Anda di halaman 1dari 17

KOMPOSISI ION KOMPLEKS

DENGAN METODA JOBS

I. TUJUAN
Menentukan komposisi ion kompleks dengan menggunakan metoda jobs.

II. TEORI
Nikel (Ni) memiliki :

NA = 28

Berat molekul = 58 g/mol

Titik leleh = 1445 oC

Titik didih = 2730 oC

d = 6,802

r ion Ni2+ = 972 A

∆Hhid Ni2+ = 507 Kkal

r atom = 1,149 A

∆Hf (atom) = 103 Kkal

EII = 176 Kkal

EIII = 419 Kkal

EIIII = 811 Kkal

Konfigurasi elektron = 3d8 4s2
Nikel merupakan logam transisi berwarna keperakan atau berupa serbuk
logam hitam. Pertama kali dimurnikan oleh CROUSTED pada tahun 1751. Terdapat
secara alamiah di alam sebagai sulfida dan silikatnya (misal : pendandit/FeS.NiS).
Satu-satunya keadaan oksidasi Ni yang penting yang terdapat dalam larutan berair
adalah +2. Ni (II) dapat membentuk ion kompleks, salah satunya adalah dengan ligan
bidentat, etilen diamin (en).
Struktur en :
H2N – CH2 – CH2 – NH2

Prosedur yang dipakai untuk menarik kesimpulan komposisi dari spesi


komplek Ni2+ etilen diamin dalam percobaan ini dikenal dengan metoda jobs dari
variasi yang kontiniu dimana bentuk kesetimbangan secara umum :
Z + nL ZnL
Dimana :
Z = Ni2+
L = etilen diamin (en)
n = jumlah total en dalam larutan

Baik Ni2+ maupun beberapa kompleks Ni(en)n2+ mempunyai serapan pada


daerah sinar tampak dalam spektrum elektromagnetik tetapi spektranya berubah atau
berbeda. Secara eksperimen, salah satunya mengukur intensitas serapan pada suatu
panjang gelombang dari sederetan larutan yang mengandung sejumlah Ni2+ dan en
yang bervariasi. Adsorban berhubungan langsung dengan konsentrasi spesi Ni(en) n2+
dalam larutan.
Metoda jobs digunakan untuk menentukan beberapa banyak ligan yang terikat
pada ion pusat. Dalam percobaan ini ditentukan kompleks sesungguhnya yang
terdapat dalam larutan. Kesetimbangan yang mungkin ada, yaitu :
Ni2+ + en Ni(en)2+
Ni(en)2+ + en Ni(en)22+
Ni(en)22+ + en Ni(en)32+
Ni(en)32+ + en Ni(en)42+
Jika sederetan pengukuran hanya pada satu panjang gelombang maka sistem
harus berada hanya pada satu bentuk kompleks. Bila pengukuran dibuat beberapa
panjang gelombang menghasilkan memberikan hasil yang sama. Dapat disimpulkan
bahwa hanya pada satu kompleks yang terbentuk. Untuk sistem kompleks yang lebih
banyak perlu dibuat pengukuran-pengukuran pada panjang gelombang yaitu sebanyak
adanya spesi.
Dalam metoda ini untuk membandingkan larutan Ni2+ dan en, masing-masing
disiapkan pada konsentrasi m yang sama. Jadi, tidak ada masalah berapa volume
masing-masing yang dicampurkan.
Hukum yang mendasari pengukuran serapan ini adalah hukum Lambert Beer.
A=Є.b.c

Dimana :
A = Absorben
Є = koefisien ekstingsi
b = panjang gelombang
c = konsentrasi molar
Kemampuan ion kompleks melakukan reaksi penggantian satu atau lebih ligan
dalam lingkungan koordinasinya oleh ligan yang lain disebut kelabilan. Kompleks
yang reaksinya sangat cepat disebut labil sedangkan yang reaksinya berlangsung
lambat atau sama sekali tidak mengacu kepada laju reaksi disebut inert. Perlu
ditekankan bahwa kedua istilah ini mengacu pada laju reaksi dan jangan dibaurkan
dengan istilah stabil dan tidak stabil yang mengacu pada kecenderungan
termodinamika dari spesies yang berada dalam kondisi kesetimbangan.
Jika logam transisi berada dalam air maka akan terkoordinasi, seperti
kompleks Ni(H2O)62+ merupakan kompleks dengan spesies terkoordinasi enam.
Molekul air dalam ion aquo dapat dengan mudah digantikan, khususnya oleh etilen
diamin membentuk kompleks : Ni(en)32+.
Ligan sebagai donor elektron pada atom pusat dapat dibedakan atas 2, yakni :
1. Berdasarkan kekuatan ligan.
Berdasarkan kekuatan ligan ditinjau dari Crystal Field Theory Ligan dapat dibagi
menjadi 2, yakni :
a. Ligan kuat
Ligan kuat adalah ligan yang memiliki High Splitting Energy sehingga jarak
tingkatan energi t2g dengan eg terlalu jauh sehingga menyebabkan elektron
tidak dapat eksitasi ke tingkatan yang lebih tinggi dan cenderung untuk
berpasangan pada level yang lebih rendah.
Contoh : CN-, CO dan en
b. Ligan lemah
Ligan lemah adalah ligan yang memiliki Low Splitting Energy sehingga
menyebabkan jarak tingkatan energi t2g dengan eg kecil dan menyebabkan
ligan memiliki kecenderungan untuk tidak berpasangan (paramagnetik)
sehingga disebut dengan High Spin Electron.
Contoh :I-, Br-, Cl-, H2O, dan F-

2. Berdasarkan jumlah pasangan elektron yang didonorkan


a. Monodentat
Merupakan ligan yang mendonorkan sepasang elektron bebasnya pada atom
pusat.
Contoh : F-, Cl-, I-, H2O, CN-
b. Bidentat
Merupakan ligan yang mendonorkan dua pasang elektron bebas pada atom
pusat.
Contoh : Acetylacetonate, Bipyridine, Ethylendiamine, dan Phenanthroline
c. Polidentat
Polidentat dapat dibagi menjadi dua, yakni :
 Tridentat
Merupakan ligan yang mendonorkan 3 pasang elektron pada atom
pusatnya.
Contoh : Diethylenetriammine.
 Tetradentat
Merupakan ligan yang mendonorkan 4 pasang elektron bebasnya pada
atom pusat.
Contoh : dimethyleglypxine dan triethylenetetraammine.

Kestabilan suatu kompleks dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni sebagai


berikut :
1. Atom pusat
a. Jenis atom pusat (innert atau labil)
b. Muatan atom pusat
c. Paramagnrtik atau diamagnetik
2. Ligan
a. Jenis ligan (kuat atau lemah, monodentat, dll)
b. Membentuk struktur chelat atau tidak
c. Muatan ligan

3. Konsentrasi kompleks
Makin besar konsentrasi kompleks maka kestabilan kompleks tersebut makin
besar.

Kereaktifan suatu reaksi substitusi dalam senyawa kompleks dipengaruhi oleh


beberapa faktor, yakni :
1. Eksitasi elektron pada orbital d
Jika elektron pada tingkatan energi yang rendah tereksitasi ke level energi yang
tinggi maka elektron tersebut akan menyerap spektrum warna sedangkan jika
elektron tersebut turun ke level yang lebih rendah maka elektron akan emmite atau
memancarkan spektrum gelombang cahaya tertentu sehingga menimbulkan warna
khas kompleks tertentu.
2. Faktor penyerapan dan pemantulan sinar tampak
3. Efek ligan yang masuk ke atom pusat (efek yang dominan)
Sifat kimia terapan nikel adalah :
1. Berbentuk logam putih yang keras, liat dan dapat ditempa dan sangat kuat.
2. Bersifat sedikit magnetik (agak paramagnetik)
3. Dapat larut dalam asam klorida (encer maupun pekat) dan asam sulfat encer
dengan menghasilkan hidrogen.
4. Sangat tahan terhadap penyerangan oleh udara (relatif) dikarenakan potensial
elektrodanya relatif besar namun tidak cukup kuat bila dibandingkan dengan emas
atau tembaga sehingga dapat digunakan sebagai pelindung.
5. Mudah larut dalam asam mineral encer.
6. Aliase Ni digunakan untuk menagani F2 atau flourida korosif lainnya.
7. Memiliki tingkatan oksidasi 0, 1, 2, 3 dan 4
8. Menyerap sejumlah hidrogen jika dipisahkan secara halus dan bentuk khusus Ni,
sebagai contoh Raney nikel digunakan sebagai reduksi katalik.
Kegunaan atau aplikasi nikel :
1. Secara ekstensif / luas digunakan untuk pembuatan baja stainsless dan paduan
logam tahan karat lainnya seperti Invar, Monel, Inconel Hastelloys.
2. Tabung tembaga nikel secara luas digunakan untuk proses desalinasi (perubahan
air laut menjadi air bersih)
3. Secara luas digunakan untuk membuat uang logam atau koin dan baja nikel untuk
baju perang dan senjata lembing dan komponen untuk Nichrome, Premalloy, dan
konstan.
4. Digunakan untuk bahan pewarna karena larutan ini memberikan warna hijau.
5. Penyepuhan dengan nikel dilakukan untuk melindungi logam lainnya.
6. Katalis untuk hidrogenasi minyak sayur.
7. Pembuatan keramik dan pembuatan magnet Alniko
8. Pembuatan baterai edison
9. Dikarenakan sifat menyerap sejumlah hidrogen jika dipisahkan secara halus dan
dalam bentuk khusus nikel dapat digunakan untuk membuat reduksi (reduktor
katalitik) seperti Rayei Nikel.
III. PROSEDUR PERCOBAAN

III.1 Alat dan Bahan


Alat-alat :
- Spektrofotometer sinar tampak
- Buret
- Labu ukur
- Gelas ukur
- Tabung reaksi
- Pipet hisap
Bahan-bahan :
- NiSO4.6H2O
- Etilen diamin
- Akuades
III.2 Skema Kerja

5,25 g NiSO4.7H2O 1,2 g etilen diamin


+ akuades + akuades
50 mL larutan Ni2+ 50 mL larutan en

Campurkan kedua larutan dengan


Perbandingan komposisi :

Ni2+ en
7 3
6 4
5 5
4 6
3 7
2 8
1 9

Ukur serapan pada panjang gelombang 530,


545, 578, 622, 650 dan 660
Absorban
Tentukan nilai Y dan plot Y terhadap X
Harga X
Tentukan nilai n dari Ni(en)22+
Harga n

IV. DATA DAN PEMBAHASAN

IV.1 Data dan Perhitungan


Massa NiSO4.7H2O = 2,625gram
Volume etilen diamin = 0,67mL
Pengamatan :
- NiSO4.7H2O = kristal berwarna hijau
- Etilen diamin = larutan orange
NO mL Ni2+ mL en Warna yang diamati
1. 7 3 Hijau muda (+)
2. 6 4 Hijau tua (++)
3. 5 5 Biru muda (+)
4. 4 6 Biru tua (++)
5. 3 7 Ungu tua (+++)
6. 2 8 Ungu (++)
7. 1 9 Ungu muda (+)

Tabel data pengukuran A campuran


Campuran λ
(mL) 530 545 578 622 650 660
7:3 0,056 0,082 0,173 0,362 0,392 0,388
6:4 0,080 0,112 0,215 0,391 0,386 0,379
5:5 0,099 0,148 0,251 0,405 0,366 0,342
4:6 0,149 0,212 0,298 0,366 0,307 0,271
3:7 0,240 0,302 0,360 0,241 0,168 0,152
2:8 0,303 0,314 0,256 0,098 0,045 0,048
1:9 0,150 0,156 0,124 0,052 0,064 0,025
Ni2+ 0,029 0,033 0,061 0,255 0,412 0,436

 Penentuan fraksi mol (Xen) dan (1-Xen)


Xen = fraksi mol en
Xen = Ven . Men
(Ven.Men) + (VNi2+.MNi2+)
XNi2+ = 1 – Xen
Untuk perbandingan volume campuran 7 : 3 mL
Xen = 3 mL X 0,2 M
(3 mL X 0,2 M) + (7 mL X 0,2 M)
= 0,6 M ml
(0,6 + 1,4) M ml
= 0,3
XNi2+ = 1 – 0,3 = 0,7 mmol
Dengan cara yang sama dapat ditentukan fraksi mol dalam komponen
seperti tercantum dalam tabel :
Perbandingan campuran Fraksi mol
Ni2+ en Ni2+ en
7 3 0,7 0,3
6 4 0,6 0,4
5 5 0,5 0,5
4 6 0,4 0,6
3 7 0,3 0,7
2 8 0,2 0,8
1 9 0,1 0,9

 Penentuan harga Y pada masing-masing


Y = Apengukuran – (1-Xen).ANi2+
 Pada λ = 530 nm
1. Y = 0,056 – (0,7 X 0,029) = 0,0357
2. Y = 0,080 –(0,6 X 0,029) = 0,0626
3. Y = 0,099 – (0,5 X 0,029) = 0,0845
4. Y = 0,149 – (0,4 X 0,029) = 0,1374
5. Y = 0,240 – (0,3 X 0,029) = 0,2313
6. Y = 0,303 – (0,2 X 0,029) = 0,2972
7. Y = 0,150 – (0,1 X 0,029) = 0,1471

 Pada λ = 545 nm
1. Y = 0,082 – (0,7 X 0,033) = 0,0589
2. Y = 0,112 – (0,6 X 0,033) = 0,0922
3. Y = 0,148 – (0,5 X 0,033) = 0,1315
4. Y = 0,212 – (0,4 X 0,033) = 0,1988
5. Y = 0,302 – (0,3 X 0,033) = 0,2921
6. Y = 0,314 – (0,2 X 0,033) = 0,3074
7. Y = 0,156 – (0,1 X 0,033) = 0,1527

 Pada λ = 578 nm
1. Y = 0,173 – (0,7 X 0,061) = 0,1303
2. Y = 0,215 – (0,6 X 0,061) = 0,1784
3. Y = 0,251 – (0,5 X 0,061) = 0,2205
4. Y = 0,298 – (0,4 X 0,061) = 0,2736
5. Y = 0,360 – (0,3 X 0,061) = 0,3417
6. Y = 0,256 – (0,2 X 0,061) = 0,2438
7. Y = 0,124 – (0,1 X 0,061) = 0,1179

 Pada λ = 622 nm
1. Y = 0,362 – (0,7 X 0,255) = 0,1835
2. Y = 0,391 – (0,6 X 0,255) = 0,2380
3. Y = 0,405 – (0,5 X 0,255) = 0,2775
4. Y = 0,366 – (0,4 X 0,255) = 0,2640
5. Y = 0,241 – (0,3 X 0,255) = 0,1645
6. Y = 0,098 – (0,2 X 0,255) = 0,0470
7. Y = 0,052 – (0,1 X 0,255) = 0,0265

 Pada λ = 650 nm
1. Y = 0,392 – (0,7 X 0,412) = 0,1036
2. Y = 0,386 – (0,6 X 0,412) = 0,1388
3. Y = 0,366 – (0,5 X 0,412) = 0,16
4. Y = 0,307 – (0,4 X 0,412) = 0,1422
5. Y = 0,168 – (0,3 X 0,412) = 0,0444
6. Y = 0,045 – (0,2 X 0,412) = - 0,0374
7. Y = 0,064 – (0,1 X 0,412) = 0,0228

 Pada λ = 660 nm
1. Y = 0,388 – (0,7 X 0,436) = 0,0828
2. Y = 0,379 – (0,6 X 0,436) = 0,1174
3. Y = 0,342 – (0,5 X 0,436) = 0,124
4. Y = 0,271 – (0,4 X 0,436) = 0,0966
5. Y = 0,152 – (0,3 X 0,436) = 0,0212
6. Y = 0,048 – (0,2 X 0,436) = - 0,0392
7. Y = 0,025 – (0,1 X 0,436) = - 0,0186

Tabel nilai Y
Campuran Λ
530 545 578 622 650 660
1 0,0357 0,0589 0,1303 0,1835 0,1036 0,0828
2 0,0626 0,0922 0,1784 0,238 0,1388 0,1174
3 0,0845 0,1315 0,2205 0,2775 0,16 0,124
4 0,1374 0,1988 0,2736 0,264 0,1422 0,0966
5 0,2313 0,2921 0,3417 0,1645 0,0444 0,0212
6 0,2972 0,3074 0,2438 0,047 -0,0374 -0,0392
7 0,1471 0,1527 0,1179 0,0265 0,0228 -0,0186

 Penentuan Y maksimal untuk penentuan nilai n


n= Xen
1 - Xen
1. λ = 530 nm
Ymaks = 0,2972
Xen = 0,8
1-Xen = 1 – 0,8 = 0,2
n = 0,8 = 4
0,2
2. λ = 545 nm
Ymaks = 0,3074
Xen = 0,8
1-Xen = 1 – 0,8 = 0,2
n = 0,8 = 4
0,2
3. λ = 578 nm
Ymaks = 0,3417
Xen = 0,7
1-Xen = 1 – 0,7 = 0,3
n = 0,7 = 2,3
0,3
4. λ = 622 nm
Ymaks = 0,2775
Xen = 0,5
1-Xen = 1 – 0,5 = 0,5
n = 0,5 = 1
0,5
5. λ = 650 nm
Ymaks = 0,16
Xen = 0,5
1-Xen = 1 – 0,5 = 0,5
n = 0,5 = 1
0,5
6. λ = 660 nm
Ymaks = 0,124
Xen = 0,5
1-Xen = 1 – 0,5 = 0,5
n = 0,5 = 1
0,5

Tabel nilai Y maksimal dan nilai n


λ (nm) Ymaks Xen 1 – Xen n
530 0,2972 0,8 0,2 4
545 0,3074 0,8 0,2 4
578 0,3417 0,7 0,3 2,3
622 0,2775 0,5 0,5 1
650 0,16 0,5 0,5 1
660 0,124 0,5 0,5 1

Jika nilai n dirata-ratakan maka akan didapatkan nilai n sebesar :


n = 4 + 4 + 2,3 + 1 + 1 + 1 = 2,22
6
IV.2 Pembahasan

Setelah melakukan percobaan komposisi ion kompleks ion kompleks dengan


metoda Jobs, kita dapat mengetahui berapa buah ligan yang terikat pada suatu
kompleks. Metoda Jobs yaitu suatu metoda yang digunakan untuk penentuan
komposisi ion kompleks dengan menvariasikan jumlah volume dari kedua komponen
menggunakan spektrofotometer.
Kompleks yang kami gunakan yaitu kompleks antara Ni 2+ sebagai atom pusat
dan etilen diamin (en) sebagai ligan. Volume campurannya yaitu 10 mL dengan
menvariasikan volume tertentu. Perlakuan dilakukan sebanyak tujuh kali. Untuk
larutan Ni saja diperoleh warna hijau toska. Sedangkan setelah penambahan en
kedalam larutan Ni2+ diperoleh perubahan warna hijau menjadi ungu/lembayung
muda.
Dari data dan hasil perhitungan yang diperoleh, nilai n yang didapat dari nilai
Y maksimum pada panjang gelombang 530, 545, 578, 622, 650 dan 660 nm. Nilai n
didapat bervariasi pada berbagai panjang gelombang tersebut, dimana n maksimum
yang didapat yaitu 2,22 yang dibulatkan menjadi dua (2). Variasi nilai n ini mungkin
disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut ;
1. Kuvet yang digunakan kurang bersih, sehingga mempengaruhi nilai
serapannya.
2. Pengisian kuvet yang kurang merata volumenya.
3. Kurang teliti dalam penimbangan dan pengenceran larutan
4. Kurang teliti dalam penambahan Ni2+ dan etilen diamin

V. KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan ini dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu
sebagai berikut :
 Komposisi suatu kompleks dapat ditentukan dengan menggunakan metoda Jobs.
 Metoda Jobs yaitu suatu metoda penentuan ion kompleks dengan menvariasikan
volume dari dua komponen yaitu atom pusat dan ligan dengan mengukur
absorbannya dengan menggunakan spektrofotometer.
 Kompleks Ni dan etilen diamin yang didapatkan yaitu : Ni(en)22+.
 Untuk mencari nilai n (jumlah ligan yang terikat pada atom pusat) yaitu dengan
menentukan nilai Y maksimumnya, sehingga dapat diketahui rumus kompleksnya.
 Perubahan warna setelah penambahan en (etilen diamin) yaitu dari hijau toska ke
warna ungu (+) artinya ungu muda.

V.2 Saran
Untuk mendapatkan hasil yang lebih bagus dan sukses disarankan untuk
pratikan selanjutnya untuk lebih memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
 Teliti dalam penimbangan zat yang akan dipakai serta dalam pelakuan
penambahan volume en dari buret.
 Teliti dalam pengenceran larutan etilen diamin dan Ni.
 Cuvet harus sebersih mungkin dan larutannya merata volumenya serta stabilkan
spektrofotometer terlebih dahulu

JAWABAN PERTANYAAN

1. Struktur kompleks Ni(en)n2+ adalah :


2+
NH2 NH2

Ni2+ + n (en) CH2 CH2


`Ni
CH2 CH2

NH2 NH2 n

2. Rumus molekul Ni2+ yang terdapat dalam larutan yaitu Ni(en)n2+


Dimana : n = jumlah ligan yang terkoordinasi di dalam atom pusat.
DAFTAR PUSTAKA

Clyde, Day. KIMIA ANORGANIK TEORI. Gajah Mada Press. Yogyakarta. 1993.
Hal 644 – 646.
Cotton, Wilkinson. KIMIA ANORGANIK DASAR. UI Press. Jakarta. 1989. Hal 165.
Vogel. KIMIA ANALISIS KUANTITATIF ANORGANIK. E. G. O. Jakarta. 1990.
Hal 502.