Anda di halaman 1dari 5

Audit Siklus Akuisisi dan Pembayaran

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pengauditan 2

Oleh:
Ignatius Sahala L.
135020307111013

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
JURUSAN AKUNTANSI
2019
Audit Siklus Akuisisi dan Pembayaran: Pengujian Pengendalian, Pengujian Substantif
atas Transaksi, dan Utang Usaha

 Terdapat tiga kelas transaksi yang dimasukkan dalam siklus akuisisi dan pembayaran
yaitu akuisisi barang dan jasa, pengeluaran kas, retur dan pengurangan pembelian serta
diskon pembelian.
 Fungsi bisnis dalam siklus akuisisi dan pembayaran antara lain:

1. Memproses pesanan pembelian: merupakan titik awal bagi siklus akuisisi dan
pembayaran. Dokumen yang digunakan antara lain permintaan dan pesanan pembelian.
2. Menerima barang dan jasa: penerimaan barang dan jasa dari vendor oleh perusahaan
merupakan titik kritis dari siklus karena merupakan dimana perusahaan mulai
mengakui akusisi dan kewajiban terkait pada catatannya. Dokumen yang digunakan
dan terkait dengan transaksi ini yaitu laporan pengiriman
3. Mengakui kewajiban: pengakuan kewajiban yang tepat atas penerimaan barang dan jasa
memerlukan pencatatan yang tepat dan akurat. Dokumen dan catatan umum yang
terkait meliputi: faktur vendor, memo debet, voucher, file transaksi akusisi, jurnal
akusisi atau listing, file induk utang usaha, neraca saldo utang usaha, laporan vendor.
4. Memproses dan mencatat pengeluaran kas: pembayaran atas pembelian barang dan jasa
merupakan aktivitas yang signifkan bagi semua entitas. Dokumen yang terkait dengan
proses pengeluaran kas yang dipaksa auditor antara lain: cek, file transaksi pengeluaran
kas, jurnal atau listing pengeluaran kas.

 Akun-akun laporan keuangan terkait siklus akuisisi antara lain: persediaan, properti,
pabrik, peralatan, beban dibayar dimuka, perbaikan leasehold, utang usaha, beban
manufaktur, beban penjualan, beban administratif.
 Akun-akun laporan keuangan terkait siklus penjualan antara lain: kas di bank, utang
usaha dan diskon pembelian.
 Pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi merupakan hal yang
penting untuk memverifikasi efektivitas pengendalian internal sehigga auditor dapat
mengurangi pengujian atas rincian saldo maka waktu bersih yang dapat di hemat
sangatlah besar.
 Pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi untuk akusisi serta
pembayaran dibagi ke dalam dua bidang yang luas:
1. Pengujian akusisi meliputi fungsi bisnis: memproses pembelian, menerima barang dan
jasa, serta mengakui kewajiban.
2. Pengujian pembayaran menyangkut fungsi bisnis memproses dan mencatat
pengeluaran kas.

 Tahap-tahap dari metodologi untuk merancang pengujian pengendalian dan pengujian


substantif atas transaksi untuk siklus akusisi serta pembayaran adalah sebagai berikut:

1. (Tahap 1) Memahami pengendalian internal: auditor harus memahami pengendalian


internal untuk siklus akusisi dan pembayaran sebagai bagian dari pelaksanaan prosedur
penilaian risiko dengan mempelajari bagan arus klien, mereview kuisioner
pengendalian internal, pengujian walkthrough untuk transaksi akuisisi dan pengeluaran
kas.
2. (Tahap 2) Menilai risiko pengendalian yang direncanakan: pengendalian internal kunci
fungsi bisnis merupakan hal yang sangat penting terkait penilaian risiko pengendalian
yang direncanakan, hal yang dilakukan antara lain mencakup:
3. Otorisasi pembelian: untuk memenuhi tujuan perusahaan, menghindari akusisi item
yang berlebihan atau tidak diperlukan.
4. Pemisahan penyimpanan aktiva dan fungsi lainnya barang harus dikendalikan secara
fisik, personil antar departemen terkait harus independen dari personil ruang
penyimpanan dan departemen akuntansi.

Pencatatan yang tepat waktu dan review independen atas transaksi: Menandingkakan dokumen
dan memverifikasi keakuratan faktur. Perlu adanya pemisahan tugas, dokumen catatan yang
memadai, prosedur yang tepat untuk menyimpan catatan, pengecekan independen atas kinerja
merupakan hal-hal penting dalam utang usaha. Departemen utang usaha juga harus
memperhitungkan semua laporan penerimaan untuk memastikan bahwa tujuan kelengkapan
dipenuhi.

1. (Tahap 3) menentukan luas pengujian pengendalian: luas pengujian pengendalian


ditentukan oleh ketergantungan yang direncanakan pada pengedalian. Untuk
perusahaan publik, pengujian harus cukup untuk menerbitkan opini mengenai
pengendalian internal terhadap pelaporan keuangan.
2. (Tahap 3) merancang pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi
untuk akuisisi: efesiensi audit yang signifikan dapat dicapai pada banyak audit apabila
pengendalian beroperasi secara efektif. Terdapat empat tujuan audit berkaitan dengan
transaksi yang harus terpenuhi yaitu akuisisi yang dicatat adalah untuk barang dan jasa
yang diterima konsisten dengan kepentingan utama dari klien (keterjadian), akuisisi
yang telah dicatat (keterlengkapan), akuisisi telah dicatat secara akurat (keakuratan),
akusisi telah diklasifikasikan dengan benar.
3. (Tahap 3.1) merancang pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi
untuk pengeluaran kas: auditor melakukan pengujian akuisisi dan pengeluaran kas pada
saat bersamaan. Sehingga, verifikasi dapat dilakukan secara efisien tanpa mengurangi
keefektifan pengujian.
4. (Tahap 3.2) sampling atribut untuk pengujian pengendalian dan pengujian substantif
atas transaksi: sebagian besar akun terkait dalam siklus ini termasuk akun pada laba
rugi dan neraca, sehingga dapat meningkatkan pontesi salah saji serta transaksi dalam
siklus ini menuntut petimbangan yang signifikan,. Sehingga auditor sering mengurangi
tingkat pegecualian yang dapat ditoleransi terutama untuk atribut klasifikasi dan
keakuratan. Jumlah uang setiap transaksi mencakup rentang yang luar biasa, sehingga
auditor sering memisahkan item yang bernilai besar dan tidak biasa serta mengujinya
atas dasar 100 persen.

 Sebagian besar transaksi dalam siklus akuisisi dan pembayaran umumnya mengalir
melalui utang usaha. Utang usaha cenderung material bagi sebagian besar perusahaan,
auditor hampir selalu melaksanakan pengujian atas rincian saldo. Berikut metodologi
untuk merancang pengujian atas rincian saldo utang usaha.

1. (Tahap 1) mengidentifikasi risiko bisnis klien yang mempengaruhi utang usaha: auditor
harus memahami sifat perubahan sistem untuk mengidentifikasi risiko bisnis klien dan
pengendalian manajemen yang terkait mempengaruhi kemungkinan salah saji material
dalam utang usaha.
2. (Tahap 2) menetapkan salah saji yang dapat di toleransi dan menilai risiko inheren:
Auditor umumnya menetapkan salah saji yang dapat ditoleransi yang relatif tinggi atau
sedang untuk utang usaha.
3. (Tahap 1 dan 2) menilai risiko pengendalian dan merancang serta melaksanakan
pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi.
4. (Tahap 3) merancang dan melaksanakan prosedur analitis untuk utang usaha: berguna
untuk mengungkapkan bidang di mana penyelidikan tambahan memang diperlukan.
Auditor dapat membandingkan total tahun berjalan dengan tahun sebelumnya untuk
mengungkap salah saji akun usaha serta akun beban, hal ini merupakan prosedur efektif
jika beban dari tahun ke tahun diharapkan relati stabil.
5. (Tahap 3) merancang dan melaksanakan pengujian atas rincian saldo utang usaha
termasuk pengujian kewajiban setelah periode: Terdapat hal perlu diperhatikan
pengujian atas rincian saldo utang usaha termasuk pengujian kewajiban sebagai tiga
modifikasi kecil antara lain: tujuan nilai realisasi tidak dapat diterapkan dalam
kewajiban, aspek hak dalam tujuan hak dan kewajiban tidak dapat diterapkan pada
kewajiban, kewajiban, penekanan diberikan pada pencarian kurang saji dan bukan lebih
saji.

 Faktur vendor: berisikan rincian dari transaksi yang dilakukan saat akuisisi (rincian
akusisi)
 Laporan vendor: disipkan oleh vendor dan diberikan kepada perusahaan yang
berisikan total jumlah transaksi tanpa mencantumkan unit yang diperoleh, harga,
ongkos angkut dan data lainnya yang tidak dicantumkan.
 Konfirmasi utang usaha: respon atas permintaan konfirmasi utang usaha berisi total
jumlah transaksi, berupa laporan tersendiri yang dikirimkan langsung ke kantor
akuntan publik oleh vendor.
 Ketika menerima konfirmasi atau memeriksa laporan vendor auditor harus melakukan
rekonsiliasi laporan atau konfirmasi daftar utang usaha, dokumen yang umumnya
digunakan termasuk laporan penerimaan, faktur vendor, dan cek yang dibatalkan.
 Ukuran sampel untuk pengujian utang usaha bervariasi. Jika pengendalian internal
klien lemah, yang bukan merupakan hal yang umum untuk utang usaha, hamprr semua
item populasi harus diverifikasi.
 Sampling statistik jarang digunakan, penentuan ukuran sampel untuk utang usaha jauh
lebih sulit dari piutang usaha. Auditor harus berusaha memastikan bahwa populasi
melibatkan semua utang yang potensial.