Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan kuantitas konstituen


seluler dan struktur organisme yang dapat dinyatakan dengan ukuran, diikuti
pertambahan jumlah, pertambahan ukuran sel, pertambahan berat atau massa
danparameter lain. Sebagai hasil pertambahan ukuran dan pembelahan sel atau
pertambahan jumlah sel maka terjadi pertumbuhan populasi mikroba.
Pertumbuhan mikroba dalam suatu medium mengalami fase-fase yang
berbeda,yang berturut-turut disebut dengan fase lag, fase eksponensial, fase
stasioner danfase kematian. Pada fase kematian eksponensial tidak diamati pada
kondisi umum pertumbuhan kultur bakteri, kecuali bila kematian dipercepat
dengan penambahanzat kimia toksik, panas atau radiasi.Metode pengukuran
pertumbuhan yang sering digunakan adalah denganmenentukan jumlah sel yang
hidup dengan jalan menghitung koloni pada pelat agar dan menentukan jumlah
total sel/jumlah massa sel. Selain itu dapat dilakukan dengan cara metode
langsung dan metode tidak langsung.
Pertumbuhan pada bakteri didefinisikan sebagai pertumbuhan berat sel.
Karena berat sel relatif sama pada setiap siklus sel, maka pertumbuhan dapat di
definisikan sebagai pertambahan jumlah sel. Mempelajari pertumbuhan bakteri
merupakan faktor terpenting dalam mengetahui beberapa aspek fisiologi suatu
bakteri (Purwoko, 2007).
Pertumbuhan bakteri dapat diukur dengan dua cara yaitu secara langsung
dan tidak langsung. Pengukuran pertumbuhan bakteri secara langsung dapat
dilakukan dengan metode total count, turbidikmetrik, berat kering, electronic
counter, plating techique, fltrasi membran. Sedangkan pengukuran pertumbuhan
bakteri secara tidak langsung dapat dilakukan dengan metode viable count,
aktivitas metabolik dan berat sel kering.

1
B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana perumbuhan mikroorganisme ?


2. Bagaimana pembelahan sel bakteri ?
3. Bagaimana waktu generasi bakteri ?
4. Bagaimana fase pertumbuhan bakteri ?
5. Apa saja faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba ?
6. Bagaimana cara mengukur pertumbuhan bakteri ?

C. Tujuan

 Untuk mengetahui pertumbuhan mikroorganisme


 Untuk mengetahui pembelahn dari sel bakteri
 Untuk mengetahui waktu generasi bakteri
 Untuk mengetahui fase pertumbuhan bakteri
 Untuk mengetahui faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan
mikroba
 Untuk mengetahui pengukuran dari bakteri

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pertumbuhan Mikroorganisme

Pertumbuhan diartikan sebagai penambahan dan dapat dihubungkan


dengan penambahan ukuran, jumlah bobot, masa, dan banyak parameter lainnya
dari suatu makhluk hidup. Penambahan ukuran atau masa suatu sel individual
biasanya terjadi pada proses pendewasaan (maturasi) dan perubahan ini pada
umumnya bersifat sementara (temporer) untuk kemudian dilanjutkan dengan
proses multiplikasi dari sel tersebut. Multiplikasi terjadi dengan cara pembelahan
sel. Pertumbuhan pada umumnya tergantung pada kondisi bahan makanan dan
juga lingkungan. Apabila kondisi makanan dan lingkungan cocok untuk
mikroorganisme tersebut, maka mikroorganisme akan tumbuh dengan waktu yang
relative singkat dan sempurna (Irianto, 2007).
Kuantitas atau ukuran pertumbuhan mikroorganisme dapat diukur dari
segi pertambahan dimensi satu, misalnya : panjang, diameter, jari-jari, dan jumlah
sel ; segi pertambahan dimensi dua, misalnya : luas, dan segi pertambahan
dimensi tiga, misalnya : volume, berat segar, berat kering. Selain tiga segi
tersebut, pertumbuhan juga dapat diukur dari segi komponen seluler, misalnya :
RNA, DNA, dan protein dan segi kegiatan metabolisme secara langsung,
misalnya : kebutuhan oksigen, karbon dioksida, hasilan gas-gas tertentu dan lain-
lain.
Istilah pertumbuhan bakteri lebih mengacu kepada pertambahan jumlah sel
bukan mengacu kepada perkembangan individu organisme sel. Bakteri memiliki
kemampuan untuk menggandakan diri secara eksponensial dikarenakan sistem
reproduksinya adalah pembelahan biner melintang, dimana tiap sel membelah diri
menjadi dua sel. Bakteri merupakan organisme kosmopolit yang dapat kita jumpai
di berbagai tempat dengan berbagai kondisi di alam ini.
Pertumbuhan pada mikroorganisme diartikan sebagai penambahan jumlah
atau total massa sel yang melebihi inokulum asalnya. Pertumbuhan merupakan
suatu proses kehidupan yang irreversible artinya tidak dapat dibalik kejadiannya.
Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan kuantitas konstituen seluler dan

3
struktur organisme yang dapat dinyatakan dengan ukuran, diikuti pertambahan
jumlah, pertambahan ukuran sel, pertambahan berat atau massa dan parameter
lain. Sebagai hasil pertambahan ukuran dan pembelahan sel atau pertambahan
jumlah sel maka terjadi pertumbuhan populasi mikroba.
Pertumbuhan mikroba dalam suatu medium mengalami fase-fase yang
berbeda, yang berturut-turut disebut dengan fase lag, fase eksponensial, fase
stasioner dan fase kematian. Pada fase kematian eksponensial tidak diamati pada
kondisi umum pertumbuhan kultur bakteri, kecuali bila kematian dipercepat
dengan penambahan zat kimia toksik, panas atau radiasi.
Dalam pertumbuhannya setiap makhluk hidup membutuhkan nutrisi yang
mencukupi serta kondisi lingkungan yang mendukung demi proses pertumbuhan
tersebut, termasuk juga bakteri. Pertumbuhan bakteri pada umumnya akan
dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Pengaruh faktor ini akan memberikan
gambaran yang memperlihatkan peningkatan jumlah sel yang berbeda dan pada
akhirnya memberikan gambaran pula terhadap kurva pertumbuhannya.
Kebutuhan mikroorganisme untuk pertumbuhan dapat dibedakan menjadi
dua kategori, yaitu: kebutuhan fisik dan kebutuhan kimiawi atau kemis. Aspek-
aspek fisik dapat mencakup suhu, pH dan tekanan osmotik. Sedangkan kebutuhan
kemis meliputi air, sumber karbon, nitrogen oksigen, mineral-mineral dan faktor
penumbuh.

B. Pembelahan Sel Bakteri

Proses pembelahan secara langsung disebut juga pembelahan amitosis atau


pembelahan biner. Pembelahan biner merupakan proses pembelahan dari 1 sel
menjadi 2 sel tanpa melalui fase-fase atau tahap-tahap pembelahan sel.
Pembelahan biner banyak dilakukan organisme uniseluler (bersel satu), seperti
bakteri, protozoa, dan mikroalga (alga bersel satu yang bersifat mikroskopis).
Setiap terjadi pembelahan biner, satu sel akan membelah menjadi dua sel yang
identik (sama satu sama lain). Dua sel ini akan membelah lagi menjadi empat,
begitu seterus-nya. Pembelahan biner dimulai dengan pembelahan inti sel menjadi
dua, kemudian diikuti pembelahan sitoplasma. Akhirnya, sel terbelah menjadi dua
sel anakan.

4
Pembelahan biner pada organisme prokariotik terjadi pada bakteri. DNA
bakteri terdapat pada daerah yang disebut nukleoid. DNA pada bakteri relatif
lebih kecil dibandingkan dengan DNA pada sel eukariotik. DNA pada bakteri
berbentuk tunggal, panjang dan sirkuler sehingga tidak perlu dikemas menjadi
kromosom sebelum pembelahan.
Sel prokariot, sel tanpa membran inti, mampu membelah diri secara
sederhana. Setelah sel tumbuh dan mampu melakukan pembelahan, serta telah
menduplikasi molekul DNA-nya, terjadi pelekukan pada membran sel. Molekul
DNA prokariot menempel pada beberapa titik membran sel. Dengan demikian,
molekul DNA tersebut dapat terpisah dengan arah yang berlawanan ketika
pelekukan membran sel semakin dalam. Ketika molekul DNA terpisah, membran
sel dan dinding sel semakin melekuk ke dalam hingga mulai terlihat pemisahan
dua sel baru.

Proses sel yang terbagi dua secara sederhana ini disebut juga pembelahan
biner. Sel prokariot, seperti sel bakteri, dapat melakukan pembelahan biner setiap
20 menit. Hal tersebut memberikan bakteri kemampuan memperbanyak diri yang
menakjubkan.
Pembelahan biner bakteri dimulai dengan menempelnya bahan genetik
pada salah satu sisi membran dari sel dewasa, kemudian diikuti dengan proses
sintesis DNA dan replikasi. Setelah proses replikasi selesai maka salah satu sisi
dari membran akan membuat lekukan dan akhirnya diikuti dengan proses
pemanjangan sel dan pembelahan sel menjadi dua bagian yang memiliki bahan
genetika yang sama (Campbell et al. 1999).

5
Mekanisme Pembelahan Sel ( binary fission ) Pada Sel Prokariotik

1. Sebuah sel muda di fase awal siklus


2. Sebuah sel tua mempersiapkan bagian dengan memperbesar dinding sel,
membran sel dan volume keseluruhan. Di tengah sel, dinding
mengembangkan takik yang akhirnya akan membentuk septum (pembatas)
transversal, dan kromosom digandakan kemudian menempel pada membran
khusus
3. Dinding septum tumbuh ke dalam, dan kromosom yang ditarik ke arah ujung
sel yang berlawanan sebagai membran membesar. Komponen sitoplasmik
lain yang didistribusikan (acak) kedua sel berkembang
4. Septum disintesis sepenuhnya melalui pusatsel, dan membran sel patch itu
sendiri sehingga ada dua bilik sel terpisah
5. Pada titik ini, sel anak dibagi. Beberapa bagian khusus akan memisahkan
sepenuhnya seperti yang ditunjukkan di sini, sementara yang lain akan tetap
melekat, membentuk rantai atau doublet.

6
C. Waktu Generasi

Waktu yang dibutuhkan dari mulai tumbuh sampai berkembang dan


menghasilkan individu baru disebut waktu generasi. Contoh : waktu generasi
bakteri E. Coli sekitar 17 menit, artinya dalam 17 menit satu E. Coli menjadi dua
atau lebih E. Coli. Untuk mikroorganisme yang membelah, misalnya bakteri,
maka waktu generasi diartikan sebagai selang waktu yang dibutuhkan untuk
membelah diri menjadi dua kali lipat.
Waktu generasi adalah waktu yang diperlukan oleh mikroorganisme untuk
meningkatkan jumlah sel menjadi dua kali lipat jumlah semula. Kurva
pertumbuhan mikroorganisme terdiri atas empat fase yaitu fase penyesuaian (lag
phase), fase eksponensial atau fase logaritmik, fase stasioner dan fase kematian.
Pada fase eksponensial terjadi peningkatan jumlah sel dan digunakan untuk
menentukan waktu generasi (Yudhabuntara, 2003).
Selang waktu yang dibutuhkan bagi sel untuk membelah diri menjadi dua
kali lipat disebut sebagai waktu generasi. Waktu generasi pada setiap bakteri tidak
sama, ada yang hanya memerlukan 20 menit bahkan ada yang memerlukan
sampai berjam-jam atau berhari-hari (Sumarsih,2003). Bila bakteri diinokulasikan
ke dalam medium baru, pembiakan tidak segera terjadi tetapi ada periode
penyesuaian pada lingkungan yang dikenal dengan pertumbuhan. Kemudian akan
memperbanyak diri (replikasi) dengan laju yang konstan, sehingga akan diperoleh

7
kurva pertumbuhan. Pada kurva pertumbuhan dikenal beberapa fase pertumbuhan,
yaitu (Admin, 2008):
Pertumbuhan dapat diamati dari meningkatnya jumlah sel atau massa sel
(berat kering sel). Pada umumnya bakteri dapat memperbanyak diri dengan
pembelahan biner,yaitu dari satu sel membelah menjadi 2 sel baru, maka
pertumbuhan dapat diukur dari bertambahnya jumlah sel. Waktu yang diperlukan
oleh sejumlah sel atau massa sel menjadi dua kali jumlah/massa sel semula
disebut doubling time atau waktu penggandaan. Waktu penggandaan tidak sama
antara berbagai mikrobia, dari beberapa menit, beberapa jam sampai beberapa hari
tergantung kecepatan pertumbuhannya. Kecepatan pertumbuhan merupakan
perubahan jumlah atau massa sel per unit waktu (Sumarsih, 2003).
Adapun perhitungan pertumbuhan mikroba (Sumarsih, 2003):
Dari hasil pembelahan sel secara biner:
1 sel menjadi 2 sel
2 sel menjadi 4 sel : 21 menjadi 22 atau 2n
4 sel menjadi 8 sel 22 menjadi 23 atau 2x2x2

Dari hal tersebut dapat dirumuskan menjadi:


N = N0 2n
Ket.
N : jumlah sel akhir
N0 : jumlah sel awal
n : jumlah generasi

Waktu generasi = t / n , t: waktu pertumbuhan eksponensial, n: jumlah


generasi Dalam bentuk logaritma, rumus N = N0 2n menjadi:

log N = log N0 + n log 2


log N – log N0 = n log 2
n = log N – log N0 = log N – log N0
log 2 = 0,301

8
Contoh: N = 108 , N0 = 5×107 , t = 2

Dengan rumus dalam bentuk logaritma:


n = log 108 – log (5x 107) = 8 – 7,6 =1

Jadi waktu generasi = t / n = 2 / 1 = 2 jam

Waktu generasi juga dapat dihitung dari slope garis dalam plot
semilogaritma kurva pertumbuhan eksponensial, yaitu dengan rumus, slope =
0,301/ waktu generasi. Dari grafik pertumbuhan tersebut diketahui bahwa slope =
0,15, sehingga juga diperoleh waktu generasi = 2 jam.

Tabel Waktu Generasi Mikroorganisme

Waktu
Kelompok Jenis Mikroorganisme Generasi
( Jam )
Bakteri heterotroph :
Bacillus megatarium 0,58
Escherichia coli 0,28
Rhizobium meliloti 1,80
Treponema pallidum 34,0
Bakteri fotosintetik :

Chloropseupdomonas 7,0
Ethylicum 2,4
Rhodopseudomonas spheroids 5,0
Ragi :
Saccharomyces cerevisiae 2,0

Beberapa faktor yang mempengaruhi waktu generasi yaitu :


(1) Tahapan pertumbuhan mikroorganisme, misalnya seperti tersebut di
atas yang menyatakan bahwa satu sel bakteri menjadi 2 sel bakteri

9
memerlukan rentang waktu yang berbeda ketika 128 sel bakteri menjadi
256 sel ;
(2) Takson mikroorganisme (jenis, spesies, dll), misalnya bakteri
Escherichia coli dalam saluran pencernakan manusia maupun binatang
umumnya mempunyai waktu generasi 15 - 20 menit sedangkan bakteri
lain (misalnya Salmonella typhi) mempunyai waktu generasi berjam-
jam.

Jika jumlah generasi selama selang waktu pengamatan diketahui, Waktu


Generasi mikroba dapat dihitung dengan rumus:
g=t/n
Keterangan:
g = waktu generasi
t = waktu pertumbuhan bakteri atau selisih antara waktu akhir dengan waktu
awal pengamatan pertumbuhan bakteri.
n = jumlah generasi selama waktu (t )

Namun, jika jumlah generasi belum diketahui Waktu generasi mikroba


dapat dihitung dengan rumus:

 Mengetahui jumlah Generasi terlebih dahulu dengan rumus:


N = ( log10 Nf - log10 N0 )/0,301
Keterangan:
N = Jumlah generasi
Nf = Konsentrasi akhir sel (cell/ml)
N0 = Konsentrasi awal sel (cell/ml)
0,301 = Faktor Konversi, konversi dari log2 sampai log10.

 Setelah itu mencari Waktu generasi dengan rumus:


g = t / n (seperti rumus diatas)

10
D. Fase Pertumbuhan

Pengamatan jumlah sel dalam waktu yang cukup lama akan memberikan
gambaran berdasarkan Kurva Pertumbuhan.

Terdapat beberapa fase-fase pertumbuhan:

1. Fase Permulaan

Dikenal pula dengan initial phase atau lag phase atau laten phase. Dalam
fase ini bakteri belum mengadakan perbanyakan sel, bahkan sebagian sel bakteri
mati, hingga hanya sel yang kuat saja yang bertahan hidup. Ukuran sel membesar
yang disebabkan oleh adanya pemasukan air imbibisi ke dalam sel. Secara
teoritis, keadaan laten atau lag dari populasi bakteri ini diakibatkan oleh pasokan
metabolit yang tidak mencukupi, atau oleh tidak aktifnya suatu enzim hingga
keseluruhan metabolisme terhambat. Ini disebabkan oleh keberadaan sel bakteri
dalam lingkungan baru sehingga sel harus menyesuaikan diri dalam lingkungan
yang baru tersebut.

11
Disamping itu, secara khusus ada dua peristiwa lain yang memungkinkan
terjadinya fase ini, yaitu:
 Fase lag yang terjadi karena pembentukan enzim induktif
 Fase lag yang terjadi karena germinasi spora

2. Fase Pertumbuhan

Fase pertumbuhan yang dipercepat (Accelarated Growth Phase) Selama


fase ini, sel bakteri belum memperbanyak diri. Kecepatan pertumbuhan makin
lama makin meningkat. Bila kecepatan pertumbuhan diberikan dalam term waktu
generasi (doubling time, td, yaitu waktu yang dibutuhkan populasi sel untuk
melipatkan jumlahnya menjadi dua kali lipat, maka waktu generasinya makin
lama makin pendek). Sedangkan kecepatan pertumbuhan dinyatakan dalam
kecepatan tumbuhnya makin lama x dt tinggi. Secara individual makin lama
ukuran sel makin mendekati maksimum. Ini disebabkan oleh adanya kemasukan
air imbibisi dan adanya permulaan aktivitas metabolisme.

3. Fase Logaritma

Fase logaritma (Logaritmic phase atau exponensial phase) Selama fase ini
kecepatan pertumbuhan populasi sel berjalan maksimum dan konstan seperti
terlihat pada gambar sinstesis bio massa, sangat tepat bila digambarkan dengan
term logaritma, apabila kecepatan sintesisnya dinyatakan dengan kecepatan
pertumbuhan spesifik, μ seperti dinyatakan diatas.
X= Xo O μ t
X dan Xo adalah konsentrasi sel (g/l) pada waktu 0 dan t jam nilai μ sangat
tergantung pada spesies dan strain mikroba, serta kondisi lingkungan kultur
mikroba tersebut. Dalam kondisi kultur yang optimum, sel mikroba mengalami
kecepatan reaksi metabolisme yang maksimum. Ditinjau dari sel bakteri secara
individual, ukuran sel justru pada waktu ukuran yang minimum, dengan ketebalan
dinding sel yang minimum. Ini disebabkan oleh sangat aktifnya sel membelah
diri. hingga sintesis makromolekul dari komponen sel pun berlomba dengan
waktu.

12
Bila populasi sel yang sedang mengalami fase ini dipindahkan ke dalam
medium baru, dengan komposisi nutrient yang sama dengan kondisi lingkungan
yang sama, maka dalam medium baru populasi ini akan langsung mengalami fase
logaritma. Jadi tidak mengawali pertumbuhan dengan fase permulaan dan fase
pertumbuhan dipercepat.

4. Fase Pertumbuhan Terhambat

Fase Pertumbuhan yang mulai terhambat (Phase of negative accelerated


growth) Dimulai dari awal fase ini, kecepatan pertumbuhan makin lama makin
menurun.
Penghambatan pertumbuhan diakibatkan oleh berbagai sebab. Dalam
banyak hal, penurunan kecepatan pertumbuhan ini diakibatkan oleh kehabisan
nutrisi. Tetapi sering terjadi walaupun pasokan nutrisi diberikan dengan cukup,
penurunan kecepatan pertumbuhan tetap berjalan.
Umumnya ini disebabkan oleh akumulasi substansi toksik hasil
metabolisme sel yang menghambat dapat menghambat pertumbuhan sel.
Substansi ini memungkinkan pula menyebabkan represi terhadap kerja sistem
sintesis enzim, yang mengakibatkan terhentinya transkripsi kode genetik dari gen
tertentu hingga pembentukan enzim baru terhenti sama sekali. Selanjutnya
perubahan kondisi lingkungan, seperti perubahan pil yang tajam sebagai akibat
metabolisme sel, dapat mengakibatkan penghambatan terhadap pertumbuhan sel.

5. Fase Stasioner

Selama fase ini kecepatan pertumbuhan adalah nol. Walaupun demikian,


tidak berarti tidak terjadi pertumbuhan sel. Jumlah pembentukan sel baru sebagai
hasil reproduksi, seimbang dengan jumlah sel yang mati selama fase ini.
Oleh karena itu, ekspresi dalam grafik linear dan sejajar selama fase ini,
menggunakan cadangan makanan yang ada di dalam protoplasma sebagai
building blocks pembangun sel yang baru.

13
6. Fase Penurunan (Kematian)

Ini merupakan akhir dan suatu kurva dimana jumlah individu secara tajam
akan menurun sehingga kurva tampaknya akan mendekati titik awal kembali
(Suriawiria, 2005; 91). Penyebab utama adalah autolysis sel serta penurunan
energy seluler. Pada saat medium kehabisan nutrient maka populasi bakteri akan
menurun jumlahnya. Pada saat ini jumlah sel yang mati lebih banyak daripada sel
yang hidup.
Beberapa bakteri hanya mampu bertahan beberapa jam selama fase statis
dan akhirnya masuk ke dalam fase kematian, sementara itu beberapa bakteri
hanya mampu bertahan sampai harian dan mingguan pada fase statis dan akhirnya
masuk ke fase kematian. Beberapa bakteri bahkan mampu bertahan sampai
puluhan tahun sebelum mati, yaitu dengan mengubah sel menjadi spora (Purwoko,
2007).

E. Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba

Aktivitas mikroba dipengaruhi oleh lingkungan. Perubahan yang terjadi


dalam lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan sifat
fisiologi mikroba. Beberapa golongan mikroba sangat tahan terhadap perubahan
lingkungan sehingga cepat dapat penyesuaikan diri. Ada pula golongan mikroba
yang sama sekali peka terhadap perubahan lingkungan hingga tidak dapat
menyeseuaikan diri.

Faktor lingkungan penting artinya dalam usaha mengendalikan kegiatan


mikroba. Baik untuk kepentingan proses ataupun pengendalian. Lingkungan yang
sangat berpengaruh terhadap kehidupan mikroba, dapat berbentuk lingkungan
abiotik (fisik dan kimia), dapat pula lingkungan biotik (biologis) yaitu :

1. Lingkungan Abiotik
a. Temperatur

Temperatur merupakan salah satu faktor yang penting dalam kehidupan.


Beberapa jenis mikroba dapat hidup pada daerah temperatur yang luas sedangkan

14
jenis lainya pada daerah yang terbatas. Temperatur minimum suatu jenis mikroba
ialah temperatur paling rendah dimana kegiatan mikroba masih dapat
berlangsung. Temperatur optimum adalah temperatur yang paling sesuai/baik
untuk kehidupan mikroba, temperatur maksimum adalah temperatur teringgi yang
masih dapat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi titik kematian termal antara lain waktu,
temperatur, kelembapan, bentuk dan jenis spora, umum mikroba, Ph dan
komposisi medium. Kelembapan pada temperatur tinggi akan mempercepat
koagulasi (penggumpalan) protein. Misalnya spora Bacillus anthracis pada
temperatur 1600C, dalam keadaan kering mati setelah 90 menit sedang pada
temperatur 1000c dalam keadaan lembab mati setelah 10 menit.
Berdasarkan daerah temperatur, kegitan mikroba dibagi menjadi 3 golongan
yaitu :
o Mikroba psikrofilik yaitu golongan mikroba yang dapat tumbuh pada daerah
temperatur antara 0-300C, dengan temperatur optimum 150C. Kebanyakan
dari golongan ini tumbuh ditempat-tempat dingin.
o Mikroba mesofilik yaitu golongan mikroba yang mempunyai temperatur
optimum untuk pertumbuhan antara 25-370C dengan temperatur optimum
320C. Umumnya hidup didalam alat pencernaan, kadang kadang ada juga
yang hidup dengan baik pada temperatur sekitae 400C.
o Mikroba termofilik adalah golongan mikroba yang dapat tumbuh pada
daerah temperatur tinggi, optimum diantara 55-600C, minimum 400C
sedangkan maksimum 750C. Golongan terdapat didalam sumber-sumber air
panas dan tempat-tempat lain yang temperatur lebih tinggi dan 550C, misal
pada buangan air pendingin.

Telah diketahui bahwa dalam reaksi kimia, kenaikan temeratur akan


menaikan kecepatan reaksi, misal tiap kenaikan 100 dapat mempercepat reaksi
antara 2-3 kali lipat. Pada umumnya untuk membunuh mikroba dengan
pemanasan lebih mudah pada reaksi medium asam atau alkalis, kalau
dibandingkan dengan reaksi medium netral. Karena didalam keadaan netral waktu
pemanasan yang diperlakukan untuk membunuh akan lebih lama.

15
Kematian mikroba pada temperatur rendah disebabkan oleh terjadinya
perubahan keadaan kolonial protoplasma yang tidak reversibel. Penurunan
temperatur yang tiba-tiba dibawah titik beku dapat menyebabkan kematian, akan
tetapi penurunan temperatur secara bertingkat hanya menghentikan kegiatan
metabolisma untuk sementara saja. Bila susupensi bakteri didinginkan dengan
cepat dari 450C, maka jumlah bakteri yang mati dapat mencapai 95%, tetapi
pendinginan secara bertingkat menyebabkan jumlah kematian tersebut akan
berkurang.
b. Kelembapan

Untuk pertumbuhan ragi dan bakteri diperlukan kelembapan yang tinggi


diatas 85%, sedang untuk jamur dan aktinomiset diperlukan kelembapan yang
rendah dibawah 80%. Kadar air bebas dalam larutan merupakan nilai
perbandingan antara tekanan uap air larutan dengan tekanan uap iar murni, atau
1/100 dari kelembapan relatif.
Banyak mikroba yang tahan hidup dalam keadaan kering untuk waktu lama,
seperti dalam bentuk spora, konidia, artospora, klamidospora dan kista. Seperti
halnya pada pembekuan, proses pengeringan protoplasma, menyebabkan kegiatan
metabolisma terhneti. Pengeringan secara perlahan-lahan menyebabkan perusakan
sel akibat pengaruh tekanan osmosa dan pengaruh lainya dengan naiknya kadar
zat terlarut.
c. Tekanan osmosa

Larutan hipertonis menghambat pertumbuhan karena dapat menyebabkan


plasmolisa. Tekanan osmosa tinggi banyak digunakan dalam parktek untuk
pengawetan bahan-bahan makanan, seperti pengawetan ikan dengan penambahan
garam, pengawetan buah-buahan dengan penambahan gula dan sebagainya.
Beberpa mikroba dapat menyesuaikan diri terhadap kadar garam atau kadar
gula yang tinggi, antara lain ragi yang osmofil (dapat tumbuh pada kadar garam
tinggi) bahkan beberapa mikroba dapat tahan dalam subtrat dengan kadar garam
sampai 30%, golongan ini bersifat halodurik.

16
d. pH

Batas pH untuk pertumbuhan jasad merupakan suatu gambaran dari batas ph


bagi kegiatan enzim. Untuk tiap jasad dikenal nilai pH minimum, optimum dan
maksimum. Bakteri memerlukan nilai Ph ANTARA 6,5-7,5. Ragi antara 4,0 – 4,5,
sedang jamur dan aktinomeset tertntu mempunyai daerah Ph yang luas.
Atas dasar daerah, Ph bagi kehidupan mikroba, dibedakan adanya 3
golongan besar yaitu :
 Mikroba yang asidofilik, yaitu yang dapat tumbuh pada pH antara 5,5 -5,0.
 Mikroba yang mesofilik yaitu yang dapat tumbuh pada pH antara 5,5 –
8,0.
 Mikroba yang alkafilik, yaitu yang dapat tumbuh pada pH antara 8,7 -9,5.

e. Senyawa Toksik
Ion-ion logam berat seperti Hg, Cu, Au, Zn, Li dan Pb walalupun pada
kadar yang sangat rendah akan bersifat toksik terhadap mikroba, karena ion-ion
logam berat dapat bereaksi dengan gugus senyawa sel. Daya bunuh logam berat
dapat bereaksi dengan gugusan senyawa sel. Daya bunuh logam berat pada kadar
rendah disebut oligodinamik. Misalnya Hg2 yang bergabung dengan gugusan
sulfidril (-SH) pada enzim akan menghambat kegiatan enzim tersebut. beberapa
kation seperti Li+ dan Zn2+ bersifat toksik terhadap bakter, sehingga akibatnya
kegiatan enzim terhenti, karena kation semacam ini bersidar antagonis terhadap
H+. Apabila nilai pH dinaikan maka peracunan Li+ dan Zn2+ dapat dikurangi
sehingga antagonisme dapat berbalik.
f. Arus listrik

Arus listrik bolak balik ataupun searah yang bertegangan tinggi dapat
menyebabkan elektrolisis bahan penyusun medium. Arus listrik dapat juga
menghasilkan panas yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba. Karena sel
didalam suspensi akan mengalami elektroforesis kalau dilalui arus listrik, maka
kehidupan mikroba akan terganggu/terhenti.

17
g. Radiasi

Pada umumnya cahaya mempunyai daya merusak kepada sel mikroba yang
tidak mempunyai pigmen fotosintesis. Sedang cahaya dengan gelombang pendek
dapat berpengaruh terhadap jasad hidup. Sinar dengan gelombang panjang juga
mempunyai daya fotodinamik dan daya biofisik, misalnya cahaya matahari. Jika
energi radiasi diserap oleh sel mikroba akan menyebabkan terjadinya ionisasi
komponen sel, ionisasi molekul tertentu dari protoplasma dapat menyebabkan
kematian, perubahan genetik ataupun dapat pula menghambat pertumbuhan.
Energi radiasi dari sinar X, sinar gamma dan terutama sinar ultraviolet banyak
digunakan dalam praktek strelisasi, pengawetan bahan makanan dan untuk
mendapatkan muatan.
h. Tegangan muka

Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaanya akan


menyerupai membran yang elastis, dan ini dapat mempengaruhi kehidupan
mikroba. Protoplasma mikroba terdapat didalam sel yang dilindungi dingding sel.
Dengan adanya perubahan bahan pada tegangan muka dinding sel, akan
mempengaruhi permukaan protoplasma, yang akibatnya dapat mempengaruhi
pertumbuhan dan perubahan bentuk morfologinya, senyawa seperti sabun dan
detergen dapat mempengaruhi tegangan permukaan antara udara dan cairan
sehingga menaikan kemampuan air untuk membasahinya, seperti oleh Tween 80,
Triton A20 dsb.
Bakteri yang hidup dalam alat pencernaan dapat berkembang biak dalam
medium yang mempunyai tegangan permukaan relatif rendah, walaupun
kebanyakan lebih menyukai tegangan permukaan yang relatif tinggi.
i. Tekanan hidrostatik dan Mekanik

Beberapa jenis mikroba dapat hidup didalam Samudra Pasifik dengan


tekanan lebih dari 1.208 Kg tiap cm persegi, dan kelompok ini disebut mikroba
barofilik. Selain itu tekanan yang tinggi akan menyebabkan meningkatnya
beberapa reaksi kimia pengecilan volume koloid organik enzim. Molekul dan juga
menaikan viskositas cairan serta dissosiasi elektrolit. Sedang tekanan diatas 7.500

18
kg/cm2 dapat menyebabkan denaturasi protein. Perubahan-perubahan ini
mempengaruhi proses biologi sel jasad hidup.

2. Lingkungan Abiotic
a. Bebas Hama

Dalam percobaan sering diperlakukan hewan percobaan yang sejak lahir


harus bebas dari semua jenis mikroorganisme. Sejak lahir harus bebas dari semua
jenis mikroorganisme hewan percobaan yang bebas dari mikroba tersebut disebut
kehidupan aksenik atau kehidupan tanpa benda-benda asing. Hewan aksenik yang
telah diinfeksi dengan suatu jasad disebut gnotobiosis dan hasilnya dapat
menimbulkan hal-hal yang penting, misalnya marmut gnotobiosis yang diinfeksi
patogen entamoeba histolystica tidak menderita sakit disentri, sedangkan marmut
biasa akan segera sakit jika dikenai jasad tersebut. hal ini disebabkan karena
dalam usus marmut gnotobiosis tidak terdapat bakteri yang berfungsi sebagai
makanan E. Histolytica.
b. Asosiasi

Simbiosis adalah asosiasi diantara dua atau lebih jasad, dimana sedikitnya
satu jenis mendapatkan keuntungan sedangkan jenis lainya mungkin mengalami
kerugian, atau mungkin keuntungan.

F. Mengukur Perumbuhan Bakteri

Pertumbuhan mikroorganisme dapat diukur berdasarkan konsentrasi sel


(jumlah sel per satuan isi kultur) ataupun destilasi sel (berat kering dari sel-sel
persatuan isi kultur). Dua parameter ini tidak selalu sama karena berat kering sel
rata-rata bervariasi pada tahap berlainan dalam pertumbuhan kultur, kedua para
meter tersebut juga tidak bermakna sama dalam penelitian mengenai biokimia
mikroorganisme atau gizi mikroorganisme. Densitas sel adalah kuantitas yang
lebih bermakna, sedangkan dalam penelitian mengenai inaktivitas
mikroorganisme, konsentrasi sel adalah kuantitas yang bermakna (Pratiwi, 2008).

19
Pertumbuhan mikroorganisme dapat diukur dengan dua cara, yaitu secara
langsung dan tidak langsung.

Pengukuran pertumbuhan mikroorganisme secara langsung dapat


dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :

1. Metode Total Count

Pada metode ini sampel ditaruh di suatu ruang hitung (seperti


hemasitometer) dan jumlah sel dapat ditentukan secara langsung dengan bantuan
mikroskop (Hadioetomo, 1993). Jika setetes kultur dimasukkan kedalam wadah
(misalnya hemasitometer) yang diketahui volumenya, maka jumlah sel yang dapat
dihitung. Akan tetapi cara tersebut memiliki keterbatasan, yaitu tidak dapat
membedakan sel hidup atau mati dan tidak dapat digunakan pada jumlah sel yang
sangat sedikit (kurang dari 102 sel/ml) (Purwoko, 2007).
Kelemahan lainnya ialah sulitnya menghitung sel yang berukuran sangat
kecil seperti bakteri karena kekebalan hemositometer tidak memungkinkan
digunakannya lensa objektif celup minyak. Hal ini dibatasi dengan cara mencernai
sel sehingga menjadi lebih mudah dilihat. Kelemahan lain lagi ialah kadang-
kadang cenderung bergerombol sehingga sukar membedakan sel-sel individu.
Cara mengatasinya ialah mencerai-beraikan gerombolan sehinggga tersebut
dengan menambahkan bahan anti gumpalan seperti dinatrium etilanadiamina tetra
asetat dan tween-80 sebanyak 0,1%. Keuntungan metode ini ialah pelaksanaannya
cepat dan tidak memerlukan banyak peralatan (Hadioetomo, 1993).

2. Metode Turbidimetrik

Bila kita harus memeriksa kosentrasi sel jumlah besar biakan, maka
metode cawan bukanlah pilihan yang baik karena tidak hanya memakan waktu
tetapi juga memerlukan media dan pecah-belah dalam jumlah besar. Untuk kasus
demikian tersedia metode yang lebih cepat dan praktis, yaitu pengukuran
kekeruhan biakan dengan fotokilometer (Hadioetomo, 1993).

20
Secara rutin jumlah sel bakteri dapat dihitung dengan cara menghitung
kekeruhan (turbiditas) kultur. Semakin keruh suatu kultur, semakin banyak jumlah
sel. Prinsip dasar metode turbidimeter adalah jika cahaya mengenai sel, maka
sebagian cahaya diserap dan sebagian cahaya diteruskan. Jumlah cahaya yang
diserap propisional (sebanding lurus dengan jumlah sel bakteri). Ataupun jumlah
cahaya yang diteruskan berbanding terbalik dengan jumlah sel bakteri. Semakin
banyak jumlah sel, semakin sedikit cahaya yang diteruskan. Metode ini memiliki
kelemahan tidak dapat membedakan antara sel mati dan sel hidup (Purwoko,
2007).

3. Metode Berat Kering

Cara yang paling cepat mengukur jumlah sel adalah metode berat kering.
Metode tersebut relatif mudah dilakukan, yaitu kultur disaringan atau
disentrifugasi, kemudian bagian yang disaring atau yang mengendap hasil
sentrifugasi dikeringkan. Pada metode ini juga tidak dapat membedakan sel yang
hidup dan mati. Akan tetapi keterbatasan itu tidak mengurangi manfaat metode
tersebut dalam hal mengukur efesiensi fermentasi, karena pertumbuhan diukur
dengan satuan berat, sehingga dapat diperhitungkan dengan parameter konsumsi
substrat dan produksi senyawa yang diinginkan (Purwoko, 2007).

4. Metode Elektronic Counter

Pada pengukuran ini, suspensi mikroorganisme dialirkan melalui lubang


kecil (orifice) dengan bantuan aliran listrik. Elektroda yang ditempatkan pada dua
sisi orifice mengukur tekanan listrik (ditandi dengan naiknya tekanan) pada saat
bakteri melalui orifice. Pada saat inilah sel terhitung. Keuntungan metode ini
adalah hasil bisa diperoleh dengan lebih cepat dan lebih akurat, serta dapat
menghitung sel dengan ukuran besar. Kerugiannya metode ini tidak bisa
digunakan untuk menghitung bakteri karena adanya gangguan derbit, filamen, dan
sebagainya, serta tidak dapat membedakan antara sel hidup dan sel mati (Pratiwi,
2008).

21
5. Metode Plating Techique

Metode ini merupakan metode perhitungan jumlah sel tampak (visible)


dan di dasarkan pada asumsi bahwa bakteri hidup akan tumbuh, membelah dan
memproduksi satu koloni tunggal. Satuan perhitungan yang dipakai adalah CFU
(colony forming unit) dengan cara membuat seri pengenceran sampel dan
menumbuhkan sampel pada media padat. Pengukuran dilakukan pada plat dengan
jumlah koloni berkisar 25-250 atau 30-300. Keuntungan metode ini adalah
sederhana, mudah dan sensitif karena menggunakan colony counter sebagai alat
hitung dapat digunakan untuk menghitung mikroorganisme pada sampel
makanan, air ataupun tanah. Kerugiannya adalah harus digunakan media yang
sesuai dan perhitungannya yang kurang akurat karena satu koloni tidak selalu
berasal dari satu individu sel (Pratiwi, 2008).

6. Metode filtrasi membran

Pada metode ini sampel dialirkan pada suatu sistem filter membran dengan
bantuan vaccum. Bakteri yang terperangkap selanjutnya ditumbuhkan pada media
yang sesuai dan jumlah koloni dihitung. Keuntungan metode ini adalah dapat
menghitung sel hidup dan sistem perhitungannya langsung, sedangkan
kerugiannya adalah tidak ekonomis (Pratiwi, 2008).

Pengukuran pertumbuhan mikroorganisme secara tidak langsung dapat


dilakukan dengan beberapa metode sebagai berikut :

1. Metode Viable Count

Kultur diencerkan sampai batas yang di inginkan. Kultur encer


ditumbuhkan kembali pada media, sehingga di harapkan setiap sel tumbuh
menjadi 1 koloni beberapa saat berikutnya, biasanya 4-12 jam. Akan tetapi cara
ini memiliki keterbatasan, yaitu jumlah sel terhitung biasanya lebih dari
sebenarnya (kemungkinan besar 1 koloni dapat berasal dari 2 sel) dan tidak dapat
di aplikasikan pada bakteri yang tumbuh lambat. Pada metode tersebut yang perlu
diperhatikan adalah jumlah sel bakteri harus mendekati kelipatan 10 pada setiap

22
pengencerannya. Jika tidak pengenceran di anggap gagal. Misalnya cawan yang
dapat dihitung jumlah selnya adalah yang mempunyai jumlah sel sekitar 2-4 untuk
sampel pengenceran (10-x ), 20-40 untuk sampel pengenceran (10(x+1)) dan 200-
400 untuk sampel pengenceran (10-(x+2)) (Purwoko, 2007).

2. Metode Aktivitas Metabolik

Metode ini di dasarkan pada asumsi bahwa produk metabolit tertentu,


misalnya asam atau CO2, menunjukkan jumlah mikroorganisme yang terdapat di
dalam media. Misalnya pengukuran produksi asam untuk menentukan jumlah
vitamin yang di hasilkan mikroorganisme (Pratiwi, 2008).

3. Metode Berat Sel Kering

Metode ini umum digunakan untuk mengukur pertumbuhan fungi


berfilamen. Miselium fungi dipisahkan dari media dan dihitung sebagai berat
kotor. Miselium selanjutnya dicuci dan dikeringkan dengan alat pengering
(desikator) dan ditimbang beberapa kali hingga mencapai berat yang konstan yang
dihitung sebagai berat sel kering (Pratiwi, 2008).

23
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

1. Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan kuantitas konstituen seluler


dan struktur organisme yang dapat dinyatakan dengan ukuran, diikuti
pertambahan jumlah, pertambahan ukuran sel, pertambahan berat atau massa
dan parameter lain. Pada organism prokariot seperti bakteri, pertumbuhan
merupakan pertambahan volume dan ukuran sel dan juga sebagai
pertambahan jumlah sel.
2. Bakteri merupakan sel prokariotik yang bereproduksi secara aseksual dengan
pembelahan biner (binary fission) atau disebut juga pembelahan amitosis.
Pembelahan biner(binary fission) merupakan proses pembelahan dari 1 sel
menjadi 2 sel tanpa melalui fase-fase atau tahap-tahap pembelahan sel seperti,
Profase, Metafase, Anafase maupun Telofase.
3. Waktu generasi adalah waktu yang diperlukan oleh mikroorganisme untuk
meningkatkan jumlah sel menjadi dua kali lipat jumlah semula.
4. Terdapat beberapa fase-fase pertumbuhan: Fase Permulaan, Fase
Pertumbuhan yang dipercepat, Fase Pertumbuhan logaritma (eksponensial),
Fase Pertumbuhan yang mulai dihambat, Fase Stasioner maksimum, Fase
Kematian dipercepat dan Fase Kematian logaritma.
5. Lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan mikroba, dapat
berbentuk lingkungan abiotik (fisik dan kimia), dapat pula lingkungan biotik
(biologis)
6. Pertumbuhan mikroorganisme dapat diukur dengan dua cara, yaitu secara
langsung dan tidak langsung. Pengukuran pertumbuhan mikroorganisme
secara langsung dapat dilakukan dengan beberapa cara : Metode Total Count,
Metode Turbidimetrik, Metode Berat Kering, Metode Elektronic Counter,
Metode Plating Techique, Metode filtrasi membrane. Metode pengukuran
pertumbuhan mikroorganisme secara tidak langsung dapat dilakukan dengan
beberapa metode : Metode Viable Count, Metode Aktivitas Metabolik,
Metode Berat Sel Kering

24
DAFTAR PUSTAKA

1. Meilia, 2015. Pertumbuhan Mikroorganisme.


http://dokumen.tips/documents/pertumbuhan-mikroorganisme.html
2. Budiyanto. K. Agus, Pertumbuhan Mikroorganisme.
https://zaifbio.wordpress.com/2010/11/08/pertumbuhan-mikroorganisme/
3. Anonym, 2013. Makalah : Pembelahal Sel Pada Bakteri.
https://bioselfarmasi3.wordpress.com/2013/01/14/makalah-pembelahan-sel-
pada-sel-bakteri-5/
4. Anonym, 2013. Kurva Dan Fase Pertumbuhan Bakteri Dari Hidup Sampai
Mati. http://www.sawitchem.com/post/25/kurva-dan-fase-pertumbuhan-
bakteri-dari-hidup-sampai-mati.html
5. anonim, 2014, Kurva pertumbuhan Mikroorganisme.
http://www.belajarbiologi.com/2014/04/kurva-pertumbuhan-
mikroorganisme.html
6. handayani Meuthia. 2012. Fase Petumbuhan Bakteri.
https://tothelastbreath.wordpress.com/2012/06/11/fase-pertumbuhan-bakteri/
7. anonym, 2015. Metose-metode untuk Mengukur Pertumbuhan Bakteri.
http://agroteknologi.web.id/metode-metode-untuk-mengukur-pertumbuhan-
bakteri/
8. Tortora G.J., Funke B.R., Case C.L. (2018). Microbiology, an Introduction.
13th edition. United Kingdom Pearson Education Limited

25