada wadah khusus
(tas atau termos) yang diselubungi es batu atau es balok.
 ASI dapat bertahan selama ± 5 hari, jika disimpan di dalam kulkas, pada
suhu 40 Celcius. Usahakan menyimpan wadah ASI di bagian paling
dalam kulkas (dekat dengan dinding bagian belakang), karena bagian
inilah yang paling dingin. Kulkas yang sering dibuka-tutup akan
mempengaruhi suhu di dalam kulkas tersebut, sehingga menyimpan di
bagian terluar tidak menjamin kestabilan suhu.
 ASI dapat bertahan selama ± 2 minggu, jika disimpan di freezer dalam
kulkas, pada suhu -150 Celcius. Jika menggunakan kulkas yang freezer-
nya terpisah (memiliki pintu tersendiri), dapat bertahan selama ± 3-6
bulan.
 Setelah disimpan selama beberapa lama, maka untuk menggunakannya
kembali panduan menghangatkan ASI, yaitu:
o Hangatkan wadah ASI dengan mengalirinya dengan air hangat, atau
merendam sebagian wadah dalam air hangat. Usahakan agar bagian
atas wadah (bagian yang ditutup rapat) tidak terkena air hangat
tersebut.
o Jika dikeluarkan dari freezer (ASI dalam keadaan beku), simpan
terlebih dahulu di kulkas selama beberapa jam hingga tampak mulai
mencair sebelum dihangatkan.
o Jangan memanaskan ASI pada suhu yang sangat tinggi (direbus pada
air mendidih), karena akan merusak kandungan di dalam ASI
(Depkes, 2008)

4. Akibat negatif dari pemberian makanan botol secara parsial


terhadap pemberian ASI
a. Dampak negatif pemberian dot
Seperti yang telah diketahui, pemerintah telah mencanangkan 10
langkah keberhasilan menyusui yang telah diadaptasi dari WHO. Pada
langkah ke-9 disebutkan bahwa untuk tidak memberikan dot atau empeng
pada bayi. Hal ini dimaksudkan agar semua bayi yang menetek akan selalu
mendapatkan ASI dan tidak akan terganggu proses menyusunya dengan
penggunaan dot atau empeng. Menurut Survey Demografi Kesehatan
Indonesia pada tahun 2013 menunjukkan bahwa hanya sebanyak 32% bayi
di Indonesia yang mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan, dan sebanyak
68% mendapatkan MP-ASI (makanan pendamping ASI).
Penggunaan dot sering dikaitkan dengan keinginan yang tinggi dari
bayi untuk selalu menghisap sesuatu. Penggunaannya dianggap bermanfaat
karena akan menenangkan bayi dan memberikan rasa tenang bagi bayi.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Field (2003) dalam artikel IDAI
(2017), bayi-bayi yang dirawat di NICU dan diberikan dot menunjukkan
perkembangan yang positif seperti kenaikan berat badan yang signifika,
mengurangi kejadian enterokolitis nekrotikan, serta memperpendek masa
perawatan. Disisi lain penggunaan dot juga memberikan dampak negatif dan
implikasi yang merugikan seperti terjadinya gangguan pola pengisapan bayi
sehingga terjadi penyapihan awal karena bayi menolak untuk menetek,
meningkatkan risiko otitis media, risiko tinggi terjadinya infeksi saluran
pencernaan dan pernapasan, serta maloklusi gigi.
Beberapa faktor negatif sebagai dampak dari pemberian dot antara
lain :
 Penyapihan dini
Pengenalan dot secara awal dapat menyebabkan teknik menghisap yang
salah pada bayi. Kemungkinan, bayi akan terbiasa dengan puting buatan
dan menolak puting pada payudara ibu. Akibatnya, bayi akan kurang
sering menyusu pada peyudara ibunya dan akhirnya akan menyebabkan
penyapihan dini.
 Infeksi
Penggunaan dot sering dihubungkan dengan tingginya kejadian infeksi
pada bayi karena transmisi mikroorganisme patogen. Aktivitas
menyedot yang terjadi pada bayi yang mengempeng dapat menarik
cairan dari kerongkongan ke saluran telinga, hal ini akan menyebabkan
telinga bayi menjadi lebih mudah terinfeksi.
 Maloklusi dan karies gigi
Penggunaan dot yang berkepanjangan memiliki korelasi yang kuat
dengan timbulnya masalah gigi seperti maloklusi dan karies gigi. Gigi
bayi akan tumbuh tidak sebagaimana mestinya
 Sindrom kematian bayi mendadak (sudden infant death syndrome /
SIDS)
Belum ada korelasi yang kuat namun kebanyakan SIDS terjadi karena
penggunaan dot pada bayi.

b. Dampak negatif susu formula


Penambahan makanan selain ASI pada usia yang terlalu dini dapat
meningkatkan kesakitan (morbiditas). Bayi tersebut akan mudah terkena
infeksi saluran pencernaan maupun pernafasan. Angka kematian bayi di
Indonesia yang cukup tinggi diantaranya disebabkan oleh tingginya kejadian
infeksi saluran pencernaan dan pernafasan pada bayi. Jika dibandingkan
dengan negara ASEAN lainnya (Thailand, Phillipina, Malaysia), angka
kematian bayi (IMR) di Indonesia masih termasuk tinggi, yaitu 51 per 1000
kelahiran (BPS, 2003).
Pemberian susu formula berdampak buruk jika air untuk campuran susu
tidak bersih. Bakteri dapat berkembang biak dengan cepat, dan akan
membuat bayi menjadi sakit. Pembuatan susu formula membutuhkan kehati-
hatian dalam penyiapannya, seperti pencucian botol, perebusan air, dan
komposisi campuran. Sehingga banyak studi menunjukkan bayi yang diberi
susu formula lebih rentan terkena diare, dehidrasi, kekurangan gizi, infeksi,
bahkan meninggal. Sebaliknya, bayi yang diberi ASI berpeluang 25 kali
lebih kecil terkena diare, alergi, asma, dan berbagai penyakit kulit.
Saat ini berbagai jenis zat gizi oleh produsen susu formula
ditambahkan untuk menyamai komposisi ASI seperti omega-3, DHA,
Arachidonic acid, kolostrum dan sebagainya, yang sebenarnya zat tersebut
sudah ada pada ASI. Menurut Muhilal (2004) pada susu formula (susu sapi)
tidak mengandung DHA seperti halnya pada ASI sehingga tidak bisa
membantu meningkatkan kecerdasan anak. Rulina ( 2004) menyatakan
terdapat lebih dari 100 jenis zat gizi dalam ASI antara lain AA, DHA,
Taurin dan Spingomyelin yang tidak terdapat dalam susu sapi. Meskipun
produsen susu formula mencoba menambahkan zat gizi tersebut, tetapi
hasilnya tetap tidak bisa menyamai kandungan gizi yang terdapat dalam ASI
(Briawan, 2004).
Demikian pula susu formula bayi yang difortifikasi dengan zat besi,
ternyata tidak meningkatkan pertumbuhan bayi, meskipun dapat
membantunya dari kejadian anemia. Morley (1999) melaporkan dalam
jurnal Archives of Disease in Childhood, yang meneliti 493 bayi sehat
berusia 9 bulan yang diberi minuman susu sapi biasa atau susu formula yang
diperkaya Fe selama sembilan bulan. Para peneliti tidak menemukan
perbedaan pertumbuhan dan perkembangan antara kedua kelompok.

Pemberian susu formula dapat bermanfaat juga namun pada bayi yang
kurang bulan, berat bayi lahir rendah, dan bayi yang menderita penyakit
tertentu yang membutuhkan nutrisi khusus. Namun, terdapat juga beberapa
dampak negatif yang dapat ditimbulkan dari pemberian susu formula.
Dampak tersebut antara lain :

1. Mengganggu produksi ASI


2. Mengganggu bounding antara bayi dan anak
3. Menghambat suksesnya menyusui
Bayi yang diberi susu formula akan merasa kenyang dan cenderung malas
untuk menyusu sehingga pengosongan payudara menjadi kurang baik. Bayi
juga akan kurang mendapat perlindungan kekebalan dari kolostrum yang
keluar.

5. Kesulitan merubah keputusan untuk tidak memberikan ASI


Terdapat banyak alasan yang dimiliki seorang ibu untuk tidak
memberikan ASI kepada bayinya. Beberapa alasan tersebut diantaranya
kurangnya ASI, kurangnya waktu, kurangnya tidur, serta pertimbangan
kosmetik. Untuk merubah keputusan ibu, petugas kesehatan perlu untuk
meyakinkan ibu bahwa ASI adalah pilihan terbaik bagi Ibu dan Bayi. Selain
menjelaskan mengenai keuntungan ASI dan fakta mengenai ASI yang
selama ini disalah artikan oleh ibu, perlu juga dijelaskan mengenai
kekebalan tubuh bayi.
Saat bayi lahir, sistem imun yang terbentuk belum sempurna. Sistem
imun ini belum mampu untuk memproduksi antibodi yang dibutuhkan bayi
untuk melawan berbagai macam jenis infeksi. Terdapat lima jenis antibodi,
IgG merupakan antibodi yang didapatkan dari ibu selama proses kehamilan.
Namun, kadar IgG ini menurun setelah bayi lahir hingga enam bulan
kemudian sebab bayi belum dapat memproduksi sendiri IgG. Setelah
berusia enam bulan barulah bayi dapat memproduksi sendiri IgGnya. ASI
memiliki banyak antibodi IgA. IgA biasanya terdapat pada sekresi tubuh
seperti air mata dan air liur. IgA berperan penting dalam sistem imun
mukosa untuk melawan bakteri dan virus. Oleh sebab itu, IgA pada ASI
dapat melindungi sistem pernapasan dan pencernaan bayi. Hal inilah yang
menyebabkan ASI lebih baik dibandingkan dengan susu formula, sebab
susu formula tidak memiliki antibodi yang dibutuhkan oleh bayi.
Selain itu sistem pencernaan bayi juga belum matang. Protein asing
yang belum tercerna secara lengkap dapat terserap oleh dinding usus
sehingga menyebabkan alergi. Bayi yang lahir dari orang tua yang memiliki
alergi memiliki risiko alergi yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, alergi bayi
terhadap protein susu sapi merupakan hal yang wajar. Gejala alergi dapat
berupa kolik abdomen, reflux atau muntah setelah minum susu, perut
kembung atau gas berlebih, eksim, dan gejala berat seperti gagal tumbuh,
diare berdarah dan anemia.
Terdapat penelitian yang menyatakan bahwa ASI Eksklusif selama
minumal empat bulan dapat mencegah bayi dari infeksi telinga (otitis
media). Pada penelitian 170 bayi juga menunjukkan bahwa angka infeksi
pernapasan pada bayi dengan ASI Ekslusif secara signifikan lebih rendah.
IgA pada ASI juga dapat mencegah bayi terkena diare. Pada penelitian
selama lima tahun menunjukan bahwa angka kejadian alergi seperti eksim
dan asma pada bayi dengan ASI Ekslusif jauh lebih rendah dibandingkan
dengan bayi dengan susu formula. Begitupula penelitian yang dilakukan
selama tujuh belas tahun di Swedia bahwa angka kejadian alergi berat
menurun pada bayi dengan ASI Ekslusif
Dapat disimpulkan bahwa perlu dukungan besar bagi ibu agar bisa
dapat menyusui bayinya dengan ASI Ekslusif. Hal ini dikarenakan dampak
positif dan perlindungan yang akan bayi dapatkan berlangsung hingga
jangka panjang, sedangkan ketidaknyamanan ibu saat menyusui
berlangsung dalam waktu sebentar saja. Demi kepentingan anak dimasa
depan, ASI ekslusif ini perlu diberikan (Adrian, 2007).

6. Fakta vs mitos mengenai menyusui


Mitos (X) Fakta (√)
Menyusui menyebabkan Payudara kendur disebabkan oleh
payudara kendur bertambahnya usia dan kehamilan. Kegiatan
menyusui sama sekali tidak mengakibatkan
perubahan bentuk payudara ibu
Payudara yang berukuran Payudara kecil maupun besar sama-sama dapat
kecil tidak dapat menghasilkan banyak susu. Yang terpenting
menghasilkan banyak susu. ibu memiliki kepercayaan diri dan motivasi
yang tinggi untuk menyusui bayinya. Semakin
sering menyusui, payudara akan semakin
banyak menghasilkan ASI.
Payudara dengan puting Puting terbenam tidak berarti tidak dapat
terbenam tidak dapat menyusui karena bayi menyusu pada payudara,
menyusui bukan pada puting.
ASI pertama (yang berwarna ASI pertama (kolostrum) adalah zat terpenting
kekuningan) adalah susu basi bagi bayi. Warna kekuningan pada kolostrum
dan tidak baik bagi bayi bukanlah pertanda basi, tetapi menunjukkan
tingginya kandungan protein. Susu yang keluar
dari payudara ibu tidak pernah ada yang basi,
bahkan setelah disimpan dengan benar selama
8 jam, ASI masih dapat digunakan.
Kandungan atau isi ASI ASI pertama atau kolostrum selain
pertama hanyalah air. mengandung air, juga mengandung protein dan
zat-zat penting lainnya yang penting bagi
kekebalan tubuh bayi baru lahir dari berbagai
penyakit.
ASI eksklusif berarti tidak ASI eksklusif artinya hanya memberikan ASI
boleh memberikan makanan, saja, yang lain sama sekali tidak boleh. Susu
sedangkan susu formula & formula belum dapat dicerna oleh perut bayi
cairan lainnya boleh. dengan baik, karena tidak dilengkapi dengan
enzim yang hanya terdapat pada ASI.
ASI eksklusif tidak dapat Ibu bekerja tetap dapat memberikan ASI
dilakukan jika ibu bekerja. eksklusif. Dengan cara memerah ASI sebelum
berangkat kerja dan pada saat bekerja, ibu tetap
dapat menjaga persediaan ASI untuk bayi yang
ditinggalkan.
Hingga usia 6 bulan, ASI saja Semua kebutuhan bayi sampai usia 6 bulan
tidak cukup bagi bayi. terpenuhi oleh ASI saja. Selain karena
kapasitas perut bayi masih sangat kecil, bayi 0-
6 bulan belum memerlukan makanan padat
seperti orang dewasa yang melakukan banyak
kegiatan fisik. Bayi hanya membutuhkan ASI
untuk pertumbuhannya selama 6 bulan pertama
sejak lahir, dan melindunginya dari berbagai
penyakit.
Susu formula sama baiknya Tidak ada cairan lain apapun yang dapat
dengan ASI. menggantikan ASI. Hanya jika diberikan ASI
eksklusif saja yang membuat bayi lebih sehat.
Untuk perkembangan otak, ASI mengandung AA/DHA yang sangat
susu formula lebih baik penting bagi pertumbuhan otak.
daripada ASI.
Kombinasi ASI-susu formula Yang terbaik bagi bayi hingga usia 6 bulan
adalah yang terbaik bagi bayi. adalah hanya menerima ASI saja.
Jika ASI belum atau tidak Jika ASI belum atau tidak lancar, bayi masih
lancar dapat digantikan memiliki daya tahan tubuh (tidak akan
dengan susu formula kelaparan) hingga 2x24 jam sejak lahir, yang
dibawa sejak dalam kandungan. Meskipun ASI
dirasa belum lancar atau ASI tidak keluar, Ibu
harus tetap terus menyusui si bayi, karena
rangsangan dari hisapan bayi akan
mempercepat lancarnya produksi ASI.
Agar bayi tidak kuning dan Bayi yang kuning harus banyak menerima sinar
tidak demam, dapat diberi matahari pagi dan lebih sering diberi ASI.
makanan atau minuman lain Bayi menangis belum tentu berarti lapar. Ada
sebelum ASI keluar. banyak penyebab bayi menangis, antara lain
Jika bayi terus menangis merasa tidak aman, terkejut, ngompol, dll.
berarti ASI-nya kurang.
Ibu yang banyak minum susu Susu yang diminum ibu memberikan banyak
akan menghasilkan banyak kalsium bagi ibu, bukan menghasilkan ASI
ASI. yang lebih banyak.
Agar menghasilkan banyak Banyaknya ASI yang dihasilkan tidak
ASI, Ibu harus banyak makan dipengaruhi oleh makanan atau minuman yang
sayuran dikonsumsi ibu. Semakin sering bayi menyusu,
semakin banyak ASI yang dihasilkan.
Jika ibu sedang sakit, bayi akan tertular melalui
ASI. Ketika sakit, tubuh ibu membuat zat
kekebalan tubuh yang juga disalurkan kepada
bayi melalui ASI sehingga bayi tidak akan ikut
sakit.
Ibu yang kurang vitamin Jika Ibu kurang vitamin, maka vitamin yang
tidak dapat menyusui bayinya sampai ke bayi juga akan ikut berkurang, tetapi
kegiatan menyusui tetap dapat dilakukan. Ibu
hanya perlu lebih banyak mengkonsumsi
makanan yang mengandung vitamin lebih
tinggi, atau mengkonsumsi vitamin tambahan.
Jika ibu kurang gizi, tidak dapat menyusui
bayinya. Ibu yang kurus sekalipun tetap dapat
menghasilkan banyak ASI asalkan sering
menyusui.
Menyusui tidak boleh Menyusui dapat dilakukan sambil berdiri,
dilakukan sambil berbaring duduk ataupun berbaring.
Bayi yang sedang sakit tidak Bayi yang sedang sakit harus lebih sering
boleh disusui diberi ASI.
Pemberian air kepada bayi Pemberian air apapun kepada bayi baru baru
baru lahir hingga usia 6 bulan lahir hingga usia 6 bulan hanya akan memenuhi
tidak akan merugikan. perut bayi sehingga mengurangi ruang untuk
ASI yang sangat dibutuhkan bayi. Bayi yang
baru saja dilahirkan hanya boleh diberi ASI.
Daftar Pustaka
Adrian, W. 2007. Why Should We Convince Expectant Mothers to
Breastfeed?. The hongkong medical diary. Vol.11 No.5
Afifah, Diana Nur.2007. Faktor yang Berperan Dalam Kegagalan Praktik
Pemberian ASI Eksklusif. Tersedia di : lib.ui.ac.id (diakses tanggal
25 Februari 2017).
Bahiyatun. (2008). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta:
EGC
Depkes. 2008. Paket Modul Kegiatan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI
Eksklusif 6 Bulan
Imdad A, Yakoob MY, Bhutta ZA. 2011. Effect of breastfeeding promotion
interventions on breastfeeding rates, with special focus on developing
countries. BMC Public Health. 11 Suppl 3:S24.
Kliegman, R. M. (2015). Nelson Text Book of Pediatricts. Edition 20, Vol.
2. Canada: Elsevier.
Marnoto, Budining Wirasatari.2013.Pemberian Susu Formula pada Bayi
Baru Lahir. Tersedia di :
www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/pemberian-susu-formula-pada-bayi-
baru-lahir (diakses tanggal 25 Februari 2017.
Morley, R. Archives of Disease in Childhood Journal. Dikunjungi 25
November 2004.
http://members.fortunecity.com/keluargaorg/susu_formula.html
Newell, H. 2015. The Impact of Breastfeeding Education: A Retrospective
Look at Breastfeeding Education and Breastfeeding Rates. The
Eleanor Mann School of Nursing Undergraduate Honors Theses.
Paper 35.
NHS. 2017. Benefits of Breastfeeding. Web:
http://www.nhs.uk/Conditions/pregnancy-and-baby/Pages/benefits-
breastfeeding.aspx
Rulina, S . Pemberian Susu Formula Berisiko Tinggi bagi Kesehatan Bayi.
Dikunjungi 25 November 2004.
http://www.depkes.go.id/index.php
Yunanto, Ari.2013. Masalah Penggunaan Dot pada Bayi. Tersedia di :
www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/masalah-penggunaan-dot-pada-bayi
(diakses tanggal 25 Februari 2017).