Anda di halaman 1dari 4

RINGKASAN SEMINAR HASIL PRAKTIK LAPANGAN AKUAKULTUR

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2019

Judul : Pembenihan Abalon Haliotis squamata di Hatchery Unit Pelaksana Teknis Daerah
Perikanan Air Payau dan Laut Wilayah Selatan, Pangandaran, Jawa Barat
Nama : Muhammad Brilliant Nugraha
NIM : C14150064
Pembimbing : Dr. Ir. Tatag Budiardi, M.Si
Hari/Tanggal : Jumat, 11 Januari 2019
Waktu/Tempat : 15.00-16.00/ R. Gambar

PENDAHULUAN
Abalon atau siput mata tujuh yang berada di alam jumlahnya semakin sedikit karena
pemenuhan permintaan abalon di Indonesia masih bergantung pada sektor tangkapan. Hampir
produk abalon yang ada di pasaran merupakan hasil tangkapan dari alam, penangkapan langsung
tersebut membuat populasi abalon berkurang sampai 30% (Humaidi et al. 2014). Abalon termasuk
produk unggulan khususnya di pasar mancanegara karena bergizi tinggi dan rasanya yang lezat.
Indonesia dapat menjadi negara penghasil abalon karena lingkungan yang mendukung sebagai
tempat hidup abalon dan diketahui beberapa jenis abalon dapat ditemukan dan dibudidaya di
Indonesia seperti Haliotis asinina dan H. squamata (Khotimah et al. 2013).
Abalon hidup di perairan berkarang sampai dengan kedalaman 20 m dan disekitar tempat
hidupnya terdapat sumber makanan berupa makroalga ataupun mikroalga. Lingkungan hidup
abalon memiliki beberapa parameter kualitas air yang harus dipenuhi agar abalon dapat hidup
optimal yaitu pH antara 7-8, salinitas 31-32 ppt, H2S dan NH3 kurang dari 1 ppm, dan suhu kisaran
25-28 oC, abalon lebih toleran terhadap perubahan suhu. Abalon dapat bergerak dengan kakinya
(otot jalan), namun pergerakannya sangat lambat dan abalon lebih suka beraktivitas di malam hari
(nokturnal) dibanding siang hari sebagai cara dalam menghindari predator (Karunia 2016).
Pembenihan abalon menjadi segmentasi penting karena stok abalon yang dibudidaya dapat
terpenuhi dari kegiatan ini. Pembenihan menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan karena
kegiatan tersebut akan menentukan keberlanjutan kegiatan budidaya yang sedang dilakukan.
Pembenihan abalon sendiri masih sangat minim dipelajari terutama oleh pembudidaya di Indonesia.
Stok benih abalon diperlukan agar jumlah abalon yang dapat dibesarkan tetap dalam kondisi yang
seimbang, selain dapat juga digunakan dalam proses restoking di alam (Tasruddin 2012).
.
METODOLOGI
Praktik lapangan akuakultur dilaksanakan pada tanggal 9 Juli 2018 sampai 19 Agustus 2018,
bertempat di hatchery Unit Pelaksana Teknis Daerah Perikanan Air Payau dan Laut Wilayah
Selatan (UPTD-PAPLWS), Pangandaran, Jawa Barat. Komoditas yang dipilih adalah abalon
(Haliotis squamata). Kegiatan praktik lapangan ini meliputi pengumpulan data primer dan data
sekunder, mengikuti kegiatan secara langsung, mengobservasi kegiatan, serta melakukan diskusi
pada kegiatan pembenihan abalon.

KEADAAN UMUM
UPTD PAPLWS Pangandaran terletak di Jl. Sirna Raga, Kampung Baru, Dusun Parapat Desa
Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran. Letak hatchery yang bersebelahan langsung
dengan perairan Samudra Hindia membuat sumber air di UPTD sering mengalami gangguan
khususnya pada saat gelombang pasang. Parameter air budidaya yang ada di UPTD tersebut yaitu
suhu 25-28 oC, DO 6-9 mg/L, pH 7,2-8,0 dan salinitas 30-34 ppt. Luas UPTD PAPLWS
Pangandaran sekitar ± 2,5 ha, 1 ha dimanfaatkan untuk bangunan kantor, rumah dinas, dan
bangunan budidaya. Bangunan untuk kegiatan budidaya dibagi menjadi beberapa bagian yaitu
Hatchery A, Hatchery B, Hatchery C, Naupli Center dan tambak beserta bangunan pendukung
berupa laboratorium pendukung.

KEGIATAN PEMBENIHAN
Tahapan produksi abalon, khususnya pembenihan dilakukan melalui beberapa proses, seperti
persiapan wadah pemeliharaan larva, benih, induk, kemudian dilanjutkan dengan pengadaan pakan
alami, lalu seleksi induk, pemijahan dan pemeliharaan abalon di berbagai stadia. Kegiatan-kegiatan
tersebut memiliki teknik atau cara yang berbeda dalam melaksanakannya karena abalon memiliki
stadia hidup dengan bentuk, ukuran serta kebiasaan yang berbeda.
Seleksi Induk
Seleksi induk dilakukan sebagai cara dalam menentukan induk abalon yang sudah siap
memijah. Induk diseleksi dengan memerhatikan beberapa parameter seperti TKG, umur, ukuran
morfologis, tingkah laku, dan kesehatan. Seleksi induk diperlukan agar kualitas telur, larva, atau
benih yang nantinya menjadi abalon dewasa akan memiliki kualitas, serta kuantitas yang baik.
Induk dipelihara pada keranjang berukuran 0,6 m x 0,4 m x 0,3 m yang ditempatkan pada wadah
(bak) berukuran 2,4 m x 1,8 m x 1 m.
Persiapan Pakan Alami
Pakan alami memegang peranan penting dalam kegiatan pembenihan abalon karena sumber
makanan abalon berasal dari pakan alami berupa mikroalga ataupun makroalga. Abalon
memanfaatkan jenis alga yang berbeda bergantung pada stadia hidupnya. Pakan mikroalga
merupakan hasil kultur pengembangan pakan alami di UPTD sendiri, sedangkan makroalga untuk
abalon berasal dari penangkapan di sekitar Pantai Karapyak, Pangandaran.
Jenis mirkoalga yang diberikan pada abalon yaitu Nitzschia sp. dan jenis makroalga yang
diberikan berupa Glacilaria sp. dan Ulva sp. Pemberian pakan berupa alga sebanyak 20 % dari
biomassa dengan frekuensi dua sampai tiga hari sekali.
Persiapan Wadah Pembenihan
Wadah pembenihan dikhususkan untuk abalon yang berada pada stadia larva (veliger) dan
benih pendederan. Wadah dipersiapkan terlebih dahulu agar parasit atau penyakit yang ada di dalam
wadah dapat diminimalkan jumlahnya sehingga dapat mengurangi resiko terjadinya hal-hal yang
tidak diinginkan. Wadah larva dibersihkan dengan membersihkan rearing plate, dinding wadah,
serta pergantian komponen wadah seperti batu aerasi dan lain-lain. Khusus untuk larva, media
pemeliharaan akan dipupuk sebelum penebaran larva dilakukan.
Wadah untuk benih dipersiapkan dengan cara membersihkan dinding wadah, keranjang
pelekatan abalon, serta komponen pendukung lainnya. Sumber air untuk wadah pembenihan sudah
melewati tahap filtrasi terlebih dahulu. Wadah-wadah yang sudah terisi air kemudian diaerasi secara
terus menerus dan terdapat air yang terus mengalir masuk ke dalam wadah.
Pemijahan Abalon
Pemijahan abalon dapat berlangsung sepanjang tahun selama kondisi lingkungan abalon
memungkinkan dan gonad abalon sudah masuk dalam TKG 2-3. Tahapan pemijahan abalon dibagi
menjadi tiga yaitu pra, inti, dan pasca pemijahan. Beberapa tahapan tersebut akan memiliki proses
serta penanganan yang berbeda terhadap abalon yang dipijahkan. Abalon memiliki fekunditas
sekitar 2-5 juta telur per induk betina (Permana et al. 2017). Induk dipijahkan dalam sebuah
ruangan terpisah dimana kondisi cahaya sangat minim.
Pra-pemijahan yaitu proses dimana abalon yang akan dipijahkan dipersiapkan terlebih dahulu.
Tahap penjemuran atau stressing juga masuk ke dalam tahapan ini. Inti pemijahan yaitu proses
dimana induk abalon akan mengeluarkan gametnya melalui beberapa proses dan terjadilah proses
pembuahan secara eksternal telur abalon.Telur hasil pemijahan akan diuji kualitasnya terlebih
dahulu.
Kegiatan pascapemijahan yaitu penanganan terhadap induk ataupun telur abalon setelah
proses pembuahan selesai. Proses ini berlangsung saat telur sudah terbuahi sampai pada telur
menetas. Proses pasca pemijahan juga meliputi proses embriogenesis telur, penetasan telur abalon
(sampling dan pengukuran), serta penanganan induk pascapemijahan. Telur yang sudah menetas
akan menjadi trokopor, kemudian trokopor akan melewati uji kualitas terlebih dahulu.
Penebaran dan Pemeliharaan Larva
Penebaran larva abalon ketika abalon sudah masuk dalam stadia veliger atau 5-6 jam setelah
telur menetas. Penebaran dilakukan pada sebuah wadah pemeliharaan yang sudah disiapkan di awal
dengan ukuran 2,4 m x 1,8 m x 1 m, yang sudah terdapat rearing plate di dalamnya. Debit air yang
masuk dalam wadah larva harus selalu dijaga debitnya.
Larva abalon dipelihara dengan diberikan pakan mikroalga berupa Nitzschia sp. sebanyak 10-
15 L setiap dua sampai tiga hari sekali. Abalon akan dipelihara selama kurang lebih tiga bulan
sampai abalon sudah memiliki cangkang dan menempel pada rearing plate. Larva yang sudah
berumur tiga bulan atau mulai memasuki stadia juvenil akan dipanen secara parsial sesuai dengan
ukuran yang telah ditentukan.
Penebaran dan Pemeliharaan Benih
Penebaran benih abalon dilakukan pada saat ukuran panennya sudah sesuai ketentuan atau
lebih dari 6 mm. Benih abalon akan dimasukkan dalam sebuah keranjang yang ditempelkan kedua
sisinya sehingga membentuk rongga dan menjadi tempat hidup benih abalon. Ukuran keranjang
yang digunakan yaitu 0,36 m x 0,27 m x 0,05 m dan ditempatkan pada wadah (bak) pemeliharaan
berukuran 5,8 m x 1,3 m x 0,95 m.
Abalon akan dipelihara selama 8-12 bulan sampai ukuran panjang cangkangnya sekitar 3-4
cm. Benih diberikan pakan berupa makroalga Glacilaria sp. sebanya 20 % dari biomassa per satu
keranjang abalon setiap dua sampai tiga hari sekali. Beberapa kegiatan seperti pergantian air,
penyikatan keranjang, dan seleksi ukuran benih juga dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Abalon
yang sudah dipelihara selama satu tahun, kemudian akan dipindahkan ke bak induk atau bisa
dimanfaatkan untuk kepentingan lainnya seperti restocking.

ANALISIS USAHA
Asumsi usaha yang digunakan pada perhitungan analisis usaha pembenihan abalon sebagai
berikut:
Induk abalon yang digunakan sebanyak 300 ekor (100 jantan dan 200 betina). Fekunditas induk
abalon sebesar 600.000 butir telur/induk. Parameter pemijahan abalon berupa Fertilization Rate
sebesar 80%, Hatching Rate sebesar 80%, Survival Rate larva sebesar 1%, dan Survival Rate benih
sebesar 30%. Abalon memijah sebanyak 3 kali dalam satu tahun, dan benih dijual sebanyak 10 kali
dalam empat tahun. Induk betina yang memijah dalam satu kali pemijahan sebanyak 100 ekor
dengan masa rematurasi selama 4 bulan. Masing-masing kolam terdapat 4 keranjang berisi 10 ekor
abalon. Pakan yang diberikan bergantung pada stadia abalon yang dipelihara, untuk larva diberikan
mikroalga sebanyak 10 L/3 hari, benih diberikan makroalga sebanyak 320 kg/minggu, dan induk
diberikan makroalga sebanyak 25 kg/minggu. Benih abalon yang diproduksi per siklus penjualan
sebanyak 115.200 ekor dengan harga jual Rp. 2.500/ekor. Ukuran benih 3.5-4 cm. Lama
pemeliharaan per siklus 1 tahun.
Analisis usaha pembenihan abalon Haliotis squamata dengan total produksi 1.152.000 ekor
benih selama empat tahun dengan harga jual benih per ekor yaitu Rp. 2.500 sebagai berikut:
Biaya investasi sebesar Rp. 337.860.000. Biaya berikut diperlukan untuk produksi selama empat
tahun; biaya variabel sebesar Rp. 391.200.000, biaya tetap sebesar Rp. 1.200.673.700, total biaya
yang diperlukan Rp. 1.591.873.700 Penerimaan yang diperoleh selama empat tahun sebesar Rp.
2.880.000.000. Keuntungan yang didapatkan selama empat tahun sebesar Rp. 1.288.126.300. Nilai
R/C rasio dan Payback Period sebesar 1,81 dan 1,05 tahun. BEP unit serta BEP harga masing-
masing sebesar 555.760 unit dan Rp. 1.389.400.617. Harga pokok produksi untuk satu ekor abalon
sebesar Rp. 1.382.
DAFTAR PUSTAKA
Humaidi, Rejeki S, Ariyati RW. 2014. Pembesaran siput abalon (Haliotis squamata) dalam
keramba tancap di area pasang surut dengan padat tebar yang berbeda. Journal of
Aquaculture Management and Technology. 3(4): 214-241.
Karunia IMP. 2016. Penangkapan dan upaya pemulihan stok abalon (Haliotidae) di pulau Pari, dan
pulau Pramuka, Kepulaan Seribu DKI Jakarta [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian
Bogor.
Khotimah FH, Permana GN, Rusdi I, Susanto B. 2013. Histologi gonad abalon hasil persilangan
antara Haliotis squamata dan Haliotis asinina. Konferensi Akuakultur Indonesia. 1: 215-
219.
Permana GN, Khotimah FH, Susanto B, Rusdi I, Haryanti. 2017. Keragaan pertumbuhan dan
reproduksi abalon Haliotis squamata Reeve (1846) turunan ketiga. Jurnal Riset Akuakultur.
12(3): 197-202.
Tasruddin. 2012. Keragaan produksi dan kualitas abalon Haliotis squamata [tesis]. Bogor (ID):
Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.
Sahetapy JMF, Latuihamallo M. 2014. The growth of abalone (Haliotis squamata) in net floating
cage at Hulaliu water, Central District of Moluccas. Aquaculture Indonesiana. 15(1): 21-25.